Lav kembali, siapa yang rindu akan kehadiran Lav yang selalu cantik dan harum semerbak setiap hari #digampar bolak-balik
Oh iya, Lav baru nyadar Lav nggak nerusin nie fanfic kapan tau #salah sendiri
Maaf deh kalau pada nunggu, abis ada sekolah sieh, jadi Lav susah mengembangkan ide untuk fanfic karena tugas yang menumpuk, pr , les dll.
Yuk, kita intip resep masakan kita kali ini #di gampar trus ditendang
Yap, lanjut…
L'amore a Colori
Disclaimer : Om Kishi selalu dihati
By : Lavender Orange
Hinata menatap heran Lily putih yang ada diatas rak meja disampingnya. Hinata berusaha bangkit dari tidurnya keposisi duduk, selang infus yang ada dilengannya memberikan sedikit rasa sakit, ketika Hinata bangkit dengan perlahan. Hinata mengambil lily putih itu dan mendekapnya kedadanya, sedikit wangi namun Hinata menyukainya. Lebih bagus daripada mawar merah, Hinata juga menemukan sepucuk kertas yang ada diantara lily-lily putih itu. Hinata mengambilnya dan membacanya.
Aku sengaja memberikan lily putih ini karena mengartikan bahwa
"Aku senang berkenalan denganmu"
Hinata memandang heran surat itu, lalu membolak balik antara halaman depan dan belakang. Namun, sudah berkali-kali dilihat tapi tidak ada nama pengirimnya. Hinata menjadi bingung akan kejadian ini, siapakah gerangan yang memberikannya.
Hinata menyerah karena tidak tahu siapa yang mengirimkannya, mungkin nanti ia bisa bertanya pada perawat atau Neji. Hinata meletakkan kembali bunga itu di atas rak, dan memilih menonton televisi.
Menganti channel televisi terus menerus dan tidak tahu apalagi yang harus ditonton karena semua channel di televisi hanyalah berita dan acara gossip. Hinata menyerah dan meletakkan remot televisi di rak dekat tempat tidurnya. Ia masih memandangi bunga lily putih itu. Menarik, pikirnya, entah karena penasaran akan siapa yang mengirimnya.
Bosan hanya dengan tiduran diruangan rumah sakit sambil menunggu Neji, Hinata memilih untuk duduk dari tidurnya.
Pening.
Itulah yang di rasa Hinata, karena memaksa untuk bangun, akibat hujan-hujannan beberapa hari yang lalu, Hinata harus berakhir sampai ke rumah sakit.
Menyebalkan, tentu itu yang dipikirkan gadis berambut indigo ini. SEharian kerjanya hanya tiduran di tempat tidur dengan ruangan yang penuh dengan bau obat yang menyengat.
Karena tidak mampu menahan rasa peningnya, Hinata kembali menyadarkan tubuhnya ke kasur. Memandangi jam dinding, mungkin adalah hobi baru bagi Hinata, sambil menunggu Neji ia memandangi jam dinding yang berputar 3600 ini. Lama sekali waktu yang harus ditunggu Hinata, menjadi orang sakit memang tidak menyenangkan, lain kali Hinata harus mengingatkan dirinya untuk tidak hujan-hujannan lagi.
Tepat pukul 12, Neji memasuki ruangan Hinata dengan wajah ngos-ngosan.
"Hah, gomen ne Hinata. Banyak sekali yang harus kuurus, makanya kau harus menunggu lama," Neji memasuki ruangan dengan perasaan bersalah, sambil membawa tas yang berisi baju-baju Hinata, serta buah dan makan siang untuk dirinya sendiri.
Hinata hanya menanggapi dengan senyuman saja, "Tidak apa-apa kok Nii-san."
Neji segera merapikan baju-baju Hinata kedalam lemari, dengan Hinata yang masih memperhatikan Neji. Setelah selesai ia meletakkan buah itu di rak samping tempat tidur Hinata. Ia memandang heran bunga lily putih yang ada di situ. Neji memegang bunga itu sambil memandang Hinata dengan alis yang berkerut.
"Oh ya, Nii-san apakah bunga itu kau yang mengirimnya?" Hinata bertanya kepada Neji yang memegang bunga itu.
Neji memandang heran antara bunga lily yang dipegangnya dengan Hinata yang menatapnya dengan bingung. "Tidak, aku malah heran, kenapa bunga lily ini ada disini. Apakah ada yang berkunjung kesini sebelum aku, Hinata," Neji balik bertanya kepada Hinata yang sama-sama menatapnya bingung.
"Ah, mungkin tadi ada yang kemari ketika aku tidur, entahlah aku tidak melihat wajahnya ketika aku bangun, tapi aku melihat rambutnya, seperti warna biru dongker, " Hinata berusaha mengingat kejadian seseorang yang tadi menghampirinya.
"Tapi, aku tidak kenal siapa itu, teman-teman sekelasku tidak ada yang berambut biru dongker seperti itu," Hinata masih bingung akan siapa pengirim bunga misterius itu.
"Apakah mungkin itu… " Neji masih berusaha berpikir, rambut biru dongker, sepertinya dia kenal.
"Ah, itu adalah Uchiha-san, iya benar. Kalau tidak salah namanya Uchiha Sasuke, anak bungsu dari Kel. Uchiha," Neji memandang Hinata dengan wajah sumingrah.
"Kau kenal dengan Uchiha-san," Hinata melongo menatap Neji.
"Iya, dia yang menolongmu ketika kau pingsan, kau harus datang kerumahnya dan berterimakasih ketika kau sembuh nanti Hinata."
Hinata mengingat-ingat pertemuan pertamanya dengan pemuda itu. Wajah dingin, tangan yang selalu diletakkan di kantong celana, tidak ada senyuman, kesan pertama yang tidak menyenangkan. Namun, ternyata pemuda itu baik juga, pikir Hinata.
Mungkin ia harus menghapus semua memori yang menceritakan kalau pemuda itu berkesan sangat tidak menyenangkan. Hinata tersenyum sambil meraih lily putih yang diserahkan Neji.
"Kau sudah makan Nii-san?" Hinata mentap Neji dengan lily putih digenggamannya.
"Belum, sih, tapi aku berniat makan sambil menemanimu dirumah sakit," Neji mengambil tempat duduk dan duduk disebelah Hinata. "Aku tadi membelinya di dekat kampus," ujar Neji sambil menunjukkan bungkusan yang berisi makanan.
"Nii-san, bisakah aku pulang besok saja. Aku bisa dirawat dirumah, aku bosan di sini," Hinata menatap Neji dengan muka memelas.
Neji menunda membuka kotak kardus yang berisi makanan itu. " Nanti aku akan membicarakan dengan dokter."
"Arigatou, Nii-san," Hinata menatap sayang Neji. Neji membalasnya dengan senyuman.
"Kau harus segera memakannya sebelum dingin."
"Ah, iya," Neji kembali membuka makanannya. "Itadakimasu," Neji memasukkan onigiri kedalam mulutnya.
~~Lav~~
Hinata memandang lukisan yang berada dikamarnya. Lukisan yang dibuatnya beberapa hari yang lalu, indah sekali. Hinata rindu sekali akan suasana kamarnya. Lamunannya terhenti karena Neji yang memasuki kamarnya dengan membawa koper berisi pakaiannya.
"Lebih baik, sekarang kau tiduran saja. Aku akan membuatkan bubur untukmu, " Neji meletakkan koper itu disamping lemari Hinata. Hinata menuruti apa kata Neji sebelum kakaknya itu menghilang dibalik pintu kamarnya.
~~Lav~~
Neji memasuki kamar bernuansa lavender itu sambil membawa nampan berisi bubur dan minuman hangat. Ia bersusah payah membuka pintu itu apalagi dengan kedua tangan yang masing-masing memengang nampan itu. Arah pandangannya langsung menuju ketempat tidur adiknya. Namun yang dicari tidak ada, heran dengan kemana Hinata pergi. Neji meletakkan nampan yang berisi makanan itu diatas rak samping tempat tidur Hinata, dan berjalan menuju balkon kamar adiknya itu. Dan benar saja, Hinata ada disitu, dan gadis manis itu sedang melukis lagi.
"Sudah kukatakan kau itu harus tidur, kau itu butuh istirahat. Kau mau sakit lagi," Neji memegang pundak Hinata untuk mengingatkan adiknya itu.
Hinata hanya tersenyum menanggapi perkataan kakaknya itu, tapi tak pandangannya juga tak lepas dari lukisannya itu yang baru beberapa bagian saja. "Aku ingin memberikan lukisan ini sebagai ucapan terimakasih kepada Uchiha-san, habis aku tidak tahu harus memberikan apa," Hinata berhenti sebentar sambil menatap Neji.
"Itu bagus, seperti ucapan terimakasih yang tidak biasa," ucap Neji sambil memandan lukisan Hinata yang baru beberapa bagian saja.
"Apa yang ingin kau lukis?"
"Langit sore ini mungkin, mataharinya indah sekali hari ini," Hinata meresapi cahaya matahari yang menyinari wajah cantiknya.
"Nii-san, kapan kita akan kesana, bisakah kau cari alamatnya, kalau disekolah aku tidak berani."
"Itu urusan mudah, aku akan tanya pihak sekolah. Mungkin lusa kau bisa datang, itu mengartikan kalau kau harus sembuh dulu sekarang," Neji mengusap pucuk kepala adiknya itu dengan sayang.
"Arigatou."
"Yasudah, aku ingin mengerjakan tugas dulu. Habiskan buburmu lalu minum obatnya, oke," Neji mencium pucuk kepala Hinata setelah itu pergi meninggalkan adiknya itu dalam kesunyian. Hinata hanya tersenyum sambil melanjutkan lukisannya kembali.
~~Lav~~
Hinata memandang rumah megah yang ada dihadapannya. Wah, menajubkan, pikirnya. Apalagi matahari sore tepat mengarah kepada rumah besar ini. Dihadapan Hinata rumah ini seperti berkilauan, seakan-akan terdapat banyak emas yang terbuat dari rumah ini.
Rumah ini besar sekali bergaya ala Yunani kuno dengan patung-patung dewa dewi Yunani kuno yang pernah dilihatnya di internet. Di pintu pagar depannya saja sudah ada dewa Helios, dewa matahari yang berada disamping pagar rumah Kel. Uchiha.
Seorang maid berseragam datang menghampiri Hinata yang sendirian datang kerumah ini tanpa kehadiran kakaknya Neji. Ya Neji tiba-tiba dipanggil dosennya dikampus karena ada urusan yang belum selesai, dan dengan berat hati Neji harus membiarkan Hinata pergi sendirian lagi.
"Maaf, anda siapa?" tanya maid itu ramah.
"Saya Hyuuga Hinata, maaf tadi didepan tidak ada penjaga, saya juga tidak menemukan bel jadi saya masuk saja kemari. Saya ingin mencari Uchiha Sasuke, apakah dia ada," tanya Hinata malu-malu sambil menunduk.
"Oh, Tuan Muda ada diatas. Mari saya antarkan, sini saya bawakan bawaan anda," maid itu segera mengambil lukisan Hinata yang dipegang gadis Hinata. Mereka berdua berjalan menuju pintu depan rumah tersebut sambil berbincang ringan mengenai masalah wanita biasa.
Suara dentingan piano mengalir lembut seiring dengan berjalannya Hinata dan maid itu menuju pintu depan. Lembut sekali seakan air mata Hinata siap menetes jika mendengarnya memainkan lagu itu dengan not yang lebih menyentuh hatinya lagi. Suara denting piano itu semakin nyaring seiring berjalannya Hinata menuju pintu depan. Hinata menatap maid berambut cokelat itu, yang dibalas dengan senyuman yang masih sama. Maid berambut biru itu segera membuka pintu depan, dan terlihatlah ruang tamu yang megah dan juga sebuah piano putih yang sedang dimainkan oleh pemuda yang sudah menolong Hinata dua kali. Pemuda itu belum menyadari kehadiran Hinata yang menatap takjub padanya yang masih asyik memainkan piano itu dengan nada yang masih sama.
"Permisi, Tuan Muda, ada yang ingin bertemu dengan Anda?" Sasuke menghentikan permainan pianonya dan menatap HInata yang melihat dengan wajah tak percaya dan maid itu.
"Kau boleh pergi Matsuri, tinggalkan saja kami berdua. Dan juga bawakan kami minuman," Sasuke menyuruh maid yang bernama Matsuri dengan tegas, Matsuri mematuhi perintah itu. Dia meletakkan lukisan itu disamping meja ruang tamu dan segera pergi ke dapur.
Hinata masih memandangi pemuda yang sudah berdiri dan menatapnya dengan tajam. Merasa diperhatikan seperti itu, Hinata jadi malu.
"Ahh, arigatou atas pertolongan Uchiha-san yang sudah menolongku dua kali," ucap Hinata malu-malu.
"Hnn," hanya kalimat itu yang keluar dari mulut Sasuke.
"Kau tidak perlu berdiri lama-lama, lebih baik kau duduk," ucap Sasuke yang seperti perintah sambil duduk dikursi yang tak jauh dari Hinata.
"Ah, dan aku juga membawa ini sebagai hadiah ucapan terimakasih, aku tidak tahu harus memberikan apa se bagai ucapan terimakasih, " Hinata menyerahkan lukisan yang dibawanya kepada Sasuke, kemudian duduk.
Sasuke memperhatikan lukisan yang dibawa Hinata, ia tidak bisa menyangkal bahwa lukisan ini sangat bagus, namun karena egonya yang terlalu tinggi, ia tidak mau memuji karya Hinata yang bagus.
"Tidak buruk," ucap Sasuke masih memperhatikan lukisan matahari senja yang hanya dibalas senyuman puas oleh Hinata.
Dua manusia yang berada diruangan yang sama ini, bukanlah pembuat suasana yang menarik. Keahlian yang sama yaitu tidak suka membuat keributan dan lebih senang tidak membuka suara satu sama lain, membuat ruangan yang lega ini menjadi lebih sunyi. Sasuke yang masih memperhatikan Hinata dari atas sampai bawah dengan tatapan tajamnya dan Hinata yang diperhatikan mengalihkan pandangannya pada ruangan yang berisi lukisan serta benda interior lainnya yang sangat megah diruangan ini. Keheningan itu sirna setelah datang Matsuri membawakan teh hangat untuk kedua orang itu. Hinata akhirnya tersenyum lega untuk sementara karena memang daritadi ia gugup diperhatikan oleh Sasuke. Namun ternyata Matsuri tidak bisa berlama-lama, ada tugas yang harus dikerjakan. Setelah menghidangkan teh itu ia buru-buru meninggalkan ruangan setelah mengucapkan beberapa patah kata.
Hinata meminum teh itu sambil menatap Sasuke yang masih memperhatikan dirinya. Karena tidak ingin membuat suasana semakin sunyi saja, akhirnya Hinata memulai pembicaraan yang sangat biasa sekedar basa-basi.
"Uhmm, kau tinggal sendiri disini Uchiha-san?" tanya Hinata ragu-ragu.
"Tidak."
"Lalu, dimana keluargamu?"
"Kenapa kau harus tau," jawab Sasuke dingin.
"Uhm, gomen," Hinata menunduk, ia jadi bingung kalau sudah begini. Apalagi yang ia harus bicarakan agar suasana ini tidak semakin hening.
"Ah, Uchiha-san…"
"Sasuke."
"Apa?"
"Panggil aku Sasuke, tidak usah pakai nama keluargaku."
"Ah, gomen Sasuke-kun," Hinata merasa bersalah lagi.
Teh yang dihidangkan Matsuri sudah habis diminum oleh Hinata, suasana hening itu kembali tercipta. Hinata hanya melirik-lirik piano putih yang ada dibelakang Sasuke.
"Kau sudah lama bermain piano Sasuke-kun?" ucap Hinata malu-malu kembali membuat suasana menjadi tidak hening.
"Tidak juga," jawaban singkat dan padat dari Sasuke yang masih bersikap dingin.
"Sejak kapan kau mulai bermain piano?" Hinata merasa ingin mengetahui soal piano yang ada diruangan itu.
"Kau mau keliling rumah?" tawar Sasuke yang seolah-olah tidak ingin menjawab pertanyaan gadis yang ada dihadapannya.
Hinata hanya mengangguk dan mengikuti Sasuke yang berjalan lebih dahulu kepintu kaca yang menghubungkan ruangan itu dengan ruangan lain yang lebih terbuka. Cahaya matahari mulai menyinari tubuh mereka berdua, ketika mereka mulai masuk. Hinata merasa tubuhnya bermandikan cahaya matahari, sedaritadi senyumnya tidak berhenti tampak diwajah manisnya. Mereka berjalan ketempat yang lebih terbuka lagi, kolam renang yang besar mulai tampak ketika mereka memasuki ruangan yang lebih terbuka lagi. Namun, bukan itu tujuan Sasuke membawa Hinata keluar ke halaman rumahnya. Mereka menaiki anak tangga yang tidak terlalu banyak, begitu sampai Hinata tidak bisa hanya berdiam diri saja. Seakan takjub dengan pemandangannya yang begitu indah, terlihat bukit yang dibelakangnya ada kota Tokyo yang indah, matahari sebentar lagi akan kembali ke peristirahatannya, jadi seperti melihat matahari terbenam dari balik bukit ini.
Tidak ada kata-kata yang bisa keluar dari mulut Hinata, gadis ini benar-benar takjub. Baru pertama kali ia melihat matahari terbenam dari tempat yang begitu indah, berlatar belakang kota Tokyo yang luas, ia tak bisa menggambarkan yang lebih indah daripada ini di memorinya. Bermandikan cahaya matahari Hinata menyaksikan matahari terbenam, setelah matahari itu terbenam, saat itu juga lampu warna-warni mulai mewarnai kota Tokyo, seperti magic. Hinata tidak menyadari Sasuke yang berada disampingnya, seakan-akan hanya ia sendiri yang ada ditempat itu. Sasuke hanya diam memperhatikan Hinata, memikirkan sesuatu yang Hinata tidak tau.
Langit semakin gelap, angin juga semakin berhembus kencang.
Dingin.
Itu yang menyadarkan Hinata akan lamunannya tentang dirinya dan Sasuke. Ia melirik pemuda itu yang masih meneruskan pandangannya kedepan, ia merasa tidak tahu diri karena mengabaikan sang pemilik rumah.
"Sudah puas?" tanya Sasuke yang masih mengarahkan pandangannya pada kilauan cahaya lampu kota Tokyo.
Hinata menggaruk kepalanya yang tidak gatal. "Iya, arigatou."
"Aku sudah tau," Sasuke berjalan duluan yang diikuti Hinata kembali kedalam rumahnya.
"Bagaimana kau tahu?" Hinata bertanya dengan polosnya.
"Lukisanmu," Sasuke menatap Hinata. Hinata tersenyum membalasnya, ia tidak menyangka ternyata pemuda dingin yang ada dihadapannya sangat baik.
"Kenapa kau tersenyum begitu?"
"Ah, tidak. Aku tidak menyangka kau sangat baik."
Sasuke melipat tangannya ke dada sambil terus berjalan cepat meninggalkan Hinata yang masih tersenyum memandanginya.
Hinata menyadari kalau dirinya semakin tertinggal jauh dari Sasuke, ia semakin panik karena Sasuke sudah menghilang dibelokan. Hinata berlari mengejar Sasuke, kolam renang itu menjadi tempat yang sial bagi Hinata. Terlalu berlari cepat, ia tak bisa menghindari lantai yang licin dari air kolam renang.
Byuurr
Air yang dingin segera menerpa tubuh gadis ini. Tidak bisa berenang adalah hal yang sulit bagi Hinata untuk keluar dari kolam renang ini. Nafasnya sesak, bagaimana kalau ia mati disini, hanya itu yang ada dipikirannya. Namun semua itu sirna setelah ada yang memeluk pinggangnya dan membawanya kepermukaan. Menariknya kepinggir kolam, masih dalam penguasaan kesadarannya, Hinata memperhatikan siapa yang menyelamatkannya. Sasuke.
Tentu saja, karena ini adalah rumahnya. Hinata jadi merasa sungkan karena sudah ditolong pemuda ini tiga kali. Sasuke segera mengangkat tubuh Hinata kepinggir kolam, angin dingin segera menerpa tubuh gadis ini. Hinata merasa tubuhnya mati rasa.
"Hinata, kau bisa mendengarku," Sasuke memegangi pundak Hinata yang memperhatikan dirinya.
"Dingin," ucap Hinata dengan suaranya yang bergetar.
Sasuke bangkit dan mengambil handuk yang memang sudah tersedia dikursi santai yang ada didekatnya. Secara gentleman Sasuke memeluk Hinata setelah membungkus tubuh gadis itu dengan handuk.
"Hinata kau baik-baik saja," tanya Sasuke masih memeluk Hinata.
"Aku merasa mati rasa, disini dingin sekali," Hinata masih menatap Sasuke yang memeluknya.
"Lebih baik kita kedalam."
"Tapi, aku merasa tubuhku mati rasa," ucap Hinata yang masih diam.
Sasuke tidak bisa berdiam diri lagi, ia tidak mau membuat gadis ini sakit lagi. Satu-satunya hal yang ada dipikiran Sasuke untuk membuat panas tubuhnya mengalir sedikit kedalam tubuh Hinata adalah…
Menciumnya.
Segera saja, Sasuke mencium Hinata, gadis itu hanya diam tak percaya.
To Be Continued
Ditunggu review dari kalian yaaa….
