My Only Girl

.

.

.

Sumarry : Donghae, seorang penyanyi terkenal istri pewaris tunggal Choi Entertainment terjebak cinta segitiga. Siapakah yang akan dia pilih? Choi Siwon, suaminya kah? Atau Kim Kibum, actor tampan teman semasa kecilnya?

Declaimer : Super Junior milik diri mereka sendiri, keluarga dan SMEnt.

Pairing : SiHae (Siwon Donghae) or KiHae (Kibum Donghae) ?

Other cast : HanChul (orang tua Siwon), KangTeuk (orang tua Donghae), yang lain menyusul sesuai dengan kebutuhan cerita :D

Rating : M

Genderswitch : Donghae, HeeChul, Leeteuk, Sungmin, Ryeowook, Jaejoong.

Don't like don't read, no flame, no copas, review please (author baru soalnya, mohon bimbingannya^^)

^^ Saranghaeyo Super Junior ^^

"M-MWO-MWOYA?"

Teriakan menggema kencang di sebuah ruangan dengan name tag 'dr. Song' di depan pintu. Kedua onyx nya terbelalak lebar menunjukkan betapa terkejutnya ia.

"Ti-tiga b-bu-bulan?" Tanya seorang namja memastikan apa yang ditangkap pendengarannya memang tidak salah –padahal dia harap itu salah.

"Ne, benar, Choi-sshi. Untuk mencegah embrio dalam perut Mrs. Choi tidak meluruh, tidak boleh dilakukan hubungan suami-istri minimal tiga bulan pertama kehamilan, tapi akan lebih baik hingga sang ibu melahirkan." Song uisanim menjelaskan tentang penjagaan kehamilan di bulan-bulan awal pada pasangan muda tersebut.

Ya, tersangka utama pembuat kisruh itu adalah Choi Siwon. Saat ini, dia dan istri cantiknya sedang berada di ruang kerja pribadi Song uisanim, mereka berkonsultasi banyak hal tentang kehamilan kepada dokter ahli kandungan itu.

"Wonnie-ah, jangan kekanakan begitu. Kita laksanakan pesan Song uisanim agar uri aegya sehat, ne?" ujar Donghae bijaksana.

"Saya akan berusaha melaksanakan pesan uisanim sebaik mungkin." Siwon berkata dengan nada tegas dan mantap.

"Tolong perhatikan juga asupan nutrisi dan kondisi sang ibu. Jangan terlalu lelah maupun stress dengan sesuatu agar janin daalm tumbuh dan berkembang dengan baik, Choi-sshi." Ujar Song uisanim menutup petuah dan pesannya pada calon appa tersebut.

"Ne, arraseumnida, uisanim. Kami permisi."

Siwon menundukkan kepalanya sebentar dan beranjak bangkit dari kursi.

"Gamsahamnida, uisanim." Donghae membungkukkan badannya sopan.

"Ne, cheonma, Mrs. Choi."

Donghae berlari kecil menyusul Siwon yang sudah beberapa langkah mendahuluinya. Setelah berhasil menyeimbangi langkah lebar Siwon, dia menautkan jemari lentiknya dengan jemari Siwon.

"Wonnie-ah, jangan marh, ne?" pinta Donghae manja.

"Aku tidak marah, chagiya. Bagaimana bisa aku tidak menyentuhmu sulama tiga bulan penuh?"

"Mari kita berusaha bersama, Wonnie-ah. Demi uri aegya. Kau menyayanginya kan?"

"Tentu saja. Kau dan uri aegya adalah harta paling berharga dan anugerah terindah yang Tuhan titipkan padaku."

"Jinjja? I'm glad to hear that."

"Chagiya, kajja kita temui eomma dan appa. Mereka pasti pasti sangat gembira mendengar berita ini."

"Ehh? Bukankah kau masih ada pekerjaan. Wonnie-ah."

"Itu bisa diurus nanti, chagi. Aku tidak sabar membagi keajaiban ini dengan mereka."

"Well, you are the boss, Sir." Balas Donghae tersenyum.

Siwon menyusupkan tangan kanannya di tengkuk Donghae dan tangan kirinya di kaki Donghae, dengan sekali hitungan digendongnya istri tercintanya itu ala bridal style. Donghae tersentak kaget saat mendapatkan perlakuan seperti itu tiba-tiba.

"Kyaaa! Wonnie-ah, kita di rumah sakit." Pekik Donghae.

"I don't care, baby, aku tidak mau kau kelelahan berjalan." Siwon berkata dengan cueknya.

"Aku bukan pasien sakit parah, Wonnie-ah."

"I do it for our little Choi, percaya diri sekali kau, chagi?"

"Y-yack!" Donghae kehabisan kata-kata untuk membalas ucapan Siwon. Akhirnya dia hanya mampu membenamkan wajahnya di dada bidang Siwon menyembunyikan rasa malunya karena menjadi pusat perhatian orang-orang di sepanjang lorong rumah sakit. Bagaimana tidak menjadi pusat perhatian mendapatkan perlakukan seperti itu?

di mobil

"Wonnie-ah, bagaimana kalau aku menghubungi eomma dan appa di Mokpo dulu?" Tanya Donghae kepada Siwon di sela-sela kegiatannya menyetir.

"Ne, chagiya." Siwon menoleh sekilas kea rah Donghae seraya melempar senyum tulusnya.

Donghae menyambar smartphone nya yang di layarnya terpampang 4 pose berbeda dari dirinya dan Siwon, disentunya nomor 1 untuk melakukan panggilan cepat nomor 1 di ponselnya –Leeteuk. Ditempelkannya ponsel touchscreen itu di telinganya, menunggu Leeteuk mengangkat panggilannya.

"Yeobboseyo, eomma."

"Yeobboseyo, chagiya. How's your life?"

"I'm fine. Nan haengbokhaeso, eomma."

"Waeyo, chagi? Kau mau membaginya dengan eomma?"
"Tentu saja, eomma dan appa harus tahu."

"Apa itu, chagi? Kau membuat eomma penasaran."

"Eomma, chukkae! Eomma dan appa akan menjadi halmoni dan haraboji!"

"Kyaaa! Jeongmal? Eomma bahagia sekali, chagi! Chukkae!" Leeteuk menjerit senang sehingga membuat Donghae sedikit menjauhkan ponsel dari telinganya.

"Eomma! Dan aku akan menjadi appa!" Siwon menjerit senang di samping Donghae.

"Yack! Kalian berdua ingin membuatku tuli?" tanya Donghae pura-pura kesal akan tindakan eomma dan suamninya itu, dia tertawa geli melihat tingkah kekanankan Siwon yang sangat langka itu.

"Eh? Kau bersama Siwonnie, chagiya?"

"Ne, eomma. Kami sedang dalam perjalanan menuju rumah Chullie eomma."

"Menantuku! Chukkae!" Leeteuk kembali berseru dengan nada suara delapan oktafnya.

"Ne, eomma! Gomawo!" balas Siwon menjerit pula.

"Aiiish, eomma dan Siwonnie benar-benar ingin membuatku tuli ya?"

"Mianhae, chagiya." Ucap Siwon dan Leeteuk bersamaan.

"Kompak sekali." Donghae tertawa geli.

"Eomma iri sekali dengan Siwonnie, dia orang pertama yang mengetahui tentang kehamilanmu, chagi."

"Aniyo, eomma, Kibummie yang pertama." Siwon menoleh sekilas ke arah Donghae begtu mendengar nama 'rival'nya disebut dalam percakapan eomma-aegya itu. "Tadi sore aku pingsan di tempat latihan, untung ada Kibummie yang membawaku ke rumah sakit." Kepala Siwon serasa mendidih mendengar cerita Donghae. Dia mengutuk rapat mendadak dengan Tzang corp di restoran mewah sehingga menghambat dirinya untuk berada di posisi Kibum waktu itu.

"Mwoya? Kau pingsan? Aigoo~ kau harus lebih menjaga staminamu, chagiya."

"Ne, mianhae, eomma."

"Jaga kesehatanmu, chagiya. Jangan terlalu lelah dan memaksakan diri bekerja. Kau harus perhatikan asupan nutrisimu karena sekarang kau makan untuk aegyamu juga. Meskipun nanti kau mual, kau tetap harus makan. Istirahat yang cukup. Ingat itu, chagiya." Pesan Leeteuk panjang lebar.

"Arra, eomma. Eomma, kita lanjutkan nanti lagi ya. Kami sudah hampir sampai."

"Ne, chagiya. Siwonnie! Aku percayakan aegya dan cucuku!" seru Leeteuk pada Siwon.

"Aku tidak akan mengecewakanmu, eomma!" seru Siwon.

"Saranghaeyo, chagiya."

"Nado saranghae, eomma."

'Klik' sambungan terputus.

.

.

.

Mobil Audi milik Siwon itu memasuki sebuah halaman luas sebuah rumah mewah yang tak lain adalah tempat tinggalnya selama 26 tahun sebelum menikah. Setelah memarkirkan mobilnya di sebelah mobil mewah lainnya, Siwon keluar terlebih dahulu dari mobil dan membukakan pintu penumpang untuk Donghae. Mereka melangkahkan kaki menuju ke dalam rumah dengan bergandengan tangan, senyum tak henti-hentinya tersungging di bibir keduanya. Beberapa pelayan rumah menyambut kedatangan mereka sembari membungkukkan badan 900.

"Annyeong, eomma!" teriakkan Siwon menggema di seluruh penjuru ruangan.

Terdengar suara derap langkah menuruni tangga, nampaklah seorang yeoja paruh baya yang masih terlihat sangat cantik untuk yeoja seusianya,

"Omo! Kalian datang." Pekik yeoja itu –Heechul- senang mendapati anak semata wayangnya dan menantu kesayangannya berada di depan matanya. Tanpa aba-aba Heechul memeluh Donghae dengan sangat erat.

"Yack! Eomma! jangan memeluk Hae chagi terlalu erat. Kasihan kan aegya jadi sesak." Ujar Siwon memasang wajah kesal.

"M-mwo? A-aegya? M-ma-maksudmu…"

Belum sempat Heechul menyelasaikan kata-katanya, Siwon memotongnya dengan cepat.

"Sembilan bulan lagi kita akan kedatangan anggota keluarga baru. Uri little Choi." Ujar Siwon tersenyum lebar memamerkan kedua lesung pipitnya seraya tangannya mengelus perut rata Donghae.

"B-benar, chagiya?" tanya Heechul pada Donghae untuk memastikan apa yang telah dituturkan oleh putranya.

"Ne, eomma, dokter bilang sudah satu bulan." Jawab Donghae tersenyum senang.

"Kyaaaaa! Eomma bahagia sekali! Gomawo, chagiya." Heechul kembali memeluk Donghae.

"Eomma tidak berterima kasih padaku? Tanpa anakmu yang hebat ini, eomma tidak akan mendapatkan cucu secepat ini." Siwon membanggakan dirinya.

"Wonnie-ah." Donghae mecubit kecil pinggang Siwon dengan manja, menundukkan kepalanya guna menyamarkan rona merah yang menjalari paras cantiknya.

"Aiiish, kau ini." Heechul menjitak pelan kepala anaknya itu.

"Yack! Kenapa kalian membullyku? Aku kan sudah berjasa." Sungut Siwon membela diri.

"Awas saja kalau kau tidak memperlakukan menantuku dengan lembut!" ancam Heechul.

"Aku adalah orang paling lembut, eomma, lebihlembut dari appa malah. Iya kan, chagiya?" Donghae tersipu malu mendengar penuturan Siwon.

"Tidak ada yang lebih baik dari appamu." Heechul berkata mutlak.

"Terserah eomma sajalah." Siwon mengalah, tidak akan ada yang menang melawan Heechul. Hanya Hankyung seorang lah yang mampu menaklukkan queen of evil ini.

.

.

.

"Chullie chagi! Aku pulang!"

Terdengar seruan dari arah pintu depan, menyadarkan keasyikan dua yeoja dan satu namja yang sedang bercengkrama.

"Chagiya, appa kalian sudah pulang. Eomma tidak sabar memberitahunya kabar bahagia ini." Kata Heechul, Donghae hanya tersenyum menanggapi tingkah eomma mertuanya.

Hankyung melangkahkan kedua kakinya, ruang keluarga menjadi tempat tujuannya.

"Wah, menantu kesayanganku datang ternyata." Tampaklah sosok Hankyung di ruang keluarga, segera di langkahkan kakinya menuju ke menantunya.

"Ne, appa. appa merindukanku?" tanya Donghae, dipeluknya appa mertuanya itu.

"Tentu saja, chagiya. Bogoshippoyo."

"Ya! Appa tidak merindukanku? Kejam sekali." Siwon bersungut ria memasang wajah kesalnya. Hankyung melepas pelukannya terhadap sang menantu dan mengalihkan pandangan kepada anak semata wayangnya.

"Aish, anak manja. Appa bosan bertemu denganmu di kantor." Seru Hankyung sembari menjitak kecil kepala Siwon dengan sayang.

"Eomma, appa memukulku." Siwon mengadu kepada Heechul.

"Hannie-ah, bagaimana kita bisa mempunyai anak manja seperti dia?" Heechul terkekeh kecil, tangannya terulur mengusap kepala Siwon yang merupakan TKP penjitakan (?).

"Donghae-ah, kau bertambah kurus? Apakah Siwon tidak merawatmu dengan baik?" tanya Hankyung penasaran menyadari pipi menantunya bertambah tirus.

"Anni, appa, Siwonnie sangat perhatian padaku."

"Appa, mana mungkin aku tidak perhatian kepada my lovely Hae?"

"Tenang saja, Hannie-ah, itu wajar karena Donghae tidak nafsu makan belakangan ini."

"Wae? Tenang bagaimana? Kau sakit, chagiya? Tidak enak badan? Bagaimana kalau jadwal promo albummu kau kurangi?" tanya Hankyung bertubi-tubi, terlihat dia sangat khawatir akan kesehatan menantunya itu.

"Gwaenchana, Hannie-ah, itu karena uri Donghae akan memberi kita gelar baru." Kata Heechul memancing rasa penasaran suamninya.

"Apa maksudmu, yeobo?"

"Kita akan bergelar grandpa dan grandma, yeobo. Uri little Choi akan datang." Heechul tersenyum lebar seraya salah satu tangannya mengusap lembut perut Donghae yang masih datar.

"Ja-jadi.. cucuku.. gomawo, chagiya. Appa bahagia sekali." Hankyung memeluk menantunya sejenak lalu beranjak memeluk sang istri tercinta. "Tuhan begitu baik kepada kita, yeobo." Bisik Hankyung di telinga Heechul.

"Appa tidak berterima kasih padaku? Aku juga ikut andil besar kan dalam kehadiran uri little Choi." Siwon berkata dengan penuh kebanggaan, dipeluknya Donghae dari belakang dan mengelus perut Donghae.

"Arraseo, Siwon-ah. Ingat pesan appa, kau harus memperlakukan Donghae dengan lembut, ditambah lagi sekarang ada aegya kalian. Kau harus ekstra menjaga dan memperhatikan kesehatan istri dan aegyamu. Arra?"

"Ne, appa. Aku siap menjalankan tugas dari appa." Siwon mengangkat tangan kanannya di atas pelipis membentuk pose hormat.

"Yeobo, kau bersihkan dirimu dulu sana, setelah itu kita makan malam bersama. Jarang sekali kan kita bisa memiliki moment seperti ini." Ujar Heechul.

"Ne, my Cinderella." Hankyung mengecup pipi Heechul sekilas. "Appa ke atas dulu." Pamit Hankyung lalu dia beranjak menaiki tangga.

"Jangan lama-lama, appa!" Seru Siwon, sementara Hankyung hanya melambaikan tangan kirinya.

.

.

.

Beberapa menit kemudian, Hankyung muncul menuruni tangga setelah membersihkan diri. Dihampirinya ketiga orang –empat mungkin- yang sangaty disayanginya di ruang keluarga. Hankyung duduk di single sofa di sebelah Siwon, sementara Heechul dan Donghae duduk berdua di hadapannya. Heechul memberi Donghae nasihat-nasihat dan kiat-kiat menjaga kehamilan, tangan Heechul pun menggenggam tangan Donghae erat.

"Yeobo, sudahlah, Donghae pasti bisa menjaga diri. Kau tidak kasihan dia sudah lelah mendengar pesan-pesanmu." Kata Hankyung memutus aktivitas percakapan eomma-menantu yang tentu saja didominasi oleh Heechul.

"Aniyo, appa, aku senang mendengarkan nasihat eomma." Donghae mengumbar angelic smile nya.

"Hannie-ah, ini sangat penting bagi Donghae. Apalagi dia baru menginjak bulan pertama kehamilan yang biasanya rentan bahaya." Heechul membela diri.

"Arraseo, yeobo." Akhirnya Hankyung mengalah, tidak ada gunanya melawan istrinya yang tak terkalahkan dalam beragumen itu.

"Eomma, ayo kita makan. Aku sudah lapar." Siwon pun membuka suara setelah beberapa menit lalu terabaikan keberadaannya dan hanya menjadi penonton setia Heechul-Donghae.

"Ahjumma! Apakah makan malam sudah siap?" Heechul berteriak menayakan ahjumma pelayan mereka yang bertugas memasak.

Seorang wanita kira-kira berusia 60 tahun muncul. "Makan malam sudah siap, nyonya."

"Kajja kita makan." Ajak Heechul.

Sesampainya di ruang makan, Siwon menyeret (?) kursi untuk Donghae lalu mendudukkan dirinya di samping sang sempat menyantuk makanannya, Donghae merasa perutnya bergejolak ingin memuntahkan semua isinya.

"Wonnie-ah, bau kimchinya menyengat sekali."

"Wae, chagiya? Bukankah kau suka kimchi?" tanya Siwon heran melihat reaksi yang tidak biasa dari istrinya.

Belum sempat menjawab pertanyaan Siwon, Donghae sudah berlari ke kamar mandi yang ada di lantai bawah seraya menutup mulut dan satu tangannya lagi memegang perutnya. Sontak hal itu mengundang kecemasan Siwon, Heechul dan Hankyung. Segera disusulnya Donghae yang berlari ke kamar mandi.

"Huooeek.. huoooeeeeek…" Donghae benar-benar mengeluarkan semua makanan yang ada di dalam pertnya.

Siwon membantu memijat tengkuk belakang Donghae. "Gwaenchana, chagi?" tanya Siwon penuh kekhawatiran.

Donghae hanya menjawabnya dengan anggukan lemas. Setelah selesai muntah-muntah, tubuh lemas Donghae merosot dari westafel. Untung Siwon dengan sigap menangkap tubuh lemah istrinya dan mendekapnya erat.

"Eomma, eottohkae?" Siwon menatap Heechul, matanya menyiratkan permohonan untuk menolong Donghae.

"Nan gwaenchana, Wonie-ah." Ucap Donghae dengan sisa tenaga yang dimilikinya.

"Bawa Donghae ke ruang keluarga dulu, mungkin bau kimchi membuatnya mual." Heechul berjalan ke dapur. Siwon menuruti perkataan Heechul, digendongnya bridal style tubuh Donghae. Sedangkan Hankyung berjalan di belakang mereka.

.

.

.

"Siwon-ah, bawa Donghae kemari!" seru Heechul dari arah ruang makan yang berdekatan dengan dapur.

"Ne, eomma." Siwon membawa Donghae ke dapur –tentu saja dengan menggendongnya bridal style lagi- sedangkan Hankyung sudah dari tadi menyusul Heechul di dapur.

Siwon mendudukkan Donghae di kursi yang ditempatinya tadi.

"Cobalah, chagiya, mungkin kau tidak akan mual dengan ini." Heechul menyodorkan semangkuk makanan yang baru saja dibuatnya khusus untuk Donghae.

"Aku suapi ya." Tanpa mendengar persetujuan atau penolakan dari Donghae, Siwon mengambil sendok di sebelah mangkuk tersebut dan menyuapkan Donghae masakan Heechul itu.

"Eottohkae, chagi? Masih mual?" tanya Heechul. Ketiga orang di hadapan Donghae menatapnya penasaran, tidak sabar mendengar jawaban Donghae.

Donghae menggeleng, "Ani, eomma, aku bisa menelannya. Gomapta." Donghae tersenyum tipis. Seketika rona kekhawatiran di wajah Siwon, Heechul dan Hankyung menghilang mendengar jawaban melegakan dari Donghae.

"Yeobo daebak. Kau bisa menciptakan resep yang tidak membuat Donghae mual." Puji Hankyung pada Heechul.

"Oh, Teukie memberikanku beberapa resep untuk mengantisipasi keadaan seperti ini. Dia bilang dulu sewaktu mengandung Donghae dia tidak bisa makan sembarang makanan, lalu dia membuat resep sendiri. dan sekarang dia berikan padaku." Jelas Heechul.

"Pantas saja, aku juga sulit percaya eomma membuat resep sendiri," cibir Siwon.

"Yack, Choi Siwon! sopanlah pada eommamu." Heechul menggetok kepala Siwon menggunakan sendok yang belum dipakainya.

"Appo, eomma." Siwon mengelus-elus kepalanya.

"Aigoo~ sudah-sudah, jangan rebut di meja makan," Hankyung melerai perdebatan eomma-aegya itu. "You are still the best, yeobo." Hankyung tersenyum pada Heechul.

"Thank you, Hannie-ah." Heechul balas tersenyum. Memang tidak diragukan lagi kemampuan Hankyung menaklukkan seorang Kim –Choi- Heechul.

"Appa selalu membela eomma." Siwon terkekeh geli melihat tingkah orang tuanya tersebut.

"Ayo makan." Komando Hankyung.

"Chagiya, aku suapi ne?" Siwon menawarkan jasanya pada Donghae (?).

"Tidak usah, Wonnie-ah, aku bisa sendiri."

.

.

.

"Chagiya, kau yakin tidak mau tinggal di sini bersama eomma selama hamil?" tanya Heechul.

Kini Siwon dan Donghae hendak pulang ke rumah mereka, terlihat Hankyung dan Heechul mengantar mereka sampai di depan pintu.

"Ne, eomma, I'll be okay." Donghae meyakinkan ibu mertuanya dengan menarik kedua sudut bibirnya membentuk sebuah senyuman cantik.

"Baiklah kalau begitu. Eomma sudah mencatatkan resep dari Teukie, berikan pada ahjumma yang memasak di rumahmu, ne?"

"Ne, eomma."

"Siwon-ah, jaga dan lindungi cucu serta menantuku dengan baik. Buat Donghae senyaman mungkin. Appa titip mereka berdua padamu." Pesan Hankyung.

"Arra, appa. Aku berjanji akan melakukan yang terbaik." Ucap Siwon mantap. "Kami pulang dulu appa. eomma." pamit Siwon.

Heechul memeluk Donghae sejenak. "Eomma akan sesering mungkin mengunjungimu, chagiya. Take care of yourself and your baby." pesan Heechul.

"Ne, eomma."

"Kami pulang dulu, annyeong." Siwon dan Donghae menundukkan kepala sejenak –untuk sopan santun-

"Ne, hati-hati."

Siwon menngenggam tangan Donghae, membimbingnya menuju tempat di mana Audi blacknya diparkir. Mobil yang ditumpangi Siwon dan Donghae melenggang pergi dari rumah megah itu, menuju rumah megah lain yang ditinggali oleh Siwon dan Donghae.

T~B~C