Hy all, aq balik lagi nih, kali ini pke pairing Inuyasha Kikyo. Terinspirasi dari wktu ngeliat vdeo "Inuyasha Final Act" yang bikin aq nangis sejadi2nya*lebay*. Mau tau isi vdeo itu, ntar di critai di ending crita ini.

Tak lupa untuk para senpai, dengan kerendahan hati, saya minta reviewnya!! *membungkukan badan*

Bwt dini. m2f ya, FF dgn pairing Naruhina pnya q blm rampung*emangnya bgunan*, jadi blm pntes d publish. Tp, thk bwt tantangannya.

Met baca!!!!!

Disclaimer : Rumiko Takahasi

"Kikyo no Kokoro"

part 1


Musim semi tiba. Sakura memekarkan kelopaknya yang putih kemerahan, dan menebarkan wangi lembutnya. Sesekali angin kencang berhembus, membuat kelopak-kelopak menari lemah gemulai bersama ranting-ranting yang ikut berayun.

Seorang gadis miko duduk di bawah pohon sakura. Tangannya yang pucat menggenggam busur panah, sementara di punggungnya, tabung berisi puluhan anak panah, benda yang siap digunakan kapan saja bila gadis itu menghadapi bahaya.

Siang itu, sinar matahari merebak, membakar kulit bagi siapa saja yang disinarinya. Penduduk desa kebanyakan duduk di bawah pohon rindang, atau masuk ke dalam rumah mereka yang sederhana karena beratapkan jerami. Tapi tidak dengan gadis itu. Ia lebih memilih duduk di bawah pohon Sakura yang tak rindang.

Gadis itu mengambil anak panahnya, lalu mempersiapkan busur agar anak panah dapat melesat ke sasaran yang tepat.

"Jangan lama-lama memandangi Sakura di saat cuaca begini, nanti kau bisa pusing!"

Kata-kata itu...sepertinya...

"Inuyasha!", gumam gadis itu dingin.

Kedua mata kini saling bertatapan. Mata emas Inuyasha menatap mata dingin gadis miko itu.

Inuyasha duduk di dahan pohon sakura, tepat di depan pohon sakura tempat Kikyo berdiri.

"Kau sudah tau semuanya kan?", tanya Inuyasha, berharap Kikyo akan menanggapinya kali ini.

Gadis itu tetap diam membisu. Hanya kelopak matanya yang bergerak, menutupi matanya yang sayu.

Inuyasha gusar. Ada apa dengan wanita ini? Kikyo berubah, itu sudah sejak lama. Tapi, kenapa dia berubah sampai sejauh ini? Apa karena dia mengetahui kebenaran tentang peristiwa 50 tahun yang lalu?

Inuyasha melompat ke bawah, berdiri tepat di depan Kikyo berdiri.

"Ada apa denganmu, Kikyo?" tanya Inuyasha sambil mengulurkan tangannya, berusaha memeluk gadis miko yang sangat dicintainya itu.

"Menjauh dariku, Inuyasha!!", Kikyo mengacungkan panahnya dengan tiba-tiba.

Inuyasha tertegun, melihat panah yang diacungkan Kikyo ke urat lehernya. Sudah biasa baginya menghadapi hal ini, sejak pertama kali ia bertemu dengan Miko itu.

Tangan Kikyo tiba-tiba gemetar, menarik panah yang berada di leher Inuyasha. Air matanya merebak.

" Inuyasha!", ujarnya di sela-sela tangisnya.

Pemuda atau han nyo itu terperengah. Baru kali ini ia melihat gadis itu, menangis di hadapannya. Tangannya merengkuh tubuh Kikyo yang rapuh ke dalam ceruk pelukannya, sebagai tanda keprihatinannya atas takdir buruk yang telah dialami perempuan itu.

"Kikyo! Maafkan aku, andai waktu itu...

"Aku terlalu percaya pada tipuannya Inuyasha. Ini bukan kesalahanmu sepenuhnya!", bisik Kikyo lirih. Inuyasha mengeratkan pelukannya.

"Apa kau masih mencintaiku, Kikyo?"

Kikyo mengangguk pelan.

"Inuyasha, kau ingat janjimu dulu?"

"Tentu saja, mana mungkin aku melupakannya. Tapi kau lihat khan. Aku gagal. DAn aku terlambat menydari semua tipuan ini!", jawab Inuyasha. Kikyo melingkarkan kedua tangannya di bahu Inuyasha.

"Kita masih punya kesempatan untuk itu!", ujar Kikyo.

"Tapi, bagaimana? Kita sekarang berbeda!"

Kikyo hanya diam, ia memikirkan perkataan Inuyasha baik-baik. Han yo itu tak salah. Inuyasha adalah siluman setengah manusia, sedangkan ia sendiri? Dia bukan lagi manusia, melainkan mayat yang dihidupkan hanya dengan abu dan tanah kuburan. Dan roh di tubuhnya, bukan milik dirinya. Rohnya sendiri telah bereinkarnasi melewati dimensi ruang dan waktu, tertanam di tubuh seorang gadis SMU yang bernama "Kagome".

"Shikon no Tama!", bisik Kikyo perlahan.

"?!"

"Semua pecahan Shikon no Tama telah terkumpul. Jika kita berdua menggunakannya bersama, aku akan mendapatkan roh yang abadi, dan kau akan menjadi manusia seutuhnya!", Kikyo melepaskan pelukannya dan menyandarkan tubuhnya di pohon sakura.

"Tapi, benda itu sekarang ada pada Naraku!"

"Kita akan merebutnya bersama, Inuyasha!", Kikyo mencoba meyakinkan pemuda berambut perak itu.

"Bagaimana, Inuyasha?", tanya Kikyo menatap Inuyasha yang terlihat sedang berfikir keras.

"Apapun akan kulakukan untukmu, Kikyo!", gumam Inuyasha sembari mendekatkan wajahnya ke wajah Kikyo.

Pupil mata Kikyo melebar. Sebuah kecupan hangat dan penuh cinta mendarat di bibirnya. Tidak hanya itu, kedua tangan Inuyasha melingkar di punggungnya, sehingga dirinya bisa mendengarkan detak jantung Inuyasha yang berdegup kencang, seirama dengan detak jantungnya, walaupun ia sendiri merasa tidak berhak memiliki ornamen berharga ini, karena yang memberikan ini semua adalah roh orang lain, yang di rebutnya paksa, walau ia sendiri tak ingin melakukan hal yang kejam itu. Mengambil roh orang lain untuk mempertahankan tubuh rapuhnya.

Inuyasha melepaskan kecupannya, setelah hidungnya mengendus bau darah di tubuh Kikyo.

Sebuah lubang cukup besar, bersarang di bahu kanan Miko itu, mengucurkan darah.

"Ki...Ki-kyo!", seru Inuyasha panik.

Kikyo meringis, menahan rasa sakit luar biasa akibat lukanya itu.

Telinga putih Inuyasha bergerak instingtif, menangkap suara seorang gadis, memanggil namanya dari kejauhan. Namun, ia sama sekali tidak mengikuti panggilan itu. Ia lebih memilih menemani Kikyo, yang saat ini sangat membutuhkan perhatiannya.

"I-Inuya-sha!", Kikyo memanggilnya di sela-sela ringisannya.

"Lukamu...!"

"Bukan kau yang menyebabkan luka ini, Inuyasha!", gumam Kikyo tersenyum.

"Aku tahu itu!" tangan Inuyasha memapah tubuh Kikyo "Sebaiknya aku membawamu pada Kaede-sama!"

"Jangan bawa aku kesana!", sergah Kikyo

"Tapi...lukamu..."

"Aku bisa mengobati lukaku sendiri. Kumohon, bawa aku ke tempat itu, Inuyasha!", pinta Kikyo memelas.

"Baiklah, jika itu maumu!".

Inuyasha membawa Kikyo ke tempat yg dimaksud. Ia tahu tentang tempat yang Kikyo katakan. Tempat itu adalah air terjun yang dulunya digunakan oleh Kikyo untuk menyucikan diri. Tempat itu dipenuhi mantra segel, sehingga tak ada makhluk lain yang bisa memasukinya, kecuali Kikyo. Pemuda setengah siluman itu membawa tubuh Kikyo dengan cepat, keluar dari taman Sakura dan menuju tempat itu.

"Turunkan aku, Inuyasha!", pinta Kikyo.

"Tempat itu masih jauh dari sini!"

"Kau takkan bisa masuk ke sini!" ujar Kikyo sambil melayangkan pandangannya ke muka hutan tepat di depan mereka.

"A-apa. Ini tempatnya?"

"Tentu saja. Apa kau lupa?", tanya gadis itu menatap mata emas Inuyasha.

Inuyasha terdiam. Ia tak tahu harus menjawab apa.

"Sudahlah. Tolong turunkan aku, Inuyasha!"

"Tapi, kondisimu yang sekarang tak mengizikanmu untuk berjalan sendiri, Kikyo. Aku akan menemanimu!"

"Tapi dia membutuhkanmu sekarang!", gumam Kikyo penuh perhatian

"Kikyo..."

"Pergilah, Inuyasha!", pinta Kikyo dengan senyum yang tersembul di wajahnya.

nuyasha memeluk gadis itu sekali lagi. Kikyo seperti memasukkan sesuatu ke dalam kimono Inuyasha.

"Jaga dirimu baik-baik Kikyo. Aishiteru!", bisik Inuyasha sembari membelai rambut Kikyo yang panjang. Lalu pergi dengan berat hati.

"Aishiteru, Inuyasha!"


Setelah meninggalkan Kikyo, Inuyasha pergi ke tempat seseorang yang memanggilnya tadi. Kakinya terus melangkah, dan berlari cepat. Tapi fikirannya tetap tertinggal di sana, di tempat Kikyo. Dirinya sangat menginginkan agar Kikyo dapat terus di sisinya, hingga ia dapat melindungi gadis itu. Ia tak ingin lagi gadis itu celaka seperti dulu, saat Naraku menghancurkan bunga cinta di taman hati mereka, dan menanamkan benih-benih kebencian dan dendam. Dan karena itu pulalah, gadis itu pernah menjalani sebuah takdir yang bernama kematian.

Inuyasha tersadar dari lamunannya ketika ia mendengar sebuah dentuman besar dari arah tempat yang menjadi tujuannya kini.

"Jangan-jangan!", Inuyasha mempercepat langkahnya.

Seekor kelabang raksasa mengamuk. Mulutnya dipenuhi darah. Selain itu, beberapa anak panah menancap di tubuhnya.

"Si...siluman ini...", ujar seorang gadis dengan bumerang raksasa di tangannya.

"Tidak ada cara lain!", ujar seorang lelaki sembari membuka kain penutup lubang hitam di tangannya.

"Miroku, jangan!!"

"Kenapa, Sango?"

"Lihat itu!", gadis itu menunjuk ke segerombolan makhluk kecil berterbangan di sekeliling kelabang itu. Ia mempersiapkan bumerangnya untuk menyerang.

Beberapa anak panah diluncurkan oleh seorang gadis ke arah kelabang. Seragam SMU yang dikenakannya memang masih utuh, tapi nafasnya sudah tak beraturan.

"Ayo Kagome, kau pasti bisa!", ujar siluman berwujud anak kecil, yang bertumpu di bahunya. Berusaha menyemangatinya yang sudah hampir putus asa.

"Panahku tak mempan padanya, Shippo!"

"Aaah. Inuyasha ke mana sih!", gerutu Shippo. "Di saat genting seperti ini, dia tidak bersama kita!"

"Kumohon, Inuyasha, datanglah!", batin Kagome. Tapi....

"Kyaaaaaaaaaaaaaaaaa!!!!!!!", teriak perempuan itu ketakutan


What happened in Kagome??? ntar liat ja di chapter selanjutnya. Doain pu3 biar cpt updatenya!

See you in next chapter!!!!