Angel of Darkness

part II

.

.

.

Disclaimer: Aoyama Gosho


Shinichi bangun ketika merasa ada desahan nafas di dekat telinganya. Matanya terbuka dan menemukan wajah Shiho sedang tidur dekat di wajahnya.

Dia teringat pertemuan pertama mereka di klub Heaven dimana Shiho berhasil menipunya. Shinichi yang merasa egonya diinjak, melakukan segala hal untuk mengejar organisasi mafia yang melindungi Shiho dan kekasihnya. Butuh waktu berbulan-bulan sebelum berhasil menyerang organisasi itu. Sayangnya Shinichi berhasil ditangkap oleh Jin dan dia tertawan di lab bawah tanah. Dia pikir hidupnya sudah tamat ketika ternyata Shiho menolongnya keluar dari sana .Gadis itu tak seburuk yang dia sangka selama ini. Gadis itu bahkan memberinya berbagai informasi penting sehingga otak organisasi itu berhasil ditangkap dan dilumpuhkan. Tapi sayang Jin berhasil lolos dan tidak ditemukan jejaknya. Maka karena itu, gadis itu tidak didakwa apapun. Shinichi berhasil meyakinkan Inspektur Megure dan MPD atas ketidakbersalahnya Shiho. Argumennya Shiho hanya orang yang salah di tempat yang salah dan lagipula dia telah mengkhianati organisasi itu. Tentu saja mereka tak akan tinggal diam untuk membalas dendam sehingga Shinichi menemukan alasan ini supaya Shiho tetap tinggal di rumahnya.

Sebagai saksi penting. Informan. Dan sekaligus kekasihnya.

Bagaimana dengan Ran?

Mereka sudah putus baik-baik karena Shinichi merasa dia adalah pria brengsek kalau tetap bersama gadis itu walau hatinya telah terpikat dengan yang lain.

Ran yang tak pernah memahami pekerjaannya sebagai detektif, tapi Shiho dapat melakukannya dengan baik. Gadis itu cerdas, memikat, sensual dan sangat cantik. Shinichi yang hampir tak pernah memikirkan kekasihnya dulu ketika bekerja, akhir-akhir ini selalu menghabiskan waktunya membayangkan Shiho. Dia mungkin tergila-gila dengannya, tapi rasa gengsinya terlalu tinggi untuk mengakui hal penting itu.

Shinichi tersenyum kecil dan mengambil kesempatan untuk mencuri ciuman kecil di pipinya. Gadis itu terbangun dan mengerang. Suara erangannya terdengar merdu dan merangsang. Shinichi menelan ludah.

"Kau sudah bangun?" tanyanya lembut sambil menyelipkan rambut pirang strawberry gadis itu dibelakang telinganya.

"Mungkin" desisnya pelan.

Shinichi tersenyum,"Aku harus bagaimana supaya kau bangun seutuhnya , hmm..Shiho?" ujarnya sambil memberikan ciuman-ciuman kecil di pipi, dagu dan lehernya.

Shiho tersenyum, "Tak kusangka kau sangat bergairah di pagi hari, Shin..ah.." nafasnya tersentak ketika Shinichi menjilat titik sensitifnya di bawah telinga.

"Kau harus kerja hari ini, Shinichi" desahnya sambil menolak dada pria itu dengan lembut.

"Hmm… kerja? Apa itu kerja?" tanya pria itu tak berkonsentrasi karena pikirannya hanya tertuju pada gadis di sampingnya.

"Haha… Shin-chan!" tawa gadis itu karena Shinichi mulai menggelitik pinggangnya. Kekasihnya ini tau titik lemahnya dan sering memanfaatkan itu kalau ada kesempatan. Shiho cemberut dan segera menyambar tangan kekar Shinichi tapi pria itu malah mengubur wajahnya pada dada gadis itu.

Dia mencium aroma strawberry yang menguar dari tubuh gadis itu.

"Aku…mencintaimu, Shiho" desisnya pelan tanpa sadar.

Mata gadis itu membesar dan kemudian melembut. "Shinichi…"

Shinichi tersenyum malu. Tubuhnya bereaksi lebih jujur daripada pikirannya.

"Aku ingin kau tau, aku mencintaimu.. lebih dari apapun" dia memeluk erat seakan gadis itu adalah pusat dunianya dan dia tak bisa hidup tanpanya.

Sayangnya pria itu tak menyadari sorot mata gadis itu tampak ketakutan tapi hanya sekilas. Shiho kemudian membelai rambut hitam Shinichi.

"Shiho…katakan padaku. Apakah kau mencintaiku?"

"Simpan adegan cinta untuk nanti. Kau sudah terlambat untuk hari ini. Seharusnya aku tak boleh tertidur disini. Kau selalu tak bisa berkonsentrasi kalau ada aku"

"Shiho… jawab dulu pertanyaanku" desak Shinichi sambil mengangkat wajahnya dan menatap gadis itu lekat-lekat.

Shiho tertawa," Itu.." Perkataannya terputus karena ada handphone Shinichi bordering.

"Arggh.." erang Shinichi sambil melepaskan pelukannya dan berdiri mencari handphonenya yang berada di atas meja kecil. Shiho mengambil kesempatan itu segera meninggalkan ranjang dan tersenyum kecil serta melambai ke arah Shinichi.

"Ya.. halo?"

Hanya itu yang didengar Shiho sebelum menutup pintu kamar Shinichi. Gadis itu tersenyum kecil. Pengakuan Shinichi masih terbayang-bayang di telinga dan hatinya. Dia yang selama ini tak mengenal apa itu cinta, mengira menemukannya pada Jin. Jin yang merupakan mentornya selalu bersamanya bertahun-tahun di organisasi. Dia mungkin pernah mencintainya tapi bukan cinta yang dirasakannya selama ini bersama Shinichi. Cinta Jin adalah cinta yang penuh emosional dan dekstruktif. Pria posesif ini sangat pencemburu dan akan membunuhnya jika dia mengkhianatinya. Sedangkan cinta Shinichi adalah cinta yang memabukkan, manis dan romantis.

Shiho pergi ke kamar mandi untuk mencuci mukanya ketika handphonenya bergetar. Pertanda ada pesan masuk. Dia mengangkat alisnya. Handphonenya jarang menerima pesan dan telepon. Kalau dulu cuma Jin, sekarang hanya Shinichi yang menghubunginya. Ada firasat tak enak ketika dia membuka pesan yang masuk.

Cuma satu kalimat. Tapi sanggup merobek hatinya.

Tunggu aku di tempat biasa. Jin.

Shiho menggenggam handphonenya dengan gemetar. Butir-butir keringat mulai bermunculan.

"Ada apa, Shiho?" tanya Shinichi dari belakang, mengembalikan kesadarannya.

"Tidak ada apa-apa. Shinichi." dia berbalik dan mencoba tersenyum tipis. Shinichi menatapnya dengan alis berkerut, tapi dia tak berkata apa-apa.

Shiho segera pergi ke kamar mandi dan menutup pintunya cepat. Dia kemudian menyandar ke pintu, menutup matanya.


Malam menjelang. Angin berhembus kencang.

Shiho berjalan pelan-pelan menyusuri gang-gang kecil. Langkahnya terasa berat. Nafasnya terengah-engah walau dia tak tampak habis berlari. Hatinya berdegup begitu kencang. Matanya mencari-cari dan menemukan gudang kecil kemudian masuk lalu menutup pintunya.

Jin muncul dari balik salah satu pilar dan menyeringai melihatnya.

"Kau selalu datang kalau aku memanggilmu" desisnya sambil terkekeh.

"Jin... Apa maumu?" sembur Shiho cepat dalam satu tarikan nafas.

"Organisasi sudah hancur. Karena kau. Kau mengkhianatiku." Jin tersenyum tipis. Mata dinginnya menatapnya dari balik topi hitamnya. Jas hitamnya berkibar ditiup angin. Angin yang sama mempermainkan rambut Shiho.

"Itu... "ujar Shiho gugup.

"Kenapa? Kenapa Sherry ? atau kupanggil saja Shiho? Sejak kapan kau menjadi orang yang bermoral?" Jin pelan-pelan mendekatinya langkah demi langkah. Shiho hanya terdiam membatu di tempat.

Pria itu berdiri tepat di depannya. Tangannya menyentuh dagu gadis itu dan dia mendesis,"Kau milikku. Ada atau tanpa organisasi"

"Lepaskan aku..Jin.. Kumohon lepaskan aku" ujar Shiho bergetar.

"Tidak. APA YANG PERNAH MENJADI MILIKKU TAKKAN PERNAH KULEPASKAN. SELAMANYA KAU MILIKKU!" bisik Jin di telinganya. Shiho terkesiap dan gemetar.

Jin hanya mendesah dan dia membelai rambut gadis itu. Untuk sesaat matanya melembut. "Kau bersama detektif itu. Aku mengamati kalian beberapa minggu ini"

Shiho menutup matanya tak mampu menjawab.

"Kau tau apa yang terjadi bagi orang yang mengkhianatiku bukan? Kau dan detektif itu akan mati"

Shiho tersentak dan membelakkan matanya dalam horor," Jin...Aku.."

"Kembalilah padaku. Aku menjamin pria brengsek itu akan hidup selama kau disisiku"

"Jin.."

"Kuberi kau tiga hari. Setelah itu kau tau apa resikonya. Aku akan membocorkan identitas detektif brengsek itu pada organisasi. Kau tentu tau apa yang terjadi kalau mereka mulai membalas dendam" Jin hanya tersenyum kecil dan meninggalkan Shiho dalam keadaan putus asa. Air matanya mulai mengalir seiring langkah menjauh pria itu.

Shiho tau resiko apa untuk pengkhianatannya. Dia tau apa yang akan terjadi. Tak ada tempat untuk wanita pengkhianat seperti dia. Tak pernah dia merasa sesedih itu dalam hidupnya...


Shinichi pulang ke rumah dalam keadaan senang dan bersenandung. Dia baru saja berhasil memecahkan kasus rumit yang menyita perhatiannya. Shiho pasti merasa terabaikan. Jadi dia ingin memenangkan hatinya balik. Dia tersenyum kecil ketika menyentuh kotak kecil di saku celananya.

Lampu ruang tamu masih gelap. Shinichi merasa aneh.

Apakah Shiho tidak berada di rumah?

"Shiho?" serunya.

Dia hendak menekan tombol saklar lampu dan terkejut menemukan gadis itu duduk di dalam kegelapan.

"Shiho?" serunya lagi. Shinichi segera menghambur kearah gadis itu.

"Ada apa denganmu?" tanyanya cemas sambil menggenggam tangannya.

"Shinichi... ada yang ingin kukatakan padamu. Kau tau kalau aku bukan wanita baik-baik" ujarnya tanpa ekspresi. Shinichi mengerutkan keningnya, dia tak tau kemana arah pembicaraan ini.

"Aku telah memanfaatkanmu selama ini..."ujarnya lagi.

"Apa maksudmu, Shiho? Aku tak mengerti"

"Aku bekerja sebagai mata-mata mendekatimu untuk menyelidiki info karena disuruh Jin."

Shinichi membeku. Hatinya bagai tersayat-sayat mendengarnya. Tubuhnya mulai limbung, dia mengguncang bahu gadis itu.

"KAU BERCANDA BUKAN?" Matanya mencari-cari, mungkin mencari kebohongan yang tersembunyi di wajah gadis yang paling dikasihinya itu. Sayangnya Shiho Miyano adalah aktris yang sangat berbakat. Mata Shinichi luput melihat bibir gadis itu sedikit gemetar sebelum bersuara lagi dengan tenang.

"Shinichi Kudo. Kau detektif hebat tapi tak mampu menebak kalau aku adalah agen ganda"

Shinichi berdiri terhuyung-huyung tak percaya.

"Jadi selama ini..." ujarnya terbata-bata.

"YA, aku hanya memanfaatkanmu saja, aku tak pernah mencintaimu. Kau telah jatuh pada perangkapku, dengan begitu gampang." ujar Shiho dengan senyum mengejek. Shinichi menatapnya tak percaya, betapa dia ingin menghancurkan senyuman menyebalkan dari wajah gadis itu. Dia yang selalu tenang, penuh rasional selalu kehilangan akal sehatnya jika berhubungan dengan gadis ini.

"KAU..." seru Shinichi parau. Dia hendak mengambil pistol disakunya ketika ada benda lain yang ikut terjatuh. Kotak kecil berpita merah jambu. Matanya menatap kotak itu dengan nanar diikuti pandangan mata Shiho. Mereka bersama-sama melihat kotak itu tanpa bersuara.

"Padahal aku ingin melamarmu... tapi..." Shinichi menodongkan pistolnya ke arah Shiho. Matanya penuh kebencian, bercampur dengan cinta yang membara.

"Mau membunuhku, Shinichi? Aku memang lebih suka mati dipelukanmu daripada di penjara" ujarnya dengan mata berkilat-kilat.

Shinichi meneguk ludahnya, tangannya mulai berkeringat.

"Kenapa, Shiho? JELASKAN ALASANNYA PADAKU! " jerit pria itu dengan frustasi.

"Lupakan saja, Shinichi. Lupakan aku..." Shiho mulai mendekat ke arah Shinichi, pria itu mundur perlahan-lahan.

"Aku tau kau takkan mampu membunuhku, karena kau mencintaiku. Amat mencintaiku" desis Shiho tenang lagi.

"HUH! KAU PIKIR AKU TAK MAMPU?" Walau amarahnya begitu besar, tapi hatinya bergetar melihat gadis itu begitu dekat dengannya. Dia tak mampu mengambil keputusan apapun, di pikirannya hanya bola mata lavender kebiru-biruan gadis itu, rambut pirang strawberrynya, parfum musk-nya..

"Ya, kau tak mampu. Karena akal sehatmu selalu tak berkerja kalau aku ada disisimu. Kau tergila-gila padaku.."

Shiho memeluk Shinichi dan mendesah di telinganya,"Maafkan aku, Shinichi"

"HUH?" tapi pandangan pria itu tiba-tiba gelap dan roboh ke lantai. Shiho menggenggam stun-gun sambil tersenyum sedih.

"Maafkan aku, Shinichi..." dia kemudian jongkok dan mengecup bibir pria itu dengan lembut. Matanya tertuju pada kotak kecil di lantai,dia meraihnya dan dibukanya dengan perlahan, cincin bermatakan berlian. Sangat indah dan berkilauan. Tak terasa air mata Shiho kembali jatuh. Dia sedikit terisak sebelum meletakkan kotak itu kembali ke tangan Shinichi. Kemudian dia bangkit berdiri dan berlalu.

To be continued (?)

.

.

.


A/N : Oneshot lain tentang Shinichi dan Shiho. Yay! gw gak pernah bosan nulis tentang mereka. HAHA.