Ini bukan yang pertama. Berulang kali. Menutup mata. Menulikan telinga.

Aku Jaejoong. Pria pendosa yang menjerat pria baik-baik dengan ikatan pernikahan dalam hukum yang sah.

...

Ting tong!

Bunyi bel pintu terus memanggil. Meminta perhatian lebih dari pemilik rumah. Bergegas melangahkan kaki. Membuat gerisik. Sesaat melihat jam dinding. Meyakini ini jam tiga pagi. Berhati-hati. Melihat dari camera CCTV. Seorang pria dengan stelan kemeja mahal koleksi musim panas. Itu Yochoon, gemas menekan bel pintu.

Sebuah hantaman tiba-tiba datang, membuatku terjungkal setelah membuka pintu. Nyeri baru terasa ketika pandangan menjelas. Rasa hangat langsung memenuhi hidung. Darah.

Perutku sesak. Diduduki oleh pria berumur yang menggeram bagai anjing bukanlah hal bagus.

"Fuck! What the hell are you doing!" Berteriak, tidak terima. Selisih detik, sebuah hantaman kembali didapat. Nyeri setelahnya.

"Kau yang brengsek, Hyung!" Sebuah hantaman kembali dilayangkan.

"Shit!" Menghujat. Membuat keadaan membalik. Beradu. Saling memukul.

"Semua salahmu!" Ia berteriak sambil membalas kerah bajuku. Berusaha membalikkan keadaan. "Semua salahmu!" Keadaan kembali berbalik.

Aku kembali berada di bawah. Menerima pukulan tepat diwajah. Bertubi-tubi. Tak berdaya.

Tertawa, mengingat masa lalu.

"Tidak ada yang lucu!" Geramnya.

Sudah seperti dulu dengan darah yang mengalir, sampai lelah. Kami laki-laki, tentu saja. Setelah lelah, kami tertawa. Tergeletak. Memandang langit rumah. Mengatur deru nafas yang tersengal.

"Sial! Rahangku kaku!" Yochoon menggerutu. Memijit pelan rahangnya. Bibirnya sobek karena pukulanku. "Ck, kau merusak wajahku!" Meringis menyentuh lebam di pipi.

Tertawa. Seperti pernah mendengar kalimat itu, kalimatku. "Kita laki-laki. Berkelahi itu sudah biasa..." Tertawa sebelum melanjutkan perkataan. "...Dulu itu perkataanmu."

"Itu dulu, sebelum kau meninggalkan kami dengan kontrak lagu." Kata Yochoon berniat menyindir.

"Masih ingat masa lalu?"

"Selalu seenaknya, tidak berubah." Yochoon menghembuskan nafas, lelah.

Canggung. Langit-langit serasa berputar. Bergerak menekan semakin dekat dengan lantai. Saling diam.

"Untuk apa kau kembali?" Tanyanya datar.

Diam tidak menjawab. Ia tahu. Bagaimana aku melarikan diri. Memalingkan wajah dengan malu. "Aku..." Tak jadi mengatakannya. Bahwa aku mencintai pria itu. Ini terasa menjijikan. Menginginkan kebahagian. Bagai pasangan normal. Tapi tidak. Aku pria. Dia pun sama. Berbicara seperti ini, dengan pria normal. Begitu memuakkan.

"Aku tidak akan membantu. Seperti ini lebih baik." Ungkapnya. Terdengar menyakitkan.

"Dua puluh satu tahun bukanlah waktu yang sebentar. Aku-" Kembali egois.

"Karena itu, bukankah itu cukup!" Yochoon berteriak. Jengah. Memposisikan dirinya duduk. Bersila dengan kepala menunduk. "Jangan egois, Hyung. Bukan hanya ada kalian. Ibunya, saudaranya, Keluargamu..." Kembali menghembuskan nafas. "...apa yang akan kau katakan, heh?" Suaranya terdengar lirih.

Aku menutup mata. Berusaha menulikan pendengaran. Ini bukan yang pertama.

"Aku benci kalian. Para idiot yang mengejar cinta yang salah. Lebih baik kau kembali. Tak ada yang bisa kau lakukan. Dia sudah memiliki orang lain. Walaupun tidak, asal itu tidak denganmu." Terdengar gerisik, diikuti langkah kaki. Pintu berberderit. Bunyi blam terdengar beberapa saat kemudian.

Perlahan membuka mata. Tanpa tertahan. Setetes air mata mengalir.

Musim panas, di usia 25. Sebuah kaleng tergelincir. Jatuh, menggelinding. Yochoon menatap kami. Penuh penyangkalan. Sorot mata terkejut. Bingung. Jijik.

Mematung. Beku, di ruang tamu. Refleksi kami tercetak di bola matanya. Jelas. Kondisi yang sama. Mematung, kaku.

Mendecak. Tetawa tak percaya. Ia berbalik meninggalkan rumah dengan perasaan labil.

"Yochoon! Dengar dulu!" Aku menghentikannya. Menahan lengan itu.

Ia berbalik. Menatap kami bergantian. Pandangannya acak.

"Kumohon." Pintaku.

Ia menghempaskan tanganku. Kasar. "Apa lagi, heh? Bagaimana bisa kalian begitu, Hyung..." Meninggikan suaranya. "...bagaimana kalian bisa berciuman seperti itu, Hyung!"

Aku menunduk. "Aku-"

"Ini salahku." Suara Yunho menginterupsi.

Yochoon mendecak. Dengan langkah cepat ia berjalan, meninggalkan rumah. Aku hanya diam mematung. Tak berani melihat. Yunho mengejarnya. Ribut. Suara Yochoon mendominasi.

"Kalian menyedihkan!" Yochoon berteriak. Beberapa saat kemudian. Suara mobilnya terdengar, semakin lama semakin menjauh.

Perlahan, melangkahkan kaki keluar rumah. Yunho bersungkur di jalan. Wajah lebam. Sudut bibirnya sobek. Aku hanya diam. Mematung di ambang pintu. Menatap. Tak tahu harus apa. Ia menahan erangan saat memposiskan diri untuk duduk. Membersihkan kerikil kecil yang mengotori bajunya. Perlahan melihat jalan dengan pandangan nanar. Rautnya berubah ketika melihatku. Tersenyum. Ia berdiri. Berjalan seakan tak terjadi apapun.

"Aku baik-baik saja." Ungkapnya sambil tersenyum. Dahi kami saling menempel. "Semuanya akan baik-baik saja."

...

Bandara Incheon. Pukul sembilan malam. Kumpulan orang menunggu. Pria dan wanita. Berkumpul, dengan cemas. Membawa poster potret idola. Meneriakkan satu nama, MinA. Artis pendatang baru yang memulai debutnya lima tahun lalu. Artis rangking satu Agensi SE.

Bukan, bukan ia yang ditunggu. Seseorang yang bersamanya. Pria yang kukenal. Parter dalam JYJ, Junsu.

Menunggu sejak pagi tadi, di coffee bar, kawasan restroom bandara. Satu yang mereka, para fans, tidak tahu. Sedikit mengulang masa lalu. Yang tidak ingin terkepung puluhan masa. Cara kami menghindar. Berkutat di coffee bar. Sampai pihak managemen menjemput.

Aku duduk. Membaca artikel melalui ipad. Memastikan jadwal kedatangan pesawat tepat. Melihat jam.

Seorang pria dengan stelan kemeja hitam masuk. Ia memakai kaca mata baca berbingkai metalic. Berjalan mendekati seorang wanita bersweater ungu dengan hoodie yang terpasang di kepala. Heh, tabiat artis. Menyamar.

Menyunggingkan senyum. Meninggalkan beberapa lembar uang di meja. Berjalan, sambil menarik koper. Melewati mereka.

Sengaja. Menggelincirkan ipad, lepas dari tangan. Bunyi gaduh. Membuat menjadi pusat perhatian.

"Biar ku bantu." Pria itu berjongkok. Memungut pecahan elemen elektronik.

"Terima kasih."

"Tak apa." Ujarnya. Ia mengangkat wajahnya. Pandangan kami bertemu. Hening sesaat. "Hyung?" Matanya yang sipit, sedikit membesar.

"Junsu?"

...

a/n : Tak suka capcus. Btw episode kemaren jelek banget yah. Masih ga ngerti? Yah seiring bertambahnya cerita pasti ngerti kok. Soalnya. Klo bisa di bilang ini fic perlu konsentrasi pas bacanya. jadi gw cmn apdet kurang dari 500 kata. Supaya ga bosen tetapi kekurangannya yah bgitulah. Cerita ini akan sulit di pahami karena semua Jae POV. Jadi, itu semua yang di ketahui Jae. Jae ga tau kan kisah di balik Yunho ga balik2, kaya bang ini di klimaks pasti ketahuan.

Oke, yang msh ga ngerti. autor kasih garis besarnya. Ceritanya, Yunjae, kawin lari ke Kanada. Trus suatu ketika Yunho balik ke Korea, janjinya cmn brp bulan. tapi ga balik2. Isunya dia pnya pacar di Korea. Jae ga terima, baliklah dia ke Korea. Dah. Itu doang. Kedepannya masih rahasia. apakah Jae, sama Yunho cerai. Atau balik ke kanada. Atau Jae bunuh diri. Atau Jae lebih milih autor sebagai istrnya. Wkwkwk