Essay
.
.
.
Disclaimer : Aoyama Gosho
"Anak-anak. Keluarkan kertas dan pena. Hari ini ada tugas baru buat kalian." Sumiko Kobayashi berdiri di depan kelas dengan wajah ceria sambil mengatupkan kedua tangannya.
Conan Edogawa mendengus kesal tapi dia tetap menarik sehelai kertas dan mengeluarkan penanya dari kotak pensil. Ai Haibara yang duduk disampingnya mengikutinya.
"Kita akan membuat esai yang pasti akan sangat menarik. Tujuan esai ini adalah supaya kita bisa menentukan cita-cita kita dari sekarang. Temanya adalah suatu hari di kehidupan 10-15 tahun dari sekarang. Waktu kalian semua sudah dewasa. Contohnya, Izumi Mamoru. Mamoru-chan bercita-cita jadi apa nanti kalau sudah besar?"
Yang ditanya tersenyum lebar dengan riang. "Aku akan menjadi Superman dan menyelamatkan dunia dari serbuan Gozilla. Aku akan masuk di tv dan koran seluruh dunia."
Sumiko-sensei tertawa garing," Bagus. Kau juga harus menyelamatkan sensei nantinya."
"Tentu saja, sensei!" balas Mamoru dengan berseri-seri.
"Nah, jadi Mamoru-chan akan menulis esai satu halaman tentang apa yang akan dilakukannya untuk menyelamatkan dunia. Ada yang masih belum mengerti?"
Conan mendengus dan memutar bola matanya.
"Bagaimana denganmu, Mitsuhiko-kun? Kau ingin menjadi apa dalam sepuluh tahun mendatang?" tanya Sumiko-sensei.
Yang ditanya rupanya sedang bermimpi di siang bolong. Dilihat dari wajahnya yang memerah dan mulutnya yang sedikit terbuka plus tatapan matanya ke arah gadis berambut pirang strawberry di seberangnya, kita bisa berasumsi apa yang ada dipikiran anak kecil itu.
" A—aku akan menjadi detektif terkenal dan FBI akan meminta bantuanku."
Tentu saja kalimat itu sebenarnya belum sepenuhnya selesai karena masih ada yang menggantung di bibirnya tapi tak mampu diucapkannya. Matanya mengerling ke arah Haibara Ai.
Genta Kojima yang duduk disampingnya menyambar," Aku akan menjadi koki dan menyelamatkan dunia dari serangan monster pemakan nasi belut."
"HA-HA. Sangat menarik, Genta-kun. Jadi kalian mengerti bukan? Sekarang mari tulis keinginan dan cita-cita kalian di kertas dan serahkan pada sensei besok pagi."
Ayumi Yoshida menatap Conan sambil berseri-seri dan kita sepertinya bisa menebak apa yang hendak ditulisnya nanti.
Ai menatap guru didepannya dengan pandangan mata bosan, dia tak sanggup lagi menahan kantuk yang menderanya dari tadi. Mulutnya hampir terbuka ketika Sumiko-sensei bertanya padanya.
"Ai-chan. Apa yang akan kau lakukan dalam sepuluh tahun mendatang?"
Ai menutup mulutnya dengan cepat dan berbicara tanpa berpikir lagi.
"Enam kaki di bawah permukaan tanah."
Sumiko-sensei menatapnya dengan bingung tapi kemudian tersenyum berseri-seri, " Ai-chan. Rupanya kau ingin menjadi ahli geologi."
"Bukan itu, sensei. Maksudnya aku akan mati jadi itu keadaanku waktu sepuluh tahun mendatang."
Sumiko-sensei menatapnya dengan pandangan ngeri, sedangkan anak-anak di kelas shock sampai tak bisa berbicara. Semua menatapnya dengan mulut terbuka. Tak terkecuali Conan yang mengerutkan alisnya. Dia kemudian menendang kursi Ai sambil berbisik.
"Haibara!" desisnya.
Ai mengangkat alisnya kemudian," Itu cuma bercanda, sensei. Aku akan menjadi ilmuwan nantinya," lanjutnya dengan nada suara kekanak-kanakan. Sumiko menghela nafas, tapi wajahnya masih khawatir melihat Ai dan Conan.
Perkataan Ai terlupakan dan sepanjang pelajaran Conan mencuri pandang ke arah dia terus. Ai tampak aneh dan murung hari ini. Apakah ada anggota BO yang berkeliaran lagi?
Mereka pulang bersama-sama seperti biasa dan Conan mengantar Ai pulang ke rumah Professor Agasa. Ai kemudian menggumam sampai jumpa seperti biasa dan mereka berpisah.
Conan merasa ada yang mengganjal di hatinya jadi dia memutuskan untuk pergi menjenguk Ai setelah makan siang.
.
.
.
TING TONG
Ai membuka pintu dan menaikkan alisnya dengan bosan melihat Conan yang datang.
"Ada apa, Kudo?"
"Tidak apa-apa." Dia masuk terus dan duduk disalah satu sofa.
Conan melihat sekeliling dan melihat kertas tugas Sumiko-sensei di atas meja. Detektif cilik itu mengambilnya dan melihat kalau Ai sama sekali belum menulis apa-apa disana.
"Kau tidak punya cita-cita sama sekali, Haibara?"
Ai duduk disampingnya dan menarik salah satu majalah fashion sambil melihat-lihat halamannya. Tak jelas apa dia tak mendengar pertanyaan Conan atau sengaja tak menjawab.
"Oi, kau tak menjawab pertanyaanku."
"Aku tak punya gambaran untuk sepuluh tahun mendatang kecuali kematian."
Conan mendengus kesal. "Oi, Haibara. Aku sudah berjanji akan melindungimu. Uh, tentu saja kau akan menjadi ilmuwan dalam sepuluh tahun mendatang."
"Oh, jadi apa yang akan dilakukan Shinichi Kudo dalam sepuluh tahun mendatang? Menikahi sahabat masa kecilnya dan mempunyai lima anak?"
Wajah Conan memerah dan dia merengut, " Aku saja tidak tahu apa yang akan kulakukan dalam sepuluh tahun lagi, tapi yang pasti aku akan tetap menjadi detektif."
"Membosankan sekali hidupmu, Kudo."
"Ha-Ha. Kupikir hidupmu lebih membosankan sebagai ilmuwan nantinya."
"KAU yang lebih membosankan. Hanya mengurus mayat setiap harinya."
"Justru KAU lah yang jauh lebih membosankan. Kau akan bersamaku mengurus mayat setiap harinya."
Ai berhenti dan menatap Conan dengan wajah heran. Detektif itu tergagap-gagap dan cepat mengalihkan bahan pembicaraan.
"Kau tak punya imajinasi. Pasti nanti esaimu akan berisi kehidupan sehari-hari seorang ilmuwan yang membosankan."
Ai menutup majalahnya dengan keras dan mengambil pena untuk menulis sambil mengatupkan bibirnya tipis-tipis. Conan tak tahan untuk mencuri baca tulisannya. Tulisan Ai sangat bagus dan rapi. Luar biasa rapi untuk anak kelas 1 SD.
"Aku akan menjadi ilmuwan untuk CERN, menemukan Particle of God, menemukan obat AIDS dan kanker, menemukan sumber energy terbarukan yang murah untuk dunia," ujar Conan sambil membaca apa yang tertulis di kertas Ai. Dia tertawa," Kau pikir Sensei percaya anak kecil berumur 7 tahun yang menulis ini?" katanya sambil melepaskan kacamata di atas meja.
"Daripada kau menggagumi esaiku lebih baik kau menggunakan otakmu untuk menulis apa yang akan Conan Edogawa sewaktu dewasa. Atau kau bisa menulis dengan sudut pandang alter egomu yang lain, Shinichi Kudo. Tapi kupikir kehidupanmu pasti amat sangat membosankan sebelum bertemu denganku."
Conan seperti tersentak listrik," Betul. Karena kau, aku terlibat masalah besar dan yang pasti aku tidak punya waktu untuk merasa bosan."
"Huh. Jadi kau menuduhku sebagai penyebab semua masalah besarmu?" Suara Ai terdengar dingin dan berbahaya.
"Ha-Ha. Tentu saja tidak," jawab Conan cepat-cepat sebelum aura mematikan Ai menyelimutinya.
Ai menghela nafas dan merobek kertas yang berisi esai ditulisnya tadi. Dia mengambil kertas baru dan mulai menulis lagi. Kali ini dia sengaja menggunakan tangannya yang lain untuk menutupi hasil tulisannya supaya tidak bisa terbaca oleh Conan yang duduk mendekat kearahnya.
Ketika Conan hendak mencuri baca lagi, Ai memberikan tatapan death glare-nya yang terbaik yang membuat detektif cilik itu menciut. Setelah beberapa menit, tulisan Ai selesai. Dia melipatnya dan menaruhnya kembali ke tasnya dengan ekspresi puas.
"Apa yang kau tulis, Haibara?"
"Aku cuma menggunakan imajinasiku yang terbaik. Walau sebenarnya semua ilmuwan itu tidak berimajinasi karena lebih mengandalkan fakta dan data. Mungkin masa-masa menjadi anak kecil membuat imajinasiku menjadi liar." Ai mengakhiri kata-katanya dengan helaan nafas panjang.
Conan penasaran tapi dia sadar Ai pasti takkan mengizinkannya membaca esainya, jadi dia memilih menunggu waktu yang tepat untuk memenuhi rasa kadar keingintahuannya yang besar, yah memang sangat besar kalau menyangkut gadis pirang strawberry tertentu.
Ai menatapnya dan menggumam," Aku akan kembali ke lab. Sampai ketemu, Kudo."
Conan cuma mengangguk dan pura-pura memperhatikan salah satu alat ciptaan Professor Agasa yang terserak di atas meja.
"…dan kalau kau berani membuka tasku, kau tau akibatnya kan, Kudo?" kata Ai sambil berlalu tanpa menunggu jawaban.
Conan menggigil. Tapi hanya sebentar. Setelah menunggu beberapa saat dan yakin kalau Ai pasti sibuk di lab bawah tanahnya, detektif itu diam-diam membuka tas yang di atas sofa kemudian sibuk mencari esai tadi.
Setelah ketemu, dibukanya dan dibacanya dalam hati.
Esai Ai sangat pendek hanya beberapa kalimat saja.
Haibara Ai. Umur 18 tahun. Bekerja full time di FUSAE pada bagian divisi pengembangan produk baru dan part time di labotarium Profesor Agasa. Kadang-kadang memberi bantuan professional untuk seorang detektif yang tak ahli dalam hal forensik dan tosikologi. Tentu saja bantuan itu tidak gratis. Karena Haibara Ai memerlukan tas Fusae terbaru dari setiap musim atau mungkin dompet Hermes, kacamata Dolce Gabbana dan handphone Prada tercanggih.
Conan memutar bola matanya setelah membaca esai Ai. Gadis cilik itu benar-benar ingin menguras dompetnya. Hmm… kenapa Conan bisa yakin kalau detektif yang tertulis di esai itu adalah dia yah?
Dia buru-buru menyimpan esai itu kembali ketika mendengar langkah kaki mendekat.
"Shinichi-kun. Apa yang sedang kau lakukan disini?" tanya Profesor Agasa melihatnya.
"Um.. tidak apa-apa. Sampai jumpa, hakase." Conan berlari meninggalkannya dan pulang ke rumah Mouri.
.
.
.
Keesokkan paginya Sumiko-sensei mengumpulkan esai dari anak-anak dengan wajah berseri-seri. Dia berhenti sejenak ketika sampai di meja Ai, matanya memantulkan kekhawatiran tapi ketika melihat gadis cilik itu sedikit tersenyum padanya, rasa khawatir Sumiko-sensei menghilang.
Pelajaran berjalan dengan cepat. Ketika lonceng berbunyi, anak-anak semua berebutan keluar dari kelas. Sumiko-sensei yang masih berdiam di kelas, mengeluarkan tumpukan esai dan mulai membacanya. Ketika sampai pada esai Ai, dia sedikit tersenyum membayangkan bagaimana bisa gadis cilik seusia Ai bisa mengetahui banyak pengetahuan tentang barang-barang bermerk? Matanya membesar ketika sampai pada esai Conan yang jauh lebih pendek.
Conan Edogawa. 18 tahun. Detektif professional. Terpaksa bekerja keras setiap hari menerima klien supaya bisa membayar tagihan tas Fusae, dompet Hermes, kacamata Dolce Gabbana dan handphone Prada.
Sumiko-sensei tertawa. Dia tak tau apakah Conan dan Ai saling berjanji untuk menulis esai yang luar biasanya miripnya tapi dia akan menyimpan esai itu untuk diperlihatkan pada mereka kelak. Siapa tau suatu saat nanti mereka akan berakhir bersama? Dan tentu saja ini akan tetap menjadi rahasia karena dia tak berniat untuk membocorkannya kepada siapapun.
Dia tertawa lagi.
.
.
.
Fin
A/N : Yay! Conan dan Ai. Fic ini terinspirasi dari fic Gakuen Alice yang gue baca tentang guru yang menyuruh murid untuk menulis esai. Jadi gw memikirkan bagaimana kalau Conan dan Ai disuruh untuk menulis esai. Pasti lucu dan kocak.
Oh ya, kalau ada yang ingin membaca lanjutan Angel of Darkness, lanjutannya sudah ada tapi di bagian M-rated.
thanks udah meluangkan waktu untuk membaca. See yaa ^_^
PS : Particle of God adalah partikel sub atom yang merupakan komponen penting dalam pembentuk jagad raya ini. Semua fisikawan dan ilmuwan terobsesi menemukan particle of God atau Higgs Boson jadi gw yakin Ai juga pasti mempunyai obsesi yang sama.
CERN : The European Organization for Nuclear Research.
