Naruto by 'Masashi Kishimoto' "THE RED HAIR COUPLE"
'Almost Ending Arc'
Disclaimer: Tokoh karakter, tempat, dan property lain milik pencipta asli (kecuali Fushame). Hanya untuk berbagi cerita dan hiburan semata!
Warnings: AU, OC & OOC, Many clarify and dialogue, 'cripsy' crack and kidding, mystery and many skip time! Just two choice, "READ" or "DON'T Read"…
R&R please…?
Chapter 14: The Emptiness Heart…
OPENING: "Ini adalah cerita 2 tahun setelah perang perebutan dunia itu. Kemenangan akhirnya ada di tangan para shinobi, bukan akatsuki. Akhir pertarungan memang tidak jelas. Waktu itu, lawan terakhir mereka adalah keenam bijuu itu, masih ingat, bukan? Dan akhirnya Fushame dan Sasuke memutuskan untuk kembali ke Konoha lagi. 2 tahun setelah perang, berarti umur Naruto dan kawan2 adalah 23 tahun. Naruto masih menjadi Hokage "
Fushame menyeret kakinya lagi. Ia sedang berjalan menuju ruang Hokage.
Tok! Tok! Tok!
Ia mengetuk pintu ruang Hokage. Ia sudah hafal dengan sahutan Naruto dari dalam.
"Sudahlah! Langsung masuk saja!" sahut Naruto terdengar kesal. Fushame membuka pintunya dengan kasar. Mengingat baru saja ia menyelesaikan misi dari Hokage, baru pulang belum sempat makan atau beristirahat sudah dipanggil lagi. Begitu memasuki ruang Hokage, ruangannya sangat berantakan penuh dengan kertas yang berserakan.
"Hn?" kata Fushame dengan singkat, lemas, dan datar.
"Program pertukaran shinobi diadakan lagi dengan Sunagakure," sahut Naruto dengan wajah berseri-seri.
"Hn?" sahutnya yang lagi-lagi dengan singkat.
"Kazekage merekomendasikanmu," sahut Naruto sambil tersenyum tak tertahan.
Fushame menghela nafas keras, "Huh, lagi-lagi aku. Mengapa harus aku? Aku sedang lelah. Ingat, barusan kau memberiku misi kelas S, Naruto," sahutnya datar dan dingin.
Naruto pura-pura memasang ekspresi marah. Namun, Fushame tetap menanggapinya dengan ekspresi datar, "Ini adalah tugasmu sebagai shinobi Konoha! Jalankan dengan benar," perintahnya tegas.
"Tidak mau. Ganti dengan orang lain saja," sahut Fushame dengan tenang.
Naruto malah menjadi benar-benar marah, "FUSHAME! Beraninya kau berkata menentang Hokage seperti ini!" hardiknya marah.
"Memang hokagenya siapa?" tanya Fushame pura-pura tidak peduli. Perdebatan seperti itu sudah sering terjadi apabila Fushame lelah setelah menyelesaikan misi. Namun, semakin Naruto marah, Fushame semakin melonjak dingin dan tidak pedulinya. Naruto menanggapi dengan serius dan mulai tenang.
"Mulai besok, kau harus sudah berangkat menuju Sunagakure. Kau akan dikawal oleh ANBU-ku. Jadi tenang saja," sahut Naruto dengan tenang.
"Sudahlah, aku bukan anak kecil yang harus dikawal. Aku akan berangkat sendiri besok pagi," sahut Fushame sambil keluar meninggalkan Naruto tanpa berpamit terlebih dahulu. Naruto hanya tersenyum kecil saja. Seperti biasanya.
Hari esok akhirnya datang. Pukul lima pagi Fushame sudah bangun tidur, mengingat ia harus berangkat menuju Sunagakure pagi-pagi sekali…
BERALIH PADA SUNAGAKURE…
Program pertukaran shinobi diadakan lagi. Biasanya, Naruto merekomendasikan Temari dengan alasan karena disuruh oleh Shikamaru. Namun, kali ini Naruto merekomendasikan yang lainnya karena Temari sudah menikah dengan Shikamaru dan tinggal di Konoha bersama Shikamaru.
Shinobi yang direkomendasikan oleh Naruto juga seorang Kunoichi. Namanya Matsuri. Pengganti dari Temari. Matsuri sudah berangkat menuju Konoha, begitu pula dengan Fushame.
Perjalanan dari Konoha menuju Suna membutuhkan waktu selama tiga hari. Tapi tidak bagi Fushame. Bagi Fushame hanya membutuhkan waktu kurang lebih lima detik agar sampai di Sunagakure. Pastinya dengan teleportasi.
Fushame berjalan tenang memasuki gerbang Sunagakure. Para penjaga gerbang itu bingung entah mengapa.
"Maaf! Kau siapa?"Tanya seorang penjaga itu.
Fushame sedikit menghela nafas, "Huh! Aku shinobi pertukaran dari Konoha. Namaku Fushame, lebih lengkapnya, namaku Uchiha Fushame," sahut Fushame dengan datar dan dingin.
"Ehm, maaf… tetapi, di daftar kami pertukaran shinobi nya dengan kunoichi bernama Uchiha Haruma Fushame bukan Uchiha Fushame," sahut penjaga itu. Fushame kesal mendadak.
"Dasar Baka! Itu sama saja!"
SKIP! ~~~~~~~~~~~~~~~~~~ -_-
Tok! Tok!
"Hn, silakan masuk," sahut Gaara begitu mendengar bunyi ketukan pintu dari luar.
"Gaara – sama, kunoichi yang bernama Uchiha Fushame sudah tiba di Sunagakure," kata seseorang yang mengetuk pintu tadi. Gaara segera mengangkat kepalanya yang tadi ia tumpangkan pada tangannya itu. Terlihat wajah yang berseri-seri setelah ia mendengar nama Fushame.
"Secepat inikah? Bukankah waktu yang di tempuh dari Konoha menuju kemari adalah tiga hari. Seperti baru beberapa jam yang lalu Matsuri meninggalkan desa," sahut Gaara bingung.
"Soal itu aku juga tidak mengerti, Gaara – sama," sahut orang itu.
Gaara segera memberikan perintah, "Cepat panggilkan Fushame kemari," perintahnya.
Orang bawahan Gaara tadi menjadi memiringkan kepala, "Mengapa begitu?" tanyanya.
"CEPAT PANGGILKAN!" teriak Gaara tidak sabaran. Bawahannya tadi langsung melompat kaget.
SKIP! ~~~~~~~~~~~~~~~~~~ -_-
Tok! Tok!
Fushame mengetuk pintu ruang Kazekage dengan keras karena kesal disuruh ini dan disuruh itu. Berbeda dengan Gaara yang mendadak jadi senang tidak jelas. Ia malah merapikan rambutnya yang padahal sebenarnya tidak berantakan. Setelah itu ia langsung sok berwibawa lagi.
"Hmm, masuk!" katanya tegas. Fushame membuka pintu itu dengan cukup kasar.
"Hn," Fushame mendengus tidak jelas.
"Bagaimana kau bisa tiba secepat ini?" Tanya Gaara dengan nada datar tetapi juga pura-pura dingin. Stay calm and kece…
"Hn, mudah saja…" sahut Fushame tidak jelas hingga membuat Gaara memiringkan kepalanya.
"Mu-mudah?" Tanya Gaara bingung.
Fushame menghela nafas, "Hn. Mudah saja bagiku," sahut Fushame dengan tenang.
Sedangkan Gaara menjadi sangat penasaran, "Mudahnya seperti apa?" Tanyanya tidak dengan ekspresi stay calm and kece seperti biasanya. Melainkan dengan ekspresi orang yang bingung dan tidak mengerti.
"Mudah saja," ulang Fushame lagi, "mudah karena menggunakan jurus teleportasi," lanjutnya. Setelah mendengar penjelasan Fushame tadi, Gaara langsung merubah raut wajahnya lagi.
"Hn, baguslah. Kalau begitu, silakan kau beristirahat dahulu. Besok pagi kau datang kemari lagi dan akan kuberikan sebuah misi," sahut Gaara dingin. Sedangkan Fushame hanya diam dan mengerjapkan matanya saja. Kemudian membalikkan tubuhnya dan pergi keluar.
Sepintas Gaara menjadi sangat terkejut. Jarang sekali ia diperlakukan seperti itu.
Akhirnya Fushame berjalan keluar dengan menyeret kakinya. Ia ingin cepat-cepat beristirahat. mengingat ia kurang tidur tadi malam. Karena dia adalah shinobi pertukaran dari Konoha, ia sudah disiapkan sebuah rumah kecil untuk ia tinggali selama ia berada di Suna ini.
Fushame menatap ke sekeliling kota berpasir itu. Memang terlihat beda sekali dengan Konoha. Suasana langit pun terlihat lebih panas dari Konoha. Oleh karena itu, untuk ke Suna Fushame lebih memilih menggunakan cara Teleportasi bukan dengan cara manual seperti biasanya.
Kini pun, ia merasa sangat kepanasan hingga ia terus mengelus tangannya yang seperti hampir terbakar oleh terik matahari itu. melihat tingkahnya itu, semua orang yang berpapasan dengan dia menjadi memerhatikan Fushame. Mengingat Fushame juga adalah orang asing di sana.
"Hei, siapa dia?" bisik seorang ibu rumah tangga yang sedang berbelanja bersama ibu-ibu yang lain.
"Dia adalah orang asing. Sepertinya berasal dari Konoha," sahut ibu-ibu yang lain.
"Ah, benar juga, kudengar program pertukaran shinobi diadakan lagi dengan Konoha,"
"Kurasa ini tidak akan berguna lagi,"
"Kita lihat dulu kemampuan gadis ini, apakah kemampuannya sama saja dengan shinobi Hyuuga yang kemarin itu,"
"Oh, si pemuda genit itu. untung saja bukan si Hyuuga itu, kalau sampai dia datang lagi, bisa-bisa anakku digodai terus olehnya,"
"Hmm, kalau dipikir-pikir shinobi Konoha itu aneh-aneh, ya? Ada yang genit, ada yang makan melulu, ada yang tukang marah,"
"Apalagi Hokage yang baru ini. Ia selalu terlihat bodoh,"
"Memang bodoh," sahut Fushame tiba-tiba yang ternyata sudah berada di sebelah gerombolan ibu-ibu itu.
"Apa?" Tanya seseorang yang berbaju hijau.
"Pada dasarnya, Neji itu lebih pintar dibandingkan dengan Naruto," sahut Fushame lagi datar. Ibu-ibu itu menjadi semakin tercengang bingung.
"Tapi, kenyataannya, Konoha tetap menjadi desa yang kuat walaupun dipimpin oleh seorang Hokage bodoh itu. sudah ya, aku sudah kepanasan. Aku ingin segera ke rumahku," lanjut Fushame lagi dengan acuh-tak-acuh.
Akhirnya ia melanjutkan perjalanannya. Tiba di sebuah bangunan rumah yang kecil dan terlihat seperti rumah di Suna pada umumnya. Rumah tersebut tidak terlalu jauh dengan gedung kazekage. Mungkin hanya berjarak 500 meter dari situ. Seperti pada saat beberapa tahun yang lalu, program pertukaran shinobi ini hanya dilaksanakan selama 3 bulan.
BERALIH PADA RUANG KAZEKAGE…
Tok! Tok!
"Hn," kata Gaara sambil melipat tangannya di meja. Seseorang membuka pintu ruangannya tersebut, sesosok pria berbaju hitam masuk.
"Kau terus bekerja keras, Gaara," kata pemuda berbaju hitam itu yang ternyata adalah Kankurou.
"Begitulah," sahut Gaara dengan singkat sambil menulis sesuatu pada kertas putih itu. sedangkan Kankurou terduduk pada sebuah kursi dekat meja Gaara itu.
Kemudian ia melipat kakinya, "Kudengar pertukaran shinobi dengan Konoha diadakan lagi?" katanya dengan nyengir tidak jelas.
"Hn," sahut Gaara dengan singkat dan datar. Ia tetap tidak menatap wajah Kankurou sedikit pun. Kankurou beranjak berdiri lalu mulai bertanya lagi,
"Neji Hyuuga, kah?"
Gaara mengangkat kepalanya sebentar, "Bukan," sahutnya singkat. Kankurou sedikit menjadi penasaran.
"Lalu? Siapa yang kau pilih? Bukankah shinobi Hyuuga itu cukup berbakat?" tanyanya mengernyitkan dahinya.
Gaara tidak langsung menyahut. Ia melanjutkan menulis, "Aku memilih Fushame," sahutnya. Kankurou terkejut seketika. Bingung bercampur senang.
"Fushame? Yang menyembuhhkanmu waktu perang itu?" tanyanya lagi. Gaara tidak menyahut apa-apa. Hanya mengangguk sedikit. Mendengar itu, Kankurou malah menjadi semakin tersenyum lebar. Semakin dekat dengan Fushame, itu semakin bagus, pikirnya.
"Hei! Kau Fushame, bukan?" sapa Kankurou senang begitu melihat Fushame yang berpapasan dengannya. Fushame yang mula-mula menundukkan kepalanya dan menatap pasir itu, mengangkat sedikit kepalanya dengan malas di kala pagi hari yang panas ini.
"Hn, kau siapa? Tidak usah sok ramah denganku," sahut Fushame yang terdengar sedikit menyakitkan didengar.
"Kau tidak ingat aku? Aku kakaknya Gaara," kata Kankurou berusaha melunakkan perasaan Fushame.
Sedangkan Fushame hanya tetap menatap dingin, "Huh, benarkah? Baguslah kalau begitu," sahutnya sambil melanjutkan perjalanannya menuju gedung Kazekage. Apa yang bisa dilakukan Kankurou hanyalah terdiam dan membiarkan Fushame pergi.
"Gadis yang sulit ditebak," katanya dengan nyengir tidak jelas.
DI RUANG KAZEKAGE…
Tok! Tok!
Begitu mendengar itu, entah mengapa Gaara menjadi tegang tiba-tiba.
"Hn, silakan masuk!" katanya dengan datar. Sudah pasti seseorang membuka pintu tersebut, dan ternyata adalah Fushame.
"Aku sudah datang seperti yang kau suruh kemarin," sahut Fushame dengan tampang malas biasanya.
Gaara segera mengangkat kepalanya begitu mendengar suara yang sangat ia ingin dengar itu, "Baiklah, kalau begitu aku akan memberimu misi," sahutnya dengan datar. Kemudian ia membaca sebuah tumpukan kertas-kertas yang ada di dekat mejanya itu. sedangkan Fushame terlihat sangat malas dan pucat. Tetapi bukan raut wajah seperti biasanya.
Gaara sedikit menoleh, "Ada apa? Kau sedang sakit?" katanya dengan nada sedikit cemas. Fushame mengangkat kepalanya dan berusaha tersenyum kecil.
"Hn, tidak tidak. Aku tidak apa-apa," katanya dengan senyum kecil. Namun Gaara tidak percaya begitu saja, ia menghampiri Fushame dan berusaha mendekati wajah manis gadis itu.
"Jangan terlalu memaksakan dirimu. Jika kau lelah, katakan saja padaku," jelas Gaara dengan nada yang masih cemas. Kemudian ia menaruh telapak tangannya pada dahi Fushame. namun Fushame segera menyingkirkan tangan Gaara itu.
"Aku tidak apa-apa. Apa misiku?" katanya berusaha mengalihkan pembicaraan. Sepintas Gaara terlihat sedikit bingung.
"Hn, baiklah. Saat berada di sini, kau tidak akan diberikan misi sulit seperti biasanya. Hanya misi dalam desa saja," jelasnya, "Misimu kali ini hanya mengawasi keadaan ninja medis di desa ini," lanjutnya lagi. Awalnya Fushame sedikit terkejut mendengar misi yang terdengar sangat mudah itu, namun akhirnya ia tersenyum dan kemudian membungkukkan tubuhnya untuk berpamit.
"Ya," sahutnya sambil membungkukkan tubuhnya. Kemudian ia pergi keluar. Melihat tingkah Fushame yang membungkukkan tubuh itu, Gaara menjadi terkejut pula. Karena, selama ini, yang ia tahu Fushame adalah gadis keras kepala. Bahkan, tersenyum saja malas.
Hari sudah sore. Langit tetap terlihat bersinar hingga terlihat masih terang meskipun akan menjelang malam. Misi memang terdengar mudah, dikerjakan juga mudah. Namun, entah mengapa suasana lelah dan lemas tetap mengejar Fushame yang kini berjalan menyeret pasir itu. Fushame tidak langsung pulang dan membaringkan tubuhnya pada ranjang. Ia malah menuju sebuah dataran tinggi dekat situ yang merupakan tempat yang sangat indah untuk melihat matahari terbenam. Kita sebut saja dataran tinggi ini dengan sebutan "Peak Sand".
Di dekat dataran itu, terdapat kursi taman yang hanya dapat diduduki sekitar tiga orang saja. Ia ingin segera duduk di situ, namun terlihat seseorang dengan jubah panjang berwarna putih duduk di situ juga. Dan ternyata, orang tersebut adalah…
"Gaara," sapanya sedikit terkejut. Gaara sedikit menoleh.
"Oh, Fushame," sahutnya. Kemudian Fushame menghampiri dengan menyeret kakinya lagi. Lalu, ia terduduk di sebelah Gaara.
"Bagaimana dengan misimu?" Tanya Gaara mencoba mengajak Fushame untuk membuka mulutnya.
Fushame menyahut dengan sedikit lemas, "Cukup lelah. Tetapi, ini lebih mudah jika dibanding dengan misi yang biasanya Naruto berikan padaku," katanya dengan senyuman kecil. Gaara sedikit menoleh dan berusaha sedikit tersenyum kecil.
"Benarkah? Memang, biasanya misi kelas apa yang kau terima?" Tanya Gaara. Fushame sedikit mengangkat bahunya.
"Naruto lebih senang jika aku selalu menjalankan misi dengan kelas paling top dan rahasia. Yang sangat membuatku lelah. Baru pulang menyelesaikan misi, keesokan harinya aku pasti akan diberi misi baru lagi. Tidak ada hentinya memberiku misi sulit," terang Fushame dengan sejujur-jujurnya.
"Terdengar sangat melelahkan," sahut Gaara datar. Tetap berusaha datar meskipun terasa panas di dalam hatinya itu. Menyadari itu, Gaara menjadi teringat akan perasaannya yang selama ini ia pendam itu. Perasaan yang selalu membuatnya bimbang dan lelah karena harus menahan terus-menerus. Namun, di sisi lain, hatinya terasa sakit karena mengingat Fushame yang sedemikian dekatnya dengan Uchiha Sasuke.
Sebenarnya Gaara cemburu. Cemburu karena berpikir Fushame dan Sasuke memiliki hubungan yang dekat dan bersifat pribadi. Padahal, sebenarnya Sasuke dan Fushame adalah sepasang saudara sepupu, bukan sepasang kekasih.
"Ehem," Gaara berdeham. Fushame menoleh bingung.
"Ada apa?" Tanya Fushame tenang.
"Hmm, Fushame…" sahut Gaara dengan nada datar.
"Ya?"
"Jika ada seorang gadis berjalan bersama seorang pria dengan tatapan yang dalam, dan terus beradu senyum pada pria itu, apakah itu berarti hubungan mereka sangat dekat?" tanya Gaara dengan panjang lebar.
"Seorang gadis berjalan dekat dengan pria, dan menatap dalam. Hmm, mungkin mereka adalah sepasang kekasih. Iya, bukan?" sahutnya dengan polos sambil menatap Gaara di sebelahnya itu. Mendengar itu, hati Gaara terasa retak seketika. Merasa tidak ada kesempatan yang tersisa untuknya. Merasa kalau Sasuke dan Fushame adalah sepasang kekasih yang tidak mungkin berpisah begitu saja.
"I-iya. Itu benar," sahutnya lemas. Kemudian, suasana menjadi hangat dan hening. Hangat karena sinar matahari yang masih terlihat setengah muncul, hening karena Gaara merasa tak ada lagi yang perlu ia katakan lagi pada Fushame.
"Sekarang aku yang ingin bertanya padamu," kata Fushame tiba-tiba.
"Apa?"
"Mungkinkah, jika seorang pemuda dingin sepertimu, yang pernah kubenci. kujauhi, bahkan kukucilkan, pernah bersikap baik, atau bahkan memberikan barang berharga pada seorang gadis yang selalu membuatmu kesal?" tanyanya.
Gaara mengangkat sedikit kepalanya. Mendengar itu, ia menjadi teringat saat ia memberikan kalung pertanda maaf-nya pada Fushame. Namun, Fushame bukanlah orang yang pernah membuatnya kesal. Bukan sama sekali.
"Tidak mungkin aku melakukan hal seperti itu, pada dasarnya tidak ada gadis yang selalu membuatku bahagia. Jadi, aku tidak akan memberikan barang berharga atau bersikap manis pada seorang gadis seperti itu," terangnya dengan jelas dan setelah beberapa detik kemudian, ia menyadari kalau ia sedikit salah bicara. Mendengar itu, Fushame menjadi bingung. Hatinya terasa sedikit sakit entah mengapa. Terasa ingin meneteskan air mata tanpa tahu sebabnya.
Menahan perasaan yang tidak pernah dapat ia artikan itu sambil terus menggenggam kalung yang melingkari lehernya itu dengan erat.
CHAPTER 14 END!
