Soulmate
.
.
.
Disclaimer : Aoyama Gosho
Waktu adalah anomali yang terjadi dalam rentang kehidupan Shinichi Kudo. Detik, menit, dan jam yang berjalan lambat membuatnya kehilangan orientasi terhadap lingkungan sekitarnya.
Dia sering memaksa dirinya melewati hari-hari yang terasa kering serta menyibukkan dirinya atas tumpukan kasus yang makin lama makin banyak. Dia juga memaksa dirinya bangun ketika matahari muncul, memaksa dirinya makan ketika tubuhnya mulai meronta karena bekerja diluar kapasitas, memaksa dirinya memusatkan konsentrasi sebelum memori masa lalu menerkamnya dengan cepat, memaksa dirinya diam tidak membalas ketika menghadapi cemohan Heiji dan mata khawatir Ran yang melihatnya…
Kadang dia ingin waktu berhenti.
Berhenti memikirkannya.
"Sial",maki Shinichi. Dia tidak bisa memejamkan matanya. Seperti hari-hari sebelumnya. Sudah menjadi rutinitas baru dalam hidupnya. Dia kemudian bangkit dari tempat tidurnya yang tampak berantakan dan berjalan lambat kearah wastafel.
Seraut wajah pucat dengan mata merah balas menatapnya dari balik cermin. Detektif itu kemudian memutar keran dan mencuci mukanya dengan air yang mengalir. Kemudian dia mengunci keran dan kembali menatap cermin. Dibiarkan bulir-bulir air mengalir dari kening, hidung dan berakhir di dagunya. Dia kelihatan menyedihkan.
Entah apa yang ada di pikiran gadis itu jika melihatku begini. Dia pasti akan mengejekku.
Shinichi tersenyum pahit kemudian mengambil handuk kecil disampingnya dan mengelap wajahnya pelan-pelan.
Dia mencoba menghitung. Enam. Enam bulan lebih sepuluh hari setelah gadis itu meninggalkannya. Meninggalkannya hanya dengan sepucuk surat terima kasih.
Setelah apa yang terjadi selama ini. Setelah sama-sama bahu-membahu menumpas organisasi itu. Setelah dia pikir kalau masih bisa bersamanya lagi. Setelah dia…
Shinichi melempar handuknya dan menggeram meninggalkan wastafel untuk kembali ke kamarnya. Sekilas dia melihat jam dinding. Pukul 23.35 malam.
Sampai kapan kau akan menyiksaku lagi?
Diluar hujan mulai turun. Suara rintik-rintiknya menjelajahi pikirannya. Saat gadis itu meninggalkannya, hujan juga turun.
Aku benci hujan.
Shinichi bersandar di tepi tempat tidurnya. Tangannya terkepal erat . Matanya terpejam.
Kudo..
Jika kau membaca surat ini, aku sudah tidak berada di Japan lagi. Jangan mencariku. Kau bilang aku tidak boleh lari dari takdirku. Tidak. Aku tidak lari. Terima kasih untuk segalanya.
Pastikan Hakase selalu makan sesuai list diet yang telah kuberikan padanya. Sampaikan salamku untuk Ayumi, Mitsuhiko dan Genta. Juga untuk Mouri-san.
Shiho Miyano
Hanya surat pendek yang menunjukkan kalau dia masih perduli pada teman-temannya. Hanya sepotong kalimat untuk semua hal yang terjadi selama ini.
Kalau saja aku tau, kilasan matanya yang tampak berbeda ketika dia menyerahkan antidote permanen , kalau saja aku tau, ketika bahunya gemetar ketika dia tersenyum mengetahui organisasi brengsek itu telah ditaklukkan. Kalau saja aku tau kalau dia sudah mempersiapkan kepergiannya secara diam-diam. Aku sama sekali tidak tau kalau dia menyimpan antidote permanen juga untuk dirinya sendiri. Dia bilang ingin tetap menjadi Ai Haibara walau aku bersikeras menentangnya.
Shinichi mendesah keras dan mencoba untuk kembali tidur. Gadis itu telah menguasai pikirannya selama ini. Sadar atau tanpa disadari. Mengendap dalam lorong ingatannya dan menghantuinya. Perasaannya pada Ran yang selama ini ternyata hanya cinta pertama yang pudar seiring keberadaan Conan Edogawa dengan Ai Haibara disisinya.
Dia masih mencintai Ran tapi hanya sebagai sahabat masa kecilnya. Karena dia sadar kalau dia tidak boleh menipu dirinya sendiri dan Ran lagi. Dia harus jujur pada dirinya sendiri.
Setelah kepergian Shiho yang mendadak itu, Shinichi mengerahkan tenaganya untuk mencari keberadaan gadis itu sampai ke Amerika tempat dia mengambil PHd-nya dulu. Dia juga menghubungi semua kontak FBI, CIA, MPD dan semua yang bisa diingatnya saat itu. Semua sia-sia. Dia juga mengecek semua jadwal penerbangan keluar Japan atas nama Shiho Miyano, Ai Haibara atau nama alias lain yang mungkin dipakainya. Tentu saja Shinichi tidak meremehkan mantan anggota organisasi itu, dia pintar menghapus jejaknya, sama sekali tidak ada tanda-tanda sosoknya dimanapun.
Aku tak percaya dia tega melakukannya padaku.
Suara dentangan jam 12 kali menandakan waktu. Shinichi menggeram. Hari-harinya tidak sama lagi setelah dia pergi.
Tiba-tiba…
Detektif itu merasakan jantungnya berdebar. Debarannya berdenyut-denyut aneh. Ada sesuatu mengganjal hatinya. Dipandangnya keluar dari balik jendela. Hatinya tersentak melihat seseorang di depan pintu utama. Dia kemudian bangkit berdiri dengan cepat dan berlari menuju pintu depan. Dibuka gerendel pintunya dengan tangan gemetar.
Jantungnya hampir berhenti.
Shiho Miyano berdiri di depan pintu rumahnya sambil memegang payung hitam dengan tubuh dewasanya. Dia mengenakan jaket kulit berwarna coklat dan gaun terusan berwarna putih lembut yang tampak sangat serasi dengan tubuh langsingnya.
Apakah aku bermimpi?
Kemarahan, kekesalan, kerinduan, serta kebencian bercampur aduk. Betapa inginnya dia berteriak keras-keras padanya karena berani pergi begitu saja. Betapa dia ingin mengguncang tubuh gadis itu karena meninggalkan dia dan professor Agasa dalam kecemasan.
Tapi semua perasaan yang mengaduk-aduk hatinya hilang begitu saja saat melihat gadis itu. Pikirannya buntu tak mampu berpikir satu katapun. Tangannya dikepalkan begitu erat sehingga dia merasa kukunya menyentuh telapaknya dalam dan berdarah. Rasa sakit membangkitkan dia dari dunia mimpi.
"Kau…" desis Shinichi. Hatinya sakit berpilin melihat gadis yang dipikirkannya siang malam berdiri dengan tenang begitu saja di depannya. Tak ada tanda-tanda kalau gadis itu tampak bersalah, bersalah mempermainkan diri dan hatinya .
Shiho tersenyum samar. Rambut pirang strawberry-nya jauh lebih panjang dari yang diingat Shinichi dulu. Wajahnya masih pucat dan dia tampak jauh lebih cantik dari mimpi-mimpi Shinichi selama ini.
"Apakah kau akan tetap bengong disitu dan tidak membiarkan aku masuk, Kudo? " ucap Shiho tenang.
"Kau bahkan tau aku datang sebelum aku sempat menekan bel." Lanjutnya lagi dengan seraut senyum ejekan. Senyum yang diam-diam dirindukannya. Nada suara gadis itu yang manis dan rendah menyesap hati Shinichi .
Untuk pertama kalinya hatinya terasa hangat dan...
…kembali hidup
"Ah..masuklah" gumam Shinichi lemah. Matanya memandang semua gerak-gerik gadis itu. Mencoba meyakinkan diri kalau gadis itu benar-benar nyata didepannya. Shiho masuk ke dalam ruangan dan meletakkan payung hitamnya disamping pintu. Kemudian Shinichi mengunci gerendel pintu. Dia berbalik dan menatap Shiho.
Gadis itu berdiri dengan kaku dan kemudian melangkah menuju sofa. Shinichi mengikutinya. Mereka duduk saling berhadapan. Tidak ada yang bicara.
Suasana tampak canggung. Petir diluar kembali menyala dan hujan bertambah deras.
"Jadi… kau…" ucap Shinichi memulai perkataan. Dia masih tampak bingung dan susah berkonsentrasi.
Shiho mengangguk pelan,"Aku kembali, Kudo"
"Maksudmu itu… kembali untuk..selamanya?"ada hasrat dalam nada suara Shinichi yang dalam.
Shiho menaikkan alisnya," Tidak. Aku cuma mampir sebentar. Aku kangen Hakase dan anak-anak"
Shinichi menggeram," Apa maksudmu dengan mampir sebentar? Kau tak tau Hakase amat khawatir dan kami berdua mencarimu sampai di Amerika? HAIBARA!"seru dia dengan frustasi.
Gadis itu tersentak mendengar teriakan Shinichi. Dia tau kalau kepergiannya membuat mereka cemas. Dia mengangkat wajahnya menatap Shinichi dalam-dalam.
"Aku minta maaf, Kudo. Makanya aku kembali untuk itu. Aku ingin kalian tau kalau aku baik-baik saja"
Shinichi menjambak rambutnya,"Kau tak tau Hakase tidak bisa tidur dengan tenang karena mengkhawatirkanmu ditangkap organisasi itu. Kau harus bertemu dengan dia untuk minta maaf, Haibara"
Mata Shiho membesar,"Aku akan pergi kesana sekarang, mudah-mudahan Hakase belum tidur"
Dia hendak bangkit dari sofa ketika Shinichi menyambar pergelangan tangannya. Gerakannya terhenti.
"Bagaimana dengan aku, Haibara?"
Kau harus mengganti hari-hariku. Kau yang bertanggung jawab atas kacaunya hidupku.
"Apa maksudmu, Kudo?"matanya menyipit memandang detektif itu.
"Itu… hujan masih deras diluar, tunggulah sebentar" pinta Shinichi.
Shiho terdiam tapi dia kembali duduk disofa. Shinichi masih tetap belum melepaskan pegangan tangannya.
"Jangan pergi…"ujar Shinichi hampir tak terdengar. Shiho tersentak dan tatapan mereka bertemu.
"Jangan pergi dariku.." kali ini suaranya lebih keras.
Shiho tidak menjawab.
"Kau mendengarnya, Haibara?" Tanya Shinichi tidak yakin.
"Aku ditawari menjadi anggota FBI oleh Shuichi Akai di Amerika" jawab Shiho tenang.
"Jadi kau menerimanya? Ini alasanmu menggunakan antidote itu?" nada kecemasan membayang di setiap kata yang terlempar keluar.
Shiho mengangguk pelan. Shinichi melepaskan pegangan tangannya. Dia kemudian berdiri dan menarik lengan gadis itu untuk berdiri.
"Kau berhutang padaku, Haibara. Kau belum boleh pergi ke Amerika dengan Akai itu"ujar Shinichi keras.
Shiho melihatnya dengan tatapan aneh, "Apa maksudmu dengan hutang? Hutang budi karena telah melindungiku saat menjadi Ai Haibara? Aku akan membalasnya, Kudo. Tenang saja" nada suaranya dingin, sedingin kilasan mata lavender kebiru-biruanya yang menggelap.
"Bukan itu maksudku. Hutang karena kau menyiksaku selama berbulan-bulan ini. Aku mencarimu kemana-mana. Kau membuatku tidak bisa tidur bermalam-malam dan aku susah berkonsentrasi karena kau" tuduhnya.
Shiho kehilangan kata-kata. "Untuk apa kau mencariku? Aku sudah memberitahumu, Kudo! Jangan mencariku. Aku baik-baik saja."
"Kau partnerku. Jika partnerku menghilang tiba-tiba, tentu saja aku cemas. Bodoh"
Shiho tersenyum kecil,"Oh ya? Lagipula aku melihat kau sekarang tampak bahagia walau lebih kurus dari yang kuingat, Kudo"
"Bahagia? "
"Setelah kembali ke sosok tubuhmu dan kekasihmu. Bukankah ini yang selalu kau inginkan selama ini?"
" Aku bahagia? Omong kosong! Bagaimana kalau yang kuinginkan bukan itu, Haibara?" Tanya Shinichi keras.
Shiho menatapnya dengan tatapan aneh,"Aku akan pergi ke tempat Hakase sekarang. "elaknya.
"Tidak"bentak Shinichi lagi.
Tak akan kubiarkan kau lari dariku lagi.
"Kudo?"Tanya Shiho lemah.
"Bagaimana kalau yang kuinginkan adalah kau?" ujar Shinichi sambil meletakkan kedua tangannya di bahu Shiho dan menatapnya lekat-lekat.
"Itu.." gadis itu berusaha mengalihkan pandangannya tapi Shinichi menarik dagu gadis itu dengan lembut supaya tatapan mata mereka kembali bertemu. Bola mata kebiruan Shinichi tampak gelap dan dalam.
"Selama berbulan-bulan ini aku baru menyadari apa yang kuinginkan."
"Kau menginginkanku jadi partnermu? Setelah menjadi anggota FBI, aku akan kembali" Shiho mencoba tersenyum gugup. Bola matanya tampak bergerak-gerak cemas.
"Bukan hanya itu, Haibara. Dengarkan aku sebentar. Bagaimana kalau kau tinggal disini saja? " tawar Shinichi.
"Sayangnya pusat pelatihan berada di New York. Tapi aku berjanji akan pulang setiap tahun." Shiho mencoba tersenyum, dia sedikit kaget dengan perubahan sikap Shinichi yang hampir tak dikenalinya lagi.
"Katakan padaku kenapa kau kembali tiba-tiba" seru Shinichi tiba-tiba.
"Bukankah sudah kukatakan padamu tadi? Aku ingin bertemu dengan Hakase"jawab Shiho.
"Tidak. Kau bukan ingin bertemu dengan Hakase."
Shiho menatap pria didepannya dengan ekpresi yang mampu melumerkan es.
"Jadi kau pikir apa alasannya aku kembali, Sherlock Holmes?"tanyanya.
Shinichi merasakan aura dingin itu dan menelan ludah.
"Kau kembali karena aku" jawabnya dengan percaya diri.
"Huh? " Shiho sedikit terkejut namun senyumnya naik ke atas dan mengejek," Detektif arogan ini yakin sekali dengan analisanya"
"Hanya ada satu kebenaran. Ini adalah kebenaran kalau kau kembali untukku" kata Shinichi dengan senyum lebar.
Shiho meronta dan melepaskan cengkreman Shinichi pada bahunya. Dia tampak kesal.
"Sombong. Kau terlalu percaya pada dirimu. Kau pikir kau yang paling benar? Aku pergi dulu" ujar Shiho
Tapi Shinichi lebih cepat, dia menarik gadis itu dan memerangkapnya dengan tembok dengan kedua tangannya. Shiho tampak tak nyaman dengan disudutkan begitu. Dia hendak kabur tapi tangan dan badan pria itu menutup semua akses.
"Apa maksudmu, Kudo? Lepaskan aku" desis Shiho.
"Tidak. Sebelum kau mengaku kalau kau kembali karena aku"
"Huh. Detektif egois. Jika tidak kau lepaskan, aku..aku.."
"Kau akan apa? Hmm.. Hai..tidak Shiho? Kau akan apa?" Shinichi menggodanya dengan senyuman yang mempu membuat semua gadis meleleh tapi tidak untuk gadis tertentu yang sedang berada di depannya atau tepatnya terperangkap didepannya.
Shiho merasa amarahnya memuncak. Dia akan membalas perlakuan Shinichi ini.
"Kau sudah pernah makan APTX 4869 buatanku, bagaimana kalau aku tiba-tiba tak sengaja memberimu obatku yang lain..yang bukan mengecilkanmu tapi membuatmu menjadi perempuan?" ujar Shiho dengan wajah manis tak berdosa.
Shinichi mengernyitkan alisnya dan ada kengerian yang memancar di bola matanya. Gadis di depannya ini bukan lawan yang gampang. Dia tau kalau Shiho merupakan pribadi yang sulit. Namun itu yang membuatnya tertantang, tertantang untuk menaklukkannya, karena dia telah mengacaukan hidupnya dan hatinya.
"Kupikir kau tak suka kalau aku menjadi perempuan, Shiho?"
"Siapa bilang? Aku malah senang karena selama ini aku tak punya teman perempuan" Shiho tersenyum manis. Yang membuat hati Shinichi berdebar-debar. Dia ingin senyum itu lebih sering muncul dan dia ingin kalau dialah alasan yang membuat gadis itu tersenyum.
"Ha-ha" tawa Shinichi garing. Shiho segera mengambil kesempatan untuk kabur tapi Shinichi lebih cepat. Dia memegang pipi gadis itu dan kemudian menciumnya dengan penuh hasrat.
Shiho hendak memberontak tapi Shinichi kemudian menekan tangan gadis itu di dinding dengan tangannya.
Akhirnya pertahanan gadis itu melemah dan dia membiarkan dirinya lebur dalam pelukan pria itu. Kedua matanya tertutup.
Setelah beberapa saat, Shiho yang memutus ciumannya. Mukanya memerah dan terengah-engah. Keadaan Shinichi tak jauh berbeda. Debaran hatinya amat kencang dan dia berkeringat.
"Shiho…"desis Shinichi sambil menatap gadis itu. Dia ingin menikmati momen ini dimana gadis itu begitu cantik dan rapuh dalam pelukannya. Begitu indah dan memabukkan.
Betapa dia menginginkan gadis ini. Gadis yang paling mengerti dan memahami dirinya.
Shiho merasa hatinya berdebar-debar ketika detektif itu menautkan jemarinya ke jemari lentiknya. Tatapan mereka kembali bertemu.
"Ayo kita ke tempat Hakase…"ujar Shinichi sambil nyengir.
Shiho mengangguk dan tersenyum.
Sementara itu hujan masih tetap deras di luar. Petir tak henti-hentinya menggelegar.
.
.
.
…Cinta tak perlu pengakuan. Tak perlu romansa omong kosong dengan kata-kata puitis yang tak berisi.
Tak perlu waktu seumur hidup untuk mengenali belahan jiwamu.
Kau hanya perlu menyelam hingga dasar hatimu.
Mencari apa yang kau dambakan selama ini.
… Kadang-kadang kata cinta memang tak perlu diteriakkan hingga ke ujung dunia, kita bisa merasakannya dari cara pemahaman, pengorbanan, pengertian, dan keinginan untuk mengisi belahan jiwa satu sama lainnya. Kita bisa merasakannya ketika jiwa kita haus akan dirinya, jiwa kita tertarik begitu saja dan setelah menemukan dia, kita tau.
S/He is the one.
FIN
.
.
.
A/N : one shot lagi tentang Shiho dan Shinichi. Bagi gw, mereka adalah belahan jiwa satu sama lainnya. Intinya sih sayangnya ga semua belahan jiwa harus berakhir bersama karena waktu, orang, kondisi yang salah dll... tapi paling gak kita harus berusaha kalo uda ketemu belahan jiwa kita. hehehe.
thanks uda meluangkan waktu untuk membaca. Moga-moga kalian juga telah/akan menemukan soulmate masing-masing. ;)
