Possesive

.

.

.

Disclaimer : Aoyama Gosho


Shinichi sangat menikmati saat-saat ketika dia membelai rambut pirang strawberry Shiho, menyusuri helai demi helai rambut halusnya. Diluar warna rambutnya yang tak biasa di kalangan wanita Japan, dia sebenarnya tidak pernah menyadari kalau dia bisa menyukai warna tertentu kalau itu bukan karena milik gadis itu. Shinichi juga diam-diam menikmati aroma gadis itu ketika dia berada dalam pelukannya, bukan aroma parfum atau deodorant yang menyengat, tetapi aroma tubuh khasnya yang membuatnya tidak bisa berpikir jernih ketika berada didekatnya. Dia tau kalau Shiho memang wanita cantik. Dia jauh lebih cantik dari wanita Japan pada umumnya. Dia tau kalau banyak pria yang memalingkan wajahnya ketika melihat gadis itu. Walau Shiho memancarkan aura khas yang sulit didekati, Shinichi senang karena dia hanya sedikit dari orang yang diperbolehkannya untuk mengenal gadis itu sesungguhnya.

Seperti hari ini. Shinichi dan Shiho sedang bersama dengan Meitantei Boys dan Hagase bersenang-senang di Tropical Beach. Gadis itu tersenyum kecil kemudian menghilang di toilet untuk mengganti baju dan kemudian balik dengan one piece swimsuitnya yang berwarna ungu. Shinichi ternganga dan tak mampu melepaskan pandangan dari dia sedetik pun yang mengakibatkan tatapan death glare trade mark dari gadis itu. Dan Shinichi sama sekali tidak suka pandangan pria-pria yang disekeliling ketika melihat Shiho. Dia berani bersumpah ada pria yang terpeleset ketika Shiho melintas di depan pria malang itu. Kalau dulu waktu bersama Ran, hanya pria seumuran yang melakukan pendekatan, dan khusus Shiho, sepertinya range usia pria yang tertarik padanya bukan hanya pemuda tanggung tetapi juga pria dewasa. Shinichi menggeram marah ketika melihat wajah pria kesepuluh yang memerah melongo ke arah Shiho yang sedang melakukan pemanasan di tepi kolam. Dia akhirnya memutuskan untuk menarik gadis itu pulang sebelum kecemburuannya meledak.

"Hey, Shinichi. Aku sama sekali belum berenang." Protes Shiho.

"Aku….aku sakit flu. Tak bisa berenang"gumam Shinichi pendek.

Shiho menatapnya berkerut,"Kau tampak baik-baik saja 15 menit lalu. Apa karena flu musim panas? Ini sudah yang ketiga kalinya kau mendadak sakit" dia hendak meraba kening detektif itu tapi tampaknya percuma karena Shinichi cepat menghindar sebelum dia sempat menyentuhnya. Seluruh tubuhnya sedang panas karena cemburu sekarang kalau ditambah sentuhan gadis itu, dia tak yakin dengan ketahanan tubuhnya.

"Biar Hakase yang mengajak anak-anak main saja, kau ikut pulang denganku ya?" pinta Shinichi dengan wajah memelasnya. Shiho tersenyum mengangguk dan hendak mengambil baju gantinya ke toilet. Tapi percuma. Karena 5 menit kemudian terdengar jeritan seseorang dari arah kolam. Shiho hanya memutar bola matanya pasrah yang membuat Shinichi nyengir.

" Kau tau ini bukan salahku kalau memang kebetulan banyak kasus terjadi di saat kita sedang kencan"

"YA. Semua juga tau ini bukan salahmu, MURDER MAGNET. Pergilah." Shinichi mengangguk dan segera pergi ke lokasi arah jeritan itu. Beberapa lama kemudian lokasi sudah penuh dengan polisi dan sepertinya merupakan kasus pembunuhan ketika melihat tim forensik dan ambulans yang datang.

Setelah mengganti pakaian, Shiho menunggu di kafe yang tak jauh dari sana. Selama 2 jam dia menunggu, sudah berapa kali dia menolak tawaran minuman, ajakan kencan, agensi model yang tampak mencurigakan, pria mabuk, gerombolan anak remaja yang bertaruh untuk mengetahui namanya dll. Semua kejadian ini hampir membuat dia kehilangan ketenangannya dan untung Hakase berserta Meitantei Boys datang setelah siap bermain kemudian menemaninya.

Tak lama kemudian Shinichi datang bergabung dengan mereka dengan senyum lebarnya. Shiho tau kalau detektif itu telah memecahkan kasus yang terjadi itu dengan memuaskan. Dia datang dan kemudian duduk di depan Shiho dengan wajah berseri-seri.

"Tampaknya pembunuhan merupakan obat yang mujarab untuk flu-mu, Kudo-kun" ucap Shiho dengan wajah datar.

Shinichi terkejut dan tak mampu berkata-kata. Apalagi Shiho mengatakannya dengan aura yang sedingin es dan tanpa menatap matanya. Gadis itu kemudian bangkit dari kursi kafe dan meninggalkan Shinichi dengan Hakase berserta anak-anak.

"Shiho... Tunggu dulu." Shinichi cepat bangkit dan hendak menyusul. Hakase yang melihat dia kemudian mengangguk dan menggumam kalau dia yang akan membawa anak-anak pulang. Shinichi melemparkan senyum maaf dan berlari mengejar.

Shinichi berhasil menemukan gadis itu sedang berdiri di tepi beranda Tropical Beach atas setelah beberapa lama mencari. Disana hanya dia sendirian. Shiho sedang berdiri menyilangkan kedua tangannya menatap pemandangan kota dari bawah. Malam mulai menjelang dan suara burung berkeciap yang hendak pulang ke sarangnya bertebaran di udara.

"Shiho..." panggil Shinichi pelan.

Gadis itu tak menjawab, tapi matanya kemudian berpaling menatap Shinichi.

"Beri aku alasan yang tepat kenapa kau selalu berpura-pura flu kalau kita sedang kencan di pantai."ujarnya datar.

"Umm..itu.." Shinichi tergagap mencoba mencari alasan yang terdengar meyakinkan, tapi sialnya saat itu otaknya tak bisa diajak berpikir.

"Kau cemburu?"tanya Shiho pendek.

"Apa? Tentu saja tidak?"elak Shinichi cepat.

"Ada alasan lain?" SHiho menyipitkan matanya menatap detektif itu.

"Itu... YA, Benar. Aku tidak suka pandangan pria lain padamu. Apalagi ketika kau mengenakan pakaian terbuka" ujar Shinichi keras.

Bibir Shiho melengkung ke atas. " Tak kusangka pria tak peka sepertimu bisa cemburu"

"Kau tau, kau membuatku tak bisa berpikir jernih" Shinichi mendekat dengan tatapan mata yang berbahaya. Shiho tampak mengkerut dan mundur ke belakang. Punggung gadis itu bertemu dengan dinding. Dia tak bisa berkutik karena Shinichi maju meletakkan kedua tangannya ke dinding mencegah gadis itu kabur dari hadapannya.

"Shiho, kau membuatku tersiksa. Kau kekasihku tapi kau masih keluar dengan Shuichi Akai brengsek itu"

"Hey, kami tidak kencan atau apapun. Aku hanya membantunya sebagai balas jasa karena dia telah melindungiku sewaktu menjadi Ai" protes Shiho. Tapi tampaknya Shinichi tak mendengarnya karena tatapan pria itu hanya lekat pada dia.

"Dan kau tak menyadari bagaimana pria-pria brengsek lain berusaha mendekatimu tanpa melihat diriku" ujarnya lagi.

"Shinichi.. itu.."Shiho hendak mendorong detektif itu ketika Shinichi kemudian mencium bibirnya dengan cepat. Ciumannya terasa berat dan dalam. Shinichi hanya melepasnya untuk mengambil nafas.

"Shiho..kau milikku.."gumam Shinichi di sela-sela ciumannya. Shiho mendesah. Dia tak pernah melihat Shinichi bersikap demikian rupa. Dia mengira sudah mengenal sifat Shinichi dengan baik tapi ternyata masih banyak sisi lain pria itu yang belum dikenalnya, atau jangan-jangan dia yang mengubahnya menjadi pria posesif.

Shinichi kemudian meraih tangan Shiho dan mencium jemarinya satu persatu. "Jangan pernah melihat pria lain selain aku, Shiho..."

"Dasar detektif sombong. Kau pikir kau hanya satu-satunya pria di dunia ini?" Ciuman Shinichi berhenti dan dia menatapnya dengan frustasi.

"Shiho..." erang dia perlahan. Gadis itu tertawa pelan. Dia kemudian mengalungkan kedua tangannya memeluk kepala Shinichi lebih dekat.

"Kau tau, aku suka pria posesif dan obsesif terhadap diriku..." bisiknya sambil mendesah di telinga pria itu. Shinichi menatapnya dengan debaran jantung dan wajah memerah.

Detektif itu tak tahan lagi, dia kemudian mengunci bibir Shiho lagi.

.

.

.


AN : Di cerita sebelumnya Shiho dan Shinichi sudah berpacaran. Mereka kan sudah saling memanggil nama depan ;) oneshot ini diketik dengan cepat karena cuma ada ide ini yang muncul di pikiran gw. Sorry atas OOCness dan typo yang muncul.