You Silent Readers, I hath know what thou hath read. And why thou review me not? My traffic Stats do always lied me NOT.
Yah, singkat kata, jika kamu baca, jangan lupa review-nya. Karena ga ada yang tahu kapan fici ni kehabisan bahan bakarnya. Jadi kalau mau baca terus, silahkan tinggalkan review untuk memacu semangat penulis.
And I won't make love to you
And I feel love, feel love
Jailhouse gets empty
Rudy gets plenty
The baton stick gets shorter
Rudy gets taller
Can't fight against the youth
Cause we're strong and they're the rude rude people
Can't fight against the youth
Cause we're strong and the rude rude people
We gonna rule this land among children
We gonna rule this land
Cause when that rhythm it was playin' on my guitar
On my guitar
I had to be there
I had to be there
I had to be there
I had to be there
Oh when I was a youth it was the best day
It was the best day of my life
We had the eighty nine vision
We didn't fuss or no fight
When all the little daughters wanna be my wife
When that rhythm, it was playin' on my guitar
On my guitar
- Jail House, Sublime
"PANTAI!"
Rock Lee berlari ke sudut yang lain dari air laut dangkal. "LAUTNYA BEGITU BIRU! SEBIRU SEMANGAT MUDAKU YANG TAK PERNAH PADAM!"
Kiba menyusulnya dari belakang. Jika Lee mengenakan pakaian renang one-piece aneh berwarna cobalt lautan, dilain pihak Kiba mengenakan speedo berwarna hitam pekat yang melingkari pinggangnya. "Oi, Lee-san. Guy-sensei sepertinya mabuk laut 'tuh."
Lee membalik, mengepalkan tangannya di depan wajah. "Masa muda tidak menunggu siapapun, Kiba-kun!" Lee berlari ke arah lautan luas, berteriak dengan lantang. "Guy-sensei akan kembali sebelum kau menyadarinya sama sekali!"
Dengan itu, Kiba melihat seniornya menghilang kebalik ombak bergulung. "Apa dia bisa berenang?"
Tanya Neji, berjalan ke sebelah Kiba. Si jenius dari klan Hyuuga itu memilih boxer putih sebagai penutup bagian bawah tubuhnya. Kiba mengalirkan keringat di sisi wajahnya. "OI, oi. Jangan bercanda, Neji-san."
"Guk Guk!"
Kiba mengelus kepala anjing setianya. "Oo. Tentu saja. Kita berenang sekarang, Akamaru! Yahoo!"
Melihat Kiba dan Akamaru yang juga kelihatan enerjik, Neji menghela napasnya. "Dasar, kumpulan orang bodoh." Sasuke melipat tangannya. Jenius dari Uchiha itu mengenakan kemeja Hawaii dengan kancing yang dibiarkan terlepas keseluruhannya, dan sepasang speedo putih.
"Jangan bilang begitu, Sasuke-kun. Setelah sekian lama, bukankah ini kesempatanmu untuk kembali berbaur."
Sasuke tersenyum tipis terhadap komentar seniornya itu. "Kau terdengar seperti si Naruto, Neji-san."
Neji tersenyum balik membalasnya. "Hm, dia mempengaruhi semua orang dengan enerji positifnya yan gsnagat kuat."
"Apa, 'sih. Kau jadi ikut juga, Naruto?" di sudut lain, Shikamaru membenarkan letak ikatan rambutnya, berjalan ke arah Naruto yang saat ini mengenakan boxer berwarna jingga. Shikamaru mengenakan celana ¾ beserta kaos oblong. Sepertinya dia tidak punya niat untuk pergi berenang sama sekali.
"Ha! Memangnya tidak boleh!" seru balik Naruto, sedikti emosi.
"Naruto, aku bawa kripik singkong. Kau mau?"
"Oo, thank you Chouji." menerima tawaran itu, pemuda berambut jingga itu menyabet sekantong plastik besar kripik singkong.
Shikamaru merangkul pundak Naruto dan Chouji secara bersamaan, menarik mereka ke sudutan di bawah pohon palem panjang yang menjorok ke arah laut. "Ada apa denganmu, Naruto?"
"Ada apa denganku—apa maksudmu, Shikamaru?" mengunyah kripiknya, Naruto membalas. "Aku tidak apa-apa. Kecuali terluka pada misi dua hari yang lalu."
"Karena itu kutanya," lanjut Shikamaru, mendekatkan wajahnya ke Naruto. "Sejak berminggu-minggu yang lalu kau menghindari kami. Tapi, semenjak dua hari yang lalu kau tiba-tiba nongol seperti kau yang dulu lagi."
Naruto tersedak. Shikamaru menyadarinya—berkat instingnya yang tajam.
Disini Naruto berpikir bahwa belum saatnya dia bercerita kepada siapapun tentang perasaan 'aneh' yang dimilikinya terhadap Shizune. Apalagi kepada Shikamaru. Ocehan tiada hentin darinya adalah hal terakhir yang Naruto harapkan. "S-sok tahu kau, Shikamaru! Me-memangnya orang tidak boleh mencari suasana lain apa?"
"Sakura, 'kan?"
Naruto mengangkat sebelah alis matanya, menatap sahabatnya dengan heran. "Sakura-chan? KEnapa pula dengan Sakura-chan?"
"Kau menghindari kami lantaran kau ingin menjau hdari Sakura. Bukan begitu, Uzumaki-san?" Shikamaru menatapnya dengan lurus; selagi Chouji terus mengunyah kripik yang sedari tadi ia comot dari bagian milik Naruto (punyanya sudah habis).
"Sakura menemui kami, Naruto." ujar Chouji, menelan sisa kripik di mulutnya. "Kau tahu, sepertinya dia mencemaskanmu, 'loh."
"Oh, ya? Sepertinya aku merasa senang mendengarnya, Shikamaru, Chouji." Naruto berdiri dengan tegak, terlepas dari rangkulan Shikamaru. Dua dari sahabat terdekatnya itu tahu makna sarkas dari kata-kata Naruto barusan. "Dengar, Shikamaru. Aku tidak pernah marah kepadanya, dan kupikir hubunganku dengannya baik-baik saja."
"Tapi kau tetap menjauhinya."
"Hei, itu urusanku, ok? Aku hanya ingin berpikir seorang diri dulu." selak Naruto.
Shikamaru melipat kedua lengannya di depan dada. "Merepotkan sekali . . . Tapi, Naruto, kau tetap harus menemuinya. Bicarakan 'satu, dua hal' dengannya. Itu akan membuat hubungan kalian berdua 'lebih' baik-baik saja."
Naruto melontarkan pandangannya ke berbagai sudut penjuru pantai. Mencari keberadaan seseorang. "Oi, kau dengar aku?" memasang wajah datar bosannya, Shikamaru kembal mengimbau.
"Iya, iya. Aku 'ngerti. Taku, Shikamaru, kau seperti ibuku saja ketika menasehati."
Naruto berlalu dari mereka berdua, berjalan menuju sudut lain dari pantai. "Mau kemana, Naruto?" seru Chouji, dengan kantong kripik milik Naruto di tangannya.
"Menemui orang."
Shikamaru memanyunkan bibir sambil mengangkat sebelah alis matanya. "Ada yang mencurigakan. Sudah kuduga: dia sedang puber." Shikamaru menjulurkan tangannya ke depan, penuh akan ketidakpercayaan. "Lihat dia—dia bahkan tidak bisa menutupi tindak tanduk mencurigakan itu."
Chouji tertawa bersahabat. "Dasar, Shikamaru. Kau memikirkan terlalu banyak." raut temannya menenangkan Shikamaru. Si jenius dari Nara itu 'pun mengambil sebatang rokok dari saku dan membakarnya. Membiarkan masalah Naruto menjadi miliknya sendiri.
Shino berdiri di balik batu karang tempat Naruto, Shikamaru, dan Chouji barusan berdiskusi. "Hm, sepertinya memang ada yang aneh dengan Naruto. Tapi . . ." Shino merunduk, membenarkan posisi kacamatanya. "Sepertinya mereka semua lupa keberadaanku . . ."
-o0o-
"Hyaaa, sudah kuduga!" Ino melonjak kesenangan, menggaet lengan Hinata. "Dada Hinata memang yang paling besar diantara kita."
Masing-masing dari mereka kini tengah berganti pakaian menuju setelan renang mereka. Hinata, Ino, dan Sakura mengenakan two-piece swimwear set sementara Tenten tampaknya sudah cukup puas dengan swimsuit one-piece dengan corak bunga mataharinya. Bra renang milik Sakura bermotifkan bunga sakura sendiri; Ino ingin tampil beda dengan mengenakan swimwear G-String yang pastinya akan menarik mata; dan Hinata—niatnya tidak ingin menampilkan tubuh alih-alih kena paksa Ino untuk mengenakan bra dan bawahan bermotif garis-garis.
"I-Ino-san, ini memalukan . . ." Hinata, merundukkan kepala membalas balik. Dia kemudian menyembunyikan wajah merah padamnya dibalik kedua telapak tangan.
"Hora, Ino buta*! Sudah cukup." Sakura menarik lengan Ino dari Hinata, membuat teman dari kecilnya itu berdiri sejajar dengan Sakura serta Tenten.
*buta: babi
"Tapi benar, 'loh kata Ino, Hinata. Kau memang sangat cantik." Tenten, sebagai yang paling besar diantara mereak berempat tersenyum lembut ke arah Hinata. Sang ahli senjata itu melangkah, dan merangkul bahu Hinata dengan lembut. "Jadi siapa? Naruto? Kiba?"
"Eeh, a-apa maksudmu, Tenten-san?" tanya hinata keteteran, sebagaimana dirinya yang biasa.
"Iya, 'kan. Hinata memang selalu imut." seru Ino, melompat-lompat dengan langkahnya ke arah Hinata. Dia 'pun ikut merangkulnya. "Katakan saja—hanya diantara kita berempat, 'kok. Lagipula apa yang kau segani 'sih, Hinata?" lanjut tanya Ino. "Kau cantik—aku juga punya body yang sangat seksi."
Mendengar itu, Ino tersenyum jahil, sementara Tenten tersenyum maklum. Melihat Hinata yang semakin mabuk akan rona merahnya, Tenten kembali memotong. "Baiklah, kalau begitu. Mumpung sedang disini, ini adalah kesempatan bagus! Bukan begitu, Sakura?"
"E-eh? I-iya, benar. Kalau soal Naruto serahkan saja padaku, Hinata. Aku mengenalnya seperti aku mengenal diriku sendiri!" seru Sakura, semangat.
"Bu-bukan begitu maksudku . . ." masih merunduk, Hinata sudah tidak bisa menjawab apa-apa lagi.
"Kalian sedang apa? Tidak ingin berenang?"
Mata empat sekawan itu terbelakak dengan lebar—sangat lebar hingga mereka tidak percaya.
"Aku tahu, dada Tsunade-sama sangat besar . . . Tapi," Ino menelan ludahnya, berbisik kepada teman-temannya yang lain. Ia memastikan bahwa wanita yang dimaksud sepuluh meter di depan sana tidak mendengarnya. "Tapi, jika melihatnya 'terbuka' seperti ini membuatku tidak heran bahwa dia bisa menggaet ratusan lelaki."
Sakura menelan ludahnya, teresnyum kikuk. "Ha ha, kali ini aku harus setuju denganmu, Ino."
"Ah, dasar gadis-gadis hijau. Tidak tahu cara menikmati hari yang 'indah' seperti ini!" wanita yang satu lagi mengangkat kedua tangannya ke udara, meregangkan tubuhnya.
Satu sosok lagi melompat dari belakang Tsunade. Jika Tsunade mengenakan swimwear minim yang hanya menutupi sedikit bagian tubuhnya, Anko Mitarashi 'pun juga tidak mau kalah. Bedanya hanyalah pada warna bra dan bawahan mereka. Jika Tsunade mengenakan yang berwarna caramel, Anko mengenakan yang berwarna maroon. Apa mereka membeli pakaian seksi itu bersama-sama?—bisik keempat sahabat.
"Ara, Hinata. Kenapa wajahmu memerah seperti itu?" kali ini mata mereka terbelakak melihat tubuh Kurenai yang tidak kalah seksinya dengan Tsunade maupun Anko. Jounin tim Kurenai itu menggenggam tangan mungil putranya, Yukimura Sarutobi. "Ayo, Yuki-chan," ujarnya lembut kepada si anak.
Secepat mereka datang, secepat itu pula mereka pergi ke arah pantai. Tsunade dan Kurenai berjalan seperti biasa; dan Anko melonjak-lonjak tidak sabar untuk berenang—atau 'mungkin', memamerkan tubuhnya kepada grup pria.
Sakura, Ino, Hinata, dan Tenten terdiam (dan ternganga), tak bisa berkata apa-apa melihat tubuh-tubuh dynamite itu.
"Jika ada yang bisa kita kalahkan . . . mungkin hanyalah Shizune-san." bisik Ino, menampilkan kilauan jahat dari matanya. "Shizune memang tidak punya dada, tapi dia punya bokong yang cantik."
Mendengar itu, Hinata merasa tidak kuat mendengar lagi. Tenten mengangguk setuju, dan Sakura, walau ragu-ragu juga merasa setuju.
Ino mengepalkan tangannya. "Urgh, persaingan ketat!" ia malangkah ke balik batu karang raksasa, dan memanjatnya.
"Apa yang kau lakukan Ino buta?" tanya Sakura, tidak habis pikir dengan itngkah sahabatnya yang satu ini.
"Berisik kau, jenong!" seru balik si rambut pirang pucat. "Aku aku memata-matai ukuran Shizune-san."
Tenten mengangkat kedua bahunya. "Kupikir menjadi 'normal' adalah yang terbaik."
"A-aku setuju, Tenten-san." ujar Hinata, nampak terbakar semangatnya. Mungkin dia sendiri merasa risih dengan tubuh montoknya.
Tiga gadis sisanya terkejut mendengar sedakan napas Ino dari atas batu. "Ada apa, Ino?" tanya Tenten.
"Shi-Shizune-san . . . ber-ber-ber . . ."
"Ngomong yang jelas, Ino buta!" hardik Sakura, menyilangkan lengannya.
"Dia bersama NARUTO!" Ino berbalik, menatap ketiga temannya. Wajah penuh horror ditunjukkannya.
Sakura dan Tenten mengangkat sebelah alis mata. "Haa?" seru mereka bersamaan, sementara Hinata menahan napasnya.
-o0o-
"Kau sebaiknya ikut berenang bersama mereka, Sasuke."
Pemuda yang dimaksud menolehkan wajahnya. Dia duduk di atas pohon palem yang menjorok dengan terjal ke arah laut, membuatnya dapat duduk di sisi batang utama. Sasuke menyadari suara si pemanggil, dan itu membuatnya tidak perlu terkejut lagi. "Heh, bukan bagianku, Anko."
"Apa? Kau masih menutup dirimu?" Anko tersenyum, bertegak pinggang.
Sasuke ingin mengalihkan wajahnya dari Anko—tapi, sial, kenapa wanita ini harus mengenakan pakaian renang yang buka-bukaan seperti itu. Sasuke akhirnya berpaling, berusaha menahan gejolak 'junior'. "Bukan urusanmu, wanita."
"Apa itu—apakah aku melihatmu merona barusan, Sasuke?"
" . . . Berhenti menggodaku, wanita. Aku sedang tidak mood." Sasuke menggaruk belakang kepala berambut acaknya sambil memejamkan mata.
"Apa baju renangku ini mengganggumu?—Kalau begitu kau bisa pergi ke tempat teman-temanmu, atau mungkin kau lebih ingin kutemani disini?" Anko tersenyum keji dan licik. Dia ingin melihat Sasuke bergabung bersama dengan Kiba, Lee, Neji, dan Chouji di air. Dia ingin melihat, seperti apakah senyuman Sasuke ketika bermain. "Oh, baiklah. Aku akan duduk di sebelahmu dan melihat seberapa kuat semangatmu untuk terus menyendiri seperti ini."
Tangan Sasuke bergetar, mengepal di atas pahanya. Anko begitu wangi—apa ini?—batin Sasuke, chrysanthemum? Grhg, kenapa aku tidak diperbolehkan duduk dengan santai saja! SENDIRIAN! "Kau meminta terlalu banyak, wanita!"
Dengan itu, Sasuke melangkahkah kakinya besar-besar ke arah lautan. Mendengar kata-kata Anko berikutnya, ia terhenti. Namun kemudian Sasuke semakin kelabakan mempercepat jalannya—hingga membuatnya berlari kencang. "Kalau kau ingin 'menyendiri', nanti malam akan kutemani sampai pagi."
-o0o-
Naruto berguling di bawah payung raksasa yang menutupi sengatan matahari secara langsung ke kulitnya. Dengan alasan karpet lipat yang cukup nyaman, ia memperhatikan pekerjaan Shizune. "Ne, neechan, 'kok tidak bersenang-senang seperti yang lainnya?"
Shizune tersenyum, merapihkan beberapa dokumen yang sempat ia bawa tadi di dalam tas kepaknya. "Hm, mungkin seperti inilah kalau kau sudah bekerja nanti, Naruto-kun."
"Aku sudah bekerja, 'kan? Shinobi. Bekerja. Bertarung. Mencari uang. Seperti itu?"
"Aku tahu itu, Naruto." Shizune mengelus rambut pirang Naruto. "Tapi, kau akan merasakannya juga nanti. Yaah, dalam dua-tiga tahun ini mungkin. Bekerja dibalik mejar, uh, membosankan." Shizune tersenyum geli dengan sikap kekanakannya sendiri. Tapi apa yang ia katakan barusan memang benar. Lihat saja Godaime-sama. Saking bosannya, ia sampai merencanakan liburan dua minggu ini.
Walau wanita itu tidak menyadarinya, tapi Naruto begitu menikmati waktunya bersama dengan Shizune. Hanya dengan belaian pada rambut saja membuatnya merasa senang berada bersama si perempuan yang 'sedikit' lebih tua tersebut.
Tidak, lebih dari itu malahan. Hanya dengan tidur-tiduran tidak jelas seperti ini, dan juga ngobrol tentang suatu hal yang hampir tidak jelas pangkal pemula dan tujuannya sudah membuat Naruto betah berada bersama dengan Shizune.
Tapi, apakah Shizune juga begitu?
Naruto terdiam. Tubuhnya miring ke arah Shizune selagi tiduran. Ia menatap wajah 'si kakak' dengan intens. Shizune mengenakan jaket tudung, dan sepasang celana pendek se-paha.
Apa aku jatuh cinta pada, Shizune-neechan?
Senyumannya begitu lembut. Apalagi ketika dia tertawa. Kenapa aku merasakan ada yang berbeda dari dirinya?
Mungkin aku juga merasakan hal yang sama terhadap Sakura-chan dulu, tapi . . . Entah mengapa, perasaan ini berbeda. Apakah ini cinta? Tapi . . . dia 'kan lebih tua—tapi juga, lihat saja Sakura-chan dan Kakashi-sensei. Hubungan mereka mungkin memang masih rahasia, tapi mereka kelihatan akur. Paling tidak itu dari sudut pandanganku . . .
"Neechan, siapa saja rekan kerjamu yang ikut?—'Yang' pria maksudku."
Shizune sedikit ternganga mendengar pertanyaan Naruto. Ia mengangkat bahunya sedikit, kembali mengingat. "Hm, coba kuingat sebentar. Genma, Aoba, Raidou. Lalu Kakashi-senpai, Guy-senpai, Anko-senpai, dan Kurenai-senpai. Memangnya kenapa?"
Hm,-Anko dan Kurenai-sensei harus kucoret, bisik Naruto didalam hatinya. Mereka perempuan. Lalu Guy-sensei nampaknya tidak tertarik dengan perempuan dan tidak punya minat ke arah sana; Kakashi-sensei juga bersama Sakura-chan. Sekarang tersisa Genma, Aoba, dan Raidou.
HNGH! Tunggu sebentar. Kalau aku tidak salah dengar dari baachan, mereka bertiga berada pada satu tim yang sama dengan neechan. Hm, sepertinya aku harus memperketat penjagaanku terhadap neechan.
" . . . Naruto-kun, ada apa? 'Kok bengong seperti itu?" Shizune melenyapkan lamunan Naruto, mengembalikannya ke dunia nyata. Wanita itu tersenyum, kembali kepada kerja kilatnya. "Aku tidak mengerti kenapa kau bertanya seperti itu,"
"Ah, tidak. Aku hanya ingin tahu berapa banyak sensei yang pergi. Ha ha ha."
Naruto kembali memperhatikan wajah lembut Shizune, dan tersenyum panjang ketika melihat Shizune melakukan sedikit kesalahan ketika men-sortir dokumen. Shizune memarahinya, bilang: 'kalau tidak ada kerjaan, bagaimana kalau bantu-bantu sedikit!'. Naruto 'pun meng-iyakannya. Semakin lama waktunya terpakai dengan Shizune, semakin sedikit resiko perhatian Shizune terpecah kepada pria lainnya.
Dari sudut batu karang sejauh kurang lebih 50 meter, Ino, Sakura, Hinata, dan Tenten menahan napas mereka. Merasa tidak percaya dengan kedekatan Naruto dan Shizune. Sementara di batu karang yang berada di belakang mereka berdua, tiga sosok orang juga tengah mengintip.
Sai mengeluarkan peralatan menulisnya. "Senyum malu-malu; tatapan yang dalam; dan juga semburat merah itu." Sai mengangguk, seolah berdiskusi dengan isi kepalanya sendiri. "Ya. Dia jatuh cinta keapda Shizune-san"
Shino membenarkan letak kacamata, menajamkan kedua alismatanya. "Hm. Menarik, Naruto. Sangat menarik."
Satu sosok lagi adalah orang-orangan sawah berambut perak yang tidak lian dan tidak bukan adalah Kakashi Hatake. "Buat aku bangga, Naruto. Buat Jiraiya-san bangga." Kakashi mengeluarkan buku keramat turunan Jiraiya, Icha Icha Tactics. "Sepertinya ini saatnya menurunkan buku pusaka ini kepadamu."
~Bersambung
A/N: Kekacauan macam apa yang akan mereka bawa ke pantai? Stay tune on the next instalment! Please comment and critic :) Mari sebarkan cinta lewat pojok REVIEW!
