Lanjutin lagi fic'nyaaaa..
Hm..
Sebenernya bingung sih, takut jadi makin gaje..
Tapi gimana lagi, wkwk
.
Bls repiu:
SitiNaruzaul:
Hahaha,terlalu vulgar ya upilnya? Gomen senpai.. ^^
Harusnya dikasih warning yah sebelum ceritanya, kalo fic ini bisa bikin mual-mual, haha,
Makasih sudah meluangkan waktu buat baca dan review :-)
Amexki chan: hahaha, dalem ngupilnya maksudnya? wkwkwk
NaruHina.a disempelin dikit-dikit, nanti di last chap di bahas sampe tuntas :-D
Haruno Aoi: Nah, Nanti ketemu ko di chap ini, xixi..
Makan malem dulu yaa sbelum baca,, :-*
.
.
.
Naruto is Masashi K
.
Upil I'm in Love [NaruHina]
.
Enjoy it
.
"Aku punya kabar gembira!"
"Iye apa? Gue lapar tauk! Ga ada yang lebih menggembirakan daripada kotak bekal dari Hinata tadi!"
"Aku tahu siapa ayahmu! Ya! Selama ini aku berfikir wajahmu sangat mirip seseorang yang ku kenal, dan baru saja kemarin aku mengetahui bahwa orang yang mirip denganmu itu dari dulu punya kebiasaan yang sama joroknya sama kamu! NGEGALI IDUNG!"
"HAH?
"Iya Naruto-kun! Aku baru mengingatnya! Selama ini aku selalu mencoba mengingat seseorang yang punya wajah yang mirip denganmu, dan sekarang aku baru ingat dia siapa! Dia pamanku, kemarin aku membuka album keluarga bersama ibuku, lalu ibuku mulai bercerita tentang kebiasaan aneh pamanku yang sama sepertimu! Mungkin saja dia ayahmu, Na-kun!" Ino terlihat sangat semangat.
"Kau yakin?" Naruto menggungcangkan bahu Ino.
"Pertemukan aku dengannya!"
"Sekarang dia masih di Barcelona.. " Ino sedikit memudarkan senyumnya.
"Gak apa-apa Ino, kalo paman lu pulang nanti lu pasti nemuin gue ama dia kan?" Naruto mencoba menghibur dirinya sendiri.
"Pasti, tuan upil!"
"Gue berterima kasih sama lu, Ino Yamanaka jelek." Naruto langsung memeluk Ino.
Naruto memeluk Ino cukup lama, cukup lama untuk membuat Hinata yang tadinya mau merefresh otaknya di atap itu merasakan sakit yang teramat sakit ketika melihat Naruto yang memeluk Ino begitu hangat.
Hinata yang benar-benar kecewa pada Naruto memutuskan untuk pergi, dia tak mau lebih lama melihat kejadian itu.
Ketika Hinata hendak menuruni tangga, tak sengaja kakinya menyenggol ember alumunium yang ada di tangga hingga jatuh dan menimbulkan suara bising.
Prang! Preng! Prang! *ceritanya suara ember yang jatoh :-D *
"Siapa tuh?" Ino melepaskan pelukan Naruto dan mulai melangkahkan kakinya ke arah pintu dan Naruto mengikutinya.
"G-go-gomen n-nee N-naruto-ku..n..!" Tubuh Hinata bergetar seperti orang kedinginan.
Hinata marah, kecewa, dan kini teramat malu. Hinata tak habis pikir Naruto lebih memilih Ino yang baru akhir-akhir ini muncul dalam kehidupannya daripada dirinya yang sudah sejak lama menemani Naruto, Hinata tau Ino lebih cantik dari dirinya, Ino juga punya kepribadian yang periang dan hangat yang menurutnya cocok untuk Naruto, tapi Hinata merasa lebih berhak bersama Naruto karena dia lebih dulu bersama Naruto. Tapi sekarang perasaan marah dan kecewanya itu tidak ada apa-apanya dibandingkan rasa malu yang dirasakannya, bagaimana tidak, sekarang dua orang yang tadi tengah berpelukan itu ada di hadapannya dan tahu bahwa dirinya memergoki mereka.
"Gak apa-apa Hina-chan. Lu ada perlu sama gue?" Naruto berbicara dengan santai.
"T-ti-dak Naru-kun.. A-ku hanya ingin mencari udara segar tadi. Permisi!" Hinata membalikan badannya kemudian berlari menuruni tangga dengan bulir-bulir bening yang terurai dari mata lavendernya.
"Kenapa dia, Na-kun?" Ino heran melihat sikap Hinata.
"Gak tau, dia emang aneh dari dulu juga. Hahaha, ke kelas yuk!" Naruto memegang tangan Ino kemudian berjalan menuruni tangga.
Pintu kelas bergeser, laki-laki berambut raven yang sedang sibuk membaca mengarahkan matanya pada sosok yang muncul diantara pintu yang bergeser itu. Dia hampir tak bisa menahan amarahnya lagi kala melihat tangan gadis blonde pujaannya itu digenggam oleh pria kumel berbau cubluk yang berjalan dipinggirnya.
"Berhenti Naruto!" Sasuke memerintah dengan nada yang dingin.
"Apa, teme?" Naruto yang hendak mengampiri tempat duduknya berhenti sesuai perintah Sasuke.
Sasuke mendekat pada laki-laki berambut pirang itu selagi mengepalkan tangannya semakin erat.
"Pulang sekolah besok kita kerja kelompok lagi di rumah Sakura." Sasuke berbisik lalu meneruskan langkahnya keluar kelas.
Ino yang merasa tidak dianggap oleh Sasuke hanya bisa terdiam heran dengan pria raven itu. Ino sama sekali tidak sadar bahwa Sasuke sedang memperlihatkan kecemburuannya.
.
.
-Upil I'm in Love-
RnR please
.
.
Siang itu awan menutupi sinar matahari sehingga cuaca tidak begitu panas di Konoha. Para siswa KHS lalu lalang di depan gerbang, ada yang menunggu jemputan, ada yang menunggu bis maupun taksi untuk pulang.
Naruto, Sakura, Hinata dan Ino kini sedang menunggu sesosok pria bermarga Uchiha di depan parkiran KHS.
Tak lama, sosok yang ditunggu-tunggu itu akhirnya datang dengan motor yang berwarna senada dengan rambutnya.
"Nah, berhubung Sasuke-kun tidak mungkin meninggalkan motornya di sini lagi, Na-kun, Sakura-chan dan Hinata-chan naik mobil Hinata-chan saja. Biar aku menemani Sasuke-kun dengan motornya menyusul kalian ke rumah Sakura-chan." Ino yang bicara dengan semangat mendapatkan deathglare dari Sakura.
"Ayo naik.. " Sebelum Sasuke menyelesaikan bicaranya, Ino tersenyum dan mulai melangkahkan kakinya mendekat kearah jok belakang motor Sasuke.
"Sakura.."
DEG! Ino spontan menghentikan langkahnya dan memudarkan senyumnya.
Entah kenapa, Sasuke yang biasanya risih jika dekat-dekat dengan Sakura yang centilnya seperti cacing kepanasan dan selalu ingin bersama Ino sekarang justru bersikap sebaliknya.
"Sasuke! Kau ini apa-apaan?" Tanpa basa-basi Ino menyemprot Sasuke.
"Bukannya kau senang bisa terus bersama dia tanpa dihalangi olehku?" Sasuke sama sekali tidak menoleh ke arah Ino.
The show *The journey tepatnya* must go on, Sasuke dan Sakura terlebih dulu ke rumah Sakura disusul oleh Ino, Hinata dan Naruto dengan limousine Hinata.
Mungkin sekarang Sasuke sedang mencoba melupakan Ino dan mencoba mendekatkan dirinya kepada sosok gadis berambut soft pink yang dari dulu memujanya. Mungkin juga Sasuke sekarang sedang memberikan kesempatan kepada Ino dan laki-laki yang disukainya untuk lebih sering bersama.
Tapi tanpa Sasuke sadari tingkahnya itu membuat Hinata kesal karena dia tidak suka melihat Naruto dan Ino lagi-lagi bersama.
Motor Sasuke berhenti di depan pintu rumah Sakura. Setelah Sakura turun, Sasuke memarkirkan motor kesayangannya itu.
"Arigatou Sasuke-kun!" Sakura menggandeng tangan Sasuke.
"Hn."
Mereka masuk rumah Sakura yang kosong *karena ayah dan ibunya masih bekerja* tanpa menunggu teman-teman yang lainnya datang.
Sasuke kemudian mengeluarkan laptop yang lagi-lagi warnanya senada dengan rambutnya dari tas sekolah yang sedari tadi dia gendong setelah ia duduk di ruangan khusus belajar Sakura.
"Sasu.." Sakura memecah keheningan di ruangan itu.
"Hn, " Pandangan Sasuke masih tertuju ke layar laptopnya.
"Kau menyukai si rambut kuda?" Tanya Sakura pelan.
"Siapa?"
"Ino si rambut kuda pirang.."
"Hn, Tidak masalah kan bagimu?" Sasuke menatap wajah Sakura.
"Ya.. Sekarang aku sudah menyerah.."
"Arigatou.. " Sasuke mengecup kening Sakura, Sakura yang sudah tahu ini adalah kecupan perminta maafan dari Sasuke hanya bisa menikmatinya.
.
Belum bibir Sasuke terlepas dari kening Sakura, seseorang datang dari pintu ruangan di mana Sasuke dan Sakura berada. Ketika Sasuke melihat orang itu, dia berharap orang itu akan mecemburuinya.
"Ehem.. Maaf ya gue ganggu.." Ino kemudian masuk dengan cuek, sama sekali tidak memperlihatkan bahwa dia sedang cemburu.
"Yang lain mana, da?" Sakura tak menghiraukan perkataan Ino sebelumnya.
"Masih di depan, lagi pada buka sepatu." Perempuan pirang itu langsung duduk dan membuka laptop ungunya.
Tak lama dari itu, si rambut indigo dan si kucel datang. Acara kerja kelompok mereka pun berlangsung tanpa kecanggungan, kecuali Sasuke dan Hinata yang sama-sama sedang patah hati.
Sasuke dan Hinata tampak lebih serius saat mengerjakan tugas mereka dibandingkan yang lainnya, mereka kan punya kepribadian yang sama-sama pendiam jadi ini tidak membuat yang lainnya curiga.
"Hinata, ayahmu itu yang punya KHS kan?" Sakura basa-basi setelah selesai mengerjakan tugas bagiannya.
"Bisa dibilang begitu, tapi bukan sepenuhnya milik ayahku. Yang ku tahu ayahku hanya memilik 20% aset KHS. Sisanya itu milik sahabatnya. Ayahku kan sebenarnya tidak berfokus pada KHS, hanya saja saat itu sahabatnya meminta dia untuk join.."
"Yang punya 80% nya itu adik dari ibuku." Ino menyela.
"Hah? Ternyata lu punya sodara yang kaya ya! Gue kira lu orang biasa.." Sakura sedikit sewot.
"Yaialah, lu pikir gue pindah-pindah negara gara-gara keluarga gue miskin dan dikejar depkolektor? Dari muka aja udah ketauan kali gue orang kaya, whahahahaha!"
"Kau ini bisa saja, Ino-chan!" Naruto mengacak-ngacak rambut Ino manja.
Tingkah Naruto itu benar-benar membuat Sasuke kesal.
"Aku pamit pulang, kakaku menyuruhku pulang sekarang juga." Ucap Sasuke sambil berdiri dan kemudian keluar dari ruangannya.
"Kenapa dia itu? Kapan dia terlihat menelepon atau membaca sms dari kakaknya yang menyuruh dia segera pulang? Sedeng." Ino mendengus kesal.
"Sesama uchiha bisa pake telepati kali.. " Naruto menjawab.
.
.
-Upil I'm in Love-
RnR please
.
.
Ino memandangi bangku di sebelahnya yang sudah 10 hari ini kosong. Sasuke pergi berlibur ke Milan bersama kakaknya, membuat Ino terpaksa duduk sendiri untuk dua minggu. Untung saja masih ada Naruto yang setia menemaninya, beberapa kali Naruto mengisi bangku yang kosong itu. Ya, setidaknya Naruto itu lebih asik dari pada Sasuke.
Lagi-lagi Ino membuat Hinata cemburu berat.
Drrrt Drrrt.
Hp Ino bergetar.
.
.
1 message from: Mom :-*
"Ino sayang, nanti pulang sekolah kamu langsung ke rumah ya.. Jangan kelayapan dulu! Minato ji-chan akan pulang, dia bilang da membawa oleh-oleh untuk kamu."
.
.
"Yes! Asik! Wuhuuu!" Ino spontan berteriak sesudah membaca smsnya itu.
"Ino Yamanaka! Apa-apaan kau ini!" Oruchimaru-sensei yang sedang menerangkan pelajaran biologinya yang membosankan itu marah.
"G-gomen Oruchimaru-sensei"
.
.
Bel tanda pulang berbunyi, Ino buru-buru menghampiri Naruto.
.
"Ayo ikut aku!"
Ino menarik tangan Naruto, Naruto hanya bisa pasrah karena dia tau gadis yang kini mernarik tangannya ini mempunyai tenaga yang kuat, jadi tidak ada gunanya dia melawan.
Ino mengajak Naruto ke salah satu mall di pusat kota Konoha. Dia membelikan Naruto baju baru lengkap dengan celana, sepatu dan aksesoris yang lainnya.
"Nona, sebenernya lu ini napa si? ksambet jin iprit? Ngapain lu beginiin gue?" Naruto yang kini sedang menerima perawatan rambut menanyakan hal itu lagi setelah beberapa kali pertanyaan yang sama itu tidak dijawab.
"Kau akan ku ajak ke rumahku, tapi tak mungkin aku mengajak lelaki dekil dan bau ke rumahku, Na-kun. Sebagian besar keluarga besarku akan berkumpul nanti, kau tidak mau kan mereka menertawakanmu?" Ino menjawabnya santai sambil memberikan pengarahan kepada hair stylish yang menangani rambut Naruto.
"Buat apa juga sih lu ngajak gue ke rumah lu! Keluarga lu kan keluarga konglomerat, gue bisa kikuk ditengah orang-orang yang pasti ngejunjung tinggi nilai etika itu." Naruto mendengus.
"Tenang, keluarga gue asik ko. Lagi pula ini acara keluarga, jadi ga akan formal kaya yang lu bayangin, jelek! Nanti ji-san gue dateng, bokap eluu!"
"Beneran?"
"Ngapain gue boong?"
Wajah Naruto berbinar, dia membayangkan adegan seperti apa yang akan terjadi saat nanti dia bertemu ayahnya.
.
.
-Upil I'm in Love-
RnR please
.
.
"Kamu tunggu dulu disini ya!" Perintah Ino yang kemudian meninggalkan Naruto di depan rumahnya yang sangat megah itu, dia tidak mau membuat dirinya repot ketika dia harus menjelaskan siapa Naruto ke satu per satu anggota keluarganya.
.
Ino menyapa anggota keluarganya satu-satu, keluarga Ino jarang sekali bisa berkumpul karena sibuk dengan bisnisnya masing-masing. Sekarangpun hanya beberapa saja yang hadir di rumahnya.
"Hi uncle!" Ino menyapa seseorang berambut kuning yang tengah duduk di sofa.
"Hi girl! How are you? You're so beautiful now!" Pria itu memberikan senyumnya.
"Thank you.. Where is my gift,eh?"
"Ini, cantik." Pria itu menyerahkan bingkisan besar kepada Ino.
"Oh ji-san.. Kamu itu baik sekali! Tapi hadiah ini belum cukup mengingat kita sudah 7 tahun tidak bertemu! Hahaha."
.
Setelah banyak berbasa-basi, Ino teringat pada Naruto yang sedang menunggunya di luar.
"Ji-san.. May I ask some question to you?" Ino bertanya ragu.
"Sure, apa itu Nona?" Pria itu mengeluarkan senyumnya yang terlihat begitu manis.
"Dulu, kau sudah menikah kan? Tapi aku belum pernah melihat ba-chan.." Sontak pertanyaan Ino itu menyita perhatian anggota keluarga yang lainnya.
"Darimana kau tahu eh?"
"Ibu yang bercerita, tapi saat ku tanya di mana ba-chan sekarang, dia bilang tidak tahu. Ayolah ji-san, cerita padaku." Ino memulai pembicaraan itu pelan-pelan, dia menggunakan strategi agar dia tidak terkesan buru-buru dan terlihat aneh.
"Kau tahu kan dulu aku tidak tinggal di sini? Dulu aku tinggal di desa yang sangat jauh dari sini bersama istriku sebelum aku memutuskan untuk pergi mencari peruntungan di Konoha sini." Pria itu mengelus rambut keponakan kesayangannya yang kini duduk di sampingnya.
"Ba-chan?"
"Aku meninggalkannya sementara, setelah aku sukses disini dan mau menjemputnya sebelum aku pergi ke barcelona 3 tahun yang lalu, dia sudah tidak ada di desa itu, sayang.."
"Kau sudah punya anak?"
"Entahlah Ino, saat itu yang aku tahu istriku sedang mengandung dengan usia kandungan 2 minggu.."
"Berarti ji-chan punya anak dong, gitu juga susah jawabnya!"
"Anak pintar!" Pria itu mencubit pipi Ino.
"Aku membawa anakmu kesini, uncle. " Ino mulai to the point, dia langsung pergi keluar rumahnya dan menyeret Naruto masuk.
.
.
"Perkenalkan, Ini adalah anak dari Minato ji-san. Aku menemukannya di sekolah. Namanya Naruto." *menemukan?lo pikir kucing?*
Semua mata tertuju pada Ino dan naruto yang kini berdiri di tengah ruang keluarga seluas lapangan golf itu *lebay*.
"Dia mirip kan denganmu, uncle?" Ino menatap Minato.
"Hahaha, benar Ino, anak ini sangat mirip denganku, tapi belum tentu dia anakku. Kau tahu kan, banyak sekali orang yang meskipun tidak punya hubungan darah, mereka mempunyai kemiripan wajah?" Minato tetap berbicara ringan, Naruto hanya memandangi wajah pria yang Ino panggil uncle itu, berasa ngaca.
"Baiklah, wait for minutes!"
Ino mengampiri home theater yang ada di ruang keluarga itu dan menyetel sebuah video.
Tak lama, tampak video saat Naruto dan Ino bercakap-cakap tentang masa lalu Naruto. Naruto sendiri tak menyangka Ino bertindak seperti itu, cerdik.
"Minato, sepertinya ucapan princess kecilku tak bisa kau anggap remeh. Dia bukan anak yang bodoh dan suka berbicara sembarangan. " Yamanaka Inoichi, ayah Ino dan kakak ipar Minato itu mulai angkat bicara.
"Yosh! percaya padaku uncle! Bahkan dia punya kebiasaan yang sama joroknya denganmu! Ngupil.. " Ino terkikih geli disusul oleh beberapa anggota keluarganya yang lain.
"Siapa nama ibumu, nak?" Minato mendekati bocah yang berwajah mirip dengannya.
"Kushina.. Uzumaki.." Naruto yang biasanya bicara sembarangan kini sangan berhati-hati.
"Benarkah?" Minato tampak belum yakin, dia takut Naruto hanya mengada-ngada.
"Hn, "
"Kau suka ngupil? Coba, aku ingin melihat bagaimana cara kau mengupil.."
Naruto memasukan jari telunjuknya tanpa ragu, setelah beberapa detik dia mengeluarkan emas hijaunya yang cukup besar itu lalu memasukannya ke dalam mulut, Minato tersenyum.
"Lagi,"
Naruto memasukan jari ke dalam hidungnya lagi, dia mendapatkan emas hijau yang agak lembab, seperti biasanya jika dia mendapatkan emas yang lembab dia akan memainkannya dulu di tangan.
Sebelum Naruto memasukan emas hijaunya itu ke dalam mulut, Minato terlebih dulu memegang jari Naruto yang ada hasil tambangnya itu lalu memasukan jari itu ke dalam mulutnya *upilnye si Naruto dimakan sama si Minato!*.
"Aku yakin kau anakku, rasa upilmu sama seperti upilku. Antarkan aku ke ibumu sekarang."
Tanpa mereka berdua sadari, saat mereka melakoni adegan sinetron itu anggota keluarga Minato yang lain sedang merasakan mual tingkat Jashin *siapa itu jashin? gue juga gak kenal*.
"Tak perlu repot-repot pergi ke rumah Naruto, ba-chan sudah datang."
Ternyata, Ino sudah merencanakan ini sebelumnya. Dia sudah menyuruh supirnya untuk menjemput Kushina dan wanita berambut merah itu kini berdiri di hadapan Minato dengan mata berkaca-kaca.
"Kushina?"
"Minatoooooooo! Tanpamu aku galaaaaau!" Kushina dan Minato berlari *pake slow motion* lalu berpelukan kaya teletubis.
"Tadi sinetron, sekarang telenovela.. Plis dehh uncle.." Ino tersenyum melihat pemandangan di depannya, anggota keluarga Ino yang merasa bangga pada gadis Yamanaka itu mengedipkan mata mereka yang disambut kedipan Ino.
"Yeahh, bagaimana untuk merayakan ini kita ngupil bersama..?" Minato yang gilanya kambuh mengusulkan sesuatu yang membuat seluruh keluarganya terdiam menatap lelaki itu.
"Tidak,, tidak, aku hanya bercanda! Hahahahaha!" Semuanya tertawa.
.
"Naruto dan Kushina Uzumaki, mana upil kalian?" Minato menyodorkan telunjuk yang terdapat emas hijau di ujungnya itu.
Naruto dan Kushina pun segera "MENGGALI" hidungnya, setelah mereka mendapatkan emas hijau yang besar, mereka menyatukan 3 upil itu dan Minato memasukannya ke dalam sebuah peti.
.
.
-Upil I'm in Love-
RnR please
.
.
Gosip di KHS sangat cepat menyebar, kini berita tentang Naruto si kucel yang ternyata anak kandung dari Minato pamannya Ino yang tak lain dan tak bukan adalah pemilik 80% saham KHS pun sudah menyebar, membuat dunia terbalik bagi Naruto.
Teman-temannya yang dulu suka menghinanya sekarang bersikap amat manis pada Naruto yang sudah tidak lagi berpenampilan kucel.
"Naru.." Hinata yang hendak memanggil Naruto mengurunkan niatnya melihat seseorang kini menggandeng tangan Naruto.
"Kita bareng yu ke kelasnya, Naru-kun.." Sakura yang dulu sangat jijik pada Naruto dan mengejar Sasuke mati-matian kini bersikap sangat manis pada Naruto.
Naruto yang sedari dulu menginginkan Sakura tidak menolak ajakan gadis itu.
.
"Hei Naruto, apa kabar?" Kiba sok menyapa Naruto ketika bocah itu memasuki kelasnya.
"Baik ko, anj*ng kampung!" Naruto senyum 5 jari.
"Sialan kau!" Kiba bergumam.
.
Seisi kelas mengerubuni Naruto bak seorang super star, kecuali gadis berambut pirang pucat dan gadis bermata lavender. Gadis lavender itu tampak murung, merasa dirinya semakin dicampakan. Sementara Ino tersenyum-senyum sendiri mengingat Sasuke akan sekolah hari ini.
.
"Brakkk!" seseorang menggeser pintu dengan kencang.
"Ohayou semuanya!"
Mata Ino terbelalak melihat lelaki berambut raven yang baru pulang dari Milan itu, murid yang lain juga tidak kalah shock melihat sosok Sasuke yang sangat berbeda. Sasuke berdiri dengan pakaian yang kucel dan badan yang bau, serta dua jari telunjuknya masing-masing "menggali" satu hidung, mirip dengan Naruto yang dulu.
"Sasuke kun! Kau kenapa? Kau tidak kecelakaan pesawat dan menyebabkan kemiringan pada otakmu kan? Atau kau ke Milan untuk kursus mengupil? Kau kenapaaa?" Ino masih terdiam dan shock memandangi pia yang saat ini sudah duduk di sebelahnya namun masih tetap dengan posisi dua telunjuk yang sama.
.
.
"Jadi apa yang gadis itu suka, Sasuke!" Sasuke membayangkan lagi saat-saat dia curhat pada kakaknya saat di Milan.
"Aku takan melupakan pesanmu, Itachi nii-chan. Maafkan aku juga yang harus menurunkan derajat klan Uchiha demi gadis bodoh ini." Sasuke bergumam dalam hati.
Tbc lagi yaaa, akan ada last chapter nanti!
.
.
-Upil I'm in Love-
RnR please
.
.
wahh, sekarang Sasu yang ganteng itu jadi tukang ngupil! Demi Ino loh! liat nanti yaaa respon Ino gimana!
Di chap ini tha ngupas tuntas family trouble nya dulu , last chapter baru romancenya yaaa :-*
.
Gomen gomen gooomen..!
aku ingkar janji buat update tiap hari, kemarin aku ga enak badan jadi gak mood, sekarang juga meski lagi sakit kepikiran fic terus, jadi dipaksain buat diterusin deeeh ^^
.
kata pamungkas:
Gaje?
-emang
Abal?
-emang
sampah?
-emang
Gak rapi?
-emang
Mau ng-flame?
-Silahkan,karena mungkin Flame bagi sebagian orang adalah sebuah seni tersendiri untuk memberikan suport kepada author..
hehe,
Arigatou!
aku tunggu reviewnyaaa :-*
