Naruto by 'Masashi Kishimoto' "THE RED HAIR COUPLE" – Clareta Vero

'Akatsuki Chikara Arc'

Disclaimer: Tokoh karakter, tempat, dan property lain milik pencipta asli (kecuali Fushame). Hanya untuk berbagi cerita dan hiburan semata!

Warnings: AU, OC & OOC, Many clarify and dialogue, 'cripsy' crack and kidding, mystery and many skip time! Just two choice, "READ" or "DON'T Read"…

R&R please…?

Chapter 11: Step To Division One! The Secret of Eternal Kugutsu!

Hidan menghentikan langkahnya dengan tercengang, "Apa-apaan ini?" katanya dengan mulut yang terus terbuka.

"Mereka begitu banyak," tambah Sasori dengan tenang. Mengingat, orang yang paling tenang diantara mereka berempat adalah Sasori.

"Ini bagus! Dengan begini, perlu banyak ledakan," kata Deidara yang malah senang. Terlihat banyak shinobi yang berjatuhan, terlihat pula banyak edo tensei yang sudah tersegel dan zetsu putih yang sudah tergeletak di tanah. Namun, masih banyak pula edo tensei yang masih belum tersegel.

Kemudian kebanyakan adalah edo tensei dari shinobi hebat. Seperti, Kin – Gin bersaudara, untungnya mereka sudah tersegel. Ada pula Asuma, beberapa edo tensei shinobi hebat dari klan Hyuuga, Dan, lalu ada juga edo tensei dari...

Sasori?

"Ketua! Ada edo tensei dirimu," kata Kakuzu dengan sedikit terkejut. Sasori menoleh.

"Hn, itu hanya perbuatan muridku," sahut Sasori.

"Apa?" tanya Deidara bingung.

"Semua berpikir aku sudah mati, tentu saja ada edo tensei-ku di sini," sahut Sasori sambil tersenyum kecil. Mereka terus terdiam sambil berbincang, padahal shinobi divisi 4 tadi sudah mulai maju menyerang ribuan zetsu putih itu.

"Aku juga berpikir begitu, hmm..." kata Deidara.

"Kalau begini, ini sangat mudah dihentikan," kata Sasori lagi. Tiga orang yang bersamanya itu menjadi bingung dengan perkataan Sasori itu. "Ayo maju, jangan hanya diam saja," kata Sasori dengan lantang. Semua mengangguk.

Mereka mulai menyerang. Sasori mengeluarkan gulungan kugutsu favoritnya. Deidara mulai berkarya dengan tanah liatnya. Meledak dimana-mana. Suasana perang yang tadinya sudah sangat panas dan riuh, dengan kedatangan Deidara suasana perang menjadi bertambah ramai dan serasa meledak, karena seni ledakannya.

Hidan mulai beraksi dengan pedangnya. Kakuzu juga mulai beraksi dengan tenang. Bom ledakan Deidara, 100 kugutsu yang dikendalikan Sasori, Hidan yang ahli mengetes pedangnya tanpa ritual yang biasa ia lakukan, ninjutsu yang dilakukan Kakuzu, ternyata berguna juga. Sudah banyak zetsu putih yang binasa.

Sudah hampir berhasil. Zetsu putih kini dapat dihitung dengan tangan. Sasori menghentikan aksinya. Ia mulai mendekati edo tenseinya sendiri. Mengalirkan benang chakra pada edo tensei itu.

"Apa yang kau lakukan? Itu berbahaya," kata Shikamaru yang kebetulan berada di dekatnya itu.

"Ini hanya edo tensei imitasi, ini adalah bonekaku," sahut Sasori tenang sambil mengendalikan edo tensei itu.

"Apa? Itu edo tensei mu, kalau bukan edo tensei, lalu itu apa?" tanya Shikamaru lagi.

"Dengar," kata Sasori tegas, "Ini bukan edo tensei. Ini adalah jurus rahasia terbaruku, namanya Eternal Kugutsu," jelasnya. Shikamaru hanya tercengang tidak mengerti.

"Eternal kugutsu? Apa maksudmu? Aku tidak mengerti," kata Shikamaru sambil terus menyerang zetsu putih dan melihat Sasori yang mengendalikan edo tensei itu yang ia sebut eternal kugutsu.

"Eternal kugutsu adalah jurus baruku, ditemukan oleh seorang anak buahku dengan mencampurkan kekuatan pribadi dengan kekuatan dewa. Jurus ini memberikan keuntungan yang besar pada penggunanya, namun memberikan kerugian yang besar pada pengguna edo tensei yang memanggilnya. Lihat! Aku akan mengaktifkan jurusnya," jelas Sasori sambil terus mengendalikan edo tensei itu.

Perlahan edo tensei itu menjadi lenyap. Terlihat sebuah asap terbang ke atas kemudian kembali turun dan menginjak tanah. Lama kelamaan asap itu berubah menjadi bentuk seperti Sasori asli. Shikamaru menjadi semakin tercengang. Ia masih tidak mengerti.

"Ju-jurus apa ini?" tanyanya lagi. Kerutan di dahinya terlihat sangat dalam. Sasori sedikit tertawa hambar.

"Jurus membuat boneka kita sendiri tetapi hanya dengan menggunakan sedikit DNA kita sendiri. Lalu dibangkitkan dengan edo tensei, namun bedanya edo tensei dapat mengendalikan semua DNA orang yang sudah mati dan dapat dilepaskan artinya tidak bersifat abadi. Sedangkan Eternal Kugutsu hanya dapat dikendalikan oleh orang yang memiliki DNA yang sama dengan DNA kugutsu itu setelah edo tensei dilepaskan, dan bersifat abadi. Kekuatannya pun lebih kuat dibandingkan dengan edo tensei. Ini bukan kugutsu biasa," jelas Sasori dengan selengkap-lengkapnya.

"Maksudmu bukan kugutsu biasa apa?" tanya Shikamaru lagi masih tercengang.

"Dengan istilah lain, kugutsu ini memiliki tampang, kekuatan, tubuh yang sama denganku. Seperti manusia yang kukendalikan hanya dengan telepati," sahut Sasori lagi.

"Apa? Telepati?" tanya Shikamaru lagi yang masih kebingungan.

"Benar. Ditambah lagi, eternal kugutsu ini dapat melepaskan edo tensei dengan mudah," tambah Sasori lagi yang terlihat bangga menjelaskan itu.

"Mudah? Memang semudah apa?" tanya Shikamaru lagi yang masih penasaran.

"Hanya dengan jurus dewa yang dapat digunakan oleh Eternal Kugutsu ini. Sangat mudah, lihat ini. Aku akan melenyapkan edo tensei dari klan Hyuuga ini," kata Sasori lagi sambil menunjuk edo tensei seorang shinobi dari klan Hyuuga. Terlihat eternal kugutsu Sasori sedang berjalan mendekati edo tensei itu, membuat sebuah segel tangan dan terlihat seperti menunjuk edo tensei klan Hyuuga itu.

Edo tensei itu pun lama-kelamaan terlihat lenyap, sebuah roh terbang ke atas langit yang setelah itu tidak terlihat lagi. Eternal kugutsu yang melepas edo tensei itu pun juga terlihat tergeletak di tanah dan tidak dapat bangkit lagi.

"Jurus yang sangat hebat dan mudah. Mengapa eternal kugutsumu tidak dapat bangkit lagi seperti itu?" tanya Shikamaru lagi sambil mengernyitkan dahinya.

"Itulah kelemahannya, jurus Dewa seperti ini membutuhkan chakra yang sangat besar. Ditambah lagi, eternal kugutsu itu belum sempurna," kata Sasori lagi dengan lemas karena jurusnya tadi kurang sempurna.

"Belum sempurna bagaimana?" Shikamaru terus bertanya penasaran.

"Eternal Kugutsu akan sempurna bila penggunanya memiliki jumlah chakra yang besar dan menguasai kelima elemen alam," jelas Sasori lagi.

"Ternyata syaratnya cukup banyak dan rumit. Sayang sekali," kata Shikamaru sambil tersenyum kecil.

"Ya, sayang sekali. Seandainya saja aku memiliki chakra yang besar dan kelima elemen itu," kata Sasori menghela napas mengeluh.

DI SISI HIDAN, KAKUZU, DAN DEIDARA

"Iya, mati kau!" kata Hidan sangat bersemangat membunuh zetsu putih yang terakhir tersisa.

"Jangan terlalu bersemangat seperti itu," kata Kakuzu mengingatkan.

"Musuh sudah kulenyapkan semua, hmm..." kata Deidara yang terbang dengan burung tanah liatnya.

"Karena kehadiran kita, musuh jadi musnah dengan cepat," sahut Hidan terlalu percaya diri.

"Diamlah! Pasti masih banyak musuh rahasia yang belum muncul," Kakuzu mengingatkan lagi.

Hidan menghela napas, "Siapapun itu, aku akan mengalahkannya," kata Hidan dengan tersenyum percaya diri.

"Aku juga akan mengalahkannya," tambah Deidara tak mau kalah. Setelah berkata demikian, tiba-tiba terjadi seperti gempa bumi. Tiga orang bawel itu menjadi sangat bingung. Demikian juga Sasori dan juga shinobi yang lain.

"Apa lagi ini?" kata Shikamaru kesal. Kemudian tiba-tiba muncul bijuu 'Shukaku' dari bawah tanah. Shukaku terus meraung dengan keras dan kuat. Ekornya yang kuat terus dikibas-kibaskan ke orang-orang yang ada di depannya.

"Apa? Shukaku?" kata Sasori tercengang.

"Ini bahaya, Shukaku muncul begitu saja dengan serangan langsung luar biasa seperti ini." Kata Shikamaru terlihat bercucuran keringat dingin di dahinya.

"Ichibi? Oh tidak," kata Kakuzu seperti bingung sekaligus terkejut.

"Dasar Tobi licik," tambah Hidan kesal.

"Ini bahaya, Ichibi memiliki kekuatan yang besar pula. Tidak bisa dibiarkan, un, " kata Deidara terlihat terkejut pula. "Jinchuuriki nya saja sangat kuat, apalagi Bijuu-nya. Ini tidak baik, hmm..." lanjutnya.

"Tidak usah dipikirkan, kita harus melenyapkannya. Atau dunia shinobi yang lenyap," kata Hidan dengan tegas dan mantap.

Serangan Ichibi no Shukaku menanti mereka. Dapatkah mereka mengalahkan Shukaku itu.

Derap kaki para shinobi terdengar mantap dan pasti.

"Apa? Bijuu juga muncul di medan perang?" kata Kiba dengan berlari sekencang mungkin bersama Akamaru dan teman-teman Konohanya menuju daerah dekat Takigakure. Daerah yang jauh dari medan perang. Entah mengapa, para shinobi Chuunin dari Konoha itu. Kiba, Neji, Hinata, Shino, dan Lee dikumpulkan dan mereka malah berpisah dengan anggota shinobi yang ikut perang.

"Begitulah. Situasi perang menjadi sangat panas, dan kudengar lagi mantan anggota akatsuki juga ikut perang bersama kita," sahut Shino dengan tenang.

"Huh, situasi perang panas tetapi kau selalu dingin dan beku seperti itu, Shino. Apa maksudmu dengan perkataan terakhir?" keluh Kiba mengingatkan Shino, tetapi juga bermaksud gurau.

"Mantan anggota akatsuki, seperti Deidara, Sasori, Pain, Konan, Hidan, Kakuzu, dan Itachi juga ikut berperang," jelas Neji dengan tenang dan datar. Kiba terlihat masih penasaran, namun raut wajahnya berubah bingung seketika.

"Organisasi baru, kah?" tanya Lee juga ikut meramaikan.

"Benar, mereka mendirikan organisasi baru. Aku tidak tahu nama organisasinya apa. Yang jelas, banyak orang yang menyebut organisasi ini dengan sebutan Dunia Yahiko (Yahiko's World). Mereka mengenakan jubah yang sama, tetapi model dan coraknya berbeda dengan Akatsuki. Mereka memakai jubah biru tua polos dan juga head protector dengan lambang arsiran," jelas Neji panjang lebar.

"Begitu. Sepertinya mereka lebih keren dari Akatsuki," sahut Kiba yang tidak digubris.

Neji menoleh ke sana kemari seperti masih bingung dan mengalihkan topik pembicaraan, "Apa tujuan kita kemari?" tanyanya sambil menghentikan langkahnya. Yang lain pun ikut menghentikan langkah mereka.

"Menurut intel, di tempat ini terdapat jumlah chakra musuh yang besar. Tetapi entah apa," sahut Lee sambil menunjuk ke arah tanah dengan jari telunjuknya.

"Cha-chakra mu-musuh?" tanya Hinata terbata sambil menyelidiki menggunakan Byakugannya.

"Hmm, tidak ada tanda musuh di sini," kata Kiba seperti meremehkan. "Aku akan mencari ke tempat lain," lanjut Kiba sambil menaiki punggung Akamaru.

"Tunggu sebentar, musuh memang benar ada di sini, dan..." kata Neji tiba-tiba dengan nada serius. Ternyata ia telah menemukan aliran chakra dari bawah tanah. Perkataannya tersendat.

"Dan apa, Neji?" tanya si Lee sambil bersiap dengan kuda-kudanya.

"Benar, chakra yang besar dan tidak asing. Ini adalah..." kata Hinata yang terpotong karena tiba-tiba tanah itu berguncang dan sesuatu muncul dari tanah...

SISI PERANG DIVISI 1 BERSAMA DENGAN DIVISI 4 DAN 3 ORANG BAWEL + SASORI...

Serangan besar dari Ichibi. Terangnya matahari yang akan digantikan oleh bulan. Teriakan tidak jelas dari Hidan.

"Aku tidak akan kalah! Dasar luak besar yang kerjaannya bermain pasir melulu," teriak Hidan bersemangat sambil terus menyerang Ichibi. Deidara terus melakukan atraksi seni nya. Meledak di sana. Meledak di sini. Beginilah keadaannya.

Tiga orang bawel dengan sekuat tenaga, jiwa, dan raga melawan Ichibi. Sasori mencoba mengalahkan edo tensei yang tersisa saat ini. Lama kelamaan lawan mereka habis juga ternyata. Entah mengapa Sasori bersama Shikamaru dengan mudahnya mengalahkan lalu menyegel para edo tensei itu.

"Terus berjuang, Hidan. Sebentar lagi, Ichibi akan segera kalah," kata Kakuzu menyemangati Hidan. Sedangkan Hidan hanya sempat menoleh dan tersenyum pamer gigi seperti biasanya.

"Aku ingin segera menyelesaikan ini. Perutku sudah keroncongan, mau tak mau harus segera menyelesaikannya dengan ledakan dewa, hmm..." kata Deidara mantap. "Jaga tubuh kalian, atau kau akan segera kiamat," tambahnya memperingatkan.

Hidan dan Kakuzu segera membuat segel tangan yang sama dengan serempak, kemudian Deidara mulai menjatuhkan bom tanah liatnya. Dan...

DUAR!

Meledak seketika. Ledakan besar terjadi. Namun herannya ledakan tadi tidak menimbulkan kehancuran pada daerah yang luas. Malah tidak menimbulkan kehancuran sama sekali. Yang terjadi hanyalah sinar sangat terang bagai matahari jatuh. Bahkan asap pun tidak timbul.

Ichibi pun lenyap. Akhirnya...

"Sial!" keluh Deidara kesal. Hidan dan Kakuzu menjadi bingung. Mereka bertanya serempak.

"Ada apa?" Deidara menoleh, wajahnya terlihat muram dan kesal. Muram karena lapar. Kesal karena tidak jelas...

"Entah bagaimana caranya, Ichibi tersebut menghilang dengan cara seperti berteleportasi," keluh Deidara. Terlihat cekung kesal pada ujung bibirnya. Hidan dan Kakuzu menjadi tambah bingung.

"Teleportasi?" kata mereka serempak. Entah mengapa dan bagaimana caranya, pada saat perang ini mereka berdua menjadi sangat kompak.

"Bagaimana caranya?" kata Shikamaru pada Sasori dengan wajah tercengang. Sasori menoleh tidak mengerti, "Mengapa tidak terjadi efek ledakan sedikit pun?" tambahnya.

Sasori terkekeh tidak jelas, "Itulah kekuatan kami. Tujuan kami adalah melindungi dunia ini. Jika ledakan Deidara tadi tidak ditahan dengan pelindung milik Hidan dan Kakuzu, maka hancurlah satu bumi ini," katanya. Shikamaru menjadi semakin tercengang. Namun, ia tidak bertanya lagi. Seiring waktu berjalan, seiring banyak musuh yang musnah. Malam sudah hampir datang. Keadaan divisi 1 seolah tampak tenang dan damai. Musuh sudah musnah dengan mudah semenjak muncul kehadiran para shinobi mantan akatsuki itu yang terlihat tidak serius namun keren.

"Ketua, apakah sekarang kita boleh beristirahat?" kata Hidan yang ternyata sudah menghampiri Sasori.

"Benar. Aku sudah lapar, ketua. Hmm..." tambah Deidara sambil mengelus perutnya yang mengisyaratkan kalau ia sedang lapar sekali.

"Aku sudah mengantuk, oahem..." tambah Kakuzu sambil menguap. Sasori tertunduk tertawa kecil melihat tingkah tiga anak buahnya yang sangat gila dan kekanakan itu.

"Baiklah, lagipula ini sudah hampir malam. Istirahatlah dengan nyaman dan tenang. Kalian beraksi dengan bagus hari ini," sahut Sasori dengan tawa kecil. Mendengar itu, ketiga orang bawel itu menjadi senang kegirangan. Lalu segera meninggalkan Sasori dan Shikamaru yang terus tercengang begitu saja. Mendadak edo tensei yang telah mereka segel tadi menjadi beterbangan dan lenyap seketika. Kemudian terlihat cahaya dan roh yang terbang ke atas.

"Apa itu? Mengapa banyak hal aneh di sini, sih?" keluh Shikamaru kesal karena ia tidak mengerti tentang hal itu sama sekali.

"Rencana kami berhasil. Itachi hebat," puji Sasori tidak jelas. Shikamaru menjadi bingung bercampur kesal.

"Kenapa mantan akatsuki ini selalu melakukan hal ajaib, sih?!"

CHAPTER 11 END!