My Only Girl

.

.

.

Sumarry : Donghae, seorang penyanyi terkenal istri pewaris tunggal Choi Entertainment terjebak cinta segitiga. Siapakah yang akan dia pilih? Choi Siwon, suaminya kah? Atau Kim Kibum, actor tampan teman semasa kecilnya?

Declaimer : Super Junior milik diri mereka sendiri, keluarga dan SMEnt.

Pairing : SiHae ( Siwon Donghae ), KiHae slight!

Other cast : HanChul (orang tua Siwon), KangTeuk (orang tua Donghae), yang lain menyusul sesuai dengan kebutuhan cerita :D

Rating : M (buat jaga-jaga)

Genderswitch : Donghae, HeeChul, Leeteuk, Sungmin, Ryeowook, Jaejoong.

Don't like don't read, no flame, no copas, review please (author baru soalnya, mohon bimbingannya^^)

^^ Saranghaeyo Super Junior ^^

Sesampainya di hotel, Siwon dan Donghae segera mengganti pakaian mereka. Siwon mengenakan celana jeans yang dipadukan dengan kemeja dari jeans juga dengan lengan kemeja yang dilipat sampai siku dan 3 kancing atas tidak dikaitkan, ditambah dengan sepatu nike coklat, terkesan santai namun tetap fashionable. Sedangkan Donghae mengenakan celana pendek coklat tua yang mengekspose sebagian paha putih mulusnya dengan atasan kaos putih bersih yang dimasukkan dengan stylish ke dalam celana pendeknya, terlihat biasa namun menonjolkan kesan manis pada dirinya.

Ketika Siwon menuju kamarnya hendak bertanya kepada Donghae apakah ada yang ingin dia bawa lagi, betapa terkejutnya dia mendapati sang istri meringkuk lemas di tempat tidur king size tersebut. Rasa khawatir seketika menyelimuti dirinya.

"Waeyo, chagiya? Gwaenchanayo? Apa ada yang sakit?" Tanya Siwon perhatian seraya membaringkan dirinya di samping Donghae, manghadap istrinya, dibelainya lembut wajah Donghae. "Omo! suhu tubuhmu panas, chagi." Teriak Siwon khawatir.

"Nan gwaenchana, Wonnie-ah," jawab Donghae lemas, memaksakan menyunggingkan angelic smile andalannya.

"Shireo, kau sedang tidak sehat, chagi. Aku akan membatalkan penerbangan kita ke Perancis."

"Andwae, Wonnie-ah, aku hanya sedikit lelah dan pusing, istirahat sebentar juga pulih," kekeh Donghae pada pendiriannya.

"Aku tidak mau mengambil resiko dengan kesehatanmu, chagi."

"Aku hanya butuh istirahat sejenak,"

"Kita batalkan."

"Ani, kita berangkat."

"Kita bisa pergi lain waktu."

"Kapan kita punya lain waktu?" Tanya Donghae menuntut.

"Pasti ada," jawab Siwon yakin namun sebenarnya dia ragu akan jawabannya iyu.

"Sangat sulit mencari waktu untuk kita." Donghae realistis.

"Aku tidak ingin kau jatuh sakit, mengertilah."

"Jebal, Wonnie-ah," Donghae menatap Siwon penuh harap. Dia tidak mau mengecewakan orang tua mereka hanya karena batal honeymoon.

"Aniyo."

"Jebaaaal~" Donghae meraih kedua pipi Siwon untuk menatapnya. Ditatap dengan tatapan sendu penuh permohonan oleh kedua manic cantik milik Donghae membuat pertahanannya runtuh.

"Ok, you win. Aku akan membuatkanmu teh madu gingseng, tunggu di sini," perintah Siwon lembut.

"Gomawo, Wonnie-ah," senyum cantik yang dikagumi Siwon tercetak di wajah Donghae.

"Ne, chagiya, anything for you," Siwon mengecup kening Donghae penuh kasih sayang.

Siwon beranjak dari kamar menuju ke dapur untuk membuatkan istri tercintanya teh madu gingseng.

Lima belas menit kemudian, Siwon memasuki kamar dengan langkah hati-hati takut mengganggu acara istirahat istri tercintanya. Dia baringkan tubuhnya di samping Donghae dan memandangi wajah cantik seorang Lee Donghae yang sangat damat saat tertidur. Tanpa sadar kedua ujung bibirnya tertarik membuat sebuah lengkungan ke atas. Enggan dia membangunkan malaikatnya yang sedang tidur itu.

-Donghae POV-

Samar-samar kurasakan hembusan napas halus menerpa wajahku. Perlahan kubuka mataku, mengerjapkannya beberapa kali untuk menyesuaikan mataku dengan intensitas cahaya , yang masuk. Setelah beradaptasi dengan keadaan sekitarku, sosok pertama yang tertangkap oleh kedua retinaku adalah seorang namja tampan yang tersenyum lembut padaku dan memamerkan kedua lesung pipit manisnya. Choi Siwon, suamiku, namja yang telah menawan hatiku ke dalam pesonanya.

"Sudah bangun, chagi?"

"euhm," aku hanya mengangguk sebagai jawaban.

"Minum dulu tehnya, ne?"

Aku hanya kembali mengangguk, sesungguhnya aku masih agak pusing karena kelelahan. Ternyata acar pernikahan sangat menguras tenaga, lebih melelahkan daripada syuting atau menyanyi.

"Pelan-pelan." Siwon membantuku duduk dengan sangat lembut dan hati-hati, seakan aku ini benda yang sangat rapuh, jika terkana benda tajam sedikit saja akan hacur berkeping-keping. Setelah aku meminumnya, Siwon meletakkan kembali cangkir itu di meja nakas. Dia menarikku ke dalam pelukannya yang hangat, lalu menempelkan tangan kekarnya di dahiku guna mengecek suhu tubuhku.

"Eottohkae, fishy baby?" tanyanya sambil membelai rambutku dengan sangat lembut.

"I'm better, thanks a lot."

"Pesawat akan take off 15 menit lagi, kalau kau belum sehat, kita pergi lain kali saja," ucapnya sambil tetap mendekapku hangat.

"Aniya, kajja berangkat," ajakku, kujauhkan tubuhku darinya agar bisa menatap onyx miliknya. "Nan gwaenchana, Wonnie-ah,"kuyakinkan dia dengan didukung fishy puppy eyes ku yang tak akan mungkin bisa ditolaknya. Let's countdown!

Hana…

Dul…

Set…

"Arra.. arra.. jangan tatap aku seperti itu, chagi, aku bisa memakanmu sekarang juga," evil smirk terpatri di wajahnya. Omona! Dia sudah menjadi pengikut evil GaemGyu itu.

"Yack! Wonnie mesum!" aku segera menjauh darinya dan menutupi seluruh tubuhku dengan bed cover untuk menyembunyikan diriku, meskupin sia-sia karena Siwon tetap dapat dengan mudah menemukanku kan?

"Kalau tidak mau tertinggal pesawat, kajja berangkat, Choi Donghae."

"Mwo? Namaku Lee Donghae , pabboya Wonnie," protesku tegas. Enak jidat jenongnya saja dia mengubah nama pemberian appa dan eomma.

"Kau ini istriku, tentu saja namamu menjadi Choi Donghae." Dia menjelaskan dengan singkat tetapi dengan sukses dia membuat darahku berkumpul di mukaku.

"Tidak usah malu, chagiya. Kajja!" ucapnya seakan ia tahu apa yang sedang aku pikirkan. Dia menyibakkan bed cover yang menyelimutiku lalu menggendongku bridal style keluar dari kamar.

"Wonnie-ah turunkan aku! Aku takut jatuh."

"Kalau kau diam dan menikmati gendonganku, kau tidak akan jatuh, chagiya." Kulihat Siwon tersenyum jahil padaku. Yang bisa kulakukan hanya menuruti perkataannya dan menyembunyikan wajahku yang kuyakin sudah semerah tomat di ceruk lehernya. Terhirup oleh indra penciumanku wangi maskulin dari namja yang beberapa jam lalu telah resmi menjadi suamiku ini. Siwon langsung berjalan keluar apartemen menuju mobil yang akan mengantar kami ke Incheon airport, sepertinya dia telah membawa barang-barang kami ke mobil.

Siwon mendudukkanku dengan lembut di sampingnya. "Kajja berangkat, ahjusshi, kita hampir terlambat," perintahnya kepada Seo ahjusshi –salah satu sopir keluarga Choi.

"Baik, Tuan Muda." Seo ahjusshi segera melajukan mobil dengan kecepatan yang tidak bisa dibilang pelan menuju ke bandara.

"Mianhae, Wonnie-ah, karena aku mengulur waktu kita," ucapku menyesal.

"Ssssttttt, jangan merasa bersalah begitu, chagi, aku malah mengkhawatirkan dirimu. Kau yakin kita akan pergi?" tanyanya sambil merengkuhku ke dalam dekapannya yang hangat, kusenderkan kepalaku di dada bidangnya dan mengangguk yakin.

"Euhm, tentu saja, aku tidak ingin menyia-nyiakan moment bersama Direktur Choi yang sangat sibuk," jawabku terkekeh kecil.

"Saranghae, Hae-ah, jeongmal saranghae." Dikecupnya penuh sayang pucuk kepalaku.

"I know." Aku tersenyum kecil mendengar pernyataannya yang tak bosan diumbarnyanya kepadaku, entah sudah keberapa kali.

Sepuluh menit kemudian aku dan Siwon sudah menginjakkan kaki di Incheon airport. Tangan kanan Siwon menyeret koper kami yang memang tidak terlalu besar, kami tidak ingin repot membawa banyak barang, toh kalau kekurangan pakaian kami bisa membelinya di sana kan? Sementara tangan kirinya menggenggam tangan kananku, seakan aku akan menghilang dari hadapannya jika dia melonggarkan sedikit saja, sedangkan tangan kiriku memegang tas tangan. Terkadang sifat possessivenya membuatku senang, berarti dia sangat mencintaiku kan? Tapi sering juga hal itu membuatku repot, mengingat aku berkarir di dunia hiburan yang mengharuskanku berinteraksi dengan banyak orang dan juga mengingat dia adalah atasanku di management, terkadang dia seenak jidatnya membatalkan jadwalku.

Dapat terlihat olehku 4 orang sang sangat familiar di mataku. Omona, ternyata mereka orang tuaku dan mertuaku. Tak kusangka mereka akan mengantar kepergianku dan Siwon.

"Chagiya, kenapa kalian lama sekali? Kalian hampir terlambat." Omelan Heechul eomma menyambut kami.

"Tadi Hae chagi sedikit tidak enak badan, eomma," jelas Siwon. Sementara aku langsung menghambur ke dalam pelukan Teukie eomma.

"Jinjja? Bagian mana yang sakit, chagiya?" Tanya Teukie eomma sangat khawatir padaku, tanyannya membelai wajahku lembut.

"Gwaenchana, eomma," jawabku tersenyum ceria agar mereka tidak khawatir.

Terdengar suara operator bandara yang mengumunkan bahwa pesawat menuju Perancis akan take off dalam 5 menit lagi.

"Eomma, appa, kami berangkat." Pamit Siwon.

"Ternyata kalian akan pergi ke Perancis? Tempat yang bagus." Tebak KangIn appa benar 100%.

"Yack! Kalian curang. Kenapa harus mengantar kami, sekarang sudah tidak rahasia lagi kan?" Siwon berpura-pura kesal.

"Kau tidak bisa mengelabuhi kami, dasar anak nakal." Ucap Chullie eomma tersenyum menang.

"Jangan lupa bawakan kami oleh-oleh, chagiya." Pesan Han appa.

"Kalian inginku bawakan apa?" tanyaku antusias.

"Tentu saja little Choi, chagiya." Han appa tersenyum jahil.

Bluuuush! Wajahku terasa panas mendengar ucapan Han appa.

"Kalau begitu jangan ganggu kami supaya little Choi bisa jadi secepat mungkin. Iyakan, chagi?" Siwon menanggapi dengan merangkul pingggangku.

"Wonnie-ah.." ucapku malu, kucubit kecil pinggangnya.

"Auuww. Kita tidak boleh mengecewakan eomma dan app, baby."

"Sudah sana masuk." KangIn appa menginterupsi.

"Hati-hati di sana, chagiya." Eomma memelukku.

"Jaga baik-baik menantu kesayanganku, Won-ah." Heechul eomma gentian memelukku.

"Pasti, eomma." Jawab Siwon mengacungkan ibu jarinya.

"Pay pay!" kami berjalan menjauhi mereka seraya melambai.

"Bersenang-senanglah!" seru Han appa.

"Tentu, appa," balas Siwon.

di pesawat

"Istirahatlah, chagi, perjalanan kita masih lama." Ucap Siwon mengelus lembut pipiku.

"Ne, Wonnie-ah,"

"Saranghae," Dikecupnya kilat bibir mungilku. Aigoo~ dia ini tanpa kenal tempat seenaknya saja menciumku. Aku hanya tersenyum, kemudian menyamankan posisiku, bersiap menuju alam mimpi.

#skip time#

Waaaah.. kota Paris memang sangat indah, apalagi saat malam hati seperti ini. Kerlap-kerlip lampu menambah kadar keindahan Paris, ditambah lagi menara Eiffel terpampang jelas di depan mataku.

Aku tersentak kaget saat sepasang lengan kokoh memelukku dari belakang. Bisa ku pastikan itu Wonnie, yah karena hanya ada kami berdua di ruangan ini.

"Wonnie-ah, kau ingin membuatku mati muda karena jantung ya?" seruku berpura-pura marah.

"Of course not, baby. I love you so much." Dia menyandarkan kepalanya di bahuku, dapat kurasakan hembus nafasnya yang member kesan menggelitik di leherku.

"Wonnie-ah, look at those stars! Beautiful!" ucapku kagum, ku arahkan tangan kananku ke langit indah di mana bintang-bintang itu berada, sementara tangan kiriku masih memengang pagar pembatas di balkon kamar kami.

"Itu bukan bintang, chagiya, tapi satelit." Siwon terkekeh pelan.

"Aish, sok tahu sekali. Itu bintang, Wonnie-ah," jawabku kekeh pada pendapatku.

"Up to you, baby. Lagipula kau beribu lebih indah daripada bintang. Kau ciptaan Tuhan paling indah"

"Hahaha, kau Direktur Choi yang berwibawa sekarang pandai menggombal."

"Aku berkata jujur." Dia arahkan bibir kissable nya menciumi leher ku. Mengecup, menggigit kecil dan menjilatnya. Pasti besok akan tampak bercak keunguan di leherku.

"Ge-geli, Wonnie-ah," Kugerakkan kepalaku tidak nyaman. Dia menghentikan kegiatannya dan mengeratkan pelukannya.

"Saranghae, baby, neomu neomu neomu saranghae."

Aku tersenyum mendengarnya. "Arraseo."

"Do you really love me? You have not told me. If you don't, I'm gonna die because I can't live without you. I just need you here with me, baby."

Kugenggam tangan kekarnya yang melingkar di pinggangku.

"Don't be childish, Wonnie-ah. If I don't, I won't be here with you."

"Therefore, say it to make me trust you."

Dia membalikkan tubuhku hingga berhadapan dengannya. Onyx indahnya menatap dalam mataku, tatapan sendunya menggambarkan tuntutannya akan jawabanku. Ditatap seperti itu membuatku gugup, ku tundukkan kepalaku menghindari bertatap muka dengannya. Tentu saja aku sangat mencintainya. Tapi entah kenapa suaraku seperti tertahan untuk mengucapkan kata cakral itu.

Tanpa menanti jawabanku, Siwon meraih daguku lembut. Mengeliminasi jarak di antara kami. Bisa kurasakan hembus nafasnya menerpa wajahku. Beberapa detik kemudian dapat kurasakan sesuatu yang kenyal membungkam mulutku, bibir Siwon yang selalu memabukkanku. Kupejamkan mataku menghayati sentuhan lembutnya. Entah sejak kapan tangannya sudah menahan tengkuk ku dan memegang pinggangku. Siwon melumat habis bibirku tanpa ampun. Kuremas kerah piyamanya untuk menyampaikan betapa aku sangat terbuai dengan perlakuannya itu.

"Eeeuummh… eenghhh…" desahku disela-sela ciuman kami.

Lagi-lagi kebutuhan akan oksigen memaksaku untuk mengakhiri sesi ciuman kami. Aku tidak mau mati di usia muda dengan cara konyol seperti ini. Napasku tidak sepanjang napasnya.

Ku dorong pelan dada bidangnya, namun dia tidak bergeming sama sekali. Ku coba cara lain, ku pukul kecil bahunya.

"Sseee… aahhhh… ssaaaakhh…."

Seolah mengerti dengan tindakanku, dia menjauhkan bibirnya dari bibir ku. Segera kuraup oksigen sepuasnya dan sebanyak mungkin.

"Hoosh.. haaah… hoosh.. kau.. haaahh.. mau…hosh.. membunuhku.. haaahh.. eoh?"

Dan tanpa aba-aba lagi atau menunggu aku siap, dia sudah meraup kembali bibir mungilku.

"Mmmppphh!"

Mataku terbelalak kaget menyambut serangan dadakannya.

Karena kesal dengan sikapnya, aku tidak membalas sama sekali ciumannya, biar saja dia bermain solo. Tangannya yang di pinggangku beranjak naik mengelus punggungku dengan gerakan seductive. Dia mengginggit bibir bawah dan atasku bergantian, mungkin untuk menunjukkan sikap kesalnya padaku yang tidak membalasnya. Aku tetap bertahan menutup rapat mulutku hingga kurasakan perih di bibirku dengan sedikit rasa asin yang menyeruak.

"aarrghtt.. a-ap..appo.. Woonhhh… aaahhh.."

Tanpa menyia-nyiakan kesempatan yang ada saat aku membuka sedikit mulutku, dia melesakkan lidah terlatihnya ke dalam rongga mulutku. Menyapa lidahku sejenak dan dilanjutkan dengan dia mengeksplore seluruh benda yang ada di dalam mulutku, mengabsen deretan gigiku dan meraba dinding langit mulutku. "Eeeeeuummpphhh…." Desahku tak tertahankan lagi.

Puas bermain dengan mulutku, dia beranjak menciumi dagu, leher sampai ke perpotongan bahu ku. Digigitnya keras leherku, dijilat lalu dikecupnya. Kurasa dia sudah menjamah seluruh daerah dari dagu hingga bahuku.

"Aaarrggghtt…. Aaaannhhh… Wooonnh… aaahh…"

Dia semakin mendorong tubuhku ke pagar pembatas balkon, menghimpit tubuhku tanpa memberi sedikitpun celah untukku bergerak.

Kuremas rambut cepaknya untuk mengungkapkan padanya betapa aku terbuai akan perlakuannya. Desahan demi desahan tak henti-hentinya mengalun merdu dari bibirku. Entah apa yang merasukinya hingga Choi Siwon yang orang-orang kenal rajin beribadah menjelma menjadi seseorang yang liar seperti ini.

T~B~C