20 Reasons Why I hate Haibara Ai

.

.

.

Disclaimer : Aoyama Gosho

.


Conan menggerutu pelan sambil menarik sehelai kertas dari laci mejanya. Dia menekankan kedua jarinya pada daerah di samping alis dan memejamkan matanya. Tak biasanya dia kelihatan begitu gusar. Tangannya mengacak-acak rambut hitamnya frustasi.

Haibara Ai adalah penyebab dia begitu kesal dan membuat kepalanya sakit pagi itu. Tak diperhatikannya Kobayashi Sumiko-sensei yang sedang berdiri di depan kelas sibuk mengajarkan algoritma. Bukannya dia tak peduli apa itu algoritma atau pecahan desimal tapi dia lagi-lagi kalah taruhan dengan Haibara semalam. Benar. Kalah taruhan. Mereka selalu bertaruh tentang semua hal. Apapun itu. Dari skor pertandingan sepakbola, jumlah kasus yang mampu dipecahkan Conan dalam seminggu hingga ke hal yang remeh-temeh seperti berapa kali Professor Agasa menggosongkan pancinya dalam sehari.

Alih-alih menulis rumus algoritma, Conan malah menemukan dirinya sedang menulis…. dua puluh alasan kenapa dia membenci Haibara Ai. Dia mendengus dengan kata dua puluh—dia yakin bisa menulis satu juta alasan untuk membenci gadis dua belas tahun itu.

Well, jadi mulai dengan alasan pertama dulu—

Conan berpikir sejenak kemudian jarinya mulai menari-nari di atas kertas.

Dua puluh alasan kenapa Haibara Ai pantas dibenci (daftar ini akan bertambah sesuai kebutuhan):

1. Pertama. Um… Aku sangat membenci senyum Ai ketika dia memenangkan taruhan kemarin. Ini dimulai dari taruhan soal Genta yang ingin mengajak Ayumi pergi ke pasar malam berdua. Senyum Ai bukan senyum lebar yang menampakkan barisan giginya yang putih dan rapi, tapi senyum dengan menarik ujung bibirnya yang pink itu yang membuat emosiku terbakar. Aku ingin menghapus senyum kemenangannya—yang sangat menjengkelkan—karena Genta ternyata bernyali besar mengajak Ayumi. Aku yakin pasti Ai tau sesuatu tentang mereka yang tidak kuketahui, ini tidak adil.

2. Sebaliknya… Aku juga sangat membenci kalau dia muram hingga berhari-hari. Bukan sorot mata sendunya membuat hatiku sakit atau apapun itu—tapi kematian Kuro bulan lalu membuatnya begitu sedih. Jadi tak ada salahnya kalau aku mengajaknya ke pet shop untuk melihat anak kucing yang baru, bukan? Aku cuma tak ingin dia kehilangan konsentrasi saat membantuku memecahkan kasus. Ini akan jadi sangat merepotkan.

3. Aku sangat membenci pembawaannya yang tenang, suara lembutnya selalu bisa menenangkan diriku disaat aku sedang kalut kalau kasus semakin rumit dan tak ada petunjuk yang bisa dipecahkan. Well, bukannya aku tak bisa berterima kasih, tapi aku benci kalau aku selalu harus melihat ke arahnya saat aku bingung, bagaimana kalau dia tak ada saat aku membutuhkannya?

4. Aku benci warna rambutnya! Warna yang sangat menyolok! Mana ada gadis normal yang memiliki rambut yang begitu halu—aneh. Pasti dia adalah titisan iblis yang sengaja datang untuk mengacaukan hidupku.

5. Aku sangat membenci obsesi Mitsuhiko dan sebagian besar cowok di kelas padanya. Uh! Mereka hanya belum mengenal sifat dia yang sesungguhnya. Seharusnya Ai tau kalau cowok-cowok itu semua berusia sepuluh tahun lebih muda darinya! Kenapa dia malah beramah –tamah dengan mereka! Eh, bukan berarti aku cemburu, aku cuma ingin mengingatkan dia kalau dia bukan pedophile, karena pedophile itu dilarang hukum!

6. Aku sangat membenci kalau dia fangirling pada Higo Ryuusuke dari Big Osaka. Lagipula siapa itu Higo? Dia tak ada apa-apanya dibanding dengan Messi atau Ronaldo. Tapi aku sangat jengkel sewaktu Hakase membawa kami semua ke stadion Osaka dan menemui Higo disana. Aku sangat membenci Ai yang kelihatan sangat senang dan wajahnya memerah berseri-seri. Hey, sepertinya Ai lupa kalau Higo itu lebih tua sepuluh tahun darinya. Aku juga sangat membenci kalau dia memutar video rekaman pertandingan dan latihan Higo setiap hari hingga berulang kali. Apa sih bagusnya Higo? Aku lebih jago bermain sepakbola! Kalau saja aku tidak memutuskan ingin menjadi detektif, aku akan menjadi pemain professional yang lebih bagus dari dia. Dan pasti Ai akan lebih senang melihat videoku berulang kali. Ugh, dia bahkan tak tau apa itu akumulasi kartu kuning tapi berani-beraninya menghafal setiap jadwal pertandingan Big Osaka. Sangat menjengkelkan!

7. Aku juga sangat membenci bagaimana Ai bisa membaca pikiranku dengan begitu mudahnya. Dia sepertinya sangat memahamiku dan sebaliknya Ai adalah puzzle, teka-teki, misteri yang takkan bisa kupecahkan seumur hidupku. Hari ini dia bisa bersikap semanis bidadari dan besoknya seperti titisan iblis yang menyiksaku tanpa henti.

8. Aku benci masakannya—eh sebenarnya aku sangat menyukai nasi karinya. Aku hanya benci karena dia sengaja menggunakan masakannya untuk memperoleh apa yang dia inginkan. Dia tak tau kalau saldo rekeningku menyusut setiap dia meminta hal-hal yang tak masuk akal. Dompet atau tas Fusae terbaru. Tapi daripada itu sewaktu ulang tahunnya yang baru lewat, aku membelikannya handphone Prada—tujuannya karena aku ingin bisa menghubunginya setiap saat. Eh, bukan berarti aku ingin bicara dengannya atau mendengar suaranya, aku juga bisa bicara dengan Hattori atau Ran—tapi kalau sehari tanpa mengganggunya sepertinya ada yang kurang.

9. Aku….

10. Benci…

11. Kehabisan… alasan lain—Jadi aku harus mengintip ke arahnya sebentar untuk mencari-cari alasan baru lagi. Ini bukan berarti aku sering memperhatikan atau menghitung berapa kali dia menguap—tapi karena aku butuh alasan untuk membencinya.

"Edogawa-kun! Kau sedang menulis apa dari tadi?" tanya Sumiko-sensei memecahkan aliran pikiran Conan. Tangan detektif itu terpeleset dan penanya jatuh ke lantai. Ai yang duduk di sampingnya, mengangkat alisnya lalu memungut dan menyerahkan pena ke atas meja Conan.

"Tidak apa-apa, Sensei!" kata Conan sambil mencoba menyembunyikan kertasnya dan mencoba menyelipkannya ke dalam buku teksnya. Ai yang penasaran dengan apa yang ditulis Conan, meraihnya (tak sengaja menyentuh lengan Conan—yang membuatnya tersentak) dan berhasil membaca sekilas sebelum Conan merebutnya kembali. Sumiko-sensei hanya menghela nafas dan kembali memfokuskan pada rumus yang sedang dicatatnya di papan tulis.

"Wahwahwah, tak kusangka kau sangat membenciku, Conan-kun," Haibara berkata dengan suara tenangnya. Ada senyum samar di bibirnya. Mereka telah saling memanggil nama alias masing-masing setelah Conan menyuruh Ai berhenti membuat antidote APTX-4869. Mereka memutuskan untuk menjadi dewasa kembali bersama-sama.

Conan tak berhasil menyembunyikan rona merah di pipinya (dia masih ingat betapa dekatnya Ai tadi dan bagaimana dia tertangkap basah karena menulis tentang gadis itu dalam setengah jam terakhir). Alih-alih membalas, Conan hanya mendengus. Pundaknya gemetaran membayangkan Ai akan membalas perbuatannya ini.

Ai terlihat berpikir sejenak, kemudian dia mengambil kertas putih dari dalam tasnya, dan mulai menulis.

Conan memperhatikan alis Ai yang berkerut dan kelihatan sangat serius dengan apa yang sedang ditulisnya. Dia menahan keinginan untuk mencuri baca. Pembalasan Ai akan sangat mengerikan. Entah apa yang sedang disiapkan gadis itu.

Gadis berambut pirang strawberry itu tersenyum kecil di sela-sela kegiatannya menulis.

Tiga ratus alasan kenapa Edogawa Conan pantas dibenci (daftar ini tentu saja akan bertambah karena masih ada jutaan alasan logis dan tidak logis lainnya):

1. Aku sangat membenci suara nyanyian Conan. Dia sama sekali tidak tau kalau nyanyiannya adalah ancaman bagi umat manusia dalam radius dua kilometer, terutama bagi yang menderita jantung lemah atau ada gangguan pada THT. Dan anehnya, dia sangat percaya diri dengan suara sumbangnya menyanyi untukku saat pesta ulang tahun Hakase bulan lalu. Seharusnya dia menyanyi untuk orang yang berulang tahun tapi dia malah sengaja memperdengarkan suara cemprengnya untuk merusak gendang telingaku.

2. Aku sangat membenci bagaimana dia bisa menarik begitu banyak pembunuhan dan berbagai macam kasus setiap saat kami bersama. Pantai, laut, gua, bahkan ada pembunuhan yang terjadi di atas kincir roda. Jangan tanya padaku bagaimana bisa ada mayat yang jatuh dari atas dan menimpa roda-roda yang sedang bergerak itu. Dia adalah Corpse Magnet. Rasio kriminalitas meningkat setiap dia menjejakkan kakinya. Jangan tanya kenapa hal itu bisa terjadi. Mungkin aja ada pengaruh gen atau DNA misterius yang belum diketahui umat manusia. Aku akan meneliti hal ini lain kali. Dia pasti akan sangat senang setiap aku mengambil darahnya untuk dites. Yah, dengan berbagai metode pengambilan sampel yang paling sakit—yang bisa dikupikirkan.

Ai tertawa kecil tanpa suara. Conan mencuri pandang ke arahnya penasaran lagi.

3. Aku sangat membenci sifat Mr Know-it-all yang dimiliki Conan. Bukannya aku meremehkan dia, tapi Sherlock Holmes bahkan butuh penelitian berhari-hari sebelum menemukan jawaban misteri. Dia selalu tau-segalanya-tapi-itu-tak-berlaku-untuk-pengetahuan-tentang-wanita. Atau tepatnya tak mempan untukku. Dia tak tau kalau aku sangat menikmati wajah bingungnya kalau aku melemparkan berbagai ucapan ambiguitas. Biarkan saja. Ha-ha.

4. Aku sangat membenci Conan yang kadar antusias dan penasarannya sangat tinggi jika melibatkan segala aktivitasku. Seperti sekarang ini. Dia sedang mencoba mencuri baca apa yang sedang kutulis,

"Ai, kau tak boleh membenciku!" desis Conan tajam. Hanya aku yang boleh membencimu saja. Tampangnya songong sekali saat itu. Mulutnya mengatup rapat. Enak saja, aku detektif idola SMP Teitan yang setiap valentine selalu mendapat coklat terbanyak (Tapi tidak pernah ada dari Ai—sedihnya).

Ai menoleh ke arahnya dengan pose kau-akan-mati-tanpa-jejak-kalau-berani-mencuri-baca-dan-tak-bisakah-kau-menghormati-privasi-wanita? Fiuh panjang sekali.

"Haibara-san. Apa yang sedang kau tulis tadi?" tanya Sumiko-sensei tiba-tiba. Gadis itu tersentak. Jarinya berusaha menutup tulisannya. Kemudian wajahnya segera berubah menjadi polos, "Ada apa, sensei?" Suaranya berubah menjadi manis. Sekarang semua perhatian anak-anak tertuju padanya. Sumiko-sensei mendekati meja mereka. Dia tau kalau Conan dan Ai adalah murid terpandai di kelasnya atau bahkan di seluruh sekolah. Dia juga yakin anak seperti mereka sebenarnya tidak perlu belajar untuk meraih peringkat pertama tapi toleransi dia sepertinya sudah habis. Dia memang selalu membiarkan Conan dan Ai saling berbisik, menukar pesan di kertas kecil, bermain hang-man atau xoxo di sela-sela pelajaran. Tapi ini bisa menjadi preseden buruk bagi anak-anak lain. Dia tak bisa membiarkannya seperti yang sudah-sudah.

Mata Sumiko jatuh pada kertas di meja Ai, dia meraihnya dengan cepat—Ai tak sanggup menghentikannya, lalu membacanya dalam hati dengan alis terangkat. Dia kemudian berputar ke meja Conan dan menarik kertas yang dia yakin kalau itu bukan rumus algoritma tetapi hal yang sedang ditulis detektif itu selama pelajarannya. Conan hanya bengong—tak bisa bergerak. Tulisannya—curhatan hatinya diambil Sumiko-sensei dan guru itu juga mengambil kertas Ai untuk membuat segalanya lebih rumit.

Sumiko-sensei hanya menggigit bibirnya berusaha menahan senyum begitu sekilas membaca kedua tulisan itu. Dia lalu berkata, "Detensi untuk Edogawa-kun dan Haibara-san. Kalian harus menemuiku sewaktu pelajaran selesai."

Ai mengangguk lemas, sedangkan Conan belum pulih dari kebengongannya. Dia lalu ikut manggut-manggut bego.

.

.

.

"Bisakah kalian menjelaskan padaku, Conan-kun dan Ai-chan, apa arti tulisan kalian ini?" tanya Sumiko-sensei begitu mereka memasuki ruang guru dan berhenti di depan mejanya.

Conan dan Ai saling melirik tapi tak ada yang berani bersuara.

"Ugh, itu…" suara Conan hilang.

"Coba kalian baca tulisan masing-masing dulu," Sumiko-sensei memberi Ai tulisan Conan dan Conan tulisan Ai. Wajah guru itu kelihatan senang dan berusaha menahan senyuman lebar yang dari tadi mengancam di ujung-ujung bibirnya.

Alis mata Ai berkerut membaca tulisan Conan—tulisan detektif itu tetap jelek dan sulit terbaca. Tak berubah setelah bertahun-tahun. Setelah bersusah payah menganalisa isinya—yang membuat kerutannya makin dalam dan memikirkan segala pembalasan yang akan diterima Conan setelah ini, senyumannya muncul.

"Sensei, kau lihat sendiri kalau Conan sangat membenciku." Katanya ringan. Conan yang berdiri disampingnya, "Siapa bilang kau butuh tiga ratus alasan untuk membenciku, Ai? Kau cuma sampai nomor 4 saja—"

"Ya, itu belum selesai karena kau mengintip tulisanku," potong Ai kesal.

"Oh ya, aku masih menyimpan tulisan kalian bertahun-tahun lalu," Sumiko-sensei berhenti bicara, tangannya menarik sesuatu dari laci mejanya dan meletakkannya di atas meja, "esai kalian untuk sepuluh tahun kedepan."

Conan dan Ai saling melirik lagi lalu mereka mengambil kertas yang ada di atas meja. Karena esai itu sangat pendek, dalam dua puluh detik lagi terdengar desisan Ai, "Kau mencuri baca esaiku, Conan."

"A-aku…b-bukan… tapi…," gagapnya tak beraturan.

"Hm," Ai terlihat berpikir keras. Conan gemetaran. Sumiko-sensei tertawa terbahak-bahak.

"Ingat undang Sensei kalau kalian menikah nantinya." Ucapnya disela-sela tawanya.

Mulut Conan terngaga, matanya melotot. Sedangkan kertas yang dipegang Ai jatuh meluncur dari jemarinya. Dia bahkan menggerakkan kepalanya sedikit, siapa tau dia salah mencerna kata-kata gurunya itu.

"Siapa yang mau menikah dengannya?" tanya Conan hampir histeris.

"Justru ini adalah pertanyaan yang ingin kutanyakan," balas Ai sarkastik.

Sumiko-sensei hanya tertawa lagi, dia menumpukkan esai lama, kertas sitaannya ke tangan Ai dan Conan lalu mengusir mereka pergi.

Senyumannya masih lebar ketika menyadari kalau Conan dan Ai pergi meninggalkan ruang guru sambil mengomeli satu sama lainnya.

Walau dia tak mengerti apa arti sepuluh tahun di tulisan Conan tapi baginya Conan dan Ai adalah anak aneh dan dia sangat menyukai mereka.

Kobayashi Sumiko tak sabar menantikan undangan untuk pesta pernikahan mereka nantinya.

.

.

.

Fin.


A/N : ini adalah sequel dari Essai. Bagaimana Ai fangirling pada Higo bisa dilihat dari chapter 886. Disana Ai sangat menggemaskan dan cute. Menurutku salah satu hal terbaik yang terjadi di dunia Meitantei Conan adalah hubungan Ai dan Conan. Jauh lebih menarik dari semua hubungan canon. Bagaimana mereka saling berinteraksi, kepercayaan, pengertian, bagaimana Conan ingin Ai bahagia dan sebaliknya, bagaimana Conan melindungi Ai dari segala macam bahaya dll.

Thanks for reading ^_^