Naruto by 'Masashi Kishimoto'

"THE RED HAIR COUPLE" ~ Uchiha Cla

Disclaimer: Tokoh karakter, tempat, dan property lain milik pencipta asli (kecuali Fushame). Hanya untuk berbagi cerita dan hiburan semata!

Warnings: AU, OC & OOC, Many clarify and dialogue, 'cripsy' crack and kidding, mystery and many skip time! Just two choice, "READ" or "DON'T Read"…

R&R please…?

CHAPTER 19:

Gentle Rainbow… Deep Breathing,

*Gentle Words, From The Deep Heart…*

It's Over!

The Marriage is Over!

"Huh! Sangat mengesankan," kata Ino sambil membawa serangkaian bunga.

Sai yang berada sebelahnya tersenyum senang, "Kau terlihat sangat senang? Ada apa?" tanyanya.

"Lihat ini," sahut Ino sambil menyodorkan selembar kertas pada Sai. Kemudian, Sai meraihnya dan membacanya dengan seksama. Tiba-tiba, bibirnya yang tipis itu menyunggingkan sebuah senyum senang.

"Hah! Ino… kau?"

"Benar, sebentar lagi kita akan jadi sebuah keluarga…" sahut Ino dengan sangat gembira. Begitu pula Sai. Kemudian Sai merangkul istrinya itu, Ino dengan erat.

Benar, setelah acara pernikahan ini bubar, semuanya tentu langsung berjalan menuju rumahnya masing-masing. Semuanya diliputi oleh perasaan senang. Kecuali dua orang yang selalu murung dari tadi pagi.

Sedangkan orang-orang yang berasal dari desa lain, akan pulang pada esok hari. Malam ini, Naruto ingin mengadakan acara makan bersama teman-temannya di sebuah restaurant Yakiniku. Tetapi, rencananya mereka ingin menghabiskan waktu hingga waktu larut malam. Oleh karena itu, acara makan-makan dimulai pada pukul 21.00.

Pukul 20.00…

Baru jam segini, tetapi entah mengapa jalan di Konoha ini menjadi sangat sepi dan hening.

Tap! Tap!

Gaara berjalan dengan perlahan, menundukkan kepalanya. Menatap tanah kosong tidak jelas. Dari depan Fushame berjalan menyeret kakinya. Menggenggam kalung chakranya sambil tertunduk pula.

Tidak sadar ia hampir menabrak seseorang. Akhirnya…

BRUK!

Mereka berdua tertabrak dengan cukup keras, setidaknya kalung chakra Fushame itu terjatuh ke tanah. Untung saja tidak sampai hancur. Fushame malah menunduk terdiam. Bukannya meraih kalungnya yang jatuh itu. Gaara menatap Fushame dengan bingung. Melihat kalung yang jatuh di tanah itu.

Akhirnya Gaara sedikit membungkuk untuk mengambil kalung itu. Kemudian ia menyodorkan kalung itu pada Fushame. Tetapi Fushame tetap terdiam tidak melakukan apa-apa.

Gaara menghela napas dengan dalam. Daripada ia lelah menyodorkan kalung itu pada Fushame, akhirnya ia menaruh kalung itu pada saku celananya.

"Hey! Kembalikan!" ujar gadis berambut merah itu yang akhirnya menunjukkan reaksi.

Gaara menghela napas lagi, "Kau tidak menginginkan kalung ini, bukan?" katanya enteng.

"Sudahlah, kembalikan saja. Itu kalungku," sahut Fushame dengan datar.

"Apa pentingnya kalung ini bagimu?" Tanya Gaara dengan nada juga datar.

Fushame malah menunduk lagi, "Kalung itu memiliki banyak arti," sahutnya.

"Hn, baguslah," sahut Gaara singkat tanpa menatap wajah Fushame sama sekali. Entah mengapa rasanya mereka itu seperti orang yang baru saling kenal.

"Bagus?" Fushame mengangkat kepalanya dan menatap wajah Gaara dengan alis sebelah terangkat.

Perlahan Gaara menatap Fushame juga, "Hn, kau tidak ingat," sahutnya sedikit dingin.

"Apa?"

"Kalung ini,"

Fushame tambah bingung, "Apa maksudmu?"

Gaara tidak langsung menjawab. Dengan wajah malas ia menoleh ke arah samping, "Bukankah aku yang memberikan kalung ini padamu," katanya sambil mengambil kalung chakra itu dan menyodorkan pada Fushame.

"Kau?" Fushame masih tidak percaya.

"Benar,"

Fushame masih tercengang melihat mata Gaara itu dengan dalam. Kemudian ia meraih kalung chakranya itu dan melihat kalungnya itu dalam tunduknya. Termenung. Hening. Gaara melihat itu dengan raut yang cukup canggung. Tetapi ia tidak menunjukkannya secara langsung. Mengingat, selama ini ia adalah orang yang stay calm and kece (lagi2 kata2 itu muncul-_-).

Perlahan air mata dari gadis itu membasahi pipinya dengan tenang. Tanpa isakan sedikitpun. Menangis dalam hening dan tunduknya. Namun, meskipun begitu Gaara juga mengetahui kalau Fushame sedang menangis.

"Terimakasih…" gumam Fushame di tengah serak tangisnya.

Gaara terdiam. Suara yang ada hanyalah semilir angin yang berhembus cukup kencang ini, dan suara degup jantung Gaara yang sangat kencang ini.

Gaara berjalan mendekati Fushame. Kemudian, ia memberanikan diri untuk mendekap Fushame dalam pelukannya. Sekali lagi Gaara menghela napas.

"Aku mencintaimu…" katanya begitu memeluk Fushame.

Fushame tidak menjawab, isakan tangisnya semakin menjadi. Namun, akhirnya ia juga mendekap Gaara dengan erat. Meskipun Fushame tidak menjawab apa-apa, tetapi Gaara tahu artinya, hingga membuatnya harus tersenyum tak tertahan dan membelai rambut Fushame untuk meredakan tangisnya.

"Ya…" sahut Fushame dalam tangisnya.

"Hei! Ada apa ini?" bisik Naruto pada Hinata yang duduk bersila di sebelahnya itu.

Hinata menoleh bingung.

"Ga-gaara…" bisik Naruto lagi berusaha menjaga suaranya agar tidak terdengar oleh Gaara. Shikamaru yang berada di sebelahnya itu juga mendengar ternyata.

"Mungkinkah?" katanya dengan sedikit tercengang begitu melihat Gaara dan Fushame yang dari tadi tertawa sendiri sambil mengobrol dengan sangat akrab dan dekat. Akhirnya, sejak tadi Naruto, Sasuke, Hinata, Sakura, Ino, Tenten, Shikamaru, Temari, Chouji, Sai, Neji, Lee, Shino, Kakashi, Kurenai, Gai, dan anggota Dunia Yahiko terdiam sambil terus memerhatikan tingkah kedua pasangan ini yang tidak biasanya.

Akhirnya, Deidara mengambil jalan pintas. Ia langsung duduk di antara Fushame dan Gaara yang sedang asyik itu.

"Hm Hm…" Deidara terbatuk kecil. Fushame dan Gaara ternyata baru tersadar kalau dari tadi semuanya itu hening karena mereka.

"Gaara…" gumam Naruto yang perlahan tersenyum berarti. Gaara mengangkat kepala perlahan.

"Hn?"

Shikamaru menelan ludah, "Kalian… kalian…" katanya terbata.

"Kau itu kalau bicara yang jelas. Gaara apa kau…" kata Temari yang terpotong oleh perkataannya Gaara.

"Beberapa bulan lagi mungkin kita akan menikah," sahutnya datar. Awalnya semuanya tercengang bingung.

Berbeda dengan Hidan yang malah tersenyum lebar, "Fushame! Kau adalah muridku yang paling hebat," katanya tidak jelas.

"Hei! Dia itu muridku, bukan muridmu…" timpal Sasori sambil memukul kepala Hidan.

"Huh! Kau ini, dia yang memanggilku sensei, ingat itu!" sahut Hidan sambil mengelus-elus kepalanya yang terasa sakit setelah dipukul Sasori itu.

Kemudian, semuanya menjadi tertawa dan memulai pembicaraan.

"Akhirnya, Fushame membuka hatinya juga…" kata Sasuke sambil melahap daging yang telah matang itu.

Shikamaru tersenyum kecil, "Heh! Fushame yang kutahu adalah seorang gadis dingin yang paling malas menyatakan perasaannya," katanya.

"Dan Gaara yang kutahu adalah seorang pria yang selalu terlambat menyadari dan menyatakan sesuatu…" tambah Temari yang berada di sebelah Shikamaru.

Naruto mulai, "Akhirnya, sahabatku ini…" katanya sambil merangkul-rangkul Gaara yang duduk di sebelahnya itu dengan sangatlah erat.

"Hmm, apa kataku? Itu benar, bukan? Fushame?" Tanya Sakura pada Fushame.

"Oh… Selamat, Fushame…" tambah Ino dengan senyum lebar.

"Kalian sangat serasi," tambah Tenten pula.

Sedangkan Fushame hanya tersenyum kecil saja. Kalau mau menyahut, ia juga bingung sebenarnya harus menjawab apa. Kalau menjawab terimakasih rasanya terdengar sangat formal. Kalau 'Hn' terdengar sangat menyebalkan. Kalau menjawab 'Ya' terkesan tidak jelas.

"Hei! Dengar, jangan sampai kau menyakiti Fushame. Kalau sampai kau membuat Fushame menangis, maka kau akan kuberi hukuman sama seperti penari boneka itu, unn…" ancam Deidara pada Gaara. Namun, Gaara tetap menanggapinya dengan wajah yang datar. Tetapi, akhirnya ia baru tersadar.

"Penari boneka?" tanya Gaara, Naruto, Shikamaru, Temari serempak. Sasori yang duduk di sebelah Shikamaru itu menggigit dagingnya dengan nikmat.

"Maksudnya adalah Kankurou," terang Sasori sambil mengunyah dagingnya itu.

"Apa? Jadi Kankurou…" kata Gaara terkejut.

DI SISI KANKUROU…

Kankurou berjalan pulang ke Suna. Ia diberi hukuman untuk mengupas, memotong, merajang bawang Bombay hingga membuat matanya itu menjadi perih. Perasaannya senang karena ia akan kembali ke Suna dan bertemu dengan Gaara atau setidak dapat bertemu dengan Fushame lagi.

Tetapi…

"Oh Tuhan! Mengapa semua orang lenyap? Menghilang entah kemana!" serunya sambil menangis tersedu.

KEMBALI PADA MAKAN BERSAMA NARUTO…

"Oh, jadi begitu," sahut Gaara begitu mendengar penjelasan dari Hidan yang duduk di seberangnya itu.

"Naas sekali…" tambah Fushame dengan nada mengejek.

Kakuzu tertawa kecil sambil terus melahap dagingnya itu. Hidan menyahut, "Tidak, itu masih belum naas. Yang naas adalah jika kau tidak bersatu dengan Kazekage," gurau Hidan sambil tertawa kecil.

"Hidan, sepertinya kau itu bersemangat sekali…" kata Konan sambil tertawa kecil.

"Ckck, semua ini tidak terduga, ya…" kata Nagato dengan tersenyum pada Fushame, "Oh, ya. Adikmu sudah menikah, Itachi. Bagaimana denganmu?" Tanya Nagato kepada Itachi.

Itachi menghela nafas, "Sudahlah, kau sendiri juga tidak menikah," katanya dengan datar.

"Ha, yang satu-satunya menikah hanyalah Yahiko dengan Konan," kata Nagato tertawa kecil sambil melihat ke arah Yahiko yang sedang bermain dengan anak kecil berambut biru itu.

"Kau sedang membicarakan tentang aku, ya?" tanya Yahiko.

"Tidak juga," sahut Nagato.

Hari ini memang hari yang indah. Selalu dipenuhi dengan tawa senang yang berharap akan terus mengikuti sampai hari ke depan.

Hari demi hari, bulan demi bulan bahkan tahun demi tahun berlalu. Fushame menikah dengan Gaara, dan ia tinggal di Sunagakure. Semenjak hari pernikahannya, ia menjadi jarang ke Konoha. Bahkan setelah kabarnya ia memiliki seorang anak, ia jadi tidak sempat lagi untuk mengunjungi Konoha. Semua telah sibuk dengan kehidupan masing-masing.

Datanglah pagi hari cerah. Hari baru dimulai dengan kelantangan kata…

"Apapun itu, hajar dengan lantang dan berani. Kau mengerti?" jelas Temari sambil menggandeng gadis berambut hitam kecilnya itu dengan erat. Sedangkan Shikamaru yang berjalan di antara anaknya itu juga menggandeng anak laki-lakinya yang berambut pirang.

"Yukari, Takamaru tidak usah terlalu dipikirkan. Jika kalian merasa lelah langsung menyerah saja…" kata Shikamaru dengan nada malas.

"Hey! Kau itu memberikan ide yang tidak baik pada anak-anak," kata Temari kesal. Akhirnya mereka melanjutkan perjalanan menuju lokasi.

Benar, hari ini adalah hari ujian chuunin. Mereka akan mendapat tantangan untuk berduel dengan orang yang telah ditentukan.

SISI LAIN…

"Lawanku adalah Yukari… Itu sulit. Meskipun Yukari terlihat lemah, tetapi dia adalah orang yang kuat dan pintar…" jelas seorang anak kecil (boy) yang berambut hitam itu.

Ino sedikit mengerjapkan matanya, "Sudah tenang saja, meskipun Yukari itu adalah anak yang hebat, tetapi ia sedikit memiliki karakter menular dari ayahnya," sahutnya dengan sedikit memegang dahinya.

"Karakter menular?" tanya Sai bingung.

"Karakter pemalas dan gampang menyerah…" jelas Ino. Anaknya yang bernama Irino dan Sai mengangguk-angguk mengerti.

SISI LAIN…

Sakura berjalan dengan perlahan, "Soutta? Siapa dia?" tanyanya sedikit bingung. Sedangkan Sasuke hanya mendengarkan cerita anaknya itu tanpa merespon. Kalau dilihat dari sisi wajah, anaknya lebih mirip dengan Sasuke. Namun, kalau soal gaya bicara dan tingkah sama sekali tidak mirip dengannya. Melainkan mirip dengan Sakura yang sangat bawel itu.

"Soutta adalah seorang anak berambut merah yang sangat hebat. Anak laki-laki yang sangat keren dan hebat. Dia juga sangat baik dan juga tepat waktu…" jelasnya sambil melebar-lebarkan tangannya.

Sasuke tetap terkesan tenang, "Hn? Begitukah?"

"Benar ayah! Seorang shinobi pengendali pasir dan sharingan yang sulit dikalahkan. Pasti orang tuanya adalah orang yang sangat hebat dan bijaksana," jelas Kazue lagi dengan terkagum-kagum.

"Sebenarnya dia itu anaknya siapa, sih?" tanya Sakura masih bingung.

Kazue mengulang lagi, "Soutta adalah shinobi yang hebat, keren, cool, dan juga tepat waktu…"

Tepat waktu?

SISI LAIN…

"Soutta…" teriak seseorang dengan keras. "Hei, Soutta! Kau itu dengar tidak, sih?" teriak Fushame lagi sambil menepuk-nepuk seorang anak yang dipanggil Soutta itu, masih tertidur lelap.

Soutta malah menggulung dirinya pada selimut, "Hn," sahutnya tidak jelas.

"Hei, Soutta! Ini sudah siang, kau akan ujian Chuunin, bukan?" kata Fushame lagi dengan keras lagi.

"Oh, iya! Aku lupa, hari ini adalah ujian chuunin! Baka!" kata anak laki-laki berambut merah itu sambil memukul-mukul kepalanya sendiri.

"Hmph! Waktumu hanya tinggal 5 menit," kata Fushame dengan datar dan tenang.

"Lalu? Ayah mana?" tanya anak berambut merah itu menggaruk-garuk rambutnya yang sebenarnya tidak gatal.

Fushame menghela napas, "Ayahmu sudah pergi bersama Hokage dari tadi pagi," jelasnya.

LOKASI UJIAN CHUUNIN…

Riuh penonton dari segala penjuru Negara sudah datang meramaikan suasana.

"Apa?" kata Naruto terkejut begitu membaca secarik kertas, "anakku melawan anaknya Neji?" katanya lagi terkejut.

Gaara berada di sebelahnya juga ikut membaca secarik kertas yang sama isinya, "Benar! Soutta juga akan bertarung dengan Kazue…" sambungnya.

"Apakah kau tidak sadar akan sesuatu?" tanya Naruto memiringkan kepalanya.

"Apa?"

Naruto menghela napas, "Semua ini rasanya seperti mengulang kejadian kita di masa lalu," katanya dengan panik tidak jelas.

"Benarkah?" Gaara dengan datar.

"Ya!"

Gaara sedikit tertawa kecil, "Hn, siapa yang tahu…" ujarnya dengan berseri-seri

The End!

Closing!

Author: Akhirnya, my first fanfic "THE RED HAIR COUPLE" sudah selesai :D. Terimakasih atas dukungan, perhatian dan kesetiannya dalam membaca, terutama reviewer yang selalu memberi comment dan usulan terhadap fanfic ini. Sumimasen ya atas segala kekurangannya ^^