Kikyou no Kokoro
part 5
Disclaimer : Rumiko Takahasi
"Brett!"
Tiba-tiba saja pita putih di tangan Inuyasha robek. Rasa khawatir mulai berkecamuk di kepalanya.
"Jangan-jangan...!"
CHAPTER 5
Kikyo merasakan sesuatu menebas lengannya. Kesakitan yang dirasakannya membuat tubuhnya goyah. Ia pun ambruk.
"Masih seperti dulu. Bodoh dan rapuh!", maki makhluk berambut perak itu.
Gadis itu hanya mampu mendesis, menahan rasa sakit akibat luka yang ditorehkannya. Tangan porselinnya mengcengkram rumput. Menahan geram, begitu melihat wajah yang begitu familiar di akalnya.
"Kau juga, masih selicik dulu. Tapi sayang, wajah palsumu itu takkan mempan lagi padaku!", ujar Kikyo berusaha bangkit, menstabilkan kakinya yang sedikit goyah di balik nagabakama-nya.
"Khu khu khu. Masih sanggup berdiri rupanya. Tubuh tanah liatmu ternyata bisa diandalkan juga. Tapi, aku mau lihat, sampai dimana kau bisa bertahan, Kikyo!"
Makhluk itu berubah wujud. Tubuhnya kini dilengkapi dengan sebuah sulur dan sepasang tentakel.
"Apa yang kau inginkan, Naraku?"
"Kita akan bahas masalah itu nanti. Aku ingin bermain-main dulu!"
Ribuan siluman muncul dari gumpalan awan hitam. Gadis Miko itu mempersiapkan panahnya, bersiap menghadapi siluman-siluman itu.
"Ayo bersiap!"
"Kau mau ke mana Inuyasha?", tanya Kagome heran.
"Kita cari Kikyo!"
"Jangan bertindak ceroboh, Inuyasha!", tegas Miroku.
"Jadi kita harus diam saja di sini sementara Kikyo dalam bahaya. Begitu maksudmu?"
"Bukan begitu. Kikyo-sama seorang Miko. Dia takkan mudah dikalahkan. Jika ia diserang, kemungkinan besar tempat ini juga ikut diserang. Apa kau mau melihat Kagome terluka?"
Mendengar namanya ikut disebut, Kagome merasa tidak enak. Fikirannya mulai macam-macam. Ia merasa menjadi penghalang antara Kikyo dan Inuyasha.
"Inuyasha benar, kita harus menyelamatkan Kikyo sekarang!", ujar Kagome.
"Jadi, kau juga mau bertindak ceroboh, Kagome? Kau sebagai reinkarnasi Kikyo-sama harusnya mengerti. Desa ini butuh perlindunganmu!"
"Tapi Kikyo lebih penting!", ujar Kagome.
"KALIAN MEMENTINGKAN KEPENTINGAN KALIAN HINGGA KALIAN TIDAK MENYADARI HAL YANG LEBIH PENTING!"
Teriakan yang serak menghentikan perdebatan diantara mereka.
"Kaede-sama!", ujar mereka hampir berbarengan.
"Lihat itu!", Miko tua itu menunjuk ke arah gumpalan awan hitam yang mendekati desa. Ratusan siluman muncul.
"Cih!", Inuyasha mendecih, ia mencabut Tessaiganya.
"Kirara!"
Sango menaiki tubuh kucing siluman itu, dan melayangkan Hiraikotsu-nya ke arah siluman-siluman itu.
Lain lagi dengan Kagome. Gadis dengan seragam sailor itu tidak ikut membantu menghabisi siluman-siluman itu. Ia tergopoh-gopoh mendekati Miko tua itu.
"Kaede-sama, apa tadi pagi Kikyo kemari?"
"Iya!"
"Apa saja yang ia katakan?"
"Onee-sama hanya berkata dia ingin pergi ke gunung Asuza. Lalu..."
Belum selesai Kaede bicara, Kagome telah berlari ke luar desa.
"Kagome-chan!", teriak Sango.
"Kaede-sama, apa yang Anda katakan pada Kagome?", tanya Miroku panik.
"Aku hanya mengatakan tempat di mana Onee-sama berada saat ini!"
Inuyasha yang mendengar itu terperanjat.
"Miroku, kalian selamatkan desa. Aku akan melindungi Kagome!"
Inuyasha berlari mengejar Kagome.
"Dasar ceroboh!", umpat Miroku setelah han yo berambut perak itu sudah tak lagi terlihat.
Sementara Kaede hanya menatap mereka bingung karena tidak mengerti.
Ia tak menyadari bahwa seekor siluman berwujud laba-laba bersiap melukainya.
Kaede hanya diam terpaku, begitu makhluk itu sudah berada di hadapannya. Kakinya sudah tak mampu digerakkan. Suhu tubuhnya menurun. Ia pasrah bila kematian akan datang menjemputnya.
Terlintas di benaknya tentang masa lalunya, saat Kikyo, kakaknya masih berada di sampingnya dan senantiasa melindunginya dari segala ancaman.
Tapi sekarang, sosok pelindung yang sangat disayanginya itu, sudah tak lagi berada di sampingnya.
"Crassh!"
Kikyo duduk bersimpuh. Siluet putihnya telah dipenuhi oleh noda bekas cipratan darah siluman. Nafasnya sudah tak beraturan.
"Fu...fu...fu...! Kau benar-benar menyedihkan, Kikyo!", ujar Naraku dengan suara khasnya. Perlahan, ia mendekati tubuh gadis Miko itu.
Kikyo hanya diam menyeringai.
"Menjauh dariku, siluman busuk!"
Makhluk itu sedikitpun tak terpengaruh dengan hardikan Kikyo.
"Dengan tubuh seperti ini kau mau membunuhku? Yang benar saja!", Naraku meledek. Ia meletakkan ujung jarinya di dagu lancip Kikyo, lalu mendongakkan kepalanya ke atas agar bisa menatap wajah jahatnya dengan jelas.
"Lepaskan tanganmu atau kau akan kubunuh!", lagi-lagi Kikyo menghardik. Meskipun kegeraman di hatinya terus mendesak, ia tidak bisa melakukan apapun karena tubuhnya yang terluka.
Mata jahat Naraku menyipit. Tentakelnya di arahkan ke tubuh Kikyo, tepat di lubang luka yang baru saja ditorehkannya.
"Shikon no Tama yang terakhir ada di sini kan?", ujar Naraku. Tentakel yang baru saja ditancapkannya, digerakkannya, mengobrak-abrik bagian dalam tubuh tanah liat gadis itu. Bola-bola roh yang tertanam di sana berpencar keluar.
"Hentikan Naraku!", hardik gadis itu setengah meringis. Namun sia-sia saja, Naraku semakin ganas, apalagi setelah ia mendapatkan benda yang dicarinya.
"Dapat!"
Naraku berdiri dan menarik tentakelnya dari tubuh Kikyo. Lubang lukanya makin membesar. Bola-bola roh semakin banyak yang berpencar keluar.
"Lihatlah Kikyo. Mulai sekarang aku akan menjadi penguasa siluman seutuhnya!", Naraku tertawa lepas. Semua pecahan Shikon no Tama telah berada di tangannya.
"Kau takkan bisa menggunakan Shikon no Tama semudah itu!"
"Itu benar!"
Sebuah seruan terdengar. Kikyo menoleh ke asal suara, melihat siapa gerangan yang berseru. Dan betapa terkejutnya ia ketika melihat bahwa gadis dengan pakaian sailor itu.
KAGOME!
Bumerang raksasa tepat mengenai sasaran. Siluman yang hampir menelan Miko tua itu mati terkapar.
"Apa aku sudah mati?", tanya Miko tua itu dalam hati.
"Kaede-sama baik-baik saja?", tanya Sango mengguncang tubuh Miko tua itu.
Kaede membuka matanya. Ia menghela nafas begitu melihat pemandangan di sekitarnya : bangkai-bangkai siluman berserakan, dan langit yang kembali cerah.
"Aku baik-baik saja. Sebaiknya kalian menyusul Kagome sekarang. Biar aku yang menangani keadaan di sini!"
"Baik. Ayo Miroku!", Sango menarik tangan Miroku, lalu naik ke atas punggung seekor kucing raksasa.
"Hei, tunggu aku!", Shippo berubah menjadi balon raksasa menyusul mereka.
Mata Kagome melebar, begitu melihat keadaan Kikyo. Kagome berlari kearahnya tanpa menyadari bahwa ia telah menembus sebuah dinding segel.
"Kikyo, kau kenapa?"
Kikyo yang masih duduk bersimpuh mengangkat wajahnya, membalas tatapan prihatin gadis itu dengan kesal.
"Kenapa kau ke sini?"
"Aku kesini karena aku tahu kau butuh pertolongan. Apa salah?"
"Kau mengacaukan rencanaku tahu!", Kikyo berusaha bangkit berdiri.
Merasa bahwa kedatangannya ditolak, Kagome meninggalkan gadis itu. Ia ganti menatap tajam ke arah siluman yang hanya melemparkan tatapan meremehkan padanya.
"Apa kau juga mau membunuhku nona?", Naraku terus menyunggingkan senyum meremehkan. Tangannya menggenggam Shikon no Tama yang telah bewarna hitam.
Kagome mengambil anak panahnya, lalu mempersiapkan busur untuk mengarahkan anak panah itu pada Naraku.
"KAGOMEEE!"
Semua mata tertuju ke asal suara.
Inuyasha berlari ke arah Naraku, namun...
"Bzzzt!"
Inuyasha terlempar ke belakang ketika ia menabrak sebuah dinding tak terlihat.
"Inuyasha! Kau tidak apa-apa?", tanya Kagome.
Pemuda berambut perak hanya meringis, kemudian ia bangkit dan kembali menyerang.
"Inuyasha, jangan!", Kagome berteriak, melarang Inuyasha membantunya.
Inuyasha yang sudah babak belur, tetap bangkit berdiri.
"Aku tidak bisa diam saja, bila melihat kalian dalam bahaya!"
Perhatian kedua gadis itu tertuju pada Inuyasha, tanpa menyadari bahwa mereka dalam bahaya.
Naraku menembakkan jaring laba-laba pada Kagome. Gadis itu terangkat ke atas... Sementara Kikyo berusaha menolong Kagome. Gadis Miko itu mengambil satu anak panah, lalu diarahkannya ke tubuh Naraku.
"Jika anak panah itu terlepas dari busurmu, gadis ini akan mati. Bagaimana?"
"Kikyo, jangan dengarkan kata-katanya!"
Inuyasha berteriak, melarang Kikyo membantu Kagome. Ia tahu, ini adalah muslihat siluman itu.
Kagome terbelalak.
"Inuyasha, kau..."
"Kau ingin gadis ini mati, Inuyasha?", Kikyo memicingkan matanya pada Inuyasha yang terlihat kebingungan. "Kau yakin?"
Panik bercampur bingung, beradu di kepala rambut perak itu.
"Ti...tidak ada cara lain kan?", Inuyasha tak yakin dengan kata-kata yang ia lontarkan.
"Ahahahaha. Benar-benar menarik, melihat seseorang yang berani mengorbankan orang terdekatnya demi cinta pertamanya!", Naraku melirik Kagome yang sedang menahan tangis.
"Jadi, sasaranmu Kagome! Tapi, kau takkan kubiarkan!", Kikyo melepaskan satu anak panah yang bercahaya keunguan di ujungnya. Namun, Naraku membuat dinding segel di sekitar tubuhnya, sehingga anak panah yang dilepaskan Kikyo patah setelah menabraknya.
Keadaan Kikyo memburuk. Roh yang tertinggal di tubuhnya hanya sedikit, ia pun jatuh tak sadarkan diri.
"Kikyo, KYAAA!"
Jaring laba-laba di tubuh Kagome mengeratkan lilitannya. Lalu, matanya terpejam tak sadarkan diri.
Naraku mengambil tubuh Kikyo dengan jaring laba-laba. Lalu diangkatnya, hingga tubuh gadis Miko itu membelakangi punggung Kagome.
"Sekarang semua yang kubutuhkan untuk menggunakan Shikon no Tama telah tersedia. Kau kalah, Inuyasha!"
"Lepaskan mereka, makhluk jelek!"
Naraku menghilang bersamaan dengan jaring yang membungkus Kikyo dan Kagome, dan juga segel dinding yang dipasang Naraku. Han yo itu menatap makhluk itu geram.
Seekor kucing raksasa dan juga sebuah balon merah jambu mendarat di tempat yang tak jauh dari tempat Inuyasha berdiri.
"Mana Kagome-chan?", tanya Sango panik karena ia tak melihat gadis itu.
"Di...dia..."
"Kenapa?"
"Naraku menangkapnya, dan juga Kikyo!", ujar Inuyasha menahan geram
Sango, Miroku, dan Shippo terbelalak kaget.
"Tidak mungkin!"
Di sebuah gua di desa Taijiya.
"Tolong bicaralah padaku, Midoriko-sama. Apa yang terjadi padamu!", tanya siluman berwujud lalat itu pada patung di depannya. Patung tersebut berwujud wanita, dan terdapat lubang di dada kirinya
To be continued
Pls review, meski ni chapter lebih gaje...!
