Love is…

.

.

.

Disclaimer : Aoyama Gosho


/…Ephemeral…/

[ lasting a very short time]

.

.

Gin membuang rokok yang setengah dihisapnya ke lantai dan menginjaknya hingga rata. Handphone-nya bergetar. Diangkatnya setelah dua deringan.

"Misi sukses. Sesuai perjanjian."

Suara wanita yang terdengar. Kemudian terputus dan diakhiri dengan dengungan panjang. Gin mematikan handphone-nya. Matanya menyipit, kemudian dia tergelak.

"Ada yang lucu?"

Gin menoleh, Sherry menatapnya dengan menyelidik. Rambut pendeknya berayun seiring langkahnya. Kemudian dia berhenti di depan Gin. Wajahnya datar tanpa ekspresi.

"Kau tau kalau di dunia luar tidak ada tempat untuk orang-orang seperti kita?" tanya Gin tiba-tiba.

"Apa maksudmu?" Sherry mengangkat alisnya heran.

Gin menyembunyikan senyum getirnya. Matanya menangkap sosok gadis di depannya.

Andai kau tau kalau kakakmu yang bodoh itu ingin mengeluarkanmu dari Black Organization. Dia tidak tau kalau kontrak BO adalah kontrak seumur hidup. Hidup atau mati.

Gin mengulurkan tangannya, membelai pipi pucat Sherry dengan jemarinya.

Kau tak mengerti, Sherry…

Bibirnya menipis dan rahangnya mengencang.

Pengkhianat…

Gin ingin menuliskan namanya di kulit Sherry dengan tinta permanen, menanamkan namanya lebih dalam, menembus pertahanan kulit, menoreh ke dalam darahnya hingga menyentuh jiwanya.

Sehingga hidup atau mati, Gin akan terus bersamanya.

Karena dia tau kalau misi satu miliar yen itu telah menyulut sumbu pemberontakan, dia tau kalau Sherry akan meninggalkannya begitu diberi pilihan, kakaknya atau dia dan Gin benci pengkhianat.

Hanya ada satu jalan untuk pengkhianat. Tak terkecuali Sherry, his little sweet Sherry.

Hidup…

atau

mati

.

.


/…Eternal…/

[forever]

.

.

Shiho mengeryit kesakitan. Erangannya perlahan terdengar menggaung di telinganya. Suhu udara mendadak turun dan mendingin. Tangannya bergerak hendak menjangkau tapi hanya pasir dan tanah yang terasa.

Tubuhnya terlentang di permukaan tanah keras. Ada sesuatu yang basah di sisi kiri bahunya.

Darah.

Tetesan darah mulai menyebar dan membasahi bajunya.

Peluru.

Peluru Gin yang menembus bahunya, Shiho masih ingat mata hijau Gin yang berkilauan ketika menembaknya. Mata yang biasanya dingin itu seperti menggelap ketika memandangnya.

"Aku ingin melihatmu mati dengan perlahan… my little sweet Sherry…" geram Gin.

Shiho tak menjawab tapi pandangan matanya mulai berkabut. Dia hanya samar-samar mendengar suara desingan peluru lagi dan teriakan kabur beberapa orang.

"Berhasil. Team 43 menangkap satu suspect dan satu korban. Ambulans dalam perjalanan."

Hanya itu yang berhasil di dengar Shiho sebelum badannya menjadi kaku.

Tapi samar-samar terdengar teriakan lagi.

"HAIBARA! HAIBARA!" Ada sesuatu menyentuh badannya, terasa hangat.

"JANGAN! Kau belum boleh mati, Haibara! Kau dengar itu?! KAU TIDAK BOLEH MATI DULUAN!"

Suara pria. Terasa familiar di telinga Shiho.

"HAIBARA! Jangan tinggalkan aku! PLEASE, PLEASE ...HAIBARA! Tetaplah bernafas!" Suara pria itu serak dan parau. Tapi terasa begitu jauh. Shiho mencoba membuka matanya untuk melihat sosok pria itu. Nafasnya pendek-pendek sekarang. Paru-parunya kesulitan memompa oksigen. Cuma bayangan hitam putih yang terlihat di pantulan matanya.

"PLEASE… HAIBARA… Please… " sekarang suaranya terpecah dan pria itu tak sanggup melanjutkan kata-katanya lagi.

Shiho mengangkat tangannya perlahan dan menemukan jemari pria itu yang sedang menopang badannya.

"Kudo?" tanyanya lemah.

Shinichi Kudo yang dia kenal tak pernah menangis—apapun yang terjadi, jadi kenapa pria ini menangis di sampingnya?

"P-Please… Jangan berani tinggalkan aku, Haibara… please…aku ingin kau tetap bernafas…" pria itu tersedak dan satu-satunya hal yang diingat Shiho sebelum kegelapan mengkonsumsinya adalah tetesan air di punggung tangannya.

.

.


/ …Paradox.../

[ In common usage, the word "paradox" often refers to statements that are ironic or unexpected ]

.

Ketika Heiji bertanya padanya di sela-sela kasus pembunuhan yang sedang diusut," Apa kau mencintai Miyano-san?"

Shinichi termangu sejenak dan tak mampu menjawab.

Cinta?

Perasaannya pada Shiho bukan cinta.

Baginya Shiho tidak bisa didefinisikan hanya dalam satu kata. Dia tak merasakan cinta—dia merasakan sesuatu yang tidak bisa dideskripsikan—yang menghancurkan dan juga bisa menguatkan ; sesuatu yang melukai dan lalu menyembuhkan ; sesuatu yang membuat rasionalitas dan akal sehatnya tak berguna.

Begitu berbeda dengan perasaannya pada Ran dulu.

Apakah itu cinta? Karena ini lebih dalam dan kompleks yang bisa diwujudkan dalam kumpulan huruf singkat dan pendek.

Jadi ketika Heiji mengulangi pertanyaannya, Shinichi menggeleng.

Baginya, cinta itu tidak sesimple itu.

Cinta adalah paradox.

Shiho Miyano adalah paradox-nya.

.

.


/…Peripheral…/

[Peripheral cycles have also been called non-separating cycles]

.

Mata mereka bertemu.

Dengan latar belakang suara sirene ambulans yang bergaung bertalu-talu, dengungan percakapan manusia , dan kicauan burung-burung riang menyambut senja. Sisa-sisa cahaya masih membiaskan merahnya langit.

"Menikahlah denganku."

Shinichi mengulangi ucapannya. Tak ada sedikitpun keraguan yang tertera di nada bicaranya.

Tanpa bunga, cincin, atau pernyataan cinta.

Di tengah-tengah keramaian setelah mereka menyelesaikan kasus pembunuhan yang rumit. Setelah mereka melemparkan ejekan dan saling menggoda. Setelah mereka bersama-sama tersenyum kecil ketika pembunuhnya telah tertangkap. Setelah mata mereka saling menemukan satu sama lainnya setelah banyak lirikan yang tak berujung.

Shiho tak menjawab, matanya berkilat-kilat. Angin menghembuskan helai rambut pendeknya. Menari-nari.

"Aku serius, Shiho..." Shinichi menyunggingkan senyumnya, matanya tak melepaskan sosok gadis yang berdiri mematung di depannya.

Shiho tak membalas senyumnya. Dia malah menunduk, poni rambutnya menutup sebagian wajahnya. Shinichi maju perlahan mendekatinya. Diangkatnya dagu gadis itu perlahan, ada sebutir air mata lolos dan jatuh bergulir di pipinya yang pucat.

Diusapnya setiap bulir yang jatuh dengan jemarinya.

Waktu terhenti sejenak saat mata mereka saling memandang. Segalanya bergerak begitu pelan dan lembut, sentuhan angin di rambutnya, belaian cahaya matahari senja di kulitnya dan dunia sekeliling terasa mengabur.

Hanya mereka.

Senyuman Shinichi telah lama menghilang, iris biru pria itu yang biasanya cemerlang—menggelap dan berkabut. Bibir pria itu bergerak-gerak tanpa sadar. Matanya mencari-cari penolakan pada wajah gadisnya.

Dan dia tau jawabannya ketika Shiho mendekatkan dirinya ke dalam pelukannya.

.

.


/…Anomaly…/

[Deviation or departure from the normal or common order, form, or rule]

.

"Shiho?"

Shinichi memasuki kamarnya yang gelap. Cahaya bulan menyinari sebagian sosok istrinya yang sedang tertidur dengan lelapnya. Rambut pirang strawberrynya berkilauan keperakan.

Detektif itu meletakkan tas kecilnya dan melonggarkan dasinya. Kemudian dia mengambil tempat duduk di samping Shiho.

Tubuhnya lelah. Setelah kerja marathon 3 hari untuk mengungkap pembunuhan berantai, dia merasa fisiknya kecapaian dan terasa berat. Pandangan matanya jatuh pada Shiho yang masih tetap tidur dengan nyenyaknya. Dadanya naik turun dalam senyap.

Shinichi rela terus membuka matanya agar bisa melihat Shiho bernafas dalam tidurnya yang tenang. Kelelahan yang selalu dia sembunyikan perlahan terhapus saat Shinichi mengulurkan tangannya untuk membelai pipi istrinya.

Dia teringat ketika Shiho tertembak, lalu BO berhasil dikalahkan kemudian kematian Ran dan Hakase…

Dia tak pernah membayangkan mereka akan bersama-sama, menjadi penopang satu sama lainnya dan membentuk keluarga kecil. Shiho Miyano atau Ai Haibara adalah anomali yang terjadi dalam hidupnya. Hidupnya yang dia pikir—biasa-biasa saja dan normal seperti orang lainnya—tanpa melibatkan organisasi berbahaya, APTX 4869, dan antidote-nya. Impian masa kecilnya—menikahi sahabat masa kecilnya—menjadi detektif dan menua bersamanya. Ternyata takdir berkata lain dan berbelok ke arah sebaliknya.

Shinichi tak percaya nasib atau takdir ; dia cuma percaya kalau setiap aksi pasti ada reaksinya. Seperti kepakan kecil kupu-kupu di suatu tempat bisa menyebabkan awan badai di tempat lain beribu kilometer jauhnya. Seperti semua kejadian saling berhubungan dan akan berkerja sama untuk membentuk arah formasi baru.

Kedatangan Shiho Miyano adalah pemicu anomali yang membuat segala roda kehidupannya bergerak ke arah berbeda.

Dan dia sama sekali tidak menyesal.

…atau malah seharusnya bersyukur?

Shinichi mendekat dan mengecup dahi istrinya perlahan. Shiho bergerak sedikit, matanya mengerjap dan bibirnya tersenyum ketika mengenali sosok didekatnya.

"Kemarilah…" bisiknya.

Shinichi mematuhi bisikannya dan mengambil tempat di ranjang—di samping istrinya—untuk memeluknya. Tubuh istrinya terasa hangat dan menenangkan. Segala kepenatannya hilang begitu tangan Shiho membelai dadanya pelan.

"Anak-anak merindukan papanya…" bisik Shiho.

"Aku tau... Aku juga sangat merindukan mereka dan kau…" gumam Shinichi sambil memejamkan matanya dan merangkul pinggang istrinya dengan posesif. Shiho tersenyum kecil," Tidurlah…"

Shinichi tak menjawab, cuma dengkurannya yang terdengar.

.

.


/…./

[…]

.

"Shiho Kudo…"

"Hmm…?"

"…."

"Apa yang ingin kau katakan padaku, Shinichi Kudo?"

(hening panjang)

"Shinichi…?"

"Aku… K—kau…"

"Aku tau."

"Oh ya?"

"Lalu?"

"Aku tau kalau kau tau."

(kemudian hening lagi)

[tampak sosok dua orang separuh baya saling bersisian ; tangan mereka saling menggenggam ]

.

.

fin.


A/N : Thanks untuk semua orang yang telah mengreview di fic sebelum ini. Reina, Guest, Yeon, guest, Guest, Shiho Kudo, Miku, Arisa oiy1, guest, guest, LI, jean, Musyari binta Aqilla Kahfi, Renesmee, guest, ichirukilover30, PureAi, akira takamine, raralarhas, Dewi natalia, aishanara87, , Amiya, Stagonidia Ryzi.

Segmen terakhir menunjukkan kalau Shinichi-Shiho gak butuh kata-kata cinta dalam hidup mereka karena apa yang telah mereka alami, lebih dari kata-kata cinta itu sendiri.

Thanks for reading. Ayo ramaikan fandom DC yang sepi banget dibanding fandom-fandom lainnya. ^_^