Ogenki desu ka minna-san? Hontou ni gomen nasai, update ny lma bgt, coz kyou bru ja slesai ulgnnnnn. Kyou hrap meski chaptr ni gaje n abal-abal *di jitak*, readers skalian berkenan membrikan review *review pa ja d trima asl jagn Flame*

aRaRaNcHa : Thk, d chaptr ni, pairing MirokuSango Kyou tmbh!

Kuronekoru : Slm knal. Jurusny Inuyasha emang Bakuryuha *Kyou yg slh ktik =='. Kochou ma Asuka itu shikigama (versi b. Inggrs), tp b. jpang ny ttp shikigami. Klo Shinidama tu hwan yang bdanny kyak ular, tp warnany putih, sring d pke kikyou bwt ngmbl roh.

dinda indira : Thk ya. Ni dah update

Riztichimaru : Iya, kmrn da mslh jd ni fic d publish ulang. ska pairing MiroSango ya? ni Kyou tmbh

Thk bwt yg udah review

Kikyou no Kokoro

part 4

Disclaimer : Rumiko Takahasi



"INUYASHAAAAA!", teriak Shippo di telinga Inuyasha yang masih terlelap tidur.

Inuyasha tersentak bangun saat ia merasakan suara seseorang tertangkap di daun telinganya yang putih. Saraf-saraf pendengarnya meneruskan gelombang ke dalam telinganya hingga membran timpaninya terasa mau pecah.

"BLETAK!", satu jitakan mendarat di kepala Shippo.

"Kau tidak perlu membangukanku dengan berteriak seperti itu, tau!", gumam Inuyasha mengucek matanya.

"Kau membuatku takut!"

"Kau takut?", Inuyasha mengerutkan dahinya.

"Hei... Inuyasha. Ayo turun!", teriak Kagome dari bawah pohon sambil melambaikan tangan.

"Kagome!", Inuyasha menundukkan kepalanya ke bawah. Keningnya sedikit berkedut melihat tubuh gadis itu hanya sebesar tubuh kucing.

"Hah. Hanya begini saja kau takut, dasar payah!", Inuyasha mencibir ke arah Shippo.

"Kau lebih payah. Memilih satu diantara dua wanita saja tidak bisa!", Shippo balas mencibir.

Han yo berambut perak itu sedikit tertegun dengan perkataan kitsune yokai kecil itu. Wajahnya menatap Shippo dengan tajam.

"Terserah kau saja!", Inuyasha mengambil ancang-ancang untuk turun ke bawah.

"Eh, Inuyasha. Kau mau ke mana?"

"Aku mau turun!"

"Tunggu, aku ikut!"

"Kau mau ikut? Enak saja. Turun saja sendiri!"

Angin semilir berhembus pelan. Shippo menarik nafas panjang.

"Baiklah! Akan kubuktikan kalau aku bukan siluman payah!"

"PLOF!"

Shippo berubah menjadi sebuah balon besar bewarna merah muda. Ia melayang turun ke bawah dengan gerakan memutar.

Sampai di bawah.

"JATUH!"

Kagome mencetuskan mantranya saat melihat Inuyasha mencoba membongkar isi tasnya.

"Kau cari apa di dalam tasku?"

"Bukan apa-apa!", jawab Inuyasha singkat sambil membersihkan wajahnya dari rerumputan.

"Wah, kelihatannya enak!", Shippo berseru kagum melihat makanan yang terhidang di hadapannya.

"Kalau mau ambil saja!", ujar Kagome.

"Arigatou Kagome. Itadakimasu!", Shippo menyuapkan nasi ke mulutnya.

Ia menghentikan aktivitasnya, melihat Sango yang hanya menatap hidangan itu.

"Sango, kau tidak makan?"

"Ah!", Sango mendesah kaget. "Baiklah!"

Kagome menatap Inuyasha yang duduk bersila dengan tatapan kosong dan kening berkerut. Terlihat seperti sedang berfikir keras. Lalu Kagome mengambil semangkuk nasi dan menyerahkannya pada Inuyasha.

"Inuyasha!"

"Apa?"

"Makanlah! Kau lapar kan?"

"Arigatou. Kau sendiri?"

"Aku tidak lapar!"

Tiba-tiba suara perut seseorang berbunyi. Kagome memegangi perutnya.

"Ambillah!", Inuyasha mengembalikan mangkok nasi itu pada Kagome.

"Aku bisa ambil sendiri!", Kagome membelakangi Inuyasha, lalu mengambil semangkuk nasi.

"Itadakimasu!"

Di desa Tajiya. Seorang Miko tua tampak sibuk meracik obat-obatan di beranda rumahnya. Sesekali ia memukul bahunya untuk menghilangkan rasa pegal.

Ia menghentikan pekerjaannya sebentar, melihat sebuah lubang cahaya bersinar. Seekor Shinidama keluar dari lubang tersebut dan bergerak memutar. Sesosok gadis yang berpakaian sama seperti dirinya, muncul di hadapannya. Rambutnya yang hitam panjang diikat dengan sebuah pita putih. Tak lupa, tabung berisi puluhan anak panah di punggungnya dan juga busur panah di tangannya.

"Ohayou Kaede!", sapanya pada Miko tua itu.

"Onee-sama!"

"Gomen nee, Kaede. Ada yang ingin kubicarakam padamu!", ujar Kikyo dengan wajah tampak serius.

"Ah, baiklah. Silahkan masuk!", Kaede mempersilahkan kakaknya untuk terlebih dahulu masuk.

Dua kakak beradik itu pun masuk ke dalam rumah.

Kikyo dan Kaede duduk berhadapan. Di hadapan mereka, sebuah tungku kecil yang sengaja dinyalakan Kaede untuk mengusir suasana pagi yang dingin itu.

"Apa tentang Naraku?", tanya Kaede. Kikyo mengangguk pelan, lalu mengeluarkan sesuatu dari balik hitoe-nya.

"Itu khan..."


"Aku selesai!", seru Kagome yang selesai makan paling terakhir. Sango sibuk membereskan piring-piring bekas mereka makan. Kagome dan Shippo membantu Sango membawakan piring-piring kotor tersebut ke pinggir sungai.

Sementara itu, Inuyasha duduk bersila di atas dahan pohon. Kedua tangannya terlipat di depan dadanya. Mata emasnya memandang sebuah pemukiman penduduk.

"Otou-san, aku lapar. Beli makanan yuk!", suara anak kecil nan cadel tiba tertangkap di telinga putih Inuyasha.

Dilihatnya oleh Inuyasha, seorang anak perempuan berusia sekitar 5 tahun, bersama seorang laki-laki setengah baya.

"Jangan, tsuki-chan!", jawab lelaki itu mencubit gemas pipi putrinya yang sedang menggembung.

"Otou-san jahat!"

"Bukan begitu, kaa-san-mu sudah memasak makanan di rumah!"

Inuyasha melihat sudut lain dari adegan 2 orang ayah dan anak itu. Bayangan gadis Miko itu kembali menyembul dalam fikirannya.

"Kikyo, kalau saja kejadian tragis itu tidak menimpa kita, mungkin sekarang kita sudah seperti mereka. Aku, kau, Inuyasha kecil, dan juga Kikyo kecil!", batin Han yo itu sedih.

Sango yang sedang membereskan barang-barang bersama Kagome dan Shippo, tiba-tiba mendongakan kepalanya, melihat wajah Inuyasha yang murung.

"Ada apa dengannya?", batin Sango.

"Um, Sango-chan. Sudah beres!", ujar Kagome menunjukkan tumpukan piring-piring yang sudah tercuci bersih.

Namun, Sango tidak mendengar Kagome. Matanya terus memandang tajam ke arah Inuyasha yang bersikap 'tidak biasa'.

"Sango-chan!", seru Kagome menyentuh bahu Sango. Sango mendesah kaget.

"Ah, ada apa Kagome-chan?"

"Sudah beres!", ujar Kagome menunjukkan tumpukan piring yang sudah bersih.

"Arigatou Kagome-chan!", jawab Sango singkat, lalu matanya kembali menatap han yo berambut perak itu.

Karena penasaran, mata Kagome mengikuti arah pandangan Sango. Kening Kagome sedikit berkedut, hingga membuat kedua alis lentiknya yang tadinya berjejer rapi bagai barisan semut hitam, berubah menjadi hutan rimbun.

"Dia kenapa?", tanya Sango pada Kagome.

"Mana kutahu!", jawab Kagome "Mungkin dia memikirkan Kikyo!"

"Kagome-chan!"

"Iya!"

"Kau cemburu?"

"Cemburu? Kenapa harus cemburu? Inuyasha kan bukan pacarku. Sango-chan sendiri kenapa cemburu pada Miroku?"

"Huh!"

"Kenapa tidak bilang dari dulu kalau Sango-chan..."

"Jangan teruskan!", Sango mendelik.

"Eh, i-iya!"

"Ngomong-ngomong, Miroku kemana ya? Dia kan belum sarapan?", tanya Kagome.

"Aku tidak tahu, Kagome-chan!", jawab Sango sambil membersihkan alat-alat pembasmi silumannya.

Merasa diabaikan, Kagome terdiam. Ia melamunkan kejadian tadi malam.

"Apa aku hanya mimpi? Tapi, kenapa panah itu ada padaku, seperti dalam mimpi?", batin Kagome.

"Aku pulang!", suara dari seorang biksu, memecah keheningan pagi. Ia melangkah pelan sambil tersenyum genit.

"Panjang umur kau, Miroku!", seru Inuyasha melompat ke bawah. "Ada yang ingin kubicarakan padamu!"

"Tentang apa?"

"Tuan Miroku, apa itu?", tanya Shippo sambil menunjuk ke dua keranjang besar yang dibawa Miroku.

"Ah, ini bekal perjalanan kita!"

"Wah, banyak sekali! Apa semuanya untuk bekal kita!"

"Tentu saja tidak. Separuhnya kita berikan pada Kaede-sama!"

"Kita kembali ke desa ya! Akhirnya!", Shippo melonjak-lonjak gembira, lalu mengambil keranjang bekal mereka itu ke atas sadel sepeda Kagome.

"Dasar anak-anak!", batin Miroku.

"Hei Miroku!"

"Dari mana saja?"

"Aku mencari informasi!"

"Hah. Pasti wanita cantik khan?"

Kagome dan Sango melemparkan death glare ke arah biksu itu. Miroku menanggapinya dengan senyuman genitnya.

"He he!", Miroku terkekeh. "Tadi aku menolong seorang wanita cantik. Dan dia memberiku makanan ini sebagai imbalannya!"

"Wanita yang baik ya!"

"Dia, benar-benar sempurna!", ujar Miroku dengan suara khasnya. Sango yang sedang mengelap Hiraikotsu, terlihat sedang menahan marah.

"Suaranya lemah lembut, mengalun bak bidadari yang sedang bernyanyi. Tangannya...begitu halus saat kugenggam. Dan dia juga bersedia mela..."

"CUKUP MIROKU!"

Semuanya terperanjat saat melihat ke asal suara. Sango berlari, sementara tangannya bersiap melemparkan Hiraikotsu-nya ke arah Miroku.

Sango mengamuk. Kagome dan Inuyasha dengan sigap memegangi Sango, mencegah agar perempuan itu tidak melukai Miroku.

"LEPASKAN AKU!", berontak Sango. Kagome sedikit kesulitan menahan tenaga Sango, mengingat Sango adalah seorang pembasmi siluman yang handal.

"Sango-chan, sudah!", Kagome mencoba menenangkan perempuan itu, tapi sia-sia. Sango memaki Biksu itu habis-habisan.

"DASAR PENDETA GENIT, APA YANG KAU BANGGAKAN DARI KELAKUANMU ITU. ASAL KAU TAHU SAJA, KELAKUANMU ITU MEMALUKAN BODOH!".

Miroku terbelalak dengan kata-kata yang dilontarkan Sango. Otaknya tidak menerjemahkan kata-kata itu sebagai makian, tapi sebagai pertanda...

"Kagome, Inuyasha!"

"Apa?", tanya mereka berbarengan.

"Lepaskan dia!"

"Maksudmu, Sango-chan!", Kagome menunjuk Sango tanpa menatap wajah Sango. Kagome tidak berani menatap wajah Sango yang bahkan lebih mengerikan dari siluman-siluman yang selalu mereka hadapi.

Miroku mengangguk. Inuyasha dan Kagome menjauh dari Sango sesuai perintah Miroku.

"KAU MENJIJIKAN!", ujar Sango dengan senyum yang mengejek. Miroku maju mendekati Sango. Tapi gadis iu malah mengambil Hiraikotsu-nya.

"Selangkah saja mendekat, kau akan kubunuh!"

Miroku tidak mempedulikan ancaman gadis tersebut. Ia terus melangkah, mendekati Sango.

Kontan saja, gadis itu naik darah. Dia mengambil ancang-ancang untuk melemparkan Hiraikotsu.

"SANGO-CHAN, JANGAN!"

Dan entah bagaimana caranya, tiba-tiba saja Hiraikotsu itu terlempar jauh dari mereka, dan Miroku telah memegang tangan Sango erat.

"K..k..ka-kau..!"

Bibir Sango hanya mampu mendesis saat Miroku menatapnya sendu.

"Katakanlah apa yang ingin kau katakan, Sango-san!"

Sekali lagi, gadis pembasmi siluman itu tak mampu berkata-kata. Bahkan matanya mulai berkaca-kaca.

Biksu tersebut maju memeluk Sango yang matanya sudah membasah.

"Le...le-paskan...a-aku!", gadis itu berusaha berontak dalam kungkungan Miroku. Namun percuma, tenaganya tak mampu melawan tenaga Miroku yang lebih kuat.

"Sango, aku tahu kenapa kau selalu seperti ini setiap aku bercerita tentang gadis lain. Kau men..."

"Jangan teruskan!", potong Sango cepat. Ia terisak di dalam pelukan Biksu genit itu.

Sementara itu, Kagome dan Inuyasha yang bersembunyi di semak-semak, mendesah lega begitu menyaksikan pemandangan itu.

"Kalian lihat apa sih?", tanya Shippo menjolorkan kepalanya. Namun, Inuyasha berkali-kali memukul kepalanya.

"Itu tidak pantas untuk dilihat anak-anak sepertimu!"

Miroku bahagia. Bahagia karena ada wanita yang ingin memilikinya, dan sekarang wanita itu terlihat lega dalam pelukannya setelah melepaskan semua kesedihan yang menyesak dalam dadanya.

Dan saking bahagianya, fikiran mesumnya tiba-tiba saja muncul di kepalanya.

Wajah Sango memerah, begitu merasakan sesuatu yang menggeranyangi pinggulnya.

"Aishiteru, Sango!", bisik Miroku dengan wajah seolah tanpa dosa.

Seluruh darah Sango kini naik ke kepalanya.

"PLAKK!"


"Apa tidak berbahaya, bergerak sendiri?", tanya Kaede pada Kikyo yang sedikitpun tak menampakkan reaksi.

"Kalau Onee-sama tak keberatan, Kagome pasti bisa membantu!"

"Gadis itu hanya akan menyusahkanku saja!", ujar Kikyo "Tapi, mungkin menurutmu ini tak adil. Kagome sering kerepotan menyelamatkan nyawaku!"

Kikyo menerawang saat ia hampir kehilangan seluruh roh yang mengisi tubuh kosongnya, Kagome memberikan sebagian kekuatannya. Paling tidak, roh yang tersisa tidak ikut terlepas dari jasadnya.

"Ohayou Kaede-sama!", suara anak-anak perempuan memecah keheningan diantara kedua kakak beradik itu.

"Kaede, siapa mereka?"

"Mereka anak didikku. Pasti ingin diajarkan untuk mencari tanaman obat!"

Kikyo tersenyum tipis.

"Kalau begitu, aku pergi dulu Kaede!", ujar Kikyo yang kemudian menghilang bersama Shinidamanya.

Kaede beranjak membuka pintu.

"Ternyata kalian!", ujar Miko tua itu melihat tiga orang anak perempuan di hadapannya.

"Tadi Kaede-sama berbicara dengan siapa?"

"Ah, tadi... Sudahlah. Kalian mau mencari tanaman obat kan?"

"Iya!"

"Kalau begitu tunggu di sini sebentar!"

Kaede masuk ke dalam rumah dengan tergopoh-gopoh, kemudian kembali keluar dengan keranjang bunga di punggungnya.

"Ayo berangkat!"


Matahari makin meninggi. Inuyasha cs melanjutkan perjalanan mereka ke rumah rumah Kaede. Miroku dan Inuyasha berjalan di depan, di belakang mereka, Kagome berjalan dengan mendorong sepedanya, tepat di belakang Miroku. Sango berjalan di belakang Inuyasha. Lalu, Shippo duduk di atas sadel sepeda Kagome.

Miroku mengelus pipinya yang merah akibat tamparan Sango.

"Hei Miroku!"

"Apa?"

"Ada yang ingin ku..."

"Kita bicarakan di rumah Kaede-sama saja!"


Kikyo duduk di bawah pohon melepas lelah. Sesekali matanya melirik ke arah gunung bewarna hijau dari kejauhan.

"Belum ada tanda-tandanya!", batin Kikyo.

Gadis itu menengadah ke langit, melihat gumpalan awan putih bak kapas yang lembut. Sebuah nama mengalun di hatinya.

Inuyasha

Kikyo mengambil sesuatu dari dalam kimononya.

Pecahan Shikon no Tama itu dicermatinya baik-baik.

"Kau telah banyak membuat penderitaan bagi orang-orang yang memilikimu!", gumam Kikyo pelan. Benda itu bercahanya keunguan terpantul sinar matahari.

Tiba-tiba hal yang sedari tadi ditunggunya datang. Langit berubah kelam, pertanda siluman itu muncul. Kikyo mempercepat langkahnya ke tempat perjanjian.

"Sepi sekali!", ujar Kagome memutar bola matanya di halaman rumah yang berdekatan dengan kuil itu.

Sementara itu Sango membuka pintu rumah.

"Konnichi wa, Kaede-sama!".

Tak ada sahutan dari dalam rumah.

"Mungkin Kaede-sama sedang mencari tanaman obat. Kita tunggu saja!", Kagome menurunkan barang-barang dari sepedanya.

Sementara itu, Miroku dan Inuyasha.

"Nah, sekarang ceritakanlah!", Miroku duduk, dan menatap han yo berambut perak itu dengan serius.

"Ini tentang Kikyo!"


Seorang gadis Miko berdiri di atas lereng gunung. Ia terlihat seperti sedang menunggu sesuatu sembari menatap langit yang berubah kehitaman.

Ia tak sadar bahwa sesosok makhluk mengintainya. Makhluk itu berlari cepat hingga siluman manapun tidak akan bisa membaca gerakannya. Pedang besar di genggamannya bersiap untuk menebas tubuh gadis tersebut.


"Apa yang diincarnya itu, Kikyo?"

"Kemungkinan besar!"

Inuyasha meloncat bangkit.

"Kalau begitu tunggu apa lagi? Ayo kita cari Kikyo!"

"Jangan bertindak ceroboh, Inuyasha. Mungkin juga Naraku mengincar Kagome!"

"Baiklah!"

"Ngomong-ngomong, benda apa itu?", tanya Miroku menunjuk benda putih yang menyembul dari hitoe merah Inuyasha.

Han yo itu mengeluarkan benda itu. Matanya terbelalak.

"I...ini, pita rambut milik Kikyo!"

Makhluk itu makin mendekat. Pedang dilayangkannya ke sasaran.

"AKH!"

Apa yang terjadi pda Kikyou? Slahkan bca di chapter brikutnya... Ja...!