My Only Girl
.
.
.
Sumarry : Donghae, seorang penyanyi terkenal istri pewaris tunggal Choi Entertainment terjebak cinta segitiga. Siapakah yang akan dia pilih? Choi Siwon, suaminya kah? Atau Kim Kibum, actor tampan teman semasa kecilnya?
Declaimer : Super Junior milik diri mereka sendiri, keluarga dan SMEnt.
Pairing : SiHae ( Siwon Donghae ), KiHae slight!
Other cast : HanChul (orang tua Siwon), KangTeuk (orang tua Donghae), yang lain menyusul sesuai dengan kebutuhan cerita :D
Rating : M
Genderswitch : Donghae, HeeChul, Leeteuk, Sungmin, Ryeowook, Jaejoong.
Don't like don't read, no flame, no copas, review please (author baru soalnya, mohon bimbingannya^^)
^^ Saranghaeyo Super Junior ^^
*skip time ngebut*
-Kibum POV-
Sudah satu minggu lamanya Hae noona pergi honeymoon ke Perancis bersama suaminya –ahh, malas sekali aku menyebut nama lelaki yang sudah merebut yeoja yang paling kucintai. Awalnya hanya aku saja yang mengetahui di mana tempat mereka menghabiskan honeymoon, tapi sepertinya orang tua mereka sudah mengetahuinya. Tentu saja Hae noona yang menceritakannya kepadaku, tidak ada rahasia di antara kami berdua. Aiiiish.. aku merindukannya sekali. Bahkan selama seminggu ini aku tidak focus pada pekerjaanku. Satu minggu berpisah dengannya serasa satu abad lamanya. Sungguh berat rasanya sehari saja tidak melihat angelic smile nya yang selalu menenangkanku.
Orang-orang bilang waktu satu minggu untuk berbulan madu itu sangat singkat. Tidak mungkin mereka akan mengambil waktu lebih lama lagi untuk sekedar honeymoon, mereka adalah jajaran orang-orang paling sibuk di Seoul, apalagi Hae noona sedang menyiapkan album keempatnya. Bisa bunuh diri aku kalau tidak bertemu Hae noona lebih lama lagi. Dia bagaikan oksigen yang sangat kubutuhkan untuk bertahan hidup.
~Noona neomu yehpuh...
Geu geunyuhreul boneun naneun michyuh…
Ha hajiman ijenh jichyuh…
Replay.. replay... replay...~
Dering smartphone menyadarkanku dari alam antah-berantah. Kulihat nama yang tertera di layar, sontak mataku terbelalak. Seketika kegembiraan melanda hatiku, jantungku berdetak kencang.
Fishy noona calling ^^
Tanpa membuang waktu lagi, segera kusentuh icon berwarna hijau.
"Yeobboseyo, noona?"
"Bummie-ah, aku mengganggumu?"
Mana mungkin Hae noona pernah menggangguku? Aku selalu siap 24 jam untuknya.
"Ani, noona. Ada apa noona menghubungiku?"
"Kau ingin kubawakan oleh-oleh apa, hemb?"
"Aku hanya ingin noonaku."
"Aish, kau ini. Aku akan sampai di Seoul lusa . Jangan katakana pada siapapun, ne?"
"Arraseo. Noona baik-baik sajakan di sana?"
"Seharusnya aku yang bertanya seperti itu, Bummie-ah? Awas kalau kau tidak menjaga kesehatanmu."
Aku hanya tertawa mendengarnya. Meskipun Hae noona cerewet dan suka mengancamku tapi aku senang, itu tandanya dia perhatian padaku.
"Yack! Jangan tertawa Kim Kibum!"
"Mian, noona ku yang cantik."
"Aku memang cantik. Ya sudah, bekerjalah dengan rajin, ne? Annyeong."
"Ne. annyeong, noona."
'klik'
Hae noona memutus sambungan kami setelah aku membalas ucapannya. Yes! Besok Hae noona akan pulang dan hanya aku seorang yang tahu. Dia memang pelit informasi. Aku tidak sabar menanti lusa.
-Kibum POV ends-
*dua hari kemudian*
Suasana pagi hari Choi Entertainment. Seperti biasa, orang-orang berlalu lalang ke sana-sini sibuk dengan urusan mereka masing masing, tak jarang terlihat beberapa yang berlari-lari diburu waktu. Sebuah mobil mewah memasuki halaman gedung tersebut, sontak semua mata tertuju pada mobil itu. Bukan kagum pada mobilnya tapi menanti siapa yang keluar dari sana, apakah seseorang –dua orang tepatnya- yang ada di pikiran mereka atau bukan. Dan kini terjawablah rasa penasaran mereka. Dua orang yang sangat mereka kenal keluar dari mobil itu menampakkan paras eloknya.
"Selamat pagi, Siwon-sshi, Donghae-sshi."
"Selamat datang, Siwon-sshi, Donghae-sshi."
"Siwon-sshi, Donghae-sshi, anda sudah pulang?"
"Apa perjalanan kalian menyenangkan, Siwon-sshi, Donghae-sshi?"
"Wah, cepat sekali kalian berbulan madu, Siwon-sshi, Donghae-sshi?"
Sejumlah pertanyaan dan sapaan menyambut kedatangan Siwon dan Donghae, sementara dua orang yang menjadi pusat perhatian itu hanya mengumbar senyum bahagia mereka seraya sesekali mengangguk membalas sapaan orang-orang.
"Wonnie-ah, sebelum menemui sutradara Shin untuk membahas music videoku, aku akan menemui Bummie dulu." Donghae memberitahu Siwon tentang apa yang hendak dia lakukan.
"Arraseo, ayo aku temani, chagiya."
"Yah, aku bukan anak kecil. Aku tidak akan tersesat, Wonnie-ah."
"Aku hanya ingin bersama istriku yang cantik ini."
"Aiiish kau ini. Kau mau Han appa memecatmu dari posisi direktur hanya karena kau menjadi stalkerku?"
"Appa tidak akan melakukannya, chagiya. Siapa yang akan menafkahi menantu kesayangannya ini dan cucunya nanti kalau dia memecatku?" siwon kekeh ingin pergi bersama Donghae. Hey! Dia tidak rela membiarkan istri tercintanya itu berduaan dengan seorang Kim Kibum.
"Up to you." Akhirnya Donghae menyerah dengan kekeraskepalaan suaminya itu.
Langkah kaki pasangan suami-istri itu menuju ke sebuah ruangan di mana biasanya Kim Kibum berada –ruangan manager Kibum. Diketuknya terlebih dahulu pintu berwarna coklat itu sebelum membukanya. Setelah mendapat instruksi dari dalam untuk masuk, diputarnya kenop pintu itu oleh Donghae.
"Bummia-ah, kau sendiri? Di mana manager Park?" Tanya Donghae yang sontak membuat Kibum kaget dan langsung mendongakkan kepalanya.
"Noona, kau sudah di sini?" Tanya Kibum retoris.
"Kalau aku masih di Perancis, siapa yang ada di hadapanmu, eoh? Pabbo."
Kibum beranjak berdiri dari duduknya dan melangkahkan kakinya menuju yeoja yang sangat ia rindukan itu. Sedangkan Donghae melepaskan tautan tangannya dengan Siwon dan berjalan menuju Kibum, memeluknya erat seakan tidak bertemu salama bertahun-tahun. Siwon yang sudah menduga akan diacuhkan oleh Donghae hanya bisa mendengus kesal.
"Noona, bogoshippoyo." Kibum memeluk Donghae erat.
"Nado. Mianhae aku tidak membawakan apa-apa untukmu."
"Gwaenchana. Aku sudah bilang kan aku hanya ingin noonaku."
"Dasar anak manja" Donghae tertawa kecil.
Sontak Siwon membelalakkan matanya mendengar sederet kata yang keluar dari mulut Kibum. Telinganya panas mendengar ucapan manja dari Kibum, sedangkan Donghae hanya menanggapinya dengan santai. Apa Donghae tidak mengerti maksud sebenarnya dari kata-kata Kibum? Lee Donghae, kau tidak peka sekali. Ingin rasanya Siwon melempar Kibum ke samudra Hindia agar tidak bisa kembali menemui Donghae-nya.
"Eheemmm.." Siwon berdehem guna menghentikan adegan mengharukan itu.
Kibum melepaskan pelukannya pada Donghae dan menatap Siwon yang sudah memasang aura gelap menyeramkan tapi Kibum tidak peduli akan tatapan tajam dari Siwon. Siwon berjalan menuju Donghae dan langsung menggait pinggang Donghae possessive dengan tangan kirinya. Dia ingin menunjukkan pada Kibum siapa pemilik atas diri Donghae sebenarnya.
"Annyeonghaseo, Sajangnim." Kibum menundukkan kepalanya sopan kepada Siwon.
"Ne, annyeong, Kibum-sshi."
"Yack! Apa-apaan kalian ini bersikap seperti itu. Sudah kubilang kan kalau di hadapanku jangan bersikap formal." Omel Donghae yang kesal melihat sikap kedua namja di depannya yang kaku itu.
"Tapi ini di kantor, noona." Ucap Kibum.
"Kibum-sshi benar, chagiya." Siwon mendukung ucapan Kibum.
"Aku tidak mau tau, cepat ulangi!" pinta Donghae ngotot.
"Well, apa kabar, Kibum-ah?" Tanya Siwon berbasa-basi.
"Baik, Siwon h-hy-hyung." Jawab Kibum canggung.
"Nah, begitu kan lebih baik." Donghae tersenyum penuh kemenangan.
'Ceklek'
Ketiga pasang mata itu menatap kearah pintu untuk melihat siapa yang datang.
"Ohh, Siwon-sshi, Donghae-sshi, kalian sudah kembali. Selamat datang." Sapa manager Park seraya membungkukkan badannya.
Siwon dan Donghae menganggukkan kepalanya membalas sapaan manager Park.
"Ne. Gamsahamnida sudah menjaga Kibummie dengan baik." Ucap Donghae sambil tersenyum tulus.
"Itu sudah tugas saya, Donghae-sshi."
"Chagiya, aku rasa Kibum-sshi harus ke lokasi syuting sekarang." Ujar Siwon.
"Eh? Mian mengganggu, manager Park."
"Aniyo, Nyonya Choi."
"Aiiish, jangan memanggilku seperti itu, manager Park. Kibummie, jangan merepotkan manager Park, eoh?"
"Ne, noona."
"Baiklah. Ayo, chagiya," ajak Siwon lalu menarik tangan Donghae keluar ruangan manager Park.
"Have a nice day." Donghae melambaikan tangannya ke arah Kibum dan manager Park yang dibalas lambaian tangan pula dari keduanya.
Sebelum Donghae menemui sutradara Shin, Siwon membawanya ke ruang kerja pribadinya. Dia hempaskan tubuh Donghae di sofa empuk dan nyaman, lalu memerangkapnya. Dipandanginya tajam istri tercintanya itu.
"Kenapa tadi kau menolak dipanggil Nyonya Choi oleh manager Park? Kau tidak suka menjadi istriku? Kau tidak mencintaiku?" Tanya Siwon bertubi-tubi. Padahal hari masih pagi dan dia baru kembali ke kantornya, ada saja yang membuatnya kesal.
"Andwaeyo, Wonnie-ah. Kalau aku tidak suka untuk apa aku menikah denganmu."
"Lalu kenapa kau tidak mau?" Tanya Siwon masih memasang muka datar tanpa ekspresinya kepada Donghae.
"Aku tidak ingin bertengkar denganmu karna masalah sepele, Wonnie-ah." Donghae mendorong dada jantan Siwon dan ingin beranjak pergi, namun Siwon mencengkram lengannya kuat dan menindihnya kembali ke sofa.
"Aku tidak suka sikapmu."
Siwon mengeliminasi jarak di antara keduanya, mempertemukan bibir penuhnya dengan bibir kissable isrtinya yang bagaikan candu untuknya. Donghae memejamkan matanya menerima lumatan-lumatan Siwon, tak jarang Donghae membalas perlakuan Siwon. Tangan Siwon mulai bergerak nakal memijit payudara Donghae, membuat Donghae sadar akan tempat di mana mereka berada sekarang.
"I..anhh.. ni.. k-khaann.. tooorrhh.. w-wooonh…niiiehh…" ucap Donghae -susah payah di sela-sela lumatan Siwon yang semakin panas- berusaha menyadarkan Siwon yang mulai tenggelam dalam surganya.
Merasa tidak mendapatkan respon apapun dari suaminya, Donghae menggigit bibir bawah Siwon keras.
"Aauuuww…!" rintih Siwon yang reflex beranjak bangun dari posisinya menindih Donghae.
"Why did you do it?" Tanya Siwon memuntut penjelasan kepada Donghae -yang duduk di sampingnya- yang sedang membenahi penampilannya yang sedikit –banyak- berantakan yang disebabkan oleh serangan mendadak Swion.
"Ini di kantor, Wonnie-ah. Tidak sepatutnya kita melakukannya." Donghae menyambar tas kulit merahnya dan hendak beranjak keluar dari ruang pribadi Siwon sebelum pergelangan tangannya ditahan oleh Siwon –lagi.
"Saranghae, Hae-ah."
"Arraseo." Jawab Donghae seperti biasa tanpa menatap Siwon. Dihentakkannya cengkeraman tangan Siwon agak keras kemudian berlalu pergi dari hadapan Siwon.
'Braaak,' suara pintu yang tertutup menelan sosok Donghae.
Siwon hanya mampu menatap miris pintu yang dilalui Donghae.
"Kapan kau akan memahami perasaanku, Hae-ah."
*skip time tambah ngebut*
#satu bulan kemudian#
Lee Donghae meluncurkan album keempatnya tanpa hambatan yang berarti. Single pertamanya yang berjudul "Short Journey" –ciptaannya sendiri- terbilang sukses di pasaran. Lagu tersebut langsung menduduki juara di beberapa tangga lagu Korea dan menjadi lagu yang paling dicari, apalagi albumnya sudah terjual hampir 500 ribu copy. Seiring dengan kesuksesan albumnya, bertambah padat pula jadwal shownya. Tak jarang pula dia melupakan makan dan istirahat.
rumah Siwon-Donghae
"Hoeek.. hooeeekk.."
Siwon membuka matanya saat mendengar sebuah suara mengusiknya. Dirabanya sebelah kanannya dan mendapati seseorang yang seharusnya ada di sana tidak ada. Sontak kesadarannya terkumpul dan membulatkan matanya lebar. Segera dilarikannya kedua kakinya ke kamar mandi yang ada di dalam kamarnya. Tertangkap oleh retina matanya sang istri sedang memuntahkan semua dari perutnya, padahal hari masih pagi dan perut Donghae belum terisi apa-apa.
"Gwaenchanayo, chagiya?" Tanya Siwon khawatir. Dipijatnya tengkuk Donghae untuk membantu mengurangi rasa sakit dan mualnya.
Tubuh lemas Donghae merosot dari atas westafel yang menyangganya, untung saja lengan kekar Siwon dengan sigap menangkapnya dan menarik Donghae ke dalam dekapannya yang erat. Siwon membasuh bibir pucat Donghae dengan tangannya yang sebelumnya telah dibasuh air. Digendongnya tubuh ringkih Donghae ke ranjang dan dibaringkannya perlahan. Siwon duduk di samping Donghae dan mengusap keringat dingin yang mengalir dari dahinya.
"Sebaiknya kita ke dokter dank au istirahat di rumah saja, chagiya." Siwon melontarkan usulnya dengan nada khawatir yang sangat terlihat.
"Aniyo, Wonnie-ah, ada beberapa acara yang harus aku hadiri," jawab Donghae lemas.
"Batalkan saja. Aku akan membayar denda berapapun yang mereka inginkan." Bujuk Siwon.
"Aku tidak mau mengecewakan fishy friends (fans fanatic Donghae), dengan meminum vitamin dan istirahat sebentar aku akan baik lagi."
"Tapi kesehatanmu yang terpenting, chagiya."
"Izinkan aku, Wonnie-ah. Jebaaal~" Donghae menatap Siwon penuh permohonan. Dan seperti biasa, ditatap sesendu itu oleh Donghae, Siwon tidak sanggup untuk tidak mengabulkan permintaannya.
"Arra.. arra.. berjanjilah kalau kau akan baik-baik saja."
"Ne, aku janji. Gomawo, Siwonnie." Bibir Donghae membuat sebuah lengkungan indah yang menambah kadar manis wajahnya, walaupun sekarang wajahnya terlihat pucat. Siwon mengecup kening Donghae lembut dan penuh sayang.
.
.
.
"Panggil ambulance! Cepat!" teriak Kibum kalap.
"Yeobboseo? Cepat bawa ambulance ke Choi Entertainment! Sekarang juga!"
"Donghae-sshi!"
"Noona, ireona! Kau mendengarku? Noona!" Kibum terus menepuk-nepuk pipi Donghae, berusaha mengembalikan kesadarannya. "Noona! Kau tidak boleh begini! Jangan bercanda, noona!"
"Kibum-sshi, ambulance sudah datang."
Tanpa aba-aba, Kibum segara membopong tubuh tak berdaya Donghae menuju ambulance. Di saat panic seperti itu tidak mungkin kan Kibum menyetir sendiri ke Rumah Sakit membawa Donghae? Dia tidak ingin sesuatu yang buruk menimpa yeoja cantik yang sangat ia cintai itu.
Kepanikan tiba-tiba melanda Choi Entertainment, terutama di ruangan yang biasanya digunakan Donghae untuk berlatih dance. Tadi saat Donghae sedang asyik meliuk-liukkan tubuhnya sesuai alunan lagu, tiba-tiba rasa pusing yang amat sangat melandanya. Seketika ia jatuh pingsan. Untung ada Kibum di sana yang menemaninya karena kebetulan jadwalnya kosong sore ini.
"Sekretaris Jung, cepat hubungi Direktur Choi bahwa Donghae-sshi di rumah sakit." Ujar manager Kim –manager Donghae- kepada sekretaris Siwon. Segera sekretaris Jung men-dial nomor pribadi Siwon yang sedang menemui rekan bisnisnya untuk memberitahukannya tentang keadaan istrinya.
at Seoul hospital
Langkah kaki itu diayunkan dengan kecepatan maksimal. Tidak dihiraukannya orang-orang yang ditabraknya sepanjang lorong dan umpatan-umpatan yang ditujukan padanya. Pikirannya hanya terfokus pada satu objek, Lee Donghae. Kedua onyx nya menangkap sederet angka bertuliskan 407, tempat di mana istri tercintanya itu di rawat.
'Braaaak'
"Donghae-ah!" serunya panic seraya melangkahkan menuju sosok yang terbaring lemah tak berdaya di atas single bed itu.
Menyadari kedatangan Siwon, Kibum berdiri dari tempatnya duduk –di samping kiri Donghae dan memegang tangannya yang tidak diinfus- member ruang bagi Siwon untuk mendekati Donghae. Segera Siwon genggam tangan yeoja yang telah mencuri hatinya itu seraya duduk di kursi yang tadi diduduki Kibum.
"Hae-ah, jangan sakit, chagi." Siwon membelai lembut wajah pucat istrinya, membuat Donghae yang merasa terusik tidurnya mulai mengerjapkan matanya demi megumpulkan kesadarannya.
"Wonnie-ah." Senyum mengembang di bibir mungil Donghae mendapati sang suami sudah berada di hadapannya.
"Ne, chagiya. Mianhae aku tidak mampu menjagamu dengan baik.
"Ani." Donghae tersenyum lembut dan menggeleng, menggesek-gesekkan pipinya dengan tangan hangat Siwon yang menangkup kedua pipinya.
"Bummie-ah, eoddiseoyo?" tanyanya pada Siwon saat menyadari ketidakhadiran sosok yang sudah dianggapnya namdongsaengnya.
'I'm here, noona." Kibum menampakkan dirinya yang duduk di sofa –belakang Siwon- sambil melambaikan tangannya.
Donghae tersenyum tipis. "Kibummie yang mengantarku ke sini. Sudah berterima kasih padanya?"
"Gomawo, Kibum-ah." Ujar Siwon tanpa memalingkan kedua onyx nya yang menatap manic indah milik Donghae dalam.
"Cheonmaneyo, hyung. Aku keluar dulu." Kibum melangkahkan kakinya dan memutar kenop pintu guna membukanya.
"Gomawo, Bummie-ah." Seru Donghae pelan, direspon oleh lambaian tangan Kibum yang sudah berbalik.
"Bukankah kau sedang meeting dengan Presdir Tzang dari Cina, Wonnie-ah?"
"I don't care. You are more important. Bagian mana yang sakit chagiya?"
"Tidak ada yang sakit, malah aku sangat bahagia." Senyum Donghae semakin lebar, sementara Siwon menautkan kedua alisnya bingung. Bagaimana bisa istrinya ini malah bahagia? Padahal kondisi tubuhnya lemah dan wajahnya sangat pucat begitu.
Donghae meraih tangan kiri Siwon yang membelai pipinya, membimbingnya menuju perut langsingnya, serta melakukan gerakan memutar di sana –perut Donghae.
"Ucapkan selamat datang pada uri aegya, Wonnie-ah." Donghae tidak sanggup lagi menikmati kebahagiaan yang hanya ditanggungnya seorang diri.
"K-ka-kau h-ha-hamil, chagiya?" Donghae mengangguk antusias.
Siwon tidak bisa menahan kebahagian yang amat sangat luar biasa yang sedang melandanya.
"W-wooow! Thank God! Gomawo chagiya!" Siwon memeluk Donghae erat.
"W-wonnie, ss-se-sssaaakk."
"Ah, mianhae, baby. I'm so glad." Siwon melepas pelukannya dan membingkai wajah Donghae dengan kedua tangannya.
"Saranghae." Siwon mengecup kening Donghae lalu menatapnya sejenak.
"Saranghae." Siwon mengecup kedua mata Donghae lalu kembali menatapnya.
"Saranghae." Siwon mengecup kedua pipi kenyal Donghae lalu menatapnya agak lama.
"Jeongmal saranghae." Siwon mengecup bibir mungil Donghae, memberinya sedikit lumatan.
Donghae menganggukkan kepalanya setelah Siwon memisahkan kedua bibir mereka, setetes cairan bening mengalir dari manic indahnya.
"Hey! Uljima, chagiya."
"Aku menangis karena terlalu bahagia, Wonnie-ah." Siwon menyeka air mata Donghae dengan ibu jarinya. Siwon tersenyum maklum atas sikap Donghae. Di dalam perutnya telah bersemayam kehidupan baru, yeoja mana yang tidak terharu coba?
Siwon beranjak turun ke bawah. Dielusnya dengan lembut perut Donghae yang masih rata itu. "Annyeong, little Choi. Kau lihat kan? Eommamu sangat bahagia dengan kehadiranmu, tapi appa berkali-kali lipat lebih bahagia." Siwon mencoba mengajak aegya dalam perut Donghae mengobrol. "Appa tidak sabar menanti kehadiranmu. Tumbuhlah dengan sehat. Jangan merepotkan eomma ne, baby? Saranghaeyo"
Siwon menatap Donghae kembali. Memerangkap manic indah istrinya itu dengan onyx miliknya. "Aku sudah berpesan pada uri aegya supaya menjadi anak baik." Mereka tertawa bersama setelah Siwon mengucapkan kalimatnya. "Ne, gomawo, Wonnie-ah."
Tanpa mereka sadari sepasang obsidian menyaksikan mereka dari kaca kecil yang menempel di pintu. Dipegangi dada kirinya yang terasa perih. Ya, dialah Kim Kibum. Ternyata dia tidak beranjak pergi seperti yang dia katakana, namun dia malah menonton pertunjukan yang diperankan Siwon-Donghae dari awal sampai akhir.
"Chukkae, noona. Saranghae yeongwonhi." Senyum miris nan pedih terukir di bibirnya. Kali ini bukan killer smile kebanggaannya yang dia pamerkan. Dengan langkah gontai, dia beranjak pergi meninggalkan pemandangan yang membuat hatinya serasa ditusuk dengan berjuta pisau tajam.
T~B~C
