At The Beginning
.
.
.
Disclaimer : Aoyama Gosho
Saat itu masih musim gugur di Paris. Sebagian daun peupiler yang kemerahan enggan rontok walau sebagian lainnya sudah terbang ditiup angin memenuhi jalanan kota.
Shinichi sedang berdiri di depan Museum Louvre. Dia menggosokkan kedua tangannya karena kedinginan kemudian menempelkannya ke pipi. Kedua ujung jarinya juga sudah mulai kaku. Matanya mengamati orang yang tampak berlalu lalang di sekelilingnya. Kemudian dia memantapkan diri memasuki museum yang dibangun di awal abad ke-12 itu. Kehangatan menyebar ke tubuh begitu kaki menjejak di dalamnya. Ada sekitar 35000 koleksi ditampilkan mulai dari jaman prasejarah hingga abad ke-19. Shinichi tampak tau apa yang hendak dicarinya karena dia langsung berjalan cepat melewati lorong-lorong sarkofagus marmer Yunani, ruang bercat merah berisi koleksi karya pelukis Prancis, dan akhirnya kamar yang memajang lukisan karya pelukis Italia. Di salah satu sudut tampak ramai dipenuhi orang. Semua mata tampak menuju lukisan adikarya yang dipajang disana. Lukisan "Monalisa".
Shinichi berhenti sebentar dan berdiri mematung mengamati lukisan itu dari dekat. Ingatannya berputar ke masa lalu yang tiba-tiba muncul mencengkeram seluruh panca indranya.
Flashback
Untuk pertama kalinya setelah kasus pembunuhan di pondok, Shinichi kembali melihat sosok Shiho Miyano dalam wujud dewasanya. Rambut pirang strawberry-nya yang khas, mata lavendernya yang berkilauan, pipinya yang pucat dan bibirnya yang pink. Dia tampak seperti patung porselen dewi-dewi Yunani yang indah. Mereka berkerja sama untuk menaklukkan Black Organization yang telah menghantui hidup banyak orang selama ini. Penyerangan dan penangkapan anggotanya menjadi headlines besar-besaran di koran seluruh dunia. Semua mata tertuju kepada Shinichi Kudo. Detektif sekolah ini berkerjasama dengan CIA, FBI, Interpol dan kepolisian Japan untuk menumpas organisasi kriminal dan akar-akarnya. Dia merasa lega ketika semuanya telah berakhir. Terlalu banyak orang yang telah terseret secara langsung maupun tidak langsung dan harus kehilangan semuanya.
Termasuk Shiho Miyano.
Shinichi menemukan gadis itu sedang berdiri sendirian di balik pilar bangunan. Mereka sedang berada di salah satu ruangan bekas rumah sakit yang lama tak terpakai. Disini Gin, Vermouth dan anggota yang lain berhasil ditangkap walau harus mengorbankan banyak korban jiwa. Dengan adu taktik dan sedikit keberuntungan, Shinichi berhasil menangkap mereka semua walau dia harus mengorbankan tangannya yang sedikit luka karena terkena tembakan Gin.
"Haibara.." panggil Shinichi pelan. Gadis itu terkesiap dan mengangkat wajahnya. Bola matanya tampak berkilauan diterpa sinar lampu pucat. Ada kesedihan yang terpancar disana. Tangan Shinichi maju dan menarik bahu Shiho untuk merengkuhnya kedalam pelukannya. Gadis itu tersentak sejenak tapi kemudian menarik nafas dan balik memeluknya.
Mereka tak perlu berkata-kata karena bahasa tubuh masing-masing sudah cukup untuk menyampaikan hal yang tak mampu terucapkan oleh lidah kepada emosi. Air mata gadis itu perlahan turun, bergulir dan jatuh di jas yang sedang dipakai Shinichi. Pria itu menyadarinya dan kemudian menghapusnya dengan ibu jarinya.
"Semua telah berakhir, Haibara. Kau sudah bebas."
Shiho mengangguk pelan tapi air matanya tetap turun tanpa bisa dicegah. Jas Shinichi sekarang sudah mulai basah, tapi dia sama sekali tidak perduli akan hal itu. Dia menangkup wajah gadis itu dengan tangannya yang tak terkena peluru dan menghapus wajahnya yang basah dengan jari telunjuknya.
"Kau tau kalau kau tampak jelek saat menangis?" ujar Shinichi sambil tersenyum.
Shiho hendak tertawa setengah menangis, tapi dia akhirnya menarik nafas panjang.
"Terima kasih, Shinichi Kudo. Aku berutang banyak padamu lebih dari apa yang kupikir. " katanya lirih.
"Bodoh. Untuk apa berterima kasih padaku. Aku sudah berjanji padamu, bukan?'
"Kudo-kun..." Shinichi melepaskan pelukannya dan menggenggam tangan gadis itu.
"Apa yang akan kau lakukan setelah ini?"
"Aku akan pergi. Ada.. sesuatu yang harus kulakukan dan itu butuh waktu."
Shinichi mengerutkan keningnya,"Apa maksudmu dengan butuh waktu? Aku ikut bersamamu"
"Tidak. Kau harus kembali pada Ran-san. Kau sudah berjanji padanya bukan?"
Shinichi terpekur, genggaman tangannya lepas. Shiho tersenyum pedih,"Jangan salahkan dirimu, Kudo. Kita tidak bisa menentang aliran waktu dan apa yang terjadi di antara kita tidak bisa merubah kenyataan kalau kau sudah memilih gadis itu daripada aku"
"Aku..A-Aku..." Shinichi tergagap dan terhenti ketika gadis itu meletakkan telunjuknya ke bibirnya.
"Jangan bicara lagi. Bagaimanapun keputusanku tidak akan berubah" ujarnya pelan.
"Berbahagialah bersama Ran-san. Karena selamanya aku hanya orang lain dalam kehidupanmu. " Gadis itu kemudian beranjak pergi meninggalkan Shinichi. Mencoba menambah rentang jarak antara dia dan pria itu.
"Haibara!" seru Shinichi serak, dia menyambar lengan gadis itu dan memutarnya sehingga mata mereka saling bertatapan. Sorot mata Shinichi membara dan tajam. Shiho tak berdaya karena intensitas dan dalamnya tatapan mata itu hingga membuatnya tersedot dan lemah. Dia merasa kedua kakinya goyah dan sekujur tubuhnya gemetar. Dia ingin mengalihkan tatapan matanya tapi tak sanggup karena mata Shinichi bagai magnet menembus hatinya yang paling dalam.
"Kau mencintaiku" ujar Shinichi tenang, seakan itu merupakan fakta yang paling penting sedunia.
Shiho tak menjawab. Dia hendak mengalihkan matanya lagi ketika tersadar bahwa dia kembali dalam pelukan pria itu untuk kedua kalinya. Kali ini pelukannya terasa menyesakkan. Tangan pria itu mencengkeram bahunya erat. Seakan dia ingin membeli waktu untuk berhenti, walau sesaat, bukan selamanya.
"Kudo-kun, kau salah kali ini. Seperti bukan detektif yang biasa kukenal. Aku sama sekali tidak mencintaimu" ujar Shiho dingin.
Dia merasakan cengkeraman tangan Shinichi mengendur seiring setiap kata yang keluar dari bibirnya.
"Benarkah itu? Haibara?" desaknya. "Bagaimana kalau aku ingin kau bersamaku sekarang dan mungkin untuk selamanya?"
Shiho membelalakkan matanya. Ini tidak mungkin...
"Aku telah memikirkannya selama beberapa waktu. Aku memang mencintai Ran tapi aku juga membutuhkanmu."
"Apa maksudmu? Kau sama sekali tidak butuh aku."
"Aku membutuhkanmu, Haibara dan aku tidak bisa membayangkan kau tetap menjadi Ai Haibara yang kecil"
"Kali ini aku menggunakan prototype antidote yang paling lama durasinya. Mungkin 1 minggu, jadi aku akan menyelesaikan masalah keluargaku dan akan kembali menjadi Ai Haibara. Aku tidak kemana-mana, Kudo"
"Aku tak mengerti mengapa kau tetap menjadi Ai Haibara"
"Kau tak mengerti perasaanku, Kudo. Bagimu, aku hanyalah buronan dari Black Organization dan tugasku untuk membuat antidote APTX4869 untukmu sudah terpenuhi. Aku telah melunasi hutangku padamu. Dengan menjadi Ai Haibara, aku seolah mendapat kesempatan hidup kedua. Selama menjadi Shiho Miyano, aku hanya merasakan kegelapan dan tragedi. Keputusanku tidak akan berubah, Kudo. Selamat tinggal"
Dengan kata terakhir itu, Shinichi melihat Shiho Miyano untuk terakhir kalinya. Dia tau kalo Ai adalah gadis yang keras kepala. Tak ada yang bisa mengubahnya kecuali dirinya sendiri.
Gadis itu menghilang beberapa hari kemudian balik dengan sosok Ai Haibara. Walau Shinichi sangat senang bisa kembali di sosok dewasanya, dia mengakui kalau dia sangat kehilangan Ai. Ai masih tinggal bersama professor Agasa dan Shinichi selalu mencuri waktu untuk bisa berkunjung dan menemui gadis kecil itu. Hubungan mereka tidak bisa seakrab dulu karena seharusnya Shinichi dan Ai tidak saling mengenal. Shinichi kemudian mengakui perasaannya pada Ran dan mereka akhirnya berpacaran.
Tahun-tahun berlalu, hubungan Shinichi dan Ran masih tetap tak romantis. Mereka sulit untuk memahami satu sama lainnya walau sudah saling mengenal hampir separuh usia mereka. Ini sangat ironis bukan? Di saat-saat demikianlah, Shinichi merasa kalau dia sangat merindukan Ai di sampingnya. Merindukan saat-saat mereka saling mengejek, memecahkan kasus, bertukar pikiran. Dia merasa tak ada orang lain yang seperti Ai yang memahami perasaannya. Sayangnya Ai seperti menutup diri setelah pertemuan mereka yang terakhir itu. Dia mengenakan topeng anak-anak saat bersamanya. Berulang kali Shinichi ingin berteriak di depannya untuk memohon supaya Ai yang dulu dikenalnya balik kembali, tetapi tatapan Ai yang dingin membuatnya mengurungkan niatnya.
Di saat ulang tahun Ai yang ke-10, professor Agasa merayakannya secara kecil-kecilan dengan dihadiri Meitantei Boys. Shinichi dan Ran juga hadir. Shinichi dari dulu bahwa dia menyadari kalau Ai adalah gadis yang cantik, sekarang seperti melihat Shiho Miyano didalam sosok dirinya. Betapa dia merindukan Ai, di dalam mimpinya pun Ai sering muncul dengan senyum mengejeknya yang khas, suaranya yang mengalun, rambut pirang strawberrynya, ucapan sarkasmenya, berulang kali Shinichi bertanya-tanya dalam hati, apakah wajar dia merindukan gadis lain walau ada Ran disisinya? Tapi diluar itu, dia senang melihat Ai menjalani masa kecilnya dengan normal untuk kedua kalinya. Tak ada orang lain yang lebih berhak mendapatkan kebahagiaan selain Ai Haibara.
Shinichi akhirnya bisa menemukan kembali partnernya yang hilang. Ini terjadi pada usia Ai yang ke-12. Meitantei Boys mendapat kasus yang lumayan berat dan mereka mencari Shinichi Kudo, detektif terkenal, untuk membantu memecahkan kasus pencurian yang melibatkan sindikat mafia. Shinichi merasa bersyukur bisa berbicara dengan Ai seperti dulu. Mereka bisa saling membahas bukti-bukti, menerka kode, dan memecahkan misteri. Tentu saja Shinichi mencari-cari alasan supaya bisa bertemu dengan Ai sesering yang dia inginkan. Dia sama sekali tidak perduli tatapan mata Ran ketika dia menatap Ai dengan wajah berseri-seri.
Di usia Ai yang ke-16, Shinichi mendapat laporan dari Ayumi bahwa begitu banyak pria yang mengejar Ai di sekolahnya, dan dia marah. Shinichi tak mengerti mengapa dia harus marah. Mungkin karena dia bersikap protektif kepada Ai. Saat itu untuk kesekian kalinya Shinichi putus dengan Ran. Gadis itu tak mengerti kenapa Shinichi lebih memedulikan kasus daripada menikah dengannya. Padahal kedua orang tua mereka sudah memaksa mereka. Tapi ujung-ujungnya mereka selalu bertengkar hebat dan menyakiti satu sama lainnya. Shinichi menuduh Ran tak pernah bisa memahaminya dan gadis itu membalas kalau Shinichi tak pernah punya waktu untuknya. Semua waktunya habis untuk kasus. Biasanya selalu Shinichi yang mengalah untuk menemui Ran dan memulai lagi hubungan mereka. Kali itu ada sesuatu yang mencegahnya. Mungkin di sudut hatinya yang paling dalam, dia mendambakan seseorang. Bukan Ran. Tetapi belahan jiwanya yang sesungguhnya. Apalagi ketika Ran menanyakan apakah dia masih mencintainya? Dia tak sanggup menjawabnya. Bibirnya tak mampu melontarkan nama gadis didepannya karena sudah ada nama gadis lain yang tertera di hatinya sekian lama. Dan dia masih tetap tidak mau mengakuinya. Mungkin ini saatnya untuk jujur pada hatinya setelah sekian lama.
Shinichi memutuskan untuk menemui Ai di gerbang sekolahnya pada suatu hari. Ai sama sekali tidak terkejut melihatnya, dia hanya mengangguk ketika Shinichi menawarinya tumpangan. Sepanjang perjalanan, mereka hanya diam. Akhirnya Shinichi membuka mulut.
"Kau kelihatannya senang." ujarnya dibalik setir mobil sambil mencuri pandang pada gadis disampingnya.
Ai tersenyum kecil," Kau kelihatannya sedang banyak waktu luang, Kudo"
Shinichi ikut tersenyum,"Kau ada waktu setelah ini?"
"Mau kemana, Kudo?" tanyanya tanpa melihat pria itu.
"Tokyo Tower"
"Untuk apa?"
Shinichi tak menjawab. Dia hanya tersenyum. Ai mengerutkan keningnya. Setiba mereka di Tokyo Tower, hujan turun dengan deras. Suasanya menjadi gelap walau saat itu masih sore. Mereka tetap diam di dalam mobil. Tak satupun bersuara.
"Kupikir kau pasti lupa bawa payung, Kudo" gumam Ai.
"Ha-Ha. Kau enggan basah-basahan karena hujan? Ayo keluar kalau berani" Shinichi nyengir kemudian mengulurkan tangannya ke arah Ai. Ai ikut nyengir.
"Kau pikir aku takut?" ejeknya. Dia mengabaikan tangan Shinichi dan keluar dari mobil dengan cepat.
Tapi tak secepat yang diharapkannya karena akhirnya bajunya sebagian basah. Shinichi yang ikut berlari disampingnya juga basah. Mereka kemudian berteduh di salah satu emperan menara Tokyo Tower. Suasana saat itu lengang.
"Aku memang bodoh. Mau berbasah-basahan bersamamu." gumam Ai.
"Ha-Ha. Aku juga bodoh karena lupa membawa payung. Kau bisa sakit nanti, Haibara"
"Aku tidak selemah itu, Kudo"
"Aku yang cemas kalau kau sakit karenaku"
"Kalau begitu jangan buat aku sakit" balas Ai cepat.
Shinichi mengangkat alisnya," Sakit? Aku akan merawatmu hingga sembuh. Tenang saja, Haibara"
Pertama kalinya sejak sore itu, Ai menatap wajah Shinichi. Masih ada tetesan air hujan yang tertinggal di rambut pria itu dan mengalir pelan dari dahi kemudian turun ke hidung, mulut dan akhirnya jatuh melewati dagunya. Ai memberanikan diri menghapus titik-titik air yang masih tertinggal di wajahnya. Sentuhannya terasa panas di bawah kulitnya. Dia kemudian menangkap tangan Ai. Matanya tampak membara ketika bertatapan dengan mata lavender Ai.
"Untuk apa membawaku ke Tokyo Tower, Kudo?" tanya Ai halus.
"Untuk melamarmu" jawab Shinichi singkat.
"Gila" cuma itu yang dilontarkan dari bibir Ai. Shinichi menghela nafas panjang dan melepaskan tangan Ai.
"Ya. Aku tergila-gila padamu, Haibara" ujarnya.
"Bohong"
"Aku...lelah dengan semua kebohongan yang ada dihidupku. Sekarang saatnya aku mengejar hal yang paling kudambakan selama ini. Kau. Kaulah yang paling kuinginkan dalam hidupku, Ai Haibara"
Ai tertawa, makin lama makin keras," Kau pasti bercanda bukan, Kudo?" tanyanya mengejek.
Shinichi tak tau harus bagaimana meyakinkan gadis yang berada didepannya ini. Dia maju selangkah dan memeluknya. Erat. Cukup erat untuk membuatnya tidak bisa bernafas. Dia sama sekali tidak perduli baju mereka saat itu masih basah. Dia tidak perduli jika ada orang lewat yang melihat seorang pria dewasa memeluk gadis berpakaian sekolah.
"Katakan padaku bagaimana harus membuatmu yakin bahwa aku serius padamu" gumamnya sambil mencium rambut Ai.
"Itu.. " Ai tak tau harus berkata apa. Pengakuan Shinichi yang tiba-tiba membuatnya bingung.
"Aku akan melakukan segalanya yang kau inginkan jika itu bisa membuatmu percaya padaku"
"Aku selalu percaya padamu, Kudo. Tapi bukan untuk hal ini. Lagipula kau sudah punya Ran-san disisimu"
"Ran Mouri? Selama ini aku terlalu memaksakan diri bersamanya. Bukan dia yang kucintai, tapi kau..."
"Sepanjang yang kutau, cuma dia yang ada dipikiranmu selama ini" balas Ai lagi.
"Haibara! Katakan padaku, aku harus bagaimana supaya kau percaya padaku!" seru Shinichi frustasi. Dia kemudian melepaskan pelukan gadis itu dan mengacak-acak rambutnya sendiri.
Ai tertawa kecil melihat kelakuan pria itu. "Aku ini ilmuwan, Kudo. Aku menganalisis dulu baru mengambil kesimpulan"
"Jadi? Apa kesimpulanmu?" tanya Shinichi penuh harap.
"Kupikir..kau benar" ucapnya lemah. Shinichi tertawa lebar dan memeluk gadis itu lagi.
"Aku akan menunggumu cukup umur walau secara mental kau lebih tua dariku satu tahun hingga kau bisa menikah denganku" bisiknya di telinga Ai.
"Pervert"
"Hey, jika aku tak menikahimu, kupikir pasti ada pria lain yang akan membawamu pergi"
"Hmm... benar juga. Tapi ini lamaran serius pertamaku walau Kashiwabara-kun pernah memberiku cincin, Ishida-kun juga memberiku kalung berlian dan.." kata-kata Ai tak pernah selesai karena Shinici telah menciumnya dengan penuh gairah. Dia menggumam nama Ai di sela-sela ciumannya yang membuat Ai bergetar didalam pelukannya. Untuk pertama kalinya dalam hidupnya, Ai merasa sempurna. Dia dan Shinichi saling menemukan satu sama lainnya dan menyempurnakan hidup masing-masing. Jiwa mereka saling bertaut, tertarik dan kemudian terpilin.
Shinichi tersenyum ketika mengingat kejadian 3 tahun lalu itu. Dia sekarang sedang berdiri di depan lukisan Monalisa yang termashyur itu. Setelah mengaguminya beberapa menit, dia melangkah menuju ke jajaran patung Yunani. Matanya mencari Venus de Milo. Patung dewi Aphrodite abad ke-5 itu terkenal dengan julukannya sebagai dewi cinta dan simbol kecantikan.
Shinichi menemukan gadis yang paling dicintainya sedang berdiri di depan patung Venus. Dia kemudian berjalan menujunya dan berhenti disamping gadis itu ikut mengamati patung didepannya.
"Sudah lama disini, Ai?" tanyanya tanpa menoleh ke gadis pirang strawberry itu.
"Cukup lama untuk menunggu kau memecahkan sandi dariku" balas Ai pedas.
Shinichi tertawa," Jangan marah dulu. Aku teringat kenangan kita di Tokyo Tower waktu melewati lukisan Monalisa"
"Apa hubungannya ya?"tanya Ai tanpa mengalihkan pandangannya pada patung maha-karya itu.
"Monalisa mengingatkanku bahwa Leonardo da Vinci sebenarnya jatuh cinta pada sosok yang dilukisnya. Istri dari Francesco del Giocondo. Selama bertahun-tahun dia menolak mengakuinya karena dia egois dan tak mau mengenali perasaan hati sesungguhnya. Seperti keadaan diriku yang dulu, Ai"
"Hmm... bagaimana kau bisa memecahkan sandi dariku padahal aku hanya menuliskan Shiho Miyano di kertas itu?" tanya Ai lagi.
"Namamu berarti kemudaan dan kecantikkan abadi. Satu-satunya yang cocok di Paris ini hanyalah patung Venus de Milo di dalam Museum Louvre."
Ai tak bersuara lagi, dia membalikkan wajahnya menatap Shinichi. "Deduksi yang bagus" pujinya dengan mata berbinar.
"Terlalu gampang bagiku, Ai. Lain kali pastikan sandinya lebih rumit" kata Shinichi ringan sambil menatapnya.
Ai merengut kesal," Lain kali kau pasti kesusahan dan jangan harap aku akan membocorkan jawabannya" dengusnya kemudian pergi.
Shinichi tertawa dan mengikutinya. Dia kemudian menggandeng tangan Ai dan berbisik ke telinganya," Daripada kita menghabiskan waktu disini menggagumi benda-benda kuno, lebih baik kita balik hotel untuk meneruskan bulan madu sebelum balik ke Japan"
"Pervert" gumam Ai pelan. Shinichi hanya tertawa. Mereka kemudian saling menatap dan tersenyum satu sama lainnya, lalu meninggalkan Museum Louvre sambil bergandengan tangan di bawah rontoknya daun-daun yang bertebaran di udara.
THE END
.
.
.
A/N : One shot ini didekasikan untuk Aishanara87 yang meminta fic tentang Ai yang tetap menjadi kecil dan Shinichi. Thanks telah meluangkan waktu untuk membaca. ^_^
