I wish that you are different from me.
Persona 4 © Atlus
Romeo and Juliet © William Shakespeare
Warning : Gaje,Ngaco,Aneh,Hint of Yaoi ? Hint of Yuri ?,Lebai n Sok Dramatis in this chapter!, OOC yang gaje! , Dll.
Efek samping : Cuma membuat anda sweatdrop karena cerita ini gaje atau nyesel karena dah mau-maunya baca cerita ini. Mungkin membuat anda terharu karena ke-sok-dramatis-an.
A/N : Entah mengapa chapter ini terasa gaje sekali buat saya…. Maaf untuk OOC yang amat sangat gaje!!
The end
Capulet's Residence
Naoto sedang berjalan menuju pintu rumahnya. Sebelum memasuki rumahnya ia menoleh kearah langit, melihat sekali lagi langit berbintang. Ia merasa wajahnya memanas karena teringat kejadian di atas atap sekolah. Ia langsung masuk dan menutup pintu rumahnya. Baru berberapa langkah berjalan , ia melihat kedua orang tuanya. Naoto ingin menyapa orang tuanya tapi tak ada satupun kata yang diucapkannya. Orang tuanya memandangnya dengan ekspresi yang membuatnya terdiam.
"Apa saja yang kau lakukan di sekolah?" Tanya ayah Naoto.
Naoto tidak mengeluarkan sepatah kata. Ia tahu kalau hubungannya dengan Souji diketahui.
Montaque's Residence
Souji memandang langit berbintang dari jendela kamarnya. Ia merasa gelisah mengingat kejadian tadi.
'Naoto seorang laki-laki yang tampan, tapi kenapa tadi ia terlihat manis? Selain itu dia juga pendek dan ringan. Apakah Naoto itu perempuan? Tidak, Naoto pernah mengajakku ganti baju bersama, hal tidak mungkin dilakukan seorang perempuan. Kalau Naoto benar laki-laki maka aku mencintai seorang...' Souji langsung menggelengkan kepalanya. Ia tidak ingin melanjutkan pikirannya.
Ia mengingat-ingat kenapa ia bisa menyukai Naoto. Awalnya saat kejadian di Venees Garden ia merasa aneh saat ia mengendong Naoto , lalu saat Naoto berkata ia lelah dengan hubungan keluarga mereka , ia dengan refleks memegang tangan Naoto dan mengajaknya berteman , ia juga tidak bisa memalingkan wajahnya dari Naoto saat mereka akan ganti baju bersama , dan ia merasa kesal dan langsung meninggalkan Lavetia Hall saat Naoto akan berdansa dengan Rise.
Semua itu bukan hal-hal pantas untuk menjadi alasan untuk jatuh cinta. Ia teringat hal yang dikatakan perempuaan dikelasnya . Jatuh cinta itu membuat berdebar-debar dan hati tidak tenang. Persis dengan apa yang dirasakannya. Tapi seandainya Naoto juga mencintainya , mereka tak akan bisa bersatu , karena Naoto sama dengan dirinya - sama-sama lelaki- , Kalaupun Naoto perempuan , hal itupun akan sia-sia karena kondisi keluarga mereka.
Souji yang lelah dengan pikirannya memutuskan untuk beristirahat . Tiba-tiba handphonenya berbunyi dan ia menggangkatnya tanpa melihat nama penelepon.
"Halo? Souji-kun?" Tanya suara manis yang dikenalnya.
"Rise..., apa tidak apa-apa kau menelpon laki-laki lain malam-malam begini?" Tanya Souji dengan lelah.
"Aku ingin berbicara denganmu! Kutunggu di Berthne Park di pusat kota! Dah!" Rise langsung menutup telponnya tanpa memberikan kesempatan pada Souji untuk berbicara.
"Ampun deh gadis ini." keluh Souji
Berthne Park
Seorang gadis dengan payung pink berdiri di dekat sebuah pohon paulownia. Jas hujan yang ia kenakan tetap basah meski memakai payung. Rise terlihat sedang memikirkan sesuatu. Sesuatu yang akan ia sampaikan pada Souji.
"Oi Rise!" Teriak sebuah suara yang dinantinya.
"Oh, Souji-kun..." Balas Rise dengan pelan.
"Lebih baik kita cari tempat yang teduh dulu, cafe misalnya?" Usul Souji.
"Iya." Jawab Rise sambil mengangguk.
Chagall Café
"Naoto itu perempuan" Sebuah kalimat yang diucapkan Rise dengan wajah serius membuat keheningan yang tidak mengenakkan antara dirinya dan Souji.
"Eh? Apa?" Tanya Souji dengan ekspresi yang sulit digambarkan.
Rise mengerutkan alis , "Masa kau tidak menyadarinya?" Tanyanya.
Souji terdiam. Menyadarinya? Apa yang harus disadari? Tidak ada bukti yang jelas kalau Naoto itu perempuan. Dia hanya terlalu kurus dan kecil untuk menjadi laki-laki, Naoto bahkan hampir ganti baju bersamanya.
"Aku rasa kau sudah melihat aku dan Naoto hampir ganti baju bareng , itu sudah menunjukkan kalau ia laki-laki." Jawab Souji sambil meminum kopinya.
"Tapi kau belum melihat ia terlanjang kan?" Ucap Rise dengan senyum nakal.
"Masa orang sepintar kau tidak menyadarinya?, Naoto itu terlalu kecil untuk menjadi laki-laki, meski ia cukup tampan untuk menjadi laki-laki. Lalu, kadang-kadang sebulan sekali ia tidak masuk, trus kalau kau menyadarinya , Naoto tidak pernah ganti baju dengan para lelaki satu kelas, lalu Naoto tidak pernah memakai kaus tanpa lengan." Lanjut Rise sambil meminum coffee strawberrynya.
"Jadi kesimpulannya dia perempuan?" Tanya Souji.
"Yap! Ayah Naoto itu tidak mau kalah dengan keluarga Montaque, jadi ia tidak mengumumkan kalau Naoto itu perempuan." Jelas Rise sambil menulis SMS entah untuk siapa.
"Oke, kalau seandainya Naoto memang perempuan, jelaskan kenapa , ia bisa ada keinginan untuk menyentuhmu? Kenapa ia bisa bilang kalau ia mencintaimu?" Tuntut Souji yang menginginkan jawaban.
"Kau yakin, kalau Naoto memang mencintaiku? Itu hanya salah paham! Sejak kecil ayah Naoto menanamkan pemikiran 'Kalau-ia-akan-menjadi-laki-laki-suatu-saat-nanti' , karena itu ia harus bersikap sebagai laki-laki, berpikiran sebagai laki-laki. Ia berpikir ia mencintaiku karena aku adalah teman sejak kecil yang manis." Jelas Rise sambil mengedipkan matanya dan melanjutkan mengetik Hpnya.
Souji yang melihat Rise menulis pesan sambil berbincang dengan dirinya, merasa kesal.
'Kok bisa-bisanya dia SMS-an pada saat penting begini' Pikir Souji.
"Tapi…" Souji yang ingin membantah langsung dipotong oleh Rise.
"Sebagai teman , ia ingin aku bahagia, ingin aku selalu tersenyum, tapi ia salah karena mengira kalau itu adalah perasaan cinta . Cinta yang sebenarnya itu amat memusingkan, membuat kita menjadi bingung, dengan hal kecil saja bisa bahagia atau sedih. Lalu kalau kau bertanya kenapa Naoto yang pintar bisa semudah itu dibohongi ayahnya padahal ia ikut kelas biologi maka jawabannya lihat saja para lelaki yang menjadi lebih cantik , seksi daripada wanita di Thailand. Ayah Naoto bilang kalau yang sebaliknya mungkin saja terjadi , apalagi Naoto cukup tampan." Ujar Rise sambil mengaduk-aduk coffee strawberrynya.
"Kenapa kau memberitahukan ini padaku? Rasanya tidak ada keuntungan untukmu , bukankah ini membocorkan rahasia penting Naoto?" Tanya Souji.
"Kenapa ya…? Mungkin karena kami sudah bertunangan. Kalau seandainya ini berlanjut maka yang ada hanyalah penyesalan yang diakibatkan keegoisan ayah Naoto." Ucap Rise dengan sendu.
"Dan aku ingin memberitahukan kalau ada pembunuh bayaran yang mengincar nyawamu, saat ini juga!" Ekspresi Rise berubah menjadi serius.
"Maksudmu? Siapa yang ingin membunuhku?" Souji langsung memasang ekspresi serius juga.
"Ayah Naoto menganggapmu pengganggu dan ia sudah menyewa pembunuh bayaran yang akan membunuhmu pada saat kau tidur malam ini. Aku tak sengaja mendengar rencana itu, karena itu aku mengajakmu ke café ini. Mungkin saat ini pembunuh bayaran itu menunggumu dengan manis dirumahmu." Jelas Rise sambil mengecilkan suaranya.
"Berarti…" Ucapan Souji langsung dipotong untuk kedua kalinya.
"Souji!" Teriak sebuah suara yang dikenalnya.
Souji menoleh kebelakang mencari darimana asal suara itu. Ia melihat Naoto yang masih dengan pakaian yang terakhir kalinya ia lihat. Dan ia bisa melihat wajah Naoto yang begitu khawatir.
"Nao…" Belum selesai Souji menyebut namanya, Naoto sudah memeluk leher Souji yang sedang duduk. Hal ini membuat Souji kaget, membuat Rise tersenyum, dan membuat para pengunjung café bertanya-tanya apa yang sedang terjadi.
"Syukurlah! Kau masih hidup! Aku takut sekali saat ayah bilang dia mengirimkan pembunuh bayaran untuk membunuhmu." Ujar Naoto sambil melepaskan pelukannya.
"Iya, aku masih hidup, untung saja Rise memanggilku untuk bertemu di café ini, sehingga aku masih hidup saat ini." Souji berkata sambil mengelus pundak Naoto.
"Souji…, maaf ayahku seperti itu. Bagaimana ini? Jika kau pulang kerumah saat ini, kau pasti dibunuh. Tapi kau tak punya tempat untuk bermalam saat ini." Naoto berkata sambil duduk di samping Rise.
"Tak apa Naoto, aku mengerti. Kita tidak bisa lapor polisi karena itu adalah tuduhan tanpa bukti dan mencemarkan nama baik ayahmu." Ucap Souji.
"Maaf mengganggu, Ayah Naoto tahu kalau aku mengetahui rencananya dan ia mengirimkan pembunuh bayarannya kemari." Tiba-tiba Rise menginterupsi sambil membaca pesan di HPnya.
"Apa?! Souji! Kau harus segera bersembunyi! Kita akan lari ke hutan yang tak jauh dari tempat ini. Aku akan ikut! Dengan begitu akan menyulitkan sang pembunuh bayaran karena ia tidak mungkin menembak sembarangan yang memungkinkan menembak diriku yang anak dari tuannya." Naoto langsung segera berdiri dan mengucapkan rencananya.
Souji terdiam beberapa saat. Ia mencoba mencerna apa yang diucapkan Naoto dan Rise. Semuanya terjadi begitu cepat, padahal 1 jam yang lalu ia masih tidur-tiduran dengan santainya di rumah. Apa keluarganya tahu mengenai hal ini? Apa ia bisa lari dari pembunuh bayaran yang disewa ayah Naoto hari ini? Kalaupun ya, apakah besok ia bisa lolos?
Saat ia masih berpikir , tangan Naoto sudah menarik tangannya.
"Ayo cepat! Tak ada waktu lagi!" Ucap Naoto sambil menariknya berdiri.
Souji mengikuti Naoto dan dari jauh terlihat kalau Rise melambaikan tangan dan berkata ,"Aku akan menghambat mereka, berjuanglah!"
Heint Forest
Souji dan Naoto terus berlari, berlari, dan berlari. Mereka bisa mendengar ada suara langkah kaki lainnya di belakang mereka. Mau tak mau langkah kaki mereka terhenti oleh sebuah jurang yang dalam. Mereka berhenti dan berbalik. Menghadapi seseorang yang mengikuti mereka sejak tadi.
"Tuan muda, saya harap anda segera menjauh dari pemuda itu. Akan gawat sekali jika seandainya peluru ini mengenai anda." Ucap seorang pria.
"Adachi, kau seorang polisi tapi menyalahgunakan jabatanmu. Memakai pistol yang seharusnya dipakai melindungi warga, malah untuk membunuh." Ujar Naoto dengan dingin.
"Apa boleh buat? Aku hanya menjalankan perintah dari salah satu orang tertinggi di kota ini" Adachi tersenyum sambil mengelus-ngelus pistolnya.
"Naoto.., Kau pergi saja, aku tidak yakin kita bisa lolos." Souji berkata sambil melihat kebelakang. Sebuah jurang yang amat dalam.
"Tidak mau! Aku tidak akan meninggalkanmu! Karena kau berarti bagiku! Aku menci.." Naoto langsung terdiam, tidak melanjutkan perkataannya.
"Benarkah? Kalau begitu aku senang sekali. Aku juga merasakan hal yang sama , sebelum aku mengetahui rahasiamu." Souji tersenyum sambil mengelus pundak Naoto.
"Kalian ini homo ya? Indahnya cinta kalian, cinta yang terlarang antara dua lelaki , cinta yang tidak mungkin bersatu karena kondisi keluarga." Ujar Adachi sambil tersenyum sinis karena tidak mengetahui rahasia Naoto.
"Terserah apa katamu. Aku tidak akan meninggalkan Souji!" Naoto langsung berdiri didepan , seakan melindungi Souji dari Adachi.
"Kalau begitu akan kubuat cinta kalian ini menjadi sebuah tragedy. Kisah cinta yang tak akan pernah berakhir bahagia antara Keluarga Montaque dan Keluarga Capulet." Adachi langsung menodongkan pistolnya dan menarik pelatuk.
Souji langsung memeluk melindungi Naoto yang didepannya. Peluru yang ditembakkan adachi mengenai dirinya. Seolah Tuhan tak setuju dengan mereka. Angin malam membantu peluru Adachi mendorong Souji dan Naoto kebelakang, membuat mereka jatuh ke dalam jurang yang ada di belakang mereka.
2 Weeks Later, Capulet's Meeting Room
"Dengan begini , aku harap keluarga kita akan rukun." Seorang pria berkata sambil mengulurkan tangannya dengan enggan.
"Apa boleh buat. Perselisihan kedua keluarga ini telah membuat kita kehilangan anak-anak kita." Seorang pria yang lainnya menyalami tangan yang diulurkan.
"Padahal Naoto hanya baru berteman dengan Souji beberapa hari saja, tapi aku sudah mengirimkan pembunuh bayaran untuk membunuh Souji." Ucap pria pertama, yang ayah Naoto dengan wajah yang amat menyesal.
"Tak kusangka, perselisihan kedua keluarga ini membuat kita kehilangan sesuatu yang berharga bagi kita." Ujar ayah Souji dengan raut wajah sedih.
"Mungkin ini hukuman dari tuhan untuk kita. Kita bahkan tak bisa menemukan mayat mereka." Ayah Naoto menghela nafas sambil memandang kearah langit.
In Front Of Capulet's Meeting Room
Terlihat seorang gadis yang sedang berdiri di depan pintu, mendengarkan apa yang dikatakan kedua pria di dalamnya. Ia mengeluarkan HandPhonenya, membuka sistem pesan dan mengetikkan sesuatu.
"Rencana berhasil. Selamat ya~!"
Somewhere far from Neo Verona
Sebuah Hp berbunyi dan seorang pria berambut abu-abu melihat pesan yang ditujukan padanya. Ia tersenyum membacanya dan memperlihatkannya pada seorang wanita yang sedikit maskulin disampingnya. Wanita itu memberikan senyum bahagia dan memeluk pria itu. Mereka bergandengan tangan memasuki rumah kecil mereka.
-End-
Author's Notes : Maaf sekali kalau ceritanya gaje, entah kenapa saya merasa mebunuh para karakter yang ada disini! Oh ya saya rencananya mau membuat omake untuk cerita ini, bagi yang masih ga ngerti kenapa Rise ngetik SMS selama pembicaraannya dengan Souji. Dan kenapa saya memakai Adachi sebagai pembunuh bayaran padahal ga pantes? Saya...saya... pengen aja pake dia, daripada saya pake Doujima, atau Mitsuo.
Dan soal ayah-ayah dari pihak kedua keluarga. Mereka semua adalah OC. Dan sebuah fakta : Saya sama gilanya dengan ayah Naoto, berpikir suatu saat nanti bakal ada teknologi yang bisa buat cewek jadi cowok hahahaha..... . Dan saya menganti Nickname saya menjadi Licla (ketauan deh kalo saya cewek -dihajar pembaca yang sempat ngira saya cowok-)
Dan seperti biasa , kritik, saran, uang apalagi... -digebuk sefandom- saya terima dengan senang hati,maaf kalu belum sempat membalas review anda. maka silahkan klik kotak kecil dibawah ini =D
