My Only Girl

.

.

.

Sumarry : Donghae, seorang penyanyi terkenal istri pewaris tunggal Choi Entertainment terjebak cinta segitiga. Siapakah yang akan dia pilih? Choi Siwon, suaminya kah? Atau Kim Kibum, actor tampan teman semasa kecilnya?

Declaimer : Super Junior milik diri mereka sendiri, keluarga dan SMEnt.

Pairing : SiHae ( Siwon Donghae ), KiHae slight!

Other cast : HanChul (orang tua Siwon), KangTeuk (orang tua Donghae), yang lain menyusul sesuai dengan kebutuhan cerita :D

Rating : M (bener-bener M tp maaf klo jelek, msh amatir)

Genderswitch : Donghae, HeeChul, Leeteuk, Sungmin, Ryeowook, Jaejoong.

Don't like don't read, no flame, no copas, review please (author baru soalnya, mohon bimbingannya^^)

^^ Saranghaeyo Super Junior ^^

-still Donghae POV-

Siwon semakin mendekapku erat, tidak menciptakan celah kecil sedikitpun di antara tubuh kami. seolah-olah tubuh kami adalah satu. Tidak hanya bibirnya yang aktif bekerja, kini tangannya juga semakin aktif menggerayangi tubuhku. Turun meremas gemas pantatku kemudian naik lagi meraba punggungku, bahkan tangan kirinya menyusup masuk ke dalam piyama mini ku. Rasanya tubuhku melayang, kakiku lemas seakan tak sanggup berdiri lagi. Entah apa yang terjadi jika Siwon tidak mendekap dan menyangga tubuhku, mungkin aku akan merosot terduduk tak berdaya di lantai.

Aku menggigit bibir bawahku agar desahanku tidak keluar.

"Mendesahlah, baby, keluarkan suara indahmu." Pinta Siwon tanpa menghentikan aktivitasnya.

'Yack! Pabboya horse! Apa dia sudah gila menyuruhku mengeluarkan desahanku di sini? Ini di balkon, bagaimana kalau ada yang melihat? Mau ditaruh di mana wajah cantikku?' batinku kesal.

"Euuumhh.. j-ja.. ngan di shh-sshini…" ucapku susah payah.

Siwon beralih meraup bibirku lagi. Ciumannya semakin dalam dan tentu saja panas. Aku dan Siwon belum pernah melakukan sesi ciuman semacam ini.

"Eeeungghhh... Woooonnhhhh…"

Dia mengangkat kedua kakiku agar melingkar di pinggangnya, kemudian menggendongku tanpa melepaskan tautan bibirnya padaku. Sementara jari-jemariku masih tersesat di dalam surai hitamnya.

"As your wish, baby," ucapnya di sela-sela lumatannya.

Siwon membawaku masuk ke dalam kamar, dibaringkannya tubuhku perlahan di kasur empuk king size ini. Dia menindihku dengan tangan dan kaki yang menyangga berat tubuhnya.

Dijauhkannya bibir penuhnya, memberi sedikit jarak di antara wajah kami. Dia menatapku intens, tak lupa senyum manis setia terpatri di wajah tampannya. Bahagianya aku dicintai oleh sosok sempurna Choi Siwon yang menerimaku apa adanya. Bukan sebagai Lee Donghae seorang penyanyi solo terkenal tapi Lee Donghae, seorang yeoja yang banyak kekurangan dan membutuhkan seseorang untuk bersandar. Ibu jarinya mengusap bibirku lembut, membersihkan sisa saliva kami yang tertinggal di sana.

"Love you, my sexy wife." Setelah mengucapkan hal itu dia kembali membenamkan kepalanya di perpotongan leherku, mengulangi memberi kissmark pada leherku. Perlahan ciumannya tutun ke dadaku. Tanyannya menurunkan piyama tanpa lengan ku hingga terlihat bra merah muda yang aku kenakan. Tanpa sadar dan tanpa bisa kucegah setetes air mata jatuh dari mata ke pipiku ditemani oleh isakan kecil yang meluncur dari mulutku. Seketika Siwon menghentikan aktivitasnya pada dadaku dan bearlih menatapku.

"Hey.. Why are you crying for, baby? Sorry I hurt you."

Siwon menjilat air mata ku dan mencium kedua pipiku sayang. Aku mengutuk ke-pabbo-an ku yang tidak bisa menahan isakanku agar tidak keluar. Aku sadar memang ini sudah waktunya. Aku tidak mau mengecewakannya.

"It's ok, Wonnie-ah. Mianhae. Hanya saja…" aku enggan mengungkapkannya.

"Wae? Told me what bothers your mind."

"I… I'm just… just… afraid…" Siwon menatapku sabar, menanti apa yang akan ku katakan berikutnya.

"People said it hurt. It's my first time." Ungkapku akhirnya.

Siwon tersenyum. "Me, too. We try it together. I will be smooth."

"Yakssok?" aku mengacungkan kelingkingku padanya dan disambut dengan senang hati olehnya.

"I promise you, baby." Ujarnya mantap penuh keyakinan.

Dikecupnya dahiku, pindah ke kedua chubby cheeks ku, lalu kedua mata ku yang tertutup, naik sedikit ke hidung kecilku yang mancung, turun ke dagu dan beranjak naik lagi hendak mengecup bibirku. Tapi sebelum bibirnya sampai pada bibirku, aku mendorong kepalanya.

"Apalagi, chagiya?" Tanya Siwon menahan kesal –kurasa.

"A… ak… aku tidak tahu membalasmu, Wonnie-ah. Rasanya tidak adil kalau hanya kau yang memanjakanku," aku mengakui ketidaktahuanku apa adanya.

-Donghae POV ends-

-Siwon POV-

"A… ak… aku tidak tahu membalasmu, Wonnie-ah. Rasanya tidak adil untukmu kalau hanya kau yang memanjakanku." Ya Tuhan, istriku ini polos sekali. Dengan ekspresi yang begitu menggemaskan di mataku, dia meluncurkan kata-kata se-innocent itu. Aku jadi tidak sabar untuk 'memakannya'.

"Kau tidak perlu melakukan apa-apa, baby. Aku akan membuatmu terbang melayang ke langit ke tujuh. Kau hanya perlu mengeluarkan desahan erotismu, chagiya. Arra?"

"Arrachi, Wonnie-ah. Tapi apa aku tidak melalaikan tugasku untuk melayani suamiku, Wonnie-ah?"

"Aniyo, cukup kau selalu berada di sampingku dan mencintaiku sampai akhir, itu sudah membuatku sangat bahagia." Kupamerkan senyum lima jari ku hingga terekspose deretan gigi rapiku.

"Gomawo, Wonnie-ah." senyum manis terukir di bibirnya yang sedikit bengkak karena ulahku.

"Saranghae, Choi Donghae." Dia hanya menganggukkan kepalanya tanpa membalas ucapanku seperti biasa. Huh, untung saja stock kesabaranku masih sangat banyak untuknya.

"Aku mulai dari awal, ne?" tanyaku meminta izin. Aku tidak akan melakukannya kalau dia belum siap. Aku tidak mau menyakitinya dan kehilangan cinta serta kepercayaannya padaku. Dengan susah payah aku menggapai cintanya dan mati-matian mempertahankan hubungan kami. Tidak akan rela dia berpaling dariku dan direbut oleh namja lain. Andwaeeee! Membayangkannya saja aku tidak sanggup.

Donghae menganggukkan kepalanya dengan sangat imut mengalahkan kadar keimutan Queen of Aegyo yang disandang Minnie noona. "Smoothly ne, Wonnie-ah?"

"Sure, my fishy."

Kulumat bibir ranum merah menggodanya yang manis dengan sangat lembut, aku tidak ingin mengkhianati kepercayaannya kepadaku di malam pertama kami. Dia bersedia melakukannya saja harus aku syukuri. Kujilat bibir atas dan bawahnya bergantian, meminta izin untuk memasuki goa hangat miliknya. Mengerti akan maksudku, segera dibuka mulutnya. Kedua tangannya yang sedari tadi diam di leherku, beranjak memraba dada bidangku dan membuka kancing piyama yang kukenakan. Aku tersenyum –menyeringai tepatnya- di sela-sela kegiatan ku membuat tanda kepemilikan atas dirinya.

Tanpa menghentikan perang di dalam rongga mulutnya, ku alihkan tangan kiriku menuju paha mulusnya yang sembunyi di balik rok piyama mininya. Kuraba kedua pahanya bergantian.

"Eeeuunnggghhh…. Woooonn… Nnniieehhh…"

Seperti dugaanku, dia mudah sekali terangsang, padahal baru ku sentuh sampai tahap ini. Setelah kurasa Hae chagi membutuhkan pasokan oksigen, segera kulepaskan sesi ciuman kami entah yang ke berapa. Kujilat dengan seduktif mungkin telinganya, kurasakan tubuhnya menggeliat karena rangsangan ku itu.

Focus perhatianku kali ini adalah sepasang gundukan di dadanya yang sexy. Kuturunkan kembali piyamanya yang tadi sempat tertunda. Terlihatlah sebuah bra merah muda yang menutupi payudaranya. Kulepas penggait branya dengan tangan kananku karena tangan kiriku sibuk membelai paha dalamnya. Kukecup sebentar kedua gundukan itu sebelum kuraup salah satunya.

"Wwooonnhh…..aaaannnhh…"

Kukulum payudara sebelah kanannya, sementara tangan kananku memilin nipple sebelah kirinya. Sedangkan tangan kiriku terhenti di pangkal pahanya, tak lupa kuelus lembut vaginanya yang masih tersembunyi di balik kain itu. Diberi sentuhan sekaligus di tiga titik sensitifnya, Hae chagi menggelinjang hebat.

"Eeeeuuuuuunngghhh…."

Kuhentikan sejenak kegiatanku pada kedua gundukan itu dan menatapnya.

"Kau cepat sekali horny, chagi. Miss V mu sudah sangat basah, sudah tidak sabar ya?" godaku.

"Ii…nnhiiiih ga-garhaa.. gaarrhhha… k-kkaaaauuuhh." Jawabnya susah payah karena tangan kiriku semakin aktif membelai vaginanya.

Kubuang piyamanya menyusul bra yang entah tadi kulempar ke mana. Tentu saja tak lupa kulepas underwarenya. Aku tak sanggup menyembunyikan ketakjubanku melihat hamparan pemandangan indah di hadapanku ini.

"Jangan pandangi aku seperti itu, Wonnie-ah." Ucapnya tersipu malu seraya tangannya yang berusaha menutupi tubuh indahnya.

Kuraih tangannya agar tidak menutupi tubuh sexynya. "Wae, baby? You're so amazing."

"Wonnie-ah, kau tidak adil." Hae chagi mem-pout-kan bibirnya, semakin membuatku ingin segera 'menyantapnya' saja.

Aku menyeringai menyadari apa yang dimaksud olehnya. "With pleasure, my fishy baby."

Kutanggalkan semua pakaian yang melekat di tubuhku.

"Eottohkae? Adilkan?"

Aku menyadari rona pink yang menjalar di pipi mulusnya. Aku mengerti mengapa dia bersikap malu-malu seperti itu.

"Tidak perlu malu seperti itu melihatnya, chagiya." Godaku.

"Euhm… euhmm.. Wonnie-ah."

"Ne? ada apa, chagi?"

"Ap-apa 'itu' muat?" Tanyanya malu-malu sambil mengarahkan telunjuknya di bagian selatan tubuh kami.

"Mollayo, kita coba saja." Usulku yang sukses membuatnya membelalakkan matanya.

"MWO? Bagaimana kalau sakit sekali?"

"I've told you I will do it softly, right? You don't trust me?" tanyaku sedikit kecewa.

"Aniyo. I trust you, Wonnie-ah"

"Gigit saja bahuku atau cakar punggungku untuk meluapkan rasa sakitmu. Arraseo?"

"Ne~"

"Atau kita batalkan saja? Aku tidak mau memaksamu kalau kau belum siap," ucapku seraya bangkit dari atas tubuhnya. Namun dengan gesit dia menahan lenganku.

"Shireo! Kita lakukan sekarang, Wonnie-ah. Aku tak sanggup mengecewakan appa dan eomma."

"Jika aku sudah memulainya, aku tidak akan berhenti sebelum selesai. Walaupun kau menangis meraung-raung dan mencakar-cakar tubuhku, aku tak akan berhenti. Are you sure, baby?" Jelasku panjang lebar.

"Absolutely, Wonnie-ah."

"Well, lakukan yang tadi aku katakan, chagiya."

"Arrachi~ be smooth, Wonnie-ah."

"I will, baby."

Aku memberinya rangsangan kembali sabagai pemanasan sebelum memasuki tahap inti. Kukulum bibir merah ranumnya bagai melahap lollipop. Bibir yang sukses membuat candu bagiku untuk terus melumatnya. Kuturunkan lumatanku hingga dadanya. Kembali aku melakukan kegiatan seperti tadi. Tak lupa kugesek-gesekkan juniorku di depan vaginanya.

"Eehhhmmpp.." Hae chagi melenguh dan mendesah terus- menerus merespon rangsangan dariku.

"I'm coming, chagi," ucapku di telinga kanannya seraya menjilat dan menggigit kecil. Kusiapkan juniorku di depan openingnya.

"Eeeuunnggghh.." Dia menganggukkan kepalanya.

Dan tanpa membuang banyak waktu lagi ku masukkan juniorku dalam sekali hentakan. Bisa kurasakan sakit yang menjalar di bahu dan punggungku.

"Arrght! Hiks.. a-ap.. appo… hiks.." Hae chagi mencengkeram punggung dan bahuku erat, yah bisa dibilang mencakarnya. Kenapa tidak potong kuku dulu sih. Tapi aku bisa memakluminya. Sakit yang aku rasakan belum seberapa daripada yang dialami Hae chagi. Apalagi ini pertama kali dia dibobol.

"Ssttt… relax, baby," aku berbisik di telinganya. Ku diamkan diriku yang sudah berada di dalam dirinya. Kembali kulumat bibirnya yang sudah bengkak dengan lembut untuk mengalihkan perhatiannya dari rasa sakit itu.

Hae chagi berhenti mencakari punggungku yang menandakan dia sudah tenang dan bisa beradaptasi dengan diriku yang ada di dalamnya. Kulepas lumatanku dan kutatap dia dalam.

"Can I move now?" Hae chagi hanya menganggukkan kepalanya sebagai jawaban.

Perlahan kugerakkan pinggulku maju mundur dengan sangat lembut. Kuarahkan bibirku pada telinganya dan mengulumnya.

"Wwooooooooonnhhh… aaaaaannnnhhhhhhh…." Hae chagi melenguh nikmat.

I did it! Aku berhasil menyentuh prostatnya. Tubuhnya melengkung membentuk busur.

"M-mmoooo…hhh…rrrheeee….." pintanya.

"As your wish, my queen." Kunaikkan frekuensi gerakanku sesuai dengan permintaannya

"A..aaanhh..a-ku… k-ke..eumhh… lluuu… aaarrhhh… aaannhhh…" rancaunya.

"To… ge-gether… chagiiiihhh…"

"Wwoooonniiieehh!"

"Haaeeee-aaaaahh!" teriak kami bersama.

-Siwon POV ends-

Siwon mengeluarkan spermanya dalam jumlah banyak di tubuh istrinya itu, bercampur dengan cairan milik Donghae. Saking banyaknya hingga meluber keluar. Tubuh Donghae serasa penuh sekali. Siwon menjatuhkan tubuh letihnya di samping Donghae.

"Gomawo, Hae chagi" bisiknya.

Penasaran tidak mendapatkan respon dari sang istri, ditolehkannya kepalanya ke samping kanan. Siwon hanya tersenyum geli mendapati sang istri telah terlelap begitu cepatnya.

"Sudah tidur, eoh? Menggemaskan sekali."

Direngkuhnya tubuh Donghae ke dalam pelukannya yang erat dan hangat. Dijadikannya lengan kanannya sebagai bantal belahan jiwanya itu, sementara tangan kirinya menarik selimut menyelimuti tubuh polos mereka.

"Ehm, hangat," rancau Donghae. Siwon terkekeh pelan mendengarnya.

Siwon tak henti-hentinya mengembangkan senyumnya merasakan betapa pas nya tubuh mungil nan sexy istrinya itu dalam pelukannya. Tanpa bersusah-payah mengeluarkan dirinya dalam tubuh Donghae, Siwon terlelap ke alam mimpi menyusul istrinya.

"Have a sweet dream, baby. Saranghae." Dikecupnya pelan bibir Donghae, takut membuat tidur sang empunya bibir terganggu.

Tidak ada yang dia inginkan lagi di dunia ini selain hidup bahagia selamanya membina sebuah rumah tangga yang harmonis bersama Donghae. Betapa beruntung dan gembiranya dia dapat memiliki hati dan tubuh Donghae.

Benarkah begitu? Apakah Siwon sudah menjadi pemilik sepenuhnya atas diri Donghae?

T~B~C