'Akatsuki Chikara Arc'
Disclaimer: Tokoh karakter, tempat, dan property lain milik pencipta asli (kecuali Fushame). Hanya untuk berbagi cerita dan hiburan semata!
Warnings: AU, OC & OOC, Many clarify and dialogue, 'cripsy' crack and kidding, mystery and many skip time! Just two choice, "READ" or "DON'T Read"…
R&R please…?
Chapter13: Protect Him…
Satu persatu musuh mulai habis dan lenyap. Semakin banyak korban yang berjatuhan dan mengucurkan cairan merah kental dari tubuhnya yang terluka kemudian memejamkan matanya. Terlihat juga, keenam bijuu itu telah hilang lagi. Lagi-lagi berteleportasi.
Gadis berambut merah itu segera menarik dan menaruh pedangnya. Begitu pula dengan Yahiko beserta yang lain. Sebagian shinobi mulai memindahkan teman-temannya yang sudah hampir sekarat saat ini. Perlahan mereka menggotong teman mereka menuju markas anggota tim medis. Terlihat Sakura dan Ino segera menyusul untuk membantu ke sana.
Fushame hanya terdiam. Mengerjapkan matanya melihat hal seperti itu. Rasanya ingin sekali membantu shinobi-shinobi yang terluka itu. Tapi, sekarang ini tidak seharusnya ia berbuat begitu. Karena, kata Konan, dia masihlah pemula. Tidak seharusnya membantu yang sekarat.
Terlihat pula lima shinobi yang masih menggotong para kage itu, lalu segera memberikan mereka pertolongan pertama.
"Kage dalam bahaya! Segera selamatkan mereka!" kata shinobi itu. Ninja-ninja medis dari dalam tenda tim medis segera membantu menggotong kelima kage itu ke dalam.
Fushame menoleh khawatir melihat itu, namun ia mengalihkan pandangannya pada sensei-senseinya lagi. Konan dan yang lain tahu kalau selama ini Fushame selalu berusaha sekeras mungkin untuk mengembangkan ninjutsu medisnya dan berbagai tensei untuk mengembalikan nyawa sekalipun. Namun, rasanya ia belum terlalu mahir. Konan takut kalau Fushame malah akan mengacaukan tim medis.
"Pergilah ke sana, Fushame! Tidak usah pedulikan kata-kata Konan. Bantulah mereka, selamatkan, dan hidupkan mereka lagi. Aku tahu kau bisa, Fushame!" kata Sasori tiba-tiba. Fushame mendongakkan kepalanya. Ia terkejut. Namun, akhirnya ia tersenyum tipis begitu pula sensei-sensei dan anggota yang lain juga ikut tersenyum bersama Fushame. Memang tidak seharusnya mereka menahan dan mengurung Fushame. Konan pun akhirnya sudah menyerah untuk mengunci Fushame lebih lama lagi. Fushame juga bukanlah orang yang suka banyak meminta. Ia selalu memendam segala rasa dan keinginannya.
"Benar, cepat bantu mereka! Para kage sudah sekarat!" kata Konan yang akhirnya mulai mengerti yang diinginkan Fushame.
"Benar, kau cocok dengan Kazekage. Kalau dia mati, kau tak akan menikah," gurau Hidan tersenyum lebar. Mendengar itu Fushame hanya menunduk cemberut.
"Ternyata dia masih kesal dengan Gaara," bisik Itachi pada Nagato. Nagato sedikit tersenyum kecil. Fushame pun segera membungkukkan tubuhnya dan berpamit. Kemudian dia segera berlari menuju tenda markas ninja tim medis.
"Huh dasar si Fushame. Kalau sudah berhubungan dengan temannya dia mulai liar, hmm…"kata Deidara sambil tertawa kecil.
Di sana, Fushame juga bingung harus berbuat apa. Markas itu sangat penuh dan penat, ditambah lagi masih banyak shinobi yang sekarat masih mengantri meminta disembuhkan. Sedangkan kage yang berada di tenda sebelah sudah tidak sadarkan diri itu segera disembuhkan oleh banyak ninja medis professional.
Tetapi, para ninja tim medis itu terlihat kebingungan dan kehabisan cara untuk menyembuhkan kelima kage itu. Fushame segera mencari shinobi yang memerlukan bantuannya. Terlihat pula Sakura dan Ino sedang sibuk menyembuhkan banyak shinobi. Kalau dipikir, tentara gabungan shinobi ini seperti kekurangan tim medis. Seribu shinobi yang perlu disembuhkan, tetapi hanya ada sekitar 350 shinobi anggota tim medis. Fushame malah diam di dekat pintu masuk tenda namun akhirnya ia menghampiri Sakura dan Ino yang sedang sibuk itu.
"Hai, Sakura, Ino," sapanya ramah. Sakura dan Ino menoleh cepat sambil terus mengerjakan tugasnya. Mereka mengernyitkan dahinya, melihat gadis berambut merah. Terlihat sangat asing.
"Maaf, kau siapa, ya?" Tanya Sakura lembut.
"Oh, kalian tidak mengenalku. Aku baru ingat, tampilan baruku ini memang sangat asing," sahut Fushame dengan datar.
Sakura dan Ino menjadi tambah bingung, "Apa maksudmu? Katakan, mengapa kau bisa mengenal kami sedangkan kami tidak mengenalmu?" Tanya Ino lagi dengan halus.
"Baiklah, aku akan mengaku. Aku adalah Fushame. Masih ingat, bukan?" kata Fushame.
Sakura dan Ino menoleh senang, terlihat raut wajah yang ingin sekali memeluk Fushame dengan erat. Namun, ini bukanlah waktu yang tepat.
"Fushame!" kata Sakura singkat.
"Tentu saja kami masih ingat," tambah Ino.
"Tetapi, maafkan aku, Fushame. Mereka ini harus segera diselamatkan dan luka mereka parah semua. Jadi, untuk menyembuhkan mereka memerlukan waktu yang lama. Aku takut tidak sempat menyembuhkan mereka kalau harus mengobrol denganmu. Jangan marah, ya…" kata Sakura sembari mengusap keringat yang bercucuran di dahinya. Terlihat sangat lelah dan hampir kehabisan chakra *mungkin*.
Fushame hanya menghela napas dan menyodorkan sesuatu, "Makan ini! Kalau tidak, kau akan kehabisan chakra," sahut Fushame, "Kau juga harus memakan ini, Ino," tambahnya lagi sambil memberikan sebuah pil pada Ino dan Sakura.
Mereka berdua menjadi bingung, "Ini apa, Fushame?" tanya mereka serempak.
"Itu adalah pil untuk mengembalikan stamina dan chakra kalian. Selama perang tadi aku membawa pil yang kuracik ini dan masih sisa. Jadi kuberikan tidak mau ya sudah," jelas Fushame dengan datar dan sedikit dingin.
Ino dan Sakura akhirnya memakan pil itu dan agak sedikit bersyukur sekaligus senang karena temannya ini, walaupun sempat menghilang tetapi kini ia juga sangat membantu.
Ternyata benar, chakra dan stamina mereka kembali, "Kau benar! Chakraku kembali lagi," kata Sakura tersenyum lebar. Begitu pula dengan Ino. Akhirnya Sakura dan Ino melanjutkan tugas mereka. Namun, tiba-tiba mereka baru tersadar.
"Kau membuat pil itu sendiri?" tanya Sakura dan Ino serempak lagi.
"Benar," sahut Fushame tenang.
"Jadi kau bisa ninjutsu medis juga dong?" tanya Sakura sedikit bingung. Fushame tidak menjawab, ia hanya mendekati seorang shinobi yang terluka parah lalu membersihkan darah yang tercucur di perut shinobi yang robek tertusuk kunai. Setelah dibersihkan, ia menyodorkan salah satu tangannya pada luka shinobi itu.
Ino dan Sakura menyembuhkan para shinobi yang terluka parah itu sambil memerhatikan apa yang sedang dilakukan Fushame.
"Kau itu terlalu bodoh hingga terkena racun kunai seperti ini," kata Fushame tenang pada shinobi yang akan ia sembuhkan itu. Shinobi itu terkejut.
"Ra-racun?" tanya shinobi itu terbata.
"Ya, kau akan mati. Tak dapat diselamatkan," sahut Fushame dengan sangat-sangat tenang. Shinobi itu menjadi panik, takut mati.
"Oh tidak! Aku akan mati! Selamatkan aku!" katanya sambil berdiri panik.
"Jangan berbuat ceroboh! Kau sudah kusembuhkan dengan sedikit chakraku, aku bisa menetralkan racunmu dan menyembuhkan lukamu. Buktinya kau dapat berdiri panik seperti itu, berarti kau sudah sembuh. Jangan berbuat ceroboh lagi!" kata Fushame datar. Shinobi itu malah mengerjap-ngerjapkan matanya berkali-kali. Kemudian ia melihat luka di perutnya tadi.
Memang benar, lukanya sudah sembuh. Sama sekali tidak terlihat bekas luka. Jurus yang sangat hebat. Kemudian shinobi itu menjadi kegirangan senang, "Terimakasih! Gadis malaikat dari dunia Yahiko! Kau sangat hebat!"
Fushame kesal. Ia hanya menjawab, "Huh, sudahlah. Jangan ceroboh! Tubuhmu masih kaku dan chakramu belum stabil. Minumlah pil ini dan tidurlah," shinobi itu mengangguk dan meraih pil yang diberikan oleh Fushame. Kamudian ia membungkukkan tubuhnya berkali-kali.
Ino dan Sakura sangat tercengang melihat jurus Fushame yang hebat itu, "Siapa berikutnya?" teriak Fushame datar kepada shinobi-shinobi yang terluka di sana. Akhirnya banyak shinobi yang meminta Fushame sembuhkan. Karena selain cepat, juga sangat hebat.
"Fushame sangat hebat," bisik Sakura dengan senyum bangga, Ino juga demikian. Akhirnya satu persatu shinobi disembuhkan oleh Fushame, Ino dan Sakura meskipun masih banyak shinobi yang butuh ninjutsu medisnya itu. Ia sudah terlihat agak lelah, wajah yang pucat dan dingin. Tiba-tiba terjadi keributan dari tenda sebelah. Seseorang datang ke tenda tempat Fushame berada untuk meminta pertolongan Sakura.
"Sakura – san, ini gawat! Para kage sudah sangat kritis, racun yang ada dalam tubuhnya tidak dapat kami buat penawarnya," kata seseorang itu. Sakura sedikit terkejut. Ia segera bangkit dan berlari menuju tenda sebelahnya. Sedangkan Fushame dan Ino terus melanjutkan pekerjaannya.
DI TENDA SEBELAH…
"Bagaimana keadaannya?" tanya Sakura dengan cepat. Seorang shinobi menjawab,
"Keadaan Hokage sudah membaik, kini ia sedang beristirahat. Begitupula Raikage. Namun sepertinya Tsuchikage sudah kehabisan chakra dalam bertarung, dan sekarang ia dalam keadaan kritis. Chakra dan denyut nadinya tak kunjung normal juga. Sedang Mizukage dan Kazekage, mereka terkena racun mematikan yang tidak dapat kami netralkan. Inilah yang sangat berbahaya," jelas shinobi itu.
"Kalau begitu aku akan memeriksa Mizukage dan Kazekage terlebih dahulu," kata Sakura dengan tergesa. Di sana juga ada Shizune yang siap membantu Sakura. Sakura mencoba memeriksa dan mengeluarkan racun dari kedua kage itu, namun racun itu tak kunjung keluar juga. Racun itu telah meresap ke organ yang sangat dalam.
Sakura tidak dapat berbuat apa-apa. Ia sangat bingung tidak karuan. Tiba-tiba, napas dari kedua kage itu terhenti…
"O-oh tidak. I –ini…" kata Sakura lemas. Nyawa kedua kage itu sudah tidak dapat diselamatkan lagi. Sakura juga tidak ingat akan Fushame yang sangat ahli dalam ninjutsu medis. Saat itu juga, Naruto juga sudah bangun dari tidurnya.
"Ada apa dengan Gaara?" Tanyanya yang langsung heboh sendiri begitu sadar.
Sakura menggeleng pelan. Ia tidak tahu harus berkata apa. Ia keluar dari tenda. Naruto mengejarnya dan menarik Sakura.
"Apa maksudmu? Tidak mungkin! Gaara tidak mungkin mati! Dia sudah pernah mati! Tidak, jangan begini lagi!" teriak Naruto sambil menangis tersedu-sedu. Akhirnya terjadilah keributan yang mengharukan. Fushame yang sudah selesai mengerjakan tugasnya, membereskan segala benda yang berserakan dimana-mana. Namun karena mendengar tangisan dari Sakura dan Naruto, ia langsung keluar.
"Ada apa, sih? Ribut sekali," ujarnya sinis.
"Hei! Kau itu siapa? Temanku telah mati dan kau seenaknya berkata demikian?" sahut Naruto terlihat sangat sedih. Fushame tetap melipat tangannya.
"Naruto, ini adalah Fushame," sahut Sakura dengan lemas. Naruto segera mendongakkan kepalanya dan memegang kedua pundak Fushame dengan erat.
"Fushame kau adalah orang kuat, cepat hidupkan Gaara lagi," katanya memohon.
"Kau ini bodoh! Kalau sudah mati ya mati, itu sudah takdir. Kita tidak dapat mengulang waktu lagi," kata Fushame dengan tenang dan tetap datar.
Naruto mulai menangis lagi, perlahan tangannya ia lepaskan, "Itu memang benar," sahutnya lemas. Melihat itu, Fushame menjadi iba.
"Apa kau benar-benar ingin Gaara hidup lagi?" Tanya Fushame.
"Hmm, tapi sayangnya nenek Chiyo sudah tidak ada. Jadi, tidak ada yang dapat menggunakan tensei untuk menghidupkan Gaara dan Mizukage," sahut Naruto sangat-sangat lemas.
"Aku bisa tensei untuk membangkitkannya lagi. Kau mau aku membangkitkan Gaara dan Mizukage? Aku sedang baik hati, nih." Kata Fushame memastikan Naruto. Naruto mendongak lagi dan terlihat senyum tipis, ia sedikit mengangguk.
Tetapi, jika kau menggunakan tensei itu kau akan mati, Fushame, batin Naruto. Tetapi yang Gaara inginkan…
FLASH BACK
Pertarungan antara Madara dan lima kage berlangsung sengit. Semua terkapar karena serangan susanoo sempurna milik Madara. Gaara terkapar lemas di tanah begitu pula kage yang lain. Kebetulan Naruto berada tepat di depan Gaara. Sebuah pedang raksasa milik Madara dimana pedang itu terdapat racun mematikan, telah berhasil menembus Gaara dan Mizukage.
"Na-naruto…" kata Gaara lemas. Naruto menoleh pelan, "Apa kau mengerti perasaanku…?" lanjutnya dengan lemas.
Terlihat Naruto hanya menggeleng pelan. Gaara melanjutkan pernyataannya, "selama ini, hatiku terasa sangat hampa entah mengapa. Aku selalu mencari alasannya. Akhirnya aku menemukan penyebabnya,"
"Apa?" Tanya Naruto lemas.
"Fushame. Dia yang selalu membuatku begini, tapi, kini aku sudah sekarat. Mungkin aku akan mati karena racun ini. Kumohon lindungi Fushame semampumu, biarkan aku mati tetapi jangan sampai dia mati. Aku mohon!"
FLASH BACK OFF
"Tidak! Jangan hidupkan Gaara lagi, Fushame!" teriak Naruto begitu melihat Fushame yang akan masuk ke dalam tenda medis para kage.
Fushame menoleh bingung dan menjadi uring-uringan, "Baka! Menyembuhkan teman sendiri kau tidak mau? Terserah apa katamu! Aku akan tetap menyelamatkan kazekage dan mizukage," kata Fushame sambil melotot.
Naruto jadi terdiam bingung harus berkata apa. Ia takut Fushame harus mati untuk mengembalikan Gaara. Ia tidak ingin Gaara kecewa karenanya di alam sana.
"Terserah apa katamu, aku akan tetap menghidupkan Gaara dan Mizukage itu," sahut Fushame sambil memasuki tenda itu. Naruto menjadi semakin bingung. Ia hanya terdiam, ia tidak mungkin menghentika keinginan Fushame. Fushame sudah keras kepala. Sementara Sakura, hanya ikut termenung diam.
Beberapa menit kemudian, rombongan Shikamaru datang tiba-tiba dengan sedikit mengeluh-ngeluh dan berteriak-teriak kesal. Terutama Kiba.
"Dasar gadis api itu! Menyebalkan, untung saja penahan itu lenyap juga," kata Kiba terlihat sangat kesal. Melihat itu Naruto dan Sakura segera menoleh.
"Hoi Naruto! Apakah kau melihat seorang gadis rambut api?" kata Neji juga dengan tampang acak-acakan. Begitu pula dengan yang lainnya.
"Menyeramkan sekali gadis berambut api! Kalau itu, aku tidak pernah melihatnya," sahut Naruto terkejut. Semuanya menjadi menghela napas.
"Maksudku, gadis yang memiliki warna rambut seperti api," sahut Neji lagi masih penasaran.
"Sepertinya tidak, Neji," sahut Sakura pelan.
"Mendokusei na, kemana gadis itu lari?" kata Shikamaru mulai melipat tangannya.
Lee juga ikut menambahkan, "Jangan-jangan dia juga sudah mengurung orang lain," katanya bersemangat.
"Itu tidak boleh terjadi," tambah Kiba yang tak kalah semangat. Setelah mengatakan itu, Fushame keluar dari tenda tim medis itu. Kiba, Naruto, Sakura, dan yang lain langsung menoleh. Kemudian timbullah ekspresi kesal di wajah Kiba dan kawan-kawan.
"Hei Kau! Seenaknya saja mengurung kami! Memang kau pikir kau itu siapa?" kata Kiba kesal.
"Kami sudah hampir putus asa karena kekkai – mu itu tahu!" kata Shikamaru menambahkan. Sedangkan Fushame hanya menatap dengan wajah tidak peduli.
"Hmm, benar!" sahut Kiba.
"Kami sudah tidak tahu harus berbuat apa!" tambah Neji lagi.
"Benar!" sahut Kiba lagi.
"Kami sudah hampir lemas karena lelah berpikir," lanjut Hinata lagi.
"Ya!" kata Kiba lagi.
"Kami sudah hampir putus cinta dan kehilangan kemudaan kami," tambah Lee.
"Ya! Itu juga benar," sahut Kiba tidak terlalu menyimak perkataan Lee tadi. Tapi akhirnya ia juga jadi tersadar, "Hei! Itu tidak benar, Lee!" katanya tambah kesal.
"Kalian adalah ayam pengganggu, jadi harus kukurung tahu!" sahut Fushame datar dan dingin melipat tangannya.
"Kau ini!" kata Kiba mengepalkan tangannya.
"Kau ini siapa, sih?!" tanya Neji juga kesal.
Sakura mulai melunakkan keadaan, "Hmm, teman-teman. Sebenarnya dia ini…" belum sempat Sakura melanjutkan perkataannya, namun sudah dipotong oleh Fushame.
"Sudahlah! Namaku tidak penting. Hei, Naruto. Aku sudah membangkitkan Gaara dan Mizukage. Mereka sudah dipindahkan ke tenda pribadi. Tenda Gaara berada di sebelah ujung sana," jelas Fushame sambil menunjuk arah ujung kanan dengan telunjuknya. Naruto terlihat bingung dan penasaran. "Aku ingin memeriksa kage yang lain dulu, jadi tolong kau temani Gaara dahulu," tambahnya.
Naruto menganggukkan kepalanya dengan sedikit ragu, "Kau tidak mati, Fushame?" tanyanya.
"Kau berharap aku mati, ya? Baiklah, besok aku akan memenggal kepalaku hanya untukmu!" sahut Fushame kesal. Mendengar itu Naruto menjadi sedikit sangat terkejut dan mengerjapkan matanya beberapa kali.
"Sudahlah, aku hanya bercanda," sahut Naruto sambil tertawa, "ngomong-ngmong soal mantan Akatsuki itu…" lanjutnya tetapi langsung terpotong perkataan Fushame.
"Aku yang membangkitkan mereka juga," kata Fusahme cepat. "kalau begitu, aku pergi dulu," sahutnya. Setelah itu, Fushame langsung berjalan ke tenda kage yang lain. Naruto sedikit tertawa.
"Di-dia? Jadi dia benar Fushame?" tanya Shikamaru jadi bingung.
"Ya, dia adalah Fushame, Shikamaru," sahut Sakura dengan lembut. Mendengar itu, semuanya malah semakin tercengang dan tersenyum senang karena Fushame telah kembali.
Beralih pada sisi Fushame. Ia berjalan menuju tenda Tsuchikage yang sedang dirawat oleh Ino.
"Bagaimana keadaan Tsuchikage, Ino?" tanyanya begitu membuka tenda Tsuchikage itu. Ino menoleh tersenyum kecil sambil mengangguk pelan.
"Berkat pil pemberianmu, kini detak jantung dan chakranya sudah kembali normal," sahut Ino. Kemudian Fushame segera menghampiri Ino dan duduk di sebelahnya.
"Kau benar," sahut Fushame.
Ino memerhatikan pakaian Fushame yang putih terlihat sudah mulai kotor dan lusuh karena habis bertempur tadi. Kemudian ia mengambil sepotong baju dari tasnya.
"Fushame, gantilah bajumu. Kau terlihat sangat berantakan jika tidak ganti baju dengan ini. Ambillah ini! Ini adalah baju cadanganku," kata Ino sembari menyodorkan baju yang biasa dipakai oleh Jounin Konoha. Kemudian terlihat Fushame tersenyum lebar dan meraih baju itu.
"Baiklah, terimakasih banyak, Ino!" sahutnya senang. Ino pun mengangguk.
"Fushame! Mengapa Gaara tidak lekas siuman juga?" tanya Naruto di dalam tenda rawat Gaara begitu melihat Fushame datang mengunjungi Gaara lagi.
"Sabarlah sedikit! Nanti dia juga akan membuka matanya," sahut Fushame sambil menghampiri Naruto. Terlihat Naruto menghela napas.
"Huh!" sahut Naruto, terlihat Fushame melingkari pergelangan tangan Gaara dengan jarinya. Sepertinya sedang memeriksa aliran chakra atau denyut nadinya, "Kau tadi memakai tensei apa untuk menghidupkan Gaara dan Mizukage? Bukankah, tensei yang digunakan nenek Chiyo itu adalah jurus penukar nyawa?" tambah Naruto.
Fushame tetap menyentuh pergelangan tangan Gaara sambil menghela napas menoleh pada Naruto, "Itu bukan tensei. Tapi jurus dengan menggunakan sebagian chakra dewaku," jelasnya sambil terus memegang tangan Gaara tanpa sadar. Tidak sadar juga, kalau jari jemari Gaara mulai bergerak-gerak memberikan isyarat akan sadarkan diri.
"Oh, jadi seperti itu. Aku selalu salah," kata Naruto. Semakin mulai merangsang. Telinga Gaara perlahan sudah mulai sadar mendengar perkataan sahabatnya itu.
"Kau itu memang bodoh!" gurau Fushame sambil tertawa kecil.
Suara Fushame terdengar jauh sekali di telinga Gaara. Ia ingin sekali untuk selalu mendengar suara itu. Tapi, akhirnya, selama enam tahun ia tidak dapat mendengar suara khas seorang gadis itu.
Suara dingin. Suara menyebalkan. Suara asing.
"Berhentilah untuk menyebutku bodoh. Aku benci disebut seperti itu," sahut Naruto lagi dengan nada sedikit kesal. Sedangkan Fushame hanya tertawa tertahan.
Kemudian, pada saat itu juga, Gaara membukakan matanya. Terasa sangat kaku dan lemas. Pandangannya masih sedikit remang-remang. Ia hanya melihat seorang gadis yang terus menggenggam tangannya dan Naruto berdiri di sebelah ranjangnya itu. Gadis asing menggenggam tangannya begitu. Ia tidak senang kalau berlebihan diperhatikan oleh gadis yang tidak ia sukai. Kecuali kalau itu adalah Fushame.
"Oh, kau sudah sadar. Apa kau baik-baik saja?" tanya Fushame datar.
Naruto menatap Gaara dengan senang. Namun, Gaara tidak langsung menjawab. Karena ia tidak tahu kalau itu adalah Fushame ia langsung menarik tangannya untuk melepas genggaman tangan Fushame.
"Tidak usah khawatir lagi. Aku sudah tidak apa-apa. Kau pergi saja," mendengar itu Fushame merasa sedikit sakit hati. Ia merasa tidak dihargai. Namun, karena mengingat Gaara sedang sakit ia tidak mungkin membentaknya. Ia hanya bersikap dingin seperti biasanya.
"Tidak tahu terimakasih. Aku keluar dulu," sahut Fushame dengan dingin yang kemudian langsung melengos keluar.
"Hei jangan keluar. Bagaimana racun yang ada di dalam tubuh Gaara," tanya Naruto prihatin setidaknya ia dapat mencegah Fushame untuk keluar dari tenda rawat Gaara itu. Gaara hanya menoleh dingin pula.
"Tidak usah dipedulikan lagi. Aku akan mencoba membuat penawarnya. Obat penawar racunku sudah habis," sahut Fushame sambil melangkah keluar. Naruto menghela nafas.
"Gadis itu cukup menyebalkan," gumam Gaara dengan datar.
Naruto menoleh tersenyum kecil, "Memang dia menyebalkan. Tetapi kau pasti akan mencintainya nanti," sahutnya gurau. Gaara menatap Naruto tanpa ekspresi. Tak peduli.
"Dia itu gadis yang sempurna loh. Selain cantik, ia juga kuat dan hebat. Dia adalah gadis yang membangkitkan dan menyembuhkanmu," lanjutnya. Namun, tidak terlihat ekspresi apapun dari mata Gaara.
"Sudah kukatakan padamu, aku telah bersumpah untuk tidak mencintai gadis lain selain Fushame," kata Gaara dengan datar namun mantap.
"Ini penawar racunnya. Minum dengan benar!" kata Fushame tiba-tiba yang ternyata sudah tiba di tenda itu lagi. Wajah Gaara tetap terlihat dingin dan seperti tidak berharap kalau gadis berambut merah itu datang lagi ke tenda itu.
"Terimakasih karena kau sudah kembali dan mengantarkan penawar ini, Fushame. Tubuh Gaara masih kaku, bantu dia meminum penawar itu," kata Naruto. Mata Gaara membulat seketika begitu mendengar Naruto memanggil gadis itu dengan nama Fushame.
"Fushame?" ujar Gaara membulatkan matanya. Fushame hanya menatap dingin. "Kau Fushame?" tambahnya lagi.
"Kau tidak mengira kalau ini adalah Fushame, bukan?" tanya Naruto sambil tertawa kecil. Gaara semakin membuka matanya bulat-bulat melihat Fushame berada di depannya. Hadir di waktu ia sedang tidak siap harus mengatakan apa pada Fushame.
"Tidak usah menatapku seperti itu. Aku ini bukan hantu, tahu!" timpal Fushame. Mendengar itu, Gaara malah menjadi tersenyum kecil. Melihat keadaan yang terlihat indah itu, Naruto segera bertingkah ingin membuat Gaara berduaan dengan Fushame.
"Ehem… Gaara, Fushame, aku ingin mengunjungi keadaan Mizukage terlebih dahulu. Tolong kau tetap urus Gaara, ya." Katanya sambil senyum tidak jelas pada Gaara.
"Tenang saja. Aku tidak akan melalaikan tugasku," sahut Fushame sambil menaruh sebuah gelas yang berisi penawar racun untuk Gaara itu.
Akhirnya Naruto keluar. Mungkin perasaan Fushame biasa saja. Namun, bagi Gaara ini adalah saat yang sangat menegangkan. Jantungnya berdegup amat hebat. Akhirnya Fushame menatap Gaara dengan tatapan datar lagi. Lalu terlihat ia menghela napas.
"Jangan tegang seperti itu. Aku sudah tidak membencimu, jadi tenang saja. Di sini aku hanya ingin menyembuhkanmu," kata Fushame menenangkan. Wajah Gaara memang terlihat sangat tegang. Ia tidak tahu harus berkata apa, "Apa tubuhmu masih ada yang sakit?" tanya Fushame.
Kemudian, Gaara sedikit mengangkat tangannya yang masih terbaring di ranjang itu. Kemudian, ia menatap kelima jarinya itu. Kemudian menggerak-gerakkan jari-jemarinya itu. Tiba-tiba Fushame meraih tangan itu.
"Kenapa? Jarimu masih sakit? Hmm?" tanyanya lagi ingin mengetahui jawaban Gaara, karena daritadi Gaara selalu tidak menjawab pertanyaannya. Fushame menatap mata Gaara dengan dalam. Bermaksud ingin membaca pikiran Gaara. "Kenapa? Jawab aku..."
Itu malah membuat Gaara menjadi sangat tegang. Namun, dengan beginilah ia akhirnya dapat diperhatikan lebih oleh Fushame.
"Aku sudah tidak apa-apa, Fushame," sahutnya pelan.
"Baguslah," sahut Fushame sambil melepaskan genggaman tangannya. "Kau bisa bangkit duduk, tidak? Minum penawar ini terlebih dahulu. Selain harus memakai antidote, kau harus meminum ini pula," kata Fushame.
Gaara terlihat berusaha untuk duduk di ranjang itu, namun sepertinya tubuhnya itu terlihat sangat kaku. Beberapa kali mencoba, tetapi ia tetap saja tidak dapat terduduk sempurna. Akhirnya Fushame membantu untuk mengangkat Gaara. Ia memegang erat bahu Gaara hingga membuat Gaara terduduk.
"Minum ini," katanya kemudian sambil menyodorkan penawar racun itu. Gaara meraih penawar itu. Kemudian ia meminumnya dengan perasaan hangat dan gembira, karena kini Fushame telah berada di sebelahnya lagi. Karena Fushame sudah tidak membencinya lagi.
Tiba-tiba, Kankuro dan Temari masuk ke dalam tenda rawat Gaara itu.
"Gaara! Bagaimana keadaanmu saat ini?" tanya Temari.
"Kau tidak apa-apa, bukan?" tambah Kankurou. Sepintas Gaara menjadi kesal, karena suasana menyenangkannya berubah menjadi heboh kembali. Gaara diam saja, malah Fushame yang menyahut.
"Gaara sudah membaik. Barusan aku memberikan penawar racun untuknya. Tapi tolong jangan paksa diri Gaara terlalu banyak, aku permisi dahulu." Kata Fushame dan mohon pamit keluar. Hati Gaara menjadi lemas kembali melihat Fushame yang keluar dari tenda itu lagi.
Kankurou terpesona pada sosok Fushame. Mungkin ia jatuh cinta pada pandangan pertama. Ia tidak dapat menahan perasaannya. Memandang gadis yang keluar tenda itu lekat-lekat. Meskipun gadis itu telah berlalu jauh keluar tenda. Ada apakah ini? Gaara cinta Fushame. Kankurou sayang dengan Fushame. Siapa yang Fushame cintai? Gaara? Atau Kankurou? Pertarungan kakak adik akan dimulai di sini.
Perang sudah ditentukan berakhir. Semuanya akan membereskan peralatannya dan bubar untuk pulang. Kembali ke desa masing-masing.
"Tak terasa perang ini berakhir," kata Hidan puas.
"Akhirnya aku bisa istirahat tenang!" kata Kakuzu.
"Fushame, kau akan kembali kemana?" Tanya Deidara. Fushame terlihat melamun, namun akhirnya ia menggelengkan kepalanya.
"Kau harus kembali ke Konoha!" perintah Yahiko dengan tegas. Fushame terkejut dan mendongakkan kepalanya.
"Sensei?" gumamnya bingung. Itu sama sekali tidak ia mengerti.
"Konoha adalah tanah kelahiranmu. Kau harus kembali ke sana," sahut Yahiko dengan mantap. Fushame menjadi semakin bingung. Jujur saja, ia sama sekali tidak ingin berpisah dengan sensei-sensei dan mantan anggota Akatsuki yang bersikap menggelikan. Sudah enam tahun ia berada di organisasi Yahiko itu.
"Tetapi sensei…" perkataannya terpotong oleh perkataan Sasori.
"Aku setuju bila setelah perang ini kau kembali ke Konoha," tambah Sasori.
"Itu memang tempat tinggalmu, hmm…" tambah Deidara sambil tersenyum. Konan dan Nagato ikut menambahkan.
"Tenang saja, kita akan selalu mengunjungimu di Konoha," tambah Konan yang ikut tersenyum kecil.
"Markas kita berada di perbatasan Konoha, bukan?" lanjut Nagato yang tak kalah membela Fushame agar kembali ke Konoha.
Sedangkan Itachi hanya tetap diam dan ikut mendengarkan saja. "Sudah, kembalilah ke Konoha," tambah Kakuzu untuk mengakhiri topik pembicaraan juga. Akhirnya Fushame mengangguk menyerah. Ia berusaha tetap tersenyum lebar di hadapan senseinya itu.
"Benar! Jika kau menikah dengan Kazekage, jangan lupa undang kami, ya…" gurau Hidan seperti biasanya. Selalu menjodohkan Fushame dengan Gaara.
"Itu tidak akan mungkin, Hidan – san," sahut Fushame tersenyum pula. Itachi yang berada di sebelah Nagato mulai berbisik.
"Ini bagus, Fushame sudah tidak marah lagi pada Gaara," bisik Itachi. Nagato juga ikut berbisik.
"Hmm, Fushame sudah menjadi gadis dewasa kini," katanya sambil tersenyum senang.
"Kalau begitu, aku berpamit ke Konoha, Sensei," kata Fushame berpamit kemudian ia memeluk Yahiko. Mengingat, Yahiko adalah sensei kesayangannya selama berada di organisasi Yahiko itu. Yahiko juga senang memiliki murid seperti Fushame ini.
"Sudahlah, kau itu sudah besar. Jangan manja begini dong," katanya. Akhirnya Fushame melepas pelukannya. Lalu ia mengangguk. Setelah itu, ia memeluk sensei yang lainnya juga.
"Ketua Yahiko, aku juga akan ikut Fushame menuju Konoha," kata Sasuke tiba-tiba.
"Hmm, pergi dan jaga Fushame dengan baik, ya" pinta Yahiko. Terlihat Fushame sudah mulai menjauh dan melambaikan tangan sambil memegang tali tas ranselnya. Kemudian Sasuke juga menghampiri Fushame dan melambaikan tangan pula.
"Huh, rasanya cukup berat untuk melepaskan Fushame sebenarnya," kata Nagato.
Fushame dan Sasuke sudah mulai menjauh. Mereka terlihat berbincang-bincang seperti saudara yang sangat akrab. (Author: Aku udah pernah bilang kan, kalau Fushame yang sedang jalan dengan Sasuke itu seperti pacaran bukan saudara).
Beralih pada kage dan divisi mereka…
"Gaara!" sapa Naruto begitu berjalan pulang menyebelahi Gaara.
"Hn?"sahut Gaara singkat.
Naruto tiba-tiba menjadi nyengir tidak jelas, "Apa kau tidak menyatakan perasaanmu pada Fushame? Mumpung kau sedang berada di dekat Fushame kini," katanya dengan serius. Gaara menoleh dengan wajah yang bersemu merah. Pertanda ia malu untuk melakukan itu.
Tapi ia membulatkan tekadnya "Hmm, benar juga. Akan kucoba," sahut Gaara dengan mantap.
"Itu benar. Banyak yang mengincar Fushame, nanti kau keduluan loh," tambah Naruto mulai mengingatkan sambil tertawa kecil. Sedangkan Gaara hanya tidak berekspresi dan berkata apa-apa. Dia malah berjalan menghindari Naruto. Naruto terkejut dan memanggil Gaara lagi.
"Hoi! Gaara! Kau mau kemana?" tanyanya.
"Mencari Fushame," sahut Gaara datar. Naruto mulai tersenyum kecil. Entah mengapa, ia menjadi senang sekali karena Gaara akhirnya dapat mencintai seorang gadis. Akhirnya Gaara berjalan mencari Fushame. Tekadnya sudah bulat dan mantap untuk menyatakan perasaannya sekarang juga.
Namun…
Matanya membulat seketika. Perlahan hatinya menjadi luruh tiba-tiba. Hancur. Runtuh. Kesal tiba-tiba. Begitu melihat Uchiha Sasuke yang berjalan serasi dengan Fushame. Dengan tatapan yang penuh arti dari Fushame ke Sasuke. Mendadak Gaara menjadi benci pada Sasuke. Ia belum tahu kalau Fushame adalah sepupu dari Uchiha Sasuke.
Jadi, timbullah perasaan cemburu yang berkobar-kobar *lebay*. Niatnya sudah gagal. Fushame telah menjadi milik Sasuke, pikir Gaara. Sebel sebel!
Akhirnya Gaara kembali pada Naruto dengan lemas.
"Sudah? Kok lemas?" tanya Naruto sedikit bersemangat.
Gaara menghela napas, "Lupakan saja! Itu hanya mimpi kalau Fushame akan menjadi milikku," sahut Gaara berjalan menyeret kakinya. Naruto bingung melihat Gaara yang seperti itu.
CHAPTER 13 END!
Next Chapter
SPECIAL EVENT!
"Program pertukaran shinobi diadakan lagi dengan Sunagakure," ujar Naruto.
…
"Hn," Fushame mendengus tidak jelas.
"Bagaimana kau bisa tiba secepat ini?" tanya Gaara dengan nada datar tetapi juga pura-pura dingin. Stay calm and kece…
…
Sedangkan Fushame hanya tetap menatap dingin, "Huh, benarkah? Baguslah kalau begitu," sahutnya sambil melanjutkan perjalanannya menuju gedung Kazekage. Apa yang bisa dilakukan Kankurou hanyalah terdiam dan membiarkan Fushame pergi.
"Gadis yang sulit ditebak," katanya dengan nyengir tidak jelas.
…
"Tidak mungkin aku melakukan hal seperti itu, pada dasarnya tidak ada gadis yang selalu membuatku bahagia. Jadi, aku tidak akan memberikan barang berharga atau bersikap manis pada seorang gadis seperti itu," terangnya dengan jelas.
…
