Hola, minna-chu ~ gomen updatenya lama, huehehheheh. Ini gara-gara tonjokan seorang hemaprodit yang menyebabkan saya Hilang ingatan selama 3 jam 3 menit 3 detik *mati gara-gara ngakak* XDD
Ah, ya, tentang Review .. saya minta maaf ternyata Leukimia itu sampe stadium 4 .. *dasar bego, nilai Biologi lo berapa sih, Rei ?* HUWEEEE, gomen-gomen-gomen-gomeeeenn .. terima kasih buat Nakyo Hibasawa-san sama Ruicchi Arisawa-san yang udah kasih tau saya ;_;
Tapi ga bakal saya ubah deh, umurnya Hibari tetap 1 minggu, muahahahahahah *dikamikorosu* (maksa banget gitu lho)
Oh ya (lagi), di Chap.2 juga ga banyak A/N kok, thanks banget buat yang udah ngasih review :)
Terus, khusus Chapter ini, kayaknya lebih banyak Romance-nya daripada Angst. Oke, daripada kebanyakan ngomong, mending langsung aja :D
Disclaimer : Akira Amano-senpai
Genre : Romance, Angst
Warning : OOC (banget), Lebay-ness (lah).
Hibari membuka matanya. Dan pemandangan yang ia lihat pertama kali adalah langt-langit ruangan tempat ia tertidur. Hibari menoleh ke arah kanan. Ia melihat jendela dengan tirai berwarna putih kecoklatan dengan cahaya yang masuk melawati celah-celah tirainya.
'Sudah pagi ..?' kata Hibari dalam hati.
Lalu ia melihat sekelilingnya. Putih. Temboknya putih. Bersih sekali. Pandangan Hibari terpaku ke seseorang yang tidur di samping kirinya. Orang tertidur sambil menggenggam tangannya.
"Dino .." gumamnya.
Dino tertidur sangat pulas. Wajahnya sangat tenang. Tapi ada yang membuat Hibari penasaran. Kantung mata Dino .. Hibari melepaskan genggamannya pelan-pelan, lalu menyentuh pipi Dino. Dino yang merasakan sesuatu akhirnya terbangun. Dan ia melihat Hibari, Hibari dengan mata yang terbuka, tidak seperti kemarin malam.
"Kyouya .. Syukurlah kau sudah sadar .." Kata Dino. Lega melihat Hibari sudah bangun. Dino tersenyum lembut dan menggenggan balik tangan yang ada di pipinya itu. Tetap tersenyum ke laki-laki yang sekarang ada di tempat tidur yang ada di depannya.
"…. Haneuma, kau menangis ?" tanya Hibari sukses membuat senyuman Dino hilang dan menatap Hibari dengan ekspresi wajah yang terkejut. Hibari hanya membalas tatapannya dengan eksperi yang datar, ia menunggu jawabannya.
"Ahaha, sepertinya begitu" Jawab Dino disertai dengan senyumannya LAGI.
"Kenapa ?" tanya HIbari dengan cepat dan tanpa berpikir panjang.
Dino tidak menjawab. Senyumannya hilang lagi dari wajahnya. Matanya yang agak bengkak itu melirik kea rah kiri, tidak berani melihat Hibari.
"Kau sudah tahu semuanya ya .. Maaf, aku berbohong .." kata Hibari dengan nada yang pelan, namun masih bisa di dengar oleh Dino.
".. Tentang penyakit kankermu itu ..? Hmph, Tidak ap-apa aku tahu kau hanya tidak ingin membuatku cemas, lagipula kau sudah mengaku kan sekarang." Kata Dino sambil tersenyum.
Dino berdiri dan mengangkat tubuh HIbari hingga posisinya sekarang menjadi setangah duduk. Dino mendekatkan wajahnya ke Hibari dan mencium bibirnya. Hibari tetap membuka matanya, dia kaget. Sementara Dino ? Ia menutup matanya, merasakan bibir Hibari yang sekarang bersentuhan dengan bibirnya.
Tak lama kemudian, Dino melepaskan ciumannya, menatap Hibari dan tersernyum jahil. Hibari yang tidak mengerti hanya diam.
"Tapi tetap saja aku merasa kesal. Itu hukuman karena kau telah berbohong padaku. Kalau kau berbohong lagi, aku akan menciummu seperti tadi sebagai hukumannya" Kata Dino menjelaskan.
"Ap―"
Tiba-tiba Dino memeluk Hibari. Hibari yang masih kaget tidak bereaksi apa-apa. "Aku mencintaimu, Kyouya .." bisik Dino dengan lembut di telinga Hibari.
Dan pada akhirnya, Hibari tersenyum dan membalas pelukan Dino. "Watashi mo .. Anata o aishite .. Aku juga mencintaimu, Dino .. "
"Hm ?" Dino melepas pelukannya dan langsung menatap Hibari. "Kau memanggil namaku .. Manis sekali .." Dino tertawa kecil.
"Berisik." Wajah Hibari memerah. Ia tidak menatap Dino. Lebih tepatnya, ia tidak mau. Hibari terlalu malu.
Dino tersenyum dan mengecup pipi sang Cloud Guardian itu "Grazie, Kyouya."
TOK TOK CKLEK―
Seseorang membuka pintu dengan tiba-tiba, Dino dan Hibari membenarkan posisi mereka. Dan setelah dilihat, mereka Tsuna dan yang lainnya "Selamat pagi, Hibari-san, Dino-san." Orang yang paling depan yang tidak lain adalah Tsuna menyapa mereka dengan ramah.
"Pagi, Tsuna .." sapa Dino ramah, sambil tersenyum. Hibari hanya diam.
Disamping Tsuna, ada Uni dengan bunga ditangannya. "Kami datang menjenguk." Katanya. lalu meletakkan bunga di vas yang letaknya di atas meja disamping tempat tidur Hibari.
"Terima kasih" kata Dino.
"Ngomong-ngomong, Kalian tidak sekolah, Herbivore ..?" Kata Hibari sambil men-death glare mereka.
"H-Hieee! Ka-Kami―"
"Sekolah kok, kan cuma mampir sebentar, Ahahha .." kata Yamamoto sambil tertawa kecil sambil mengaruk bagian belakang kepalanya.
"Telat juga gapapa, kan tidak akan ada yang mengka―" kata-kata Gokudera terpotong setelah Yamamoto dan Ryouhei menutup mulutnya. "Ssstt―" Yamomoto memberi isyarat untuk diam. Gokudera sweatdrop.
"Etto- kami permisi .." kata Tsuna sambil melangkahkan kakinya menuju pintu keluar ruangan disusul Yamamoto, Gokudera, Ryouhei, dan yang terakhir, Uni.
Heninng. Ruangan itu menjadi sepi lagi setelah ditinggalkan para-pembuat-keributan. Dan tawa kecil Dino memecah keheningan itu dan membuat Hibari bertanya-tanya "Kenapa ..?"
"Puh, ternyata kau perhatian sekali ya dengan mereka. Aku jadi iri .." kata Dino sambil tetap tertawa kecil.
"Maksudmu ?" tanya Hibari lagi.
"Tidak, Tidak, lupakan saja, ahahah .." katanya lagi.
"…." Hibari tidak menjawab, Ia menatap Dino sebentar, lalu menundukkan kepalanya. 'Maafkan aku, Dino ..' ucapnya dalam hati.
- o O o -
"Kyouya .. Kyouya .." Dino menusuk-nusuk pipi Hibari dengan telunjuknya.
Hibari membuka matanya, menoleh ke arah orang yang sudah menusuk-nusuk pipinya itu "Apa ?" tanyanya.
"Kau tidak bisa tidur lagi ya ?"
Hibari menghela napas "Sepertinya begitu .."
"Sudah empat hari kau begini. Insomnia ?"
Hibari menggeleng.
Sebenarnya Hibari sengaja tidak tidur sebelum Dino. Hibari ingin melihat wajah Dino yang sedang tidur. Kurang kerjaan ? Menurutnya tidak begitu. Ia tahu umurnya tidak lama lagi .. Dan setelah waktunya tiba, Dia tidak akan bisa menatap wajah sang Don Cavallone itu. "Karena itu .." bisiknya Hibari.
"Apa ? Kau berkata sesuatu, Kyouya ?"
"Tidak." Jawab Hibari. Bohong. Hibari berbohong lagi.
"Ehh .. Mau kunyanyikan lagu ?" tanya Dino.
"Apa ? Kau pikir aku ini anak kecil yang tidak akan bisa tidur sebelum mendengar lagu Nina Bobo ? Tidak." Jawab Hibari dengan cepat. Dino tertawa kecil "Tidak lucu ..." lanjutnya.
Dino berdiri dan mendorong Hibari pelan "Minggir, Kyouya .."
"Apa yang mau kau lakukan .. Haneuma ?"
"Tidur denganmu." Dino tersenyum.
Hibari terdiam sebentar. Lalu membuka mulutnya lagi "… Kenapa ?"
"Kenapa ya ? Mungkin seseorang akan lebih cepat tertidur kalau dipeluk orang lain, Ahahah .." kata Dino sambil tertawa kecil.
"Bukan .. Kenapa .. kau masih mau bersamaku .." Hibari tidak menatap Dino, suaranya seakan menahan tangis "Padahal kau tahu .. Aku tidak akan hidup lebih lama lagi, Dino ! Itu hanya akan membuat hatimu lebih sakit saat aku tidak ada nanti ! Bahkan .. manusia pun bisa mati hanya karena ia ditinggalkan oleh orang yang ia sayangi .. Hanya karena satu alasan bodoh .. karena ..dia mencintai orang itu ... Hanya karena alasan konyol itu .. Aku tidak ingin kau―" Hibari menghentikan kata-katanya, wajahnya sudah dipenuhi oleh air matanya sendiri.
Dino menghela nafas, lalu memeluk Hibari, mengelus kepalanya, membelai rambutnya, dan mencium keningnya. Dan sekarang ia menatap muridnya itu, tatapan yang lembut penuh dengan rasa sayang. Dino tersenyum dan menghapus air mata Hibari. Sesaat Hibari berhenti menangis "Aku hanya ingin menghabiskan waktu bersamamu, Kyouya, bahkan disaat-saat terakhirmu .. Kalaupun kau sudah tiada nanti .. Aku akan tetap mencintaimu .. hanya kau, tidak ada yang lain .. Aku mencintaimu, Kyouya .. sangat .." kata Dino sambil tersenyum lembut.
Namun, kata-katanya hanya membuat Hibari menangis lagi "Dino .. kau bodoh .." Hibari membalas pelukan Dino dan menenggelamkan kepalanya ke dada Dino dan tetap menangis. "Kau memanggil namaku .. senangnya .." kata Dino sambil tertawa kecil. Sejujurnya tawa itu hanya untuk menghiburnya, menghibur hatinya yang sekarang sedang sangat amat sedih.
"Kau ini memang benar-benar bodoh, Dino .. Menyebalkan .." kata Hibari lagi sambil terus menangis.
"Tidak apa-apa, Kyouya .. ejek saja aku terus .." Dino terkekeh. Dan terlihat se-titik air mata di mata cokelatnya itu.
[[ TbC ]]
Ah, kurang panjang yaaaaaa ? XDD
Iya, saya juga nyadar kok XDD (jiah)
Semoga Chap.3 nanti lebih panjang lagi, terus, lebih seru ~ XDD
Review yaaa, minna-chu ~ \(´▽`)/
