My Only Girl

.

.

.

Sumarry : Donghae, seorang penyanyi terkenal istri pewaris tunggal Choi Entertainment terjebak cinta segitiga. Siapakah yang akan dia pilih? Choi Siwon, suaminya kah? Atau Kim Kibum, actor tampan teman semasa kecilnya?

Declaimer : Super Junior milik diri mereka sendiri, keluarga dan SMEnt.

Pairing : SiHae (Siwon Donghae) or KiHae (Kibum Donghae) ?

Other cast : HanChul (orang tua Siwon), KangTeuk (orang tua Donghae), yang lain menyusul sesuai dengan kebutuhan cerita :D

Rating : M (buat jaga-jaga)

Genderswitch : Donghae, HeeChul, Leeteuk, Sungmin, Ryeowook.

Don't like don't read, no flame, no copas, review please (author baru soalnya, mohon bimbingannya^^)

^^ Saranghaeyo Super Junior ^^

#at Siwon-Donghae's house#

"Silahkan, my princess."

Siwon membukakan pintu penumpang dan mengulurkan tangan kanannya kepada Donghae. Mobil Audi black yang mereka tumpangi telah terparkir rapi di garasi bersama penghuni garasi lainnya –yaitu beberapa mobil mewah lain.

Donghae tersenyum geli melihat tingkah laku suaminya itu. Diulurkan tangannya guna menyambut uluran tangan sang suami, sementara tangan lainnya memegang tas tangan 'Gucci' nya.

"Thank you, my prince."

Siwon menggenggam erat tangan Donghae, menautkan jemari mereka. Dengan rona bahagia yang terus saja terpancar di paras elok mereka, dibimbingnya kedua kaki calon appa-umma tersebut melangkah memasuki rumah. Tidak seperti di rumah Siwon yang ditinggali appa dan ummanya, rumah mereka –Siwon dan Donghae- memang memiliki sedikit pelayan, karena Donghae tidak mau menjadi seorang istri yang malas. Oleh karena itu, dia hanya mempekerjakan pelayan seperlunya saja –sesuai kebutuhan. Di saat Donghae tidak terlalu sibuk, dia menyempatkan diri memasak untuk Siwon –walaupun hanya makanan sederhana. Tak jarang pula dia membersihkan rumah –mesti tidak seluruhnya, mengingat betapa besar ukuran rumahnya- atau merawat tanaman yang didominasi oleh bunga mawar di taman kecil pekarangan belakang.

"Wonnie-ah, aku akan memberikan resep dari eomma pada Minji ahjumma dulu ya."

"Ne, chagiya, ayo aku antar."

"Aku hanya akan pergi ke dapur, Wonnie-ah." Donghae terkikik geli melihat sifat Siwon yang menurutnya overprotective itu.

"Tetap saja aku ingin menemanimu, chagiya."

"Well, up to you." Akhirnya Donghae menyerah. Toh tidak ada ruginya kan ditemani Siwon ke mana-mana.

"Minji ahjumma." Panggil Donghae saat menginjak pintu dapur.

"Ne, nyonya." Muncul sesosok wanita paruh baya dengan apron yang masih dikenakannya di hadapan Siwon dan Donghae.

"Ahjumma, ini resep dari eomma. Karena aku baru menginjak awal bulan kehamilan jadi aku mudah mual, tolong buatkan menu makanan yang ada di resep itu, ne?" Donghae memberikan resep itu dari tas jinjingnya kepada Minji ahjumma.

"Baik, nyonya. Wah, chukkae atas kehamilan anda, nyonya. Saya turut bahagia." Ucap Minji ahjumma tulus.

"Ne, gomawo, ahjumma. Kenapa ahjumma masih mengenakan apron? Sudah malam, beristirahatlah Ujar Donghae.

"Donghae benar, ahjumma. Mulai sekarang tugasmu sedikit berat karena harus memasak untuk satu orang lagi." Ucap Siwon seraya mengelus perut Donghae yang masih datar.

"Ada beberapa hal yang harus saya bereskan di dapur. Terima kasih atas perhatian tuan dan nyonya. Saya akan berusaha sebaik mungkin menjalankan tugas saya."

"Baiklah, jangan terlalu memaksakan diri, ahjumma. Kami ke atas dulu, ne?" ucap Donghae.

"Selamat beristirahat, tuan, nyonya." Minji ahjumma membungkuk hormat sebelum Siwon dan Donghae benar-benar meninggalkan dapur.

Donghae tersentak kaget saat tubuhnya serasa ringan sekali, ternyata Siwon tengah menggendongnya bridal style.

"Wonnie-ah, kau selalu saja mengagetkan aku. Turunkan aku." Donghae mengerucutkan bibirnya, berpose kesal. Kesempatan itu tidak disia-siakan oleh Siwon. Siwon mengecup kilat bibir Donghae.

"Yah, Siwonnie pervert." Donghae kini menggembungkan pipinya yang menambah kadar imut dan childish pada dirinya –di mata Siwon- sementara Siwon hanya terkekeh melihat aksi ngambek –tapi gagal- istrinya itu.

"Aku tidak ingin kedua baby ku ini capek menaiki tangga, chagiya."

"Kau memperlakukanku seperti seorang bayi yang baru belajar berjalan saja." Donghae masih setia memasang pose kau-menyebalkan-Choi-Siwon, namun kini dia mengalungkan kedua tangannya di leher Siwon guna mengeratkan pegangannya agar pantatnya tidak mencium lantar marmer rumahnya.

Mengerti akan istrinya yang pasrah dalam gendongannya, dimple Siwon terpatri di kedua pipinya. "Mr Superman akan membawa malaikat cantik ke tempat tujuannya, bersiaplah."

Siwon melangkahkan kakinya menaiki tangga yang menghubungkan lantai dasar dengan kamar pribadinya, sedangkan Donghae hanya mampu menenggelamkan kepalanya di dada bidang Siwon guna menyembunyikan rona pink pada kedua pipinya.

'Brak'

Siwon menutup pintu kamarnya agak keras karena dia menutupnya menggunakan kaki. Didudukkannya dirinya pada sebuah sofa panjang yang ada di kamarnya, dengan Donghae yang masih ada di dalam dekapannya –yang sekarang menjadi di pangkuannya. Donghae menjatuhkan tas tangannya di sembarang tempat. Siwon meraih wajah donghae dengan kedua tangannya, didongakkannya dengan lembut untuk membawanya menatap paras cantik istrinya itu. Diselaminya manic hitam Donghae yang mampu memenjarakan dirinya pada pesona seorang Lee Donghae.

"Thank you for everything, chagiya. Nan jeongmal saranghae." Ucap Siwon tulus yang masih terpenjara dalam manic hitam istrinya.

Donghae tersenyum mendengar pernyataan Siwon. Diarahkannya kedua tangannya yang sedari tadi melingkar di leher Siwon ke kedua pipi tegas Siwon.

"You're welcome, Wonnie-ah. Thanks for loving me and treating me well."

Siwon mengeliminasi jarak di antara dirinya dan Donghae, mendekatkan wajahnya kemudian menempelkan bibirnya pada bibir manis istrinya yang tidak bosan dia rasakan. Dilumatnya lembut bibir atas dan bawah Donghae, seakan tidak rela melewatkan celah sekecil apapun tidak tersapu oleh bibirnya. Siwon memiringkan sedikit kepalanya guna mempermudah dirinya untuk mengeklaim bibir Donghae. Siwon dan Donghae memejamkan kedua mata mereka, menikmati kehangatan yang diberikan oleh orang tercinta. Donghae kembali mengalungkan tangannya di leher Siwon, sementara Siwon masih memegang kedua pipi Donghae.

"Euuunghh.." lenguhan kecil Donghae terdengar di sela-sela aktivitas mereka.

Setelah lima menit sesi ciuman lembut itu, Donghae mendorong pelan dada Siwon. Siwon yang mengerti akan sikap Donghae yang menandakan dia kekurangan pasokan udara, segera melepaskan pagutannya pada bibir Donghae, memberi kesempatan bagi Dongahae untuk memenuhi kebutuhannya akan oksigen.

"Sweet lips, chagiya." Senyum menghiasi bibir Siwon, ibu jari tangan kanannya digunakan untuk mengusap bibir lembut Donghae.

"Let's take a bath together." Seringai mesum tercipta di bibir kissable Siwon.

Donghae membelalakkan matanya kaget mendengar ucapan Siwon yang membuat rona merah timbul "Shi-shireo!"

.

.

.

"Wonnie-ah, kau ingin aegya namja atau yeoja?" tanya Donghae sembari meraih tangan kanan Siwon yang membelai surai panjangnya.

Posisi mereka saat ini adalah Donghae bersandar pada dada bidang Siwon yang ada di belakangnya. Sedangkan Siwon yang menjadi sandaran Donghae bersandar pada salah satu ujung bath up, dengan tangan kiri yang mengelus-elus perut Donghae dengan lembut. Dimanjakan dengan air hangat di bath up tersebut dan tubuh keduanya ditutupi oleh busa, jadi bisa menebak kan mereka sedang apa?

"Namja ataupun yeoja, aku akan menyayanginya sepenuh hatiku, chagiya. Kau jangan cemburu ya kalau cintaku terbagi menjadi dua?"

"Mworago? Kau selingkuh?" tanya Donghae histeris seraya memalingkan wajahnya ke belakang guna menatap Siwon. sedangkan Siwon hanya tersenyum tidak jelas, dia senang sekali berhasil menggoda Donghae.

"Sekarang ini aku tidak bisa hanya mencintaimu seorang, chagi, karena aku juga mencintai makhluk manis di sini." Jawab Siwon seraya mengelus perut Donghae dengan gerakan memutar. "Kau tidak mau berbagi cintaku dengan aegyamu sendiri, chagiya?"

"Aiish, kau ini hobi sekali menggodaku." Donghae memalingkan wajahnya ke depan, kembali di sandarkannya kepalanya di dada Siwon. Kau juga jangan cemburu ya kalau aku lebih perhatian pada aegya nanti." Balas Donghae.

"Kalau begitu aku akan menarik perhatianmu." Donghae terkekeh mendengar ucapan Siwon.

Setelah 15 menit berendam, akhirnya mereka memutuskan untuk menyudahinya karena kedua kelopak mata Donghae yang sudah tidak sabar untuk ditutup, dengan kata lain dia sudah mengantuk. Selesai dengan acara memilah baju di lemari untuk dipakai tidur, Donghae melangkahkan kakinya kembali ke kamar mandi.

"Tidak perlu ke kamar mandi, chagiya, lagipula aku sudah melihat semuanya kan?" tanya Siwon dengan menaik-turunkan salah satu alisnya.

"Siwonnie yadong!" seru Donghae dan meneruskan langkah tertundanya ke kamar mandi.

Selesai memakai piyamanya, Siwon membaringkan tubuhnya di tempat tidur. Punggungnya disandarkan pada kepala tempat tidur dan tangannya mengambil handphone touchscreen miliknya.

'Ceklek' Pintu kamar mandi terbuka dan menampilkan sosok Donghae yang telah memakai piyama rok mininya.

"What are you doing, Wonnie-ah?" tanya Donghae seraya menaiki tempat tidur, disibakkannya bedcover dan membungkus tubuhnya. Donghae ikut menyandarkan punggungnya di kepala tempat tidur, menempatkan dirinya di samping kanan Siwon.

"Just checking my schedule for tomorrow." Jawab Siwon sambil meletakkan smartphonenya kembali ke meja nakas samping tempat tidur.

"Are you tired, chagiya?" Siwon mengalungkan tangan kanannya di bahu Donghae dan menarik kepala Donghae agar bersandar padanya.

"Euhm." Donghae hanya mengangguk menjawab pertanyaan Siwon.

"Let's have a sleep." Ajak Siwon, lalu keduanya membaringkan tubuh mereka. Tangan kanan Siwon digunakan Donghae sebagai bantal.

"Sweet dreams, chagiya." Siwon mengecup kening istrinya penuh kasih sayang.

"Sweet dreams, too." Balas Donghae, dinyamankan tubuhnya dalam dekapan hangat suaminya.

Siwon menarik selimut hingga menutupi pinggangnya.

"Hangat," igau Donghae.

Siwon tersenyum mendengarnya dan mengeratkan dekapannya pada Donghae. Dipejamkan kedua matanya, menyusul sang istri yang telah berkelana di alam mimpi.

.

.

.

-a month later-

'drrrtt drrtttt drrrrtttt'

Getaran iPhone di saku celananya menginterupsi Kibum dari acara mari-membasahi-tenggorokan-yang-kering-dengan-segelas-jus-jeruk-segar yang telah dilakukannya. Dirogohnya saku celana yang dia kenakan dan mencari benda berbentuk kotak berwarna putih miliknya. Sontak wajah kesalnya berubah senang saat onyx nya menangkap sebuah nama yang tertera di layar smartphone nya.

From : Fishy noona

Subject : challenge

Message : Bummie-ah, apa hari ini kau sibuk? Jam berapa pemotretannya berakhir. Ayo kita battle game. Ini keinginan keponakanmu, kau mau menurutinya.

-your most beautiful noona-

Seulas senyum tipis terukir di bibir Kibum setelah selesai membaca pesan singkat dari Donghae. Segera dibalasnya pesan singkat itu, dia tidak mau Donghae yang berada di seberang sana menunggu terlalu lama.

To : Fishy noona

Subject : challenge

Message : Aku tidak terlalu sibuk, noona. Sepertinya jam 6 pemotretan sudah bisa diakhiri. Baiklah, aku terima tantangan keponakan ku. Katakana padanya jangan menangis kalau kalah nanti. Kau mau ku jemput, noona?

Disentuhnya icon 'send' guna mengirim pesan balasan untuk Donghae. Tak lama kemudian iPhone nya bergetar kembali menandakan sebuah pesan singkat masuk.

From : Fishy noona

Subject : challenge

Message : Dia sudah berlatih denganku, tidak mungkin terkalahkan. Ne, Bummie-ah, jemput aku di MBC sekitar jam setengah 7 ne? tunggulah di tempat parkir, aku akan menghampirimu.

"Kibum-sshi, ayo lanjutkan pemotretan lagi!" teriak sang fotografer yang sudah standby dengan kameranya menginterupsi Kibum yang akan membalas sms dari Donghae.

"Aiiish." Kibum hanya bisa berdecak sebal, tentu saja dia harus bersikap professional dan segera menyelesaikan pekerjaannya.

.

.

.

"Yes! I get it again."

"Yah! Yah! That's mine."

"Move! Move! Kau menghalangi jalanku!"

"Awas kau burung jelek."

Teriakan-terikan histeris Donghae yang tengah asyik mengumpulkan poin sebanyak-banyaknya dari game yang sedang dimainkannya menggema di seluruh apartemen Kibum. Sementara Kibum yang berada di samping Donghae hanya menatapnya malas. Bagaimana tidak? Tadi Donghae begitu semangat mengajaknya battle game, dia pikir mereka akan bertanding starcraft atau permainan 'berat' lainnya. Namun ternyata Donghae malah memilih game Angry Birds yang –menurut Kibum- sangat membosankan.

"Yah! Mengapa noona memainkan game anak batita seperti itu, eoh? Tidak ada tantangannya sama sekali."

"Sssttttt...! bilang saja kau tidak bisa memainkannya dan malu kalah dari ku kan?" ucap Donghae remeh tanpa mengalihkan perhatiannya pada tv LCD layar datar di hadapannya dan tangannya yang masih sibuk memijat-mijat stick game di tangannya.

"Aku tidak level memainkan game tidak bermutu seperti itu. Bisa turun reputasiku nanti." Kibum menyenderkan punggungnya pada senderan sofa panjang yang tengah didudukinya bersama Donghae.

"Yah! Yah! Aiiiish!"Donghae berdecak sebal seraya menghentak-hentakkan kakinya.

"Gara-gara kau aku tidak jadi menang." Sungut Donghae sebal pada Kibum, memberikannya deathglare yang menurut Kibum tidak mengerikan sama sekali namun malah terlihat lucu.

"Noona payah. Game membosankan seperti itu saja tidak bisa menang." Ejek Kibum.

"Itu semua karna salahmu. Sebagai hukumannya kau harus memberiku chocolate ice cream dengan topping brownies di atasnya, sertakan juga chocolate chips. Sekarang! Cepat sana!" Donghae mendorong-dorong tubuh Kibum agar bangkit dari duduknya dan beranjak menuju dapur menyajikan pesanannya.

"Tidak mau. Kenapa aku yang disalahkan?"

"Yack! Kau kejam, Kim Kibum. Kau tega menolak permintaan keponakanmu? Jika nae aegya hobi mengeluarkan air liur –ngiler- terus saat besar nanti kau mau tanggung jawab?" ucap Donghae seraya mengelus perutnya.

"Aiiish. Arra. Arra." Akhirnya Kibum berdiri dan melangkahkan kakinya menuju dapur. Dia memang tidak pernah sanggup untuk menolak permintaan Donghae.

"Gomawo, Bummie ahjusshi~" Donghae tersenyum penuh kemenangan.

-15 minutes later-

"Noona, chocolate chipsnya-"

Perkataan Kibum terpotong saat kedua matanya menangkap sosok Donghae yang telah tertidur di sofa panjang yang mereka duduki tadi. Dipelankan langkahnya agar tidak membangunkan Donghae. Dia meletakkan dua mangkuk yang berisi vanilla ice cream dan chocolate ice cream di meja sebelah sofa. Kibum berjongkok di hadapan Donghae yang tengah menjelajah alam mimpinya itu. Ditatapnya lekat-lekat wajah damai Donghae, tangannya dengan hati-hati menelusuri setiap inci paras cantik Donghae tanpa terlewatkan sedikitpun. Tanpa Kibum sadari, senyum tipis nan tulus mengembang di bibirnya.

"Neomu neomu yeppo. Jeongmal saranghaeyo, noona." bisik Kibum lirih.

Dangan perlahan diangkatnya Donghae menuju kamarnya, dibaringkannya dengan sangat hati-hati tubuh Donghae di atas tempat tidur. Kibum menarik selimut hingga sebatas dada Donghae untuk menghangatkannya. Kibum memberanikan diri mengecup kening Donghae dengan sangat lembut, tidak ingin mengganggu Donghae yang telah terlelap.

"Have a nice sleep, my love." Diusapnya sejenak surai lembut Donghae sebelum melangkahkan kakinya keluar kamar.

Haru e hanbeon man neol saenggakhae..

Deo isangeun andwae akkyeo dul geoya..

Himdeul eobtdeon haru ye sunshine geudaeman..

Isseo jun damyeon OK geugeollo dwae...

Dering ponsel yang berasal dari iPhone milik Donghae yang berada di meja samping sofa menginterupsi Kibum yang baru saja menyandarkan kepadanya pada sandaran sofa. Diraihnya dengan malas ponsel biru laut Donghae, Kibum menyentuh icon 'answer' tanpa melihat siapa yang menghubungi ponsel itu.

"Yeobboseyo, chagiya, eoddiseoyo?" terdengar nada khawatir dari seberang sana.

Belum sempat Kibum mengeluarkan suaranya, seseorang di seberang sana telah membuka pembicaraan terlebih dahulu. Suara yang cukup familiar di telinga Kibum. Siwon. ya, suara itu milik Siwon.

"Hae noona berada di apartemen ku, Siwon-sshi. Dia sedang tidur. Aku akan mengantarnya pulang saat dia sudah bangun."

"Akan ku jemput sekarang, Kibum-sshi." Ucap Siwon mutlak dengan nada bicara super dinginnya.

"Tapi-"

'tuut tuut tuut' belum sempat Kibum menyelesaikan ucapannya, sambungan telepon telah diputus secara sepihak oleh Siwon.

'ting tong ting tong, ting tong ting tong'

Bel apartemen Kibum berbunyi, menandakan ada seseorang yang datang berkunjung. Dia sudah bisa menebak siapa yang datang. Siwon. Pasti dia yang telah memencet bel dengan tidak sabar. Kibum membuka pintu apartemennya dan gotcha! ternyata benar Siwon lah yang kini tengah berdiri di balik pintu. Tanpa permisi dari sang pemilik apartemen, Siwon melangkahkan kakinya masuk dan mengedarkan bidikan matanya ke segala arah –mencari sosok sang istri.

"Di mana dia?" tanya Siwon tanpa menghadap Kibum dan masih terus mengedarkan kedua matanya.

"Di kamarku."

Tanpa aba-aba, Siwon melangkah menuju sebuah pintu satu-satunya di dalam apartemen yang diyakininya sebagai tempat di mana istrinya itu berada kini. Dan benar saja, Siwon melihat Donghae tengah tertidur pulas di ranjang Kibum. Digendongnya perlahan tubuh Donghae bridal style.

"Terima kasih telah menemani istriku, Kibum-sshi". Ucap Siwon dengan menekan kata 'istriku' pada Kibum.

Tanpa menunggu Kibum membalas ucapannya, Siwon segera melangkahkan kakinya keluar dari apartemen Kibum. Sedangkan Kibum hanya mampu menatap nanar Donghae yang dibawa pergi Siwon yang telah menghilang di balik pintu.

-house of Siwon-Donghae-

Siwon membaringkan tubuh Donghae secara perlahan di ranjang king size mereka, tidak ingin Donghae terganggu dari tidurnya dengan gerakan sekecil apapun. Siwon melepas jas dan dasinya serta membuka tiga kancing kemejanya paling atas, kemudian merebahkan diri di samping Donghae. Dia memiringkan tubuhnya menghadap Donghae agar memudahkan dirinya menikmati paras cantik nan damai istrinya. Merasa ada sesuatu yang lembut dan hangat menerpa wajahnya, Donghae -yang tidurnya terganggu- mengerjapkan matanya beberapa kali untuk membiasakan cahaya yang masuk ke retina matanya walaupun cahayanya tidak terlalu terang.

"Siwonnie." Rancau Donghae seraya masih mengerjapkan kedua matanya saat mendapati sosok sang suami yang tengah berada di hadapannya dan tengah tersenyum manis menampilkan kedua dimple nya.

"Kenapa bangun, chagiya?"

"Bukan kah aku tadi aku berada di apartemen Kibummie?" tanya Donghae bingung mendapati dirinya yang telah berada di kamarnya –dan Siwon.

"Aku menculik wanitaku."

"Aish, kau ini." Donghae terkekeh mendengar ucapan Siwon.

"Kau semakin berat, chagiya. Kau bertambah gemuknya?" tanya Siwon dengan senyuman –mengejek- nya.

Donghae mengerucutkan bibirnya dan memukul pelan dada bidang Siwon dengan sebal.

"Yack! Tentu saja. Sekarang aku kan bersama uri aegya setiap waktu. Kau irinya?"

Senyum manis Siwon semakin mengembang lebar. Direngkuhnya tubuh Donghae ke dalam dekapan hangatnya, sementara donghae menyamankan dirinya dalam dekapan suaminya.

"Wonnie-ah, di ulang tahunmu ke 26 besok kau ingin hadiah apa dariku? Aku akan berusaha memberikannya." tanya Donghae yang memecah keheningan yang sejenak melanda mereka, jari telunjuknya menari-nari di dada bidang Siwon.

"Kau sudah memberikannya, chagiya. Dirimu dan uri little Choi adalah hadiah paling indah dan paling berharga yang pernah kuterima." Jawab Siwon seraya mengecup pucuk kepala Donghae, menghirup aroma sampo chamomile yang menguar dari surai lembut Donghae.

"Jinjja? Berarti aku tidak peril repot-repot mencarikanmu hadiah yang special." Gurau Donghae.

Siwon melonggarkan dekapannya dan mensejajar wajahnya dengan wajah Donghae. Siwon menghapus jarak di antara mereka dan mempertemukan bibirnya dengan bibir merah ranum Donghae. Siwon melumat bibir Donghae dengan sangat lembut, tidak ada nafsu di sana, hanya ingin menyalurkan rasa cintanya yang begitu besar kepada eomma dari anaknya itu. Siwon menjauhkan wajahnya saat dirasanya Donghae membutuhkan oksigen untuk memenuhi paru-parunya kembali.

"Saranghae." Ucap Siwon menatap lekat kedua manic cantik Donghae.

Diraihnya tengkuk Donghae dan kembali mendaratkan bibir kissablenya pada bibir penuh Donghae. Disesapnya setiap inci bibir istrinya tanpa terlewati sedikit pun. Lidah terlatih Siwon mulai bergerak nakal, menjilat bibir atas dan bibir bawah Donghae bergantian.

"Euunghhh." Donghae melenguh dan membuka sidikit mulutnya.

Tentu saja kesempatan itu tidak akan disia-siakan oleh Siwon. Segara disisipkan lidahnya masuk ke dalam rongga hangat mulut Donghae, menjelajahi setiap benda yang ada di sana. Tak sampai di situ saja, kini tangan nakal Siwon mulai melancarkan serangannya. Dibukanya kancing atas mini dress Donghae, meremas salah satu gundukan yang ada di dadanya.

"Aaassshhhh.. eeuuummhh.." desahan Donghae lolos dari sela-sela aktivitas pagutan dalam nan panas mereka.

Siwon memposisikan tubuh Donghae terlentang dan memindahkan bibirnya ke leher jenjang Donghae. Jemari lentik Donghae entah dari kapan sudah tersesat di surai cepak Siwon. Dikecup, dijilat dan dihisapnya leher hingga perpotongan bahunya.

"Ssshhhhh.. ja.. ngan.. aakhh.. digigit.. aannnhhh…" rancau Donghae di sela desahannya. Bayangkan saja jika saat show keesokan harinya Donghae hadir dengan bercak-bercak keunguan di lehernya. Tentu saja Donghae tidak ingin hal yang memalukan itu terjadi.

Oh tidak! Kini salah satu tangan nakal Siwon sudah berhasil menyusup mini dress Donghae dari bawah. Dibelainya miss V istrinya yang masih dalam balutan underware nya yang menimbulkan desahan hebat dari mulut Donghae.

"Eeeeuuuuunnggggghhhhhh…" tubuh Donghae menggelinjang membentuk busur.

Gerakan Siwon yang hendak menurunkan underware nya menyadarkan dirinya -akan larangan sang dokter- dari buaian kenikmatan yang diberikan Siwon.

"An-andwae.. Won-aahhh.. aegya… aaannhh..." ucap Donghae susah payah.

Sontak Siwon menghentikan kegiatannya menggerayangi tubuh Donghae. Ditatapnya wajah Donghae yang sudah penuh dengan peluh.

"Mianhae chagiya." diusapnya dengan lembut peluh di dahi Donghae dan mengecup dahinya lembut.

"Eumb, gwaenchana." Donghae menganggukkan kepalanya.

"Maafkan appa, baby." Siwon menurunkan kepalanya sejajar dengan perut Donghae dan mengusapnya lembut.

"Tidurlah, chagiya. Saranghae." Siwon sudah memposisikan kembali dirinya mendekap tubuh Donghae, memberikan kehangatan lewat rengkuhannya. Ditariknya selimut menyelimuti tubuh Donghae hingga bahunya yang berarti sampai dada Siwon. Tak lama kemudian Donghae terlelap dengan kehangatan dan kenyamanan yang ditawarkan Siwon.

.

.

.

-a month later again-

Kini usia kandungan Donghae sudah menginjak bulan ketiga. Jadwal show on air maupun off air nya sudah dikurangi. Paling banyak dia hanya menerima 2x job menyanyi, itupun dengan gerakan dance yang amat sangat minim. Memang masih ada job mengisi talkshow maupun variety show atau sekedar menjadi model pemotretan, Donghae hanya menerima yang tidak akan membuatnya terlalu lelah saja. Dia –dan orang-orang di sekitarnya- bernar-benar bersikap protective terhadap generasi Choi dan Lee berikutnya.

#one night#

Siwon pulang ke rumahnya dengan wajah frustasi dan penampilan kusut. Moodnya hari ini benar-bener buruk. Bagaimana tidak? Salah satu investor yang penting bagi perusahaan Siwon menarik dananya kembali, padahal mereka akan mengerjakan sebuah proyek besar yang akan direalisasi dalam waktu dekat. Tentu saja hal itu akan mendulang kerugian yang cukup besar baginya.

Dilangkahkan kedua kakinya dengan gontai memasuki mansion mewah yang dia tempati bersama Donghae. Sontak kedua matanya membelalak sempurna seketika melihat pemandangan di hadapannya kini. Istri sang sangan dia cintai dan kasihi tengah memeluk erat seorang namja yang dia kenali sebagai Kim Kibum di ruang tamu rumahnya.

Memang itu bukan kali pertamanya Donghae memeluk Kibum. Hey! Tetap saja dia sangat kesal, masalah di kantor sudah membuat kepalanya pusing dan sekarang disuguhkan pemandangan yang menyesakkan seperti itu. Ternyata Tuhan sedang ingin menguji Siwon.

"Shit!" umpat Siwon seraya melenggang menjauhi rumahnya tanpa sepengetahuan Donghae maupun Kibum.

Sebuah bar yang sangat jarang dia jamahi kini menjadi tempat singgahnya. Dia pernah berkunjung ke bar itu dua kali karena ajakan Kyuhyun dan Yesung. Tanpa ragu, dia memesan minuman alcohol berkadar tinggi yang bahkan belum pernah dia minum –mengingat Siwon kan alim. Dia hanya ingin melupakan masalahnya walaupun sejenak.

-house of Siwon-Donghae-

Donghae sedari tadi mondar-mandir di ruang tamu. Ditolehkan kepalanya pada jam dinding antic yang tergantung di dinding. Pukul 3, begitulah jarum pendek dan panjang pada jam itu menunjukkan waktu. Sosok atletis nan tampan yang ditunggunya tak jua menunjukkan batang hidung mancungnya. Kegelisahan menyelimuti dirinya. Sangat tidak biasa Siwon pulang selarut ini tanpa kabar. Paling larut Siwon pulang pukul 12 malam dan itupun dia akan menelpon ataupun sekedar mengirim pesan singkat pada Donghae.

Pintu utama rumah megah nan mewah itu terbuka, segera saja menyita perhatian Donghae. Dia menajamkan matanya, menyakinkan dirinya apakah sosok di depannya ini benar-benar Siwon, suaminya. Lihat saja penampilannya saat ini. Wajah kusut, rambut ajak-ajakan, kancing jas yang sudah tidak mengait satu sama lain, dasi yang melonggar dan jangan lupakan langkah terhuyung-huyungnya. Benar-benar suatu pemandangan yang sangat langka, bahkan belum pernah.

"Siwonnie."

"Oh, istriku yang sexy." Siwon tertawa tidak jelas, didekatinya Donghae dan langsung memeluknya dan menjatuhkan dirinya berserta Donghae –otomatis- di sofa empuk di sampingnya.

"Aish, kau mabuk ya?"

"He? Tidak mabuk kok, cha-gi-ya." Lalu Siwon tertidur, namun masih mengigau-ngigau tidak jelas.

Dengan penuh perjuangan, Donghae memapah Siwon menuju kamar mereka di lantai dua. Bayangkan saja bagaimana sulitnya Donghae membimbing Siwon ke kamar yang notabenenya tubuh Siwon –jauh- lebih besar, tinggi dan berat daripada dirinya. Akhirnya sampailah Donghae memapah Siwon sampai di kamar mereka, dihempaskannya tubuh Siwon ke ranjang. Donghae melepas sepatu dan kaus kaki Siwon, dibukanya jas hitam suaminya itu dan tak lupa menanggalkan dasi yang melilit leher Siwon –yang sudah melonggar.

Saat Donghae hendak beranjak mengambil air untuk membasuh muka Siwon, pergelangan tangannya dicekal oleh Siwon. Dengan sekali hentak, Siwon menarik Donghae ke arahnya dan mendarat di atas tubuhnya. Tanpa aba-aba, dilumatnya cukup kasar bibir Donghae. Sebenarnya Donghae tidak menyukai ciumannya kali ini karena bau alcohol yang masih sangat menyengat dari mulut Siwon. Siwon sudah berhasil mematahkan pertahanan Donghae, lidahnya tengah menjelajahi rongga hangat nan manis Donghae.

Siwon membalikkan posisinya hingga sekarang bergantian Donghae yang berada di bawah dan Siwon menindihnya. Siwon semakin menekan bibirnya pada bibir menggoda Donghae. Melumatnya ganas tanpa ampun, membuat Donghae pun tak khayal kuwalahan membalas Siwon. Donghae masih bisa mentoleransi sesi ciuman mereka kali ini. Toh mereka masih sering melakukan French kiss selama Donghae hamil.

Donghae membulatkan kedua matanya saat merasakan Siwon berhasil melepas underware nya dari piyama mini yang dia kenakan dan menyadari Siwon yang tengah menanggalkan seluruh pakaiannya. Tanpa permisi dan pemanasan, Siwon menempatkan junior nya di depan miss V Donghae dan melesakkannya ke dalam dengan lembut.

"Arrgggtt! AN-ANDWAE! Hen.. ti… kan..! hiks.. hiks."

Seolah menulikan kedua telinganya, Siwon mengacuhkan segala teriakan permohonan Donghae dan tetap menggerakkan pinggulnya. Walaupun Siwon tetap memperlakukannya dengan lembut –sangat malah- Donghae kesakitan yang luar biasa. Air mata Donghae telah menganak-sungai sedari tadi. Setelah mengeluarkan hasratnya, Siwon menjatuhkan tubuh lemasnya di samping Donghae dan terlelap.

Sebelum kehilangan kesadarannya secara penuh, Donghae merangkak menghampiri ponselnya yang terletak di meja nakas. Dengan sisa tenaganya, dicarinya nama Heechul pada list contact nya dan mendial icon 'call'.

"Yeobboseo, chagiya."

"Eomma.."

"Ne? ada apa menelpon malam-malam?"

"Eomma.. hiks.."

"Gwaenchanayo?" Heechul mulai khawatir.

"Eomma…" dan ponsel pun terjatuh dari tangan Donghae.

"Yack! Chagiya! Donghae-ah!"

Sekencang-kencangnya Heechul berteriak, tetap tidak ada jawaban dari Donghae.

.

.

.

T~B~C