Angel of Darkness

.

.

.

Disclaimer : Aoyama Gosho


Suara sirine memecah senyapnya pagi. Cuaca masih dingin dan sedikit berkabut. Angin berhembus kencang pertanda akan datangnya badai menambah tensi misteri yang menaungi keadaan saat itu.

Shinichi Kudo, detektif Metro Police Department, dipanggil ke taman kota untuk menginvestigasi penemuan mayat di balik semak-semak. Dia tampak jongkok mengamati bercak darah yang tertinggal dan bekas jejak kaki yang berseliweran di atas tanah lembab. Dia juga mengamati bekas selongsong peluru yang terjatuh di dekat korban dan telah diberi tanda pengenal berwarna kuning oleh tim forensik. Tak lama kemudian dia berdiri, jaket panjangnya tampak terayun mengiringi gerak tubuhnya.

"Peninggalan korban hanya dompet di saku celana, handphone dan satu renceng kunci. Mungkin kunci rumah" Inspektur Megure mendekatinya dan menyerahkan satu bungkus plastik yang berisi barang bukti.

"Nama korban : Eisuke Hondo. Umur 25 tahun. Bekerja sebagai guru SD Teitan. Murni pembunuhan tingkat pertama, korban ditembak dari jarak dekat dan cuma satu peluru yang diperlukan untuk menembus otaknya. Pelaku pasti profesional atau pembunuh bayaran. " lanjut Inspektur lagi.

"Hm…" gumam Shinichi sambil mengamati barang bukti di tangannya. " Sudah mengecek log pembicaraan terakhir dari handphone korban?" tanyanya.

"Sudah, Ini daftarnya lengkap dengan relasi dengan korban." Inspektur Megure menyerahkan secarik kertas kecil yang kemudian dikantungi Shinichi. " Korban tidak pulang dari SD Teitan kemarin dan dia tidak menghubungi kakaknya yang tinggal bersamanya. Kakak korban melapor pagi ini bersamaan dengan laporan masuk dari saksi mata yang menemukan mayat korban sewaktu jogging pagi."

"Ini bukan perampokan karena melihat harta benda korban masih lengkap dan kemungkinan besar pelaku dikenal korban karena tidak ada tanda-tanda perlawanan dari korban." Gumam Shinichi.

Inspektur Megure mengangguk," Kasus ini kuserahkan padamu seperti biasanya, Kudo"

Shinichi balas mengangguk kemudian melihat jam tangannya. Pukul 9 pagi. Sepanjang karirnya sebagai detektif, dia selalu menerapkan standar tinggi bagi dirinya sendiri. 1x24 jam dengan batas toleransi 2x24 jam kalau kasusnya sedikit membingungkan. Tak ada misteri yang tak terpecahkan sebelum batas waktu toleransinya berlalu. Tak heran popularitasnya menggema sampai ke penjuru Japan dan dia mendapat pengakuan dunia internasional.

Sebagai maniak misteri, Shinichi selalu haus akan misteri baru, kode-kode yang tampak rumit, kasus yang membingungkan tapi dia selalu merasa ada yang kurang dari hidupnya. Cinta? Tentu saja bukan karena dia punya Ran Mouri. Gadis itu telah dipacarinya sejak sekolah menengah dan kehidupan cinta mereka baik-baik saja selama ini, datar, dan cenderung membosankan.

Jadi malam ini, kasus pembunuhan yang tampaknya mudah untuk dipecahkan, akan menjadi rutinitasnya seperti biasa. Satu korban, satu peluru, pelaku pembunuhan yang dikenal korban dan profesional atau mengenal senjata dengan baik. Tinggal mencari motif pelaku dari daftar teman dan keluarga Eisuke Hondo. Terdengar gampang bukan? Shinichi mulai membaca kertas kecil yang diserahkan Inspektur Megure tadi padanya.


Sejam kemudian Shinichi sudah duduk di samping kakak kandung Eisuke Hondo. Wanita itu sedang menangis tersedu-sedu di setiap tarikan nafasnya yang membuat Shinichi merasa tak nyaman.

"Eisuke sama sekali tidak mempunyai musuh. Dia terlalu baik orangnya. Aku bahkan tidak tau orang bisa dendam padanya hingga membunuhnya" ujar Rena Hondo dengan suara tercekat dan putus-putus.

"Kau yang melaporkan korban hilang ke polisi, Hondo-san"

"Benar. Handphonenya tidak bisa dihubungi dan aku sudah menelepon semua kenalan dan sahabat yang kuketahui untuk mencari Eisuke. Tak biasanya dia menghilang dan tidak pulang rumah. Dia selalu menghubungiku kalau lembur dan pulang agak larut. Tapi dia tidak pernah menginap tempat lain. Dia selalu pulang ke rumah."

"Maaf, Hondo-san. Kami hanya melakukan prosedur biasa. Apa ada yang aneh dengan kelakuan Eisuke akhir-akhir ini atau ada yang diluar kebiasaan dia sehari-hari?"

Rena Hondo mencoba mengingat-ingat,"Dia tampak sangat gembira ketika menelepon seseorang. Dan mungkin wanita jika dilihat dari isi pembicaraan mereka"

"Apa dia mempunyai pacar atau gadis yang disukai?"

"Eisuke jarang bercerita tentang isi hatinya. Tapi akhir-akhir ini ada satu wanita yang sering disebutnya ketika berbicara dengan sahabatnya, Tomoaki Araide."

"Kau kenal wanita itu, Hondo-san?"

"Miyano.. ya, Shiho Miyano.. Aku tidak mengenalnya sama sekali. Tapi aku tau wanita ini penyanyi di klub malam Heaven. Eisuke sering mengunjunginya kalau ada waktu luang bersama Araide-kun. "

Shinichi kemudian meminta keterangan apa yang dikerjakan Rena Hondo selama seharian dan mencatatnya dalam notes kecilnya. Setelah itu dia menutup notesnya dan berdiri menggenggam tangan wanita itu.

"Terima kasih atas waktunya, Hondo-san. Kami akan berusaha semampu mungkin untuk melacak kasus ini" Rena Hondo mengangguk lemah. Setelah Shinichi hendak keluar dari pintu rumah, dia masih bisa mendengar isak tangis wanita itu.


Apartemen Tomoaki Araide. Pukul 11.30 siang.

Dokter tampan ini tampak shock ketika mendengar kasus Eisuke dari Shinichi. Untuk sesaat dia tampak diam tak mampu berkata-kata dan memejamkan matanya.

"Kau sahabatnya selama 10 tahun terakhir bukan?" tanya Shinichi.

"Benar. Dia pria yang baik." Tomoaki membuka matanya menilai detektif yang duduk di depannya ini dengan tajam.

"Ada hal-hal aneh yang terjadi pada Eisuke Hondo beberapa hari terakhir ini? Atau apa dia pernah mendapat masalah dengan orang lain?"

"Tidak ada sama sekali. Eisuke tipe orang yang menghindari masalah."

"Hmm..kau kenal dengan Shiho Miyano?"

Tomoaki tampak terkejut,"Ada apa dengan dia?"

"Kalian sering mengunjungi klub tempat Miyano bernyanyi bukan?'

"Benar. Kami sering kesana tapi apa ada hubungan Miyano-san dengan Eisuke?"

"Tidak ada, aku cuma mengecek untuk prosedur alibi dan rutinitas korban. Kapan terakhir kalian berdua kesana?"

"Sudah lama, tapi sepertinya akhir-akhir ini Eisuke pergi sendiri tanpa diriku"

"Oh ya?"

"Eisuke tidak punya hubungan apa-apa dengan Miyano-san. Hanya seperti fans dan idola saja."

Shinichi mengangguk kecil,"Kau tau jadwal Miyano manggung di Heaven?"

"Setiap senin sampai kamis. Jam 7 malam"

Shinichi menengok jamnya. Masih banyak waktu, pikirnya.

"Hubungi aku jika ada info lain yang teringat dan tidak kau ceritakan."

Tomoaki mengangguk pelan kemudian menggumam," Kupikir perasaannya pada Miyano-san serius karena dia berulang kali mengeluh soal ketidaksukaan pacar Miyano-san padanya"

"Pacarnya?" tanya Shinichi antusias.

"Ya. Pria tinggi besar dan menyeramkan. Selalu mengenakan pakaian berwarna hitam dan berambut silver panjang. Dia selalu menunggu Miyano-san di backstage dan selalu tampak tak suka atas perhatian pria-pria di klub pada Miyano-san" Tomoaki tampak berbinar ketika berbicara kemudian dia melanjutkan,"Kupikir dia yang paling mencurigakan. Pasti dia yang membunuh Eisuke"

"Terima kasih, Araide-kun atas waktunya. Kami akan berusaha mengusutnya."

Tomoaki mengangguk dan berseru lantang,"Aku tidak akan memaafkan pembunuh Eisuke. Kau harus menangkapnya, Kudo!"


Sekolah SD Teitan. Pukul 14.30 siang.

Sumiko Kobayashi meledak tangisnya ketika mengetahui kabar Eisuke. Shinichi buru-buru menenangkannya. Setelah beberapa saat, dia baru siap diinterogasi.

"Hondo-kun adalah salah satu guru favorit disini. Kami sangat kehilangan dia."

"Apa ada yang melihatnya setelah pulang dari sekolah karena semenjak itu handphonenya mati dan dia menghilang tanpa jejak."

"Aku tidak tau sama sekali karena kemarin merupakan pekan olahraga. Sekolah sibuk sekali."

"Apa kau memperhatikan ada yang aneh dengan Eisuke Hondo sepanjang pelajaran di sekolah kemarin?"tanya Shinichi lagi.

"Dia tampak biasa dan baik-baik saja. Dia malah tampak senang dan menyanyikan satu lagu berulang-ulang"

"Lagu? Lagu apa?"

"Lagu Love dari Nat King Cole. Katanya lagu itu mengingatkannya pada seseorang"

"Oh, apa kau tau dia sedang dekat atau bermasalah dengan siapa, Kobayashi-san?"

"Kami tidak sedekat itu, Kudo-kun. Kami hanya bertukar sapa dan mengobrol hal-hal secara umum saja"

"Oke, terima kasih atas waktunya, Kobayashi-san."

"Kau harus menangkap pelakunya, Kudo-kun."

"Serahkan pada kami" Shinichi berjanji. Dia kemudian mencatat keterangan beberapa guru sekolah disana dan mengecek alibi mereka di notes kecilnya. Kemudian ada telepon masuk, Shinichi cepat mengangkatnya, matanya membesar kemudian dia membalas dengan hanya satu ucapan. Dia menutupnya sambil mengerutkan keningnya.

Shinichi meninggalkan gedung sekolah setelah memperhatikan cuaca mulai gelap pertanda badai akan segera datang. Diliriknya jam tangannya sudah menunjukkan angka enam. Malam mulai tiba dan Shinichi kemudian menyetir mobilnya menuju pusat kota. Dia tiba di Heaven dalam setengah jam. Suasana klub malam itu tampak sesak dan dipenuhi oleh mayoritas pria muda.

Shinichi menyelinap ke dalam dan mengambil tempat di salah satu kursi bar dibawah bayang-bayang panggung utama.

Dia memanggil minuman dan menyesapnya untuk membunuh waktu.

Kemudian dia mendengarnya.

Alunan suara merdu yang indah mengirimkan sensasi menyenangkan dari ujung jarinya hingga tulang belakangnya.

L - is for the way you look at me
O - is for the only one I see
V - is very, very, extraordinary
E - is even more than anyone that you adore can
LOVE is all that I can give to you

Shinichi memalingkan wajahnya dan menatap panggung. Dia membeku. Dia tak tau apa yang membuat matanya bagai magnet tertarik pada sosok di atas panggung itu. Wanita itu bernyanyi sambil duduk di kursi dan tangannya memegang mic dengan elegan. Rambut pirang strawberrynya yang halus lurus sebahu, mata lavendernya tampak berkilauan diterpa lampu sorot, postur tubuhnya yang langsing dan putih pucat. Dia tampak seperti dewi Yunani.

Shinichi sadar kalau pengunjung yang lain juga diam terpukau dengan penampilan Shiho Miyano. Gaun strapless mini yang dikenakannya melekat dengan pas di tubuhnya dan mengeluarkan aura sensual.

Mungkin ini yang dinamakan Heaven di atas bumi. Karena Shinichi merasa sedang di surga ketika mendengar suara dan wajahnya. Mata Shiho bertemu pandang dengan Shinichi sejenak kemudian dia mengalihkan pandangannya ke arah lain. Shinichi hanya menatapnya tanpa berkedip. Dunia sekelilingnya terasa lenyap, kabur, menghilang di dalam kegelapan. Dunianya sekarang hanya ada mereka berdua saja.

LOVE is more than just a game for two
Two in LOVE can make it
Take my heart and please don't break it
LOVE
Was made for me and you!

Selama satu jam menikmati penampilan Shiho Miyano, Shinichi merasa dia tak bisa lebih bahagia lagi. Dia masih melamun ketika panggung sudah kosong. Dia bahkan tak sadar ada yang menepuknya dari samping.

"Kau.." ujar Shinichi tergagap. Shiho Miyano berdiri disampingnya.

"Boleh aku duduk disampingmu?"tanyanya sambil tersenyum.

"T—Tentu saja boleh." Shinichi mengutuk kegagapannya dalam hati.

"Aku tidak pernah melihatmu disini" ujar Shiho sambil duduk dan memanggil minuman.

"A—aku mencarimu."

"Oh ya? Ada apa Shinichi Kudo mencariku? Ada yang terbunuh?'

"Kau mengenaliku."ujar Shinichi sedikit heran.

"Tentu saja semua orang Japan mengenali detektif terkenal sepertimu."ujar Shiho sambil tersenyum kecil kemudian menyesap minumannya. Hati Shinichi berdegup sejenak.

"Kau kenal pria ini?" Shinichi menyerahkan satu foto kecil padanya. Shiho hanya melihatnya sekilas dan mengangguk." Ya. Eisuke Hondo. Ada apa dengan dia?"

"Ditemukan tewas pagi tadi di taman kota." ujar Shinichi pendek.

Shiho mengangkat alisnya," Oh.. aku ikut bersedih. Apa yang terjadi dengannya?"

"Ditembak. Kau mengenalinya?"

Shiho diam kemudian mengangguk pelan,"Dia salah satu dari orang-orang yang bisa dibilang penganggumku" Ujung bibir Shiho naik ketika mengucapkan kata terakhir. Matanya menerawang ke arah belakang. Backstage.

Shinichi menyadarinya dan bertanya,"Pacarmu bersamamu hari ini?"

Shiho tertegun dan kembali menatap Shinichi,"Tampaknya kau sudah mencari info tentangku sebelumnya. Aku ingin tau apa hubungannya Hondo-kun dengan diriku di kasus ini"

Shinichi mengamatinya dengan seksama. Gadis di depannya ini cerdas dan amat cantik. Kombinasi yang bisa membuat pria kehilangan akal sehat.

"Sebab kau yang kelihatan terakhir bersamanya"

"Oh ya? Apa ada saksi mata yang melihat kami?" bisik Shiho pelan. Shinichi secara refleks mendekat untuk mendengar lebih jelas dan dia bisa mencium bau parfum gadis itu dari dekat. Wangi strawberry, citrus dan musk yang menggoda.

"Ada yang melihatmu bertiga dengan pacarmu di backstage kemarin malam"

"Hm.. Dia memang menemuiku kemarin walau aku tidak manggung. "

"Ada apa dia mencarimu?"

"Mengajakku kencan. Apa lagi?" Shiho tersenyum manis. Shinichi merasa ada yang aneh dengan senyumannya kali ini. Tiba-tiba handphonenya berdering, dia cepat mengangkatnya dan mendengarnya tanpa mengucap satu patah katapun. Setelah menutupnya, sorot matanya sedikit berubah.

"Dimana pacarmu? Apa dia sedang di backstage sekarang?"

Shiho diam sambil berpikir kemudian dia bangkit berdiri dan menarik tangan Shinichi,"Ikut aku" katanya pendek.

Shinichi mencoba mengabaikan efek sentuhan gadis itu pada tangannya. Dia bangkit dan membiarkan dirinya dituntun Shiho ke belakang panggung.

Disana hanya ada satu pria. Pria berbaju hitam itu menatap Shinichi dengan pandangan menyelidik.

"Perkenalkan ini Shinichi Kudo, detektif dari MPD. Dia hendak menanyai kita atas pembunuhan Eisuke Hondo" ujar Shiho tenang.

Pria itu cuma mengangkat alisnya dan tersenyum mengejek," Eisuke Hondo pengecut itu?"

"Benar. Ternyata dia sudah mati." Shiho tampak sedih ketika mengatakannya. Pria itu meneliti wajah Shiho sejenak kemudian melanjutkan,"Bagus. Fans maniakmu kurang satu. Aku capek dengan begitu banyak pria yang mengejarmu"

Dia bangkit dan memeluk Shiho. Matanya tampak mengejek dari balik punggung gadis itu. Membuat amarah Shinichi mendidih seketika. Saat itu hal yang paling diinginkannya adalah melabrak pria itu dan merebut Shiho dari pelukannya.

"Aku cuma ingin tau keadaan yang sebenarnya terjadi kemarin malam karena Eisuke Hondo menghilang setelah pulang dari sini. " kata Shinichi dengan mata membara.

Shiho melepaskan pelukannya dan berbalik menatap Shinichi sambil berkata," Hondo-kun hanya memberiku bunga dan tiket untuk opera minggu depan. Setelah itu dia pulang karena aku menolaknya."

"Benarkah itu? Tak ada bunga atau tiket di tubuh korban."

Shiho menyipitkan matanya,"Kau sendiri detektif. Cari tau saja sendiri"

Pria itu tertawa,"Detektif bodoh. Kau pikir pria yang ditolak akan membawa hadiah kenangan pahitnya pulang kerumah?"

Shinichi mengernyitkan alisnya,"Jin Akanishi. Kau ditangkap atas pembunuhan tingkat pertama atas Eisuke Hondo" ujarnya tenang. Dia mengeluarkan pistolnya dan mengarahkannya ke arah pria itu yang tampak kaget.

"Ada sidik jarimu pada pistol yang ditemukan di tempat sampah tak jauh dari sini. Kau tak bisa mengelak lagi. Apapun yang kau katakan sekarang akan menjadi tambahan bukti di persidangan"

Shinichi kemudian mengeluarkan borgol dari sakunya yang lain dan hendak mendekati Jin ketika Shiho tiba-tiba memeluknya. Wajah gadis itu sangat dekat dengannya. Dia bisa merasakan hembusan nafas hangatnya di hidung kemudian bibir mereka nyaris saling bersentuhan. Sensasi bagai aliran listrik menyebar dengan cepat ke seluruh serabut syarafnya. Seluruh panca indranya bagai melemah dan tangannya mulai bereaksi memeluk Shiho ketika tiba tiba dia sadar kalau gadis ini mencoba mengalihkan perhatiannya. Dia mendorong Shiho ke samping dan menyadari bahwa sudah tidak ada siapa-siapa di ruangan itu. Shinichi berlari ke pintu belakang dan hanya menemukan mobil Porsche hitam melaju kencang. Dia mengumpat dan segera mengambil handphonenya ketika dia merasakan ada tangan memeluknya dari belakang.

"Maafkan aku, Kudo-kun" bisiknya di telinganya. Ada sensasi tak nyaman di perutnya ketika mendengar suara bisikan gadis itu.

"K—kau membantu tersangka pembunuhan melarikan diri. Tapi dia tidak bisa lari jauh.."ucapannya berhenti karena dia menyadari isak dari belakang punggungnya. Shinichi tak tahan lagi dia kemudian berbalik dan memegang kedua bahu gadis itu.

"K—kau membuatku bingung. Apa maksudmu?" tanya Shinichi dengan suara keras.

"Jin.. dia pelindungku selama ini. Eisuke Hondo memerasku supaya bisa kencan dengannya. Dia tergila-gila padaku. Dia tau kalau Jin berasal dari organisasi mafia.. jadi Jin membunuhnya…" ujar Shiho sendu. Ada air mata yang jatuh di pipi mulusnya. Shinichi kemudian membelai pipinya dan tersenyum padanya.

"Jangan takut, Miyano-san. Aku akan melindungimu.."

Shiho mengangguk pelan. Dia kemudian mengubur wajahnya di dada Shinichi. Detektif itu merasa kikuk tapi kemudian balas memeluk dan membelai punggungnya.

Shinichi kemudian mengambil handphonenya untuk menghubungi polisi lagi tapi tangan Shiho menghentikannya. Mereka saling menatap dan kemudian berciuman dengan penuh gairah. Bibir Shiho sangat lembut dan Shinichi menikmati detik demi detik mereka saling mengecap rasa bibir masing-masing. Handphonenya terlupakan begitu saja.

Setelah beberapa saat, mereka berhenti untuk menarik nafas. Wajah Shiho tampak memerah dan berkilauan karena bekas air mata. Shinichi hendak menciumnya lagi ketika Shiho berbisik kalau dia ingin ke kemar mandi. Detektif itu mengangguk pelan. Efek berciuman dengan gadis itu masih membuatnya bingung dan dia kemudian duduk di salah satu sofa. Tiba-tiba ingatannya kembali. Dia segera mencari handphonenya dan menyadari kalo barang itu sudah hilang. Shinichi terlonjak dan berlari ke kamar mandi. Dia mendobrak pintu demi pintu. Tidak ada orang. Shiho sudah menghilang dengan cepat dan tanpa jejak.

Shinichi kemudian berlari ke pintu belakang dan dia menemukan gadis itu sedang masuk ke dalam mobil Porsche hitam. Dia berteriak dan gadis itu menoleh.

"Au revoir , Kudo-kun" serunya sambil tersenyum menggoda dan melemparkan ciuman. Kemudian dia membanting pintu dan pria disampingnya ikut menyeringai melihat Shinichi. Setelah itu dia menginjak gas dalam-dalam dan mobilnya berdecit kencang meninggalkan detektif itu di belakang.

"Sialan" umpat Shinichi. Dia cuma bisa melihat mobil itu menghilang dari balik kegelapan malam.

Untuk pertama kalinya Shinichi merasa dikalahkan. Kali ini oleh pesona gadis yang luar biasa. Amarah dan emosinya memuncak. Dia harus menemukan mereka walau harus mempertaruhkan segalanya. Kali ini Shiho Miyano bisa menipunya tapi itu pasti tidak akan terjadi lagi.

Shinichi tertawa dan mengepalkan kedua tangannya. Dia menunggu saat-saat untuk bertemu dengan Shiho Miyano untuk kedua kalinya.

To be continued ?

.

.

.


A/N : yay! one shot (?) tentang Shiho dan Shinichi dengan versi lebih dewasa. Aku dari dulu udah pengen buat fic tentang Shiho yang berhasil menipu Shinichi. Karena bagi Shinichi yang fans Sherlock, Shiho adalah Irene Adler-nya. Thanks atas waktunya untuk membaca.

au revoir (french): selamat tinggal

Lirik lagu diambil dari LOVE yang dinyanyikan Nat King Cole.