Akhirnya oh akhirnya~ Tamat juga... ehehehehe... Ini word-nya lebih panjang dari chap sebelumnya karena itu kebiasaan saya di chapter akhir... Maafkan kalau chap sebelumnya kerasa hambar atau kurang gimana~ gitu... disini juga rasanya ada yang kurang tapi sedang entah kenapa terbatas jumlah kata jadi ya... maafkan saja kalau ada yang kurang... *bows*
Mulai saja ya ceritanya~ kamus mini yang sudah tertera di chapter sebelumnya tidak akan dicantumkan lagi... Dan silahkan review sepuasnya... So then... please enjoy my stories...
-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-
Badannya memberat. Lututnya seakan mengkhianati pemiliknya, bergetar lemah hingga akhirnya tidak kuat lagi menahan berat tubuhnya. Badannya yang kaku akhirnya jatuh berdebam di atas tanah berumput, dihadapan seorang pemuda yang berdiri tersengal dengan tombak berlumur darah di genggamannya. Pening mendera kepalanya bak berjuta jarum kecil yang terus-menerus menusuki setiap lapis kulitnya. Pita suaranya yang sudah di ambang batas dan tenggorokannya yang kering telah menghalanginya untuk menyuarakan kefrustasian dan rasa sakit yang tak tahan lagi ia pendam, baik di dalam batin maupun fisiknya. Matanya semakin berkabut, tirai gelap yang melebar dari sudut pandangnya semakin membatasi penglihatannya. Napas yang satu-satu dan buku-buku jemarinya yang sudah kebas semakin memperburuk kondisinya.
Sampai disinikah kisahnya? Berakhirkah dirinya kini? Ia sudah tak perduli lagi saat titik cahaya terakhir dirampas dari penglihatannya, menenggelamkan tubuhnya ke dalam jurang kesunyian yang tak berdasar. Seakan tubuhnya yang sejak tadi berat dan dipenuhi rasa sakit seketika melayang ke antah berantah. Ia pun kehilangan kesadarannya di tengah kegelapan yang semakin menelannya.
Surga. Itulah yang terbesit di pikiran Mathias saat dirinya membuka kelopak matanya yang berat perlahan. Cahaya putih bersinar segera menerpa benaknya, membuatnya enggan membuka mata. Toh jika ini surga ia bebas memilih untuk tetap tertidur selamanya atau berusaha untuk bangun. Namun senandung lembut yang perlahan sampai di daun telinganya membuat semangat Mathias untuk membuka mata semakin meninggi. Suara yang lembut dan seakan menenangkan hatinya, menyembuhkan luka-lukanya, baik itu luka fisik maupun luka batin. Suara yang tak asing di telinganya, bergaung perlahan dan menstimulasi setiap otot sang pemuda untuk merasa lebih rileks. Apakah seorang malaikat tengah menyanyikan lullaby padanya?
Butuh beberapa menit hingga Mathias sadar sepenuhnya, namun ia masih belum rela untuk mengangkat kelopak matanya. Kesadarannya seakan ditarik dan dituntun menjauhi kegelapan oleh suara merdu sang malaikat. Namun ia tak mau nyanyian malaikat itu usai akibat dirinya yang membuka mata. Ia masih ingin mendengarnya. Karena suara itu, suara sang malaikat yang tengah bersenandung kini, adalah suara sesosok pemuda yang kini tengah dirindukannya. Amat sangat ia rindukan keberadaannya di sampingnya. Walau begitu biarlah rasa rindunya terobati oleh nyanyian sang malaikat, bukan begitu?
Tapi rasa penasaran yang terus mengetuk pikirannya akhirnya mendorong Mathias mengangkat kelopak matanya perlahan. Hal pertama yang dilihatnya adalah intensitas cahaya putih yang lebih tinggi dari sebelumnya saat ia pertama sadar. Hal selanjutnya yang ditemui maniknya adalah kabut yang mengaburkan pandangannya serta sesosok wajah yang tidak jelas siapa itu tengah menatap ke arahnya. Beberapa detik sebelum akhirnya lensa matanya memfokus dan berhasil membingkai sosok yang disangkanya sebagai malaikat itu. Perlahan namun pasti, maniknya semakin membulat tatkala fokusnya perlahan kembali dan akhirnya otaknya berhasil menginterpretasikan sosok siapa itu sebenarnya.
"Lu...kas?"
Gumamnya yang lemah seakan hilang terbawa angin. Sosok yang kini dilihatnya tidak salah lagi merupakan seorang Lukas Bodevik, sang personifikasi Norwegia. Surai brunette yang tertata rapi, bergerai halus saat diterpa angin lembut. Pakaian bishop yang membalut tubuhnya yang cukup berisi, jubah putih bersih yang tersampir di bahunya disertai pin coat of arms[1] Denmark-Norwegia yang dikenalinya. Serta manik itu, manik ametis yang terkesan dalam serta misterius, takkan pernah bisa ia lupakan apalagi tertukar dengan orang lain. Namun yang takkan bisa Mathias lupakan adalah hiasan rambut berbentuk salib terbalik yang menahan poni kiri sang pemuda. Hiasan berhias berbagai batu mulia yang diberinya pada saat unifikasi dirinya dan sang pemuda disahkan oleh atasannya.
"Lukas? Kaukah it—"
Pertanyaannya yang belum usai terhalang oleh dorongan untuk batuk yang datang dari tenggorokannya. Akhirnya ia terbatuk cukup lama hingga sekujur tubuhnya terasa sakit. Rasa serak dan kering yang menyerang tenggorokannya tak bisa ia hentikan. Sayangnya, sang malaikat segera menghentikan senandungnya saat mendengar dirinya terbatuk parah. Ia menyesalinya. Mengapa tenggorokan sialnya harus menganggu ketenangannya? Kini rasa sakit yang terlanjur merayapi tubuhnya semakin menjadi, membuatnya kembali lemah dan hampir kehilangan kesadaran untuk yang kedua kalinya.
"Bror!"
Panggilan yang juga tak asing diikuti pelukan erat yang segera menyelubungi tubuhnya dalam kehangatan. Rasa sakitnya seketika mereda dan berangsur menghilang. Kehangatan ini, betapa ia telah merindukannya untuk kembali dirasakannya akhir-akhir ini. Kehangatan yang bisa menghilangkan segala macam kesedihan dan kesengsaraannya. Yang seketika bisa mengukir senyum di wajahnya yang sebelumnya kaku dan sedingin es akibat berbagai peristiwa yang menimpanya.
Anehnya kali ini selain senyum lebar yang terukir di wajahnya yang lelah air mata pun ikut menuruni pipinya. Air mata kali ini cukup berbeda, karena selain mengekspresikan rasa sedih akibat kerinduan yang dicarinya air mata itu pun mengekspresikan rasa bahagia yang amat sangat akibat pelukan sang pemuda. Satu tetes air matanya seakan mengungkapkan berbagai beban yang selama ini ia tanggung di pundaknya. Masa-masa berat dimana kantung air matanya telah kering untuk membayar berbagai perasaan yang rela ia buang demi titah bagindanya.
"Bror… Syukurlah."
Gumaman lemah sampai di telinga Mathias. Pelukannya dirasa semakin mengerat. Perlahan sosok yang tengah memeluknya pun bergetar dalam isak tertahan. Kontan Mathias berusaha membalas pelukan sang pemuda, membawanya ke dalam dekapannya dan mengabaikan rasa sakit yang menggelenyar di setiap inchi tubuhnya. Belaian lembut yang mengacak surai brunette dalam genggamannya dimaksudkan untuk menghentikan air mata yang mulai menuruni pipi sang pemuda. Bisikan pelan yang berulang kali memanggil nama sang perinsanan Denmark terdengar di telinganya.
"Lukas… Kukira aku tengah berada di, ugh… surga. Rupanya sosok yang kusangka sebagai malaikat merupakan adik tersayangku…"
Kekehan lemah terlontar dari bibirnya yang bergetar menahan rasa sakit. Akhirnya ia menyadari bahwa sedari tadi ia tengah tertidur dalam pangkuan Lukas. Setelah ia puas memeluk sang pemuda akhirnya ia pun melepaskan pelukannya dan membiarkan tubuhnya beristirahat, sedang Lukas kembali menidurkannya di atas pangkuannya. Belaian lembut yang menelusuri dahi dan kepalanya kembali menenangkan Mathias. Ia pun mendesah pelan, membiarkan ototnya merileks selama ia berbaring.
"Bodoh. Kalau kau ada di surga sekarang berarti aku pun ada di surga bersamamu." Jawab Lukas sembari memijat pelipisnya. Berbagai perasaan yang kini berkecamuk dalam benaknya membuat kepalanya sedikit pening.
"Hmm~ Tapi tadi aku sempat menganggapmu sebagai malaikat. Awalnya aku bingung kupikir kau memiliki… saudara malaikat yang berwajah hampir sama denganmu. Tapi kupikir… tidak mungkin di surga… aku masih bisa merasakan rasa sakit, ya?"
"Berisik. Berhenti bicara kalau kau sadar kau tengah tidak sehat. Lukamu akan terbuka lagi."
Mathias mengangguk pelan, menyadari untuk berbicara saja ia sudah kerepotan. Masih untung Lukas bisa mendengar suaranya yang hampir mirip gumaman. Napasnya yang tersengal pun menandakan bahwa ia belum sembuh total.
Rupanya ia masih selamat, eh? Seakan Tuhan masih belum puas untuk membiarkannya merasakan siksaan di dunia dan enggan membiarkannya tenang di surga sana.
Belaian lembut masih dirasakannya tatkala ia menyadari sesuatu yang aneh saat ia memejamkan matanya. Ia sadar sesuatu telah hilang dari 'dirinya'. Batas wilayahnya menyempit dan ia tidak bisa menemukan rumah sang pemuda di setiap wilayahnya. Kemana Lukas? Dimana Norge? Bukankah sang pemuda telah menjadi bagian dari dirinya?
"Hei, Bror… Aku akan pergi besok pagi."
Ucapan yang datar nan singkat itu membuat Mathias tersentak duduk dan segera diserang rasa sakit yang menjalar ke seluruh tubuhnya dari setiap lukanya yang masih terbuka. Batuk dan erangan terlontar dari bibirnya, walau begitu ia masih berusaha mempertahankan tubuhnya agar tidak terjatuh sementara ia menatap lekat sang pemuda yang balas menatapnya datar. Walaupun ia tahu wajah sang pemuda memang tanpa ekspresi tapi ia sudah tinggal bersama sang pemuda cukup lama hingga ia tahu dibalik datar wajahnya terbias perasaan khawatir dan rasa bersalah yang tak bisa diungkapkan. Mathias menggeleng disertai ketakutan mencekam yang mulai menggerogoti hatinya.
"Kau… bercanda 'kan, Lukas?"
"Aku… lalu Faroe, serta Iceland juga. Besok… dia akan menjemputku pagi-pagi. Aku… telah mengulur waktunya hingga aku bisa melihatmu… membuka mata. Aku tidak bisa mengulurnya lebih lama."
"Dia…?"
Lukas bergeming. Tidak berani menyebutkan nama dari pemuda yang akan menjemputnya esok hari. Membawanya pergi dari jangkauan Mathias, jauh meninggalkannya sendirian. Semua direnggut darinya. Faroe serta Iceland juga? Ini candaan yang keterlaluan. Apakah semua itu dianggap sebagai bayaran yang setimpal atas apa yang telah 'Ia' lakukan di masa sebelumnya?
"…kau tidak perlu memberitahuku siapa pemuda yang kau maksud. Sama sekali tidak perlu."
Tawa lemah terdengar di akhir kalimat Mathias. Jadi begitu? Sang pemuda tidak akan puas sebelum dirinya merasakan apa yang dirasakan sang pemuda? Tertinggal, sendirian, jauh dari jangkauan yang lain?
Namun apakah sang pemuda sadar letak rumahnya yang juga jauh dari yang lain? Bahwa sang pemuda telah memiliki Tino sebelum dirinya tinggal bersama Lukas? Bahwa Faroe serta Iceland lebih mencintai Lukas daripada dirinya?
Ialah yang selalu kesepian jauh sebelum mereka tumbuh dewasa, bukan Berwald.
"Jadi begitu. Ia memutuskannya saat aku kehilangan kesadaran, eh? Jadi kau akan meninggalkanku? Pergi bersamanya, sementara darah pada lukaku pun belum sepenuhnya mengering? Kau tahu aku belum sepenuhnya pulih.Orang-orang meninggalkanku sementara yang lainsemakin berpihak padanya."
"Ini… yang terbaik Bror."
Kata-kata itulah yang terus terngiang di kepalanya hingga esok hari Berwald mendatangi rumahnya, mengambil paksa Lukas dan meninggalkannya dalam kesendirian. Rumahnya kini terasa sepi dan sunyi. Dalam rasa sakit yang melingkupinya, di tengah rumahnya yang kini tak seluas dulu, Mathias menangis dalam sunyi, meratapi kesalahannya di masa lalu, meratapi mengapa ia dilahirkan sebagai perinsanan sebuah negara, bukannya sebagai manusia biasa yang tak perlu menanggung beban seberat dirinya.
Pukul 17.15. Suhu semakin menurun, membuat Matt tanpa sadar menggigil pelan setiap angin dingin menerpa tubuhnya. Ia berdengus sesekali menyadari hidungnya mulai dipenuhi lendir yang bermaksud menghangatkan udara yang masuk ke hidungnya. Namun sepertinya ada alasan lain bagi hidungnya yang mulai tersumbat dan mata yang mulai berkaca-kaca selain akibat suhu yang semakin mendingin. Lamunannya akhirnya berakhir pada bagian yang selalu berusaha dilupakan batinnya. Dadanya yang mulai terasa sesak membuatnya refleks berdiri dan menghirup udara dalam-dalam, sekalian merenggangkan otot serta sendi tubuhnya yang kaku akibat sedari tadi ia duduk di taman tanpa melakukan gerakan yang berarti. Setelah puas merenggangkan tubuhnya akhirnya ia kembali duduk sembari mendesah dalam dan panjang. Sudah waktunya ia pulang. Lama-lama seperti ini juga tidak baik. Memangnya ia mau berapa lama lagi diam di taman sendirian dan membiarkan tubuhnya diterpa angin dingin hingga membeku?
"Yo, Maty!"
Seruan yang mengangetkan Matt datang dari samping, dan ia cukup terkejut mendapati sosok burung puffin berdasi kupu-kupu yang terbang ke arahnya dan hinggap di atas kepalanya, menganggap surainya yang acak-acakan sebagai sarang yang empuk untuk disinggahi. Mr. Puffin, burung puffin peliharaan sesosok perinsanan yang seharusnya tidak ada disini. Tapi mengapa burung aneh yang bisa bicara itu ada di sini?
"Aku datang untuk menjemputmu, Matt."
Mathias mengerjap bingung setelah beberapa saat kemudian sosok majikan dari burung yang hinggap di kepalanya akhirnya menunjukkan batang hidungnya. Pemuda bersurai keperakan dengan kemeja putih dan jas coklat, manik yang merupakan campuran lazuardi dan ametis tengah menatapnya lekat. Lengannya bersidekap di depan dadanya, menunggu Mathias untuk ikut pulang bersamanya.
"Emil? Setelah Berwald dan Tino kini giliranmu? Aku juga pasti akan pulang tanpa kau jemput sekalipun~"
Seruan setengah kesal yang mewarnai kalimat terakhir Mathias membuat Emil Steilsson, sang pemuda perinsanan Iceland, mengangkat sebelah alisnya. Ia berdecak kesal mendengar tanggapan sosok yang mengaku sebagai kakak sulung se-Skandinavia itu.
"Aku tidak perduli, tapi sekarang kau harus pulang bersamaku. No—Bror menunggumu."
Kembali Mathias menelan ludah. Apa pemuda itu sangat menunggu kepulangannya hingga mengutus Emil untuk menjemputnya begini? Malah ia jadi enggan pulang membayangkan akan semarah apa sang pemuda nanti.
"Pulang ke rumahnya?"
"Hálfviti[2]. Tentu saja pulang ke rumahmu sendiri."
"He~? Tapi katamu dia menungguku?"
"Pokoknya pulang. Ke rumahmu. Jangan banyak tanya."
Desahan enggan menemani Mathias saat ia berdiri dari bangkunya dan berjalan menghampiri Emil, masih dengan Mr. Puffin yang akhirnya terbang dan hinggap ke kepala majikannya. Mereka berdua pun berjalan meninggalkan taman dalam sunyi. Kesal dengan kesunyian yang sebenarnya tidak disukainya akhirnya Mathias angkat bicara.
"Apa kau pikir… dia masih marah?"
"Kau yang putuskan, Bror. Kau yang lebih tahu sifatnya bukan?"
Semua berawal dari ide Tino untuk membersihkan gudang sebelum malam Natal datang. Semua menyetujui selain Mathias dan Berwald yang sempat saling memandang sebelum akhirnya mengangguk setuju. Awalnya kedua pemuda itu menganggap bahwa semuanya akan baik-baik saja. Hanya membersihkan gudang, membereskan yang masih ingin disimpan dan membuang yang sudah tidak diperlukan. Namun mereka sadar, gudang yang mereka miliki sungguh berbeda jauh dari setiap gudang manusia biasa di seluruh dunia. Kita tengah membicarakan gudang personifikasi sebuah negara, tidak aneh jika hal-hal yang sarat akan sejarah negara tersebut ikut disimpan di dalam gudangnya. Setiap personifikasi di dunia sebenarnya paling enggan untuk membereskan gudang masing-masing. Namun mau bagaimana lagi, sebentar lagi malam Natal dan mereka tidak bisa terus-menerus membeli perlengkapan dekorasi baru setiap tahunnya akibat tidak mau sedikit pun menginjakkan kaki ke gudang.
Benar saja. Tujuan sebenarnya untuk mencari dekorasi lama yang masih bisa dipakai di gudang akhirnya teralihkan menjadi bersih-bersih gudang sepenuhnya. Mulai dari pakaian lama, senjata yang pernah digunakan dan sudah usang, hingga berbagai dokumen penting mereka bereskan dan ditata rapi dalam gudang masing-masing. Namun akhirnya yang paling sering dihindari tiba juga. Gudang bersama se-Skandinavia yang sering digunakan para personifikasi Nordik untuk menyimpan barang-barang usang mereka. Yang paling awal menyadari kejanggalan adalah Emil yang melihat wajah Mathias yang pucat. Sang personifikasi Iceland itu pun sempat mendengar Tino bertanya apa Berwald sudah tidak mabuk karena tadi malam perinsanan Swedia itu menghabiskan beberapa botol licorice sembari bermain game bersama Mathias serta Emil yang diseret paksa. Takut jika masih mabuk pemuda itu bisa saja melepaskan amarah yang tak terkontrol, pikir Emil.
Awalnya semuanya lancar. Beberapa kardus karton yang di lakban berisi barang-barang yang akan dibuang atau tidak akan digunakan lagi disusun rapi di luar gudang. Namun semakin dalam mereka mengeksplorasi gudang yang luas akhirnya masing-masing personifikasi tenggelam dalam memorinya sendiri-sendiri. Lukas memandangi sederetan pakaian Viking dan seperangkat alat berkemah di sudut timur. Berwald memandangi beberapa lukisan kuno yang menggambarkan setiap atasannya pada zaman dahulu di sudut belakang. Sedang Mathias memilih membersihkan kapak dan senjata perangnya pada waktu dulu agar tidak berkarat. Sedang Tino dan Emil tidak terlalu larut dalam barang peninggalan mereka dan memilih membantu membereskan gudang agar lebih cepat selesai.
Pemicu masalah sebenarnya pada saat Lukas memilih menanyai yang lain apakah ia lebih baik membuang sesuatu yang ia pegang apa tidak. Yang pertama ditunjukkan hanya lukisan atau potret wajah yang dengan mudah dijawab. Akhirnya merambat ke pakaian seperti seragam, zirah atau perlengkapan militer. Tino dan Emil memilih menjawab dengan kata 'terserah padamu', namun Berwald dan Mathias malah cukup dibuat bingung akibat tidak mau menyinggung perasaan yang lain. Karena sebenarnya banyak sekali barang peninggalan Lukas yang erat kaitannya dengan Berwald maupun Mathias.
Pertanyaan dan jawaban yang semakin membuat kaku suasana bersih-bersih itu pun memuncak hingga Lukas bertanya mengenai apa sebaiknya ia menyimpan dua buah jubah dengan coat of arms berbeda di kedua lengannya. Seperti sebelumnya, Tino dan Emil memilih abstain. Saat pertanyaan sampai pada Berwald dan Mathias mereka hanya bisa mengedikkan bahu dan ikut menjawab abstain. Keduanya belum menyadari emblem apa yang menempel pada jubah yang digenggam Lukas. Lukas sendiri berkeras bahwa harus ada yang disimpan atau dibuang karena tempatnya menyimpan ternyata sudah penuh, walau ia sendiri tidak tahu yang mana yang harus dibuang. Mathias mendesah dan mengeluh mengapa sejak tadi sang pemuda brunette itu terus-menerus bertanya pada yang lain. Sembari menggumam pelan ia menghampiri Lukas untuk melihat jubah apa itu, dan maniknya sempat membulat saat menyadari lambang yang ada pada kedua jubah itu.
Itu emblem unifikasi Denmark-Norway dan satunya lagi unifikasi Sweden-Norway. Mathias menelan ludah. Ia memalingkan wajahnya dan bilang sebaiknya ia simpan keduanya. Namun Lukas menyebutnya tidak bisa mengambil keputusan, sama saja seperti dirinya. Akhirnya Lukas menunjukkan jubahnya pada Berwald, dan giliran Berwald yang terkejut. Namun jawaban Berwald-lah yang semakin membuat Lukas terutama Mathias lebih terkejut lagi.
"Simpan saja yang di lengan kananmu."
Jawaban singkat dari Berwald sembari dirinya berlalu ke arah rak penyimpanannya sendiri. Mathias memandang apa yang ada di lengan kanan Lukas. Jubah dengan emblem unifikasinya dengan sang pemuda brunette. Ia menelan ludah.
"Bukankah sebaiknya kau juga menyimpan… yang di lengan kirimu? Keduanya sama pentingnya menurutku." Ungkap Mathias sembari memandang Lukas. Lukas sendiri balas memandang Mathias bingung, merasa ada yang aneh dengan Berwald. Sedang Berwald yang mendengar ucapan Mathias berbalik dan mengangkat sebelah alisnya.
"Bukankah kau lebih mengingat apa yang ada di lengan kananmu dibanding apa yang ada di lengan kirimu, Lukas?"
Lukas hanya bisa bergeming, memandangi kedua jubah di lengannya. Pertanyaan Berwald seakan membuatnya harus berpikir dalam-dalam sebelum memutuskan.
"Ke—keduanya sama pentingnya bagiku. Aku akan menyimpan keduanya sesuai ucapan Mathias."
"Tapi kau sendiri yang bilang bahwa harus ada yang disimpan dan harus ada yang dibuang. Maka dari itu aku berpendapat demikian."
Lukas kembali terdiam. Mathias yang awalnya menganggap pertanyaan dan jawaban yang ia dengar merupakan hal biasa akhirnya merasa terganggu. Ia tidak nyaman dengan nada bicara Berwald. Apa yang sebenarnya tadi menganggagu sang pemuda hingga ia menanggapi demikian?
"Hei, Sve~ sudahlah. Simpan saja dua-duanya, oke? Kita sudahi masalahnya dan kembali bekerja—"
"Bagaimana kalau aku membuang keduanya, agar lebih adil?"
Giliran ide Lukas yang diucapkan begitu saja membuat Mathias bingung dan menoleh ke arah sang pemuda. Namun akhirnya ia memalingkan wajahnya dan kembali menggosok kapak kesayangannya sembari mengedikkan bahu.
"Terserah kau saja…"
"Jawab yang jujur, Bror. Apa lebih baik aku membuang keduanya?"
Mathias terdiam. Sejujurnya ia tidak mau, namun ia tidak enak jika ia mengungkapkannya di depan Berwald. Itu sama saja ia setuju dengan ide pertama agar membuang emblem yang ada kaitannya dengan sang pemuda berkacamata.
"Bror?"
"Aku tetap pada pilihanku, menyimpan dua-duanya saja. Terserah kau mau membuangnya atau tidak."
"Dan aku memilih untuk membuang keduanya. Berarti kau keberatan."
"Tidak. Aku tidak keberatan. Aku bilang 'kan terserah kau saja."
Emil yang menyadari akan sesuatu yang semakin memburuk akhirnya memilih untuk menjauh. Tino hanya bisa melihat dari kejauhan. Ia ingin melerai ketiga saudaranya tapi bingung apa yang sebaiknya ia pilih. Karena nantinya pasti Lukas akan bertanya padanya juga.
"Sudah terlihat bukan? Bukannya lebih baik membuang apa yang ada di lengan kirimu? Kalian berdua seakan tidak bisa jujur untuk mengatakannya."
Pendapat Berwald yang tenang namun terdengar menusuk akhirnya cukup membuat Mathias naik pitam. Ia memang tidak jujur mengungkapkan bahwa ia tidak mau emblem yang berhubungan dengan dirinya dibuang oleh Lukas. Tapi justru ia memendamnya hanya karena tidak mau melukai perasaan Berwald.
"Ya, aku memang tidak jujur. Aku tidak mau Lukas membuang keduanya, dan aku juga tidak mau Lukas membuang 'milikmu'. Memangnya tidak boleh?"
Berwald mengangkat sebelah alisnya, cukup terganggu dengan ucapan Mathias.
"Boleh saja kau berpendapat demikian. Tapi yang memiliki barangnya Lukas. Lukas-lah yang memiliki keputusan untuk membuang atau menyimpan yang mana."
Akhirnya kedua pemuda itu menatap sang pemuda brunette dengan wajah menunggu jawaban. Lukas hanya menelan ludah pelan.
"Kenapa jadi ribut seperti ini? Aku 'kan hanya bertanya masalah sepele pada kalian?"
"Sepele?" ucap Mathias dan Berwald bersamaan, dan entah mengapa mereka berdua merasa terganggu mendapati mereka menyatakannnya secara bersamaan.
"Ya! Sepele bukan? Kenapa jadi seperti masalah besar? Kalian bukan anak kecil yang berebut sepotong eskrim."
"Kau juga bukan seorang anak kecil yang masih bingung memilih mainan apa."
Ucapan Berwald cukup membuat Lukas dan Mathias tersentak kaget. Mereka tidak menyangka sang pemuda berkacamata akan berakhir berpendapat seperti itu.
"Hei! Kenapa kau bicara seperti itu? Lukas berhak bertanya karena ia bingung. Ki—kita saja yang terlalu membesar-besarkannya." Ungkap Mathias sembari memalingkan wajah. Ia sadar ia memang terlalu membesar-besarkan hal ini. Lebih baik ia melangkah mundur sebelum berakhir buruk.
"Dan aku berhak berpendapat demikian. Berpendapat bahwa sebaiknya ia membuang yang mana. Ya, kau memang terlalu membesar-besarkan masalah ini."
"Memangnya kau tidak? Sebaiknya kita berhenti berdebat sebelum—"
"Kau yang lebih dulu mempermasalahkannya. Aku sendiri bebas Lukas akan membuang 'milikku' sekalipun. Aku tahu kau dan dia masih—"
"HENTIKAN."
Seruan keras diselingi petir menyambar kuat diluar. Seakan dewa Thor ikut marah bersama sang pemuda brunette. Emil menjatuhkan kemocengnya, Tino melangkah cepat ke arah sumber seruan, sedang Mathias dan Berwald hanya bisa saling pandang sebelum akhirnya memandang Lukas yang tersengal dengan wajah merah padam. Manik ametisnya sudah mulai berkaca-kaca sebelum akhirnya ia menjatuhkan kedua jubah di lengannya.
"Tosk[3]! Kalian dan ego kalian, semuanya sama saja!"
Sang pemuda perinsanan Norwegia itu pun berlari keluar gudang, tidak mengindahkan seruan Tino yang memanggilnya dan berniat menenangkannya. Mathias dan Berwald kembali saling pandang, amarah terpercik dalam manik masing-masing.
"Ini salahmu." Ungkap Berwald lebih dulu.
"Hah? Jadi begitu? Salahku? Kau tidak sadar siapa yang lebih sering membuatnya menangis!"
"Kau sendiri sering menyeretnya ke medan perang—"
"Kalian berdua, cukup!" seru Emil yang sudah tidak kuat lagi mendengar perseteruan kedua sosok yang dianggapnya kakak tersebut. Mathias hanya berdecak kesal dan melangkah keluar gudang, meninggalkan senjatanya yang belum selesai dipoles sepenuhnya.
"Ya, aku mengaku aku terlalu membesarkan semua ini. Aku keluar. Lebih baik aku mendinginkan otak dalam suhu minus daripada berada lama-lama disini."
Dengan begitu sang perinsanan Denmark melenggang keluar dengan omelan yang terus terlontar dari bibirnya. Emil memandang kedua mantan pelindungnya yang telah pergi, setelah akhirnya ia memutuskan kembali bersih-bersih. Tino menghampiri Berwald, yang ditolak Berwald dengan satu kali gelengan kepala lemah, membuat sang perinsanan Finlandia mundur, memilih kembali beres-beres dan berdiri tidak jauh dari sang Sverige.
Akhirnya hanya barang peninggalan Tino dan Emil yang beres, sedang yang lainnya belum rapi sepenuhnya bahkan terbengkalai seperti deretan lengkap senjata Mathias. Setelah usai semua memilih kembali ke rumah masing-masin,g terkecuali Lukas yang memilih menunggu di rumah Mathias. Tino yang khawatir menawari untuk menemaninya, namun Lukas membalasnya dengan gerakan lengan yang menunjukkan 'Tidak usah'.
"Benarkah? Kau tidak apa… disini sendiri?"
"Kau masih harus membagikan hadiah Natal besok malam. Aku tidak perlu ditemani. Pulanglah."
Dengan begitu gudang bersama itu pun kembali dikunci. Tino dan Emil membawa berbagai dekorasi atau barang lain yang mungkin berguna untuk pesta Natal bersama mereka nanti. Sayangnya Tino sangsi bahwa pesta Natal mereka malam ini bisa berjalan lancar.
Mathias menelan ludah. Ia baru sadar kebodohannya sendiri. Walau sebenarnya ia kesal kenapa bukan saat itu saja Si Sve bodoh menyadari kesalahannya, namun tetap saja ia juga kesal mengapa ia tidak mengalah saat itu. Memang benar perkataan Lukas. Ia dan egonya yang selalu membawa masalah. Kembali mendesah berat, akhirnya dengan langkah gontai Mathias melangkah ke arah rumahnya sendiri. Merogoh saku celananya, ia mendapati kunci rumahnya tersimpan disana. Jadi ia tidak bisa beralasan pada Emil bahwa ia tidak membawa kunci rumah.
Semakin kembali mengenang apa yang terjadi kemarin semakin membuat Mathias merasa bersalah pada Berwald dan Lukas, terutama Lukas. Ia sempat melihat mata berkaca-kaca sang pemuda. Ia tidak tahu lagi harus berkata apa. Jelas kali itu yang membuat sang Norge menangis ialah dirinya dan Berwald. Namun batinnya cukup sulit menerima kenyataan itu, terutama kembali mengenang ucapan Berwald saat itu.
"Kau sendiri sering menyeretnya ke medan perang—"
Bagai kaset yang diputar berulang kali, ingin sekali Mathias memukul kepalanya sendiri saat ini. Ia mengakuinya, namun egonya menghalanginya untuk merasa bersalah akan hal itu akhir-akhir ini. Padahal dulu setelah runtuhnya unifikasi Kalmar ia selalu menyesal akan tindakan-tindakannya akibat ego sang penguasa. Ironis.
"Yo, Matt."
Mathias mengangkat wajah kaget. Di halaman rumahnya, di dekat tembok pagar rumahnya berdiri seorang Berwald, kini dengan sekantung penuh licorice candy[4]yang dihiasi pita emas dan perak. Emil yang mengerti segera melangkah masuk ke dalam rumah Mathias setelah sebelumnya meminjam kunci dari sang pemilik rumah, meninggalkan kedua pemuda bersurai emas di halaman. Mathias mendesah berat dan mengedikkan kepalanya ke arah bangku di teras, mengajak Berwald duduk dan berbincang.
"Kukira kau bersama Tino?" Tanya Mathias membuka percakapan. Berwald menggeleng.
"Tino sudah mulai bekerja. Aku tidak cocok jadi Santa."
Keduanya terkekeh pelan. Jelas sekali, pemuda tanpa ekspresi itu menjadi Santa? Anak-anak lebih memilih tidak menjadi anak baik sebelum Natal daripada didatangi Santa semacam itu.
"Lalu kau memilih kemari?"
"Rasanya ada yang kurang tadi."
"Oh. Apa itu?"
"Soal perkataanku sebelum kau pergi kemarin sore."
"Ah…"
Persis dengan apa yang sebelumnya Mathias tengah pikirkan. Mathias menggeleng dan tertawa kecil.
"Tepat sasaran. Aku memang sedang memikirkannya."
"Jangan terlalu dimasukkan ke hati."
"Tapi aku berhak memikirkannya kan? Lagipula aku juga harus meminta maaf mengenai… perkataanku sebelum perkataanmu itu—"
"Aku tahu. Itu bukan salahmu."
"Dan itu juga bukan salahmu, Berwy…"
"Maksudku aku tahu itu diluar keinginanmu. Aku mengalaminya. Titah seorang atasan bagi orang-orang seperti kita… memang selalu menjadi buah simalakama."
"Ah, oh… Soal itu sebaiknya kita lupakan saja. Aku takut akhirnya kembali berujung ke perselisihan semacam kemarin…"
"Baiklah, jika itu maumu. Namun aku hanya berpendapat bukankah semuanya akan berakhir baik jika dulu kita sempat berbicara dua mata seperti sekarang?"
"Hahaha… kalau soal itu aku juga berpendapat hal yang serupa."
"Sayangnya rasa iri memang selalu menghalangi kesempatan yang ada."
"Eh?"
"Ya, kau pasti mengerti. Alasanku naik pitam kemarin. Masuklah. Kau tahu dia menunggumu sejak kemarin sore."
Mathias menelengkan kepalanya bingung. Cukup lama hingga akhirnya ia mengerti apa yang dimaksud sang pemuda. Rupanya begitu. Semuanya memang selalu berawal dari sana. Iri maupun dengki selalu berhasil menutupi akal sehat. Cukup lama hingga akhirnya ia mengerti apa yang dimaksud sang pemuda.
Ya, tidak bisa dipungkiri bahwa saat itu mengapa ia masih tetap menjalankan titah atasannya karena ia iri pada sang pemuda dan ingin memiliki wilayah kekuasaannya. Toh dulu yang dianggap terkuat bukan dirinya. Bodohnya ia tergiur dengan gelar itu dan terjerumus dalam jurang keserakahan. Memang mau bagaimanapun ia tetap seorang perinsanan. Menyerupai manusia, baik tingkah maupun laku. Itulah alasan mengapa kemarin sang Sverige terkesan sinis sedang dirinya sangat mudah naik pitam.
"Doakan aku, oke?" ucap Mathias was-was. Berwald hanya terkekeh.
"Kau belum pernah melihat Tino marah."
"Tidak, dan terima kasih, aku tidak mau melihatnya. Aku sudah tahu rumornya."
Mathias dengan gugup membuka pintu rumahnya yang dibiarkan tidak terkunci oleh Emil. Pintu berderit lemah pada engsel-engselnya, dan mereka berdua pun masuk, Berwald di belakang Mathias. Mathias menoleh mencari sosok yang dicarinya, dan mendapati sang pemuda brunette tengah menikmati kudapan sembari menonton televisi bersama Emil. Emil yang menyadari kedatangan mereka hanya menatap dan mengedik ringan ke arah Lukas yang masih menikmati kudapan sembari sesekali memindahkan kanal tv.
"Ini."
Berwald menyodorkan kantung kertas berisi licorice candy pada Mathias. Mathias mengangguk mengerti dan melangkah perlahan mendekati Lukas. Setelah akhirnya berhasil berdiri di sampingnya ia pun menelan ludah dan mulai angkat bicara.
"Lukas…?"
Sunyi. Hanya terdengar suara acara televisi yang tidak jelas apa itu.
"A—aku minta maaf… oke? A—aku memang bodoh jadi—"
"Apa itu? Di tanganmu?"
"Li—licorice candy?"
Lengan Lukas terangkat, menunggu Mathias menyerahkan kantung berisi permen itu ke genggamannya. Senyum tipis terukir di bibir sang pemuda brunette sebelum akhirnya ia berdiri dari sofa dan melangkah ke kamar Mathias. Mathias sendiri bingung dan mengikutinya.
"Lukas? Hei! Kau masih marah?"
Pintu tertutup di depan wajah Mathias, namun sebelum sempat Lukas menguncinya Mathias sudah berhasil masuk dan mengunci pintu kamarnya sebelum Lukas sempat menerjangnya untuk lari keluar. Mathias mengangkat lengannya, maksudnya memberikan isyarat perdamainan. Badannya masih menutupi pintu yang baru dikuncinya. Lukas yang tidak sempat menerjang Mathias hanya bisa menatap tajam pemuda yang lebih tinggi darinya itu.
Kini jarak mereka hanya satu jengkalan jari. Mathias sesekali mengerjap, menunggu Lukas angkat bicara atau bergerak dari posisinya yang masih memegang kenop pintu. Namun setelah akhirnya menyadari bahwa Lukas tetap bergeming dan takkan membuka mulut akhirnya Mathias mendesah dan menurunkan lengannya, mendekap lembut sang pemuda dalam pelukannya.
"Lepaskan, bodoh." Ucap sang perinsanan Norwegia yang tetap bergeming, namun Mathias semakin mengeratkan pelukannya. Tak ada tanggapan lagi dari sang pemuda.
"Masih marah...?"
"Menurutmu?"
"Tidak~"
"Itu harapanmu, bodoh. Lepaskan aku dan jauhkan lenganmu dari tubuhku."
"Hm... berarti kau masih marah." Ucap Mathias sembari mengangguk kecil. Ia menyandarkan kepalanya ke pundak sang pemuda, dan ia merasa pundak Lukas merileks saat dahinya menyentuh pundak sang pemuda.
"Kau sudah tahu mengapa aku marah?"
"Tentu. Aku juga sudah bicara dengan Berwald..."
"...dan Berwald berbicara padamu atas dorongan Tino."
"Oh? Kau tahu? Tapi tidak apa. Kami sudah bicara baik-baik, dua kali. Jadi setidaknya yang kedua tidak ada kesan terpaksa bukan?"
"Terserah padamu saja."
Kekehan riang terlontar dari bibir perinsanan Denmark sembari mengacak surai brunette pemuda di pelukannya.
"Hentikan mengacak rambutku, bodoh."
"He? Tapi aku menyukainya. Ah, kau tahu? Aku memikirkan banyak hal tadi saat... duduk di taman."
"Jadi kau yang bodoh telah menghilang sejak sore kemarin, baru pulang malam ini dan hanya menghabiskan waktu di taman?"
"Tidak juga~ aku main ke game center, mengelilingi kota dan singgah di beberapa tempat yang ingin aku kunjungi. Baru sejak tadi pagi sekitar jam 10 aku berakhir duduk di taman."
"Oh ya? Mengelilingi kota dan singgah di beberapa tempat seperti mengunjungi toilet umum di taman?"
"Bukan~ kau ini..."
"Lalu?"
"Uhm... Kastil Kalmar."
"Sejauh itu?"
Tatapan datar seakan menelusuri wajahnya, mencoba mencari tahu apa Mathias tengah berbohong atau tidak. Namun Matt hanya tersenyum tipis melihat ekspresi Lukas.
"Kau tidak kaget?"
"Untuk apa? Lumrah kau datang ke sana kalau kau menjadi turis Berwald."
Tetes keringat imajiner seakan menuruni pelipis Matt. Pemuda di pelukannya ini memang sering membuatnya gemas.
"Yah... terserah padamu. Kukira ekspresimu lebih... wow."
"Wow. Puas?"
"Sudahlah... lama-lama kau menghilangkan minatku untuk bicara."
"Jangan. Aku lebih senang kau yang cerewet."
"Begitu ya? Kau ini."
Rasa gemas akhirnya terpuaskan setelah Mathias berhasil mengangkat wajah Lukas dengan kedua lengannya, menangkupnya dan mempertemukan kedua bibir mereka ke dalam sebuah cumbuan yang hangat nan romantis. Berbeda dengan biasanya, kini Lukas menerima cumbuan sang pemuda, melingkarkan lengannya ke leher Mathias dan menyerahkan sepenuhnya berat tubuhnya pada sang pemuda. Mathias mempererat pelukannya sembari menahan tubuh Lukas, menurunkan lengannya ke arah panggulnya dan membawa sang pemuda dalam dekapannya.
"Mmh... Kau memang menyebalkan, Bror."
"Dan kau selalu menggemaskan, Kære[5]..."
"Heh. Tosk..."
Tawa kecil mengiringi Matt saat dirinya memutuskan memangku Lukas dan menidurkannya di atas kasurnya. Lukas tersenyum samar, menarik lengan Matt agar ikut naik ke atas kasur. Mereka menghabiskan waktu berdua sembari berbincang ringan, menunggu malam Natal tiba.
Cukup lama waktu berlalu, hingga akhirnya jam menunjukkan pukul 20.20. Lukas melirik ponselnya, dan mendapati panggilan tak terjawab dari Emil. Lukas tersenyum. Malam ini pasti berakhir dengan indah, karena Tuhan pasti akan mengabulkan permohonannya di malam Natal.
"Biarlah malam ini menjadi malam yang terbaik..." gumamnya sembari memejamkan mata.
"Hem...? Apa, Nor?"
"Tidak, bukan apa-apa. Ayo kita keluar. Sebentar lagi malam Natal."
"Ah... OH YA! Gawat... dekorasinya... Pesta di rumah Tino... Bagaimana ini?"
"Tenanglah, bodoh. Segera bangun dan rapikan bajumu."
Mathias hanya bisa mengerjap bingung walau ia mengikuti perintah Lukas dan berdiri di belakang pintu kamarnya. Lukas memberi isyarat untuk membuka pintunya, dan saat Matt membuka kunci pintu kamarnya tiga buah confetti segera menyerangnya dan memenuhi sekujur tubuhnya dengan pita dan serbuk berbagai warna. Sesaat Matt sempat berdiri terpaku sebelum akhirnya ia tertawa lepas menyadari bahwa selama kurang lebih dua jam setengah ia dan Lukas mengobrol di kamar saudaranya yang lain tengah menyusun pesta Natal di rumahnya. Berbagai dekorasi bertema Natal segera memenuhi setiap inchi rumahnya. Hiasan daun mistletoe, pohon Natal, tumpukan hadiah, kaus kaki di perapian yang menyala, serta lampu hias warna-warni menghiasi rumahnya yang sering terasa sepi.
"Kalian... mengadakan pesta di rumahku?"
Tanpa sadar matanya mulai berkaca-kaca. Sudah lama sekali sejak pesta Natal terakhir diadakan di rumahnya. Yang paling sering diadakan di rumahnya hanya pesta ulang tahunnya dan pesta minum-minum, dan kadang tidak semua anggota Nordik melengkapi pestanya. Namun kini pesta malam suci diadakan di rumahnya, plus keempat saudaranya ada di sampingnya, menemaninya melewati malam Natal yang takkan ia lupakan.
"Aku yang menyarankannya. Karena aku tahu dengan kebodohanmu kau akan pulang telat dan tidak akan bisa segera menyusul ke rumah Tino." Jelas Lukas. Manik Mathias mengerjap penuh semangat.
"Jadi... karena itu kalian semua ada di rumahku?"
"Ya. Untuk mempermudah menyelesaikan dekorasinya. Sebenarnya tadi dekorasinya sudah selesai, hanya tinggal dipasang. Untungnya kalian cukup lama di dalam kamar, jadi kami sempat memasang semua dekorasinya." Ungkap Emil sembari memandang dekorasi yang baru ia, Tino dan Berwald pasang. Tino mengangguk senang.
"Untungnya pekerjaanku selesai lebih awal. Jadi aku bisa segera kemari dan sedikit membantu memasang dekorasinya."
Matt tertawa puas. Ia tidak tahu harus berterima kasih seperti apa. Namun belum sempat ia angkat bicara Berwald sudah berkata lebih dulu.
"Anggap saja sebagai ungkapan maafku, aku sudah selesai memoles senjatamu di gudang jadi kau tidak perlu kesana lagi. Barang-barangmu pun sudah kurapikan, Lukas. Tidak ada yang kubuang." Ujarnya sembari tersenyum.
"Tak~ Oh, aku tidak tahu harus berterima kasih seperti apa, kalian semua membuatku terkesan bodoh..."
Lengan Mathias terulur, memeluk ketiga saudaranya yang tersenyum mendapati tingkah laku sang Danmark yang ekspresif. Air mata menuruni pipinya. Malam ini ia benar-benar bahagia. Ini Natal terindah yang bisa diingat memorinya.
"Tapi kau juga masih punya tugas, Bror. Bantu aku pasang hiasan malaikat dan bintang ini di atas pohon Natalnya."
Ucapan Lukas membuat Matt melepas pelukannya dan berpaling pada sang pemuda yang menunjukkan hiasan pohon Natal yang hampir mirip dengan yang dilihatnya di taman. Matt tersenyum lembut sembari melangkah maju dan memeluk sang pemuda, membelai pipinya sembari mengecup keningnya lembut.
"Apapun yang kau katakan, Kære..."
Matt memangku Lukas di pundaknya dan berjalan ke arah pohon Natal, membiarkan sang pemuda memasang hiasannya di puncak pohon. Ketiga sosok lainnya bertepuk tangan saat akhirnya hiasannya terpasang dengan rapi di puncak pohon, membiaskan cahaya ruangan menjadi kerlip emas dan perak. Matt tersenyum puas sembari menurunkan Lukas dari pundaknya.
"Merry Christmas, Lukas. Merry Christmas, semuanya~"
Kembali Matt memeluk saudara-saudaranya, kini dengan Lukas di tengah pelukannya. Emil hanya terkekeh pelan sembari memeluk kedua kakaknya, Lukas dan Mathias. Berwald dan Tino sempat saling berpandangan sebelum saling memeluk dan membalas pelukan Mathias. Lukas hanya tersenyum sembari melingkarkan lengannya ke pinggang sang pemuda dan menyandarkan kepalanya ke dada Matt.
"Merry Christmas, Mathias!" ucap Emil, Tino dan Berwald bersamaan.
"God jul[6], Bror..." ucap Lukas pelan sembari mengeratkan pelukannya pada sang pemuda.
"Glædelig jul, min kære engel[7]." Bisik Mathias lembut di dekat telinga sang Norge.
"Mari kita mulai pestanya~!"
Seruan Tino dibalas teriakan penuh semangat dari keempat Nordik yang segera memulai pesta Natal mereka. Berderet botol licorice[8] yang terbuka, kringel hangat serta kudapan lainnya yang siap saji, dan tidak lupa pemutar musik yang menyenandungkan berbagai mars Natal.
Malam itu rumah Mathias lebih ramai dari malam-malam sebelumnya. Masing-masing menikmati kebersamaan yang jarang mereka rasakan akhir-akhir ini. Akhirnya mereka duduk di atas sofa panjang di depan perapian, memandangi tarian api rubi yang lembut. Emil duduk di tengah-tengah. Di sisi kiri duduk Berwald dan Tino, sedang di sisi kanan duduk Mathias dan Lukas. Mereka saling melingkarkan lengan di pundak masing-masing, menikmati malam yang damai nan suci.
Inilah yang selalu mereka inginkan. Jauh dari peperangan serta perselisihan yang berusaha menjauhkan mereka. Mathias puas. Malam Natal ini akan semakin indah setiap berlalunya detik karena kini saudaranya ada di sisinya selalu, terutama sang malaikatnya yang khusus turun dari langit ketujuh untuk menemui dirinya, memberinya kebahagiaan tak tertara yang sulit untuk dilupakan.
Kamus mini yang mungkin membantu :
[1]: Emblem khusus nan unik dari suatu negara, kota, atau pasukan kemiliteran yang membedakan dari yang satu dan lainnya. Biasanya terdiri dari lambang perisai, gambar pendukung, crest dan motto yang dipasang untuk melindungi armor serta mengenali identitas pemakainya. Bisa juga dipasang di belakang jubah pada armor sehingga bisa juga disebut coat-armour.
[2]: Idiot dalam bahasa Islandia.
[3]: Tolol, atau idiot dalam bahasa Norwegia.
[4]: Kudapan manis yang diambil dari sari pati tumbuhan Glycyrrhiza glabra. Cukup terkenal di negara-negara Nordik. Sayangnya sari pati tumbuhan ini mengandung racun berbahaya bagi hati sehingga konsumsinya dibatasi. Sering diganti oleh red licorice yang dibuat dari strawberry, cherry, raspberry atau kayu manis sebagai pengganti bahan dasarnya sehingga lebih aman.
[5]: Dear dalam bahasa Denmark.
[6]: Merry Christmas dalam bahasa Norwegia.
[7]: Merry Christmas, my dear angel dalam bahasa Denmark.
[8]: Minuman keras yang terkenal di kalangan Nordik. Dibuat dari sari pati tumbuhan Glycyrrhiza glabra yang manis. Minuman ini berwarna hitam pekat dan taraf alkoholnya hampir mirip dengan bir.
