Terima kasih buat reviewers karena udah mau memberikan masukan. Khususnya kepada yang review menggunakan akun. Saya ingin membalasnya, tapi wewh, lagi males. Popoknya enjoy aja dulu ya. Semua macam masukan, termasuk kritikan selal usaya terima. Dan mengenai saya yang menggunakan ( . . . ) ketimbang (…) adalah preference pribadi, alias cuma gaya tulis peribadi. Dan mengenai lirik lagu, itu juga cuma iseng. Dari sini ga 'kan ada lagi mungkin.

Btw, saya tahu loh chapter2 sebelumnya banyak mistypo. Itu karena saya ga ngecek ulang sebagaimana saya biasa lakukan sebelum publish fic. So yah, begitu malas ;)

Enjoy. Naruto © Kishi

~Night 1, 19.34

"Selamat makan!"

Malam pertama para ninja menginap di pantai Okina, suatu pantai pulau terpencil di selatan Negara Angin. Jika kita berbicara mengenai penginapan, pastinya kita akan membicarakan makan malam bersama.

Singkat kata, para ninja makan seperti biasa. Kecuali beberapa pasang mata yang menatap Naruto dan Shizune dengan raut mencurigakan. Terutama empat gadis muda dari Konoha 13 (Termasuk Sasuke dan Sai, tentu saja).

Walau tidak percaya, tapi itulah yang ditampilkan.

Entah mengapa Naruto bertingkah seperti anak kecil di dekat Shizune. Walau Shizune kelihatan tidak ingin mengobrol, tapi tetap saja Naruto bisa membawa topik baru untuk mereka bicarakan. Nampak natural, 'sih memang. Mungkin berkat beberapa tahun kedekatan yang telah mereka jaln semenjak Naruto kecil dulu. Dari umur berapa?—12 tahun mungkin. Dan sekarang, di usianya yang sudah menginjak 19, hubungan itu tidak kunjung memudar sepertinya.

"Ne, neechan." himbau Naruto, memperlihatkan satu pamflet mengenai spot bagus bagi para turis untuk menikmati matahari tenggelam di pulau/pantai Okina (ya, nama pulau dan pantainya sama). "Sepertinya tempat ini lumayan juga. Bagaimana menurutmu?"

Shizune menelan satu potongan kecil tempura di mulutnya, lantas melirik pamflet yang ditunjukkan pemuda pirang itu. "Hm. Bagus juga." Shizune mendekatkan wajahnya pada Naruto. "Sebaiknya kau mengajak Sakura-kun atau Hinata-kun ke sana."

Sakura, Ino, dan Tenten (dari sudut meja besar yang lain) mengangkat satu alis mata mereka. 'Apa mereka berdua membicarakan kita?'—tanya mereka masing-masing di dalam hati. Hinata hanya tidak sanggup melihat kedekatan itu. Mugnkinkah diantara mereka berdua?

Naruto, jujru saja merasa terpukul mundur. Padahal niatnya adalah ingin mengajak Shizune-neechan kesana, tapi orang yang dimaksud malah menyarankan Naruto mengajak teman perempuannya yang lain. Tidak ingin kelihatan begitu mencurigakan, Naruto berdarlih (umrunya sudah 19; berbohong sudah tidak sulit lagi, bukan begitu?). Dia berbisik balik. "Er, baiklah. Tapi, kalau aku ditolak, neechan harus pergi denganku. Bagaimana? Deal?"

Shizune mengeluarkan bisikan 'Eh~!' yang cukup kentara. Dia berbisik balik. "Kenapa kau jadi mengancamku, Naruto-kun?" mendesahkan napas menyerahnya, Shizune mengangguk setuju. "Baiklah. Karena sisa tugas-tugasku sudah selesai, aku akan menemanimu. Tapi, aku yakin salah satu dari mereka akan mau. Mungkin Hinata-kun."

Naruto tersenyum riang, kembali ke posisinya santap malam (tepat disebelah Shizune). 'He he. Aku tidak akan mengajak salah satu dari mereka. Besok pasti akan menyenangkan, berdua saja dengan neechan.' Naruto membisiki dirinya sendiri, tersenyum seperti rubah ciri khasnya.

Shikamaru memiringkan mulutnya sedikit, menggigit sumpitnya dengan sumpit. Dia berbisik: 'Apaan, 'tuh?' Shikamaru menajamkan kedua matanya. 'Sudah kuduga si Naruto itu . . .'

Sasuke masih menyuap nasinya, memejamkan kedau matanya. 'Dasar si bodoh. Apa dia pikir tingkahnya itu tidak mencurigakan. Paling tidak, Shikamaru, Kakashi, Sai, Shino, dan aku sudah menyadarinya.' Sasuke membuka matanya, mencomot yakiniku lain dari pemanggang. Dia suka yakiniku, FYI. ' . . . Jadi, dia suka Shizune itu. Kenapa, situasinya mengingatkannya kepada diriku sendiri? Sial. Awas saja kalau ai Anko sampai membocorkannya.'

Tsunade menepuk tangannya. Wajahnya nampak memerah; jelas, dia mabuk berat. Untuk santap malam, para ninja Konoha mengenakan kimono khas hotel-hotel Jepang tanpa terkecuali. "Aku yakin kalian semua menikmati liburan kalian. Kita masih punya waktu dua minggu lagi, jadi tidak usah ragu untuk menikmati hari-hari kalian di sini."

Setelah mengucapkan kata-kata ketuanya, Tsunade 'pun pingsan dikarenakan mabuk beratnya. Wajahnya memerah padam. Senyuman bodohnya keluar. Dasar, sudah judi kalah terus, mabuk 'pun tidak kuat. Sebaiknya dia menghentikan hobi buruknya sekarang juga.

"YOSH!" Guy-sensei yang nampaknya sudah kembali 'hidup', mengangkat kakinya ke meja. "Karena kita sudah selesai makan, bagaimana kalau berendam bersama-sama di onsen!"

"Ide bagus, Guy-san!" seru Aoba, ikut berdiri.

"Aku ikut." Raidou juga berdiri dari sebelah Aoba.

Naruto berani bersumpah Shizune beradu pandang dengan Genma. 'Ap-ap-ap . . . APA-APAAN INI!' teriak Naruto di dalam hatinya. Ia menepukkan kedua tangannya di pipi, memperlihatkan ekspresi horror.

Shizune tersenyum maklum, mengangkat kedua bahunya kearah Genma Shiranui—salah satu anggota regu tetapnya. Genma membalas senyumannya, ikut berjalan menyusul Guy, Aoba, dan Raidou ke arah onsen. Naruto berusaha bersikap normal—walau apapun maksud dari gerak tubuh mereka berdua. Tapi tubuhnya meneteskan berember-ember keringat . . . B-bagaimana kalau neechan dan Genma itu . . .

"Ne-neechan-"

"Naruto-kun, aku akan mengantar Tsunade-sama ke kamarnya." potong Shizune, mengangguk dan tersenyum kepada ninja pirang juniornya itu. "Seharian ini kau menemaniku, 'kan; bagaimana kalau sekarang kau ikut Guy-san ke onsen?"

Baru berniat menjauhkan Shizune dari rekan-rekan sekelompoknya, rencana Naruto kini gagal—melebur menjadi abu. Dia 'pun terdiam tak berdaya—mematung di tempatnya duduk.

Jelas saja, keempat gadis seumurannya menyadari itu. Mereka meninggalkan Naruto yang kembali melanjutkan makannya dalam hening. Hinata merasa mau tidak mau mengikuti teman-temannya, namun tengan Ino menggenggam pergelangannya, menariknya untuk ikut bersama mereka.

"Oi, Naruto. Kau sedang apa? Makananmu sudah habis, tahu! Apa juga yang kau suap itu?" Kiba berdiri, bertegak pinggang. Naruto menggerakkan sumpitnya naik turun, dari piring ke mulut, namun tidak ada yang dia makan. Kelihatan bodoh sekali. "Kita akan ke onsen, kau ikut, 'kan?"

" . . . Y-ya, aku menyusul nanti."

Sasuke menyadari lirikan dari Anko yang berusaha bangkit dari duduknya. Sasuke berpura-pura tidak melihatnya. Namun, dari raut wajah Anko, ia merasa tahu apa yang harus dilakukannya. Tapi, dia merasa malas dengan ini. Sasuke hanya mengangkat kedua bahunya, meletakkan piring yang berisi saus yakiniku.

"Oi, Naruto." Sasuke menempelkan lengannya di pintu geser yang menuju ke taman di luar aula makan. Dia menggerakkan jarinya, memberi perintah pada Naruto untuk mengikutinya.

Sasuke berjalan di depan Naruto (yang ogah-ogahan mengikutinya). "Jadi, katakan padaku," mulai Sasuke, bersender pada pagar menuju taman hijau penginapan. "Sejak kapan kau menyukai Shizune?"

Naruto melompat. "Waks, ap-apa yang kau katakan Sasuke brengsek?"

Sasuke membuang tatapannya, Naruto tidak pernah berubah. Begitu mudah ditebak. Sasuke mengayunkan tangannya. "Kau kira aku tidak bisa menebaknya? Aku bisa membacamu, semudah aku mengayunkan tanganku seperti ini."

"Apa, 'sih. Kau bergaya seperti orang keren begitu." Naruto merunduk. Walau sempat terkejut, tapi melihat Shizune tersenyum ke arah Genma itu seperti sebuah isyarat pada Naruto, bahwa dia memilik 'pesaing'. "Du-dua hari yang lalu . . . Saat aku pulang terluka dari misi, neechan menyembuhkanku di rumahnya. Lalu entah mengapa, aku melihatnya dari sudut yang berbeda."

"Dengar, ya Naruto. Aku kesini tidak untuk memberikanmu solusi. Aku hanya ingin tahu." Sasuke mendengus. "Itu masalahmu, dan harus kau sendiri yang menyelesaikannya."

"Khuh, dasar makhluk berhati dingin. Aku tidak percaya Itachi punya adik sepertimu."

"Ap—wa?" raut Sasuke membuat Naruto tertawa.

"Ya. Itachi adalah pria yang baik." Naruto menjulurkan lidahnya. "Kalau dia pasti mau membantu, tapi kau tidak pedulian sama orang lain."

"Biar kupotong lidahmu, si bodoh!" Sasuke meraih leher Naruto, mencekeknya hingga terjatuh di tanah.

Naruto memukul-mukul lengan Sasuke, lidahnya terus melewek keluar. "Time out! Time out, Sasuke!"

Sasuke melepaskannya, menyender pada pagar. "Haah, berurusan denganmu selalu membuatku naik pitam. Anko sial—!"

Sasuke dengan segera menutup mulutnya. Tidak dengan tangan, tapi dia berdoa membuat mulutnya mingkem tanpa disadari oleh si Naruto sediktipun. Sial, sumpah sasuke di dalam hati. Raut Naruto itu malahan seolah mengatakan kalau dia mendengar semua kata-kata kelepasan yang barusan diucapkan Sasuke. "Apa? Matamu itu,"

Naruto tertawa seperti rubah. "Searusnya aku yang bilang begitu, Sasuke. Anko? Kenapa dengan Anko?"

Sasuke menutup mulut sahabatnya. "Jangan kencang-kencang, bodoh. Kau bisa menjatuhkan harga diriku!" Sasuke berbisik sambil menyumpel mulut Naruto.

"Kenwapa pwula?" tanya Naruto dari balik napasnya, dari balik tangan Sasuke yang menutup mulutnya. "Akwu pwikir witu bwiasa swaja. Lwihat akwu!"

"Aku tahu, bodoh. Aku tahu." Sasuke melepas tangannya, kembali menyender pada pagar, duduk disebelah Naruto di atas lantai kayu. "Tapi, itu si Anko yang . . ."

"Siapa yang peduli. Yang jelas, kau menyukainya, 'kan?—bukan, kau senang berada bersamanya, 'kan?"

Sasuke membiarkan mulutnya ternganga sedikit, berharap Naruto ingin melanjutkan kata-katanya. "Aku senang berada di dekat Shizune-neechan. Bukankah itu yang membuatmu nyaman berada di dekat perempuan yang kau suka?"

Sasuke memilih untuk tidak menjawab pertanyaan Naruto. " . . . Aku benci logikamu, Naruto."

-o0o-

"Hinata!" Kiba menghampiri gadis yang diimbaunya.

"Kiba-kun. Bukannya tadi kau ikut Guy-sensei ke onsen?" si gadis membalikkan tubuhnya, menatap sepasang mata berpupil tajam milik Kiba.

"Aku keluar dengan cepat. Kacau sekali di sana; apalagi dengan Guy-sensei juga Lee-san." jawab Kiba, mengelus kepala anjing setia yang terus berada di sisinya. "Lalu, bagaimana seharian ini—kau senang?"

Hinata tersenyum lembut ke arah rekan sekelompoknya—sahabatnya dari dulu. "Menyenangkan. Walau Ino-san seperti biasa, agak memaksa."

Kiba menghela napas dalamnya. "Ah, aku tahu. Anak itu terlalu banyak memerintah."

Kiba lalu teringat tujuannya dari awal sebelum kesini: MELIHAT HINATA DENGAN BIKINI! Ehhm,—Kiba mendehemkan tenggorokannya, berusaha menghapus rona merah di kedua pipi berlambang khas Inuzuka. Akamar menggigit tangannya—mungkin dia tahu, tuannya berpikir tidak senonoh terhadap Hianta. Bagaimanapun juga, Hinata sudah sangat dekat dengan anjing yang dulunya hanya sebesar kepala ini.

"AdaW!"

"K-Kiba-kun," kejut Hinata, meletakkan seglas air mineralnya di meja terdekat. Ia lantas memegang tangan Kiba. "Ada apa, tidak biasanya Akamaru menggigitmu?"

Kiba terdiam. Dia tahu alasannya, tapi lebih memilih untuk tidak mengatakannya. "Ha ha ha, bukan masalah besar. Ya, 'kan Akamaru?" Kiba mengedipkan sebelah matanya, mengelus kepala Akamaru. Si anjing lalu meminta maaf dengan mengusapkan kepalanya di pha Kiba yang hanya tertutup mantel onsen.

"Mumpung bertemu, apa besok kau mau sparring pagi seperti biasa, Hinata?" tanya Kiba, tersenyum yakin. "Bukan berarti karena liburan kita akan bersantai-santai saja, bukan?"

Kiba sebenarnya tidak peduli dengan liburan ataupn bersantai-santai. Dia hanya ingin memiliki waktu berdua saja dengan Hinata. Selal begitu daridulu. Bahkan ketika perhatian Hinata hanya tertuju pada Naruto dan Naruto seorang. Alasannya adalah . . . AKAN DICERITAKAN LAIN WAKTU, karena, Hinata mengangguk dengan imut—menurut pendapat Kiba. Si gadis tersenyum lembut seperti yang biasa dia berikan kepada Kiba. "Hm, besok pagi. Jam setengah enam seperti biasa, 'kan Kiba-kun?"

Kiba membalas anggukannya. " . . . Anu, Hinata,"

"Ya?" kelihatan tidak malu sama sekali (seperti yang selalu ditunjukkannya kepada Naruto), Hinata membalas tatapan Kiba.

Kiba menggaruk kepalanya. " . . . Ada kemajuan dengan Naruto?"

"Err, itu . . . Anu, itu . . ." dia TIBA-TIBA berubah malu, batin Kiba. Dia lupa kalau beginilah Hinata jika membicarakan Naruto. "K-Kiba-kun, anu, maaf bila merepotkan tapi . . . Bisa kita bicara sebentar? Sebentar saja . . ."

Tentu saja mau, tapi Kiba memiringkan kepalanya. Ia kelihatan bingung dengan tindakan sahabat masa kecilnya.

-o0o-

"Katanya para pria pergi ke onsen? Kenapa sepat sekali kembalinya, Neji?"

Neji melap sisa-sisa basah rambutnya pada bagian belakang. Dia tersenyum tipis ke arah Tenten yang kini juga hanya mengenakan piyama ikat khas hotel. "Aku dan Kiba-kun keluar dengan cepat." Neji menggelengkan kepalanya, kembali mengingat kehebohan macam apa yang ditimbulkan para pria. "Kau tidak akan percaya kalau kuceritakan tentang Guy-sensei dan Lee yang 'terlalu' aktif di sana."

"Neja baka." Tenten tersenyum geli, melihat ekspresi terkejut si pemuda yang jarang diperlihatkan jika bersama orang lain. "Kalau tidak begitu, berarti bukan Guy-sensei dan Lee, 'kan namanya?"

"Oh, ya Tenten," menatap si gadis. "Kalau kuingat-ingat lagi, sepertinya kalian berempat sedang disibukkan denga nsesuatu, ya?"

Bahu Tenten terangkat ke atas. "B-bukan hal yang penting, 'kok."

" . . . Aku tidak masalah jika kita membicarakan hal yang tidak penting sekali-sekali." jawab Neji, membenarkan duduknya di sebelah Tenten. Bulan di atas sana bersinar dengan sungguh terang. Melihat ukiran-ukiran yang ada pada dataran bulan selalu menjadi aktivitas iseng Neji jika sedang senggang. Dia kemudian melirik Tenten yang rautnya berubah sedikit merah padam. "Hm, kau kenapa Tenten?"

"T-tidak. Err, Neji, sudah pernah belum, ya kalau aku bilang wajahmu sangat cocok jika disinari rembulan seperti ini?"

Kedua mata Neji, untuk sekali lagi terbuka. Namun dia tersenyum, tersenyum akan sifat si gadis yang selalu blak-blakan. Sifat polos seperti ini adalah satu sisi lain Tenten yang cukup membuat Neji tertarik. "Hm, aku suka kata-kata puitismu Tenten. Mungkin kau bisa menjadi penyair suatu hari nanti?"

Wajah Tenten semakin membara padam. Bukankah seharusnya laki-laki yang menggunakan kata-kata puitis. Tenten memukul bahu Neji dengan niat bermain-main. "Seharusnya kalian yang mengucapkan itu kepada perempuan! Kalau begitu, aku ingin mendengar balasanmu, Neji."

"Baiklah . . . Biar kupikir sebentar," Neji memangkukan jarinya pada dagu, nampak berpikir keras. Dia melirik wajah Tenten yang belum hilang ronanya. "Rambutmu begitu cantik, bagaikan kepala maskot tikus dari negeri luar*."
*Maksud Neji Mickey Mouse

Tenten melongo. Mulutnya terbuka lebar, berusaha memilah apakah kata-kata Neji barusan berupa pujian atau lelucon.

-o0o-

~Night 1, 21.48 pm

"Apa!" Naruto berseru. "Kenapa wajah kalian sepertinya senang semua!"

Naruto menunjuk ke arah Kiba, Neji, dan beberapa yang lain. Lee sepertinya nampak begitu puas bersenang-senang dengan gurunya, selagi Chouji nampak masih keliahatan mengunyah kue-kue kering tradisional milik hotel. Namun Kiba dan Neji keihatan puas dengan ibarat kata yang lain.

"Apa yang kau bicarakan, Naruto?" keluh Kiba, menyiapkan futonnya. Akamaru sudah berbaring disebelahnya. "Bukankah sebaiknya kau yang mulai membicarakan semuanya."

"Kiba-kun benar." Neji menyilangkan tangannya, duduk di atas futonnya yang telah rapih. "Aku dan Tenten—m-maksudku, aku mendengar kalau kau punya rahasia, Naruto."

"A-apa maksudmu, Neji?" tanya Naruto, kelabakan.

Sasuke berbaring miring ke arah lainnya dari futon, pura-pura tidak mendengar dan tidak mau tahu. Sementara Shikamaru di posisi paling sudut, tengah menyenderkan punggungnya pada dinding dan mengangkat tangan ke belakang kepala. Ia penasaran penjelasan macam apa yang akan diberikan Naruto.

Sai menyiapkan buku catatannya, berusaha untuk mencatat semua hal yang akan Naruto sampaikan. Mungkin bisa dijadikan bahan lelucon di masa depan.

Shino berjalan dari belakang Naruto, kedua tangan berada di dalam saku kimono. "Apa yang tidak ku—bukan, yang tidak kami ketahui, Naruto?" jelas, saja. Sebenarnya Said an Shino tahu apa yang menjadi masalah mereka semua. Mereka ingin tahu apa yang tengah terjadi diantara Naruto dan Shizune.

Tanpa aba-aba pintu kamar para pria bergeser, menampilkan sosok Anko Mitarashi yang benar-benar berantakan. Rambut kepang belakang khasnya memang masih terpasang rapih, tapi wajahnya sudah memerah membara akibat mabuk. Apa sehabis dari onsen wanita, dia ikut minum-minum dengan grup pria lagi? Kimono tidur yang dikenakannya terseret ke sisi lengan, memperlihatkan sebelah buah dada bagian atasnya. Tapi tenang saja. Bagian 'rahasia' masih tertutup oleh untaian baju penutup hotel tersebut.

"Bilang aku sudah tidur—siapa saja . . ." Shikamaru mendengar bisik-bisik Sasuke, yang saat ini tengah tiduran menyamping ke arahnya.

"Sasuke-chwan . . ." Anko menari-nari ke arah Sasuke berbaring. "Kau tidak bisa menipuku. Kau masih bangun, 'kan? Aku sudah berjanji untuk menemanimu, bukan? Hiks!" ia tersedak. Dengan segera, Anko menarik kerah leher piyama Sasuke, mengangkat dan menyeretnya.

'Khuh. Wanita sialan. Sudah kubilang untuk tidak terang-terangan.'

Ini pemandangan unik memang, melihat Sasuke menggerapai-gerapai setiap helai selimut untuk melindungi dirinya dari tarikan kuat wanita mabuk.

Pintu kamar kembali tertutup. Semuanya hening.

Dengan langkah seribu (namun, mempertahankan ketenangan), Kiba dan Naruto segera mengikuti kedua orang yang abrusan keluar. Walau menolaknya, tapi batin nurani Shikamaru sebagai pria tulen memanggil. Dia suka wanita berbody montok seperti Kurenai-sensei; dan, Anko adalah wanita yan gsangat menarik mata. Apa? Shikamaru adalah pria. Dia cuma pandai menutupi sifat alamiahnya tersebut.

Neji dilain pihak sudah puas dengan Tenten (walau belum) pernah melakukan apapun. Tapi, apa yang akan Anko lakukan pada Sasuke membuat panggilan nurani Neji sebagai pria bekerja.

Tapi Chouji dan Lee sepertinya tidak tergugah.

"Aku ingin mleihat apakah penis Sasuke sebesar punyaku. Dan lagi, aku penasaran dengan betuk vagina Anko-san sedari dulu."

Dengan segera, Shino berada disamping Sai yang tengah berjalan mengikuti keempat temannya. Shino menutup mulutnya dengan erat. Sai memberikan Shino tatapan datar dan bosan. "Ini bukan kelas biologi, Sai-kun." namun Shino terdiam sebentar. "Kita ikuti mereka diam-diam."

Chouji terus mengunyah 'cemilan' malamnya, dan Lee menarik selimut tidurnya. "Baiklah, selamat tidur, Chouji-kun!" dengan cepat, Lee mengisi efek audio ruangan denga ndengkuran kerasnya.

~Bersambung

A/N: Apa yang akan terjadi kepada Sasuke dibawah belas kasih Anko? Dan bagaimana Naruto mencari tahu siapakah Genma itu sebenarnya terhadap Shizune?—tapi sepertinya dia udah lupa sekarang, ;nih. Lalu bagaimana hubungan Kiba dan Hinata, juga Neji dan Tenten? Tunggu chapter berikutnya. Tentu saja setelah menunggu review readers semua. Want a cup of limun? You know the ticket. review! :)