Kiss

.

.

.

Disclaimer : Aoyama Gosho


i.

.

"Kau tau kalau aku benci pengkhianat, Sherry? Tidak ada orang yang bisa hidup normal setelah mengkhianatiku."

Sherry mengangkat wajahnya dan mengamati mata kehijauan Gin yang berkilauan. Pria itu meringis ketika menyadari tatapan gadis itu.

"Ini juga berlaku untukmu, Sherry. Kau suka bermain dengan api dan tak akan kubiarkan apa yang kuinginkan—tidak bisa kumiliki—kau mengerti bukan?" desis Gin. Amarahnya kembali berkobar ketika dia mengingat tatapan Rye pada gadisnya tadi. Dia datang menjemput Sherry dari labnya dan menemukan gadis itu sedang asyik berbicara dengan Rye

"Aku tau." Jawab Sherry dengan dingin. Gin mengulurkan tangannya dan membelai pipi gadis itu dengan perlahan. Sungguh mengherankan, pria psikopat seperti Gin, bisa menyentuh seseorang dengan lembut.

"Aku cuma tidak ingin peluru menembus kulitmu yang indah ini—sangat disayangkan—bukan begitu, Sherry?" bisik Gin lebih dekat lagi. Hidungnya mencium aroma parfum mahal favorit gadis itu.

Sherry hanya bergeming sedikit ketika pria itu menciumnya perlahan, masih ada sisa tembakau yang pahit di bibirnya. Dia tau kalau Gin selalu berusaha tidak merokok ketika bersamanya karena Sherry benci asap rokok.

Jadi ini rasanya ciuman pertama?

Pahit.

"Kau sangat dingin, Sherry. Beda sekali dengan Vermouth." Komentar Gin ketika menjauhkan wajahnya kembali. Dia mengamati raut wajah Sherry dengan senyum lebar.

"Vermouth?"

"Dia marah besar ketika tau aku menemuimu. Well, tak usah pedulikan dia. Kita berangkat sekarang."

Sherry mengangguk dan mengikuti Gin menuju ke parkiran mobil. Porsche 365 A tampak berkilauan dan menyolok di jalan yang berdebu. Mereka kemudian masuk ke dalam mobil tanpa berbicara dan mobil itu melaju kencang meninggalkan kepulan asap di tengah jalan yang sepi.

ii.

.

"Goal!" Jerit Mitsuhiko sambil mengacungkan tangannya menirukan gerakan yes.

Ayumi dan Genta bersorak dengan ramai. Conan dengan muka sebal mengikuti dari belakang.

"Oh my—my , detektif arogan kita akhirnya kalah."

Conan menoleh dan mengeryitkan alisnya ke arah suara," Oi, Haibara. Kau sama sekali tidak membantu."

"Kau lupa kalau aku tidak bisa bermain sepak bola?" tanya Haibara dengan wajah polos.

"Kau tak bisa atau tak ingin—"

Ucapan Conan terhenti karena seruan Ayumi, " Lihat, Taii datang lagi."

Taii adalah kucing liar yang kemudian diadopsi oleh pelayan Poirot. Dia akhir-akhir ini sering berkeliaran dan selalu mendekati Detective Boys. Haibara tersenyum kecil ketika melihatnya dan Taii melompat ke arahnya dengan elegan.

"Wah,wah.." desis Haibara dengan geli ketika Taii menjilat muka dan bibirnya dengan lidahnya yang kasar. Conan yang berdiri disampingnya menatapnya sambil tersenyum, menikmati senyum langka Haibara.

"Ada apa dengan wajah bodohmu itu, Kudo-kun?" tanya Haibara.

Conan mendesis ketika tertangkap basah sedang menatap wajah gadis itu, dia segera berpura-pura mencoba menangkap Taii yang sedang dipegang oleh Haibara. Taii melompat ke arahnya kemudian menjilat muka Conan dengan satu jilatan panjang sebelum mencakar pipi detektif itu. Conan berteriak kesakitan dan Taii mengambil kesempatan untuk melompat ke pelukan Haibara lagi.

"Kau tak apa-apa, Conan?" tanya anak-anak hampir berbarengan dan berlari mendekat. Untungnya luka cakaran di pipi Conan tidak begitu dalam, cuma goresan merah saja.

"Kucing sialan," sembur Conan. Haibara menatapnya khawatir tapi ketika melihat kalau lukanya tidak berbahaya, dia tersenyum kecil.

"Ada apa dengan senyummu, Haibara? Kau senang aku diserang kucing itu?" tanya Conan kesal sambil menyeka wajahnya.

Haibara mendekatinya sambil tetap membelai Taii. Kemudian dia berbisik pelan di telinga Conan supaya tak terdengar anak-anak lainnya.

"Tidak. Aku cuma heran. Jika kau ingin menciumku secara langsung, kau bisa tanya padaku dengan jelas, dan kau tak perlu menggunakan Taii sebagai alasan."

Mulut Conan menganga lebar, kemudian wajahnya memerah pertanda mengerti, setelah itu dia mencak-mencak.

"HAIBARA!"

iii.

.

Segalanya telah usai. Black Organization telah dikalahkan. Anokata menyerahkan diri. Ternyata merupakan orang yang tak disangka-sangka sama sekali. Paman Sonoko Suzuki, Jirokichi Suzuki. Gin bunuh diri, Vodka mati tertembak, Vermouth, dan sisa anggota BO lainnya berhasil ditangkap anggota gabungan FBI, CIA, Interpol, dan MPD Japan. Ini adalah akhir dari perburuan berbulan-bulan. Begitu banyak yang telah dikorbankan oleh kedua belah pihak.

Shiho berdiri dalam diam di balik bayangan pilar-pilar gedung. Wajahnya tak berekspresi ketika melihat adegan di depannya. Shinichi sedang memeluk Ran dan gadis itu menangis di dadanya. Wajah Shinichi yang masih penuh kotoran dan darah tampak khawatir melihat Ran menangis tanpa henti, tangannya membelai punggung gadis itu lambat-lambat. Detektif itu terlihat membisikkan sesuatu padanya.

Shiho melangkahkan kakinya meninggalkan mereka ketika menyadari kalau mereka akhirnya berciuman. Tidak, dia bukan gadis pengecut tapi ada sesuatu di hatinya yang remuk hingga berkeping-keping—yang membuat dirinya ingin segera pergi—secepat kakinya membawanya. Pergi—pergi sejauh mungkin.

Gadis itu berjalan dalam diam keluar dari gedung bekas rumah sakit yang merupakan target operasi BO. Ketika dia merasa pipinya terasa basah, Shiho menengadah ke atas langit.

Hujankah?

Butir-butir hujan kemudian turun semakin lebat dan membasahi bumi—membasahi tubuhnya—dan hatinya.

iv.

.

Angin berhembus kencang. Awan gelap menggantung di udara. Petir mulai menyambar pertanda hujan lebat akan segera turun menerpa bumi. Bau udara terasa lembab dan sesak.

Shiho berdiri dengan kaku. Tangannya telah membeku—tapi dia tetap menggenggam payung hitam itu dengan sekuat tenaganya. Matanya melembut ketika memperhatikan pria di depannya.

TIK…TIK…TIK…

Hujan akhirnya turun tanpa bisa dicegah.

"Kenapa?"

"Hakase yang memberitahuku kalau kau berkeliaran dari pagi dan belum pulang," jawab Shiho dengan datar.

"Aku tanya kenapa kau datang ke sini?"

"Aku mengambil penerbangan pertama kesini ketika mengetahui kematian Mouri-san…"

"Kenapa kau tiba-tiba muncul setelah bertahun-tahun menghindariku?" tanya Shinichi dengan tajam. Wajahnya terlihat tirus, kurus, pucat seperti orang yang telah kehilangan semangat hidupnya.

Shiho menghela nafas. Dia sama sekali tidak mengharapkan sambutan yang hangat dari pria didepannya. Tapi setidaknya bukan ini yang diharapkannya selama ini.

"Siapa bilang aku menghindarimu?"

"Kau tidak datang pada pesta pertunanganku dengan Ran."

"Aku sudah mengirim kartu selamat padamu bukan?"

"Kenapa kau baru datang saat Ran tiada?" tanya Shinichi dengan nada tinggi. Matanya menatap gadis didepannya dengan marah. Dia sangat marah. Kematian Ran yang tiba-tiba, yang membuat dirinya menyesal karena dia belum membahagiakan tunangannya—dia ingin memuntahkan emosi dan amarahnya pada sekelilingnya. Pada dirinya sendiri. Pada Shiho. Gadis itu menghilang dari kehidupannya bertahun-tahun dan muncul kembali begitu saja tanpa merasa bersalah.

TIK… TIK… TIK…

"Maafkan aku…" bisik Shiho perlahan.

"Untuk apa kau minta maaf?" tanya Shinichi pahit.

"Un—untuk segalanya…" bisiknya lagi.

"Aku tidak perlu permintaan maafmu. Pergi! Tinggalkan aku sendirian." bentak Shinichi kasar. Dia berpaling dan mulai berjalan. Dia tak memperdulikan derasnya hujan. Sebentar saja dia sudah basah kuyup. Shiho masih berdiri mematung, tangannya yang memegang payung itu gemetar. Wajahnya memucat. Digigitnya bibirnya perlahan.

Langkah Shinichi berhenti. Tapi dia tak berpaling. Shiho memperhatikan sosoknya dari jauh. Punggungnya terlihat begitu rapuh dan menyedihkan.

TIK… TIK… TIK…

"Kudo…" suara Shiho tercekat dan hampir tertelan dalam bisingnya rinai hujan, tapi Shinichi mendengarnya. Sebelum otaknya mampu berpikir, kakinya sudah berbalik arah melawan gravitasi. Dia hampir setengah berlari mendekati Shiho dan memeluknya dengan erat. Payung di tangan gadis itu jatuh tanpa terasa.

Shinichi memeluknya dengan segala keputus-asaannya dan dia membiarkan dirinya menangis di pundak gadis itu. Segala perasaan yang campur aduk, frustasi, amarah, penyesalan, kesedihan memuncak dalam satu emosi yang tertumpah.

Tangan Shiho perlahan naik ke atas dan membelai punggung Shinichi dengan pelan. Isakannya bercampur dengan bulir-bulir hujan yang membasahi pipinya. Gadis itu gemetar ketika merasakan bibir Shinichi tak sengaja menyentuh kulit lehernya, tapi dia membiarkannya.

Mereka berpelukan dalam gemuruh hujan.

Dalam heningnya diam.

v.

.

Wangi bunga mawar putih bertebaran di udara. Karangan bunga yang datang luar biasa banyaknya. Walau Professor Agasa terkenal sebagai ilmuwan eksentrik tetapi sepertinya dia punya pergaulan yang amat luas. Banyak yang mengenangnya sebagai pria yang baik hati. Banyak orang merasa kehilangan.

Wajah Shiho tak berubah sepanjang upacara. Dia seperti mengenakan topeng yang sewaktu-waktu akan retak begitu ada pemicunya. Dia melayani ratusan tamu yang datang melayat dengan luwes selama seharian penuh. Ketika tamu terakhir pulang, Shiho bersiap-siap juga ikut pulang dari gereja.

Shiho baru menyadari tangannya gemetar ketika dia ingin mengambil buket mawar putih untuk menaruhnya di depan makam Professor. Buket itu terjatuh dari jemarinya.

Mendadak dia merasa ada yang sedang memperhatikannya, diangkat matanya dan bertemu dengan iris kebiruan Shinichi. Shiho mengangguk kecil dan membungkuk hendak meraih buket yang terjatuh di lantai. Shinichi mendekat untuk membantunya. Dia kemudian meletakkan buket itu ke tangan Shiho.

"Mari kita bersama-sama, Shiho…"

Gadis itu mengangguk pelan.

Mereka berjalan beriringan menuju pemakaman yang berada di luar gereja. Suara burung berkeciap di luar. Sinar matahari sore terasa hangat. Tapi Shiho merasa dingin. Sekujur badannya terasa mengigil. Tangannya masih tetap gemetar.

Ketika sampai di depan makam Professor, Shiho membungkuk dan meletakkan buket mawar putih itu.

Gadis itu tetap duduk bersimpuh. Menatap nisan putih dengan wajah tanpa ekspresi.

Shinichi yang memperhatikannya terus," Shiho, kau tau… kau tak perlu menahan perasaanmu…"

"Apa maksudmu?" elaknya.

"Kau tau maksudku." Shinichi menatap nisan didepannya dengan sedih," Hakase tentu sudah bahagia sekarang di surga…" Professor Agasa adalah sahabatnya terdekatnya, yang selalu membantunya tanpa pamrih dan juga merupakan ayah angkat Shiho.

"Menangislah jika kau ingin menangis…" bisik Shinichi pelan. Shiho masih tak bergerak, tapi pundaknya mulai gemetar. Pria itu menyadarinya kemudian dia ikut duduk bersimpuh di sampingnya.

"Aku sangat kehilanganmu, Hakase… Pertama Ran, sekarang kau. Kenapa orang-orang yang kusayangi begitu cepat meninggalkanku?" tanya Shinichi pahit.

Akhirnya pertahanan diri Shiho runtuh juga. Airmatanya turun tak terkendali. Gadis itu terisak tanpa suara. Shinichi menoleh menatapnya. Matanya melembut dan kemudian menarik gadis itu ke dalam pelukannya.

Shiho membiarkan dirinya larut dalam kesedihan. Dia juga tak menolak ketika Shinichi mengecup pipinya pelan.

vi.

.

"Bukankah sudah kukatakan padamu untuk menunggu disini?" tanya Shinichi frustasi.

Shiho menggeleng perlahan,"Kau butuh aku sebagai ahli forensik. Kasus ini takkan terpecahkan kalau aku tidak ikut turun secara langsung."

"Tapi kau hampir terbunuh! Peluru itu hanya berjarak 10 cm dari kepalamu!" Shinichi mengacak rambutnya dengan kesal. Matanya penuh amarah.

"Aku punya banyak cadangan nyawa sepertinya."

"SHIHO!" Ditariknya gadis itu kedalam pelukannya dengan kasar sebelum bibir mereka bertemu.

Shinichi sepertinya hendak menumpahkan segala kekekhawatirannya pada gadis itu, yang tak mampu dikatakannya dalam suara, tapi disampaikannya lewat ciuman.

"Bodoh... Aku tak sanggup hidup lagi kalau harus kehilangan kau…" bisiknya di telinga gadis itu.

vii.

.

"Shinichi Kudo, will you take Shiho Miyano to be your wife, your partner in life and your one true love? Will you cherish her friendship and love her today, tomorrow and forever? Will you trust and honor her, laugh with her and cry with her? Will you be faithful through good times and bad, in sickness and in health as long as you both shall live?"

"I will."

"Shiho Miyano, will you take Shinichi Kudo to be your husband, your partner in life and your one true love? Will you cherish his friendship and love him today, tomorrow and forever? Will you trust and honor him, laugh with him and cry with him? Will you be faithful through good times and bad, in sickness and in health as long as you both shall live?"

"I will."

.

.

.

"Cincin yang sangat bagus… kapan aku bisa segera menyusul mereka?" gumam Sonoko. Makoto yang berada disampingnya meringis gugup.

.

.

.

"Wah, teknik ciuman Kudo-kun lumayan juga. Tak seperti seseorang yang kukenal," bisik Kazuha dengan antusias.

"..."

"Kenapa?" bisiknya lagi.

"Kalau gadisnya secantik Miyano-san, kupikir semua cowok tak perlu belajar teknik untuk berciuman."

"HEIJI!"

"SSSTTTT" terdengar bisikan dari seluruh penjuru ruangan.

viii.

.

Shinichi menatap istrinya dengan mesra, jemarinya membelai bibir Shiho dengan lembut.

"Kau tau, aku belum bisa memutuskan apa yang paling kusukai dari dirimu."

"Hmm….Maksudmu?"

"Bibirmu atau rambut pirang strawberrymu atau da—Aw…"

"Apa maksudmu dengan da—dadaku?" tanya Shiho dengan wajah polosnya. Padahal dia baru mencubit pipi Shinichi.

Shinichi menggosok pipinya. Walau cubitan istrinya cuma pelan saja tapi efeknya sangat menyenangkan. Dia ingin merasakan sentuhan itu lagi. Ditangkapnya tangan Shiho dan memerangkapnya dibawah tubuhnya.

"Hari ini aku memilih bibirmu. Mungkin besok bisa berubah. Yah—tergantung moodku," ujarnya sambil menyeringai.

Shiho mengigit bibirnya dengan merona merah. Tatapan mata Shinichi dan suara beratnya mampu membuat sekujur tubuhnya meleleh. Dan dia pasrah ketika wajah suaminya mulai mendekat.

ix.

.

"Hikaru Kudo."

"Wah, tak kusangka kau bisa memberi nama yang bagus untuk putra kita."

Shinichi mengacuhkan kata istrinya, kemudian dia mengangkat bayi yang sedang tidur terbaring. Ditangkupnya dengan hati-hati pada lengannya. Wajahnya melembut.

"Dia mirip denganku tapi bola matanya pasti didapatnya darimu."

"Asal jangan Murder Magnet saja yang kau wariskan padanya."

Shinichi menatap istrinya yang sedang terbaring di tempat tidur rumah sakit dengan sebal.

"Shinichi, coba kau bayangkan ada dua Murder Magnet di rumah kita," seru Shiho dengan wajah polosnya.

Detektif itu berpikir sebentar," Benar juga." Diciumnya pipi putranya. Hikaru tergelak karena ciuman tiba-tiba itu. Tawanya lumayan terkontrol untuk bayi seusianya.

"Wah, tawanya mirip dengan tawa sarkastikmu. Coba kau bayangkan ada dua orang sarkastik di rumah kita."

Shiho berpikir sebentar lalu,

"Hm... Benar juga."

x.

.

"Kau sudah mengerjakan penelitian musim panasmu?" tanya Hikaru pada adiknya. Hikari mengangguk dengan antusias," Tentu saja."

"Coba kulihat." Hikari menyerahkan diari jurnalnya dan Hikaru membacanya dengan cepat.

"Sudah kuduga, pasti okaasan membantumu."

Hikari mencibir dengan kekhasan anak usia 5 tahun. Dia mencoba untuk mengambil kembali jurnal yang berada di tangan abangnya tapi gagal.

"Darimana kau tau okaasan membantuku?"

Hikaru tertawa," Gampang saja, aku menemukan spons yang berisi jamur di kamar okaasan."

"Spons-ku gagal. Tak ada jamur yang tumbuh." Hikari menunduk dengan wajah menyesal.

"Tak apa, kupikir Sensei tak tau bedanya."

"Betulkah?" tanya Hikari dengan wajah cerah.

"Tentu saja. Oh ya,kau melihat Otousan dan Okaasan?"

"Terakhir aku melihat Okaasan sedang memasak di dapur."

"Ayo kita kesana."

Ketika dia sampai di dapur, mata Hikaru membesar, dia segera berbalik dan menyeret adiknya untuk pergi dari sana.

"Ada apa? Oniisan?"

"Sstt.. Okaasan sedang sibuk. Ayo kita main di kamar saja."

"Oh, baiklah kalau begitu."

Hikaru mencibir dalam hati. Dia tau kalau orang tua mereka sangat mesra dan saling mencintai satu sama lainnya, tapi paling gak, jangan berciuman kalau sedang memasak.

Bagaimana kalau kompor gasnya tiba-tiba meledak?

Atau masakannya hangus?

Sungguh melelahkan kalau punya orang tua seperti mereka. Yang selalu mencuri waktu untuk berciuman begitu ada kesempatan.

Yah salahkan saja pekerjaan ibunya sebagai peneliti CERN yang selalu sibuk dan ayahnya detektif swasta terkenal, yang kadang berhari-hari tak pulang ke rumah.

Anak 7 tahun itu mendesah.

.

.

.

Fin.


A/N : Setiap fragmen punya benang merah yang sama. Ciuman tak langsung, ciuman pertama, ciuman kemarahan, kesedihan dll.

Otousan = ayah, okaasan = ibu, oniisan = abang

CERN = The European Organization for Nuclear Research

Hikaru = to shine [bersinar] ; Hikari = light [cahaya]

Sebenarnya gw juga memikirkan nama Conan dan Ai untuk nama anak-anak mereka, tetapi karena terlalu banyak author lain yang menggunakannya, jadi gw milih nama Hikaru dan Hikari Kudo.

Ayo, setelah siap membaca, isi kotak reviews. Masa fandom DC sepi-sepi aja, kalah dong sama fandom tetangga :P

Thanks for reading ^_^