Coffee Lover 98's Love Recipe

.

.

Disclaimer : Aoyama Gosho


Ingredients :

2 hearts full of love

2 cups of kindness and trust

.

.

.

Conan menyelip masuk ke dalam dapur untuk mencari keberadaan Haibara dan seperti dugaannya, gadis itu berada disana.

Haibara tampak sibuk mondar-mandir sambil memegang berbagai bungkusan dan mangkok kecil. Wajah gadis enam belas tahun itu berkerut melihat kedatangan tamu tak diundang.

"Apa yang sedang kau lakukan?" tanya Conan sambil berdiri di depan meja dapur sambil mengerutkan kening. Diselipkan kedua tangannya ke dalam saku.

Haibara mendengus kemudian,

"Tidur." Ujarnya sarkastik tanpa melepaskan pandangannya sedikitpun pada kocokan di tangannya.

"Sepertinya kita punya persepsi yang berbeda dengan kenyataan dan ucapanmu."

Haibara menghentikan kocokannya dan menatap Conan yang sedang nyengir dengan bosan.

"Coklat?" seru Conan dengan heran ketika melirik isi mangkok yang dipegang Haibara.

Haibara tak menjawab, dia malah melanjutkan kocokannya, dan tangannya mencari-cari timbangan kecil untuk mengukur gula. Conan memperhatikan gerak geriknya dengan antusias, lalu dia tersenyum.

"Kau berjanji dengan Ayumi untuk membuat coklat untuk Valentine besok kan?" tebak Conan.

Haibara masih tak menjawab, dia telah selesai mengocok. Dicoleknya sedikit adonan coklat dari mangkok dengan jarinya dan mengulumnya untuk mengetes rasanya.

"Hmm… Masih pahit. Ah, tak apa. Terlalu banyak gula juga tak bagus untuk kesehatan," gumamnya pada diri sendiri. Conan tak yakin apa Haibara sengaja tak menjawab pertanyaannya atau berpura-pura tuli sesaat.

"Kau membuatnya untuk siapa?" tanya Conan penasaran lagi. Dan seperti biasa, dia tak mungkin membiarkan semua pertanyaannya tak terjawab begitu saja. Dan kita semua tau kalau kadar keingintaunya menyangkut gadis berambut pirang strawberry itu sangatlah besar.

"Bisakah kau berhenti merongrongku dengan berbagai pertanyaan?"

"Ha-Ha. Salahmu karena tidak mau menjawab."

Haibara menambah sedikit gula lagi, mengocok adonannya sedikit dan mencoleknya dengan jarinya.

Conan tak tau apa yang sedang dipikirkannya saat itu, karena dia menyambar tangan Haibara dengan satu sentakan dan menjilat jemari gadis itu yang masih berlumuran coklat dengan lidahnya.

Mata Haibara membesar, sentuhan lidah Conan terasa hangat di jemarinya. Detektif itu tetap menjilat jemari gadis itu walau adonan coklat yang menempel sudah habis.

"Hmm… tidak terlalu manis dan juga tidak terlalu pahit. Aku suka rasanya."

"Uh, kau tau apa yang sedang kau lakukan, Conan?" tanya Haibara. Ada semburat pink di pipi pucatnya.

Pertanyaan Haibara membuat Conan tersentak. Dia cepat-cepat melepaskan jemari gadis itu seperti baru menyentuh bara api. Wajahnya memerah.

"UH, I—itu… Maafkan aku, Ai." Conan segera kabur melarikan diri secepat langkahnya membawanya pergi.

Haibara masih berdiri dengan kaku kemudian dia menghembuskan nafasnya yang tertahan.

"Pasti gara-gara hormon." Cuma itu gumamannya sambil melanjutkan kegiatannya lagi. Mengocok sisa adonan untuk kemudian memasukkannya ke dalam oven.

.

.

4 armfuls of gentleness

2 cups of friendship

.

.

Sepanjang hari Conan tak berani memandang Haibara di sekolah. Walau gadis itu duduk disampingnya, Conan memilih untuk mengedarkan pandangannya ke semua sisi kelas daripada ke satu titik, dimana gadis itu berada. Dan sialnya, Conan menemukan banyak tatapan sedih dan memelas dari anak laki-laki di kelasnya, ke gadis di sampingnya.

Sejak kapan Ai punya banyak penggagum? Tanya Conan dalam hati dengan gusar.

Tatapan matanya berakhir pada tumpukan coklat Valentine di mejanya. Dia telah mengeceknya satu persatu dan dengan perasaan kecewa ketika tidak menemukan nama Haibara di setiap kartu.

Conan mendesah dan memasukkan semua coklatnya, dia sama sekali tidak tau apa yang harus diperbuat dengan semua coklat itu. Sebenarnya Conan ingin menolaknya, tapi tatapan memelas setiap gadis membuatnya tak tega. Coklat Ayumi berada di tumpukan paling atas. Dia masih ingat betapa gembiranya gadis itu ketika memberikannya.

Padahal Haibara jelas-jelas membuat coklat kemarin, apa dia memberikannya pada pria lain? Conan membatin dengan resah. Hatinya terasa berat, kakinya lunglai ketika bel pelajaran terakhir berbunyi. Dia mengerling sejenak pada gadis di sebelahnya. Haibara sedang sibuk menyusun buku-bukunya dan bersiap-siap untuk pulang.

Conan mengikuti langkah Haibara pulang dengan gelisah. Dia sama sekali tidak memperdulikan seruan Mitsuhiko dan Genta untuk bermain sepakbola. Matanya fokus pada punggung gadis itu.

Setelah beberapa saat, gadis itu berhenti dan membalikkan badannya.

"Ada apa, Conan?" tanyanya sambil menyelidik.

"U—uh…" Conan hanya bisa tergagap-gagap tak nyaman.

Haibara menyipitkan matanya dan kemudian berbalik lagi untuk meneruskan langkahnya. Conan segera menyambar lengannya.

"Ai, kau membuat coklat untuk Valentine kemarin. I—itu untuk siapa?" tanyanya sambil mengabaikan tatapan bosan Haibara. Dan dia tak luput memperhatikan ada guratan senyum kecil di ujung bibir gadis itu.

"Kenapa, Conan? Aku tak tau kau berminat dengan coklatku walau kau sudah banyak menerima coklat dari orang lain."

Mata Conan membesar,"A—aku suka rasamu—bukan—maksudku aku suka coklatmu. Tak terlalu pahit atau manis. Um… jika masih ada sisa…" kata-katanya menghilang seiring keberaniannya.

Haibara tersenyum. Benar-benar tersenyum. Hati Conan berdebar begitu kencang hingga dia takut gadis itu mendengarnya.

"Sebenarnya coklatnya sudah habis dimakan Hakase kemarin, jadi aku memutuskan untuk tidak membuatnya lagi."

"Apa? Dimakan Hakase?" gerutu Conan kesal.

Haibara menatapnya bosan,"Kenapa? Kau kan sudah punya banyak coklat dari para penggemarmu."

"I—itu…"

"Stok coklatmu cukup untuk seminggu sepertinya, jadi kali ini kau tidak perlu makan siang di rumah Hakase hari ini."

"Siapa bilang aku akan makan coklat itu, aku hanya akanmakancoklatdarigadisyangkusukaisaja," ujar Conan cepat hampir membuat lidahnya terjepit.

Haibara menyipitkan matanya, mencoba mencerna kata-kata Conan.

"Oh, baguslah. Pilihlah salah satu dari coklat itu, jadi aku tidak perlu memasak untuk 3 orang hari ini." Kata Haibara sambil melangkah lagi.

"Oi, tunggu dulu."

"Ada apa lagi, Conan?" tanya Haibara dengan datar.

"A—Aku cuma mau coklatmu." Conan berkata dengan cepat tanpa berpikir lagi.

Haibara mengangkat alisnya, kemudian tersenyum.

"Kalau begitu… Hmm… bagaimana dengan coklat-coklat yang telah kau terima?" tanya Haibara dengan pose berpikir keras.

"Bagaimana kalau kita memberikannya pada Hakase." Kata Conan dengan wajah berseri-seri.

Haibara cuma mencibir dan berbalik meninggalkannya.

"Hei, tunggu aku, Ai! Kau sudah berjanji untuk memasak nasi kari untukku hari ini."

.

.

2 cups of joy

2 big hearts full of forgiveness

.

.

...

Sesampai di dapur, Conan segera mengambil tempat duduk dan mengamati Haibara yang sedang sibuk menyiapkan kari. Matanya yang terlatih mengedar mengelilingi ruangan dan menemukan satu kotak kecil di samping meja dapur. Sepertinya dia mengenalinya, lalu…

"Ai, itu coklat yang kau buat kemarin bukan?" Conan mengamati kotak itu. Berisi 2 potong coklat kecil dan belum dibungkus.

Haibara menoleh,"Itu sisa coklat kemarin."

"Akan kumakan sekarang," ujar Conan senang sambil membuka tutupnya. Tapi tangan Haibara lebih cepat, dirampasnya kotak itu dan mengambil sepotong coklat kemudian memasukkannya ke dalam mulutnya. Matanya berkilauan dan senyumnya meremehkan detektif itu.

"Aku menyisakannya untuk diriku sendiri. Siapa bilang kau boleh memakannya, tantei-kun?" ejek Haibara.

Conan menggertakkan giginya,"Dasar rakus. Kau tak takut gemuk?" dengan tatapannya dia meneliti potongan tubuh Haibara yang proporsional. Wajah gadis itu memerah dan dia mencolek pipi Conan dengan jari yang tak berlumur coklat.

"Kau tau kalau seorang pria tidak boleh menuduh wanita rakus. Itu tidak sopan."

Conan nyengir dan dia dengan cepat hendak merebut coklat tersisa tapi Haibara tetap lebih cepat. Dilemparkannya ke mulutnya dengan sekali gerakan dan dia mengunyahnya dengan tatapan menang sekali lagi.

Detektif itu merengut kesal. Dia maju mendekat ke arah Haibara. Dekat sekali. Hidung mereka hampir bersentuhan dan Conan bisa merasakan nafas hangat Haibara di pipinya. Haibara tak berkutik, punggungnya menempel ke meja dapur, tak bisa bergerak.

Diam-diam Conan sangat menyukai wajah Haibara yang memerah di depannya, kilau bola matanya, pipi pucatnya… Conan mengangkat tangannya membelai pipi gadis itu kemudian mendekatkan bibirnya.

Bibir mereka bertemu, saling bertaut, pelan dan berirama. Kotak kosong yang dipegang Haibara jatuh tak bersuara.

Kemudian…

"Akhirnya…" seru Conan sambil mengunyah coklat yang dicurinya dari Haibara. Wajah gadis itu masih memerah dan terengah-engah.

"Kau…" gumam Haibara antara kesal dan malu.

"Enak sekali, Ai." Conan bergumam sambil nyengir. Ada kilatan kepuasan di bola matanya. Dan diam-diam detektif ini masih kesulitan mengatur nafas dan debar jantungnya.

"EHEM." Kedua remaja ini terlonjak dan menemukan Profesor Agasa sedang berdiri di depan pintu dapur.

Haibara segera berbalik untuk memusatkan perhatiannya ke kari yang sedang dimasak dan Conan meraih apa yang ada di depannya—buku fisika kuantum—sambil pura-pura memperhatikan kurva penjelasan yang rumit di salah satu diagramnya. Sejak kapan ada buku fisika kuantum di dapur? Apa Ai membacanya sambil menunggu air mendidih? Detektif itu menahan keinginannya untuk memutar kedua bola matanya.

"Ai-kun. Aku akan pergi ke supermarket sebentar. Apa ada yang hendak kau beli?" tanya Hakase.

Haibara menggelengkan kepalanya, tak sanggup bersuara.

Hakase hanya tersenyum kecil kemudian meninggalkan kedua remaja itu. Haibara mengambil kesempatan itu dan segera menoleh kearah Conan. Diberinya tatapan Death-glare nya yang terkenal.

"Kau akan merasakan pembalasanku, Edogawa-kun."

Conan bergidik."Hey, kenapa kau tak memanggilku Conan lagi?"

Haibara tersenyum mengejek. Walau begitu, dia masih tampak luar biasa manis dan menggemaskan. Dengan sisa rona merah di pipinya dan nafasnya yang tak beraturan. Conan harus berhenti berpikir yang tidak-tidak karena pengaruh hormon sebelum Haibara mengetahui apa yang ada di dalam isi otaknya lalu membunuhnya.

"Edogawa-kun…" cemooh Haibara lagi.

"Hey…kalau kau memanggilku begitu lagi, a—aku akan…" suara Conan menghilang.

"Akan apa, Edogawa-kun?"

"…."

"Hey, kenapa kau dekat sekali, Edogawa-kun?"

.

.

.

(terdengar suara buku terjatuh di lantai)

.

.

.

(suara panci jatuh nyaring membentur lantai)

"CONANNN! BUKUKU TERKENA KARI. KAU HARUS MENGGANTINYA!"

"EH?"

.

.

.

.

.

and 1 life time of togetherness

.

.

Fin.


A/N : Thanks telah meluangkan waktu untuk membaca. ^_^

Apa yang terjadi di atas terserah imajinasi deh fufufu ;3

Timeline terjadi saat Conan dan Haibara tidak menggunakan antidote dan tumbuh dewasa bersama-sama.

Soal resep, gw dapetnya dari browsing di internet. Selamat mencoba :P