Saya yakin tadi pagi udah update chapter limanya. Tapi kok tadi pas saya liat keapus ya? Okeh. Re-Upload!
Sekali lagi terima kasih buat semua readers yang udah review. Khususnya buat teman2 yang mereview menggunakan Akun. I appreciate it so much! Terima kasih untuk teman pembaca fic saya di berbagai macam fandom, Kanzaki Asamu! Limun bisa ditunggu. Dan untuk naz aulia, yang tampaknya sedang baca fic ini marathon. Hoho juga tentu saja untuk Guest/Anon semua. Segala macam bentuk masukan kalian adalah bahan bakar fic ini.
Ps: Semoga chapter ini semakin sedikit mistypo-nya. Dan sekali lagi saya tekankan, saya males banget nge-beta ;)
Naruto © Kishi
Enjoy.
~Night 1, 22.19
"Jadi, katakan padaku Sasuke-chan-"
"Behenti memanggilku seperti itu, wanita." desis Sasuke, kepada wanita yang saat ini tengah merangkul lehernya. Anko menyudutkan Sasuke pada pagar pembatas taman yang hampir mirip dengan yang menjadi sandarannya tadi bersama Naruto. "Dan bagaimana dengan janjimu untuk tidak blak-blakan di muka umum?"
Anko, dengan wajah mabuknya bercekikik pelan membelai sisi pipi Sasuke dengan bibir merahnya. "Hentikan." perintah Sasuke. Namun dia tidak berusaha untuk melepasnya. "Kau mabuk berat. Khuh, napasmu bau sake, Anko."
"Apa . . . Sasuke-chan sudah tidak suka denganku lagi~?" seperti anak kecil—padahal umurnya sudah hampir berkepala tiga, Anko merengek. Ia mengencangkan pagutan lengannya pada leher Sasuke. "Minta maaf~ Huwee, minta maaf pada Anko-chan, Sasuke-chan?"
Sasuke berusaha kaut menahan rona merahnya. Kali ini dia, dengan lembut berusaha melepaskan kuncian kuat Anko. "Lepaskan, wanita. Biar kuantar kau ke kamar."
"Hee~? Jadi kau mau 'melakukannya' di kamar, sayang~?"
"J-jangan bercanda!" seru Sasuke, sepelan mungkin agar tidak terdengar pengunjung lainnya. Khususnya rekan sesamanya. "Bagaimana kalau yang lain melihat?"
Di sudut tembok yang lain, secara berurutan: Kiba, Naruto, Shikamaru, Neji, Shino, dan Sai tengah mengintip. Mata mereka memperlihatkan ekspresi yang tidak percaya (kecuali Sai dan Shino; yang satu tak berekspresi dan yang satu lagi tertutup shade).
Sebenarnya ini membuat Neji Out of Character. Dan bukan karena tuntutan plot cerita, tapi karena dia sebagai pria merasa terpanggil—seperti yang sudah kita bicarakan pada chapter sebelumnya. Dan mungkin juga, berada satu tim bersama Lee membuatnya menjadi seseorang yang 'sedikit' lebih terbuka dengan 'peluang'. Semangat masa muda atau semacamnya. Apalagi dia memiliki Tenten yang masih 'bersih'. Ugh, begitu banyak tanda kutip, membuat saya bingung sebagai penulis . . .
Shikamaru dilain pihak harus dipenuhi isi kepalanya dengan sosok Temari. Kenapa? Karena wanita muda, kakak dari Godaime Kazekage itu sudah merengek untuk minta 'jatah' yang seharusnya SUDAH dia dapatkan sedari dulu. Tapi untuk suatu alasan (berkat kemampuan Shikamaru untuk berpikir jernih dan masak-masak), dia tidak ingin membahayakan Temari, atau lebih tepatnya belum ingin bertanggung jawab kalau-kalau Temari tiba-tiba mendatanginya, mengaku bahwa Shikamaru adalah orang yang bertanggung jawab sebagai ayah dari bayi yang berada di perut si perempuan berambut pirang. Apalagi, bagaimanapun juga dia adalah kakak perempuan ersayang sang Kazekage sendiri. Shikamaru tidak ingin jadi santapan gagak di tengah gurun pasir.
Kiba sampai saat ini masih belum bisa meraih hati Hinata. Jawabannya tidak lain dan tidak bukan adalah karena orang berambut pirang bertampang rubah disampingnya ini. Sebenarnya rahasia Kiba ini sudah menjadi rahasia umum. Namun karena Kiba-nya yang kelewat pasif, masalah itu 'pun hanya menjadi samar-samar saja sampai sekarang. Kiba hanya terlalu baik, dan bisa juga karena dia menganggap Hinata lebih dari seorang teman—seperti adik sendiri malahan. Tapi melihat Sasuke dan Anko, entah mengapa membuat Kiba SEMAKIN ingin menjadikan Hinata miliknya sendiri. Kalau sudah begini . . . K-kalau sudah begini!
Jika melihat Sasuke dan Anko yang begitu dekat dan intim seperti ini—apalagi 'juga' memiliki perbedaan umur yang jauh sebagai pembatas, membuat semangat Naruto terbakar dengan sendirinya. Kalau si Sasuke brengsek itu saja bisa mendapatkan hati Anko yang menurut kabar burung tidak pernah tertarik pada pria, kenapa aku tidak?—seru Naruto di dalam hatinya. Sakura-chan sudah tidak mungkin lagi . . . Lagipula dia sudah mengkahiri cinta monyetnya itu semenjak dulu. Namun saat ini, tidak peduli dengan Genma atau siapapun juga, tapi SHIZUNE-NEECHAN MILIKKU, DATTEBAYO!
"Siapa disana!" Sasuke berteriak lantang ke arah Naruto dkk bersembunyi.
Kiba membungkam mulut Naruto. Naruto membungkam mulut Shikamaru yang juga saat ini tengah menutup mulut Neji. Dan Neji, murni respon tadi, juga menutup mulut Shino. Dan Shino ingin menutup mulut Sai, namun pria yang dimaksud sudah menutup mulutnya lebih dulu dengan buku catatan yang sedari tadi ia bawa. Rautnya tenang dan datar seperti biasa. Semua diam seolah menghapus keberadaan mereka sendiri dari muka bumi. Sasuke akan mencincang habis mereka jika ketahuan.
Sasuke menajamkan kedua matanya. Namun Anko nampak tidak peduli—atau bahkan ambil pusing jika saja ketahuan oleh yang lain. Dia tidak kunjung melepaskan pagutannya dari Sasuke—bahkan kali ini dia menggantung seperti kucing (sambil memasang wajah kucingnya), senyum-senyum manja sambil memicingkan matanya.
" . . . Cuma perasaanku." Sasuke menghela napas, melirik Anko yang tiba-tiba menggembungkan mulutnya. Sasuke terkejut, hanya bisa berkata 'oi'. Anko melepas pagutannya, menjulurkan kepalanya dari lorong hotel.
Sasuke secara mental menampar wajahnya. Anko muntah di sisinya. "Lihat, 'kan. Dasar bod—" Sasuke menyadari raut Anko dan menghela napasnya sekali lagi. " . . . Hapus cengiran bodohmu itu, Anko."
Sasuke mengarahkan kain piyama kimono bagian lengan ke arah mulut Anko yang masih senyum-senyum lantaran mabuk. Dia melap sedikit sisa-sisa muntahan Anko. Raut Sasuke kelihatan menyerah. Setelahnya, dia menggendong Anko dengan gaya pengantin dan berjalan menjauh dari grup Naruto. Dengan erat si wanita jounin memagutnya kembali, melanjutkan senyum-senyumnya.
"Apa itu? Dia ternyata memang sangat dekat dengan Anko, 'kan?" tukas Kiba, terduduk bersama temannya yang lain.
Naruto, memasang tampang rubahnya mengangguk setuju. "Aku tahu. Dia cuma tidak ingin memperlihatkannya ke orang lain. Taku, si bodoh itu."
"Tapi beda umurnya mengerikan." Shikamaru menggeleng, searasa tidak percaya. "Anko sudah 29. Bedanya 10 tahun dengan si Sasuke."
"Kalau diingat-ingat lagi, Temari-san lebih tua dua tahun darimu. Bukan begitu, Shikamaru?" Shino, dari semuanya bertanya. Kedua tanganya masih di dalam saku mantel tidur kimono.
Shikamaru memasang tampang datarnya. "Siapa yang bilang aku mau dengan si egois tukang marah itu?" Shikamaru mengayunkan tangan dihadapan wajahnya. "Dia itu lebih mengerikan dibanding ibuku. Dia bahkan memaksaku untuk berhubungan se-" Shikamaru berhenti. Dia berhenti total, dan mau tidak mau itu membiarkan teman-temannya menatapnya dengan sorot mencurigakan.
"Apa?" sontaknya, menyadari tatapan-tatapan itu tidak akan mereda dengan segera. "Aku tidak ingin menghamili anak orang sebelum menikah. Itu legit."
Naruto cs menghembuskan napas. Tipikal Shikamaru. "Kita kembali ke kamar. Tidak akan ada yang terjadi. Dan lagi," Neji membuang wajahnya. "Ini memalukan. Bagaimana bisa aku melakukan ini."
Naruto memeluk pundak seniornya itu. "Hee, padahal sudah sampai sini, masa' mau mundur begitu, Neji?"
"Kita tidak akan mendapatkan apa-apa." tukas Neji. "Sebaiknya kita kembali ke kamar, dan pergi tidur."
Kiba menguap, meregang kedua tangan ke atas. "Hwoahhm—aku setuju. Aku ada sesi latihan rutin dengan Hinata besok pagi." Dia berjalan menjauh bersama Neji disebelahnya. Kiba melambai kepada Naruto, Shikamaru, Shino dan Sai walau membelakangi mereka. "Ceritakan saja kepadaku besok, ya."
"Jangan harap, Kiba sialan." Naruto mengencangkan tangannya.
"Neji-san punya Tenten-san untuk dipikirkan; dan Kiba-kun, walau kuyakin penisnya kecil, dia sedang berusaha meraih hati Hinata-san." sekali lagi, kalimat blak-blakan Sai membuat perhatian tiga orang lainnya terpaku. "Kenapa? Aku hanya sedang menulis memo."
Sai juga berjalan balik menuju kamar. Shino mengikutinya dari belakang dengan hening.
"Kau suka dengan body Anko!" seru Naruto tiba-tiba dan tanpa aba-aba kepada Shikamaru.
"WA!—ti-tiba-tiba . . .! A-apa yang kau katakan, bodoh!"
Naruto mengangkat kedua tangannya kebalik kepala, membiarkan Shikamaru keteteran sendiri. "Yaah, siapa juga yang tidak tertarik dengan body dynamite milik Anko."
Walau tidak berkata, mereka berdua juga melangkah kembali ke kamar. "Padahal kita semua tidak begini dulu. Yaah, aku tahu waktu merubah seseorang." Naruto cekikikan pelan. "Pria normal pasti akan tertarik dengan tubuh wanita—itu sudah hukum alam. Kalau tidak, mungkin itu artinya kau sedikit lain."
"Yaah, kalau aku 'sih karena bersama ero-sennin." ujar Naruto, mengingat hari-harinya bersama Jiraiya dulu. "Dulu saja saat aku menggunakan Oiroke no jutsu, aku selalu melewatkan bagian dalam cel-dam dan bra. Aku tidak tahu apa-apa mengenai itu. Tapi sekarang,"
"Pria mencari sesuatu dari perempuan." jelas Shikamaru, berdasarkan fakta. "Yaah, kita sebagai salah satunya hanya mengikuti panggilan nurani."
"Ada satu yang ingin kutanyakan, Shikamaru,"
Shikamaru mengeluarkan desahan napas bosannya. "Aku bukan ahli . . . Tapi, apa itu?"
" . . . Apa wanita juga mencari sesuatu dari laki-laki?"
-o0o-
Sasuke membaringkan Anko di atas futon, membiarkannya disana untuk sementara. Sasuke kembali dengan segelas air, dan mengangkat tubuh Anko sedikit untuk meminumkannya. "Temani aku sampai tertidur, Sasuke."
"Kau manja sekali? Aku juga mau tidur."
"Zzz . . ." Anko akhirnya kembali terbaring, mendesah pelan dari balik napasnya.
Sasuke berniat berdiri. Mungkin ini waktunya untuk beranjak . . .
"Baa! Belum, 'kok!" tiba-tiba Anko membuka kedua matanya, menjulurkan lidah dengan niat bermain-main seperti anak berumur lima tahun. "Kau tertipu? Kau tertipu, 'kan?"
" . . . Kau tahu aku benci kejutan, Anko. Sangat." Sasuke menatap datar perempuan berambut gelap yang tersenyum tak terkalahkan. Anko memicingkan mata seperti anak-anak. Ya. Seperti anak-anak secara harfiah. " . . . Aku akan menemanimu sebentar."
Anko tersenyum lembut. "Bagaimana pembangunan komplek Uchiha-mu, Sasuke?"
"Baik." Sasuke melekukkan bibirnya satu millimeter ke arah atas. "Kenalanku, Tazuna-ossan adalah tukang kayu terbaik. Dia, Inari, dan rekan-rekan kerjanya akan menambah beberapa bangunan lagi."
"Aku senang mendengarnya . . . Nyam nyam," mata Anko mulai terpejam. Ia mengulum-ngulum bibir sampai akhirnya terlelap sepenuhnya.
" . . . Jangan bilang kau akan mengejutkanku lagi,"
Sasuke menapak ke arah pintu geser kamar, membukanya dan melangkah menjauh. Di dalam, Anko membuka matanya kembali, tersenyum hangat melihat sosok Sasuke yang sudah berlalu. 'Selamat tidur, Sasuke.'
~Bersambung
A/N: Yosh, chapter ini adalah teaser untuk pairing SasuAnko. Anko itu adalah wanita dewasa yang bertingkah seperti anak-anak. Saya juga membuat umur Anko dan Shizune agak2 aUish gitu deh. Naruto dan Shizune berbeda 8 tahun, jadi umur Shizune-oneechan saat ini kira2: 27 tahunan. Dan Anko berbeda 10 tahun dengan Sasuke, jadi: 29. Wow, cukup dewasa untuk punya suami, 'kan? Tapi perempuan di Naruto lebih milih nikah sama pekerjaan daripada pria.
Dan walau ini AU, saya akan mencobanya membuat se-canon mungkin. Namun ,karena base fic ini adalah komedi, jadi sedikit banyaknya ada yan janggal. Tapi, sekali lagi author akan berusaha untuk membuatnya se-canon munkgin. Naruto udah ga punya tato di perut lagi; Kurama dah cabut. Ada yang mesan Gaara? Sepertinya saya bisa nyumpelin dia kedalem fic ini.
SO, REVIEW IS LOVE! LET'S SPREADS LOVE THROUGH REVIEWING, COMMENTING, AND CRITICIZING! Wait for the next installment then :)
Crow, signed out
