Hola! Ini chapter 4 nya!

Maafkan Vincy yang update nya lama. Vincy sedang liburan ke London dan lupa membawa laptop kesayangan Vincy. Akhirnya jadi terpaksa memakai laptop punya adik Vincy yang pelitnya setengah mati.

Disini ada flashback. Ada chara dari Hayate The Combat Butler yang muncul disini. Silahkan tebak n baca sendiri…

Disclaimer Kuroshitsuji © Yana Toboso

Hayate The Combat Butler © Kenjiro Hata

Main Character : Alois Trancy, Nagi Sanzenin, Ciel Phantomhive, Elizabeth Midford

Genre : Friendship, Romance

Rate : T (Teen)

Warning! : OOC, OC, alur pasaran, Typo bertebaran dimana-mana, full AloNagi, slight Someone P.O.V

Summary : Sesuai perjanjian, kau harus menginap di rumahku tanpa Hayate dan Maria| Akhir-akhir ini mengapa Ciel dan Lizzy terkesan menghindar kita, ya?| Tolong jaga Alois|Aku akan terus bersamamu, sampai kapanpun, Alois|


"Ojou-sama. Ini teh nya"

Nagi mengangguk dan mengucapkan terima kasih pada Hayate. Ia menyeruput teh earl grey nya dengan anggun. Di seberangnya ada Alois yang duduk berhadapan dengannya sambil menyeruput teh yang disiapkan Claude.

"Baiklah, sampai dimana kita tadi?" Alois memandang catur yang ada di atas meja di depan nya. Ia memindahkan Knight putihnya empat kotak dengan pola L ke kanan atas. Tepat di barisan pinggir daerah lawan. Sebuah seringai terpampang jelas di wajahnya. Ia yakin kalau ia akan menang melawan Nagi.

"Tch. Giliranku, Alois" Nagi membalasnya dengan memindahkan King hitamnya selangkah ke belakang. Tiga Pawn hitam berjaga di depannya. Yang satu ada di dua kotak di depan King, yang satunya di kotak di sisi kanan atas King, dan yang satunya lagi di sisi kiri atas King.

"Ultimate defense." Gadis tadi mengangguk mantap. Alois tersenyum. Sebuah senyuman keren yang sering dia keluarkan kalau ia berhadapan dengan fans nya. "Nggak ada ultimate defense dalam catur, Nagi" katanya, ia memajukan Rook putihnya sampe mentok ke ujung area lawan. "Skak matt."

Nagi melotot melihat papan catur tersebut. "Tunggu dulu!" dia menggebrak meja. Untung saja itu magnetic-chess, jadi tidak gampang berantakan karena getaran kecil.

"S-Sebenernya daripada mundurin King, aku mau majuin Pawn yang i-" kalimatnya terputus karena tangan Alois menahan lembut tangannya yang mau mengatur ulang arena catur selang beberapa detik sebelumnya.

"Tidak bisa, Nagi" Tegur laki-laki light blonde tersebut sambil senyum. "Catur itu sama aja dengan medan perang. Siapa yang lengah, dia yang rugi. Kalau kamu lengah, itu salahmu sendiri…"

"Ughh…"

Mau tidak mau, gadis tadi akhirnya kembali duduk. Setelah sebelumnya menarik kembali tangannya yang tadi dipegang sama Alois dengan kesal. Dia lalu kembali menatap papan caturnya dan memegang puncak mahkota Kingnya sambil berpikir. Setetes keringat dingin mengalir dari keningnya hingga ke dagu.

Alois yang masih senyum, menopangkan pipi kanannya di atas telapak tangan yang sikunya bertumpu dengan meja. "Itu bener-bener udah skak matt lho. King-mu udah terkepung."

"Diam!"

"Ayolah, Nagi…" Alois memandang papan catur itu sambil menyeringai. "Kalau kamu taruh King-mu selangkah ke depan, Knight-ku akan memakannya. Kalau selangkah ke kanan atau kiri, Rook-ku yang akan memakannya. Satu-satunya cara untuk menghindar adalah jika Pawn kirimu bisa mundur dan berdiri di sisi King. Tapi, itu mustahil, karena Pawn hanya bisa melangkah maju dan tidak boleh mundur."

"Arrghhh! Iya! Iya!" Nagi melempar King-nya ke arah wajah Alois, namun secara refleks ditangkap oleh Alois dengan mudahnya. "Aku kalah! Puas?"

"Belum." Alois menatap Nagi dengan seringai yang masih ada di wajahnya. "Sesuai perjanjian, kau harus menginap di rumahku tanpa Hayate dan Maria."

Nagi berdecih. Ia membuang muka. Mata hijaunya menatap Maria ynag sedang membersihkan salah satu jendela ruang utama di mansion nya. Lalu ia menatap Hayate dengan memelas.

"Hayate…nanti diam-diam kamu ke rumah Alois nanti malam ya, aku takut tidur sendirian."

Hayate menggeleng lemah. "Tidak bisa, Ojou-sama." Hayate memandang nona nya sambil tersenyum. "Saya harus berangkat ke Jepang untuk mengurus mansion anda disana."

Nagi menghela napas. Ia baru saja mendengar berita kekacauan yang terjadi di mansion yang ada di Jepang. Mansion yang merupakan miliknya atas nama dia sendiri yang diberikan orangtuanya ketika ia genap berumur 12 tahun.

"Baiklah! Baiklah! Aku akan menginap di rumahmu. Kapan?" tanya Nagi dengan nada yang sama sekali tidak ikhlas.

"Sekarang. Nanti sore kita berangkat ke rumahku. Tapi sebelumnya aku harus bilang ke orangtua-"

"Wah, kalian sedang main catur ya?"

Belum sempat Alois selesai bicara. Mereka berlima dikejutkan oleh suara lembut khas wanita keibuan yang berdiri di dekat mereka.

"Okaa-sama!" Nagi berseru senang. Ia menghampiri Ibu nya dan memeluknya erat. "Sejak kapan Okaa-sama kembali kesini? Otou-sama mana? Dan mana oleh-olehku dari Paris?"

Wanita yang bernama lengkap Yukariko Sanzenin itu terkekeh. Ia mengelus rambut putri tunggalnya dengan lembut penuh kasih sayang. "Sejak tadi, Nagi-chan. Otou-sama masih ada tugas di Paris. Oh ya, siapa laki-laki yang tadi duduk berhadapan denganmu? Pacarmu bukan?" tanya Yukariko dengan nada sedikit menggoda.

"Bu-bukan!" Nagi gelagapan. Alois dan Hayate tertawa kecil. "Dia sahabatku di sekolah"

"Salam kenal Ny. Sanzenin. Saya Alois Trancy, dan ini butler saya, Claude Faustus" Alois membungkuk sopan, diikuti Claude di belakangnya.

"Saya Yukariko Sanzenin, salam kenal kembali, tuan Trancy. Cukup panggil saya Auntie" kata Yukariko. Dari pandangannya, ia menganggap Alois adalah anak yang sopan.

"Auntie cukup memanggil saya Alois. Saya menjadi canggung bila Auntie memanggil saya seperti itu" kata Alois.

"Hahaha…kau benar-benar anak yang sopan, Alois. Jadi bagaimana, tadi saya sempat mendengar keributan kecil disini. Ada apa sebenarnya?" tanya Yukariko dengan nada lembut.

"Tadi saya dan Nagi sedang bermain catur. Karena Nagi kalah, Nagi harus menjalankan penjanjian yang sudah disepakati bersama. Yaitu menginap di rumahku tanpa pelayan nya" jawab Alois.

"Okaa-sama. Nagi tidak mau. Nagi mau ikut ke Jepang dengan Hayate. Kata Maria ada kekacauan di mansion Nagi" rengek Nagi. Ia menarik-narik dress panjang Ibu nya sambil memasangkan wajah memelas.

"Tidak bisa, Nagi sayang. Perjanjian harus ditepati. Itu ajaran yang sudah Okaa-sama dan Otou-sama berikan padamu. Lagipula ada Hayate yang bisa mengatasinya" Ujar Yukariko sedikit tegas, namun dengan nada lembut.

Nagi cemberut. Ia menatap kesal pada semua orang di sekelilingnya. Lalu ia kabur dari ruang utama dengan kaki dihentak-hentakkan tanda kesal.

"Hahahaha…" Tak ayal tawa Alois keluar. Ia merasa perutnya tergelitik melihat Nagi yang memasang wajah cemberut dan kabur sambil menghentak-hentakan kaki kecilnya. Namun tawanya berhenti melihat disekeliling nya menatapnya dengan pandangan aneh.

"Maaf. Sepertinya saya kelepasan. Tindakan Nagi sangat lucu di mataku" kata Alois.

"Tidak apa, Alois. Maafkan Nagi yang sudah berlaku tidak sopan" kata Yukariko sambil duduk di kursi yang ditempati Nagi sebelumnya. Secangkir teh telah disiapkan untuk Nyonya Sanzenin oleh Hayate

"Tidak apa, Auntie. Saya sudah terbiasa dengan sikapnya" ujar Alois.


Kini Alois, Nagi, dan Claude berada di depan mansion keluarga Sanzenin. Claude tampak menaruh koper Nagi di atas kereta kuda dibantu dengan Hayate.

"Nagi-chan. Jangan merepotkan Alois disana ya" pesan Yukariko.

"Ojou-sama, saya sudah menaruh banyak manga dan Ipod agar anda tidak kesepian nanti malam" kata Hayate. Nagi mengangguk lalu masuk kereta kuda.

"Nanti ada Hannah yang akan mengurus keperluan Nagi disana. Kujamin dia akan baik-baik saja di rumahku." Kata Alois pada Yukariko. Lalu menyusul Nagi memasuki kereta kuda yang siap berangkat itu.

'CTAAR!'

Kereta kuda pun berjalan. Nagi melambaikan tangan ke arah keluarganya dari kaca jendela. Setelah cukup jauh dari mansion nya, Nagi menghela napas lalu bersandar di kursi sambil menatap ke luar jendela.

"Oh ya Alois" Nagi duduk dengan tegap sambil menatap Alois. "Akhir-akhir ini mengapa Ciel dan Lizzy terkesan menghindar kita, ya?"

Alois terdiam, ia menaikan bahunya tanda tidak tahu. Memang benar, sejak insiden kecelakaan itu, Ciel dan Elizabeth terlihat lebih sering bersama. Sudah 1 minggu ini Alois dan Nagi tidak saling sapa pada Ciel maupun Elizabeth. Dan lusa kemarin mereka berdua baru mendengar berita kalau Ciel dan Elizabeth sedang pergi ke Paris untuk urusan keluarga. Dan itu menyebabkan Nagi terus bersama Alois.

"Benar juga. Tapi karena itu kita jadi terus bersama kan…" kata Alois dengan nada menggoda.

"Diam kau, Alois. Aku hanya rindu pada mereka berdua" kata Nagi dengan wajah sendu, ia kembali menatap ke arah luar jendela.

Alois menghela napas. Ia memutuskan untuk mengikuti Nagi, menatap keluar jendela. Keheningan tercipta diantara mereka, disertai Nagi yang terus merindukan kedua teman nya yang hilang entah kemana.


'KRIEEET…'

Claude membuka pintu utama Manor House Keluarga Trancy. Alois memasuki rumahnya dalam diam. Diikuti Nagi disampingnya yang juga diam.

"Aloiiiiiis!"

Keheningan pun terpecah seketika. Seorang gadis berambut blonde dengan gaun hitam dengan renda ungu dan memakai sebuah pita besar berwarna hitam yang terpasang di bagian belakang rambutnya berlari ke arah Alois. Alois membelalakan matanya.

"Huaaa!"

'BRUK!' Kini badan Alois dipeluk erat oleh gadis itu.

"Kyaaa! Aku kangen padamu, Brother!"

"Le-lepaskan aku!"

Gadis itu terus memeluk Alois tanpa memperdulikan protes laki-laki yang dipeluknya. Nagi sweatdrop memandang kedua insan yang tengah 'berpelukan ria' di sampingnya. Bukan, lebih tepatnya gadis itu yang tengah memeluk Alois.

Dengan susah payah, akhirnya Alois melepaskan pelukan dari gadis tersebut. Ia menatap tajam ke arah gadis tersebut yang cemberut kepadanya.

"Kau bisa membunuhku dengan memelukku seperti itu." Kata Alois dengan nada yang dingin.

Namun gadis itu sama sekali tidak tersinggung. Ia malah merangkul Alois dengan erat. "Ayolah, kau tidak merindukan kakak kesayanganmu ini, Alois~"

'Kakak? Alois punya kakak?' batin Nagi. Ia memerhatikan sosok 'kakak' Alois yang merangkul Alois. Mata hijaunya terbelalak seketika.

"A-Athena?"

Gadis yang dipanggil Athena tadi menoleh ke arah Nagi. Mata saffron milik gadis itu juga ikut terbelalak.

"Na-Nagi?"

Kedua gadis itu saling berpandangan sejenak. Namun sedetik kemudian, mereka langsung saling berpelukan.

"Kyaaa! Aku kangen padamu, Nagi!" jerit Athena.

Alois memandang kedua garis itu dengan bingung. "Kalian…saling kenal?" tanya Alois dengan ragu-ragu.

Kali ini Nagi yang mengangguk. Ia memandang Alois dan Athena bergantian. "Tadi barusan Athena memanggil Alois dengan sebutan 'brother'. Apa kalian…kakak beradik?"

Alois dan Athena saling berpandangan sejenak. Lalu sesaat kemudian Athena mengangguk. "Ya, kami kakak beradik, Nagi."

Nagi melotot. Ia menatap tak percaya pada kedua insan yang di depannya. Meskipun mereka sama-sama meiliki rambut blonde, tapi Alois dan Athena mempunyai wajah yang sama sekali tidak mirip. Ia akui itu. Namun mengapa Alois dan Athena bisa kakak beradik?

"Ekhem, Nagi. Sepertinya kau bingung mengapa kami berdua bisa kakak beradik" Athena berdehem sejenak. "Aku dan Alois kakak beradik…yang tidak sedarah"

Nagi mengerutkan keningnya karena semakin bingung. Athena menatap Alois lekat-lekat, dan langsung direspon Alois dengan sebuah anggukan.

"Begini, Nagi…"


-Flashback- Athena P.O.V

"Ka-Kakak… A-aku kedinginan"

Aku menghela napas. Aku semakin mengeratkan pelukanku kepada Luca, teman ku di panti asuhan yang sudah kuanggap sebagai adikku sendiri.

Aku melepaskan jaket lusuh hitam yang kukenakan, kukenakan jaket tersebut di badan Luca. Kini aku hanya mengenakan kaus putih berlengan panjang berwarna putih yang selaras dengan salju di kota London ini dan celana pendek hitam lusuh dan tipis. Aku semakin mempererat pelukanku pada Luca. Aku benar-benar kedinginan sekarang.

Aku tahu kabur dari panti asuhan merupakan ide gila. Aku dan Luca sudah tidak tahan dengan perlakuan ibu panti yang selalu kasar kepadaku dan Luca. Apalagi Luca yang selalu disiksa terus oleh beliau. Akhirnya aku memutuskan untuk kabur dari panti bersama Luca.

Tapi aku kabur disaat yang tidak tepat. London sedang dilanda musim dingin dengan suhu yang sangat dingin sekali. Aku dan Luca tidak tahu harus apa. Akhirnya aku dan Luca memutuskan untuk berteduh di pinggiran bawah jembatan besar sungai Thames.

"Sssh… Tenanglah, Luca. Kakak disini menghangatkanmu" Aku semakin mengeratkan pelukanku pada Luca. Kini yang menjadi prioritas ku adalah Luca. Aku tidak memperdulikan tubuhku sendiri, asal Luca bisa hangat, aku rela menghangatkannya walau aku bisa mati kedinginan.

Luca mengangguk. Ia meringkuk di badanku. Aku tersenyum lembut. Tangan kananku mengelus lembut rambut Luca yang berambut campuran orange-red ini.

Namun tiba-tiba aku merasa pusing. Aku sudah terlalu kedinginan dan sudah tak kuat lagi. Pandanganku mulai kabur, dan aku tak sadarkan diri setelah itu. Sayup-sayup aku mendengar suara cekitan kereta kuda yang berhenti. Aku merasa seseorang menggendongku. Namun mataku berat sekali untuk terbuka. Akhirnya aku pasrah pada keadaanku.


Perlahan aku membuka mataku. Susah payah aku membuka kedua mataku yang terasa berat. Pandanganku yang pertama kali aku lihat adalah langit-langit sebuah ruangan dan terpasang sebuah lampu gantung yang sangat besar dan mewah.

Aku tersentak. Dengan rasa panik aku bangkit dari tidurku. Aku mengedarkan pandanganku ke sekeliling dengan mata yang terbelalak dan mulut yang menganga.

Kini aku berada di sebuah kamar yang sangat mewah. Dengan dinding yang dicat berwarna cream mulus. Ada sebuah lemari besar berwarna coklat tua dan meja rias berwarna putih. Dan Aku merasa aku tengah tertidur di sebuah kasur yang sangat empuk. Benar saja, aku tertidur di sebuah ranjang berukuran king-size berseprai putih gading yang sangat bersih dengan selimut tebal berwarna putih dan tiang-tiang ranjang berwarna coklat.

Aku kembali menyadari kalau aku tidak lagi memakai kaus lengan panjang dan celana pendek ku lagi. Namun aku memakai gaun tidur berwarna putih yang sangat nyaman. Aku kembali mengedarkan pandanganku ke sekeliling kamar sambil berdecak kagum.

'TOK-TOK-TOK!'

Aku tersentak. Dengan cepat aku kembali menyelinap di bawah selimut. Aku dapat mendengar suara bunyi pintu kamar yang terbuka.

"Lady Athena. Waktunya anda makan malam"

Aku mengerutkan kening. 'Lady? Dia memanggilku Lady?' batinku bingung.

Aku menyibak selimut. Dan aku melihat ada seorang wanita berambut pale lavender dengan mata indigo yang memakai seragam maid sedang tersenyum lembut padaku.

"S-siapa kamu? Di-dimana aku?" tanyaku bertubi-tubi dengan nada takut.

"Tenang, Lady Athena. Saya tidak akan menyakiti Anda. Saya Hannah Anafeloz, maid Keluarga Trancy. Dan sekarang Anda berada di Manor House Keluarga Trancy" jelas wanita tersebut.

Aku mengerutkan kening. "Ke-Keluarga Trancy?" kataku bingung.

Luca.

Aku tersentak. "Luca? Dimana Luca?" tanyaku dengan panik dan setengah berteriak.

"Tuan Luca sedang bersama Tuan dan Nyonya Besar di ruang makan." kata maid itu. "Lady, sekarang Anda ganti baju dulu" lanjutnya sambil membuka pintu lemari.

Aku terbelalak melihat isi lemari besar tersebut. Banyak sekali gaun-gaun yang indah dan anggun tergantung di lemari. Mulutku sampai dibuat menganga hanya karena melihat berbagai gaun mewah yang baru pertama kali aku lihat itu. Ia mengambil beberapa gaun dan menaruhnya di atas ranjang.

"Nah Nona silahkan pilih gaun Anda" kata Hannah.

Aku kembali mengamati gaun-gaun yang ditaruh di ranjang yang sedang aku duduki. Gaun yang ditaruh sangat indah dan beragam warna serta model. Pandanganku menatap gaun hitam dengan renda ungu yang sangat indah. Segera aku menunjuk gaun tersebut karena menarik perhatianku.

Hannah mengangguk dan membantuku beranjak dari kasur. Ia mengambil dalaman gaun yang berwarna putih. Dari dalam lemari. Lalu ia memakaikan dalaman gaun tersebut.

"Akk!" Aku menjerit menahan sakit ketika tali dalaman gaun tersebut ditarik oleh Hannah. Dan tak lama kemudian Hannah mulai membantuku memakai gaun hitam tersebut.

Kini aku bercermin di sebuah cermin besar di samping lemari. Benarkah ini aku? Aku seakan tak percaya dengan penampilanku. Hannah mulai meng-roll rambutku di bagian depan dan memasangkan pita besar di bagian belakang kepalaku.

"Silahkan, Nona" kata Hannah. Dan tiba-tiba pintu kamar kembali dibuka. Dan terlihat sosok wanita cantik berambut light blonde mengenakan gaun biru muda dengan renda putih.

"Hannah, apa Athena suda-" ucapan wanita itu terputus saat melihatku yang memandang beliau.

"Athena…syukurlah" wanita tersebut memeluku. Aku semakin tidak mengerti. Mengapa aku dipanggil Lady, dan mengapa wanita ini memelukku dan seperti nya beliau lega melihatku?

"Nah, Athena. Ayo ikut Mommy ke ruang makan. Daddy, Alois, dan Luca sudah menunggumu disana." kata wanita tersebut dengan nada lembut.

'Mommy?' tanyaku dalam hati. Namun aku mengangguk dan mengikuti beliau yang berjalan dari belakang. Aku merasa hatiku menjadi hangat melihat tatapannya. Tatapan khas seorang ibu yang lembut dan pertama kali aku melihatnya.

Dan kini aku dan wanita di depanku berada di sebuah ruang makan yang sangat mewah. Aku bisa melihat ada seorang pria bertubuh besar berambut blonde duduk di kursi bagian ujung meja makan. Lalu ada seorang anak laki-laki yang terlihat lebih muda dariku berambut light blonde dan bermata light blue yang memiliki wajah yang mirip dengan wanita di depanku. Lalu mataku menangkap anak berambut orange-red yang sangat ku kenal duduk disamping pria tadi.

"Luca!" aku memanggilnya. Luca menoleh ke arahku. Kulihat dia tersenyum lebar melihatku.

"Kakak!" Luca langsung beranjak dari kursi dan memelukku. Pria yang duduk itu terkekeh pelan. Sedangkan wanita dan laki-laki light blonde hanya tersenyum.

"Kakak sudah sadar? Kau tahu? Semua yang disini mengkhawatirkan Kakak. Kakak tidak sadarkan diri selama 3 hari" ujar Luca polos.

Aku tersenyum. Lalu aku melihat pria dan anak laki-laki light blonde tadi menghampiriku sambil tersenyum.

"Nah ayo makan. Kami sudah menunggumu." Kata pria besar itu. Aku mengangguk dan duduk di kursi sebelah Luca. Yang lainnya duduk di kursi yang sepertinya sudah ditetapkan sebelumnya.

Hidangan mewah pun disajikan oleh tiga pemuda berpakaian pelayan yang wajahnya mirip sekali. Aku menduga kalau ketiga pelayan itu triplets. Karena wajah dan postur tubuh mereka mirip sekali. Kami semua makan dengan diam. Hanya sebuah dentingan garpu dan piring yang beradu pelan memenuhi ruangan ini.

"Nah, Athena. Bagaimana keadaanmu saat ini?" tanya pria bertubuh besar itu sehabis makan.

"Ng, baik" jawabku berusaha untuk sopan. Aku merasa pernah melihat wajahnya di koran dan televisi saat aku masih di panti asuhan.

"Luca sudah cerita padaku dan istriku tentang mu. Kau berasal dari Panti Asuhan St. Maria dan tinggal disana sejak kau masih bayi." Kata pria itu. Ia berdehem sejenak.

"Untuk itu, aku dan istriku memutuskan untuk mengangkatmu dan Luca sebagai anak kami."

Aku terbelalak. Aku menatap tak percaya pada pria dan wanita yang duduk berdekatan dengaku dengan bergantian. Namun mereka berdua hanya tersenyum.

"Aku Aland Trancy, Kepala Keluarga Trancy. Mulai sekarang kau adalah putriku. Panggil saja aku Daddy" kata pria itu. "Dan ini istriku, Michelle Trancy yang bisa kau panggil Mommy."

"Namamu sekarang adalah Athena Trancy. Lady Athena Trancy, putri sulung dari Keluarga Trancy" lanjut pria itu yang membuatku semakin tak percaya.

"Kau adalah putri sulung sekarang. Lalu dilanjut dengan putraku sekaligus adikmu, Alois Trancy." Lanjut pria itu lagi. "Dan Luca Trancy sebagai putra bungsu." Tambah beliau.

Aku mengedipkan mataku, berusaha memastikan bahwa ini bukan mimpi. Aku merasa…aku sekarang merasa telah mempunyai keluarga. Impian yang selama ini ingin aku gapai bersama Luca. Tak ayal, air mata menetes dari mata saffron ku.

"Kakak…mengapa kakak menangis? Kakak sedih ya?" tanya Luca polos.

Aku menggeleng. "Tidak, Luca" aku menatapnya lembut. "Aku menangis terharu. Karena…aku merasa…kita memiliki sebuah keluarga…"

Luca tersenyum. Lalu anak laki-laki yang bernama Alois itu beranjak dari kursi dan mendekat ke arahku.

"Jangan menangis terus. Wajahmu jadi jelek, Kakak" bisik Alois namun kupastikan pria dan wanita itu mendengarnya. Aku mendelik ke arahnya. Dan Alois hanya tersenyum jahil sambil menjulurkan lidahnya tanda meledek.

"Ugh, Alois" Aku cemberut dan mencubit punggung tangan nya. Ia mengaduh pelan. Dan terdengar suara tawa hangat dan bahagia memenuhi ruangan ini.

'Terima kasih…Tuhan…'


"Ayo kakak! Tangkap kami!"

"Weee… Kau tidak akan bisa menangkapku!"

Aku menggeram kesal melihat mereka berdua berlari menjauhku. Yap, Alois dan Luca. Kedua adikku saat ini.

"Kalian iniii!" emosiku mulai meluap. Dengan kecepatan luar biasa, aku mengejar mereka dan berhasil menarik kerah belakang baju mereka.

"Nah, kalian. Mau apa sekarang, hah?" tanyaku sedikit galak.

"Huaaa…Ampuuun!" kedua adikku mulai memohon sambil memasang wajah memelas mereka. Aku menghela napas dan melepas tanganku pada kerah mereka.

"Kalian ini. Sudah tahu kalau taman sedang becek, kalian masih saja berlarian. Nanti baju kalian kotor nanti!" omelku dengan tegas.

"I-iya, kak. Aku janji tidak bakal ngulangi itu lagi" kata Luca.

"Huh, kan bajunya tinggal ganti dan dicuci sama Hannah." kata Alois dengan nada ketus.

'BLETAK!'

"Jangan membebankan pekerjaan orang, Alois!" kataku seraya menjitak kepala pirangnya. Ia mengaduh dan memegang kepalanya yang habis kujitak.

Tak terasa sudah 3 tahun aku dan Luca tinggal di kediaman Trancy ini. Aku dan Luca benar-benar diperlakukan seperti anak kandung oleh Daddy dan Mommy. Namun itu tidak membuatku jadi haus akan kepuasan. Aku berusaha tetap menjadi diriku sendiri mengingat diriku pernah tinggal di panti asuhan. Aku tidak mau diriku menjadi anak yang manja dan selalu mementingkan harta kekayaan dibanding kasih sayang yang dilimpahkan untuku dan Luca.

Alois terpaut tiga tahun lebih muda dariku. Sedangkan Luca terpaut dua tahun lebih muda dari Alois. Aku dan mereka berdua sering bermain bersama. Tapi tak jarang Alois dan Luca sering menjahiliku dengan berbagai macam cara dari Alois sendiri.

"Kakak! Ada kecoak di gaun kakak!" seru Alois. Aku menjerit, dan mencari-cari kecoak tersebut dan hendak mengusirnya dari gaunku.

"Tapi tidak ada!" lanjut Alois dengan nada mengejek. Aku menatapnya geram. Kukepalkan kedua tanganku erat, hendak meninjunya.

"Ughhh! Aloiissss!" aku menggeram marah. Alois langsung berlari menjauhiku. Aku mengejarnya dengan kecepatan lariku yang bisa dilihat sangat luar biasa. Yap, aku pernah memenangkan lomba marathon se-Ibukota London. Bahkan Ratu Elizabeth II pernah memberikan ucapan selamat untuku. Ah, senangnya…

"Tuan Muda, Nona Muda. Waktunya makan siang"

Suara lembut itu menghentikanku mengejar Alois. Aku menoleh ke arah Hannah, Claude, dan Canterbury yang menghentikanku mengejar Alois. Aku mengangguk dan berlari ke arah Hannah.

Tapi berlari dengan gaun seperti itu…

'BRUK!' Aku sukses terjatuh di kubangan air dengan tidak elitnya.

"Nona Muda!" Hannah dan Claude, butler keluarga Trancy langsung membantuku berdiri. Cantebury dan Luca sudah masuk ke dalam duluan. Sedangkan Alois mulai tertawa mengejek kepadaku.

"Hueee… Kakak jadi tambah cantik terkena kubangan air itu! Hahahaha…"

"Tch!" Aku berusaha bangkit. Huh, padahal ini gaun kesayanganku. Aku pun berdiri dengan dibantu Hannah dan Claude. Aku melemparkan tatapan menyelidik pada Alois yang asyik menertawaiku.

"Grrr…Alois! Awas kau!" geramku lalu mengikuti Hannah masuk ke dalam. Sedangkan Claude berjalan ke arah Alois untuk mengajaknya ke dalam.

Di rumah. Kami bertiga punya pelayan pribadi masing-masing. Hannah, maid Keluarga Trancy sekaligus pelayan pribadiku. Claude, butler Keluarga Trancy sekaligus pelayan pribadi Alois. Dan Canterbury, pengurus rumah sekaligus pelayan pribadi Luca.

Kami semua tahu kalau semua pelayan disini adalah iblis. Itu menjadi rahasia sendiri bagi Keluarga Trancy. Namun aku pernah dengar kalau ada keluarga yang mempergunakan iblis sebagai butler keluarga mereka. Tapi aku tidak ingat nama keluarga itu.

"Uph…Hoeek! Hoeek!"

Aku tersentak saat mendengar suara itu. Pendengaranku yang tajam dapat menangkap suara itu. Dengan sigap aku berlari ke ruang makan, tanpa memperdulikan panggilan Hannah bahwa aku akan terjatuh lagi saat berlarian menggunakan gaun.

Sesampai di ruang makan, aku terbelalak. Aku melihat Luca sedang memuntahkan darahnya di plastik dibantu dengan Canterbury.

"Luca!" jeritku. Aku menghampirinya dan merengkuhnya. Alois dan Claude yang melihat kejadian itu juga tersentak kaget.

"Claude! Panggil ambulans!" perintah Alois cepat. Claude mengangguk dan mulai menelpon ambulans.

Kumohon…Tuhan…


Aku diam terpaku menatapi sebuah pemakaman. Pandangan mataku kosong. Sekujur tubuhku seakan-akan kaku. Aku seakan-akan tidak punya semangat hidup sekarang.

Luca…meninggal.

Aku dan Alois terkejut mengetahui Luca mempunyai penyakit leukemia. Dan saat aku bertanya pada Canterbury, Luca memang sudah muntah darah sejak 3 bulan yang lalu. Aku semakin terkejut mendengarnya, karena selama ini Luca tidak pernah bilang padaku atau Alois. Apalagi Canterbury bilang kalau Luca sempat mengancamnya untuk tidak memberitahu siapa-siapa tentang penyakitnya ini.

Aku menatap kosong pada nisan yang baru itu. Tertulis nama Luca dengan huruf latin yang membuatku semakin terpuruk. Daddy, Mommy, dan Alois terus berusaha menghiburku. Bahkan Alois kini memeluk diriku yang sudah tidak kuat lagi. Air mataku sudah terkuras habis.

Tuhan…aku berharap agar semua ini hanya mimpi…

Namun percuma saja aku berharap. Luca memang sudah meninggal. Tubuhnya yang terbujur kaku kini berada di peti yang sudah dikubur dalam tanah. Aku tidak bisa melihat senyum hangatnya, sifat riang dan cerianya, dan sifat jail nya ketika kami bermain bersama.

Alois mengajakku pulang ke rumah agar aku tidak semakin terpuruk lagi. Aku mengangguk dan dengan dibantu Hannah, aku pulang ke rumah dengan hati yang hampa.


"Apa? Ditunangkan?"

Aku terkejut mendengar berita dari Daddy yang mendadak. Sudah dua bulan sejak kematian Luca, kedua orangtuaku selalu berpergian tugas ke luar negeri. Di mansion aku hanya bisa bermain dengan Alois. Dan jujur saja, aku menjadi lebih baik berkat Alois yang selalu menghiburku.

Dan kini, saat kedua orangtua ku pulang. Mereka membawa tiga orang yang berasal dari Jepang. Aku bisa melihat ada pemuda berambut hitam dan bermata hitam menatapku dengan tatapan ramah.

Ya Tuhan, benarkah dia calon tunanganku?

Namanya Ikusa Tennousu. Aku tahu ini gila, baru pertama kali aku melihatnya, aku langsung menyukainya. Dia memperlakukanku layaknya gadis yang spesial baginya. Namun setelah aku bertunangan dengannya, aku harus pindah ke Jepang sesuai perjanjian Keluarga Trancy dengan Keluarga Tennousu.

Meninggalkan Alois dan kedua orangtuaku…

Ketika kehidupanku di Jepang, nama margaku kembali diubah, namaku menjadi Athena Tennousu. Aku sebenarnya enggan, tapi itu sudah menjadi kesepakatan keluargaku dan keluarga tunangannya.

Dan kini…aku menjalankan kehidupanku, tanpa candaan dan jahilan Alois, tanpa kasih sayang kedua orangtuaku, namun dengan statusku, sebagai tunangan Ikusa Tennousu…


End of Flashback & Author P.O.V

"Begitulah…" kata Athena mengakhiri cerita masa lalunya. Tubuhnya bergetar karena mengingat masa lalunya yang menyenangkan sekaligus menyakitkan itu.

Nagi menutup mulutnya dengan tangannya. Ia tak menyangka bahwa Athena yang selama ini dikenalnya merupakan mantan anak panti asuhan. Apalagi Athena merupakan kakak angkat Alois. Lalu Athena dan Alois juga dulu mempunyai seorang adik angkat.

"Kupikir Alois adalah anak tunggal. Tak kusangka kalian adalah tiga bersaudara" ujar Nagi.

"Bagaimana keadaan Daddy dan Mommy?" tanya Athena pada Alois.

"Baik. Namun mereka sedang bertugas ke Wales" kata Alois lalu menyeruput tehnya. "Ikusa tidak ikut?"

"Tidak, dia sibuk mengurus keperluan Hakuo Academy" jawab Athena.

'TOK-TOK-TOK!'

"Permisi, sekarang waktunya makan malam" kata Claude.

"Baiklah," ujar Alois.

"Nagi, sehabis makan malam aku ingin berbicara denganmu" kata Athena. Nagi hanya mengangguk.


"Hah…" Nagi membaringkan tubuhnya. Ia baru saja berbicara dengan Athena di taman. Alois sudah kembali ke kamarnya dengan alasan ingin tidur. Dan kini ia sendiri sedang berbaring ditemani beberapa manga yang ia taruh di kasur dan Ipod yang terus mengeluarkan suara musik lewat earphones di telinganya.

Ia tidak bisa tidur. Meskipun tadi Hannah sudah menina bobokannya, tapi ia hanya pura-pura tidur. Dengan lampu yang masih menyala, ia mendengarkan musik sambil membaca manga yang dibawanya.

'Tolong jagalah Alois…'

Ia kembali mengingat kalimat yang dilontarkan dari Athena kepadanya. Seusai makan malam, Athena langsung menyeretnya ke taman. Ditemani langit malam yang bertaburan bintang yang indah, Athena mengucapkan sebuah kalimat yang dipesankan untuknya.

'Tolong jagalah Alois. Ia adalah anak yang manja. Meskipun ia selalu tersenyum dan jahil, namun ia sangat rapuh dibalik senyumnya itu'

Entah mengapa ia measakan firasat buruk tentang Alois. Nagi melepas earphones yang berada di daun telingaku lalu mematikan musik yang keluar dari Ipod. Lalu melempar manga nya sembarang dan keluar dari kamar. Tak lupa ia mematikan lampu dan menutup pintu kamar tanpa suara agar tidak menimbulkan kecurigaan.

Nagi berjalan dengan mengendap-endap. Seisi ruangan gelap, itu membuat Nagi sangat takut. Belum lama ia berjalan, ia dikejutkan oleh api lilin yang mendekat ke arahnya.

"Kyaaaaaa!" Nagi langsung menjerit. Seketika jeritanya hilang melihat Claude berdiri di depannya sambil membawa lilin.

"A-ano, Claude. T-tolong antarkan aku ke k-kamar Alois." pinta Nagi dengan nada sedikit takut-takut. Tentu saja takut, Claude menatap Nagi dengan wajah dingin.

Claude mengangguk. Ia berjalan menuju kamar Alois diikuti Nagi. Nagi memegang seragam butler Claude dengan erat, seakan-akan ia tidak mau ditinggalkan.

Claude yang melihat Nagi hanya tersenyum kecil. 'Dia sama seperti Master' batin Claude. Namun langkahnya terhenti karena di depannya ada pintu kamar Alois.

"T-Terima kasih…" ujar Nagi. Claude mengangguk dan meninggalkan Nagi.

'TOK-TOK-TOK'

Tidak ada jawaban. 'Apa Alois sudah tidur?' batin Nagi. Akhirnya ia membuka kenop pintu, berharap bahwa pintunya tidak dikunci. Dan benar, ternyata tidak dikunci.

Telinganya menangkap suara tangisan kecil yang ditahan yang berasal dari tempat tidur ukuran king-size. Mata hijaunya melihat Alois yang berada di bawah selimut tebal yang nyaman itu.

Dengan langkah pelan namun tanpa suara, Nagi berjalan mendekati ranjang king-size itu. Ia menyibak selimut yang menutupi Alois yang memeluk guling yang sudah basah. Ia bisa melihat Alois yang menangis tertahan meskipun wajah Alois tertutup oleh guling.

Ia melihat sebuah ponsel touchscreen yang tergeletak di lantai. Ia menatap layar ponsel tersebut. Sebuah SMS, sebuah SMS yang mampu membuat mata Nagi membulat.

Orangtua Alois…meninggal karena kecelakaan.

Nagi menghela napas. Ia kembali menatap penyebab Alois menangis tertahan seperti ini. Sebuah SMS yang dari pihak kepolisian. Yang memberitahukan berita duka yang mendalam bagi keluarga Trancy.

"Alois…" panggil Nagi dengan nada lirih. Namun Alois tidak mendengar. Nagi memandang Alois dengan miris. Dengan canggung ia duduk di kasur Alois dan menarik Alois ke pangkuannya.

"Nagi…" Alois terkejut melihat Nagi yang menariknya. Kini kepalanya bersandar di paha Nagi yang kecil, namun membuatnya terasa nyaman.

"Sshh… Tenanglah. Aku disini…" kata Nagi dengan nada lembut. Ia sangat tahu kalau keadaan Alois sangat rapuh sekarang. "Karena…"

"Aku akan terus bersamamu, sampai kapanpun, Alois…"


TO BE CONTINUED

Haaah… ini chapter terpanjang yang pernah Vincy buat. Mudah-mudahan Vincy bisa buat chapter yang lebih panjang lagi dari ini.

Banyak character yang Vincy acak-acakin dari aslinya. Salah satunya Athena. Nama asli Athena kan Athena Tennousu. Lalu Vincy ubah jadi Athena Trancy karena Vincy hanya kepikiran dia untuk menjadi kakak Alois. Lalu Ikusa… Nama aslinya kan Ikusa Ayasaki, kakaknya Hayate. Namun Vincy ubah jadi Ikusa Tennousu, tunangan Athena. Dan Ikusa & Hayate tidak ada hubungan darah di fic ini.

Yosh! Saatnya membalas review! Yang balas review… Nagi & Alois!

Nasumichan Uharu :

Nagi : Iya…ane cemburu… Kan ane suka Ciel…

Alois : Maaf updatenya lama. Review lagi ya!

Aiko-chan

Nagi : Oh iya, ane lupa… #devil smile…

Alois : #kabur…

Lizzy : Iya tuh, Grell ceroboh banget sih!

Grell : Iya, iya maaf!

Ciel : Review lagi ya!

Lol

Author : Thanks! Review lagi ya!

Alois : Iya… Kira-kira 1 atau 2 chapter lagi…

The Girl Anon123

Ciel : Tentu ada… kan di zaman sekarang…

Alois : Hei! Ngapain kau disini, Ciel. Sana, sana! Hush! Hush! Lizzy juga!

Ciel : Teganya dirimu Alois… #pergi dengan Lizzy

Nagi : Iya…jadi cemburu…

Author : Thanks! Review lagi ya…

Hikaru Nero

Alois : Masih rahasia… Liat aja chapter depan…

Author : Thanks! Review lagi ya…

Saruto Kudo

Alois : K-Kamu kan…

Author : Huaaa… Nii-chan! Gimana kabarnya di Yogya? XD

Alois : Udah-udah! #dorong Author.

Nagi : Thanks reviewnya! Review lagi ya…

Ciel Love Lizzy

Ciel & Lizzy : #blush…

Alois : Penname nya… #sweatdrop. Soal itu…masih rahasia!

Nagi : Thanks! Review lagi ya!

Toriii

Alois : Kok banyak yang nanya aku suka sama siapa ya?

Author : Iyalah! Thanks reviewnya! Review lagi ya!

males login

Nagi : Iya...

Author : Maaf updatenya lama. Review lagi ya!

Akhir kata dari Vincy…

Review please!

Sign,

Ravincy Aloisa Phantomhive