NARUTO © Masashi Kashimoto

KENANGAN TERAKHIR

By Setshuko Mizuka

Rate : T

Genre : Friendship, Romance, Family

Pairing : NaruHina

Warning : GaJe, Typo(s), OOC, AU, and the others! ^^

~ Chapter 2 ~

Summary : Lagi galau ya? / Tidak, biasa saja. / Bilang saja kau cemburu kan, karena Naruto mau membantuku tadi? Atau saat kami jalan berdua dan bercanda tadi? Hahaha. / Apa maksud perkataanmu?. O_o Nah lho? Siapa tuh?

Jam menunjukkan tepat pukul 6 pagi ketika rombongan murid-murid dari Suna Gakuen datang ke Konohagakure. Siswa-siswi pun keluar bis dengan tertib, kecuali Akatsuki. Bis bernomor 9 itu masih belum sampai di saat semuanya memasuki hotel yang akan mereka tinggali selama dua malam itu. Lalu kemanakah rombongan Akatsuki itu berada?

"Moshimoshi! A-ah iya! Maaf, Asuma! Bis nomor sembilan mogok semalam sehingga kami telat ke hotel," ujar Kakashi selaku penanggungjawab Akatsuki pada Asuma melalui ponsel.

"Baiklah... Iya..."

Kakashi pun memutuskan sambungannya lalu menghela napas.

"Kakashi-sensai! Bagaimana ini? Yang lain sudah di hotel, kita masih di perjalanan," keluh muridnya yang ia kenal bernama Shion.

"Sabar, sebentar lagi sampai kok," ujar Kakashi tenang.

"Ck, kalau tahu begini jadinya, lebih baik aku bawa mobil sendiri deh."

"Memang kau boleh bawa mobil keluar kota, Gaara?" tanya Tobi yang duduk bersebelahan dengan si bungsu Sabaku itu.

"Tentu saja, boleh. Memang sepertimu, bawa mobil ke taman saja tak boleh," balas Gaara dengan nada datar.

"Tobi kan anak baik, jadi Tobi nurut saja sama Mama."

Gaara sweatdrop. "Dasar anak mami."

"Oi! Ada yang lihat boneka prajuritku tidak?" Suara teriakan dari kursi belakang bis membuat semuanya menengok tepat ke arah Sasori Akasuna yang tengah berdiri dari kursinya.

"Boneka prajurit apa, Sasori?" tanya Naruto yang masih setia duduk di samping Hinata.

"Boneka prajurit yang pakai seragam khas prajurit Inggris itu lho. Dari tadi kucari-cari di tas, tapi tidak ada," jawab Sasori sambil menggeledah kembali tasnya.

"Bukannya semalaman kau peluk terus bonekanya?" tanya Deidara.

Sasori menengok. "Benarkah? Berarti terjatuh di bawah kolong!"

"Apa boneka ini yang kau maksud, Sasori-kun?"

Sasori yang tengah mencari di kolong kursi itu menengok ke arah Karin yang duduk di samping Konan. Dan benar saja, Sasori langsung mengambil boneka prajurit itu dari tangan Karin dengan wajah sumringah khas anak balita. "Astaga! Terima kasih, Karin! Terima kasih!" ujarnya pada Karin. "Akhirnya, kutemukan juga dirimu, Nak!"

Lagi, semuanya sweatdrop termasuk Kakashi yang melihat tingkah Sasori dan Tobi tadi juga sweatdrop. Dosa apa yang kulakukan sampai-sampai punya anak murid seperti mereka, pikir Kakashi dalam hati.

"Kakashi, sebentar lagi kita sampai di hotel," ujar Obito Uchiha yang dipaksa Kakashi untuk jadi supir karena kekurangan supir.

"Oh, kalau gitu, semuanya siap-siap! Jangan sampai ada barang yang tertinggal di bis ya!" perintah Kakashi. Semua member Akatsuki pun mengambil ransel mereka yang sengaja ditaruh di loker atas bis. Kemudian kembali duduk di kursi, menunggu bis berhenti tepat di depan hotel Konoha berbintang lima yang sudah dipesan sekolah untuk mereka.

"Terima kasih, Jashin-sama! Akhirnya kami sampai dengan selamat!" seru Hidan begitu bis berhenti.

"Dasar penganut ajaran sesat!" balas semuanya kompak.

Hidan cemberut mendengarnya. "Kalian semua keja~m!"

"Hahahahahahahaha!"

"Sini, biar kubantu menurunkan ranselmu," ujar Neji Hyuuga yang tiba-tiba datang ke kursi sepupunya itu untuk menawarkan bantuan.

"Biar aku saja, Neji. Kan sudah ada aku di samping Hinata."

Neji menatap sinis ke arah laki-laki yang berdiri dari kursinya itu.

"S-sudahlah, aku bisa sendiri kok," tolak Hinata sopan pada Neji dan Naruto. Ia tak mau merepotkan sepupunya dan kekasihnya itu. Hinata berdiri lalu mengambil ranselnya sendiri sementara Neji sudah pergi keluar dari bis lewat pintu belakang. Naruto juga hanya mengangguk lalu mengambil ranselnya di bawah kursi pertamanya –di samping kursi Sasuke.

Tanpa disadari oleh Hinata, ada sepasang mata yang tengah menatapnya tajam. "Dasar! Cari-cari perhatian!" desisnya pelan.

"Ayo, Hinata-chan!" ajak Ino.

Hinata mengangguk sambil tersenyum.

215. Nomor kamar yang tadi Hinata, Tenten, Ino, dan Sakura masuki kini terbuka. Hinata keluar dari kamar tersebut lalu menutup kembali pintunya. Saat ingin mengunci pintu, tiba-tiba kepalanya berkedut lagi. Rasa sakitnya jauh melebihi rasa sakit yang ia rasakan ketika di dalam bis kemarin. Hinata mengunci pintu dan diam sebentar di sana. Seperti di bis, sakitnya hanya berada di sebelah kiri saja.

"Sebenarnya, apa yang terjadi padaku?" gumamnya pelan.

"Ah, Naruto!"

Dengan segera Hinata menengok ke tempat asal suara tadi. Suaranya seperti suara Shion dan benar saja! Memang Shion yang memanggil Naruto barusan. Dilihatnya Naruto juga baru keluar dari kamarnya tanpa sedikit pun menoleh ke arah Hinata.

"Ada apa?"

Samar-samar Hinata mendengar kekasihnya bertanya. Rasa sakit di kepalanya tiba-tiba menghilang dan tergantikan rasa sesak di dadanya ketika tatapan mata Shion terarah padanya. Hinata merasa ada yang aneh saat melihat senyuman Shion.

"Bisa bantu aku, pintunya tak bisa dikunci nih."

"Masa?"

"Ih, serius! Bantuin dong!"

"Iya, iya."

Hinata terus memperhatikan mereka berdua dengan tatapan kosong. Sejak awal ia jadian dengan Naruto, Hinata selalu cemburuan jika melihat Naruto dan Shion. Bahkan sebelum jadian pun Hinata juga begitu. Beberapa bulan yang lalu, Naruto dan Shion berdansa bersama saat praktik drama Bahasa Inggris dan itu membuat Hinata kacau. Hatinya kacau karena melihat mereka yang begitu serasi ketika berdansa.

Tapi tahukah kau Hinata kalau Naruto terpaksa melakukannya? Dan jika dibandingkan dengan Shion, kau yang lebih cocok dipasangkan dengan Naruto? Kalau Hinata bisa memilih, ia ingin bertukar tempat dengan Shion saat itu juga.

"Sudah kukunci pintunya."

"Terima kasih ya! Naruto baik de~h!"

"Iya, sama-sama, Shion."

Sekali lagi rasa sesak menyelimuti hati Hinata begitu mendengar ucapan manja dari Shion dan jawaban Naruto yang seperti itu. Belum lagi, Naruto pergi begitu saja dengan Shion tanpa sedikit pun menoleh ke belakang. Hinata menghela napas lalu berjalan di belakang mereka tanpa suara.

Gadis berambut indigo itu hanya menutup kedua telinganya dengan headseat yang dinon-aktifkan olehnya ketika terdengar suara tawa Shion. Dalam hati, ia seperti orang ketiga di antara Naruto dan Shion.

Hinata berhenti sebentar begitu melihat mereka masuk ke ruang makan.

Hanya berselang beberapa detik dari Naruto dan Shion, Hinata masuk. Anggota Akatsuki yang memperhatikan kedatangannya menduga kalau sedari tadi Hinata terus berada di belakang kedua sejoli yang sudah duduk di kursi kosong.

"Naruto! Parah banget sih, Hinata ada di belakang juga dari tadi!" seru Nagato.

"Tahu tuh, parah! Malah jalan sama yang lain!" ujar Sakura dengan nada emosi.

Naruto yang duduk di tengah-tengah Kiba dan Sasuke itu hanya memasang tampang bingung. Ia bingung mau berbicara apa begitu melihat Hinata yang duduk berhadapan dengannya. (AN: tiap kelas duduk satu meja)

"Hinata-chan, omelin dong! Masa diam saja sih?" ujar Tenten yang duduk di samping Hinata.

Hinata tersenyum lalu memakan makanannya dengan tenang.

"Naruto sama Shion parah ya?" tanya Sai sambil tersenyum palsu.

"Kau bilang apa barusan, mayat hidup?" tanya Naruto.

"Aku hanya bilang kalau kau itu parah. Tega-teganya jalan padahal Hinata ada di belakang. Shion juga, padahal Naruto kan sudah jadian dengan Hinata, masih saja deketin Naruto." Sai berbicara dengan santainya tanpa mempedulikan tatapan benci dari Shion.

"Jadi kau mau bilang aku ini perempuan yang kecentilan gitu?"

Sai tersenyum. "Aku tidak bilang, kau sendiri yang bilang begitu barusan."

Shion yang tidak terima langsung berdiri dari kursi.

"Kau mau apa, Shion?" tanya Konan. Melihat tangan Shion yang terkepal membuat Konan menghela napas. "Sudahlah, kalau memang kau tidak seperti apa yang dipikirkan Sai, lebih baik diam saja. Tak usah marah seperti itu," ujarnya tegas.

Seketika suasana jadi mencekam. Guru-guru yang duduk di meja yang berbeda itu pun hanya menggelengkan kepala. Siswa-siswi lainnya yang sedari tadi menatap meja kelas 3-9 dengan serius itu lalu makan kembali.

"Sudahlah, lupakan saja. Kita harus have fun di Konoha karena sebentar lagi kita mungkin tak bisa bertemu dan bersama-sama seperti saat ini lagi. Okay, Akatsuki?"

Anggota Akatsuki hanya mengangguk mendengar ucapan Yahiko.

Tepat jam 9 waktu setempat, rombongan Suna Gakuen pergi ke tempat wisata yang pertama yaitu Konoha Museum. Dari survey yang dilakukan saat rapat, kebanyakan dari muridnya memilih untuk pergi ke sana sebagai tempat pertama yang akan dikunjungi. Banyak murid-murid yang antusias akan sejarah Konohagakure, terutama dengan mitos serigala raksasa berekor sembilan yang katanya pernah datang ke Konoha, kecuali Naruto dan Hinata.

Entah kenapa sejak acara sarapan bersama tadi, Hinata selalu menghindari Naruto. Tiap Naruto berusaha mendekat ketika gadis itu berjalan sendirian, Hinata selalu berjalan secepat mungkin untuk menyusul sahabat-sahabatnya. Yaaah, ia tahu. Naruto yakin, Hinata sedang marah padanya soal Shion tadi.

"Aaargh! Menyebalkan!" gumam Naruto dengan nada frustasi.

Neji menatapnya bingung. "Kau kenapa?"

"Paling-paling sedang frustasi karena terus dihindari Hinata-chan," tebak Kiba.

"Ck, kau itu terlalu dobe jadi manusia," ejek Sasuke.

Naruto hanya mendengus kesal. "Apa ini yang disebut sahabat, heh? Sahabatnya sedang frustasi bukannya bantu malah mengejek," sindirnya pada Sasuke.

"Hinata marah padamu," ujar Neji datar.

"Iya, aku tahu itu." Naruto menunduk. Bukan sekali ini saja Naruto buat Hinata marah, apalagi soal kedekatannya dengan Shion. Ia sudah berulangkali membuat gadis itu sakit hati. "Aku tak pernah ada maksud untuk buat dia marah apalagi menangis. Sejak awal Shion yang cari gara-gara denganku."

Itachi yang sedari tadi hanya diam saja langsung menepuk bahu Naruto. "Minta maaf sana. Melihat kalian seperti ini membuatku kesal sendiri," ujar Itachi lalu melanjutkan kembali, "karena Hinata sudah kuanggap seperti adikku sendiri, bukan begitu Sasu-chan?"

TWITCH!

"Jangan panggil aku dengan sebutan seperti itu, ITACHI!" seru Sasuke kesal.

"Ssst!"

Sasuke menatap horror ke arah belakang, tepatnya ke arah Deidara, Sasori, dan Hidan yang tadi menyuruhnya untuk tidak berisik. Ketiga manusia itu hanya bersiul-siul pelan sambil menengok ke samping karena takut dengan tatapan Sasuke. "Cih! Menyebalkan! Awas saja kalau kau sampai tidak meminta maaf pada Hinata," ancam Sasuke pada akhirnya.

Naruto tersenyum meremehkan. "Tentu saja teme!"

Hinata berjalan sendirian di belakang sahabat-sahabatnya yang tengah asyik berbicara mengenai situs-situs bersejarah di Konoha Museum tersebut. Mata amethyst-nya melirik ke kiri dan ke kanan lalu membaca buku panduan lagi. Sesekali gadis itu melirik ke belakang. Hinata sadar kalau Naruto terus mendekatinya dan berusaha untuk member penjelasan tapi ia tak mau dengar. Melihat Naruto saja Hinata tidak mau. Ia bukannya menghindar dari Naruto tapi Hinata menghindari yang namanya pertengkaran.

Gadis itu tidak mau hanya karena emosi sesaat bisa merubah apapun nantinya. Misalnya saja saat ia atau Naruto marah-marah dan perkataan yang keluar adalah kata 'putus'. Hinata tak mau itu terjadi. Sangat tidak mau.

"Hinata Hyuuga."

Hinata menengok ke samping kanannya. "Shion?"

"Lagi galau ya?"

"Tidak, biasa saja," jawab Hinata ketus.

Shion tertawa dibuat-buat. "Bilang saja kau cemburu kan, karena Naruto mau membantuku tadi? Atau saat kami jalan berdua dan bercanda tadi? Hahaha."

"Apa maksud perkataanmu?" Hinata berhenti melangkah lalu menatap Shion.

"Huuu, marah ternyata," ucap Shion dengan nada mengejek.

"Apa tujuanmu yang sebenarnya, Shion?" Hinata tak mampu lagi menahan rasa emosi. Ia memberanikan diri untuk bertanya seperti itu. Ia juga tak akan ragu lagi jika harus bertengkar dengan Shion –temannya– untuk mengetahui apa yang gadis itu mau darinya.

"Tujuanku? Hahaha, aku tak mengerti maksudmu."

Hinata mengepalkan tangan kanannya. "Bohong!"

"Baiklah, kau yang memaksa untuk aku menjawabnya." Shion berjalan selangkah mendekati Hinata dan berbisik di samping gadis itu. "Aku hanya ingin hubunganmu dengan Naruto berakhir dan Naruto akan jadi milikku, selamanya."

"A-apa?"

"Kau itu selain cengeng ternyata tuli juga ya?" Shion tertawa lagi.

"Kenapa?"

Shion berhenti tertawa. "Kenapa? Kau tanya aku, kenapa? Karena aku lebih mencintainya dibanding dirimu, dan lagipula aku yang lebih cocok berada di sampingnya. Bukan KAU, Hinata Hyuuga!" Shion pun pergi meninggalkan Hinata.

"Shion... jadi ternyata... dia..."

"Hinata-chan! Ayo!" Mendengar seruan dari Ino, Hinata langsung berlari menghampirinya dan berusaha menahan air mata yang entah kenapa siap untuk turun dari kelopak matanya.

"Kau kenapa, Hinata-chan?" tanya Matsuri yang menyadari sikap Hinata.

"A-ah, tidak apa-apa kok, Matsuri-chan." Hinata tersenyum.

"Tapi matamu..." Melihat Hinata gelengkan kepalanya, Matsuri hanya menghela napas lalu tersenyum. Matsuri sadar, saat ini sepupu Neji itu tengah tertekan mendengar perkataan Shion. Ya, Matsuri diam-diam mencuri-curi pembicaraan mereka tanpa mereka sadari. Ia pun menatap Shion yang tengah mengobrol dengan Karin.

Dasar PHO, ujar Matsuri dalam hati.

"Kok Matsuri-chan melamun? Ayo, nanti ditinggal lho."

"Iya, Hinata-chan. Lagipula, kalau ditinggal juga tak apa-apa," Matsuri tertawa lalu melirik ke belakang, ke tempat Akatsuki laki-laki dan melanjutkan, "kan ada Gaara-kun di belakang."

Hinata tertawa pelan.

Mereka pun pergi munyusul Akatsuki perempuan yang tengah berkumpul dengan pemandu museum.

Naruto menggigit bibir bawahnya sambil sesekali melirik ke arah gadis di sebelah kanannya. "Hinata-chan," panggil Naruto pada gadis itu.

"Hm?"

"Masih marah?" tanyanya.

Hinata menggeleng pelan sambil memakan makan siangnya. Bahunya ia senderkan ke batang pohon sakura yang mulai berbunga. Saat ini kedua sejoli itu tengah menikmati waktu makan siang di taman Konoha Museum yang berada tepat di depan kantin museum. Tanpa mereka sadari, semua anggota Akatsuki tengah memperhatikan mereka berdua dari kantin.

"Sebenarnya aku tak ada maksud untuk membuatmu marah, Hinata-chan. Aku sama sekali tak tahu kalau kau ada di belakangku tadi," jelas Naruto.

"Hmm." Hinata mengangguk lalu menunduk.

"Kau tidak percaya padaku?"

Hinata meletakkan bento-nya di pangkuannya kemudian menunduk lagi. "Aku percaya, Naruto-kun. Lagipula, aku sudah terbiasa melihat kalian 'berdua' seperti itu," ujar Hinata kalem. Senyum pahit terpampang jelas di wajahnya.

"Tatap mataku dan ulangi, Hinata!"

Tubuh Hinata sedikit bergetar saat kedua tangan Naruto menangkup wajahnya. Dilihatnya wajah Naruto yang kini terselimuti oleh kemarahan. "N-Naruto-kun, anoo, a-aku..." Hinata bingung dan takut, belum pernah ia melihat Naruto seperti ini.

"Jadi benar, kau memang tak percaya sepenuhnya padaku, Hinata? Jadi benar apa yang dikatakan Shion kalau kau selama ini tidak mempercayaiku?"

Hati Hinata mencelos seketika. "Jadi, kau lebih percaya padanya, Naruto?" Untuk pertama kalinya setelah mereka jadian, Hinata memanggil nama Naruto tanpa suffix 'kun' di belakangnya. "Jadi, kau lebih percaya Shion daripada dengan kekasihmu sendiri, Naruto? Begitu?"

Naruto terbelalak. "A-aku... bukan, aku bukan bermaksud seperti itu, Hinata. Aku..."

"Cukup, Naruto!" Hinata menyentak tangan Naruto yang ada di kedua pipinya lalu berdiri. Air mata sudah sedari tadi menetes seiring keperihan di hatinya semakin menjadi. "Hiks, kenapa kamu berpikir kalau aku tak percaya padamu? Dan kenapa –hiks– kamu lebih percaya omongan Shion! Shion bukan aku! Shion ya Shion, aku ya aku, Naruto!"

Untuk pertama kali juga Naruto melihat Hinata semarah ini. "Hinata! Tunggu! Aku..." Naruto berusaha menahan lengan Hinata tapi gadis itu tetap pergi sambil menangis.

"Aaargh!"

Semua anggota Akatsuki terbelalak tak percaya begitu melihat Hinata berlari dari bawah pohon sakura dan meninggalkan Naruto. Sepertinya mereka bertengkar gara-gara Shion, begitulah pikir mereka. Mereka pun menatap Shion dengan tatapan tak suka, sedangkan Shion yang melihat dan menyadari tatapan teman-temannya itu hanya bertanya dengan ketus.

"Apa lihat-lihat?" tanya Shion ketus.

"Cih! PHO," desis Temari lalu pergi menyusul Hinata bersama Sakura, Ino, Tenten, dan Matsuri.

"Ha~h! Semua berantakan gara-gara sikapmu itu, Shion!" geram Suigetsu.

"Kau itu tak bisa jaga sikap ya? Naruto sudah punya Hinata, kenapa kau masih mendekatinya, Shion!" ujar Karin yang duduk tepat di samping Shion.

"Lho? Kok kau jadi marah padaku, Karin?" heran Shion.

"Aku tahu semua siasat jahatmu itu!"

Shion terbelalak lalu berdiri dari kursi. "Siasat apa maksudmu!"

"Tak usah pura-pura tidak mengerti deh! Aku dengar saat kau menghasut Naruto di dalam museum tadi. Kau bilang pada Naruto kalau Hinata masih ragu dan belum percaya pada Naruto sepenuhnya. Iya kan!" desak Karin yang memang benar kenyataannya.

#Flashback mode on

"Hmm, kemana si Shion ya? Tadi perasaan ada di belakang," gumam Karin sambil mencari-cari sosok Shion yang tiba-tiba menghilang.

"Naruto, kenapa bengong begitu?"

Karin langsung mencari asal suara yang ia yakini milik Shion. Dan benar saja, saat ia berjalan beberapa langkah, Karin melihat Shion tengah mendekati Naruto. Karin yang penasaran langsung bersembunyi di balik tembok.

"Oi Karin! Kau –mmph–!"

Tangan kanan Karin membekap mulut Suigetsu. "Jangan berisik! Ada yang tak beres dengan Shion," desisnya tanpa berpaling dari Shion.

"Ngapain ke sini?"

Shion tersenyum. "Aku hanya khawatir padamu, habis kau melamun terus."

"Aku melamun juga gara-gara tingkahmu tadi tahu!"

"Kok?"

"Hinata marah gara-gara dia melihatku jalan denganmu tadi."

"Kalau dia benar-benar marah berarti dia...," Shion melirik sebentar lalu menunduk.

"Hinata apa?"

Shion menunduk lalu menatap Naruto. "Mungkin, dia belum percaya sepenuhnya padamu seperti dirimu yang sudah sangat percaya padanya. Dulu, Hinata pernah bilang juga padaku kalau dia masih ragu dengan perasaanmu."

#Flashback mode off

Shion tak berani menjawabnya, ia hanya menunduk lalu tertawa dibuat-buat. "Kalau iya memang kenapa?" Gadis itu menatap tajam Karin. "Kalau aku bersikap seperti itu memang kenapa? Apa salah kalau aku menginginkan mereka putus, hah!"

Karin ingin menampar Shion namun ditahan Konan.

"Sudahlah, Karin. Sekarang kita lihat keadaan Hinata saja, daripada marah-marah di sini. Cuma buang-buang tenaga." Konan pun pergi bersama Karin yang masih bergumam karena bisa-bisanya ia bersahabat dengan Shion.

Shion yang ditinggalkan hanya menghela napas.

"Shion-chan," gumam Ayame sedih lalu berdiri dari kursinya yang duduk di samping Shion tadi. Ia hanya menarik Shion ke dalam pelukannya. Ayame tahu, saat ini Shion ingin menangis namun bingung harus bersandar pada siapa. "Menangislah, Shion. Jangan ditahan terus."

Gadis itu pun menangis dengan sesenggukan.

Hinata menangis dengan nada memilukan, membuat siapa saja yang mendengarnya langsung prihatin dan ingin memeluknya untuk menenangkan gadis itu. Bodoh! Naruto bodoh! Kenapa kamu lebih percaya dengan Shion? Selama ini kamu anggap aku apa? Apa 'pacaran' yang kamu maksud itu hanya untuk sebuah status saja!

Deg!

"Aau!"

Sepupu Neji itu mendadak merasakan sakit di kepala sebelah kirinya seperti yang ia rasakan pagi ini. Hinata yang bersembunyi di dalam kamar mandi itu merintih dengan nada pelan. Ia takut ada temannya yang tahu kalau dirinya bersembunyi di sini. Untuk saat ini, sungguh, Hinata ingin sendiri. Cukup dirinya saja yang tahu kalau ia menangis.

Kami-sama, sebenarnya aku punya penyakit apa? Kenapa terasa sakit sekali di kepalaku? Apa ini hanya migran saja, atau lebih parah dari penyakit migran?

"Hinata-chan! Kau dimana?"

"Hinata-chan, keluarlah! Kami semua mengkhawatirkanmu!"

Terdengar suara yang saling sahut-menyahut memanggil namanya dari luar sana. Hal itu membuat Hinata menangis lagi, rasa sakit di kepalanya semakin bertambah. Ia pun duduk di atas closet karena tak kuat lagi berdiri.

"Maaf, teman-teman. Aku ingin sendiri dulu sekarang," gumam Hinata pelan.

To Be Continued

Mizuka : T_T kenapa jadi menyedihkan banget di chap 2 ini?

Shion : apa-apaan ini? kenapa aku jadi PHO di sini, heh author kurang kerjaan!

Mizuka : menurut Mizuka, Shion yang lebih cocok jadi orang ketiga di situ. Nggak kepikiran dengan chara lainnya. Udah, terima nasib aja, ya?

Shion : lah? Nggak bisa gitu dong! Pokoknya aku nggak mau disebut PHO lagi! titik!

Mizuka : yaaah, baiklah! Kita tinggalkan chara itu dengan kekesalannya sendiri. ^_^ kita bahas seputar review dari reviewer aja ya. hontou ni arigatou gozaimasu, karena sudah me-review! Nggak nyangka aja, masih ada yang review fic three-shot ini. Terima kasih Mizuka ucapkan untuk ramadhan-kun, Natsumi H, Gyurin Kim, Zkukito Zen, dan NaruHina LavenderOrange atas review-nya. v_v hehehe...

Naruto : oi, author! Pada nanyain tuh soal penyakit Hinata! Dan kenapa aku mesti lebih percaya ke Shion sih daripada ke Hinata-Hime, hah!

Mizuka : oh, soal penyakit itu Mizuka nggak tau pasti karena Hinata sakit terinspirasi dari kehidupan Mizuka sendiri. Mizuka sering kayak gitu, tapi belum periksa ke dokter jadi yaaa masih diperkirain aja kalo Hinata cuma migran. XDDD Dan untuk Naru-chan, maaf deh, kalau nggak kayak gitu fic nya nggak bakal jadi tau! .

Naruto : dasar author gila.

Mizuka : hahaha, baru tau? Oke deh, terakhir dari Mizuka sebelum berpisah, masih bersediakah untuk meninggalkan jejak lagi? :DDD oh iya, satu lagi! Mizuka mau tanya ke para pembaca semua, bagusnya dibuat happy ending atau sad ending? Pengambilan suara bakal ditutup lima hari dari sekarang (tgl update chap 2)!

Jaa Ne!