Saya putuskan untuk langsung meng-apdet dua chapter, dan lihat apa respon pembaca semua. Please enjoy.

Please come now I think I'm falling
I'm holding on to all I think is safe
It seems I found the road to nowhere
And I'm trying to escape
I yelled back when I heard thunder
But I'm down to one last breath

Sad eyes follow me
But I still believe there's something left for me
So please come stay with me
'Cause I still believe there's something left for you and me
For you and me for you and me

- One Last Breath, Creed

Pandangan Naruto dengan perlahan terbuka. Sepasang mata sebiru lautannya menerawang langit-langit ruangan tempatnya tengah berbaring saat ini. Pertamanya ia memang tidak menyadarinya, tapi bau alkohol khas rumah sakit ini memang sudah tidak aneh lagi.

Sudah berapa kali aku pulang pergi tempat ini, ya?—bisik Naruto dalam batinnya. Namun bedanya, dulu dia tidak perlu menunggu lebih dari semalam untuk keluar. Dan juga tubuhnya tidak perlu merasakan rasa nyilu dan perih seperti ini.

Naruto merasakan lengannya tertusuk oelh jarum, dan tetes demi tetes darah membuat telinganya kembali focus. Transfusi darah?—lanjut bisiknya. Dulu aku tidak pernah menerima darah dari luar. Chakra Kurama memberikan pasokan zat besi sehingga pembentukan darahku akan terus bergerak ketika dibutuhkan.

"Kurasa . . . aku hanyalah manusia normal kini."

Naruto mendengar suara tarikan dan hembusan napas yang ebgitu lembut dan berirama. Siapapun dia, mungkin ialah yang menyelamatkanku. Si pemuda kali ini mengarahkan kedua matanya pada sosok berbalut selimut yang duduk di atas kursi. Sosok itu tengah terlelap selagi kepalanya menggantung sedikit di atas dada.

"Shizune-oneechan?"

Mata Naruto terbuka sepenuhnya—ia 'pun meraih kesadaran penuhnya. Naruto melirik jam yang tergantung di dinding tepat dihadapannya. Pukul empat pagi.

"Ngh . . . Naruto-kun?" Shizune mengucek satu matanya, berusaha memperhatikan pemuda di hadapannya. " . . . Oh, syukurlah kau tidak apa-apa, Naruto-kun. Aku khawatir lukamu sangat parah."

Naruto menyentuh sisi perutnya yang terkoyak. " . . . Aku pikir, aku sudah tidak apa-apa, neechan. Tapi, dimana ini?"

"Apartemenku. Kau terbaring tak berdaya di depan tengah malam tadi." Shizune meletakkan satu telapaknya pada bahu Naruto, menatap si pemuda dengan tatapan lembut berbalut kecemasan. "Apa yang terjadi?"

"Tidak ada. Hanya misi. Aku lengah. Dan terluka seperti ini . . ."

Shizune menghela napas panjang. "Kau seharusnya bersyukur tidak apa-apa. Dan orang bodoh macam apa yang mengambil misi tanpa rekan satu tim? Kau bertindak yang tidak-tidak, Naruto-kun. Bagaimana kalau terjadi sesuatu yang lebih berbahaya daripada ini padamu?"

"Neechan, kau terlalu berlebihan,"

"Aku tidak berlebihan. Kau pikir sudah berapa banyak rekanku yang tewas dalam misi." Shizune menggeleng, beranjak berdiri. "Kau tidak akan percaya jumlah yang akan kusebutkan nantinya."

Shizune melangkah menuju meja singel tempat ia meletakkan beberapa tumbuhan dan obat-obatan perawatan. "Tunggu sebentar, ya. Akan kubuatkan teh herbal untukmu."

Naruto menerawang wajah Shizune yang hanya tersinari pancaran samar-samar rembulan pagi hari. Tidak begitu kentara memang, namun wajah putihnya nampak bersinar dengan cerah. Perempuan dewasa tersebut menampilkan pesona nyata yang selama ini belum pernah dirasakan Naruto dari Shizune sebelumnya.

Yaah, bisa dari banyak kemungkinan. Mungkin Naruto yang dulu masih seorang bocah ingusan; atau, bisa juga karena sinta yang Naruto miliki dulu hanyalah sejenis cinta monyet yang tidak serius. Tapi, Shizune-oneechan yang saat ini tengah tersenyum selagi mengaduk ramuan teh nampak begitu berbeda.

Kedua mata ebony itu, juga rambut sebatas tengkuknya yang begitu indah dan wangi. Bahkan dari tempat Naruto kini terbaring saja dapat tercium wangi ekstrak lidah buaya dari shampoo Shizune.

Mungkin saja Shizune adalah 'orang' yang Naruto cari? Bisa jadi. Tapi kebapa datangnya tiba-tiba seperti ini?

Wajah Naruto merona. Dengan cepat ia mengalihkan tatapan dengan menutupnya dengan satu tangan. 'Jangan bercanda,'—batinnya. Umur kami saja berbeda delapan tahun.

"Minum ini." Shizune kembali duduk di kursi sisi kasur, menyerahkan segelas teh yang kini aromanya telah memenuhi rongga hidung Naruto. "Agak pahit, tapi aku sudah mencampurnya dengan madu."

Setelah mencoba duduk, Naruto menerimanya. Ia mengendusnya. Naruto tidak suka yang pahit-pahit. "Wanginya harum, 'kan?" tanya Shizune. Naruto mengangguk setuju, terkejut akan wangi aroma herbal yang sedap ini. "Cicipi." lanjut Shizune.

Naruto menyeruputnya. "PAHEIIITTTT!"

"Shhh. Masih pagi, tahu." Shizune mengarahkan satu jari telunjuknya ke bibir dan mendesis. Ia tersenyum geli melihat tingkah Naruto. "Kau bisa membangunkan tetangga lainnya, Naruto-kun."

Namikaze muda itu membuka mulut, dan menjulurkan lidahnya selagi kedua mata dan alis matanya seolah menyatu membentuk garis 'X'. Shizune ingin tertawa semakin lepas melihat ekspresi khas Naruto itu, tapi ia mencoba menahannya.

"Pa-pa-pahit banget, neechan . . ." belum menarik kembali lidahnya, Naruto menyerahkan gelas tersebut. "Mana madunya—aku tidak merasakannya? Ogah, ah. Pahit."

"Minum." perintah Shizune, mendorong tangan Naruto yang berusaha mengembalikan teh herbal tersebut. "Kau tahu, yang pahit adalah yang terbaik. Teh herbal itu diambil dari gunug katak sendiri. Sangat langka, 'loh. Mendapatkannya saja sulit. Setelah meminumnya tubuhmu akan kembali segar."

"Ti-tidak, 'ah. Aku 'ga suka pahit, Shizune-oneechan . . ." rengek Naruto.

Shizune menajamkan kedua matanya, menatap Naruto dengan tatapan angkernya. "Minum." perintahnya, datar. Ia mempelajari itu dari Tsunade-sama.

Keringat dingin mengalir disekujur tubuh Naruto. "B-baik," keteteran, ia membalas. Seruput sedikit, Naruto kembali mengernyit. "P-pahiiit~" desisnya dari balik napas.

Shizune mengelus rambut Naruto, tersenyum menghanyutkan. Namun kedua alis matanya mengkerut, nampak tidak tega. "Maaf, ya. Ini yang terakhir, aku janji. Bagaimanapun juga tubuhmu kehilangan banyak darah. Fisikmu sedang lemah. Jadi aku mau kau menurutiku dulu hanya untuk saat ini. Ya, Naruto-kun?"

Wajah Naruto kembali merona. Apa Shizune-oneechan memang secantik ini?

Naruto menggeleng dengan kaut. "Maaf. Aku seperti anak kecil, ya Shizune-oneechan?" ia bertanya selagi menatap permukaan teh.

"Tidak apa-apa 'kok sekali-sekali. Semua pasti pernah bertingkah seperti anak-anak." ia tersenyum lembut, berusaha menghangatkan suasana. "Antara kau dan aku saja, Tsunade-sama sering merengek jika melihat dokumen-dokumen yang sudah menumpuk di mejanya."

Naruto tertawa dengan ringan. "Kalau itu aku tahu. Dasar Tsunade-obaachan."

"'Nah, kalau begitu diminum dulu tehnya."

Walau sedikit ragu, Naruto menahan napas dan menelan teh tersebut dengan cepat. Ia tidak ingin kelihatan seperti anak-anak di depan Shizune untuk kedua kalinya. Kedua matanya berair. Naruto meneteskan air mata saking pahitnya teh yang barusan menerobos tenggorokannya.

Si pemuda tersenyum seolah memenangkan kontes shinobi terbaik dunia. Senyuman kemenangan atas segalanya. "Heh, bukan apa-apa." senyumnya berubah kecut, saat kedua alisnya mengerut.

"Aku tahu, aku tahu." Shizune yang masih tersenyum memberikan Naruto segelas air mineral. Sepeti tadi ia menenggak teh tersebut, Naruto 'pun dengan cepat menelan air ini. Dia hanya berharap rasa pahit membunuh di lidahnya ini menghilang dengan cepat.

"Mm, apa ini? Madu? Gula?" Naruto menjilat bibirnya, menerka-nerka 'rasa' unik yang mengisi air mineral barusan.

"Cuma resep khusus. tidak usah dipikirkan." setelah meletakkan ekdua gelas itu, dia kembali menatap Naruto yang masih duduk di atas kasur tepat dihadapannya. "Bagaimana perasaanmu?"

"Hangat . . . dan segar," kedua mata Naruto terbuka lebar. "Aku . . . aku seperti bisa berlari mengelilingi desa Konoha sebanyak yang kumau!"

Mendengar Naruto yang berseru keras, Shizune kembali meletakkan telunjuknya pada bibir. "Shhh. Sudah kubilang kau bisa membangunkan tetangga kalau berteriak."

Naruto tertawa konyol dengan ciri khas mata sipitnya. "Oh, ya Naruto-kun. Tsunade-sama belum mendapatkan info mengenai apakah kau akan ikut pada liburan mulai dari dua hari lagi."

Mood Naruto menghilang. "Oh, itu. Ke pantai itu, 'kan?" Shizune mengangguk, belum menghilangkan lekukan lembut pada bibir. "Kau ikut, Shizune-oneechan?"

"Tentu saja. Tsunade-sama memaksaku. Jadi karena kondisi dunia shinobi tidak seberbahaya dulu, mungkin aku akan sangat menikmati liburan ini." Shizune kembali menatap kedua mata biru Naruto. "Lupakan itu. Bagaimana denganmu?—atau mungkin kau bisa menemui Tsunade-sama langsung, Naruto-kun."

"Aku? A-aku ikut, 'donk!" Naruto tersenyum lebar. "M-masa' kesempatan seperti itu dibiarkan lepas begitu saja! Lagipula baachan pasti sudah berniat untuk menyiksa kita dengan misi setelah liburan, jadi kenapa tidak dinikmati saja. Ha ha ha."

"Tentu saja." Shizune mengangguk. "Haah, atau jangan-jangan Tsunade-sama menyimpan setumpuk dokumen untuk kukerjakan?—dan karena ia sudah memberikan kita liburan, dia bisa menyiksa kita nantinya?"

"Itu terdengar seperti baachan banget, Shizune-oneechan." Naruto tersenyum lebar, tertawa akrab bersama dengan murid pertama Tsunade tersebut.

Naruto menelan gumpalan di tenggorokannya diakrenakan keheningan yang tiba-tiba menyerang mereka. Satu garis lurus keringat mengalir dari sisi keningnya. Janutngnya berdegup cukup kencang. Apa-apaan ini?—tanyanya. Kenapa ia merasa deg-degan berada bersama Shizune-oneechan? Sosok yang sudah ia anggap seperti kakak sendiri.

"Berarti, karena liburan, kita diperbolehkan membawa kekasih atau semacamnya donk, ya Shizune-oneechan?"

"Hm, kau pikir begitu? Mungkin 'sih, mengingat sifat Tsunade-sama," Shizune tersenyum geli, berniat mengisengi Naruto. "Hayoo, mau bawa siapa? Hinata-kun, ya?"

"Tidak, 'kok. Tidak bawa siapa-siapa. Lagipula gosip itu tidak benar." Naruto mengayunkan tangannay di depan wajah. "Aku dan Hinata hanya bersahabat. Dia gadis yang baik—aku menyukainya."

Oh tentu saja, batik Shizune. Naruto 'kan mencintai Sakura, dan Sakura-nya sendiri kini . . .

Shizune merendahkan tatapannya, tidak berniat mlanjutkan diskusi. "Kalau Shizune-oneechan?—mau bawa pacarnya, mungkin?"

Wajah Shizune merona. Ia mengangkat wajahnya hanya untuk dibuang seketika dari tatapan Naruto. "A-apa yang kau katakan, Naruto-kun? J-jangan bercanda. Aku mana punya-"

Naruto ingin tersenyum lega ketika mendengarnya. Tapi apa benar? Shizune memang kelihatan selalu sendirian saja, tapi . . . "Bohong. Aku . Tidak . Percaya." dengan nada main-main, Naruto melirik seniornya.

"S-sudah cukup, Naruto-kun. Aku hanya akan membawa barang-barangku untuk pergi liburan—dan kau bisa pergi tidur sekarang, atau aku mau-mau saja memberikanmu teh herbal lebih banyak lagi."

Shizune memejamkan mata, dan mengomel balik. Ia segera berdiri, dan berpaling dari ruangan. "Waa, Shizune-oneechan, aku cuma bercanda 'kok. Su-sudah cukup teh-nya—aku sudah segar!"

Shizune berbalik, tersenyum jahil. "Aku tahu, 'kok." ia berbalik sepenuhnya pada daun pintu. "Aku sudah menyelesaikan semua pengobatanmu, dan kau bisa tidur lagi sekarang. Jika semua berjalan dengan benar, setelah bangun nanti kau akan kembali ke sedia kala. Berkat tingkat regenerasimu yang walau berkurang, tapi masih memberikan sedikit efeknya pada tubuh."

"Terima kasih, neechan."

"Tidak usah dipikirkan." mereka saling tatap untuk beberapa detik. " . . . Baiklah, kalau begitu selamat tidur, Naruto-kun."

"Kau juga, Shizune-neechan."

Tubuh Naruto terhempas di atas kasur. Ia tidak tahu apa yang terjadi pada dirinya, tapi, apa mungkin dia menyukai Shizune? Tiba-tiba seperti itu begitu saja?

. . .

Tapi, Shizune-oneechan benar-benar cantik. Wanginya juga harum—aku bisa menciumi baunya seharian. Kalau Kurama masih ada, dia pasti akan menertawakanku. Tapi, aku serius, entah kenapa—Shizune-oneechan nampak begitu sedap di mataku. Bibirnya juga kelihatan empuk dan lembut—lipgloss itu, tanpa lipstick yang menor kelihatan begitu pas di wajahnya.

Muka Naruto kembali membara. Bagaimana kalau . . .

Naruto mengarahkan tangannya pada 'Naruto Jr.' yang sudah menegang sedari tadi di balik selimut. Ia menyusupkan satu tangan dari lingkar pinggang celana panjang oranyenya.

"Melihatnya saja sudah membuatku . . ." bisik si pemuda. Naruto bahkan terkejut Shizune tidak menyadari 'barang' milik Naruto yang sudah berdiri tegak. Untung saja ia mengenakan celana dalam di balik boxer. Dua pelindung melindungi Naruto dari tingkah yang memalukan. Tidak mungkin dia membiarkan Shizune melihat ada gunung tercipta di sela-sela selangkangan Naruto.

"Urgh . . . Shizune-oneechan~" Naruto menggeram, merasakan cairan hangat menutupi punggung tangannya. Sial, sudah berapa bulan aku tidak ejakulasi?—tanyanya, hampir tidak percaya.

Pemuda berambut pirang itu menatap langit-langit kamar tamu Shizune. Dia tersenyum—merasakan tantangan dan kesempatan yang amsih menunggunya di masa depan. "Sepertinya liburan ini akan menyenangkan, bukan begitu Naruto?"

Ya. Naruto berpikir, Shizune mungkin seseorang yang ia cari selama ini—yang sebenarnya untuk dirinya.

~Bersambung


A/N: Saya belum tahu apa yang akan terjadi pada fic ini, tapi jelas akan ada unsur dewasa disini. Saya tidak akan memakai kata2 limun atau semacamnya, karena ffn sedang gerebek besar2an. Saya akan apdet secepat yang saya bisa, jadi silahkan reviewnya :)

see you again.