Gomen ya klo chapter ini gaje. Karn padatnya tugas sekolah putri jadi g bisa berfkr jernih. DAn sedihnya lagi, di chaptr pertma yang ngereview cuma 2 hiks hiks hiks.

Langsng ja yan hiks hiks!

Kikyo no Kokoro

part 2

Disclaimer : Rumiko Takahasi

Kelabang itu merayap ke arah Kagome, dengan mulut ternganga lebar. Besiap untuk menelan gadis itu

"Byakuryuhaaa!!"

Teriakan yang khas itu tiba-tiba muncul, disertai dengan suara tebasan pedang. Kelabang hancur berkeping-keping.

Wajah mereka yang tadinya tegang, berubah sumringah begitu melihat kelabang tersebut hancur, kecuali Kagome. Wajah anak itu masih terlihat ketakutan dengan cucuran keringat dingin mengalir di wajahnya.

"Kagome, kau tidak apa-apa kan?", tanya Inuyasha sambil meraba dahi Kagome.

Bagai tersadar dari lamunan panjang, dengan sigap Kagome berdiri, begitu ia merasakan sesuatu yang meraba dahinya.

"JATUH!!", ujarnya seketika.

"DUBRAK!!", Inuyasha terjatuh seketika dengan posisi kaki di atas, dan wajah yang terjerembab keras ke tanah.

"Hei Kagome, apa yang kau lakukan?", tanya Inuyasha kesal.

"Itu karena kau pergi tanpa memberitahuku !", jawab Kagome yang tak kalah kesalnya.

"Memangnya kau siapa? Mengaturku seenaknya saja. Dasar cerewet!"

"Apa kau bilang?", teriak Kagome mulai marah.

"Kau cerewet. Seharusnya kau berterima kasih karena sudah kutolong!"

"Inuyasha! Dasar anjing kampung egois. Aku tidak akan berterima kasih pada orang sepertimu!", teriak Kagome marah.

Miroku, Sango, dan Shippo hanya sweatdropped melihat pertengkaran mulut mereka.

Inuyasha menarik nafas panjang.

"Kau tidak tahu apa-apa tentangku. Jadi, jangan sok mengaturku!", gumam Inuyasha dingin, lalu berjalan meninggalkan mereka.

Kagome sontak terdiam. Ia tidak menyangka bahwa kata-kata yang baru saja dilontarkannya, membuat sikap Inuyasha menjadi dingin.

"Hei Inuyasha. Kau mau kemana?", teriak Shippo setelah Inuyasha berjalan sejauh 10 meter dari tempat mereka berdiri.

"Kalian duluan saja. Nanti aku menyusul!", jawab Inuyasha tanpa berhenti melangkahkan kakinya.

Tanpa mereka sadari, pemuda berambut perak ini ternyata mencuri-curi pandang kebelakang.

"Kagome, bagaimana ini? Kita kan membutuhkannya!", bisik Shippo.

Kagome masih terdiam. Perasaannya kini tengah kalut. Di satu sisi ia merasa bersalah, tapi ia benci bila harus meminta maaf pada Inuyasha. Dan sisi lain, ia membutuhkan perlindungan dari siluman berwujud manusia itu.

"Hah, sepertinya tidak ada cara lain!", batin Kagome.

"Apa yang mereka lakukan ya?", batin Inuyasha melihat sekelompok orang yang ditinggalkannya itu tetap diam di tempat.

"Inuyasha..!", teriak Kagome.

Kali ini, pemuda itu benar-benar menghentikan langkahnya.

"Ada apa?", jawab Inuyasha tanpa menoleh.

"Kami tidak akan pergi, sebelum kau ikut bersama kami!", jelas Kagome.

"Kenapa tiba-tiba kau mempedulikanku? Bukankah aku ini siluman anjing egois yang tak patut diperhatikan?", tanya Inuyasha sinis.

"Jangan cerewet! Ayo ikut!", ajak Kagome dengan setengah memaksa.

"Padahal yang cerewet itu kau, Kagome!", batin Inuyasha kesal.

"Aku tidak mau ikut!"

Kagome menggeram marah.

"JATUH!! JATUH!! JATUH!! JATUH!!"

Inuyasha melayangkan tangan tanda menyerah, setelah merasakan sekujur tubuhnya sakit karena berulang kali terhempas ke tanah.

"Kagome kejam, ya!", bisik Sango pada Miroku.

"Mereka tidak pernah berubah!"

Kagome menyeret tubuh Inuyasha.

"Ayo pergi!"

"Iya, aku ikut. Tapi, lepaskan aku!"

Kagome melepaskan tangannya dari kimono Inuyasha.

Mereka pun mulai berjalan beriringan. Inuyasha berada di barisan paling depan sebagai pemimpin. Kagome berjalan sambil mendorong sepedanya, dengan Shippo yang duduk di atas sadel sepeda. Miroku dan Sango berjalan di belakang sebagai penjaga.

Inuyasha menghentikan langkahnya. Ia merasa ada sesuatu yang menusuk di pipinya.

"Plak!!", Inuyasha menampar pipinya sendiri. Sesosok makhluk kecil seukuran nyamuk, berkimono, dan rambutnya telah beruban, menempel di tangan Inuyasha. Makhluk itu melenguh kesakitan akibat tamparan Inuyasha.

"Myoga oji-san!", seru Inuyasha pada makhluk itu.

"Inuyasha, aku mendapat kabar tentang Naraku!"

"Apa itu?", tanya Inuyasha serius, membuat yang lain menjadi antusias setelah mendengar nama "Naraku".

"Ia telah berhasil mengumpulkan pecahan Shikon no Tama!"

Kagome dan yang lainnya terbelalak kaget mendengar kabar mengejutkan tersebut, kecuali Inuyasha.

"Jadi hanya itu?", tanyanya santai.

"Tapi masalahnya, Naraku tidak langsung menggunakan benda itu?", tanggap siluman kecil yang sudah tua itu melipat kedua lengannya.

"Apa maksud oji-san?"

"Kau tahu kan, bola itu dulu pernah dijaga dan disucikan?"

Inuyasha hanya terdiam dengan kepala dipenuhi oleh tanda tanya.

"Jadi..!"

"Ya, dia mengincar sesuatu sebelum menggunakan Shikon no Tama!"

"Sepertinya tidak ada yang perlu dikhawatirkan!", Inuyasha berkata dengan begitu santainya.

"Baka. Bagaimana jika yang diincarnya itu salah satu dari kita!", tanggap Kagome memarahi Inuyasha.

"Tapi setidaknya kita punya waktu untuk mencegah itu terjadi!" jawab Inuyasha.

"Inuyasha benar. Kita bisa mempersiapkan rencana matang untuk melawan Naraku!", ujar Si Biksu mesum, Miroku.

"Lagi pula, mengerjakan sesuatu dengan terburu-buru itu tidak baik. Otou-san bilang begitu padaku!", sambung Shippo, siluman rubah kecil di atas sadel sepeda Kagome.

"Inuyasha, aku pergi dulu!", siluman tua itu pamit pergi.

Merasa tak ada yang mendukung pendapatnya, Kagome diam saja.

"Hari sudah hampir malam bagaimana kalau kita istirahat di sini ?", ujar Sango sembari memandangi langit yang senja kemerahan.

Mereka mengangguk setuju, lalu membereskan barang-barang yang mereka bawa.


Sekelompok Shinidama Chuu terbang dengan membawa roh berwujud chaya putih di kaki mereka. Tubuh mereka yang putih, memantulkan cahaya bulan purnama, membuat mereka terlihat seperi gerombolan cahaya yang terbang menerangi ckrawala langit yang gelap. Tidak satupun manusia yang menyadari kehadiran makhluk utusan Miko itu, kecuali satu orang.

Sepasang mata, menatap gerombolan makhluk tersebut dengan seksama.

"Itu kan, Kikyo!", batinnya.

Gaadis itu menengok keadaan di sekelilingnya,. Memastikan apakah keadaan mendukungnya untuk mengikuti cahaya itu.

"Sepertinya aman!", batin gadis itu setelah melihat semua temannya terlelap, lalu bergegas keluar dari kantung tidurnya.


Seorang gadis berpakaian Miko, berjalan tertatih menembus kegelapan hutan. Di sepanjang lengan kanannya, noda darah yang merah kehitaman, mengering, dan lubang luka di bahunya yang tak lagi mengalirkan darah

Tak ada emosi yang tergambar di wajahnya, seperti expresi rasa takut akan lukanya, maupun rasa takut akan kegelapan malam, yang biasanya dikuasai siluman-siluman jahat, pengincar Shikon no Tama.

Ia menengadah, memandangi bulan yang purnama yang bersinar terang, satu-satunya lentera yang bisa diandalkannya untuk menerangi jalannya, agar tak tersesat. Dan hanya satu kesan yang bisa ia dapatkan dari pemandangan itu, "Bulan yang tak pernah berubah, sejak 50 tahun yang lalu dipandangan matanya"

Langkahnya terhenti di tepi sebuah air terjun. Entah apa yang difikirkan gadis Miko itu, hingga tiba-tiba ia membenamkan diri ke dalam air yang deras itu, membiarkan dirinya berbaring terapung, terombang-ambing oleh aliran air yang tak mampu menyeret Miko itu ke dalam alirannya yang sangat deras.

Satu persatu bola-bola cahaya beterbangan keluar dari tubuhnya. Matanya terpejam, menahan rasa sakit pada jasadnya yang hampir kosong.

Masih terukir jelas di ingatannya, saat kedua kalinya ia merasa dihidupkan kembali di dunia ini. Meski dalam keadaan yang tidak sempurna, ia tetap bersyukur karena ia masih diberi kesempatan untuk memuaskan hasrat terakhirnya, yang dulu sempat terkubur bersama jasadnya yang telah menjadi abu. Hasrat akan dendam dan kebencian pada sang kekasih, han yo berambut perak, menggantikan cinta dan kasih sayang yang pernah terukir di hatinya sebelumnya. Begitu tingginya rasa benci dan dendam itu, hingga mampu menjadi energi yang digunakannya untuk tetap bertahan hidup.

Itulah satu-satunya alasan kenapa ia ingin tetap hidup. Ia tak mungkin mati sebelum dendam yang mendarah daging itu terbalaskan. Dan, ia tak mungkin menghapus kebencian dan dendam itu, karena bila itu terjadi, sudah pasti akhir hayatnya terbentang luas dihadapannya. Dan jasadnya akan kembali terkubur bersama tanah, seperti yang pernah dialaminya sebelumnya.

Tapi, kebenaran terungkap sudah. Dan seketika itu juga, dendam dan kebencian yang sudah menjadi tujuan hidupnya itu, terhapus begitu saja. Tak ada lagi energi yang bisa membuat tubuh itu bertahan. Meski cinta dan kasih sayang kini kembali terukir, ternyata tak mampu menjelma menjadi energi yang mampu mempertahankan tubuh rapuhnya.

Sekelompok Shinidama Chuu datang dengan bola-bola roh di kaki mereka. Biasanya, Kikyo akan langsung berdiri, menyambut bahagia akan roh-roh yang akan diimplementasikan ke dalam jasadnya itu. Tapi tidak untuk kali ini.

"Kembalilah ke jasad kalian masing-masing!", ujarnya dengan suara tercekik.

Kagome berjalan perlahan ketika ia melihat gerombolan cahaya putih itu berhenti di sebuah tempat di dalam rimbunan pohon-pohon besar, yang seolah menyatakan tempat itu tidak bisa dimasuki sembarangan.

Kagome mengangkat kedua tangannya, lalu menggerakannya dengan gerakan seperti melambaikan tangan. Ia menutup matanya, merasakan apakah ada aura makhluk jahat di dalam tempat itu.

Suara gemericik air ditangkap indra pendengarannya, membuat gadis itu semakin penasaran akan isi dari tempat itu.

Refleks gadis itu mendekati tepi air terjun. Matanya terbelalak, begitu melihat seorang gadis Miko terapung di sana. Wajahnya terlihat pucat, dan terdapat bekas luka di bahu kanannya. Kagome mengira ia sudah mati, mengingat tubuhnya yang terapung dan wajahnya yang pucat. Tapi saat ia melihat gelembung-gelembung air yang keluar dari hidung Miko itu, ia berdalih pendapat. Gadis ini masih hidup.

Dengan spontan dan tanpa rasa takut sedikitpun pada Miko itu, Kagome ikut menyeburkan diri, memeluk tubuh yang sudah sekarat itu.


Kikyo merasakan sesuatu yang menjalari tubuhnya. Hangat, dan bukan hanya itu, rasa sakit yang sejak tadi dirasakannya, hilang sama sekali.

Perlahan-lahan, Kikyo mulai membuka kelopak matanya. Sebuah cahaya mengalir dari tubuh gadis itu ke tubuhnya sendiri. Lukanya menutup perlahan.

"Ke-kena-pa kau menolongku?", tanya Kikyo dengan suara sedikit tercekat, menunjukkan kalau tubuhnya belum begitu pulih.

Laksana sebuah cermin, seperti itulah kiranya saat Kikyo memandangi wajah gadis reinkarnasinya itu.

"Aku tidak ingin melihatmu terluka!", jawab Kagome, walaupun di kepalanya sendiri pertanyaan itu berkecamuk "Kenapa aku menolongnya?".

Bila ia mengingat tentang perlakuan gadis Miko itu terhadapnya, tiadalah sepadan dengan apa yang dilakukannya saat ini. Sudah beberapa kali, Kikyo mencoba mengambil kembali roh miliknya yang kini bersemayam di tubuh Kagome. Padahal, ia sudah tak berhak lagi mengambil roh itu, karena roh itu sekarang milik Kagome seutuhnya, dan bukan miliknya lagi. Meski usaha Kikyo itu selalu gagal, tapi itu sudah cukup membuat gadis SMU itu berulang kali menghadapi bahaya besar.

Cahaya yang dialirkan Kagome berhenti. Tubuhnya lemas, dan sedetik kemudian, kesadarannya benar-benar hilang.

Beberapa menit kemudian...

"Ng!", Kagome membuka matanya, dan mendapatkan tubuhnya sudah terbalut selimut bewarna putih dengan hiasan benang bewarna hitam membentuk motif garis putus-putus di kedua tepinya. Barulah ia sadar kalau benda itu bukan selimut biasa, melainkan sebuah mantel milik seorang Miko.

"Kikyo!", batin Kagome seraya bangkit. Matanya tertuju ke arah Kikyo yang terbaring di atas dahan pohon. Pakaian atasannya hanya mengenakan sebuah kimono biasa. Rambutnya panjang terurai. Shinidama Chuu terbang mengelilinginya.

"Apa dia sedang tidur? Wajahnya tidak pernah berubah. Tetap terlihat sedih dan kesepian. Kikyo...", batin Kagome menyeringai.

"Kau sudah bangun, Kagome!", seru Kikyo sembari membuka matanya.

Kagome mendesah kaget, lalu mundur beberapa langkah.

"Jangan takut, aku tidak akan melukaimu!", ujar Kikyo seraya bangkit bangun, duduk di atas dahan pohon.

Kagome memicingkan pandangannya ke arah Kikyo, seolah berkata "Aku tidak takut padamu!"

Suasana sunyi seketika. Kikyo maupun Kagome tidak saling bicara. Kikyo masih duduk di atas dahan pohon, sedang dalam khayalan tertingginya. Sedangkan Kagome duduk di atas tanah sembari memeluk kedua kakinya. Tubuhnya terlihat gemetar.

Kikyo melihat hal itu, langsung membatin "Kau kedinginan ya, Kagome?"

Tiba-tiba Kagome bangkit berdiri, lalu kembali duduk mengambil mantel itu dan merapikannya. Setelah itu, ia kembali berdiri dan berjalan ke arah Kikyo.

"Ini!", ujar Kagome menyodorkan mantel yang terlipat rapi itu pada Kikyo. Kikyo hanya menatap gadis itu heran.

"Kenapa tidak kau pakai saja. Kau kedinginan, kan?", tanggap Kikyo atas perlakuan Kagome.

"Kau lebih membutuhkannya!", sergah Kagome.

"Tubuhku bukan tubuh manusia. Jadi dalam cuaca apapun, tubuh ini tidak akan merasakan apapun!", jelas Kikyo.

Kagome hanya terdiam. Ya, ada rasa iba yang tiba-tiba menyergap hatinya.

"Jangan mengasihani aku, Kagome!"

"Hei, kenapa Kikyo bisa membaca fikiranku?" batin Kagome heran

"Kita hidup menggunakan roh yang sama. Roh yang ada di tubuhmu itu dulu pernah ada padaku. Jadi aku bisa tahu apapun yang kau fikirkan!", jelas Kikyo panjang lebar.

"Tapi tenang saja. Aku tidak akan mengambil roh itu lagi, Kagome. Aku tidak memerlukannya lagi!", tambah Kikyo.

"Tadi kau bilang bahwa kau tidak butuh rasa kasihan, kan?", tanya Kagome.

"Aku memang tidak memerlukan itu!", jawab gadis Miko itu singkat.

"Kenapa kau selalu meyangkal, Kikyo. Kau butuh itu kan?"

"Jangan sok tau!", jawab Kikyo mendelik. "Kau tidak tahu apa-apa tentangku!"

"Aku tau semua tentangmu, Kikyo. Kau orang yang selalu menghindar dari kenyataan!"

"Kau tidak mengerti. Kau tidak tahu bagaimana rasanya menerima takdir yang menyakitkan ini!", jawab dengan suara merendah.

Kikyo turun perlahan dari pohon. Lalu berdiri membelakangi Kagome.

Kagome sadar. Ia menyesali dengan kata-kata yang baru saja ia lontarkan pada gadis Miko itu. Kagome tahu dengan perasaan Miko itu sekarang. Sakit, ia merasakan batinnya begitu sakit. Padahal cukup dengan mendengarkan cerita tentang masa lalu Kikyo dari Kaede, adik Kikyo, ia sudah merasakan batinnya begitu sakit. Masa lalu Kikyo sebagai seorang Miko penjaga Shikon no Tama, mencintai seorang han yo, dan akhirnya meninggal setelah Naraku, orang yang pernah ditolongnya, membunuhnya dengan kejam. Setelah meninggal pun, jiwanya tak tenang karena memendam sumpah kebencian.

"Gomen nasai, Kikyo!", batin Kagome.

"Tapi, walau bagaimanapun juga, takdir sudah berjalan dengan sendirinya. Aku tidak punya pilihan lain selain menerimanya!", ujar Kikyo menengadahkan pandangannya ke langit. Memandangi bintang keperakan yang bertaburan di angkasa.

"Jadi, kau..."

"Selama Shikon no Tama masih ada, aku tetaplah seorang Miko. Tugasku menyucikan dan menjaga benda itu. Aku akan merebutnya sendiri dari tangan Naraku!"

"Tapi, Naraku itu kuat Kikyo. Kau bisa mati bila melawannya sendirian. Ikutlah bersama kami. Kami akan membantumu!"

"Naraku mengincarku, Kagome. Lagi pula, hanya aku yang bisa menyucikan Shikon no Tama dan mengalahkan Naraku!"

"Kikyo...", Kagome menunduk, memandangi ujung sepatunya, sedangkan kedua tangannya mengcengkram rok hijaunya.

Kagome tersadar ketika ia merasakan sesuatu membelit tubuhnya.

"Ini...Kikyo, apa yang kau...", jerit Kagome melihat 2 ekor Shinidama membelit tubuhnya. Jeritannya terhenti saat ia melihat pemandangan mengejutkan di depan matanya.

Kikyo bersiap melepas anak panah dari busurnya. Jarak antara dirinya dan Kikyo sangat dekat, jadi kecil kemungkinan bila panah itu meleset.

"Kau bilang kau tidak menginginkan rohku, tapi kenapa kau ingim membunuhku, Kikyo!"

Gadis Miko itu seolah tak mempedulikan Kagome. Dalam sekejap, satu anak panah dilayangkan Kikyo dari busurnya. Kagome memejamkan matanya.

"Tep!", panah menancap tepat di batang pohon yang berada di belakang Kagome.

"Buka matamu!", perintah Kikyo. Kagome membuka kedua matanya. Keringat dingin bercucuran di dahi dan pipinya.

"Ambillah anak panah itu!", perintah Kikyo sembari tersenyum dingin. Kagome hanya melongo melihatnya.

"Kenapa? Jadi kau mengira aku akan membunuhmu?", tanya Kikyo terkekeh. Kagome hanya sweat dropped sekaligus malu pada dirinya sendiri. Ia salah sangka pada gadis Miko itu.

Kagome membalikkan tubuh, dan mencabut panah yang menancap di pohon tersebut.

"Kau hebat juga. Kukira Kaede berkata bohong tentang dirimu, yang katanya kau bisa mencabut panahku dengan mudah dari tubuh Inuyasha!", puji Kikyo sembari memakai mantelnya kembali.

"Arigato, Kikyo. Tapi, apa ini?", tanya Kagome sambil mencermati anak panah digenggamannya.

"Itu panah suci. Gunakanlah di saat kau benar-benar memerlukannya!", jawab gadis Miko itu.

"Itu sebagai tanda terima kasihku atas pertolonganmu tadi!", tambah Kikyo.

Satu persatu Shinidama Chuu berkumpul di sisi tubuh Kikyo, termasuk Shinidama yang tadinya membelit tubuh Kagome. Lalu membawa tubuh Kikyo terbang.

"Arigatou, Kagome!"

Perlahan-lahan tubuh Kikyo menghilang bersama Shinidama.

Seiring dengan menghilangnya makhluk-makhluk bercahaya itu, tempat itu perlahan-lahan gelap... Dan akhirnya benar-benar gelap gulita.

Kagome bingung sekaligus takut dengan keadaan di sekelilingnya.

"Kikyo, tolong aku!", batin gadis itu ketakutan.

"KIKYO00!!"


"Hah hah!", Kagome membuka matanya. Nafasnya terlihat cepat dengan keringat yang bercucuran di wajahnya. Ia melihat keadaan di sekelilingnya.

Sango tertidur lelap di sisi kanannya bersama Kirara. Inuyasha tidur dengan bersandar di batang pohon, dan Shippo di pangkuannya. Lalu Miroku tidur bersandar di pohon yang letaknya berjarak 2 meter dari tempat Inuyasha tidur.

"Apa aku hanya mimpi?", batinnya.

Kagome tersadar akan sesuatu. Ia menarik tangannya yang terselip di dalam kantung tidurnya.

Mata gadis itu terbelalak, begitu melihat benda yang kini digenggamnya itu. Sebuah anak panah.

"Jadi, aku tidak bermimpi? Apa yang sebenarnya terjadi, Kikyo?", batin Kagome.

"Hei Kagome! Kau kenapa?"

Suara han yo berambut perak itu, membuat jantung Kagome, hampir copot.

"Eh, tidak ada apa-apa koq. Aku hanya terbangun sebentar!", jawab Kagome berusaha menyembunyikan kepanikannya.

"Lalu, apa yang ada di tanganmu itu?", tanya Inuyasha sembari menunjuk ke tangan Kagome yang mengepal, seperti menggenggam sesuatu.

"Eh, i-ini..!", jawab Kagome gugup.

"Boleh aku melihatnya?", Inuyasha mendekati Kagome.

"Bagaimana ini?", batin Kagome bingung.

"Hey Kagome!"

Tiba-tiba Kagome tersenyum. Sebuah ide telah muncul di otaknya.

"JATUH!"

Kagome mencetuskan mantranya. Dan seperti biasa, Inuyasha jatuh terjerembab ke tanah.

"Kagome, kau!", umpat Inuyasha kesal.

"Ini masih tengah malam. Sebaiknya kita tidur dulu!"

"Tapi, aku harus tau dulu apa yang kau..."

"JATUH!!"

Sebelum han yo itu selesai bertanya, Kagome mencetuskan mantranya lagi.

"Ta-tapi..."

"Konnban wa!"
Kagome menyembunyikan wajahnya di balik kantung tidurnya.

Inuyasha mengepalkan kedua tanggannya ke belakang kepalanya. Mata emasnya menengadah ke langit yang bertaburkan bintang keperakan. Fikirannya berkecamuk, setelah nama seorang Miko itu ditangkap di telinganya yang instingtif dari suara seorang gadis SMU, yang tadinya tengah mengigau, menyebut nama itu berulang kali.

"Kikyo, apa kau baik-baik saja?", batinnya khawatir sembari mengingat kondisi tubuh Kikyo yang ditemuinya tadi siang.

Bulan purnama perlahan menghilang bagai terkikis awan hitam yang kian menutupi sinarnya, hingga menyisakan sebuah bentuk yang dinamakan "Bulan Sabit".

Inuyasha melihat bulan sabit nan indah itu. Terlintas di benaknya, seulas senyum seorang gadis Miko yang bahkan lebih indah di wajahnya yang selalu kaku, dibandingkan dengan bulan itu. Dan menurutnya, itu adalah senyuman pertama yang didapatkannya dari seorang manusia berhati suci.

Angin malam berhembus pelan, menggerakkan ranting pepohonan yang rimbun, dan juga rambut Inuyasha yang perak. Kelopak matanya semakin lama semakin berat.

"Oyasumi nasai, Kikyo!"

Inuyasha mengucapkan nama itu sekali lagi, berharap sang gadis pemilik nama itu hadir di alam mimpinya.


Wahhhhhhhhhhhhhhhhhh gajeeeeeee!!!!!!!

butuh byak saran nihhhh!!!!