24 April.
Tanpa ia sadari, Elizaveta sudah membuatnya makin rumit. Sebenarnya, dia sadar kalau dia hanya akan mempersulit semua ini. Dan sekarang, dia bingung apa yang harus dilakukannya untuk mencegah Gilbert menuju kematiannya.
"Aku akan ikut pertandingan basket," kata Gilbert sambil melahap mie-nya.
Eliza merasakan lututnya bergetar saat dia mendengar pernyataan Gilbert. "Ba-basket? He-hebat dong.." dia berpura-pura seolah tidak akan terjadi apa-apa saat Gilbert menuju ke pertandingan itu. "Ya, memang hebat. Maka dari itu mereka memilihku. Haha." Canda Gilbert. Tapi, Elizaveta tidak tertawa sama sekali. Dia tidak bisa menyembunyikan ketakutannya. "Oh, iya. Pertandingannya besok, ya. Kau harus datang menyemangatiku." Eliza ingat, saat Gilbert mengajaknya menonton pada saat 'itu', dia menolak dan bilang kalau dia datang hanya akan membuat Gilbert ge-er.
'aku harus bilang… kalau tidak… percuma aku mengubah semua ini.. tapi…' katanya dalam hati. "Hm… kalau timku menang, kau akan kutraktir makanan deh. Tapi jangan yang mahal-mahal ya, nanti kau gemu—" "Jangan." Kata Eliza tegas. Dan bergetar.
"Apa?"
"Jangan ikut pertandingan itu!"
"Hah?" kata Gilbert kaget.
"Kok gitu, sih? Ini kan pertandingan basket yang penting, kau sendiri yang bilang ini hebat!" Gilbert menaikkan nada bicaranya satu oktaf. Seluruh pengunjung di restoran tersebut memusatkan perhatian pada mereka.
"Pokoknya nggak boleh! Aku nggak bakal setuju!" nada Eliza lebih tinggi, tapi terdengar bergetar. "Kenapa sih? Kau kok, jadi melarangku begitu?" Gilbert berdiri. Baru kali ini selama 12 tahun pertemanan mereka, Gilbert berteriak sekencang ini pada Eliza. Eliza mulai tegang. "Itu.. karena.." "Karena apa?"
"Sebenarnya.."
"APA?" Gilbert tidak menyadari kalau nada suaranya sudah jauh melebihi nada yang sewajarnya seorang laki-laki ucapkan ke perempuan, terutama pasangannya sendiri. Eliza berdiri dan memukul meja.
"KAU AKAN MATI BESOK JAM 3 SORE KARENA TERTABRAK SAAT BERANGKAT MENUJU LOMBA BASKET ITU!"
Hening. Gilbert terkejut, sehingga tidak bisa bicara apa-apa. Tapi di satu sisi wajahnya, terlihat wajah yang bingung. "… Ma-mati?" katanya bingung. "Ma—maksudmu?" Eliza mulai meneteskan air dari matanya. "Aku… nggak mau kau mati kedua kalinya… itu semua sungguhan, Gilbert… percayalah padaku.. sebenarnya aku kembali dari masa depan.. aku baru saja dari pemakamanmu, dan-" Eliza terisak. "Aku melihat suratmu, dan datang ke taman- lalu aku nggak tau lagi apa yang terjadi.."
Gilbert merasa percakapan ini mulai tidak masuk akal. Dia berbalik dan berjalan ke luar. Sebelum keluar, dia berkata, "Walau kau yang bilang begitupun.." dia berhenti sebentar. "Aku akan tetap datang ke pertandingan itu. Maaf." Dan Eliza mendadak merasakan beban di badannya bertambah drastis, dan langsung jatuh ke lantai. Dia menangis sekencang-kencangnya. Ternyata dia tidak bisa mengubah besar usahanya.
25 April. Akhirnya datang hari kematian Gilbert.
Eliza merasa dia tidak bisa berbuat apa-apa sekarang. Dia bisa saja datang ke rumahnnya dan tetap melarangnya untuk pergi, tapi dia terlalu takut untuk melakukan itu. Gilbert sudah benar-benar marah sekarang. Saat ini, dia hanya bisa menangis dan berdoa kepada Tuhan agar Gilbert tidak benar-benar meninggal nanti.
Dia melihat jam. 14.20. 55 menit lagi menjelang tragedi itu. Eliza harus melakukan sesuatu. Setidaknya, dia harus mencegah Gilbert melewati jalannya tersebut. Tapi dia merasa tidak bisa berbuat apa-apa lagi untuknya.
Tanpa dia sadari, sudah jam 15.00. Sekarang dia tidak bisa meragukan apa-apa lagi. Dia HARUS menghentikan semua ini, bagaimanapun caranya.
