Bales repiu dulu yah,
*Haruno: Ahahaha, bagus-bagus.. jdi ga ada acara batal makan lagi.. :-D
kan cara khusus Minato ka... wkwkwk
itu di peti kecil ceritanya buat melambangkan kalo mereka bersatu akhirnya.. kalo ngga buat cadangan makanan kali.. *PLAK!
iya, aku suka SasuIno.. haha
wah, senpai suka SasuKarin? gimana kalo tukeran, bikinin aku SasuIno, aku bikinin senpai SasuKarin?wkwk
Sasuke juga sebenernya ga ikhlas begitu senpai.. tanya gih, haha
*Yuki: Salam kenal juga Yuki-san ^^
thata aja deeeh,
udah enable.. :-D
muntah muntah aja senpai, ga dilarang ko.. apa lagi kalo muntahnya setelah baca fic aku yang gaje dan acak-acakan serta full ngawur, sangat wajar :-D
jangan-jangan senpai hobi ngegali juga ya kaya naruto? wkwkwk.
arigatou pujiannya! *loh?siapa yg muji?
.
.
.
Naruto is Masashi K
.
Upil I'm in Love [NaruHina]
.
Enjoy it
.
"Brakkk!" seseorang menggeser pintu dengan kencang.
"Ohayou semuanya!"
Mata Ino terbelalak melihat lelaki berambut raven yang baru pulang dari Milan itu, murid yang lain juga tidak kalah shock melihat sosok Sasuke yang sangat berbeda. Sasuke berdiri dengan pakaian yang kucel dan badan yang bau, serta dua jari telunjuknya masing-masing "menggali" satu hidung, mirip dengan Naruto yang dulu.
"Sasuke kun! Kau kenapa? Kau tidak kecelakaan pesawat dan menyebabkan kemiringan pada otakmu kan? Atau kau ke Milan untuk kursus mengupil? Kau kenapaaa?"Ino masih terdiam dan shock memandangi pia yang saat ini sudah duduk di sebelahnya namun masih tetap dengan posisi dua telunjuk yang sama.
.
.
"Jadi apa yang gadis itu suka, Sasuke!" Sasuke membayangkan lagi saat-saat dia curhat pada kakaknya saat di Milan.
"Aku takan melupakan pesanmu, Itachi nii-chan. Maafkan aku juga yang harus menurunkan derajat klan Uchiha demi gadis bodoh ini." Sasuke bergumam dalam hati.
.
.
"S-sasuke-kun.. " Mendadak Ino gagap seperti Hinata.
"Hn,"
"Kau tidak kecelakaan pesawat kan?
"Tsk.. Bodoh, jika aku kecelakaan maka aku tidak akan ada di sini!"
"Iya ya.." Ino menggaruk dagunya lalu kembali terdiam sementara sosok lelaki tampan yang berubah 180 drajat itu asik mengupil.
Hari itu, semua murid, guru, dan seluruh staf sekolah takjub dengan perubahan Naruto yang tadinya berpenampilan bak gembel sekarang menjadi seorang pangeran yang tampan dan wangi. Berbanding terbalik dengan Naruto, Sasuke mendapatkan penilaian buruk dari semua orang yang melihatnya, bahkan dia dianggap gila karena perubahannya itu.
Gadis-gadis di KHS yang tadinya mengejar-ngejar Sasuke pun mulai menjauhinya dan beralih ke Naruto.
"Naruto-kuuuuun, ke kantin yukk!" Ucap seorang berambut coklat cepol 2 itu.
"Tidak, Naruto-kun akan bersamaku!" Gadis pirang kepang 4 itu menarik tangan Naruto.
"Tidak bisa! Naruto-kun pasti lebih memilihku, kan?" Sakura menarik tangan Naruto yang lainnya.
"Oke oke, kenapa kita kagak bareng aja sih ke kantinnya? Rempong amat." Naruto berkata dengan santai kemudian melangkahkan kakinya ke kantin diikuti beberapa gadis yang terus mengglendot di tangan Naruto.
.
Hinata yang merasa semakin tidak dianggap hanya bisa terdiam di depan pintu kelas yang baru saja ditinggalkan Naruto, menahan sakit melihat tingkah Naruto dan gadis-gadis itu.
"Aku lebih menyukai dirimu yang dulu, di mana tidak ada orang yang menganggapmu selain aku.. Naruto-kun." Hinata bergumam dengan mata yang sudah berkaca-kaca.
"Kenapa kau tak meniruku, Hina-chan?" Suara baritone Sasuke berbisik de belakang telinga Hinata.
"Eh? Apa maksudmu, Sasuke-kun?"
"Sepertiku, berubah menjadi apa yang gadisku inginkan.. Ino menyukai tingkah gila Naruto yang dulu, dan aku seperti ini untuk dia."
"J-jadi, Kau rela menurunkan derajatmu u-ntuk Ino-chan?"
"Hn," Sasuke kemudian berlalu sambil mengupil, bukannya Sasuke tidak jijik dan malu dengan apa yang ia perbuat saat ini, dia hanya ingin menunjukan pada Ino kesungguhannya.
Sementara Hinata? Dia masih terpaku di depan pintu kelas, mencoba memikirkan apa yang Sasuke bicarakan.
.
.
-Upil I'm in Love-
RnR please
.
.
Pagi ini KHS kembali heboh, Hinata dari klan Hyuuga yang konon memiliki 20% saham KHS yang slalu terlihat anggun dan cantik itu kini telah berubah!
Seperti apa?
Tak jauh beda dengan Sasuke yang berubah seminggu yang lalu! Ya, setelah memikirkan usul dari Sasuke seminggu yang lalu, Hinata mencoba meniru Naruto, karena dia fikir Naruto akan menyukai gadis yang punya kebiasaan yang sama dengannya, apa lagi setelah Hinata tahu bahwa Kushina mendapatkan cinta Minato pun dengan cara seperti itu waktu dulu, dia mengupas sejarah keluarga Naruto dari Ino.
"Hei Hinata! Lu sekarang mau jadi tukang ngupil kaya gue juga?" Naruto menepuk punggung Hinata dari belakang.
"Hm, sepertinya begitu.. " Hinata tersipu malu, dia senang karena akhirnya Naruto menyapanya setelah beberapa hari dicampakan.
Sementara Naruto, meskipun ia mulai sering menyapa Hinata lagi, bukan berarti dia senang dengan perubahan Hinata yang sekarang menjadi perempuan yang slengean.
Dia hanya ingin tahu apa yang menyebabkan Hinata seperti ini.
"Terimakasih Sasuke-kun" Hinata yang mengira rencananya berhasil menundukan kepalanya ke arah Sasuke.
"Hn," Sasuke mengacak-ngacak rambut Hinata lembut.
Mengetahui Naruto yang kini mendekat lagi pada Hinata, Sakura dan gadis-gadis yang menjadi "fans" Naruto sebal dan merencanakan sesuatu untuk menyingkirkan Hinata.
Apa itu? Liat aja nanti.
"Aku bisa gila lama-lama seperti ini. Kemarin Sasuke, sekarang si Hinata pake ikut-ikutan sih? Kami-sama.. Sekalian aja tuh semua anak IPA 2 jadi tukang ngupil yang dekil dan bau got! Kecuali aku tentunya, " Ino yang sedang sibuk mencatat tugas bergumam dengan ketus.
"Bukankah kau menyukai orang-orang unik sepeti Naruto? Kenapa kau mendengus kesal begitu?" Tanya Sasuke yang entah sejak kapan sudah duduk di tempat duduknya yang bersebelahan dengan Ino.
"Ya, ya, ya, lakukan yang kau suka, Uchiha." Ino berbicara tanpa menoleh ke arah Sasuke dan masih fokus dengan tugasnya.
Hening sebentar.
"Yamanaka Ino.." Sasuke mencoba mengajak Ino bicara lagi.
"Heeem," Ino tetap tidak menoleh.
"Mengapa ada seorang gadis bodoh yang terlahir di keluarga Yamanaka?"
"Apa maksudmu?" Kini Ino menoleh dan memberikan tatapan penuh ancaman pada Sasuke.
Sasuke mendekatkan wajahnya pada wajah Ino, sangat dekat, "Kau.. Bodoh.. Sangat.. Bodoh.. Sangat sangat bodoh." Sasuke kemudian pergi keluar kelas mendengar bel istirahat sudah berbunyi.
Wajah Ino memerah, tidak pernah dia mendapati wajahnya dan wajah Sasuke sedekat tadi. Tapi yang menjadikan wajah Ino merah bukan hanya itu, dia menahan sesuatu yang sedari tadi membuatnya tersiksa.
"Huhh,, Hahh, Huhh.. Jika aku lebih lama lagi menahan nafasku, matilah aku."
Glekk
Ino menelan ludah, "Apa kau makan bangkai Sasukeee! Mulutmu itu tadi bau sekali sampai-sampai aku harus menahan nafas! Gila! Kau benar-benar meniru Naruto jaman dulu!" Ino kemudian berdiri dari tempat duduknya lalu pergi ke kantin.
.
.
Ino melihat nauto yang duduk sendiri di mejanya, menatap ke arah meja lain yang berada di sebrang mejanya, disana terdapat Sasuke dan Hinata yang sedang asik bercanda.
"Kau cemburu ya, hahaha." Ino yang baru datang langsung duduk di samping Naruto.
"Apa? Kaga lah, ngarang aje lu!" Naruto menyajikan senyum 5 jarinya. *Menyajikan?lu kata makanan git?"
"Menurutku, Hinata itu menyukaimu, dan Sasuke menyukainya, makanya Sasuke berubah menjadi sepertimu agar dapat perhatian dari Hinata." Kebodohan Ino yang Sasuke bilang ternyata benar.
"Menurut gue justru si Hinata berubah karna dia ngeliat Sasuke yang berubah. Pas Sasuke masih mode normal, Hinata masih normal kan. Beda sama gue, pas gue mode Gila, Hinata normal, gue normal sekarang Hinata mode sedeng."
"Jadi mereka saling menyukai ya.. Huuuft.." Naruto dan Ino berkata bersamaan sembari menjatuhkan kepalanya keatas meja, benar-benar dua bersaudara yang bodoh.
.
Di sebrang meja Naruto, Sasuke dan Hinata membicarakan hal yang tidak jauh berbeda.
"Sepertinya kau berhasil ya, Hinata?"
"Ya lumayan Sasu-kun, dia sedikit memperhatikan aku lagi sekarang. Sama seperti dulu, dan gadis-gadis genit itu kini sudah menjauh dari Naruto. Kau?" Hinata menoleh ke arah wajah pemuda raven itu.
"Ternyata Ino yang terlihat sangat pintar bahkan lebih bodoh dari Naruto dalam masalah ini."
"Sudahlah, jangan manyun begitu! Jelek tau!" Hinata mengacak-ngacak rambut Sasuke yang bau cubluk itu.
"Berhenti Hinataaa! Atau ku balas kau!" Sasuke kemudian mengacak rambut Hinata.
Pemandangan itu terlihat sangat romantis oleh 2 orang yang sama-sama berambut pirang, bermata biru, dan sama-sama bodoh di sebrang meja mereka.
"Sepertinya memang Sasuke adalah bintang yang tak mungkin bisa ku gapai."
.
.
-Upil I'm in Love-
RnR please
.
.
Hari-hari dilewati dengan penuh kesalah pahaman oleh Ino, Sasuke, Hinata dan Naruto. Naruto memang akhir-akhir ini kembali dekat dengan Hinata, tapi Naruto tetap menganggap Hinata dan Sasuke saling menyukai. Sementara Sasuke masih mengira Ino dan Naruto saling menyukai, dan Ino juga berpikir demikian terhadap Sasuke dan Hinata.
Rasanya Sasuke mulai frustasi, perubahannya sama sekali tak membuat Ino berpaling dari Naruto, jelas-jelas dulu Ino bilang bahwa dia menyukai Naruto karena prilaku gila Naruto yang katanya 'unik' itu. Tapi ternyata itu tidak berhasil terhadap Sasuke, benar-benar membuat frustasi. Apa lagi, dia sudah dapat teguran keras dari ayahnya.
"Sasuke, aku tahu aku tak punya banyak waktu untukmu, tapi bisakah kau mengerti aku? Kau ini bungsu dari Uchiha Fugaku! Beraninya kau menurunkan derajat keluarga kita dengan tingkahmu yang konyol itu!"
Tentu saja Fugaku geram, dia adalah salah satu dari 5 pengusaha terkaya di Jepang. Dia terlau sibuk mengurusi perusahaannya sehingga dia tak bisa mengontrol sang anak. Dia hanya bisa mempercayakan anak bungsunya itu kepada pesuruh-pesuruhnya sejak istrinya meninggal dan anak sulungnya sibuk mengurusi perusahaan cabangnya di Korea. Setiap kejadian dalam hidupnya tak luput dari perhatian masyarakat, kini masyarakat tengah gencar membicarakan pangeran bungsu Uchiha yang dekil dan tukang ngupil sembarangan.
"Aku akan nekat menanyakan pada Sasuke tentang perasaannya pada Hinata hari ini, harus!" Ino mengepalkan tangan sambil melihat foto Sasuke dan dirinya di layar hpnya.
"Sudah sampai, Nona." Driver Ino membangunkan Ino dari segala lamunannya tentang Sasuke.
Ino turun dari mobilnya, memasuki pintu masuk sekolah, melewati koridor demi koridor dan kini ia sampai di depan pintu kelas IPA 2.
Ino menggeser pintu kelasnya.
Seketika mata birunya membulat penuh melihat pemandangan menjijikan di kelasnya itu.
Bau yang menyengat tercium di hidung mancung Ino, kini matanya mendapati seluruh siswa yang ada di kelas itu memakai pakaian kucel dan bau, jari-jari mereka sibuk mengorek-ngorek hidung.
"Kami-sama.. Aku tidak serius tentang permohonan yang itu.." Ino mencoba mengingat kalimat yang pernah ia lontarkan beberapa hari yang lalu.
"Aku bisa gila lama-lama seperti ini. Kemarin Sasuke, sekarang si Hinata pake ikut-ikutan sih? Kami-sama.. Sekalian aja tuh semua anak IPA 2 jadi tukang ngupil yang dekil dan bau got! Kecuali aku tentunya, "
Ino terpaku, masih di posisinya yang belum memasuki kelasnya.
"Wahh, Apa-apaan ini semua?" Naruto yang baru datang menampakan ekspresi yang tak jauh berbeda dengan Ino.
"Entahlah, sepertinya sekolah ini akan menjadi trending topic di jepang dengan judul virus menggali hidung." Ino berkata masih dengan ekspresi yang sama, tidak berubah sama sekali.
"Kita harus menyelesaikannya Ino, ada yang tidak beres di sini!" Naruto menarik tangan Ino masuk ke dalam kelas.
Naruto dan Ino yang berdiri di depan kelas membuat seisi kelas memusatkan perhatiannya pada mereka.
"Sebenarnya kalian ini kenapa?" Naruto bertanya dengan nada serius, sementara yang lainnya masih diam.
"Sakura, kenapa kau berubah seperti ini? Tentu ini bukan kepribadianmu." Ino bertanya secara spesifik pada Sakura.
"Aku.. Aku tidak suka melihat Hinata mendapatkan perhatian dari Naruto-kun, merebutnya dengan cara melakukan perubahan seperti ini. Jadi kami berfikir untuk merebut perhatian Naruto-kun dari Hinata dengan cara yang sama." Perkataan Sakura disetujui oleh seluruh siswi lain di kelas.
"Lalu, untuk apa kau seperti ini, Kiba?" Ino menatap Kiba dengan penuh rasa jijik.
"Kau tahu kan, aku suka pada Sakura-chan? Sasuke bilang jika kita mau mendapatkan perempuan yang kita suka, kita harus menjadi seperti apa yang perempuan itu inginkan, dan yang aku tau, Sakura itu suka pada Naruto, makanya aku meniru Naruto."
Murid pria yang lain juga mengungkapkan hal yang sama meski perempuan yang menjadi alasan mereka bertingkah bodoh itu berbeda.
Naruto dan Ino saling berpandangan, mereka berfikiran sama.
"Dengerin gue, gue itu suka sama cewek yang nerima gue apa adanya, dan gue juga bakal nerima cewek itu apa adanya. Jadi meski kalian berubah gini, gue juga ga akan suka sama kalian karena gue tau kalian cuma cinta harta gue! Gue udah punya orang yang sebenernya gue sayang, yang bener-bener nerima gue apa adanya, tapi sayangnya cewek itu suka sama cowok laen. Soal Hinata, gue kan emang udah deket sama dia sebelum kalian deket sama gue, gue rada nyuekin dia sejak kalian sering ngerubunin gue, dan saat Hinata berubah, gue tertarik buat deket lagi sama dia karena gue pengen tau alesan dia berubah itu apaan!" Naruto ceramah panjang lebar, membuat gadis-gadis IPA 2 kecewa.
"Kalian juga, cowok-cowok bego. Kalian pikir cewek yang kalian suka itu ngejar-ngejar Naruto karena dia suka ngupil? Udah jelas mereka itu ngejar-ngejar Naruto seudah tau Naruto anaknya om gue yang punya KHS ini!" Kini Ino yang angkat bicara.
Semua siswa dengan pakaian cubluk di kelas IPA 2 itu kini tertunduk lesu, menyadari kebodohan mereka.
Tak lama, pintu kelas bergeser menampakan sosok gadis indigo dan pria raven yang jarinya sama-sama sedang asik mengupil.
"Ini dia biangnya!" Naruto dan Ino kemudian menyeret sasuke dan Hinata keluar.
Sesampainya di atap sekolah, Ino menyuruh Sasuke dan Hinata duduk, memperlakukan mereka bak seorang tergugat yang sedang menjalani sidang.
"Kalian adalah biangnya, biang kekacauan ini!" Ino menatap tajam pada dua sosok tergugat itu.
"Apa maksudnya?" Sasuke berkata dengan watado.
Akhirnya ino menceritakan segala kekacauan yang diakibatkan oleh pria tampan yang kini berambut kucel itu.
"Sasuke, aku tahu kau menyukai Hinata makanya kau berubah seperti Naruto, tapi seharusnya kau membuat Hinata suka padamu dengan dirimu yang apa adanya!" Ino menghakimi Sasuke terlebih dahulu.
"Kau juga Hinata, kalau kau suka pada Sasuke, kau tidak perlu mengikuti tingkah bodohnya yang berubah meniruku!" Naruto angkat bicara.
"Bodoh.." Sasuke menggumam ketus.
"Apa katamu?" Gadis Yamanaka itu kini memperlihatkan amarahnya.
"Kau itu bodoh Ino! Bodoh! Kau fikir aku berubah untuk Hinata heh? Kau tidak bisa melihat perhatianku sejak awal kita bertemu seperti apa padamu? Kau tidak merasakan yang berbeda? Lalu aku tanyakan padamu siapa orang yang kamu sukai di kelas, kau bilang kau menyukai Naruto karna dia unik, aku mencoba menirunya untukmu! Kakakku berkata aku harus menjadi apa yang kamu inginkan!" Kini giliran Sasuke yang marah.
"Kalau begitu yang terbodoh adalah kau, Uchiha!" Ino kemudian berjalan kearah pintu, meninggalkan Sasuke , Hinata dan Naruto.
Sasuke terdiam, mencoba mencerna kata-kata Ino.
.
Sasuke mengejar Ino masuk, ia mendapati Ino yang berjalan santai menuruni tangga. Ditariknya lengan Ino, lalu memposisikan tubuh Ino menyandar pada dinding tangga.
"Apa maksudmu, Ino?" Sasuke bertanya dengan pikiran yang sudah mulai dingin.
"Kau salah faham, bodoh! Saat itu aku belum benar-benar menjawab pertanyaanmu, kan? Lalu kau menanyakan apa Naruto adalah lelaki yang ku sukai, aku bilang aku menyukai Naruto karena dia unik,"
"Lalu dimana letak kesalahanku?"
"Belum benar-benar aku menjawab siapa lelaki yang aku sukai, kau sudah pergi begitu saja."
Sasuke kembali teringat pada waktu dia menanyakan hal itu pada Ino.
"Ino, apa kau menyukai seseorang di kelas ini?"
"Sepertinya begitu, kenapa Sasu?"
"Tidak, apa dia Naruto?"
"Hmm, kau sangat ingin tahu ya? Nanti juga kau tahu siapa.. "
"Jawab saja! Narutokah orangnya?"
"Kenapa kau ini? Aku suka juga sih pada Naruto-kun, dia itu unik. Dia berbeda dengan dirimu dan yang lainnya, kebiasaannya ngupil itu juga lucu. Hahaha. Tapi... "
"Cukup."
"Lagi pula, gara-gara kau ke Milan sepertinya kau ketinggalan gosip.."
"Apa?"
"Aku dan Naruto itu ternyata bersaudara.."
"Jadi, siapa lelaki yang kau suka?" Sasuke menatap mata Ino dalam.
"Orang bodoh yang dar tadi menyebutku bodoh."
"Benarkah?" Mata Sasuke berbinar.
"Hn,"
Sasuke kemudian mengecup kening Ino dan menggendongnya untuk menuruni tangga. *Sinetron*
.
Sementara itu di atap sekolah.
"Kau salah paham Naruto-kun.." Hinata menggenggam tangan lelaki berambut pirang di sampingnya.
"Maksudnya?"
"Aku seperti ini bukan untuk Sasuke-kun, tapi untukmu.."
"Jadi? Lu.."
"Iya.."
"Kenapa lu gak bilang dari awal?"
"Aku takut, Naruto sangat dekat dengan Ino saat itu, setelah ku tahu kalian bersaudara aku lega, tapi ternyata malah lebih banyak gadis yang dekat denganmu dan aku.."
"Udah deh, gak usah banyak cingcong Hinata.." Naruto merangkul tubuh mungil di sampingnya.
"Eh?" Hinatta tersipu.
"Gue sayang sama lu.."
"A-aku juga.." Hinata menyandarkan kepalanya di bahu Naruto.
"Ngomong-ngomong lu pake shampoo apa? Wangi.. Gue mau!"
Toenk?
The End
.
.
-Upil I'm in Love-
RnR please
.
Gomen semuanyaaa,
lagi" aku ingkar janji buat update tiap hari,,, hik..
Maaf juga kalo misalnya ceritanya jadi makin ga jelas, endingnya gampang ketebak, alur kecepetan, banyak typo.
Aku ngetiknya juga penuh perjuangan di tengah asma yg melanda nih.. , *curcol*
padahal dari kemarin fic ini udah jadinya, cuma udah kemaleman jadi baru sekarang di update..
Romance sama humornya bener-bener kurang ya, xixixi.
Terimakasih banyak yang sejauh ini mau meluangkan waktunya untuk baca fic yang abal ini, ditambah review yang membangun dan menyemangati pula..
Arigatou!
.
Kata pamungkas lagi deh:
kata pamungkas:
Gaje?
-emang
Abal?
-emang
sampah?
-emang
Gak rapi?
-emang
Mau ng-flame?
-Silahkan,karena mungkin Flame bagi sebagian orang adalah sebuah seni tersendiri untuk memberikan suport kepada author..
hehe,
Arigatou!
aku tunggu reviewnyaaa :-*
