NARUTO © Masashi Kashimoto

KENANGAN TERAKHIR

By Setshuko Mizuka

Rate : T

Genre : Friendship, Romance, Family

Pairing : NaruHina

Warning : GaJe, Typo(s), OOC, AU, and the others! ^^

~ Chapter 3 ~

Summary : Apa yang harus kulakukan agar kau tak marah lagi padaku? / Pikirkan saja sendiri / Hinata... aargh! Apa yang harus kulakukan sekarang! / Last Chap! Happy ending or sad ending? Silahkan dibaca...

###

Malam hari di Konohagakure sangat sejuk dan dingin, berhubung kota itu masih sangat hijau dan alami. Hinata senang bisa merasakan kesejukan ini walau hanya malam ini dan esok malam. Mata amethyst-nya menatap langit. Langit malam itu dipenuhi oleh bintang-bintang yang berkerlap-kerlip. Senyuman manis tampak di wajah manisnya.

"Hinata-chan, ayo masuk. Sudah malam," suruh Sakura.

Gadis itu tersenyum. "Sebentar lagi ya, Sakura-chan."

Sakura hanya menghela napas lalu ikut keluar dari kamar dan berdiri di samping Hinata. Saat ini kedua gadis tersebut tengah berada di balkon kamar yang luasnya tidak seberapa. Di hotel itu memang menyediakan balkon di tiap kamarnya.

"Masih sedih soal tadi?" tanya Sakura dengan hati-hati.

Hinata menggeleng pelan.

"Aku tahu perasaanmu, jujur saja."

"Iie, Sakura-chan. Aku sudah tidak apa-apa," ujar Hinata.

Sakura menunduk mendengarnya. Sebagai seorang sahabat, ia sangat mengerti perasaan Hinata yang pastinya masih kalut akan kejadian tadi siang di museum. Sampai sekarang, Hinata selalu menyendiri. Di sepanjang perjalanan menuju hotel tadi sore setelah dari museum, Hinata jadi lebih pendiam bahkan ia meminta pada Ino agar ia duduk dengannya.

Drrrt! Drrrt! Drrrt!

Ada e-mail masuk dan Sakura pastikan itu dari Naruto.

Drrrt! Drrrt! Drrrt! Drrrt! Drrrt!

"Hinata-chan, ada yang nelpon," kata Sakura sambil menatap ponsel Hinata yang terus dipegangnya sementara pemiliknya hanya diam. "Hinata-chan, mungkin Naruto ingin menjelaskan semuanya. Jadi, cepat angkat."

"Tidak. Aku tidak mau mendengarnya sekarang." Hinata menatap Sakura dengan wajah datar. "Kalau Sakura-chan mau, Sakura-chan saja yang menemuinya."

Sakura menghela napas melihat Hinata masuk kamar.

###

Pagi hari tepat jam 8, rombongan Suna Gakuen sudah berangkat menuju Konoha Garden, tentunya setelah acara sarapan mereka berangkat. Konoha Garden merupakan tempat kedua untuk dikunjungi. Di sana terdapat banyak tumbuh-tumbuhan yang langka dan dilindungi oleh pemerintah Konohagakure. Ada satu tumbuhan yang dijadikan simbol Konoha Garden yaitu Bunga Arnoldi atau biasa orang-orang sebut dengan Bunga Bangkai. (Terinspirasi dari Kebun Raya Bogor nih ceritanya :p)

"Wah! Bunganya cantik-cantik, tapi lebih cantik lagi bunga yang ada di sampingku ini," ujar Yahiko sambil melirik Konan.

"Gombal!" Konan bersemu lalu berjalan mendahului Yahiko.

"Hahaha! Dasar Ketua Raja Gombal!" seru Deidara.

"Ah, coba kalau Zetsu ada di sini, pasti langsung diambil sama dia."

"Iya ya, sayang banget Zetsu tidak ikut," ujar Tobi menimpali ucapan Sasori.

"Sai, kau sedang apa di sana?" tanya Ino begitu tahu kalau pujaan hatinya (CIEEE! #plak#) tengah berdiam diri di tempat bagian yang menyimpan macam-macam anggrek. Yang ditanya malah tersenyum.

"Coba saja kau boleh duduk diantara bunga-bunga anggrek itu, pasti langsung kulukis wajahmu yang cantik di atas kanvas."

Ino terkejut, samar-samar terlihat rona merah di kedua pipinya.

"Mukamu jadi merah, Ino. Apa kau tidak apa-apa?" tanya Sai khawatir.

"A-ah, aku tidak apa-apa!" Ino gugup setengah mati lalu memilih untuk melanjutkan perjalanannya. "Kalau sudah selesai melihatnya, cepat susul teman-teman," ujar Ino mengingatkan.

Sai tersenyum tulus dan berusaha berjalan di samping Ino.

"Aseeek dah! Mainnya gombal-gombalan!" seru Kiba dari barisan depan yang membuat semua tertawa. (astaga -_- ketularan sahabat Mizuka si Kiba)

"Tolong ampunilah teman-temanku, wahai Jashin-sama!"

Semuanya langsung berhenti tertawa begitu dengar suara Hidan.

"Dasar sesat!" seru anggota Akatsuki kecuali Hinata dan Naruto.

Seperti yang kalian tahu di chap 2, mereka sedang marahan. Sebenarnya sih, bukan mereka berdua tapi Hinata saja yang lagi marah akibat ucapan Naruto yang lebih mempercayai Shion ketimbang dengan pacarnya sendiri. Hello? Siapa sih yang tidak marah kalau pacar sendiri lebih percaya omongan orang lain daripada kita? Pasti marah kan? Pasti sakit hati kan sampai-sampai tak tahu harus berbuat apa?

"Hinata...," panggil Naruto yang tengah berjalan di samping Hinata.

Gadis itu tidak menengok, ia sibuk dengan buku kecilnya.

Melihat itu pun, Naruto hanya menghela napas dan berhenti melangkah.

"Kenapa berhenti, Dobe? Ayo jalan!" seru Sasuke.

Naruto tetap tidak bergeming dan itu membuat si bungsu Uchiha kesal. Ia tahu, sejak tadi si Dobe tengah berusaha untuk memberikan penjelasan pada Hinata. Sasuke berdencih begitu ingat betapa bodohnya Naruto saat semalam bercerita tentang apa yang terjadi pada dirinya dengan Hinata.

"Paksa dia, Dobe. Supaya dia mau mendengarmu," gumam Sasuke.

"Percuma."

"Lalu apa yang mau kau lakukan?" tanya Neji yang tiba-tiba berada di samping Naruto. "Kau dengan Hinata tak akan selamanya begini terus kan?" tambahnya lagi. (Aiiih! Kayaknya si overprotective Neji sudah merestui hubungan NaruHina nih #Author di jyuuken Neji#)

Naruto diam tak menjawab.

"Sudah sana! Cepat kejar Hinata!" seru Itachi dari belakang Naruto sambil mendorong si pemuda bermata sapphire itu ke depan. Tanpa diduga, Naruto yang kaget didorong Itachi malah bertabrakan dengan Shion yang tengah berdiri di depannya. Hal itu membuat Naruto menindih tubuh Shion dan untung saja kedua tangan juga kedua lututnya menahan tubuhnya untuk tidak benar-benar menindih Shion.

Semua orang yang melihat kejadian tersebut tercengang, apalagi Itachi si dalang dari semua ini. "Gawat! Masalah Naruto makin rumit gara-gara aku!" ujar Itachi pelan.

"Cieee! Prikitiew!"

"Aduh pakai tindih-tindihan di tempat umum segala. Hihi."

Suara riuh dari orang-orang yang tidak mengetahui hubungan NaruHina terus terdengar dan itu membuat Hinata sakit. Gadis itu hanya menunduk lalu berjalan dengan sahabat-sahabatnya yang berada di belakangnya. Ino, Tenten, Sakura, Matsuri, dan Temari, mereka menggerutu sebelum pergi mengikuti Hinata.

"Woi, Naruto! Apa yang kau lakukan dengan Shion, hah!" seru Suigetsu dari kejauhan sambil berjalan menghampiri.

Naruto cepat-cepat bangun lalu berusaha menjelaskan apa yang terjadi karena semua anggota Akatsuki yang mengetahui hubungan NaruHina. "I-ini tidak seperti yang kalian bayangkan kok! Sungguh! Ini salah Itachi karena dia yang mendorongku!"

"Dasar! Jangan jelaskan pada kami, jelaskan pada Hinata yang terus-terusan kau sakiti sejak kemarin!" ujar Juugo seraya pergi. Semuanya pun pergi meninggalkan Naruto.

"Maaf, Naruto. Gara-gara aku..."

"Tak apa, ini bukan salahmu." Naruto pun pergi.

"Ck, dasar Itachi bodoh!" gerutu Sasuke.

"Hinata sakit hati lagi pasti," ujar Neji datar dan itu membuat Itachi tambah bersalah. Sasuke dan Neji pun pergi meninggalkan Itachi dan Shion yang sudah berdiri.

"Shion, aku ingin tanya padamu."

Shion menatap Itachi sebentar. "Apa?"

"Apa kau benar-benar menyukai Naruto?" tanya Itachi. Melihat tak ada respon dari Shion, Itachi berbicara kembali. "Jangan rusak hubungan mereka yang sudah susah payah mereka jaga selama ini. Kau tahu sendiri kan kalau Naruto sangat menyukai Hinata sejak awal, kenapa kau tidak bisa terima itu?"

Shion tetap tak bicara, ia malah menunduk.

Itachi berjalan dan berhenti tepat di samping Shion. "Lupakanlah Naruto, pasti ada yang lebih baik dari Naruto." Ia pun pergi dari hadapan Shion.

"Aku juga inginnya seperti itu... tapi susah."

###

Pemandu wisata dari Konoha Garden sudah selesai dengan tugasnya yaitu memandu rombongan Suna Gakuen sampai ke tempat terakhir yaitu tempat pembudidayaan bunga-bunga yang ada di Konoha Garden. Pihak sekolah membebaskan anak muridnya sampai jam makan siang. Waktu tersebut banyak digunakan siswa-siswi untuk berfoto-foto ria, kencan, dan lainnya.

"Gaara-kun, apa kau melihat Hinata-chan?" tanya Matsuri.

Gaara mengernyit. "Bukannya dia denganmu."

Matsuri menggeleng. "Dia pergi begitu saja saat kami lengah. Aku khawatir padanya, Gaara-kun. Aku takut terjadi apa-apa dengannya," ujar Matsuri sambil menunduk. Ya, Matsuri sangat khawatir apalagi saat ini perasaan Hinata tengah memburuk.

"Tak akan terjadi apa-apa."

"Tapi..."

"Hinata sudah dewasa, dia tahu mana yang terbaik untuknya," ujar Gaara kalem.

Matsuri menghela napas. "Sebenarnya kamu dimana, Hinata-chan?"

Sementara itu di sebuah taman yang dikhususkan untuk bunga matahari, gadis berambut indigo tengah berdiri menatap bunga-bunga itu. Dari kejauhan ada seorang pemuda berambut nanas sedang berjalan dengan seorang gadis berkuncir empat.

"Itu Hinata-chan!" seru Temari.

Saat Temari ingin menghampirinya, tiba-tiba pemuda berambut nanas menahannya.

"Eh? Dari tadi aku mencarinya, Shikamaru."

"Lihat dari sini saja, ada seseorang yang ingin bicara penting dengan Hinata."

Temari langsung menengok dan benar! Ada Naruto yang menghampiri Hinata.

"Hinata," panggil Naruto.

Gadis itu tak merespon lagi.

"Jangan diamkan aku seperti ini terus, Hinata. Aku sangat tersiksa tahu. Kutelpon tidak diangkat, kukirim e-mail juga tidak dibalas. Tiap kali ingin bicara denganmu, kau selalu pura-pura tidak menyadari kehadiranku." Naruto menunduk. "Apa yang harus kulakukan agar kau tak marah lagi padaku?"

"Pikirkan saja sendiri," ujar Hinata lalu pergi.

"Hinata... aargh! Apa yang harus kulakukan sekarang!" gerutu Naruto.

"Sepertinya Hinata masih marah," ujar Shikamaru.

Temari cemberut. "Tentu saja, apalagi setelah melihat kejadian tadi."

###

Setelah acara makan siang di Konoha Garden selesai, mereka pergi ke tempat selanjutnya yaitu ke Konoha Traditional Market dimana barang-barang khas Konoha yang biasanya dijadikan oleh-oleh itu berada. Hinata bersama dengan Sakura dan Karin tengah sibuk mencari oleh-oleh yang cocok untuk dibawa ke Suna. Sakura dan Karin senang sekali berburu aksesoris dan sudah satu kantong plastik mereka bawa sementara Hinata belum dapat oleh-oleh yang cocok untuk dirinya juga untuk sang Ayah, Ibu, dan adik tercintanya, Hanabi.

"Hinata-chan, kenapa belum belanja?" tanya Karin.

"Belum ada yang menarik perhatianku untuk kujadikan oleh-oleh."

"Bagaimana kalau baju-baju yang ada di sana?" saran Karin.

Hinata mengangguk lalu mengikuti Karin dan Sakura.

Sesampainya di toko yang dimaksud Karin, Hinata mencari-cari baju couple (baju sepasang) untuk orang tuanya. Begitu ketemu baju yang menarik perhatiannya, Hinata langsung mengambil baju tersebut dari gantungannya. Tanpa disangka, ada seseorang juga yang ingin baju itu.

"Shion?" gumam Hinata begitu tahu siapa orangnya.

"Oh, Hinata. Kau mau baju itu? Kalau gitu, ambil saja bajunya biar aku cari yang lain," ujar Shion seraya pergi tanpa sedikit pun rasa bersalah mengenai kejadian tadi dan kemarin.

"Kenapa harus baju? Kenapa tidak Naruto saja?"

Hinata menatap Shion dari kejauhan, ia sangat berharap Shion bisa mencari yang lain. Bukan terus mengharapkan Naruto yang kini sudah jadi kekasihnya. Bukannya Hinata bermaksud untuk melarang Shion, hanya saja ia tidak mau Shion akan lebih terluka jika terus menginginkannya. Kenapa tidak semudah itu kau lupakan Naruto seperti kau melupakan baju ini, Shion? (Naruto kan bukan baju, Hinata-chan -_-)

Tanpa disadari Hinata, Naruto terus mengawasinya dari kejauhan.

"Apa dia suka baju couple-an ya?" gumamnya pelan.

###

Perjalanan kembali dilanjutkan setelah sejam lebih mereka diizinkan untuk berbelanja di Konoha Traditional Market. Butuh waktu beberapa jam untuk bisa menuju tempat wisata selanjutnya yaitu Konoha Beach. Pantai yang sangat terkenal di Konohagakure akan keputihan pasirnya juga jernihnya air laut tersebut. Banyak wisatawan mancanegara maupun lokal berwisata ke sana tiap pergi ke Konohagakure. Jadi tidak heran kalau tiap harinya penuh manusia di sana.

"Wah! Lumayan penuh pantainya!" seru Ayame yang baru saja turun dari bis 9. Gadis itu menengok ke belakang. "Ayo, Shion-chan! Semuanya sudah ke sana," ajaknya sambil menarik tangan Shion.

Kedua gadis itu pun bersama-sama pergi ke pantai.

"Terima kasih."

Ayame menengok. "Untuk apa?"

"Untuk semuanya." Shion tersenyum.

"Itulah gunanya sahabat, selalu ada saat sahabatnya tengah sedih," ujar Ayame dengan riangnya. "Kau anggap aku ini sahabatmu kan, Shion-chan?"

"Iya!" Shion tertawa. Matanya melirik ke kanan dan ke kiri seperti tengah mencari sesuatu. Begitu kepalanya menoleh ke kiri, seseorang yang dicarinya kini tengah duduk sendirian sambil memandang ke depan. Shion mengikuti kemana arah mata itu dan perih menyelimuti hatinya. Ya, orang itu tengah memandangi kekasihnya yang sibuk menatap laut bersama teman-temannya.

"Ada apa, Shion-chan?" tanya Ayame khawatir.

Shion menunduk. "Kurasa aku akan menyelesaikannya sekarang, Ayame-chan."

Ayame menelengkan kepalanya, pertanda bingung.

"Ah sudahlah. Aku ke sana sebentar, kau bersama yang lain saja dulu." Shion pun pergi menghampiri orang itu. Begitu sampai, ia menghela napas lalu duduk di sebelahnya. "Naruto."

Tak ada respon.

"Na-ru-to!"

"Ah! Iya! Apa!"

Shion tertawa melihat tampang kaget Naruto. Sungguh, pemuda di hadapannya ini selalu bisa membuat orang tertawa dengan tingkah polosnya. Hal itu juga yang membuat dirinya jatuh cinta pada seorang pemuda bernama Naruto Namikaze.

"Ada apa?" tanyanya datar.

"Mm, soal Hinata dan kita," Shion tak bisa pungkiri bahwa hatinya sakit begitu dengar suara datar Naruto, ia hanya menghela napas. "Aku ingin mengaku padamu. Kalau aku..."

"Apa? Cepat katakan, sebelum yang lain lihat dan salah paham lagi."

"Aku menyukaimu!"

Naruto menengok lalu menyipitkan matanya. "Jangan bilang gara-gara perasaanmu itu, kau ingin menghancurkan hubunganku dengan Hinata," ujar Naruto dengan nada menusuk.

"Ya, entah kenapa aku ingin merusaknya."

"Kau!" Naruto berdiri dari tempatnya duduk sambil menatap tak percaya ke arah Shion.

"Maaf! Maaf!" Shion menunduk karena dirasakannya air mata turun dari kelopak matanya. "Maaf! A-aku tak bisa m-membendung perasaanku. E-entah kenapa nafsu dan p-pikiranku selalu menyuruhku untuk berbuat seperti itu. Aku bingung!" Shion menutup wajahnya dengan kedua telapak tangannya, berusaha agar tangisannya tak terlihat.

"Ini."

Shion mengangkat wajahnya.

"Aku paling tidak bisa melihat perempuan nangis, apalagi saat Hinata yang menangis," ujar Naruto sambil memandang Hinata yang masih berdiri memandang laut lepas. "Apalagi saat tahu bahwa dia menangis gara-gara aku," tambahnya.

Shion menerima tisu dari Naruto. "Pergilah, dia pasti menunggumu."

Naruto menengok.

"Kuakui, aku akan kesulitan untuk melupakanmu, tapi kurasa kau memang lebih cocok dengannya." Shion tersenyum. "Mengingat cinta kalian berdua yang begitu tulus satu sama lain."

Naruto ikut tersenyum lalu menengok lagi ke arah Hinata.

"Kami memang tulus mencintai satu sama lain." Kaki jenjangnya mulai melangkah meninggalkan Shion. "Kurasa kau benar, dia menungguku." Naruto menengok ke belakang tanpa memutar badannya. "Maaf Shion, aku sudah mencintai Hinata. Dan jika kau mau, kita bisa jadi teman saja." Senyum ceria khasnya kembali muncul di wajah manisnya.

Shion mengangguk senang.

####

Naruto melangkahkan kakinya menuju gadis berambut indigo panjang yang kini tengah berdiri sambil memandangi laut lepas. Terik matahari tak menghalangi gadis tersebut untuk berdiri tegap di sana.

"Hinata," panggil Naruto sambil berhenti melangkah dan berdiri tepat di samping kiri gadis yang sudah merebut hati dan perhatiannya sejak tiga tahun lalu, dimana mereka baru masuk Suna Gakuen.

"Hm."

Ya, ia tahu, gadis-'nya' ini masih marah.

"Aku ingin bicara berdua saja, tapi tidak di sini."

"Lalu dimana?"

Naruto menunjuk ke jembatan yang ada di tepi pantai. Jembatan itu terbuat dari kayu namun terlihat kokoh dan tidak ada seorang pun yang ke sana. Memang, jembatan tersebut agak menepi dari pantai. "Ayo!" Naruto menarik tangan kiri Hinata.

"Hei! Aku belum menyetujuinya tahu!"

Naruto terkekeh. "Kau pasti tak akan menyetujuinya karena kau masih marah padaku." Tarikan tangan dari Naruto berubah menjadi genggaman dalam sekejap dan Hinata sama sekali tak menolaknya.

"Sebenarnya apa maumu?"

Naruto berhenti melangkah karena mereka sudah sampai di jembatan. Ia pun duduk di tepi jembatan dengan kaki berada tepat di atas air laut. Genggamannya tidak dilepas dan mau tak mau Hinata ikut duduk di samping Naruto.

"Sebenarnya apa maumu?" tanya Hinata lagi.

"Aku ingin menjelaskan semuanya."

"Tak perlu, semuanya sudah jelas. Kalau memang kau lebih percaya pada Shion, lebih baik hubungan ini berakhir saja," ujar gadis itu kalem.

"Tidak!" Naruto mengeratkan genggamannya. "Aku tak ingin mengakhiri hubungan ini, sungguh. Soal kemarin, aku terbawa emosi karena kau selalu tidak percaya soal hubunganku dengan Shion yang hanya teman saja," jelas Naruto lalu tersenyum menatap Hinata. "Dan soal tadi..."

"Kecelakaan."

"Eh? Jadi?"

Hinata menyipitkan matanya. "Jadi apa? Aku tahu, Naruto tak mungkin seperti itu dan lagi Itachi sudah memberitahuku tadi." Gadis itu menatap laut. "Aku bukannya tidak percaya padamu soal itu, tapi kalau dipikir-pikir lagi memang kalian cocok. Sama-sama punya rambut pirang, mudah bergaul, dan masih banyak lagi."

"Bodoh," Naruto tertawa kecil.

Hinata mengernyit.

"Kalau kau mau mempunyai rambut sama sepertiku, kau tinggal mengecatnya saja. Tapi apa kau berpikir kita itu berbeda, hm?" Naruto mendekatkan wajahnya ke wajah Hinata dan membuat gadis itu memberi jarak.

"Y-ya, kau berbeda jauh dariku yang lebih suka menyendiri."

Naruto tersenyum. "Justru karena perbedaan, kita jadi saling melengkapi."

Hinata tertegun mendengarnya.

"Jangan cemburu lagi ya soal Shion." Naruto memegang pipi kanan Hinata dengan lembut. "Dia mengaku kalau dia menyukaiku tapi aku sudah punya Hinata yang selalu kucintai untuk selama-lamanya dan selalu mencintaiku dengan tulus. Apa perlu aku mengucapkannya lagi?" tanyanya sambil menempelkan keningnya ke kening Hinata sehingga hidung mereka bersentuhan.

Wajah Hinata sedikit merona. "Mm, N-Naruto, terlalu dekat."

"Tak apa, tapi Hinata-chan sudah tidak marah lagi kan?"

Wajah Hinata kembali cemberut. "Entahlah." Gadis itu pun melepas pegangan Naruto di pipinya seraya menjauhkan wajahnya dengan wajah Naruto. Hinata menghela napas. "Rasanya di sini," Hinata memegang dada atas sebelah kirinya, "masih sakit."

Naruto menunduk mendengarnya. "Maaf."

Hinata tersenyum tulus dan menggenggam balik tangan Naruto.

"Hinata...," gumam Naruto begitu melihat senyum tulus Hinata.

"Aku akan berusaha menghilangkan rasa cemburuku pada Shion dan mencoba memandang semuanya baik-baik saja, seperti tak terjadi sesuatu. Tapi kuakui, aku... susah menghilangkan sakit ini, Naruto-kun," lirihnya.

Naruto tersenyum begitu namanya ditambah suffix-'kun' lagi.

Melihat itu pun, Hinata ikut tersenyum dengan rona merah di pipi.

"Aku janji akan menghilangkan rasa sakit itu dengan sekejap!"

"Hah? B-bagaimana caranya?" heran Hinata.

"Dengan ini." Naruto menarik dagu Hinata lalu memiringkan kepalanya sedikit ke kanan. Hidung keduanya bersentuhan dan tak lama kemudian bibir mereka bertemu. Naruto menutup matanya perlahan sementara Hinata masih kaget hanya diam mematung karena ini kali pertamanya ia berciuman. Naruto memilih untuk berhenti mencium gadis itu sebentar dengan memberi jarak beberapa senti saja. Seringai tampak di wajahnya.

"Kenapa tidak membalas, Hinata-chan?" goda Naruto.

Wajah Hinata memerah. "A-apa yang k-kau laku –mmph–!"

Belum sempat Hinata menyelesaikan ucapannya, Naruto sudah menciumnya lagi. Perlahan Hinata menutup matanya seperti yang dilakukan Naruto. Debaran jantung keduanya berdetak dengan cepat dan keras, mungkin bisa saling mendengar satu sama lain. Tangan kanan Hinata yang bebas bergerak ke bahu Naruto dan meremas kecil kemeja yang dipakai pemuda itu. Ciuman yang Naruto berikan terasa lembut dan penuh ketulusan, Hinata bisa merasakannya. Ciuman pertama dengan laki-laki yang sangat dicintainya tak akan pernah dilupakan oleh Hinata.

Naruto menggenggam erat tangan mungil Hinata sambil tersenyum di balik ciuman mereka. "I love you," ujar Naruto di tengah-tengah ciumannya.

Hinata membalasnya dengan memperdalam ciumannya sambil meremas kemeja Naruto. Dalam hati ia berbisik, 'I love you too, Naruto-kun.'

Beberapa menit kemudian (weh? Bisa tahan juga mereka? #plak#) keduanya memberi jarak. Sebagai makhluk hidup yang masih ingin bernapas, mereka butuh pasokan oksigen karena oksigen keduanya sudah habis tak bersisa.

"Maaf, aku terlalu bersemangat," ujar Naruto seraya terkekeh.

Hinata hanya menunduk malu.

Naruto mengacak-acak rambut Hinata pelan dengan tangan kirinya. "Kau itu sangat manis jika malu-malu seperti ini, kau tahu?" Lagi, Naruto mencari kesempatan untuk mencium bibir gadis itu sebentar saat wajahnya menatap ke arahnya. "Dapat ciuman lagi," gumam Naruto sambil tersenyum lebar.

"Na-Naruto-kun." Wajah Hinata kembali menunduk dengan wajah memerah.

"Bagaimana rasanya?"

"J-jangan tanya s-soal itu lagi!"

Lagi, Naruto terkekeh.

###

"Ih waw! Amazing! So sweet!" seru Konan sambil memfoto kedua objek –NaruHina– yang tengah memadukasih di kejauhan sana. Fotonya pun tidak kira-kira, saat mereka ciuman juga ia foto.

"Hahaha, dasar Konan. Usilnya kambuh nih," ujar Nagato.

"Yaaah, namanya juga perempuan, Nagato," timpal Yahiko.

"Sakura-chan, Karin-chan, Ino-chan!" panggil Konan.

Ketiga gadis itu datang mendekati Konan, di belakang mereka ada si saudara kembar Uchiha, Suigetsu, Juugo, dan juga ada Sai yang tengah ribut membicarakan bola Liga Eropa. Sayup-sayup terdengar nama Chelsea FC dan Buyern Muenchen disebut-sebut.

"Ada apa, Konan-chan?" tanya Sakura.

Konan menunjukkan hasil pemotretannya pada ketiga gadis itu.

"I-ini...," Ino menganga tak percaya. Rona merah juga muncul di pipinya.

Karin juga ikut merona. "Mereka... sudah baikan berarti."

"Pastinya, jelas sekali karena mereka berciuman."

Ino mengambil kamera digital milik Konan untuk melihat semua foto-foto kebersamaan Naruto dengan Hinata di ujung jembatan. Dari mulai saat Naruto menempelkan kening mereka, menyentuh pipi Hinata, dan saat mereka berciuman. Foto mereka sangat terlihat jelas karena Konan men-zoom-nya ketika memfoto mereka. Dan foto terakhir saat Hinata menaruh kepalanya di atas bahu kekasihnya, Naruto pun membalasnya dengan menaruh kepalanya di atas kepala Hinata.

"Hei! Pada ngumpul-ngumpul ternyata di sini," ujar Tenten yang baru datang.

"Tenten-chan, ke sini deh! Ada yang seru nih!"

Tenten menatap Neji sebentar yang tengah berjalan di sampingnya lalu berlari kecil menghampiri mereka. "Ada apa? Ada apa?" tanya gadis bercepol dua itu tak sabaran.

"Ini." Sakura menyerahkan kamera Konan ke Tenten.

Mata Tenten terbelalak. "Ini..."

Neji ikut melihat juga sedikit terbelalak. "Apa-apaan foto ini?" tanya Neji tak percaya dengan sedikit nada emosi. (Cia cia cia cia! Overprotective-nya keluar lagi!)

"Hahaha!" Juugo dan Suigetsu tertawa keras secara tiba-tiba.

"Kalian kenapa?" tanya Tenten.

Juugo yang mengerti soal foto NaruHina tertawa geli sambil berucap. "Ciuman seperti itu memang sering dilakukan oleh sepasang kekasih, jadi jangan emosi, Neji." Juugo menyikut lengan Neji. "Jangan-jangan kau belum pernah melakukannya dengan kekasihmu itu."

Tenten yang mendengarnya lebih memilih diam dengan wajah merona.

"A-apa sih m-maksudmu! Aku t-tidak mengerti," elak Neji.

"Halah! Pura-pura tidak mengerti," ujar Suigetsu.

"Cih! D-dasar," gumam sepupu Hinata itu kesal.

###

Jam sudah menunjukkan tepat pukul 5 sore, saatnya rombongan Suna Gakuen yang tengah berwisata itu kembali ke hotel mengingat perjalanan mereka yang akan menempuh dua jam lebih untuk menuju hotel. Bis 9 seperti biasanya, selalu ribut. Apalagi sekarang, mereka tengah menggoda pasangan NaruHina yang ketahuan tengah berciuman di tepi jembatan. Ck, dalang dari semua ini tentunya Konan.

Akhirnya mereka kembali ke hotel tepat 2 jam perjalanan.

"Hinata-chan, setelah makan malam kau mau kemana?" tanya Tenten.

Hinata mengangkat bahu sambil mengeringkan rambutnya dengan handuk.

"Tidak jalan-jalan dengan Naruto-'mu' itu, Hinata-chan?"

"A-aku tidak tahu, belum ada e-mail masuk dari Naruto-kun," ujar Hinata pada Sakura yang sedari tadi terus menggoda Hinata.

"Wah, gimana ya rasanya berciuman itu?"

Ketiga gadis itu menoleh dengan cepat ke arah Ino yang baru saja keluar dari kamar mandi. Mereka mandi bergantian dengan Ino yang terakhir memakai kamar mandi, mengingat Ino selalu lama jika memakai kamar mandi.

"Tidak enak!" seru Sakura.

"Hah?"

Sakura memasang wajah cemberut. "Jika berciuman pasti Sasuke-kun yang memaksa terlebih dahulu," jelasnya. "Tapi kau menikmatinya kan?" Mendengar ucapan Ino, Sakura jadi salah tingkah. Ya, pastinya Sakura menikmati sentuhan dari Sasuke, yang sudah menjadi kekasihnya selama setahun terakhir itu.

Ketiga gadis itu tertawa geli.

Acara makan malam tak ada yang menarik, namun setelah kegiatan tersebut selesai, suasana menjadi riuh karena ada kegiatan foto-foto dengan guru-guru di tiap kelasnya. Yang paling bersemangat tentunya dari Akatsuki, mereka sudah bersiap-siap sebelumnya dengan gaya mereka masing-masing. Dan viola! Jadilah foto dengan anggota Akatsuki yang semuanya tengah berjongkok di bawah sementara semua guru berdiri. Di ujung guru-guru ada Yahiko dan Konan yang notabene menjadi Ketua dan Wakil Ketua.

Drrrt! Drrrt! Drrrt!

Ponsel Hinata bergetar saat gadis itu ingin masuk kamar.

'Hinata, temui aku di depan hotel. Naruto. :D'

Ia pun melirik jam tangan, waktu masih menunjukan jam 20.30. "Teman-teman, aku pergi dulu ya!" pamitnya sambil tersenyum lalu menutup pintu.

"Tuh kan, benar! Mereka mau jalan!" seru Sakura.

"Kau sendiri tidak jalan-jalan dengan Sa-."

Tok tok tok!

"Ck, siapa sih!" Ino dengan raut wajah kesal karena omongannya diputus oleh suara ketukan pintu itu pun membuka pintu. Gadis itu terbelalak begitu tahu siapa yang mengetuk. "S-Sai?"

Sai tersenyum. "Apa kau mau 'jalan' denganku?"

###

Jalan raya di depan hotel terlihat ramai-ramai lancar. Banyak mobil dan motor yang berlalulalang di jalanan. Lampu lalu lintas selalu berganti, dari merah menjadi kuning lalu berubah lagi menjadi hijau. Tak banyak orang yang berjalan di pinggir jalan, sehingga membuat kedua sejoli ini menjadi pusat perhatian pengendara motor maupun mobil yang melewati mereka.

"Hinata-chan, ini."

Hinata mengernyit sambil menerima bungkusan dari Naruto. "Apa ini?"

"Buka saja," suruh Naruto.

Gadis itu menurut dan membuka bungkusan tersebut. Sebuah baju atau lebih tepatnya kaos berwarna biru tua dengan gambar lambang kota Konohagakure beserta tulisan kaligrafi 'I love Konohagakure'. "I-ini."

"Aku beli couple, punyaku berwarna merah," jelasnya.

Hinata merona dibuatnya.

"Apa kau tidak suka?"

"A-ah, tidak kok! Aku suka, Naruto-kun," ujar Hinata cepat. Ia pun mengambil sesuatu dari saku jaketnya yang sangat kebesaran untuknya. "Aku juga punya oleh-oleh couple untuk kita, Naruto-kun." Hinata tersenyum malu sambil menyerahkan sebuah kotak yang ukurannya lumayan besar.

Naruto menerima kotak itu.

"Semoga Naruto-kun suka."

Pemuda itu membuka kotak tersebut dengan cepat. Ternyata di dalamnya ada sebuah pajangan berbentuk setengah bola dengan sepasang lumba-lumba berwarna biru muda tengah menyelam di dalamnya. Naruto tersenyum tulus.

"Maaf, cuma itu yang bisa kuberikan." Hinata berjalan dengan kepala menunduk.

"Ini sudah lebih dari cukup kok."

Keduanya memasuki sebuah gang yang cukup besar namun sepi untuk kembali ke hotel karena mereka hanya berencana untuk mengelilingi hotel saja. Sebelum masuk gang, Naruto berhenti melangkah. Hinata ikut berhenti karenanya.

"Ada apa?"

Naruto menarik tangan dan tubuh Hinata ke dalam dekapannya.

"N-Naruto-kun?"

"Terima kasih, kau sudah memberiku kesempatan untuk mencintaimu dan terima kasih untuk cintamu yang tulus padaku," lirih Naruto.

Hinata membalas pelukan Naruto. Ia menutup matanya, berusaha menenangkan hatinya yang terus berdebar. Harum tubuh Naruto begitu tercium bila sedekat ini. "Terima kasih juga karena sudah memberikan cintamu yang tulus," lirih Hinata dan mengeratkan pelukannya.

Naruto mengecup puncak kepala gadis-'nya'.

Gadis itu melepaskan pelukannya lalu tersenyum.

Lagi, Naruto menyentuh pipi Hinata dengan kedua tangannya. Tak lama kemudian wajahnya mendekat dan matanya tertutup. Hinata yang tahu apa yang akan terjadi berikutnya itu pun ikut menutup matanya. Hidung mereka bersentuhan dan kemudian bibir keduanya bertemu. Cukup lama keduanya berciuman, memberikan ketulusan dan kelembutan mereka hanya dalam sebuah ciuman.

"Hinata, kaulah yang terakhir bagiku," gumam Naruto. (Kata-kata Naruto terinspirasi langsung dari lagunya Adera – Lebih Indah ##)

Si gadis berambut indigo itu tersenyum.

"Ckckck, dasar Naruto," gumam Kiba dari kejauhan.

"Guk, guk!"

Akamaru menggonggong tatkala tangan halus Kiba mengelusnya dengan penuh kasih sayang. Selama perjalanan tadi siang, ia dilarang untuk membawa Akamaru. Akhirnya Akamaru ditaruh di kandang yang ia bawa. Cukup merepotkan memang, tapi Kiba tidak merasa kesulitan karena anjingnya sangat penurut.

Tampak seorang gadis tengah berjalan dengan arah yang berlawanan sendirian. Rambutnya terlihat berwarna pirang dan panjang. Gadis itu berjalan tanpa melihat ke depan, matanya selalu menatap jalanan yang ramai.

"Shion!" panggil Kiba.

Benar, memang gadis itu adalah Shion.

"Oh, hei Kiba!"

Kiba sedikit berlari kecil menghampiri Shion yang sudah berhenti melangkah. "Kau sendirian?" tanyanya sambil melangkah mengikuti Shion yang kini sudah berjalan kembali.

"Iya," jawabnya sambil tersenyum kecil.

"Mau kutemani?"

Shion sedikit kaget lalu mengangguk.

###

"Aduh! Bagaimana ini?" Hinata tampak panik saat gerbang hotel tertutup rapat. Ia menatap penuh harap pada Naruto, berharap pemuda itu akan melakukan sesuatu yang bisa membuat mereka masuk hotel.

"Ck, kita terlalu lama jalan-jalannya."

"Lalu?"

"Yo Hinata-chan! Naruto!"

Kedua sejoli itu menengok dan memandang tak percaya kalau ada dua pasang temannya yang menerima nasib seperti mereka. "Kalian? Kalian baru pulang?" tanya NaruHina kompak.

"Iya," jawab Ino lalu matanya menatap gerbang. "Anoo..."

"Wah, gerbangnya terkunci!" seru Kiba.

Shion terbelalak di samping Kiba. "Serius!"

"Gerbangnya sudah dikunci sejak... mmm, 20 menit yang lalu?"

Kelima muda-mudi itu tertunduk lemas begitu mendengar suara Sai yang bukannya menghibur malah membuat mereka tertunduk. Sai tersenyum palsu sambil melirik anjing peliharaan Kiba.

"Kib, suruh Akamaru ke post satpam itu," suruh Sai.

Kiba tersenyum lebar. "Ide bagus!" seru Kiba setelah mengerti yang dimaksud Sai.

Akamaru menggonggong terus saat ia diturunkan dari gendongan Kiba. "Akamaru, bantu kami ya, cari satpam dan bawa dia kemari. Mengerti?" Akamaru menggonggong lagi. Anjing itu pun masuk ke dalam lewat bawah gerbang. Tak lama kemudian, Akamaru datang bersama seorang satpam.

"Ah, ternyata ada yang terkunci di sini," ujarnya sambil membuka kunci gerbang.

"Hehe, maaf Paman!" ujar Naruto sambil nyengir.

"Untung Paman baik, mau membukakan gerbang ini," ujar Hinata.

"Iya." Shion tertawa menimpali ucapan Hinata. Kedua gadis itu tampaknya sudah melupakan kejadian yang lalu-lalu. Wajah Hinata tampak senang saat mereka masuk ke halaman hotel. Sedikit kegaduhan dari ketiga pasang manusia itu membuat member Akatsuki keluar dari kamar mereka masing-masing.

"Cieee! Ada tiga pasang yang baru pulang dari kencannya!" seru Nagato tiba-tiba.

"EHEM!"

Semua Akatsuki terdiam di tempat begitu dengar deheman dari seorang guru yang mereka ketahui adalah Wali Kelas mereka sendiri. Tak ada yang berani menengok dan dalam hitungan 3 detik, semuanya masuk ke kamar masing-masing.

"KABUUUR!"

Kakashi –Wali Kelas Akatsuki– hanya geleng-geleng kepala.

Terdengar tawa yang cukup keras dari tiap kamar karena kejadian tadi. Sungguh menggelikan dan tak akan pernah bisa mereka lupakan saat-saat seperti tadi. Terutama untuk Hinata yang baru pertama kali ini dikuncikan. Sebelumnya tak pernah sampai seperti itu.

"Kenangan terakhir bersama Akatsuki," gumam Hinata.

Setelah hari ini dan esoknya mungkin mereka akan jarang atau mungkin lagi tidak akan bertemu lagi. Berhubung mereka punya urusannya masing-masing.

THE END

Ada yang mau cuplikan tambahan? Mizuka kasih deh... :D

"Hei Hinata-chan! Ini gawat!"

Hinata menengok pada Sakura yang tengah mengutak-atik ponselnya. "Nani yo, Sakura-chan?" Gadis itu pun berjalan menghampiri Sakura setelah Sakura menyuruhnya untuk mendekat.

"Ini! Fotomu diunggah ke Facebook sama Konan-chan!"

"WHAT!" seru Ino sambil terbangun dari kasurnya.

"Foto?"

"Jangan-jangan foto yang itu!" Tenten ikut terbangun lalu mengambil posisi duduk di samping Sakura karena mereka satu ranjang. Sementara Hinata dengan Ino, berhubung tiap kamar hanya memiliki dua kasur yang berukuran cukup untuk dua orang.

"Foto apa sih? Coba kulihat!"

Hinata mengambil ponsel Sakura karena rasa penasaran yang teramat sangat. Teman-temannya saja tahu, kenapa dia tidak tahu? Mata amethyst-nya membulat dengan sempurna. Wajahnya memerah seperti kepiting rebus. Di ponsel Sakura terpampang jelas sebuah foto dirinya bersama Naruto tengah... berciuman!

"HUAAA! KONAN-CHAAAN!"

"Hihihi, sepertinya ada yang memanggilku. Ah, kuyakin pasti Hinata-chan yang memanggil," gumam Konan seraya mengotak-atik kembali laptop yang ia bawa.

The True End (^-^)

Yo, minna! Bagaimana chap terakhir ini? Serukah? Masih mengecewakankah? Atau membosankankah? Kritik dan saran serta flame Mizuka terima deh! Maaf ya, update lama. Mizuka sibuk ngurus keperluan untuk sekolah lanjutan.

Terima kasih Mizuka ucapkan sekali lagi untuk para pembaca dan reviewer yang sudah susah payah memberikan sebuah tulisan mengenai fic Mizuka ini dan voting nya untuk memilih happy ending. Hontou ni arigatou gozaimasu! Special thanks for: My boyfriend karena gara-gara dia Mizuka jadi terinpirasi. (^o^) Terima kasih juga untuk mitsu-tsuki, Balaba, Natsumi H, ImYoona90, ramdhan-kun, dan Ichal atas review-nya. Haha, maaf Mizuka baru sadar kalau di tiap chap nya tidak ada garis pembatas. Maaf juga lupa kasih note. PHO itu singkatan dari Perusak Hubungan Orang. Itu juga Mizuka tahu dari teman. :D

Yosh! Sampai bertemu di fic Mizuka yang lain dan jangan bosan-bosan untuk membaca fic Mizuka ## haha... Mungkin setelah ini akan ada fic dengan mode three-shoot lagi. (^,^)

Jaa ne! Keep smile and SPIRIT!