Elizaveta berlari secepat mungkin ke arah jalan yang Gilbert lewati saat akan menuju ke pertandingan basket tersebut. Dia memakai baju yang biasa ia pakai di rumah—namun kali ini dia tidak peduli. Dia lebih mementingkan Gilbert daripada tatapan orang-orang disekelilingnya.
Akhirnya dia pun sampai di jalan yang telah merenggut nyawa Gilbert. Dia mengangkat tangannya agar ia bisa melihat jam tangannya—15.13. 2 menit menuju semuanya. Semenit kemudian, muncul seorang lelaki yang memakai baju basket, tertulis 'WEILLSCHMIDT' dan nomor 22 besar di belakang bajunya. Orang itu melihat jam, dan melihat ke kanan dan kirinya. Saat dia merasa tidak ada kendaraan yang lewat, dia berjalan menyebrangi jalan.
Semuanya persis dengan sebelumnya. Tiba-tiba, dari sisi kanan jalan, datang sebuah mobil boks besar –tidak diketahui apa isinya-, menuju Gilbert. Semuanya seperti di slow motion—Elizaveta yang melihatnya, dengan spontan berteriak, dan berlari ke arah Gilbert. Ketika dia hendak menariknya, pengelihatannya menjadi kabur, semua terlihat putih dan menyilaukan. Dan saat itu pun dia pingsan—tapi bisa merasakan, kalau dia berhasil menyelamatkan Gilbert.
Elizaveta terbangun. Hal yang pertama dia lihat adalah sesuatu yang cukup tidak menyenangkan hatinya—hujan dan awan mendung. Beberapa detik kemudian, dia menyadari kalau ada yang menetes dari kepalanya. Dan saat diseka, tangannya berlumeran oleh sesuatu yang berwarna merah kelam. Darah. Dengan segera dia duduk dan melihat ke sekeliling. Hujan. Gelap. Sepi. Dan dia menyadari kalau dia memakai baju berwarna hitam, baju yang dipakai saat dia mendatangi pemakaman Gilbert. Ah—dia sudah kembali ke semula. Ke kenyataan.
Dia masih mengingat semua mimpinya itu—semua terlihat sangat nyata. Dia bisa merasakan sentuhan di mimpinya itu, dia merasa semua hal yang dia dengar itu sangat nyata tapi –itu hanyalah bagian dari mimpi.
Saat dia hendak berdiri, terdengar langkah kaki seseorang.
"Hoi, masa begitu saja jatuh, sih!"
Kali ini, bukan mimpi sama sekali.
Eliza memutar badannya dan melihat seseorang berambut putih, bermata rubi, —tangannya dan kepalanya terbalut perban. "Aku heran, kenapa kau bisa disini.". Gilbert. Ya, itu adalah Gilbert Weillschmidt. Gilbert yang selalu menjahilinya, Gilbert yang selalu tertawa padanya, Gilbert yang dicintainya dengan sepenuh hati. "… Gil-bert..?" katanya halus. Gilbert tersenyum. "Ya, ini aku. Terima kasih, ya.". "Tapi kenapa—untuk apa kau berterimakasih..?" air mata Eliza terus bercucuran dari matanya yang sudah sembab. "Untuk apa? Lizzie, kau lupa? Kau memperingatkan aku bahwa aka nada 'sesuatu' terjadi. Dan kau yang menarikku saat mobil itu akan menabrakku, kan?" Gilbert tersenyum, namun wajahnya berubah menjadi khawatir. Dan dengan segera dia memeluk Eliza dengan satu tangannya. begitu pun dengan Eliza—dia melingkarkan tangannya di pinggang Gilbert. Eliza menyebut nama Gilbert terus menerus saat dia menangis. "… Ya.. aku disini." Jawab Gilbert. "Aku tidak akan pernah meninggalkanmu lagi, Elizaveta. Aku akan selalu disini."
"Ya.. aku juga."
Itu bukan kenyataan yang sesungguhnya. Tapi juga bukan mimpi.
Yang sesungguhnya terjadi saat itu adalah, semua orang kembali menangis. Kebanyakan dari mereka belum mengganti baju mereka—masih memakai baju yang mereka kenakan pada pemakaman Gilbert. Mereka menangsisi seorang yang terbujur kaku dengan luka di kepala yang sangat parah. Dia meninggal karena kehabisan darah. Di ujung kakinya, tergantung sebuah kertas, bertuliskan: 'HEDERVARY, ELIZAVETA'
... sedih nggak sih? kalo ga sendih berarti saya gagal -pundung- pasti banyak yang nggak ngerti akhirannya. nah, itu tuh kayak... apa ya? == mimpi pas si Eliza sekarat, gitu.. BOT *plak* nah, sekarang di review~ /dihajar
