Broken Promises
.
.
.
Disclaimer : Aoyama Gosho dan Toaru Ryuu No Koi No Uta - とある竜の恋の歌 { Itou Kanako }
.
Draco in fabula
In dracone hora In dracone spes
In dracone error In dracone veritas
In dracone somnium In dracone fatum
In dracone causa In dracone amor
.
...
Kau bangun dengan mata setengah mengantuk. Tanganmu menggapai-gapai dan ujung sarafmu hanya merasa dinginnya seprei bergaris-garis biru putih. Jemarimu mencengkeram tanpa sadar tapi kemudian kau melepaskan remasan kain sekejap karena kau ingat kau punya janji untuk pekerjaan hari ini.
Alis matamu berkerut ketika melihat jarum jam sudah menunjuk ke arah delapan pagi. Lagi-lagi dia tidak membangunkanmu. Sudah delapan hari berturut-turut. Kau merutuk kesal karena kau ingat kau telah memberitahunya semalam sebelum kalian tidur—untuk membangunkanmu dengan ciuman seperti biasanya.
Kau menghabiskan setengah jam terakhir dengan mandi dan berusaha untuk menyiapkan sarapan. Kau tau kau tak pernah mahir dalam memasak, tapi kau meneruskan—menuangkan cecehan telur ke dalam wajan dan menggorengnya dengan margarine sejenak sebelum menghitam. Tanganmu yang satu lagi sibuk memperbesar tekanan dalam toaster untuk memanggang roti. Kau sudah mulai terbiasa walau kau lebih suka dia yang memasak untukmu, karena kau kecanduan nasi karinya, yang kau puja, walau dia bersikeras kalau dia memperoleh resepnya dari pria berkacamata yang dulu pernah tinggal di rumahmu. Kau bilang, dia sudah berjanji, akan selalu memasak untukmu, tapi sepertinya dia lupa, seperti yang terjadi dalam delapan hari ini.
Setelah sarapan yang kau habiskan dengan terpaksa karena hitamnya dadar telur dan gosongnya ujung-ujung rotimu membuat perutmu sedikit mual. Kau menggerutu dalam hati dan langkahmu hampir setengah berlari menuju mobilmu sebelum menyetirnya dengan kencang ke arah kantor detektifmu.
.
In dracone hora
-time-
In dracone spes
-hope-
.
Ciuman. Dia juga melupakan ciuman selamat bekerjamu yang selalu kau nantikan setiap pagi. Kau bercanda kalau kau sebenarnya lebih suka menghabiskan sepanjang hari memeluknya, merasakan kulitnya daripada melihat mayat dan darah yang bergelimpangan tanpa henti. Kau ingat tatapan matanya dan senyum tipisnya, tangannya yang membelai punggungmu dan bisikanmu, yang membuat senyumannya semakin melebar dengan rona merah.
Merah. Kau tak pernah terlalu suka warna merah. Karena mengingatkanmu dengan darah. Darah yang berceceran, lokasi kejadian yang porak poranda, selongsong peluru kosong dimana-mana, sisa emosi kejahatan berbaur motif tak terduga yang kadang sepele, yang mampu mencabut nyawa orang dengan sia-sia seakan itu tak berarti.
Merah. Tapi dia sangat menyukai warna merah. Kau ingat pernikahan kalian, dia memilih warna merah untuk gaunnya. Ketika kau bertanya kenapa dia tak menggunakan warna putih, dia bilang, kalau warna salju tak cocok untuk diasosiasikan dengannya. Dia menggumam kalau warna abu-abu adalah referensi dirinya, bukan spektrum warna hitam kelam tapi tak mampu menjadi putih cemerlang karena masa lalunya tak mampu diingkarinya, ke dalam perjalanan yang berpusar pada kebohongan, pengkhianatan dan yang terpenting itu jatuhnya dia ke dalam neraka. Kau mendengus. Kalau dia benar telah jatuh begitu dalam, kau akan menemaninya disana, membusuk bersama-sama karena kau dan dia adalah satu. Selamanya satu.
Kau ingat matanya yang berkilauan ketika kata demi kata yang keluar dari mulutmu seperti sumpah yang kau pegang teguh, kau tak yakin apa dia menangis setelahnya karena dia kemudian mengubur wajahnya ke dadamu dan tanganmu dengan gemetar membelai helai demi helai rambut pirang strawberrynya.
.
In dracone error
-uncertainty-
In dracone veritas
-truth-
.
Setibamu di kantor, sekretarismu menatapmu dengan tatapan aneh. Kau mengerutkan alismu dan melemparkan pertanyaan padanya, yang dijawabnya dengan tergagap-gagap. Sekretarismu bilang, dia tak menyangka kau masuk kerja hari ini. Kau hanya menatapnya heran dan malas menjawab pertanyaannya ketika dia melihat ada garis samar dibawah matamu, atau kurusnya tubuhmu seperti kehilangan cairan dan berat tubuh secara drastis.
Ketika Heiji Hattori melihatmu—mulutnya sedikit terbuka dan matanya membesar. Dia berseru namamu dan mendekatimu dengan langkah panjang. Dia bahkan menepuk bahumu dan menanyakan kabarmu. Kau merasa aneh. Kau bersikeras kalau kau baik-baik saja. Dia orang kedua yang kau temui hari ini dan bertingkah laku di luar kebiasaan seingatmu. Justru kau merasa kau sangat berenergi dan hidup. Seperti tiba-tiba mendapat suntikan tenaga baru walau kau menyadari kalau gadis berambut pirang strawberry itu tidak ada dimana-mana. Padahal kau mengharapkan menemukannya di kantormu. Kau menelan ludah dengan perasaan kecewa, tanganmu menggantung lemah.
Heiji mendesakmu supaya kau duduk karena kau seperti manusia limbung kehilangan cahaya dan arah yang melingkupimu selama ini. Dia bertanya kenapa kau tiba-tiba datang ke kantormu hari ini. Kau tertawa, yang terdengar aneh di telingamu, kau meragukan partnermu, Heiji, bisa mengurus kantor detektifmu yang sangat sibuk belakangan ini sendirian. Dia menghela nafas, matanya yang bulat seakan ingin mengatakan sesuatu tapi tak mampu. Kau bertanya dia tentang gadis berambut strawberry pirang yang dijawabnya dengan tergagap-gagap. Kau tak mendesaknya lebih lanjut karena kau tak mau dia memandangmu dengan perasaan khawatir padahal kau yakin kau baik-baik saja dan tidak ada yang patut dicemaskan tentang dirimu.
Dia kemudian bersikeras mengantarmu pulang ke rumah sebelum menelepon seseorang. Kau menolak, siapa yang hendak pulang padahal kau baru saja datang. Dia hanya tersenyum tipis dan tak lama kemudian seorang pria berkacamata yang kau kenal sebagai Profesor Agasa datang. Wajahnya tampak jauh lebih pucat dari yang kau ingat. Dia bahkan jauh lebih tua seperti kehilangan sesuatu yang membuatnya seperti mayat hidup. Gerak-geriknya lambat dan dia menggandengmu dengan tangannya yang gemetar. Dia menggumam minta maaf karena membiarkan dirimu pergi dari rumahmu tanpa sepengetahuannya sebelum menyuntikkan sesuatu yang membuat pandangan matamu kabur.
.
In dracone somnium
-dreams-
In dracone fatum
-fate-
.
Gelap. Kegelapan mengkonsumsimu dengan cepat.
Tanganmu mencari-cari, hendak menjangkau—meraih tapi hanya kabut abu-abu yang memutar. Kau bingung. Kau ingin berteriak. Ingin memanggil namanya. Nama dia yang selalu kau pikirkan—yang kau ukir dengan darah di dalam hatimu. Namanya berputar mengelilingi ingatanmu, senyumannya memompa darah dari jantungmu dengan cepat—aroma tubuhnya merasuki tubuhmu seperti dentangan jam bertalu-talu, menghantuimu dengan dengungan yang memenuhi pikiranmu sebelum meledak berkeping-keping.
Kenapa namanya tak sanggup kau ucapkan dalam bibir gemetarmu? Karena dia datang sebelum kau sempat memanggilnya. Dia berlari ke dalam pelukanmu, kedua tangannya memeluk punggungmu, dan menekan tubuhnya yang lembut ke tubuhmu. Tubuhmu bereaksi seperti biasa. Aliran darah bergerak lebih cepat, jantungmu berdetak kencang, tanganmu gemetar ketika melihat matanya. Kaupikir, dia juga mengenali suaramu yang penuh nafsu ketika berbisik di telinganya. Kau menginginkannya, seluruh tubuhmu menggeliat, merindukannya, mengerang ingin segera terpenuhi karena kau tau kalau cuma dia yang sanggup membuatmu gila, gila dan gila. Nyaris tak berhenti, dia membiarkan tanganmu bergerak liar di tubuh femininnya, kau menciumnya dengan rakus tanpa jeda, tubuhmu bergerak tanpa sadar, karena saat itu hanya dia yang ada dipikiranmu. Tidak ada logika, akal sehat, rasionalitas yang selama ini kau banggakan,karena kau hanya bisa menggunakan hati dan naluri ketika menghadapi dia.
Ketika semuanya usai, tubuh kalian penuh keringat, ada air mata yang menetes di pipinya dan jatuh pada dadamu yang telanjang. Kau ingin membelai pipinya, membisikkan kata-kata cinta seperti biasa, tetapi dia tiba-tiba menghilang. Kau membeku. Tak bergerak. Tanganmu yang masih setengah terulur, menggantung dan mendadak mendingin tanpa sebab.
Kau berteriak. Suaramu lolos begitu saja. Menggaung, menggema, kau berteriak hingga suaramu hilang.
Suaramu hilang hingga cuma bisa berbisik tapi kau tetap melafalkan namamu dengan sisa-sisa suaramu yang tersisa. Mencoba memanggilnya yang berani-beraninya menghilang dari hadapanmu padahal kau tau—kau tau kalau dia sudah berjanji seumur hidup di sisimu dan tak akan pergi begitu saja meninggalkanmu ditelan kesunyian dan kegelapan. Kau tak mau kalau dia tidak menggenapi janjinya, kau ingin memaksanya, mencengkeramnya supaya tetap berada disisimu walau sepertinya janjinya telah dia langgar dengan sengaja. Kau ingin menghukumnya, ingin membuatnya sengsara karena melupakan janjinya. Kau ingin menyiksanya karena dia telah membuatmu sama tersiksanya.
Matamu terbuka tiba-tiba. Kau menemukan dirimu berada dalam kamar putih-putih. Bau antiseptic dan obat mengisap alat pernafasanmu. Ayah dan ibumu berada disisimu, Ran Mouri dan suaminya berada disisi lain, Heiji Hattori dan Kazuya Toyama menatapmu cemas, sementara itu Profesor Agasa menutup matanya sejenak, untuk menghalangi sebutir air mata yang tampak lolos dan bergulir di pipi pucatnya.
Kau heran dan bertanya ada apa kepada mereka. Tetapi tak ada satupun yang menjawab. Kau berteriak. Namanya. Berulang kali. Berulang-ulang kali. Nafasmu memburu, tanganmu meronta liar, kakimu menyepak-nyepak tanpa arah.
Kemudian…
Tak jelas siapa yang bersuara,
"Shinichi… Shiho sudah meninggal delapan hari lalu."
….
….
….
….
Tidak mungkin…
Karena kau masih merasakan kulitnya, bibirnya, tangannya, ciumannya, kecupannya—tubuhmu bahkan masih terasa hangat karena pertemuan kalian barusan.
Kau tak percaya.
Kau menggeleng kepalamu, kau menjerit kalau mereka menipumu, mereka berusaha membiarkan Shiho melupakan janjinya padamu,
mereka menyembunyikan cintamu darimu,
mereka membohongimu untuk memisahkan kau darinya.
Kau berteriak lagi. Suaramu terdengar serak menggaung.
Tiba-tiba kau merasakan kegelapan yang nyaman menyelimutimu.
Kau pikir, mungkin hanya dalam kegelapan, kau bisa bertemu dengan dia. Dan kau menyunggingkan senyumanmu yang terbaik, yang kau siapkan, untuk bertemu dengan dia lagi.
…dan dia benar-benar muncul. Masih secantik seperti yang kaubayangkan. Dia tampak nyata dan sama sekali bukan fatamorgana belaka.
Kau panggil namanya dan merengkuhnya.
Erat.
Karena kau mengerti, dia dan kau, adalah satu.
Untuk selamanya.
…dan kau tau, dia tak pernah melupakan janjinya.
.
In dracone causa
-reason-
In dracone amor
-love-
-we will love and live forever-
.
.
.
Fin.
A/N :
Lirik diambil dari lagu Toaru Ryuu No Koi No Uta
Draco in fabula
In dracone hora In dracone spes
In dracone error In dracone veritas
In dracone somnium In dracone fatum
In dracone causa In dracone amor
The dragon of legend
In dragons, time; in dragons, hope
In dragons, uncertainty; in dragons, truth
In dragons, dreams; in dragons, fate
In dragons, reason; in dragons, love
As a love song rings out across a silent land
Gears spin out of control, and an ineluctable fate springs into motion
Now, it revives! From the ancient past
Awakens a desolate love
Seeking a connection, flames jet forth
Exalted one, you are cursed to repeat destruction and rebirth
Draco in fabula
In dracone hora In dracone spes
In dracone error In dracone veritas
In dracone somnium In dracone fatum
In dracone causa In dracone amor
Hers was a pure soul, noble and unsullied by falsehood
How foolish of her to embrace sin and seek out an immature love
Now the moonlight illuminates the two
As they spend a fleeting moment together
You took that connection into your arms
Noble one, your memory holds the beginning and the end
...
Thanks for reading ^_^
