Akhirnya saya sempat juga untuk menambah chapter baru sebelum mulai sibuk kuliah. Saya rencanakan chapter ketiga nanti sebagai chapter terakhir, dan mungkin bagi yang belum jelas *ini udah keliatan banget masih menggantung* akan saya jelaskan di chapter selanjutnya. Jadi sabar saja dan semoga saya bisa update secepatnya... *bows*
So let's begin the story. . .
-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-
Berwald telah berbohong padanya.
Memang pada awalnya semua berjalan lancar. Titah bagindanya akhirnya terwujud dalam sebuah perjanjian yang ditandatangani di kastil Kalmar milik Sang Sverige. Semua berjalan dengan mulus, sesuai harapan ketiga kerajaan yang menyanggupi perjanjian tersebut. Berbagai konflik yang sempat bangkit dan mengganggu jalannya pemerintahan di negara-negara Skandinavia berhasil diselesaikan dengan damai. Saat itu, saat Treaty of Kalmar[1] memegang kekuasaan atas dirinya, Berwald dan Lukas, bisa dikatakan mereka bertiga mengalami puncak keemasan, baik kehidupan mereka sebagai personifikasi maupun kehidupan sebagai manusia.
Dengan segala keserakahan serta nafsu yang ditopengi rasa kasih sayang dan kemakmuran untuk rakyat.
Semua berawal dari kemajuan yang terlampau cemerlang di era kepemerintahan ketiga monarki. Mathias, lebih tepatnya para atasannya sering melakukan intervensi ke wilayah diluar kekuasannya yang berujung peperangan. Hal itu membuat banyak atasan Berwald merasa terganggu. Dari sana dimulai kecurigaan dan kedengkian diantara para bangsawan yang memburuk seiring waktu berlalu. Entah disisi seorang Berwald, namun baginya hal ini dapat berujung hal terburuk yang bisa ia bayangkan saat itu.
Hancurnya unifikasi yang dulu menjalin mereka menjadi satu kesatuan.
Namun prediksi terburuknya disambut hal terburuk lain yang tidak pernah ia bayangkan sebelumnya. Berbagai keputusan anggota dewan yang memaksanya memonopoli monarki Kalmar membuatnya dibenci oleh anggota dewan Sverige. Yang lebih buruk pada saat itu hubungannya dengan Sverige pun tidak membaik karena kesibukannya sehingga ia jarang menemui pemuda yang akhirnya memutuskan memakai kacamata itu. Penyesalan yang nantinya takkan ia bisa lupakan dan akan terus membekas di hatinya.
Seandainya ia bisa merelakan waktunya barang beberapa menit untuk sekedar menulis surat dan menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi. Bahwa ia tidak bisa mengatakan "tidak" pada atasannya. Ia tidak bisa terus-menerus menyaksikan darah saudaranya, rakyatnya sendiri, tersia-siakan di tengah peperangan yang tiada akhir.
Terutama ia tidak bisa membiarkan sosok pemuda itu yang terpaksa terseret arogansi sang atasan untuk ikut berjuang di tengah medan perang dengan daya tahan yang tak sekuat dirinya.
Kebencian berubah menjadi amarah, amarah mendorong bangkitnya pembenaran atas apapun yang akan kita lakukan, walaupun nurani kita menjerit pilu menyatakan bahwa hal itu salah. Hal itulah yang terpikir dalam batinnya tatkala melihat bergolaknya pemberontakan atas kepemimpinan atasannya, Raja Eric VII[2]. Yang membuat hatinya semakin sesak adalah sang pemimpin pemberontakan itu[3], yaitu anggota dewan Sverige dan sang perinsanan sendiri, Berwald Oxenstierna. Ia tidak tahu apa yang ada di pikiran sang pemuda berkacamata itu, namun yang jelas kini ancaman terbesar telah datang dari saudaranya sendiri.
Keruntuhan yang tinggal menghitung hari pun tak terelakkan. Usai pemberontakkan yang berhasil menjatuhkan Raja Eric VII dari tampuk kekuasaannya bukannya menghasilkan perdamaian yang dijanjikan, namun berujung ke masalah lain. Sang raja digantikan oleh raja lain yang tak memiliki keturunan, Christopher of Bavaria. Dari sanalah masalah mulai mengakar, jauh menembus setiap perinsanan Skandinavia. Berbagai kemelut mulai bangkit ke permukaan, terutama dalam pemilihan raja selanjutnya setelah sepeninggal Raja Christopher. Sverige mengangkat atasannya sendiri, Raja Charles VIII sebagai pemimpin ketiga monarki. Namun giliran dewannya yang menyatakan ketidaksetujuan.
Berbagai pemberontakan yang mulai mencuat hingga berujung pada keserakahan lainnya, menenggelamkan dirinya dalam jurang yang semakin tak berdasar. Pengumuman sepihak sang atasan membuat hatinya remuk. Ia masih ingat wajah penuh amarah tak tersalurkan dari sang pemuda jangkung yang saat itu duduk di samping anggota dewannya, pemuda yang nantinya menemaninya di medan perang gersang, bukan sebagai kawan melainkan sebagai lawan.
Deklarasi bahwa Norwegia dinyatakan sebagai provinsi dari Denmark.
Segala hal yang terjadi pasti ada baik-buruknya. Baiknya, ia bisa bersama dengan sang pemuda brunette tanpa harus ketakutan akan kehilangan sosok itu dari jangkauannya. Buruknya, deklarasi itu diumumkan pasca perang saudara dan dikala kepemerintahan ketiga monarki tengah di ujung tanduk.
Kebencian, terutama amarah yang telah bertahun-tahun menumpuk, akhirnya meledak bak penyumbat gabus botol sampanye yang berkali-kali dikocok penuh tenaga. Peperangan dua pihak yang sejak dulu semakin memanas akhirnya memuncak pada Perang Napoleon. Kenetralan[4] yang menjadi bumerang bagi dirinya sendiri akhirnya membawa mimpi buruknya kedalam realita. Ia harus bertekuk lutut dihadapan sosok Sverige yang tersenyum meremehkan. Senyum yang saat itu bukan hanya melukai fisiknya yang tertoreh tombak sang pemuda, namun juga batinnya yang masih mengenang masa dimana dirinya, sang pemuda dan sosok yang selalu bersemayam di hatinya mengalami masa-masa kedamaian. Luka yang takkan pernah berhenti bernanah dalam sejarahnya hidup sebagai personifikasi sebuah negara berdaulat.
Kala itu berbagai kepingan memori bagai mengalir dan berbias dalam berbagai warna di tengah kolam pikirannya yang berkabut. Mata yang memberat serta tubuh yang kaku, sungguh ia akan menerima bila saat itu ia harus "hilang" dari dunia ini. Mirip seperti sosok kecil di seberang sana[5] yang harus kehilangan nama dan kedaulatannya akibat peperangan tiada akhir ini.
Suara bersin yang sebenarnya cukup mengangetkan dirinya sendiri karena sedari tadi ia masih tenggelam dalam lamunannya membuat Mathias mengangkat wajahnya dan melihat sekeliling. Ia tahu bahwa dirinyalah yang bersin tadi, namun yang membuatnya kaget adalah keadaan trance yang membuatnya lupa akan sekitar. Perspektifnya akan ruang dan waktu seakan terhenti, menjauhkannya sementara dari realitas di hadapan matanya. Setelah menyadari bahwa dirinya masih ada di taman dengan berbagai lampu hias yang mulai menyala akhirnya sang pemuda menarik napas dan menghembuskannya dalam-dalam, menenangkannya dari pikirannya sendiri.
Kini taman tempatnya duduk dan merenung semakin penuh dengan populasi kota yang mulai menikmati detik-detik malam Natal tepat pukul 00.00 nanti. Pohon cemara raksasa yang sengaja disimpan di tengah taman dan dihiasi berbagai pernak-pernik yang identik dengan hari suci umat Kristiani ini menjadi pusat perhatian warga kali ini. Di puncak pohon Natal raksasa yang sebagian daunnya mulai membeku itu berdiri hiasan malaikat cantik yang memegang sebuah bintang besar berwarna emas. Dekorasi malaikat tak berjenis kelamin itulah yang cukup menarik perhatian seorang Mathias hingga pandangannya terpaku selama beberapa menit. Kerlip sang kejora yang memperindah langit temaram akibat Sang Surya yang tenggelam lebih awal terbias di manik lazuardi sang pemuda. Terutama daya tarik misterius dari sang malaikat yang entah kenapa nampak tersenyum ke arahnya.
Namun tatapan kekagumannya harus terganggu oleh sesuatu yang hangat menepuk pundaknya. Hangat dan empuk, kalau Matt tidak salah merasakan. Sedetik sempat sesuatu yang belum sempat Matt tebak apa itu mengacak surainya yang memang tak sempat ditata sehingga semakin terlihat semrawut. Sang pemuda menoleh melihat apapun itu yang menganggunya serta berharap bukan sesosok makhluk astral yang selalu menakutinya, dan maniknya membulat dalam keterkejutan tatkala mengenali sosok yang tengah berdiri di belakangnya.
"Sve!"
Seruan terlontar dari bibirnya diluar kesadarannya. Ia sungguh tidak menyangka sosok itu tengah berdiri di belakang bangku taman yang tengah didudukinya, memeluk kantung kertas kecil berisi kringel[6]hangat yang baru dibelinya. Satu, dua kali kelopak mata Mathias terpejam dan terbuka mengekspresikan kebingungannya.
Kenapa pemuda itu bisa ada di sini?
"Malam, Dan." Sapanya tenang sembari mengangguk kecil. Jika Matt menyapanya dengan 'nama lainnya' sang pemuda pasti akan memanggilnya begitu.
"Kau… disini? Sendiri?"
"Tidak. Aku bersama… umh…Suomi."
"Uh, oh. Begitu."
Percakapan yang terdengar kaku. Matt jadi merasa tidak enak. Tidak seharusnya seperti ini. Lebih tepatnya, ia tidak biasanya begini. Yang biasanya terjadi setelah sapaan, atau lebih tepatnya seruannya tadi pada sang pemuda maka lengannya refleks akan melingkari bahunya dan mengajaknya bercakap dengan riang. Tidak pernah ia merasa segagap ini berbicara dengan sang pemuda berkacamata sebelumnya.
"Engh… sebaiknya kau duduk."
Hanya itu yang terlintas di kepalanya. Etika atau setidaknya basa-basi yang bisa memecahkan kekakuan yang mulai menyesakkan. Kembali sebuah anggukan dilihatnya dari sang pemuda sebelum Berwald duduk di sampingnya, masih memeluk sekantung kecil penuh berisi kringel.
"Ada angin apa tiba-tiba kau mengunjungiku begini?"
Sunyi sebelum akhirnya Mathias yang angkat bicara. Tidak bisa menutupi keingintahuannya akan alasan seorang Berwald yang tiba-tiba menampakkan batang hidungnya di hari yang hampir larut.
"Perihal kemarin. Tidak seharusnya aku mengatakan hal seperti itu."
"Ah. Soal itu? Sebaiknya lupakan saja, oke? Aku tidak sedang dalam mood untuk—"
"Undskyld[7]."
Kalimat Mathias terhenti. Satu kata itu seakan bergema di telinga dan pikirannya. Arti kata yang sering ia dengar sejak dulu, namun jarang sekali ia merasakan orang yang mengucapkannya memahami makna kata itu. Ya, kata itu kadang sulit diucapkan, namun terkadang terlalu mudah untuk dilontarkan. Tapi ia tahu bahwa pemuda di sampingnya tulus karena kata itu diucapkan dalam bahasa ibunya, bukan dalam bahasa sang pemuda.
"—Hah? Tunggu dulu, kau mengatakan kata itu? Maksudku, dalam bahasa-ku? Tidak, ini salah. Aku juga harus meminta maaf. Aku yang seharusnya meminta maaf. Ini curang, kenapa kau yang melakukannya lebih dulu? Tidak adil, aku tengah memikirkan bagaimana caranya dan kau tiba-tiba datang kemari dan mengatakannya begitu saja? Tanpa persiapan?"
"Tidak juga. Aku membawa kringel ini untukmu."
Manik ice blue Mathias mengerjap tiga kali sebelum akhirnya ledakan tawa terdengar di dekat bangku tempatnya dan Berwald duduk. Tawa yang dipenuhi kepuasan serta mengekspresikan kekonyolan yang ironis. Air matanya sampai menetes menuruni pipinya yang dingin. Air bersuhu hangat dengan konsentrat garam yang tinggi.
"Fåne[8]. Bukan itu maksudku, tapi ya sudahlah. Tyvärr[9], Berwald. Akulah yang naik pitam lebih dulu kemarin siang. Bukan kau yang seharusnya meminta maaf lebih dulu. Itu namanya curang."
Senyum samar terukir di bibir Berwald mendengar tanggapan saudaranya mengenai permintaan maafnya. Pikiran Mathias memang suit ditebak, tapi setidaknya apapun yang terjadi selalu ada titik pengertian yang menyambungkan buah pikiran mereka.
"Setidaknya kita impas. Setelah ini kau harus segera pulang, Matt."
"Pulang? Ah, ya. Sebentar lagi. Aku masih ingin duduk di sini, aku pasti pulang kok."
"Aku menunggumu. Kita semua menunggumu, terutama dia."
Penegasan pada kata ganti insan ketiga di ujung kalimat Berwald. Matt menelan ludah pelan. Ia sadar betul siapa yang dimaksud Berwald pada akhir kalimatnya. Namun sebisa mungkin ia tidak mau membahasnya terlebih dulu saat ini.
"Ya, ya. Aku tahu. Aku akan pulang, oke? Kau tahu aku tidak pernah berbohong. Ah, satu-dua kali mungkin aku pernah berbohong, tapi aku bukan orang yang tidak jujur bukan? Jadi pulanglah lebih dulu dan tunggu aku, oke?"
"Lebih baik kau segera pulang bersamaku. Tapi jika kau memang ingin pulang sendiri—"
"Berwald!"
Déjà vu sekilas menghentak pikiran Mathias saat melihat sesosok pemuda pirang menghampiri dirinya dan Berwald di sampingnya. Rasanya ia pernah mengalami peristiwa seperti ini. Setelah cukup lama berpikir akhirnya ia baru ingat bahwa tadi perinsanan Jerman dan Italia mengunjunginya dan adegan sang perinsanan Italia yang menyapa sang perinsanan Jerman mirip sekali seperti saat ini, hanya seruan dan pelakunya yang berbeda.
"Tino~ Sudah lama aku tidak melihatmu~"
Kini giliran Mathias yang bersikap ekspresif dan melambaikan lengannya. Sedang makhluk yang disapa hanya menganggukkan kepalanya tanpa menjawab sepatah kata pun.
"Halo, Maty! Jadi bagaimana? Sudah selesai? Kalau begitu kita pulang sekarang karena jadwalku nanti malam sangat padat~"
Tino Väinämöinen, sang perinsanan Finlandia, hanya bisa tersenyum ramah sembari memeluk sebuah kantung besar putih yang Mathias tebak berisi berbagai macam hadiah Natal. Maklum, sang pemuda pirang itu terkenal sebagai sosok Santa yang membagikan hadiah di malam Natal ke beberapa wilayah di benua Eropa. Mathias ingat ia pernah diberi hadiah saat Perang Dunia II oleh sang pemuda yang naik pesawat tempur merah mencolok dihiasi lampu kelap-kelip yang pasti takkan bisa lolos dari pandangan.
"Apanya yang sudah selesai? Dan bukankah sebaiknya kau memasukkan hadiah-hadiah itu ke dalam mobil? Kelihatannya cukup berat…"
"Uhm, tidak apa kok. Ini ringan, lagipula ini kantong terakhir yang akan dimasukkan ke bagasi mobil. Ah, maksudku apa kalian sudah selesai bicara? Karena tidak baik memendam masalah di malam Natal."
Senyuman tulus nan polos dari Tino memberikan petunjuk pada Mathias bahwa pemuda di sampingnya dibimbing oleh sang perinsanan Finlandia untuk meminta maaf padanya. Senyum di wajahnya semakin melebar. Ia tidak keberatan sama sekali apakah Tino memaksa Berwald untuk meminta maaf padanya atau tidak, setidaknya pernyataan maaf yang terucap tadi sama sekali tidak terdengar dipaksakan.
"Sudah, dan sebaiknya kita pulang duluan. Matt masih ingin disini sebentar, ia akan menyusul nanti." Ucap sang perinsanan Swedia sembari mengambil barang bawaan Tino, yang dibalas Tino dengan senyuman yang bermakna 'Terima kasih'.
"Ya, lagipula lebih baik kau mulai membagikan hadiahnya dari sekarang agar nanti malam kau sudah bebas. Jadi kau juga bisa merayakan Natal dengan Berwald."
"Baiklah. Jadi tidak apa kita meninggalkanmu sendirian disini? Kalau begitu aku dan Berwald pergi dulu, dan semoga nanti malam aku sudah selesai membagikan hadiah. Cepat pulang dan segera minum coklat hangat agar kau tidak masuk angin."
"Tentu saja! Hati-hati di jalan, dan semoga pekerjaanmu berjalan lancar!"
Lambaian penuh semangat dan senyum lebar mengantarkan kedua saudaranya menjauh dari pandangan, hilang dalam kerumunan manusia yang mulai memenuhi taman. Mathias hanya bisa tersenyum kecil sembari mendesah pelan mengingat apa yang baru saja terjadi. Lamunannya sebelumnya benar-benar memberi pengaruh kuat pada pertukaran maaf yang baru saja dilakukannya, membuatnya menerawang ke seberang taman sembari memikirkan sudah berapa banyak pertukaran maaf baik yang dipaksakan maupun yang tidak telah ia lakukan bersama sang Sverige.
Memang jikalau ada dendam atau kebencian yang pernah tertanam di setiap perinsanan negara di seluruh dunia pastilah intensitas dan lama dari dendam dan benci itu akan lebih lama dari manusia biasa akibat usia mereka yang terkesan abadi. Namun bukan berarti masing-masing dari mereka akan semakin sulit memaafkan yang lain, justru seharusnya akan lebih mudah karena jalinan persaudaraan yang semakin dieratkan rantai waktu akan membantu mereka saling mengerti buah pikiran yang lain.
Kembali saya mencamtumkan beberapa penjelasan yang mungkin bisa membantu :
[1]: Perjanjian yang ditandatangani pada tanggal 25 September 1397 di Kastil Kalmar, Swedia. Perjanjian ini berisi bahwa ketiga negara yang menandatanganinya, yaitu Swedia, Norwegia dan Denmark, berada dalam satu kepemimpinan monarki, namun perjanjian ini tetap tidak merubah bentuk pemerintahan yang legal serta asli dari setiap negara anggotanya. Perjanjian ini usai setelah Raja Gustav I of Sweden meninggalkan Unifikasi Kalmar pada tanggal 6 Juni 1523.
[2]: Raja Eric VII of Denmark, atau disebut juga sebagai Raja Eirik III of Norway atau Raja Ericus of Sweden merupakan raja pertama dari monarki Unifikasi Kalmar. Nama aslinya yaitu Eric of Pomerania.
[3]: Pemberontakan yang dimaksud yaitu pemberontakan Engelbrekt. Pemberontakan ini dipimpin oleh bangsawan Swedia bernama Engelbrekt Engelbrektsson untuk menggulingkan tampuk kepemimpinan Raja Eric ini berakhir dengan jatuhnya Raja Eric dan dimulainya keruntuhan Unifikasi Kalmar.
[4]: Kenetralan yang dimaksud yaitu League of Armed Neutrality, yang merupakan aliansi angkatan laut Eropa Utara di masa Perang Napoleon. Namun persekutuan ini malah dianggap sebagai langkah berbahaya oleh Britannia Raya sehingga berujung pada penyerangan Copenhagen tahun 1801 serta 1807.
[5]: Yang dimaksud adalah Holy Roman Empire yang sebelumnya terpecah belah dan berakhir pasca Perang Napoleon.
[6]: Makanan yang berasal dari Skandinavia. Variasi lain dari pretzel, yaitu biskuit yang berbentuk seperti cincing yang dijalin di tengahnya, merupakan panganan ringan yang cukup populer di wilayah Nordik terutama Denmark dan Norwegia.
[7]: Maaf dalam bahasa Denmark.
[8]: Bodoh atau idiot dalam bahasa Swedia.
[9]: Maaf dalam bahasa Swedia.
