Eliza membuka matanya. Hal pertama yang ia lihat adalah atap kamarnya. Dia langsung loncat dari kasurnya, dan melihat layar handphone-nya. 19 April. 'Jadi.. itu semua bukan mimpi..?' gumamnya dalam hati. Lalu dengan cepat Eliza menyambar handuknya yang tergantung di belakang pintunya, dan masuk ke kamar mandi dengan wajah yang berseri-seri.
"Pagi" sapa seorang cowok berambut cokelat yang membawa tas biola. Roderich. "Pagi" balas Eliza dengan senyuman mengembang. Roderich tampak menunjukan wajah bingung. "Eliza, hari ini sepertinya kau ceria sekali. Ada apa?" tanya Roderich akhirnya. "Hm?" sahut Eliza sambil menaruh sepatunya di loker. "Hem.. sebenarnya beberapa hal terjadi kemarin, sih." katanya lagi. "Apa?" tanya Roderich penasaran. "Itu… "
"Hoi" seseorang mendorong kepalanya. "Aduh! Apaan sih—" kata Eliza sambil mengelus kepalanya dan menengok ke belakang, dan memerah saat mengetahui kalau yang mendorongnya adalah Gilbert. "Se—selamat pagi…" sapa Eliza gugup. Seketika, wajah Gilbert berubah jadi merah. Roderich mengeluarkan bunyi 'puh' dari mulutnya, yang diikuti oleh tawaannya. "Aku mengerti, aku mengerti… Hahaha.." katanya selepas tawa. "Ah.. bu-bukan gitu.." elak Eliza. "Ano.. sebenarnya.." . "Tidak apa-apa, aku tidak akan menyebarkan ini kepada siapapun kok.". Roderich membenarkan posisi tas biolanya sebelum berkata, "Jadi, semoga langgeng, ya." "Sial kau" kata Gilbert. Dan Roderich tertawa lagi sambil berjalan menuju kelasnya.
"Hari ini ada jam bebas, kan? Kau ambil kelas apa?" tanya Eliza. "Mungkin…" katanya sambil memegang dagunya. "Kelas Sejarah AP. Kau?". "Kalau begitu.. aku juga deh."
"Bukannya kau ada kelas Sejarah AP? Tuh ada bukunya" tanya Gilbert sambil menunjuk buku yang didekap Eliza. "Eeh.. mungkin tidak apa-apa mengambil kelas 2 kali dalam sehari." Eliza melihat cover buku Sejarah AP. Covernya berwarna biru laut dan terdapat gambar-gambar wilayah Negara Axis Power. Lalu terdapat label putih menempel di atasnya bertuliskan 'Hedervary, Elizaveta'. "Oh…" tanggap Gilbert sambil mengacak-acak rambutnya.
Elizaveta berpikir. Dia sudah membuat semuanya berubah. Tapi, belum tentu takdir Gilbert akan berubah. Belum tentu mereka akan bersama lebih dari seminggu. Dan belum tentu juga—ini semua kenyataan. Mungkin saja ini hanya khayalan dari obsesinya selama ini. Wajahnya memucat saat memikirkan hal itu. Keringat dingin mulai mengucur dari keningnya.
Tapi kemudian tangan Gilbert yang hangat menggenggam tangannya. Lalu entah kenapa semua rasa cemasnya hilang. Dia tersenyum, dan menggenggam tangan halus Gilbert dengan erat.
Semua yang kubutuhkan sekarang ada disini. Dan untuk seterusnya, … apakah akan seperti ini?
