My Only Girl
.
.
.
Sumarry : Donghae, seorang penyanyi terkenal istri pewaris tunggal Choi Entertainment terjebak cinta segitiga. Siapakah yang akan dia pilih? Choi Siwon, suaminya kah? Atau Kim Kibum, actor tampan teman semasa kecilnya?
Declaimer : Super Junior milik diri mereka sendiri, keluarga dan SMEnt.
Pairing : SiHae ( Siwon Donghae ), KiHae slight!
Other cast : HanChul (orang tua Siwon), KangTeuk (orang tua Donghae), yang lain menyusul sesuai dengan kebutuhan cerita :D
Rating : M
Genderswitch : Donghae, HeeChul, Leeteuk, Sungmin, Ryeowook, Jaejoong.
Don't like don't read, no flame, no copas, review please (author baru soalnya, mohon bimbingannya^^)
^^ Saranghaeyo Super Junior ^^
-French, 03.00 am-
Rasa haus melada tenggorokan Donghae yang mengusik kedamaian tidurnya. Perlahan dibuka matanya, mengerjap-ngerjapkannya beberapa kali guna beradaptasi dengan cahaya remang-remang kamar tersebut. Dirasakan olehnya tubuhnya sulit untuk digerakkan seakan ditindih benda berat. Dan benar saja tubuhnya sulit bergerak. Saat menolehkan kepalanya ke samping kiri, dia mendapati Siwon memeluknya sangat erat. Dia menggeliat kecil melepaskan pelukan Siwon tanpa ingin membangunkannya. Merasa terganggu dengan gerakan di dalam pelukannya, Siwon membuka matanya dan dilihatnya istrinya yang bergerak kecil mencoba melepaskan pelukannya.
"Sudah bangun, chagi?" Tanya Siwon sambil melirik jam yang menggantung di dinding. "Masih pukul 3 pagi, tidurlah."
"Aku haus, Wonnie-ah." Jawab Donghae. "Ehm, Wonnie-ah, bisakah kau keluarkan 'itu'? Aku ingin mengambil minum." Pinta Donghae.
"Aku tidak mau," jawab Siwon mutlak. "Ayo kita ambil minum," ajak Siwon.
Donghae hanya mengerjapkan matanya bingung, tidak mengerti akan perkataan Siwon. Namun ketidakmengertiannya itu terjawab saat Siwon mengubah posisinya menjadi berhadapan dengan Donghae dan melingkarkan kaki Donghae di pinggangnya. Kemudian diangkatnya tubuh Donghae dan berjalan keluar kamar. Donghae membelalakkan matanya kaget dengan tindakan suaminya, reflex dia melingkarkan tangannya di leher Siwon supaya tidak terjatuh.
"Kita mau ke mana?" Tanya Donghae.
"Tentu saja ke dapur, chagiya, katanya kau haus." Jawab Siwon santai.
"Ehh? I-iya." Respon Donghae.
Siwon membuka kulkas dan menuangkan segelas air untuk Donghae. Terlihat dia sedikit kesusahan untuk melakukannya mengingat posisinya yang sedang menggondong Donghae, toh itu keinginannya sendiri.
Disodorkannya segelas air kepada Donghae. "Minumlah, chagi." Siwon membantu Donghae meminumnya karena kedua tangan Donghae berpegangan pada pundaknya. Donghae meneguk setengah air putih dalam gelas.
"Sudah?" Tanya Siwon, sementara Donghae hanya menganggukkan kepalanya. Siwon melangkahkan kakinya kembali ke kamar, membaringkan tubuh mereka di kasur king size itu.
"Wonnie-ah, bisakah kau mengeluarkannya? Sesak sekali." Pinta Donghae seraya menggeliat kecil. Tetepi tindakannya itu merupakan kesalahan besar karena membuat 'adik' Siwon terbangun lagi.
"Baby, berani sakali kau membangunkannya. Kau harus bertanggung jawab." Siwon beranjak menciumi, menjilat, menggigit dan menyesap leher jenjang Donghae.
"A-aannh..aaannniiiiihhh…W-wwoooonnhhhhh-aaahhhhhh…"
Dan desahan-dasahan erotis Donghae kembali terdengar mendominasi ruangan mewah itu. Sepertinya si alim Siwon memang berubah liar dan nakal.
#keesokannya#
Merasa terganggu dengan seberkas cahaya yang menyelinap masuk melalui celah gorden kamar hotel yang di tempatinya, Siwon mengerjapkan matanya. Begitu sadar sepenuhnya, senyum lebar Siwon mengembang di bibir kissablenya. Dipandanginya intens wajah elok nan manis istri tercintanya yang terpampang jelas di depan matanya. Tidak bosan-bosannya Siwon menatap wajah malaikatnya itu. Perlahan Donghae membuka matanya dan mendapati Siwon dengan senyum berkharismanya yang dihiasi kedua lesung pipit di pipi kanan-kirinya.
"Good morning, nae Hae chagi," sapa Siwon mengecup pucuk hidung mancung Donghae. Donghae tersenyum tipis menanggapinya.
"What time is it?" Tanya Donghae.
"Ten o'clock," jawab Siwon.
"Ehmm, kau lengket sekali. Mandilah dulu, aku akan membuat sarapan." Ujar Donghae seraya mencoba bangkit dari tidurnya.
"Auww. Appo.. hiks." Rintih Donghae merasakan perih di bagian bawah tubuhnya.
"Are you okay, Hae chagi? Mianhae."
"It's okay. Lagipula aku juga sudah melukai punggungmu. Kita saling memaafkan, ne?"
"Ne~" Siwon menyunggingkan senyum terbaiknya. "Kita mandi bersama saja, chagi." Pinta Siwon seraya mengerlingkan mata sebelah kanannya.
"Andwae!" tolak Donghae keras. "Cepat keluarkan dirimu dariku, aku mau bangun." Perintah Donghae seraya mem-pout-kan bibirnya imut.
"Arraseo, Hae chagi." Sebelum melaksanakan perintah Donghae, Siwon mengecup bibir Donghae sebentar.
"Naughty horse! Wonnie kan belum gosok gigi" cibir Donghae.
"Morning kiss, chagiya." Siwon hanya nyengir gaje.
Donghae beranjak dari tempat tidur dengan melilitkan selimut di tubuh polosnya. Dilangkahkan kakinya menuju lemari dan mengambil kemeja putih milik Siwon.
"Aku pinjam kemejamu, ne?"
"Mine is yours, chagi." Siwon tersenyum mengangguk.
Donghae beranjak ke kamar mandi, namun suara Siwon mencegahnya.
"Mengapa tidak di sini saja, chagiya. Aku kan sudah melihat semuanya." Siwon mengerling jahil.
Mendengar godaan dari suaminya, wajah Donghae merona heboh. "Ti-tidak m-mau! Weeegk!" Donghae menjulurkan lidahnya dan segara memasuki kamar mandi. Siwon hanya terkekeh geli melihat sikap childish Donghae. Siwon menyambar selimut di lemari yang disediakan pengelola hotel, dia menyamankan posisinya kembali di tempat tidur.
Lima belas menit kemudian Donghae keluar dari kamar mandi setelah membersihkan tubuhnya yang lengket akibat aktivitas meraka semalam. Dia mendengus sebal mendapati gundukan di tempati tidur, yang tak lain adakah suaminya sendiri.
"Wonnie-ah, wake up!" Donghae menarik selimut yang membungkus tubuh Siwon.
"Eummh, 10 minutes later, baby. I'm tired." Siwon memohon dan menutupi kembali tubuhnya.
"Aku lebih capek menghadapimu, Wonnie-ah."
"How come? Kau kan hanya menerimanya, chagi." Kekeh Siwon.
"Karena itulah, menerima berkali-kali lebih melelahkan, Wonnie-ah." Donghae tidak mau kalah.
"Arraseo, aku bangun." Siwon berjalan ke kamar mandi.
Donghae menyunggingkan senyuman kemenangannya. Kemudian dia beranjak menuju ke dapur.
Ketika Donghae sedang membuat dua cangkir coklat hangat untuk dirinya dan suaminya, disadarinya sepasang lengan kekar memeluk pinggangnya dari belakang dan sesuatu yang agak basah –bibir Siwon- menyapa pipinya dengan mesra.
"What can I do to help you, baby." Siwon menawarkan bantuannya.
"Just sit on that chair well and wait me." Jawab Donghae tanpa menghentikan kegiatannya –mengaduk-aduk cangkir.
"Arraseo." Siwon melakukan apa yang Donghae instruksikan.
Beberapa saat kemudian Donghae menyusul Siwon seraya membawa dua cangkir coklat hangat. Donghae duduk di hadapan Siwon, berseberangan dengannya yang dipisahkan oleh meja makan.
"Nah, ayo sarapan." Ajak Donghae riang menatap hidangan yang ada di meja –roti bakar, selai coklat kesukaannya, selai nanas kesukaan Siwon dan coklat hangat.
"Chagiya, roti bakarnya gosong." Komentar Siwon.
"Aniyo, warnanya pas." Bela Donghae. "Kalau tidak mau makan ya sudah."
"Apapun yang kau buat akan ku makan, walaupun itu racun pun kalau kau yang memberikannya akan ku telan." Ucap Siwon diiringi senyum.
"Aigoo~ kau mulai menggombal lagi, Tuan Choi." Cibir Donghae, sedangkan Siwon hanya terkikik geli.
"Kadang aku ragu apakah kau benar putri Teukie eomma yang notabenenya pandai memasak." Ejek Siwon.
"Yack! Tentu saja aku putrinya, kecantikannya saja menurun padaku." Elak Donghae.
"Kalau yang itu tidak kuragukan lagi. Bahkan kau berkali lipat lebih cantik, lebih manis, lebih imut dan lebih sexy." Goda Siwon.
Bluuush! Kedua pipi Donghae merona hebat, ditundukkannya kepalanya guna menyembunyikaan rona merah di wajahnya. "Berhenti menggodaku, Wonnie-ah." Siwon tersenyum bangga menyadari dia sukses menggoda malaikatnya yang manis.
Setelah menyelesaikan sarapannya yang terlambat dan membereskan meja makan, kini keduanya bersantai di sofa sambil menonton tv. Yah, tidak bisa dibilang menonton tv sih, atau malah tv yang menonton mereka. Mereka sibuk dengan acara mereka sendiri, yaitu bermesraan. Siwon mengelus-elus paha putih mulus Donghae –yang duduk di pangkuannya- yang terekspose sempurna, mengingat Donghae hanya mengenakan kemeja tipis milik Siwon yang kebesaran di tubuh langsingnya. Siwon tak henti-hentinya melontarkan pujian-pujian kepada Donghae dan sesekali menggodanya, membuat rona pink di wajahnya tak kunjung lenyap. Tak lupa juga dia melancarkan serangan kecil di leher dan telinga Donghae, membuat sang empunya meluncurkan desahan-desahan kecil. Donghae mendongakkan kepalanya ke atas mempermudah aktivitas Siwon.
"Hae chagi, hari ini kau ingin pergi ke mana?"
"Aku ingin di hotel saja, Wonnie-ah. Kissmarks yang kau buat saja belum hilang, bagaimana aku bisa pergi dalam keadaan seperti ini? Ini semua ulahmu." rancau Donghae manja.
"Hhehe.. mianhae, chagiya. Tapi kau senang kan?" goda Siwon.
Donghae menjitak kepala Siwon pelan. "Haish, dasar kau ini!"
"Jadi kau ingin berduaan dan bermanja-manja denganku sehari penuh ini? Hey, bagaimana kalau kita meneruskan yang semalam. Kita kan baru bermain dua ronde." Evil smirk –yang dipinjam dari Kyu- tercetak di wajah porselen Siwon.
"Shireo! Aku mau tidur sepanjang hari."
"Kalau begitu kita tidur bersama." Pinta Siwon, tak gentar menggoda Donghae.
"A-N-I. Baiklah kalau begitu, ayo kita keluar. Aku tidak mau habis di tanganmu." Ujar Donghae yang dibuat kesal.
"Hhahaha…!" Tawa Siwon meledak mendengar umpatan Donghae. "Aku kan memanjakanmu dengan sangat lembut, chagiya. Tidak ada yang melakukannya selembut aku."
"Ne~ arraseo." Akhirnya Donghae mengalah. "Aku akan bersiap-siap dulu." Donghae beranjak pergi dari hadapan Siwon.
"Dandan yang cantik, chagiya!" teriak Siwon.
"Aku sudah cantik!" balas teriak Donghae dari kamar. Siwon yang mendengarnya hanya terkekeh geli.
.
.
.
Siwon benar-benar mengajak Donghae bersenang-senang hari ini. Pertama mereka pergi ke Eiffel tower, menyaksikan secara langsung mahakarya salah satu keajaiban dunia yang menjadi daya tarik utama kota Paris. Walaupun cuaca tidak dingin –terbilang cerah malah- Donghae mengenakan syal tipis yang melilit lehernya guna menutupi kissmark-kissmark hasil karya Siwon, silahkan saja salahkan Siwon yang begitu ingin menunjukkan bahwa Lee Donghae hanyalah miliknya seorang. Siwon dan Donghae pun juga tak segan-segan menari bersama pengamen jalanan yang ada di kawasan Eiffel tower dengan riangnya. Malahan mereka membantu pengamen itu untuk menarik perhatian orang-orang. Hey! Siapa yang tidak mengenal Lee Donghae seorang penyanyi cantik dan berbakat asal Korsel yang telah berhasil go internasional? Riuhnya tepuk tangan mengakhiri kolaborasi mereka, bahkan tak sedikit orang yang meminta foto bersama Donghae.
Setelah bersenang-senang di kawasan Eiffel tower, kini Siwon melajukan mobilnya menuju ke sebuah taman bermain mengajak Donghae bermain sepuasnya di sana. Siwon tahu betul di Korsel mereka akan sangat sulit mempunyai kesempatan seperti ini, ditambah lagi Siwon tahu betul sifat tersembunyi Donghae yang tidak diketahui media yaitu sifat childishnya. Jadi tidak salah bukan jika dia mengajak Donghae-nya yang manis ke taman bermain. Tertangkap oleh onyx Siwon dengan jelas binary-binar di mata Donghae saat dia mengatakan akan mengajak Donghae ke taman bermain.
"Wonnie-ah, aku mau mencoba semua wahana!"
"Wonnie-ah, aku ingin naik itu!"
"Wonnie-ah, ayo ke sana!"
"Wonnie-ah, sepertinya itu menyenangkan!"
"Wonnie-ah, ayo coba yang itu!"
"Wonnie-ah, belikan aku itu!"
Seruan keceriaan dari mulut Donghae terus meluncur selama meraka di taman bermain. Siapa yang menyangka kalau seorang Lee Donghae yang terkenal anggun dan elegan dapat bersifat sebegitu childishnya.
"Hae chagi, aku capek sekali. Ayo istirahat dulu. Apa kau tidak capek?" Tanya Siwon terengah-engah. Kaki Siwon benar-benar lemas meladeni keinginan Donghae yang berlari ke sana kemari. Dia heran, dari mana Donghae mendapatkan kekuatan seperti itu?
"Aniyo. Kita naik itu dulu baru istirahat. Ayolah, Wonnie-ah, sekali saja," pinta Donghae seraya menunjuk wahana bianglala. Dia melancarkan fishy puppy eyes attack andalannya yang tidak akan bisa ditolak oleh siapapun, apalagi Choi Siwon.
"Neee~ arraseo! Ini yang terakhir. Yakssok?"
"Yakssok." Donghae menyanggupinya.
#di dalam bianglala#
"Pemandangannya sorenya indah sekali. Look! Itu hotel tempat kita menginap kan? Terlihat dari sini." Tunjuk Donghae pada sebuah gedung pencakar langit yang menjulang tinngu nan megah.
Siwon terkikik menyimak ocehan Donghae. "Simpan dulu kekagumanmu, chagiya. Kau belum melihat tempat yang jauh lebih indah daripada ini."
"Ehh?" Donghae menolehkan kepalanya ke arah Siwon. "Memangnya kau mau mengajakku kemana lagi. Wonnie-ah?" Tanya Donghae sembari mengerjapkan matanya imut.
"Rahasia!" Siwon tersenyum penuh misteri.
"Huuuh! Wonnie pelit" Donghae mengerucutkan bibirnya lucu. Siwon mengajak-ngajak halus surai hitam Donghae yang dibiarkan tergerai indah.
"Yack! Wonnie membuat rambutku berantakan." Ujar Dongae kesal.
Saat bianglala yang mereka naiki sudah berada di bawah, mereka segera turun. Siwon menautkan jemarinya dan Donghae berjalan menuju parkiran tempat di mana Siwon memarkirkan mobilnya.
#di mobil#
Siwon focus menyetir sambil tertawa kecil mendengar Donghae di sampingnya melantutkan salah satu favorit mereka –Shining Star- dengan suara merdunya. Donghae yang bernyanyi dengan riangnya tiba-tiba menghentikan alunan lagu dari bibir mungilnya.
"Wae, Hae chagi? Aku suka mendengarmu bernyanyi."
"Andwae, aku tidak mau melanjutkannya sebelum kau memberitahuku kita akan kemana." Donghae melipat tangannya menunjukkan bahwa dia sedang kesal.
"Nanti kau akan tau, chagi, dan pasti kau menyukainya." Jawab Siwon tersenyum.
"Kau tidak sedang mengerjaiku dan mengajakku ke tempat berhantu kan? Belakangan ini kau tertular kejahilan evil magnae itu." Donghae menyipitkan matanya menyelidik. Yah, siapapun tahu bahwa seorang Lee Donghae sangat pa rno dengan segala hal berbau mistis.
"Ah.. An-ani.. tentu aku tidak akan melakukan itu." Elak Siwon sambil tertawa geli.
"Kalau begitu beritau aku, Wonnie-ah…" pinta Donghae dengan tingkah manjanya.
"Sabar, chagiya, bukan surprise lagi kalau aku memberitahumu." Siwon mengusap tangan Donghae lembut namun ditepis oleh Donghae. Donghae melipat tangannya di depan dada dan memalingkan wajahnya memandang keluar jendela. Sementara Siwon hanya tersenyum maklum. Dia senang Donghae yang di depan public memiliki image anggun, elegan, berkelas dan sempurna itu bersikap manja dan childish padanya.
Beberapa menit kemudian Siwon menghentikan mobilnya di suatu tempat yang dirasa asing bagi Donghae. Terpampang jelas di hadapannya pohon-pohon rindang yang menjulang tinggi, ada juga beberapa petak sekumpulan bunga-bunga yang berwarna-warni yang Donghae tidak tahu apa saja namanya, serta terdapat sebuah tangga yang mengarah pada puncak bukit itu.
"Kita sampai, chagiya. Ini bukan tempat berhantu. Ayo turun." Siwon mengajak Donghae turun dari mobil tanpa melepas senyum manis di bibirnya. Siwon mengacuhkan tampang bingung yang tercetak di wajah cantik istrinya itu. Dia beranjak keluar dari mobil dan membukakan pintu Donghae.
Siwon mengulurkan tangan kanannya dan berkata, "Ayo, nanti tidak indah lagi lho."
Donghae yang masih sedikit bingung menyambut uluran tangan Siwon dan keluar dari mobil mereka. Siwon mengeluarkan sebuah sapu tangan dari sakunya dan menutup kedua mata Donghae menggunakannya.
"Yah, kenapa mataku ditutup, Wonnie-ah? Bagaimana aku bisa berjalan? Kau tidak akan berbuat yang aneh-aneh kan?" pertanyaan meluncur dari mulut Donghae bertibi-tubi.
"Trust me, baby, dan lagipula kau tidak harus berjalan," jawab Siwon.
Siwon meletakkan tangan kanan di punggung Donghae sedangkan tangan kirinya di engsel lututnya. Donghae merasakan tubuhnya sangat ringan seperti melawan gravitasi, benar saja karena ssat ini Siwon sedang menggendongnya. Dikalungkan kedua tangannya di leher Siwon untuk mencegahnya terjatuh.
"Surprisenya harus yang luar biasa lho, Wonnie-ah." Tuntut Donghae manja.
"Sure, my princess."
Dapat dirasakan oleh Donghae, Siwon menaiki sebuah tangga. Setelah beberapa langkah menyusuri tangga, Siwon berjalan konstan kembali.
'Sepertinya sudah sampai,' batin Donghae.
Siwon menurunkan Donghae dan membuka sapu tangannya namun kali ini mata Donghae masih ditutupi oleh telapak tangan besar Siwon. Donghae merasakan wajah dan tubuhnya diterpa sesuatu yang hangat.
"Persiapkan dirimu, chagiya. One.. two.. three.." Siwon melepaskan kedua tangannya sari mata Donghae. "Kau boleh membuka mata, my love." Bisik Siwon mesra.
Perlahan Donghae membuka matanya. 'Speechless'. Itulah yang Donghae rasakan saat ini. Di depan mata telanjangnya kini terhampar fenomena menganggumkan, sangat mengagumkan malah. Pemandangan sore Kota Paris nan eksotik, ditambah lagi dengan semburat jingga di langit yang menandakan waktu sudak beranjak petang. Siwon menggenggam tangan kanan Donghae lembut.
"Indah bukan? " Tanya Siwon yang hanya dibalas anggukan dari Donghae yang masih menatap takjub pada kebesaran Tuhan di hadapannya itu. "Dan pastinya ini bukan tempat berhantu." Siwon menggodanya.
"Wonnie-ah.. jangan menggodaku." Rengek Donghae yang tersipu malu akan prasangka buruknya kepada Siwon.
"Wonderful!" seru Donghae. "Dari mana kau disa menemukan tempat seindah ini?" Tanya Donghae penasaran.
"Saat aku kecil, appa pernah mengajakku ke sini dulu ketika kami tinggal di Paris. Suatu hari aku marah pada appa dan tidak mau mengajaknya bicara karena appa selalu mengingkari janjinya untuk menghabiskan waktu bermain denganku. Tepat hari ke-14 aku mendiamkan appa, appa mengajakku ke sini. Menatap serangga unuik dan menikmati matahari tenggelam. Saat itu pula appa menjelaskan padaku kesibukannya akan pekerjaan di perusahaan yang diwariskan oleh kakek. Appa bilang dia sangat menyayangiku dan tidak mungkin bisa mengacuhkanku, appa sangat sedih saat aku mendiamkannya. Dan aku mengerti appa menjalani kesibukannya juga demi aku. Dan aku menangis seperti bayi meminta maaf padanya." Cerita Siwon panjang lebar.
"Good boy." Donghae berjinjit dan mengajak rambut Siwon dengan tangannya yang bebas.
"Yack! Choi Donghae! Mana boleh kau berbuat seperti itu pada suamimu." Seru Siwon pura-pura kesal. Donghae hanya menjulurkan lidahnya dan tertawa riang.
*romantic atmosphere : on*
Siwon merubah posisinya menjadi memeluk Donghae dari belakang. Dilingkarkannya kedua tangan kekarnya memeluk pinggang ramping Donghae dan meletakkan dagunya di pucuk kepala Donghae. Dinyamankannya posisinya di salam pelukan Siwon, menyenderkan kepalanya pada dada bidang suaminya dan meletakkan tangannya di atas tangan Siwon yang memeluknya.
"Donghae-ah."
"Ehm?"
"Saranghae. Jeongmal saranghaeyo. Neomu neomu saranghae. Yeongwonhi"
"Arraseo, Siwon-ah."
Siwon hanya mampu tersenyum kecut mendengar jawaban Donghae. Seperti biasa, Donghae tidak pernah membalas pernyataan cintanya.
"Donghae-ah, please stay here beside me till the end. Don't ever leave me."
"I'll go no where, Wonnie-ah."
"Temani aku menjalani hari-hari yang melelahkan."
"Ne~"
"Jadilah ibu dari anak-anakku."
"Ne~"
"I just need you, your heart and your love. I don't want anything else in this world."
"You've got what you want."
"You are my everything, Donghae-ah."
Donghae tertawa pelan. Siwon mengernyit heran, apa tang membuat istrinya itu tertawa. Padahal dia sudah berusaha menciptakan suasana seromantis mungkin.
"Wae? Kenapa kau tertawa?" Tanya Siwon penasaran.
"Siwonnie terdengar seperti sedang melamarku. Kita kan sudah menikah."
Donghae kembali meneruskan acara tertawanya yang tertunda, beberapa saat kemudian Siwon menyusul, bahkan tawa Siwon lebih keras. Setelah tawa mereka berhenti, keheningan menyelimuti mereka sejenak.
"So beautiful." Pekik Donghae memecah keheningan, dia tersenyum melihat pemandangan sunset di hadapannya.
"You're more and more beautiful." Siwon meraih dagu Donghae, memiringkannya ke samping lalu mengecupnya, tidak ada tuntutan maupun nafsu di sana. Dia hanya ingin menyalurkan cintanya yang begitu besar kepada Donghae. Dirasakannya jemari halus istrinya itu membelai lembut pipinya. Mendapat lampu hijau dari istrinya itu, dia memberanikan diri melumat lembut bibir manis Donghae yang selalu membuatnya ingin melumatnya lagi dan lagi. Siwon mengeratkan dekapannya. Mereka pejamkan mata keduanya, menikmati hangatnya sunset di bukit itu serta tautan manis bibir mereka.
T~B~C
