Satu lagi tempat termaram di hutan. 2 orang anak perempuan berusia 10 tahun mengenakan yukata kuning dan biru. Namun mereka tidak bisa dikatakan sebagai manusia karena kaki mereka berdiri tidak menyentuh tanah.

Perlahan namun pasti, tubuh mereka melayang menembus sebuah dinding segel.

Sebuah istana megah berdiri kokoh, bernuansakan tradisional elegant layaknya bangunan zaman Sengoku pada umumnya.

Kedua orang anak itu mencermatinya baik-baik.

"Kochou, apa benar ini tempatnya?", tanya anak perempuan beryukata biru pada anak perempuan beryukata kuning.

Yang ditanya tidak menjawab, anak itu hanya memejamkan matanya.

"Benar, ini tempatnya. Kikyo-sama tidak salah, Asuka. Aura jahat itu berasal dari sini!"

"Apa yang dilakukannya?", tanya Asuka.

Lagi-lagi Kochou memejamkan matanya, merasaka aura yang berada di dalam istana tersebut.

Lelaki dengan tatto laba-laba di punggungnya itu, menggeram marah pada benda yang kini digenggamnya, Shikon no Tama yang warnanya telah menghitam karena dikuasai kekuatan jahat.

"Sialan kau, Kikyo. Di mana kau menyembunyikan pecahan terakhir benda ini!", umpatnya marah.

"Lagi-lagi Anda tertipu oleh perempuan itu, Naraku-sama!", ujar anak perempuan berambut keunguan muncul dari balik pintu. Sorot matanya terlihat jahat.

"Diam kau, Hakudoshi. Kuperintahkan kau untuk merebut pecahan terakhir itu!"

"Saya bersedia, asalkan Anda mau memberikan Shikon no Tama itu padaku!"

"Hakudoshi, kuakui kau adalah shikigama terkuatku. Tapi...!", Naraku mengambil sebuah benda berbentuk jantung manusia dari tubuhnya sendiri. Lalu...

"Craat!"

Darah memuncrat keluar setelah Naraku meremas benda itu. Hakudoshi terkapar, lalu tubuhnya menghilang.

"Khu...khu...khu..!"

Kochou membuka matanya setelah melihat aura kejadian mengerikan itu.

"Kochou, apa yang terjadi di dalam sana?"

"Tidak ada waktu untuk menjelaskannya padamu, Asuka. Kita harus menemui Kikyo-sama sekarang!"

"Tapi..."

"Tidak secepat itu!", seorang pria keluar dari istana tersebut. Ribuan lebah siluman berterbangan di sisi tubuhnya.

Kedua anak itu menghadapi Naraku dengan tenang.

"Tidak kusangka Shikigama memiliki sikap yang mirip dengan majikannya. Kikyo, kau hebat juga!", gumam Naraku, melihat reaksi kedua anak itu yang tidak menunjukan expresi apapun.

"Apa yang kau inginkan, Naraku?", tanya kedua anak itu memicingkan mata.

"Pecahan terakhir Shikon no tau, Kikyo menyembunyikannya bukan!"

"Kikyo-sama akan membunuhmu!", ancam kedua anak itu.

"Khu...khu...khu... Jadi begitu ya?"

"Katakan pada Kikyo aku akan menguasai dunia ini. Tapi sebelum itu, temui aku di Gunung Asuza, di saat langit siang berubah gelap. Dan sebagai ganti kalian yang berani mengusikku...!"

Naraku menggerakkan kedua tangannya seperti memberi komando. Ratusan siluman maju menyerang kedua anak itu.

"JADILAH MANGSA SILUMAN-SILUMAN ITU!!"

Kedua anak itu tetap terlihat tenang. Tak lama kemudian...

"Wush!"

Sebuah anak panah dengan cahanya keunguan di ujungnya, melayang ke arah gerombolan siluman yang bersiap menelan dua orang Shikigama tersebut.

Siluman-siluman itu hancur lebur, dan menghilang bagai tersapu angin.

Di tengah-tengah suasana tegang itu, 2 ekor Shinidama membawa kedua anak itu meninggalkan tempat itu.

Naraku kebingungan. Dilayangkannya mata jahatnya itu ke seluruh tempat, mencari kedua anak itu di dalam kepulan asap keunguan itu.

Suasana kembali tenang, saat kepulan asap itu perlahan menghilang.

"Cih. Sialan kau, Kikyo!", umpat Naraku, melihat kedua Shikigama telah menghilang dari tempatnya.

Kikyo berdiri di pinggir sungai. Tangannya menggegam sebuah busur panah. Ia memicingkan matanya ke sasaran anak panah yang baru saja ia lepaskan.

"Jadi begitu, Naraku. Tidak kusangka pengaruh siluman-siluman itu membuatmu sampai sejauh ini!", gumam Kikyo.

Kochou dan Asuka muncul di hadapan Kikyo bersama Shinidama.

"Kalian baik-baik saja, Kochou, Asuka?", Kikyo menatap mereka bergantian.

"Kami baik-baik saja. Arigatou, Kikyo-sama!", ucap kedua anak itu berbarengan sembari menundukan kepala.

Kikyo menundukan kepalanya.

"Apa yang kalian dapatkan?"

"Gomen nasai, Kikyo-sama. Kami hanya diberi titipan pesan dari Naraku!", jawab Asuka.

"...?"

"Dia ingin agar Kikyo-sama menemuinya saat langit siang berubah gelap, di Gunung Asuza!", Kochou menambahkan.

Kikyo mengerutkan dahinya. Saat langit siang berubah gelap, apa maksudnya?

"Lalu..!"

"Dia hanya mengatakan itu, Kikyo-sama!"

"Bagaimana dengan Shikon no Tama?", tanya Kikyo.

"Hampir terkumpul semuanya. Hanya tinggal satu pecahan lagi!"

"Jadi begitu ya. Kau menginginkan pecahan ini bukan, Naraku!", batin Kikyo.

"Arigatou, Kochou, Asuka!", Kikyo menggerakkan telapak tangannya ke kedua Shikigamanya itu. Kochou dan Asuka berubah menjadi bola cahaya, dan menghilang.

Kikyo menarik nafas panjang, menstabilkan energi di tubuhnya.

"Sepertinya tidak ada cara lain, Naraku. Dan kau, jangan coba-coba mengikutiku!", batin gadis itu.

Dengan sigap, diambilnya sebuah anak panah, lalu diarahkannya ke seekor lebah siluman bermata merah, yang sejak tadi melihat pembicaraanya.

Lebah itu terkapar di tanah, dan menghilang bersama hembusan angin.

Kikyo memanggil semua Shinidama miliknya, lalu menghilang entah kemana.


-

-

Siklus alam yang selalu berputar. Pagi hari muncul menggantikan malam. Sang mentari telah bersiap memancarkan sinarnya di balik awan fajar.

"Hoammm!", Kagome menggeliat, dan tangannya menutup mulutnya yang sedang menguap lebar.

Pandangannya belum begitu jelas karena matanya masih berusaha menstabilkan cahaya yang masuk, setelah semalaman beristirahat dengan tenang.

Gadis itu berjalan lunglai ke pinggir sungai, membasuh wajahnya agar terlihat segar.

KAGOME'S POV

Setelah membasuh muka, aku berniat kembali ke tempat tidurku untuk membereskannya.

"Ohayou minn..."

Suaraku tertahan saat melihat tempat tidur Sango yang berada di samping tempat tidurku. Bukan karena tempat tidurnya, melainkan karena makhluk yang tertidur di sampingnya, memeluk tubuh gadis itu dengan mesra.

-

-

MIROKU!!!
****

Wajahku memanas melihat pemandangan itu. Aku benar-benar bingung, satu pertanyaan muncul di kepalaku "Sejak kapan tuan pendeta itu tidur di samping Sango?"

Aku masih ingat, Miroku tidur dengan bersandar di pohon yang berjarak 10 meter dari kami, jadi mana mungkin dia bisa mendekati kami, kecuali...

Ah, apa yang kufikirkan. Sebaiknya, aku membangunkan Sango. Aku benar-benar tidak tahan melihat mereka.

"Ohayou Sango!"

END KAGOME'S POV

Sango membuka kelopak matanya yang bercelak pink itu perlahan. Sementara itu, Kagome mengeluarkan beberapa kotak makanan dari tasnya. Sesekali, mata Kagome melirik Sango yang perlahan bangun.

SANGO'S POV

"Ohayou Sango!"

Itu suara Kagome. Aku membuka mata. Sinar matahari telah muncul menembus embun pagi yang tebal. Tapi, apa yang hangat ini?

Kurasakan dua tangan memelukku dengan erat. Aku merasa nyaman. Kulirik samping kiriku. Ternyata, si tuan pendeta itu, Miroku.

Baru kali ini ia memelukku, tapi kenapa? Apa dia mencintaiku?

Tapi itu tidak mungkin. Ya, sebenarnya bukan aku saja wanita yang sering diperhatikannya. Banyak gadis-gadis cantik yang sering mendapatkan perhatian lebih darinya. Jujur saja, saat aku melihatnya menggoda gadis-gadis itu, hatiku terasa sakit. Aku...

"Sango, aku akan menikahimu, aku ingin anak kita nanti ada 3 orang, 2 perempuan, dan satu laki-laki. Kau mau, kan?", tanya Miroku sembari mengeratkan pelukannya. Entah apa kata-kata itu benar-benar kata hatinya, atau hanya rayuannya saja.

Eh, apa kau bilang?

PLAKKK!!!
*******

Satu cap merah tanganku kutempelkan di pipi Miroku dengan keras, membuatnya terbangun dengan sedikit terperanjat.

Aku buru-buru bangkit, lalu berjalan ke pinggir sungai untuk menyegarkan wajahku.

"Ohayou, Kagome!", sapaku pada Kagome yang sibuk menyiapkan makan pagi. Aku kembali ke tempat tidurku, dan membereskannya.

"Waktunya makan!", seru Kagome. Aku duduk di sampingnya sembari melihat hidangan yang akan disantap.

END SANGO'S POV

"Kagome!!!", teriak Shippo dari atas pohon. Kagome menengadahkan kepalanya ke atas. Shippo berada di pangkuan Inuyasha yang tertidur di dahan pohon tertinggi

"Kagome, tolong aku, aku takut!!!!", teriak Shippo sembari menangis.

"Bangunkan Inuyasha!!", teriak Kagome.

"Sudah, tapi dia tidak mau bangun, hiks hiks!!".

"Kagome, ada apa?", tanya Sango penasaran .Kagome hanya terdiam dalam kebingungan karena melihat......

INUYASHA TERTIDUR DI PUNCAK POHON PALING TINGGI!!!!!!!!


Di chapter ini saya coba menyisipkan sdkt lelucon segar, gimana mnurut kalian??. Pls review!!!