Yeahh, meski aku tau fic yang ini ancur-ancuran dan gaje akhirnya aku tetep nekad melanjutkan.. :-D
Kan gak etis kalo berhenti sampe di situ ajah.. Heuheu
Coba bales repiu dulu ya..
Haruno Aoi: Gomen senpai atas kesalahan-kesalahan dalam penulisannya, banyak yang kelewat soalnya chapter itu dibikin lewat hp saat sekolah. *Ngles*
Soal Naruto yang suka makan up*l itu spontan dari pikiranku saat memikirkan suatu kelainan yang cocok untuk Naruto. Haha.
Makasih atas saran-sarannya, sangatt membantu. Soal ga kasih spasi seudah tanda titik bisa ngilangin sebagian kalimat, itu udah aku alamin loh! di first fic aku, aku dibuat stres olehnya, hehe
Soal kmiskinan Naruto, pantengin aja cahp2 selanjutnya :-D
Ul-chan: Gue mah udh gamempan apotek, RSJ ul.. :D
entahlah,gue rasa humornya emang kurang banget.
dri awal gue salah di penggunaan katanya, jadi kaya terlalu formal.. au dah.. :-D
gue masukin humor karena ada upilnya aja,soalnya kalo cuma masukin romance entar aneh,gkgk
Azzahra Shapprine's : yang gile tuh yang bikin ceritanya, kasian Naruto udh miskin,tukang ngupil,dikatain bau conge,bau cubluk, dikatain gile pula :D
mungkin 3 atau 4 chapter... ga akan banyak-banyak kooo ^^
Chapter 2 cekidott..
.
.
.
Naruto is Masashi K
.
Upil I'm in Love [NaruHina]
.
Enjoy it
.
Pagi itu kelas XI IPA 2 *Kelas Naruto* sangat ramai. Ini memang sudah biasa terjadi setiap pagi sebelum KBM dimulai, namun kali ini agak sedikit berbeda, mereka kompak menggosipkan satu tema yang sama.
"Kira-kira diapain yak ampe pingsan begitu? Ih jangan-jangan si cebong itu.." Suara wanita yang berbisik-bisik itu terdengar sayup.
Ya, mereka sedang menggosipkan seorang murid yang memang sudah jadi langganan bulan-bulanan di kelas itu, siapa lagi kalau bukan Naruto Uzumaki. Gosip tentang Hinata yang pingsan saat dia berduaan di gudang sudah menyebar luas setidaknya di kelas IPA 2 itu. Bagaimana tidak, ini terbilang aneh, yang pertama adalah bagaimana bisa Hinata berduaan dengan Naruto di gudang? Yang kedua adalah apa yang dilakukan Naruto terhadap Hinata sampai dia pingsan? .
Pintu kelas bergeser, menampakan sosok cantik berambut indigo yang nampaknya malu-malu untuk masuk ke dalam kelas, dia sudah tau tentang gosip yang menerpa dirinya itu.
"Hinata,sebenernya elu abis ngapain sama si cebong anyut di gudang kemaren?" Tanpa menunggu Hinata duduk dulu, Sakura sudah mengintrogasinya.
"A-aku hanya mengajak Naruto keliling-keliling rumahku saja," Hinata menjawab agak gugup.
"Kalo cuma itu alesannya, kenapa lu ngajak si Cebong ke gudang? Kan masih ada ruangan lain kali? Trus kalo emang lu mau ngajak keliling rumah lu, kenapa lu gak ngajak gue sama Sasuke, eh?" Sakura memajukan wajahnya 5 senti setiap dia melontarkan sebuah pertanyaan, alhasil sekarang jarak wajah Sakura dan Hinata hanya beberapa centi.
"Eh.. Itu.. Hmmm.. " Hinata bingung harus menjawab apa,dia hanya memainkan 2 jari telunjuknya seperti biasa.
"Si cubluk itu pasti ngapa-ngapain elu ya, Hinata?" Tambah Kiba yang sedari tadi memperhatikan mimik muka Hinata.
"Maksud lu apa, Anj*ng kampung?" Naruto yang baru datang ke kelas itu marah ketika mendengar apa yang Kiba bicarakan.
"Elu pasti manfaatin kesempatan waktu berduaan di gudang itu kan, cubluk?" Kiba emosi ketika dia dipanggil anj*ng kampung oleh Naruto.
"Iya, lu pasti macem-macemin Hinata kan, cebong?" Sakura ikut-ikutan mengompori.
"Iya tuh iya, gak mungkin engga. " Suara anak-anak lainnya di kelas itu berbisik lagi.
"..." Naruto diam sebentar, merasakan hawa panas menjalar di sekujur tubuhnya.
"Bukan gitu! Hinata ngajak gue ke gudang karena gue minta Hinata buat pergi ke tempat yang sepi di rumahnye karna gue malu kalo harus ngupil and makan tu upil di tempat yang ada orang lainnya! Waktu itu gue gak bisa nahan lagi kebiasaan gue yang satu itu! Udah gitu pas gue mau makan upil gue kayak biasanya, Hinata jatoh dan dia gak sengaja nelen upil gue, dia shock dan pingsan! Waktu itu gue udah sakau pengen ngupil!" Naruto spontan mengeluarkan kata-kata itu dengan penuh amarah, hal itu sukses membuat teman-teman Naruto bengong, tidak percaya ada orang yang mempunyai kebiasaan seperti itu.
"Hahahaha hahahah. " Mereka kemudian tertawa terbahak-bahak sambil memandangi Naruto yang kini malu pasca mengutarakan rahasianya yang selama ini dia jaga baik-baik agar tidak ada siapapun yang mengetahuinya.
Hinata yang mengerti perasaan Naruto sekarang mengajak Naruto keluar kelas.
Hinata mengajak Naruto ke taman sekolah, Naruto pun duduk masih dengan wajah yang tanpa ekspresi.
"Naruto-kun, aku minta maaf.. "
".." Naruto terdiam.
"Naruto-kun.." Hinata merangkul tubuh Naruto yang bau cubluk itu, membiarkan dia merasa tenang di pelukannya.
"Makasih, Hinata.. Makasih lu udah mau jadi temen gue. "
Hinata tak menjawab,dia hanya tersenyum selagi mengeratkan pelukannya.
.
.
-Upil I'm in Love-
RnR please
.
.
Kurenai-sensei memasuki ruangan kelas XI IPA 2, membuat semua murid terdiam termasuk Naruto yang mamang sudah sedari tadi terdiam.
"Hari ini, aku tidak sendiri memasuki kelas ini, aku akan memperkenalkan siswi yang akan menjadi teman baru kalian. " Kurenai-sensei memberi jeda,lalu mempersilahkan seseorang untuk masuk ke kelas.
Spontan kelas itu menjadi ricuh oleh siulan para murid laki-laki di kelas itu ketika seorang gadis berambut blonde yang cantik dan imut memasuki kelas. Kurenai-sensei kemudian mempersilahkan gadis itu untuk memperkenalkan diri.
"Okey, namaku adalah Yamanaka Ino, kalian bisa memanggilku Ino. Aku sekolah di Konoha Junior High School sebelum aku pindah ke Paris karena ayahku bertugas kesana, dan aku terpaksa melanjutkan sekolah SMA di sana sampai akhirnya aku pindah lagi ke jepang dan berniat melanjutkan sekolahku di Konoha Senior High School ini. Salam kenal. " Ino membungkukan badannya.
"Oke Yamanaka, kamu boleh duduk di bangku yang kosong." Kurenai menunjuk beberapa bangku yang memang masih kosong.
Ino melihat-lihat bangku yang kosong disana sebelum memutuskan untuk menghampiri bangku yang terletak di sebelah bangku pemuda tampan berambut raven.
"May I, Uchiha Sasuke?" Ino bertanya pada seseorang yang wajahnya dia lihat di mading sekolah sebelum dia memasuki kelas itu.
"Hn, " Sasuke menjawab singkat seperti biasanya.
Ini merupakan keajaiban, biasanya Sasuke tidak pernah sekalipun mengizinkan seseorang duduk di sebelahnya.
"Bisa-bisanya dia duduk di sebelah Sasuke! Awas kau kuda pirang!" Sakura yang sedari dulu memimpikan duduk di bangku itu geram.
Kurenai-sensei pun memulai pelajaran bahasa Inggrisnya, mapel ini adalah mapel yang paling dibenci oleh semua anak kelas IPA 2. Tapi tak seperti biasanya, ada seorang anak yang aktif saat mapel itu, si anak baru.
Tampaknya dia sudah terbiasa menggunakan bahasa Inggris sehingga dia berbeda dengan murid-murid yang lainnya di kelas itu dan hal itu membuat murid yang lain kagum,tak terkecuali Sasuke.
Sasuke merasa nyaman dengan Ino, meskipun dia anak yang bawel dan sedikit merepotkan, tapi dia tidak seperti siswi lain yang norak akan ketampanan Sasuke, mungkin Ino sudah terbiasa melihat pria yang jauh lebih tampan dari Sasuke.
Jam pelajaran Kurenai-sensei akhirnya selesai dan digantikan oleh pelajaran Kakashi-sensei.
Pertemuan kali ini hanya membahas soal kesulitan-kesulitan para murid dalam mengerjakan tugas kelompok. Ino yang merasa belum mempunyai kelompok mempertanyakan hal itu kepada Kakashi.
Ino mengangkat tangan, "Sensei, saya murid baru di kelas ini dan saya tidak tahu-menahu soal tugas ini, saya juga belum mempunyai kelompok. Bisakah anda menjelaskan ulang tentang tugas ini dan memasukan saya ke dalam salah satu kelompok di kelas ini?"
Ino yang berbicara dengan sangat sopan dan disertai senyuman manis membuat Kakashi melting.
"Kau boleh memilih kelompok mana saja yang kau mau dan kau bisa meminta anggota kelompokmu untuk menjelaskannya ulang, Nona." Kakashi menjawab dengan nada genit.
"Bisakah anda menunjuknya? Saya tidak mau terkesan memilih-milih teman di sini, sensei" Pinta Ino -lagi.
"Baiklah, Sakura,Sasuke,Naruto dan Hinata, apakah kalian tidak keberatan jika Ino bergabung di tim 7?"
Sakura yang tidak mau gadis blonde itu semakin dekat dengan sasuke mencoba membantahnya,namun ternyata Sasuke sudah mendahuluinya.
"Dia akan satu kelompok denganku." Pernyataan Sasuke disusul oleh Naruto dan Hinata yang sependapat dengan Sasuke dan itu membuat Sakura mau tidak mau harus menurutinya jika tidak ingin mendapatkan deathglare dari sang Uchiha.
Pelajaran Pkn pun terus dilanjutkan hingga bel istirahat tiba.
"Kau pasti belum tau kantin di sekolah ini, mau pergi bersama?" Sasuke mengajak Ino ke kantin dengan tetap mempertahankan ke'jaim'annya.
"Tidak, Sasuke-kun. Arigatou."
"Hn," Sasuke pun melangkahkan kaki ke kantin meski dia kecewa karena untuk pertama kalinya dia mendapatkan penolakan dari seorang gadis.
Belum sampai Sasuke keluar dari kelas, dia mendengar Ino memanggil seseorang, sasuke menghentikan langkahnya di dekat pintu.
"Naruto-kun! Kau mau kemana?" Ino berteriak memanggil Naruto yang hendak keluar juga.
"Kantin, nape? Lu mau ngikut?" Jawab Naruto dengan nada acuh tak acuh.
"Aku ikuuuuut!" Nada bicara Ino terdengar manja, dia langsung bangun dari tempat duduknya dan menghampiri Naruto.
"Whats? Cewek itu gak normal apa katarak? Semua cewek di sekolah ini ngefans sama gue, kalo mereka gue ajak ke kantin bareng pasti pada melting. Lah dia? Ko malah lebih milih sama si cubluk? Gila!" Sasuke membatin sebelum dia meneruskan langkahnya keluar kelas.
Tiba di kantin, Ino dan Naruto duduk di bangku yang bersebrangan dengan bangku Sasuke. Sasuke memperhatikan gerak-gerik Ino pada Naruto yang sangat berbeda dari gerak-gerik Ino ketika sedang bersamanya.
"Hei cantik, buat apa lu deket-deket sama si tukang ngupil ini eh?" Seorang berambut coklat yang memiliki gigi taring yang cukup panjang merasa tidak suka ada yang dekat-dekat dengan Naruto, baginya Naruto adalah orang yang wajib dijauhi.
"Bukannya itu hak gue mau deket sama siapa aja heh? Lagian apa maksud lu coba bilang dia tukang ngupil, dia baik ko sama gue!" Ino membela Naruto.
"Dia itu punya hobi ngupil, terus upilnya dimakan, dia itu udah kecanduan,tanya aja sama dia! Lu gak jijik apa?" Laki-laki beranama Kiba itu mulai merasa perempuan cantik di hadapannya itu nyolot.
"Emang gue peduli? Mau dia suka makan beol juga gue gak peduli! Pergi lu sana ah, ga penting banget idup lu!" Ino mengusir Kiba dari hadapannya.
Naruto tidak percaya gadis secantik Ino mau membelanya seperti itu dan entah mengapa Sasuke yang sedari tadi menyaksikan kejadian itu tidak menyukai tingkah Ino yang itu sehingga memutuskan untuk pergi meninggalkan kantin.
.
.
-Upil I'm in Love-
RnR please
.
.
Hari demi hari berlalu, Sasuke yang masih memusatkan perhatian pada gadis Yamanaka itu semakin heran atas tingkah gadis itu yang selalu mengacuhkannya dan malah menempel ke Naruto cubluk itu.
Ya, Ino terlihat sangat dekat dengan Naruto. Saat belajar di kelas mereka terus bersama, ke kantin juga sama-sama, saat mengerjakan tugas kelompok mereka paling sering bercanda, pokoknya dimana ada Naruto di situ ada Ino Yamanaka. Membuat Sasuke yang kini sadar akan perasaannya pada Ino kian frustasi.
"Ino, apa kau menyukai seseorang di kelas ini?" Sasuke tiba-tiba bertanya ketika Ino dan dirinya tengah sama-sama santai di tempat duduknya yang berdekatan.
"Sepertinya begitu, kenapa Sasu?" Ino memasang wajah so' manisnya.
"Tidak, apa dia Naruto?"
"Hmm, kau sangat ingin tahu ya? Nanti juga kau tahu siapa.. "
"Jawab saja! Narutokah orangnya?" Sasuke mulai kesal dengan tingkah Ino.
"Kenapa kau ini? Aku suka juga sih pada Naruto-kun, dia itu unik. Dia berbeda dengan dirimu dan yang lainnya, kebiasaannya ngupil itu juga lucu. Hahaha. Tapi... " Ino yang sempat tertawa menghentikan tawanya untuk melanjutkan pembicaraan.
"Cukup." Nada bicara Sasuke kembali dingin, berdiri dari tempat duduknya dan pergi meninggalkan kelas.
"Kenapa dia itu? Dasar an..." Perkataan Ino terpotong kala ia melihat Naruto yang pergi keluar kelas dnegan mengendap-ngendap.
Ino terus mengikuti langkah Naruto yang masih belum jelas mau pergi kemana. Ino terus berjalan menyusuri koridor sekolah, melewati beberapa kelas, sampai dia mendapati Naruto menaiki tangga barulah dia tau kemana tujuan Naruto di pintu yang menghubungkan tangga dengan atap sekolah, Ino menghentikan langkahnya dan memutuskan untuk mengintipi apa yang sedang dilakukan Naruto.
Dilihatnya Naruto yang sedang memainkan benda lengket yang didapat dari hidungnya, kemudian dia memasukannya ke dalam mulutnya.
"Ternyata kebiasaan ngupil Naruto-kun yang dibilang orang-orang itu benar ya. Hihihi.. " Ino terkikih melihat apa yang sedang dilakukan Naruto.
Seperti berdejavu, Naruto merasakan hal yang sama seperti ketika dia dipergoki Hinata ketika dia sedang ngupil.
Kali ini lebih salting, mengingat Ino sudah beberapa hari ini dekat dengannya.
"E-elu! Ngapain di sini?" Naruto gagap.
"Santai saja , aku suka ko melihatmu ngupil.. Unik.." Ino mendekatkan dirinya pada Naruto sambil tersenyum.
"Hah? Lu sedeng, ya?" Jawab Naruto heran.
"Hahaha, sejak kapan Naruto-kun suka ngupil? Cerita dong!"
"Sejak gue mulai bisa berpikir dan nanyain tentang keberadaan bokap gue ke nyokap. Dari kecil gue hidup melarat sama nyokap gue di daerah yang jauh dari Konoha sini, bokap gue ngilang sejak gue belom lahir. Waktu itu gue masih umur 5 taun, gue mulai nanyain keberadaan bokap gue ke nyokap. Waktu itu nyokap gue bilang, bokap gue merantau buat nyari duit sampe sekarang belom balik-balik. Gue nanyain ciri-ciri bokap gue kaya gimana, nyokap gue bilang bokap gue itu demen banget ngupil, dari situ gue mikir buat niruin kebiasaan bokap gue. Awalnya sih gue juga jijik, tapi sampe sekarang malah ketagihan." Naruto mulai mendongeng.
"Emangnya ayah kamu merantau kemana?" Ino yang sedari tadi setia mendengarkan cerita Naruto angkat bicara.
"Katanya sih ke Konoha sini, karna di sini tuh bokap gue punya banyak sodara. Karna itu juga gue ama nyokap gue pindah ke Konoha, tapi ampe sekarang gue belom nemuin dia.. Padahal gue niru kebiasaan dia ngupil juga tadinya biar bisa lebih gampang nyari dia, kali aja gitu sewaktu-waktu dia ngeliat gue yang lagi asik ngupil terus bisa ngerasain ikatan itu. Alesan gue tahan sekolah disini juga kaga jauh beda, gue yakin bokap gue udah kaya sekarang, makanya gue sekolah di sekolah yang banyak orang kayanya."
"Gitu ya.. What a pity.." Ino menampakan rasa simpatinya.
"Hah? Kepiting? Ngapa jadi nyambung ke kepiting oy?" Tanya Naruto bingung.
"Bakaaaaa! Bukan kepiting! Tapi What a pity!" Wajah simpati Ino berubah menjadi wajah monster yang menyeramkan yang kemudian membuat Naruto kabur ke dalam gedung sekolah.
.
.
-Upil I'm in Love-
RnR please
.
.
Pagi itu cuaca Konoha mendung, semendung hati Hinata sejak kedatangan Ino yang terus mendekati Naruto.
Sama seperti Sasuke,Hinata juga sering memperhatikan kedekatan Ino dan Naruto yang membuat hubungan Naruto dengan dirinya sedikit menjauh. Naruto tidak menjauh, tapi dia tidak mendekat, padahal Hinata sangat ingin lebih dekat dengan Naruto.
"Mungkin aku yang harus lebih mendekat pada Naruto-kun.." Inner Hinata itu menuntunnya untuk bergegas menghampiri Naruto di tempat duduknya.
"Ohayou Naruto-kun.." Hinata memberanikan diri menyapa Naruto yang sedang asik membaca komik.
"Ohayou Hinata.. " Naruto menjawabnya singkat.
"Apa kau sudah makan? Aku membawakan bekal untukmu.." Hinata lagi-lagi membuatkan makan pagi yang dia simpan di kotak bekal berwarna ungu muda yang cantik itu.
"Wah.. Elu emang the best deh Hinata! Kebeneran gue lagi laper! Upil gue tadi pagi kecil, jadi ga kenyang!" Naruto yang sedari tadi asik membaca komik langsung menyambar kotak makanan itu dan membukanya, membuat Hinata tersenyum senang.
Baru saja Naruto akan menyuapkan makanan dari kotak bekal yang diberikan Hinata ke mulutnya, Seorang pengganggu datang.
"Naruto-kun!" Ino, itu suara Ino.
"Apa sih? Berisik banget lu tuh! Ga tau apa gue lagi mau makan!" Naruto sedikit membentak Ino, *Yaialah,orang lagi laper,mau makan,digangguin,siapa yang kagak ngadat?*
"Ayo ikut aku! Ada sesuatu yang perlu aku bicarakan! Ini menyangkut Hidup dan mati!" Ino yang begitu semangat mengeluarkan kata demi kata dari mulutnya itu langsung menarik tangan Naruto dan pergi dari kelas, Meninggalkan Hinata sendiri.
Tanpa memperdulikan Hinata yang sudah membuatkan Naruto makanan, Ino membawa Naruto lari begitu saja sampai ke atap sekolah.
"Ada apa sih ni?" Naruto benar-benar emosi ketika mereka sudah sampai di atap.
"Aku punya kabar gembira!"
"Iye apa? Gue lapar tauk! Ga ada yang lebih menggembirakan daripada kotak bekal dari Hinata tadi!"
"Aku tahu siapa ayahmu! Ya! Selama ini aku berfikir wajahmu sangat mirip seseorang yang ku kenal, dan baru saja kemarin aku mengetahui bahwa orang yang mirip denganmu itu dari dulu punya kebiasaan yang sama joroknya sama kamu! NGEGALI IDUNG!"
"HAH?"
Tbc aja ahh biar pada penasaran :-D
.
.
-Upil I'm in Love-
RnR please
.
.
kata pamungkas *bambang kali ahh pamungkas :D :
Gaje?
-emang
Abal?
-emang
sampah?
-emang
Gak rapi?
-emang
Mau ng-flame?
-Silahkan,karena mungkin Flame bagi sebagian orang adalah sebuah seni tersendiri untuk memberikan suport kepada author..
hehe,
Arigatou!
*ngakak guling-gulingan baca kegajean chapter 2 ini..
makin gaje n makin ilang humornya ya pemirsah ,
