Yiaahh, Lav kembali #bergaya seperti Angelina Jolie di The Salt *plak
Hehehe, seperti biasa Lav diutus oleh Helios, si Dewa Matahari untuk kembali meneruskan fanfic ini.
Yup, karena liburan ini Lav dibebas tugaskan dari yang namanya 'sekolah' secara tiba-tiba ide untuk membuat cerita kembali muncul.
Kyaaaaaa, Lav nggak nyangka #digampar, yasudah lebih baik Lav melanjutkan cerita daripada Lav kebanyakan curhat nggak penting #siapa suruh luu ngerocos daritadi Lav , pe'a
Yosh, action…
L'amore a Colori
Disclaimer : Om Kishi selalu dihati
By : Lavender Orange
Malam masih menyelimuti bumi, bulan masih setia menampakkan wajahnya agar ada sedikit cahaya yang dipunyainya untuk menggantikan matahari yang bertugas membuat terang bagi bumi. Sedikit cahaya yang dipancarkan dari lampu meja disebuah kamar yang bisa dibilang luas, tampak seorang gadis yang sedikit bersusah payah membangunkan diri dari tidur panjangnya. Gadis itu masih mengamati sekelilingnya yang remang-remang. Sambil memegang kepalanya yang masih pusing, gadis itu berusaha bangkit berdiri. Kedua tangannya ia tumpuan ketika berjalan dengan sedikit oleng. Ia mengikuti arah kepintu, berharap itu adalah pintu kamar mandi. Ia masih belum sadar bahwa ini bukan kamarnya. Setelah tertatih-tatih menuju kamar mandi, gadis itu segera menuju wastafel kemudian memuntahkan seluruh isi perutnya. Setelah terasa semua yang ada didalam perutnya keluar, Hinata berjalan keluar kamar mandi. Namun kepalanya yang terasa pusing dan nafas yang ngos-ngosan membuat Hinata oleng dan jatuh ditempat.
….
Sasuke sedang merapikan dasi didepan cermin. Setelah selesai memakai seragam, ia mengambil tas dan blazernya diatas kursi kemudian keluar dari kamarnya. Sejenak ia memandang pintu bercat coklat yang mengingatkannya kepada gadis yang baru dikenalnya beberapa jam yang lalu. Sasuke melangkahkan kakinya menuju pintu itu, terdengar sunyi didalamnya. Sasuke membuka perlahan pintu itu, terlihat kamar yang kosong dengan selimut yang bergeser kekanan tempat tidur. Kakinya semakin melangkah masuk kedalam, tirai-tirai yang masih tertutup menandakan bahwa Hinata masih didalam kamar ini. Namun ia menelusuri kamar ini, perlahan matanya mengarah kepada pintu kamar mandi yang terbuka, dari luar terdapat helaian indigo dan tangan pucat. Segera saja Sasuke menghampiri Hinata yang tergeletak dilantai.
"Kenapa kau selalu merepotkan," desis Sasuke menghampiri Hinata. Ia menatap kulit Hinata yang semakin pucat dan badannya yang semakin panas. Sasuke kemudian mengendong Hinata, kemeja Sasuke yang digunakan Hinata semakin terlihat kebesaran dipagi hari. Membuka pintu kamar dengan satu tangan kiri membuat Sasuke kesusahan. Kemudian Sasuke melangkahkan kaki lebarnya menuju ruang tamu, ketika sampai disana ia berpapasan dengan Itachi, anak sulung Uchiha itu menatap heran adiknya yang membawa seorang perempuan pingsan dengan kemeja Sasuke yang kebesaran melewatinya begitu saja.
"Kau membawa siapa?" seru Itachi datar sambil melipat tangannya didepan dada dan bersandar didepan pintu dapur. Ia masih memperhatikan Sasuke yang menuju pintu keluar, kemudian Itachi berjalan kedepan pintu depan karena Sasuke terlihat kesusahan membuka pintu yang besar itu. Itachi memperhatikan wajah perempuan itu.
"Dia," desisnya. Sasuke menolehkan kepalanya dan menatap Itachi tajam lalu melanjutkan berjalan menuju mobilnya yang terparkir dihalaman depan. Itachi membukakan pintu belakang mobil Sasuke.
"Bukan 'dia' aniki. Wajahnya memang mirip, tapi dia bukan," ucap Sasuke tegas sambil menatap Itachi, kemudian secara perlahan ia meletakkan gadis itu dijok belakang dan menutup pelan ketika memastikan gadis itu masih tertidur lelap.
"Lalu kau mau kemanakan gadis itu, membawa pulang kerumahnya," ucap Itachi datar.
"Tidak, aku akan membawanya kerumah sakit. Sepertinya demamnya semakin tinggi, lebih baik kau ikut, kau saja yang mengurus hal-hal yang ada dirumah sakit lagipula aku harus sekolah. Aku akan mencari tau siapa dia," ucap Sasuke sambil membuka pintu mobil. Itachi menutup pintu depan kemudian menguncinya, lalu masuk kedalam mobil Sasuke dan mobil sport hitam itu berjalan meninggalkan rumahnya yang bisa dibilang sangat besar dan hanya ditempati oleh mereka berdua.
….
Sasuke berjalan perlahan dikoridor yang ramai. Jam istirahat memang sudah berdering beberapa detik yang lalu, banyak para siswa siswi yang berkeliaran dikoridor untuk sekedar jajan dikantin, mengobrol ditaman atau disekitar sekolah yang biasa ramai digandrungi para siswa maupun siswi. Dengan tangan yang dimasukkan kedalam kantong celana depannya, Sasuke berjalan menuju tempat dimana dia bisa menemukan informasi Hinata. Salah satu tempat tujuannya adalah tempat dimana Sasuke mengantarkan Hinata dulu, kelas XI IPA II.
Sasuke berjalan ketempat itu. Tepat saat itu Shion dan Kiba keluar kelas. Mereka berpapasan dikoridor yang membuat Kiba berhenti tepat dihadapan Sasuke, Shion yang sedari dari membicarakan tentang tugas mereka segera berhenti karena Kiba juga berhenti.
"Kau tahu asal usul Hinata," ucap Sasuke to do point sambil menatap Kiba. Kiba hanya angkat bahu, pandangan Sasuke berarah ke Shion.
"Aku tidak tahu, kami saja baru mengenalnya sehari dan sekarang ia tidak masuk. Kami saja bingung mau mencarinya kemana. Hinata tidak memberi alamat rumahnya bahkan nomor teleponnya tidak," ucap Shion dengan tampang bingung. Mendengar itu Sasuke kemudian melangkah pergi dan meninggalkan Shion dan Kiba yang saling bertatapan satu sama lain.
….
Sasuke menyetir mobilnya pelan, suara telefon Sasuke yang berdering didashboard membuat Sasuke menatap bergantian antara mengambil handphone dan menatap jalanan. Setelah melihat siapa yang menelpon dilayar, Sasuke mengangkatnya.
"Ada apa aniki?" ucap Sasuke sambil menyetir dengan tangan kanan dengan kecepatan sedang.
"Kau sudah mendapatkan informasi siapa dia?" kata Itachi diseberang telefon.
"Belum, dia anak baru makanya sulit mencarinya. Dia sudah sadar?" Tanya Sasuke masih sambil menyetir.
"Belum, panasnya semakin tinggi. Kau apakan dia sampai seperti ini?" Tanya Itachi tajam.
"Aku tidak berbuat macam-macam kepadanya aniki, kemarin aku memberinya hendak tumpangan karena dia sendiri berdiri didepan gerbang sekolah sambil kehujanan menunggui kakaknya."
"Setidaknya aku tidak akan ikut campur jika kau berbuat macam-macam. Yasudah, aku ingin makan siang, sampai nanti," seusai berkata begitu Itachi menutup telefonnya. Sasuke pun meletakkan kembali telefon ke dashboard dan menambah kecepatan laju mobilnya untuk sampai kerumah.
…..
Setelah berganti pakaian dengan kaos hitam dan celan jins biru, Sasuke berjalan menuju dapur. Ia mengambil minuman dibar kecil didapur. Sambil memegang cocktail ditangan kiri, Sasuke merogoh saku celananya karena telefon selulernya berdering.
"Ya Dobe," Sasuke berjalan santai menuju ruang tv sambil meminum cocktailnya.
"Kau ada acara hari ini, Ino mengajak party. Kau ikut?" kata Naruto diseberang.
"Kapan?"
"Nanti malam jam 7, di Café Coullita, kau mau kesana sendiri atau kujemput."
"Kita liat saja nanti, aku akan datang atau tidak," kemudian Sasuke memutuskan sambungan tanpa Naruto menjawab. Ia mendudukkan dirinya kesofa, sambil mencari-cari channel yang menurutnya menarik. Bosan, tentu saja karena siang hari acara yang ada hanya berita atau FTV. Sasuke mematikan televise dan bersandar pada sofa belakangnya, berpikir siapa Hinata itu. Setelah lama termenung Sasuke mendapatkan ide, segera saja ia bangkit dan berjalan menuju kamar tamu. Mencari telefon seluler milik Hinata, telefon berwarna lavender itu terletak diatas buffet dekat lampu tidur. Segera saja ia menyalakan telefon seluler itu, baterai yang low menjadi pembuka utama layar handphone Hinata. Karena tipe yang sama dengan handphone milik Sasuke, segera saja Sasuke mencharger dengan charger handphone miliknya. Setelah menyala, banyak sekali pesan dan misscall yang bertulisankan nii-san. Sasuke mengacuhkan pesan-pesan tersebut, segera saja ia menelpon penelpon yang diberi nama 'nii-san'. Menunggu beberapa detik, tampak suara cemas yang segera membrondong Sasuke dengan banyak pertanyaan.
"Halo, Hinata. Syukurlah kau menelpon, kau membuatku cemas. Kau kemana saja, kenapa tidak menelponku sama sekali. Kau baik-baik saja," Sasuke menjauhkan sedikit telefon Hinata dari telinganya.
"Maaf, aku bukan Hinata, aku temannya. Maaf baru memberitahumu, tapi Hinata ada di rumah sakit Tokyo. Ia demam karena kemarin hujan-hujanan menunggu seseorang. Bisakah kau kesana dan menjenguknya?," ucap Sasuke sambil bersandar pada jendela. Terlihat halaman belakang yang luas dan ditanami oleh banyak bunga yang indah.
"Ah, kau temannya. Arigatou sudah merawat adikku, aku akan segera kesana. Bisakah kita bertemu, aku ingin mengucapkan tanda terimakasih."
Sasuke menghela nafas sejenak, "Baiklah."
"Oke, kalau begitu sampai nanti," setelah itu sambungan terputus, karena melihat handphone Hinata dengan baterai yang masih low. Sasuke mengganti baterai Hinata dengan baterai handphonenya. Kemudian mengambil cadangan handphone yang lainnya dilaci kamar tidurnya. Setelah mengambil jaket dan kunci mobil, Sasuke memasuki mobilnya dan pergi meninggalkan rumah menuju rumah sakit.
…..
"Bagaimana keadaanya," Tanya Sasuke begitu sampai di kamar dimana Hinata dirawat.
Itachi segera bangkit dari duduknya yang ada di dekat jendela sambil memegang buku. "Kurasa buruk, dokter mengatakan dia terkena Hiportemia. Sebenarnya berapa lama dia ada dibawah guyuran hujan?" Itachi bertanya sambil mendekati ranjang Hinata. Hinata terlihat masih tertidur lelap.
"Aku juga tidak tahu. Aku membelikanmu kue diseberang jalan dekat rumah sakit," Sasuke menyerahkan bingkisan kepada Itachi lalu memandang Hinata yang masih menutup matanya.
"Lemon," ungkap Itachi yang membuka kue dari Sasuke, sepertinya Sasuke tau kue kesukaan kakaknya.
Setelah itu, dua Uchiha itu memilih diam sejenak. Itachi memilih melanjutkan membaca buku yang tertunda sambil menikmati kue lemon dari Sasuke, sedangkan Sasuke memilih duduk didekat tempat tidur Hinata sambil membaca pesan singkat dari teman-temannya dan sesekali memandangi wajah manis Hinata yang masih tertidur.
Beberapa menit saja duo Uchiha itu menikmati keheningan karena menit berikutnya datang seorang pemuda berambut panjang dengan wajah cemas. Pemuda itu memandangi Itachi dan Sasuke bergantian lalu mengajak berkenalan Sasuke dan Itachi yang segera bangkit berdiri dan mendekati pemuda tersebut.
"Ah, perkenalkan Neji, Hyuuga Neji kakak Hinata," Neji mengulurkan tangannya yang disambut uluran tangan Itachi.
"Uchiha Itachi," Itachi memperkenalkan diri dengan ramah sambil tersenyum.
"Uchiha Sasuke," ucap Sasuke menyambut uluran tangan Neji.
"Ah, maaf jadi merepotkan kalian untuk menjaga adikku. Bagaiman keadaannya?" Tanya Neji cemas memandangi Itachi dan Sasuke bergantian.
Itachi menjelaskan dengan terperinci apa yang dialami Hinata, "Menurut dokter ia terkena Hiportemia, karena terlalu lama dibawah guyuran hujan kemarin ketika pulang sekolah, adikku memberinya tumpangan karena menunggu seseorang didepan gerbang sekolah. Namun ketika sampai dijok mobil, Hinata pingsan, lalu Sasuke membawanya pulang dan tidak mengabarimu karena waktu itu handphone Hinata lowbet. Dan baru tadi pagi Hinata ditemukan Sasuke dikamar mandi ruang tamu pingsan dan segera saja dibawa kerumah sakit. Sasuke menceritakannya padaku dalam perjalanan kerumah sakit," ucap Itachi panjang lebar.
"Dia menungguku, karena waktu itu ada tugas kuliah karena aku mahasiswa baru di sini, makanya banyak hal yang kuurus. Kupikir karena hujan ia akan pulang sendiri, aku berniat menelponnya untuk menyuruhnya pulang sendiri, namun karena hujan sinyalnya jadi putus-putus. Sebenarnya ia memang punya penyakit Hipotermia dari kecil. Sekali lagi terimakasih Uchiha-san," ucap Neji sambil membungkukkan badannya.
Itachi tersenyum ramah, "Tidak apa-apa. Panggil saja aku Itachi dan adikku Sasuke. Oh ya kau mahasiswa baru. Di kampus mana?"
"Universitas Tokyo," ucap Neji sambil mengambil tempat duduk didekat Hinata menggantikan Sasuke yang diam dan bersandar pada pintu.
"Aku juga kuliah disana, kau jurusan apa? Aku mengambil seni dan bahasa. Kuharap kita bisa menjadi teman baik," Itachi masih tersenyum ramah.
"Aku mengambil dokter, kuharap begitu," Neji juga tersenyum menanggapi Itachi.
"Aniki, " Sasuke memanggil Itachi, Itachi menolehkan kepalanya dan menanggapi Sasuke dengan kening berkerut, sebagai pertanyaan 'ada apa'. Sasuke dan Itachi hanya berkomunikasi oleh pandangan mata.
"Baiklah, kalau begitu kami permisi," Itachi melangkah menuju pintu.
"Ah, sekali lagi arigatou. Sering-seringlah menjenguk Hinata," kata Neji yang disambut anggukkan Itachi sebelum menutup pintu dan menyusul Sasuke yang sudah berjalan lebih dahulu.
"Kaa-san ada dirumah, ia mengirimiku pesan," kata Sasuke yang berjalan lebih dulu.
"Baiklah, kita pulang. Kita kerestoran seafood saja, untuk membeli makanan," Itachi mensejajarkan langkahnya dengan Sasuke. Sasuke mengangguk dan menyerahkan kunci mobilnya kepada Itachi.
"Kau saja yang menyetir, aku malas," Itachi hanya tersenyum mendengarnya dan merangkul adiknya menuju mobil.
…..
Pukul dua dini hari, gadis bermata lavender itu menampakkan permatanya. Tangan kanannya yang tidak dipakaikan infuse bergerak pelan menuju kepalanya yang terasa pening. Ia memandang langit-langit ruangan putih yang ditempatinya. Bau obat-obatan sudah menguar didalam ruangan itu, menambah sakit kepala Hinata. Tangannya kembali terkulai, tanpa sengaja ia menyentuh rambut seseorang yang sedang tertidur. Hinata mengalihkan matanya kepada seseorang yang menungguinya ditempat ini.
"Nii-san," desis Hinata seperti bisikan. Hinata kembali menyentuhkan tangannya kepada helaian rambut Neji. Neji yang merasa disentuh segera bangun, dan menatap Hinata senang.
"Hinata, kau sudah bangun," seru Neji segera bangun, kemudian menatapnya dan mengelus rambutnya pelan.
"Niisan, aku dimana?" kata Hinata masih menatap Neji.
"Kau dirumah sakit, Hiportemiamu kambuh lagi. Maafkan aku, karena waktu itu tidak menjemputmu ketika hujan. Kenapa kau tidak pulang sendiri naik taksi," Neji masih mengelus rambut adiknya.
"Aku takut ketika aku pulang, kau akan datang," kata Hinata, ia merasa tak nyaman dengan selang oksigen yang dipasang dihidungnya.
"Tapi, kalau kau sakit begini, aku yang repot," sekarang diwajah Neji masih tersirat gurat kecemasaan akan kondisi adiknya.
"Niisan, aku ingin pulang. Apakah sekarang sudah pagi, bisakah kita pulang sekarang?" Hinata memohon kepada Neji.
Neji melirik jam tangan yang terpasang dilengannya, jam 2 pagi dini hari menampakkan waktunya. Neji mengusap matanya yang masih mengantuk.
"Sekarang masih jam 2 pagi. Hey, kau masih sakit, jika nanti kau sudah sehat kau pasti akan pulang," ucap Neji lembut.
"Tapi, aku ingin pulang, izinkan aku keluar dari rumah sakit ini nanti siang niisan, aku ingin dirumah saja," ucap Hinata keras kepala, sambil berusaha bangkit dari posisi berbaringnya namun gagal.
"Hey, kita akan pulang nanti. Maka dari itu tidurlah sekarang, kau butuh istirahat. Aku akan menemanimu sampai kau terlelap," Neji masih meyakinkan Hinata, dan membenarkan posisi Hinata untuk tetap berbaring.
"Kau janji?"
"Aku janji. Tidurlah Hinata," Neji membenarkan selimut Hinata, lalu mengelus lembut surai indigo panjang milik adiknya. Menyanyikan lagu tidur semasa kecil mereka, membuat Hinata tersenyum lembut lalu menutup kembali permata lavendernya. Lalu euphoria mimpi seketika itu juga mendatanginya.
…
Hinata menatap seorang dokter muda berkacamata yang memeriksanya hari ini. Neji masih setia menunggui Hinata, ia bersandar pada pintu yang tertutup dengan tangan yang dilipat didepan dada. Hinata memperhatikan dokter muda itu memeriksa keadaannya.
"Bagaimana dokter, apa aku sudah boleh pulang hari ini?" Hinata berharap-harap cemas sambil sesekali melirik Neji yang tersenyum.
"Kondisi memang sudah pulih, tapi aku izinkan kau pulang besok?" dokter itu meletakkan steleskopnya kekantung jasnya. Dokter muda itu membetulkan letak kacamatanya yang turun.
"Apa kau merasa baikan sekarang. Kau masih mual?" Tanya dokter itu sambil memeriksa selang infus Hinata yang tinggal sedikit. Hinata menggeleng pelan, ia menatap jendela yang terbuka.
Suara ketukan dipintu mengalihkan perhatian Hinata, Neji membukakan pintu yang menampakkan seorang perawat muda berambut coklat datang membawakan makanan pagi dengan troli.
"Selamat pagi, Nona Hinata," seru perawat itu ramah sambil tersenyum. "Saatnya sarapan pagi," perawat itu membetulkan letak makan Hinata, lalu membantu Hinata untuk duduk, Neji juga membantu meletakkan bantal dipunggung Hinata. Setelah merasa Hinata sudah nyaman, perawat muda itu meletakkan nampan dimeja didepan Hinata.
"Matsuri, nanti kau tolong ganti infus Nona Hinata ya," seru dokter muda itu, lalu memeriksa tabel yang dipegangnya dan menuliskan sesuatu dengan pensilnya.
"Baik, Dokter Kabuto-san," seru Matsuri, ia kemudian mendorong kembali trolinya keluar.
Kabuto tersenyum kepada Hinata, "Oke, sepertinya aku sudah selesai disini. Habiskan sarapanmu dan pastikan dia meminum obatnya Tuan Hyuuga," Kabuto kemudian meninggalkan Hinata dan Neji yang mengangguk sekilas.
Hinata memandangi makanan yang tersaji didepannya. Ya makanan rumah sakit yang tak disukai Hinata, ada nasi, sup ayam, ikan, buah pisang, yogurt rasa strawberry dan segelas jus alpukat. Tak lupa obat-obatan dari berbagai warna dan bentuk. Tersirat rasa tidak suka diwajahnya.
"Ayo makan, atau mau kusuapi," kata Neji sambil menggodai adiknya yang masih belum mau menyentuh makanannya. Hinata menggeleng-geleng pelan.
"Aku tau kau tak suka, tapi kau butuh makanan ini supaya cepat sembuh. Kau mau bertahan disini selama satu minggu lagi, aku bisa pesankan untukmu," Neji masih membujuk Hinata. Hinata menatap Neji memohon.
"Baiklah, aku akan makan," ucap Hinata mengambil sendok dan garpunya, lalu menyendok sup yang rasanya tidak terlalu gurih. "Apakah kau beritahu Tou-san akan keadaanku," ucap Hinata disela-sela makannya.
"Belum, aku tahu kau tidak ingin membuatnya khawatir," ucap Neji yang duduk disebelah Hinata menemaninya makan. "Hah, rasanya aku juga lapar. Aku ingin mencari makanan dikantin dan pulang sebentar untuk mandi dan mengambil baju gantimu. Tak apa kan kutinggal sebentar, aku akan kekampus sebentar untuk mengambil berkas juga," Neji berdiri setelah Hinata mengangguk.
"Hum.. " ucap Hinata tidak jelas karena makanannya masih dimulut.
"Telan dulu, baru bicara."
"Iya, hati-hati Nii-san," Hinata masih melanjutkan acara makannya.
"Setelah itu habiskan obatnya ya," Neji mengecup pucuk kepala Hinata, lalu melangkah keluar setelah Hinata memberikan lambaian tangannya untuk Neji. Hinata masih melanjutkan makannya setelah selesai, ia meletakkan makanannya yang sudah habis dirak disampingnya yang kosong, dilanjutkan dengan minum obat.
Setelah kegiatan paginya selesai, ia hanya tinggal menunggu perawat yang mengambil makanan kosongnya dengan menonton televisi yang tersedia dikamar rawatnya.
….
Siang ini Sasuke berjalan masuk menuju lobby rumah sakit. Ini hari sabtu dan tidak ada kegiatan sama sekali dijadwal kegiatannya dihari sabtu dan Sasuke berniat mengunjungi Hinata yang masih dirumah sakit. Ia berjalan menuju lift yang akan membawanya ke kamar rawat Hinata. Ditangannya ia hanya membawa bunga lily yang disarankan Itachi, sebenarnya Itachi yang memaksa Sasuke untuk mengunjungi Hinata sebagai ganti dirinya. Sejujurnya Sasuke malas, namun karena Itachi memaksa maka Sasuke menurutinya.
Setelah pintu lift terbuka, Sasuke berjalan menuju ruangan dimana Hinata dirawat. Sasuke membuka pintu setelah mengetuk, ia mengira ada Neji karena ada suara televisi yang menyala, namun setelah tiga kali diketuk tidak ada jawaban maka Sasuke memberanikan masuk.
Terlihat jelas televisi yang menyala dan nampak Hinata yang sedang tertidur lelap. Angin yang berasal dari jendela yang terbuka menerbangkan helaian poni Hinata. Sasuke meletakkan bunga itu didekat meja sebelah kanan Hinata yang kosong. Sejenak ia memandangi wajah Hinata yang tertidur lelap, nafas yang teratur saat ia tertidur.
Sasuke memandangi Hinata lama dan dalam, entah mengapa euphoria dirinya membawanya pada bayangan seseorang yang mengisi hidupnya dimasa lalu. Hinata yang bergerak sedikit membuat Sasuke makin memperhatikan Hinata dalam, ia mengambil tempat duduk disebelah ranjang Hinata, ia sentuhkan tangannya kepada pipi Hinata yang membuatnya menggeliat kecil. Sasuke masih bertahan sampai seorang perawat datang untuk memeriksa Hinata. Perawat itu tersenyum memandangi Sasuke, lalu mengerjakan tugasnya menganti selang infus Hinata yang sudah tinggal sedikit, tak lupa mengambil tempat makan kotor yang digunakan Hinata.
"Permisi Tuan," perawat itu membereskan tempat makan Hinata ditroli didepan pintu, kemudian ia tersenyum ramah dan kembali menutup pintu. Sasuke kembali meneruskan kegiatannya memandangi Hinata.
"Kau memang mirip dengannya, tapi kau bukan dirinya," ucap Sasuke terdengar seperti bisikan. Suara getaran handphone Sasuke dikantung celananya membuat Sasuke mengalihkan perhatiannya kehandphonenya.
Sebuah pesan singkat dibaca Sasuke, setelah mengetik beberapa kata dikeyboard, Sasuke meletakkan kembali handphonenya dikantungnya.
"Aku harus pergi," seru Sasuke entah pada Hinata yang masih tertidur. Sasuke berdiri dari posisi duduknya lalu membelai helaian rambut Hinata dan berjalan menuju pintu. Sekilas Sasuke menatap Hinata yang masih terlelap, lalu membuka pintu kemudian berjalan pelan keluar.
Bersamaan dengan itu, Hinata membuka permata lavendernya perlahan, terlihat televisi yang masih menyala. Ia mengalihkan kepalanya kepada pintu yang hampir tertutup dan menampilkan rambut biru dongker yang mencuat. Hinata merasa mungkin itu adalah perawat yang membereskan kamarnya ketika ia tertidur tadi. Ia mengambil ponselnya didekat rak dan terdapat bunga lily putih yang terletak didekat ponselnya.
To Be Continued
Akhirnya Lav menyelesaikan lanjutan fic ini yang kedua setelah Lav menggunakan jurus berpikir selama 42 jam #plak
Hey, Lav ini baru-baru mengalami mimpi indah #readers : "emank gue pikirin"#
Masa Lav mimpi Sasuke nyipok w, Kyaaaa…. #digampar#
Udah deh mending gue bales review para rakyat-rakyat gue ini #digebukan dan diiket kelubang buaya
Hahaha, ampunnnn….
#Hyou Hyouichiffer : Ini saia lanjutkan lageand kalo nggak TBC kepanjangan ceritanya #dikemplang#. Ada apakah cicak dibalik nangka #plak. Sebenarnya saia juga bingung kenapa Sasuke baik sama Hinata #megang dagu. #readers: ''karena lo yang buat pe'a, pake nnya lagi#
Haha, mungkin ada sesuatu kali ya #gaya Syahrini#, ya kita liat saja dichapter-chapter berikutnya.
#SuHi-18 : Yuhuuuuu, SuHi I'm comeback, daritadi juga udah semangat. Makasih semangatnya.
#Hizuka Miyuki : kenapa TBC karena Lav cape nulis panjang-panjang #dikeplak#
#Mikky-sama: Hahaha #garuk-garuk kepala#, i-itu agak miring sedikit nggak papa lah, kan depannya sama pke KD-KD'an juga, hhaha #plak#
#Sand Bary : Siap, laksanakan tuan #dilempar#
#Ica Youichi-chan : Aww, aku juga mau dong dicipok Sasuke #ditodong shot gun#. Iya, iya Nyonya saia updet sudah secepat kilat #nyengir gajah#
#Himeka 'Tri' Princess : Hmm, bagaimana ya #megang dagu#, sebenarnya saia juga masih berpikir #plak#. Makasih sarannya #emank saran# #angkat bahu#
#Lollytha-chan : aduuhh, srasa terbang daritadi dipuji-puji mulu #readers: yang dipuji ficnya bukan lo#. Udah updet nieh
#WhiteBlue Girl : Makasih. Ini saia updet
#Sasuhina-caem : ok, ok, akan saia catat #bergaya ala gak jelas#. Thank you sarannya
#Shyoul lavaen : Saya juga tidak tahu isi hati Sasuke #bawa piso daging#. Sebenarnya sieh dirumah cuman berdua lagi sama Itachi #w juga pngen pindah kesana ah#. Nggak tahu tuh , saia juga heran Neji kemana, sudah tau adiknya keujanan bukannya dijemput #ngomel-ngomel nggak jelas# #digampar Neji#. Iya updet
#Merry-chan : Aku sudah updet.
Yaaa, maafkan semua kelebay-an Lav, hahahah..,
Oke makasih bagi kamu-kamu yang udah review. Ok ditunggu kelanjutannya, see you and bye-bye
