Ichizuki…

Happy Reading…

Disclaimer : Naruto Masashi Kishimoto

WAY OUT

By Ichizuki_Takumi

Pairing : SasuNaru, SasuSaku, NaruSaku

Rated : T

Genre : Angst/Humor

Warning : AU, OOC, Straight, Yaoi, Alur cepat, Bahasa sulit di mengerti

DON'T LIKE! DON'T READ !

Chapter 2

Bunyi-bunyi gemerisik memenuhi ruangan itu. Ruangan dimana seorang pemuda berambut pirang yang bernama Naruto berada. Ia sedang memandangi tumpukan lembar kertas serta dokumen yang berada dihadapannya, dengan mata yang menyiratkan kekosongan.

Suara mesin, ketikan pada keyboard, suara orang-orang yang bertutur dan berlalu lalang sepertinya tak mengusik apa yang ada dipikiran Naruto.

"…ruto….Naruto…" ujar suara yang sukses membuyarkan lamunan Naruto.

"Ya?" kata Naruto yang sedikit terkejut.

"Kau ada masalah?" tanya Gaara, orang yang membuyarkan lamunan Naruto tadi.

"Emm? Sepertinya…" kata Naruto. Gaara memang sudah mengetahui semua masalah yang dialami Naruto.

"Bicaralah," kata Gaara sambil menaruh dokumen yang dibawanya kemeja Naruto. Gaara menarik kursi yang ada dimeja kerjanya, kemudian mendudukkan diri didekat Naruto. Posisi meja kerja bersekat-sekat, jadi antara meja satu dengan yang lainnya berdekatan.

"Gaara…"

"…"

"Sebenarnya…A.."

Ucapan Naruto terpotong. "Pagi Naruto, Gaara… Kobarkan semangat masa muda kalian dipagi yang indah ini…" potong Lee, dengan mengepalkan tangan kanannya yang diacungkan kepada Naruto dan Gaara.

"Yo~ Lee, selamat pagi," seru Naruto yang tiba-tiba berubah menjadi ceria. Setelah menyapa mereka berdua, Lee kemudian berkeliling ruangan untuk menyapa karyawan yang lain.

"Sebaiknya kita bicara nanti saja. Sepertinya tidak aman kalau kau berbicara disini," kata Gaara.

"Terimakasih Gaara."

"Ya," kata Gaara, sambil mengacak rambut Naruto yang sudah berantakan. "Oh iya, ini dokumen yang harus kau kerjakan. Kau harus sudah menyelesaikannya lusa," lanjut Gaara sambil menunjuk dokumen yang ditaruh dimeja Naruto tadi.

"Okey," kata Naruto.

"Kalau kau perlu bantuan panggillah aku."

"Tenang saja, aku pasti memanggilmu," kata Naruto meyakinkan Gaara.

"Ya sudah, aku kembali kerja dulu," kata Gaara yang kemudian kembali ke meja kerjanya. Naruto hanya tersenyum memandang sahabatnya satu ini.

Sementara itu diposisi Sakura.

Sakura POV

Hari menjelang siang. Saat ini aku sedang berada di rumah sakit. Aku adalah seorang dokter bersalin. Dan aku sangat menyukai raut wajah seorang ibu yang melahirkan bayinya dalam keadaan sehat. Belum pernah ada kesalahan yang aku alami selama ini, dan aku tidak ingin membuat sebuah kesalahan.

Aku menyusuri koridor untuk menuju ke kantorku. Sepanjang perjalanan, dapat ku lihat orang yang berlalu lalang tanpa mengeluarkan suara keras. Mereka memang sibuk dengan masalah masing-masing. Bau obat menguar di indra penciumanku. Suasana yang sepi membuat para pasien nyaman berada disini.

Ku buka pintu ruangan yang diketahui adalah ruanganku. Ku langkahkan kaki menuju kursi kerja dibalik meja diujung ruangan. Kembali kuteringat oleh perbuatan yang dilakukan oleh suamiku. Membuat pipiku bersemu merah. Aku sangat senang atas perlakuan suamiku yang mulai berubah, dan aku sangat bersyukur karenanya. Tapi tetap saja ada yang mengganjal dihatiku.

Tok! Tok! Brak!

Pintu terketuk tanpa jeda, kemudian terbuka dengan kerasnya. Menampilkan sesosok perawat dengan napasnya yang terengah-engah.

"Hosh…Hosh…Maaf Sakura, ada pasien yang dalam keadaan kritis."

Aku tersentak, aku harus segera bertindak. "Cepat siapkan semua yang peralatanku, Ino," seruku yang kemudian berlari menuju ruang bersalin. 'Semoga belum terlambat' batinku dalam ketergesa-gesaan.

Begitu sampai di ruang bersalin, aku segera memakai peralatanku. Ku lihat pasienku yang masih tersadar dengan napas yang memburu. Darah segar mengalir dari rahimnya, keluar melewati kakinya yang ditekuk.

Ku pegang pundaknya sambil memberikan sugesti agar membuatnya tenang.

"Tarik napas nyonya. Hhhhh~ …keluarkan. Haahhh…" sugestiku sambil mempraktekkannya, dia pun mengikuti kata-kataku. Ku katakan hal itu berulang-ulang sampai keadaannya sedikit tenang.

Darah terus saja mengalir dengan deras. Aku mulai sedikit takut kalau nantinya pasienku kehabisan darah, dan aku tidak bisa menyelamatkan mereka berdua. Ibu dan anaknya.

Semakin lama napas pasien yang kutangani semakin melemah. Aku semakin takut kalau sampai apa yang kupikirkan jadi kenyataan.

"Nyonya, hanya ada satu pilihan. Siapa yang harus kami selamatkan?" seru seorang perawat yang berdiri disampingku.

"Kau bilang apa Ino, kita pasti bisa menyelamatkan mereka berdua," seruku pada Ino, perawat yang menjadi asistenku.

"Kau…harus menyelamatkan…bayi ini…hah…hah…" seru pasien dengan napas yang terengah-engah. Tersirat keyakinan yang memancar dari dalam matanya. 'Pengorbanan seorang ibu memang besar,' batinku.

"Tidak, kau juga akan kami selamatkan," seruku.

Sudah satu jam berlalu, akhirnya bayi itu dilahirkan juga. Aku hampir saja kehilangan ibunya, kalau saja ia menyerah. Saat ini dia sedang tertidur karena kelelahan, dengan dua infuse yang salah satunya berisi darah yang melekat ditangannya.

Aku menggendong bayi yang baru lahir itu. Tapi ada sesuatu yang aneh.

'Kenapa suara tangis bayi ini melemah?' batinku. Segera ku periksa detak jantungnya.

'Tidak…jantungnya mulai berhenti berdetak!' seruku dalam hati.

Aku segera membaringkan bayi itu di ranjang yang disediakan khusus bayi. Ku sangga kepalanya dengan bantal. Kemudian kutekan dadanya dengan intensitas yang tidak begitu kuat.

Suster yang sedang beristirahat mengalihkan perhatiannya kepadaku. Mereka memandangku heran, kemudian mendekat ke arahku.

"Ada apa Sakura?" tanya Ino yang berdiri disampingku.

"Jantungnya berhenti berdetak!" seruku. Ino memandang bayi itu dengan khawatir.

"Kau harus cepat bertindak!" serunya panik.

"Iya, aku sedang berusaha."

Aku masih menekan dan terus menekannya. Kudekatkan telingaku di bagian jantungnya. 'Masih belum!' batinku. Aku melakukannya berulang-ulang hingga air mataku menetes.

Hampir dua puluh menit aku melakukannya, tapi tak juga ada kemajuan. Kini wajahku sudah penuh dengan peluh yang mengalir.

"Sudahlah Sakura, dia sudah tidak bisa diselamatkan lagi!" seru Ino yang mencoba menyadarkanku.

"Aku tidak akan menyerah, Ino!" seruku pantang menyerah.

Ino yang melihat perbuatanku langsung menarik tanganku dan mambawaku menjauhi bayi yang sudah tak bernyawa lagi. Aku terus memberontak, tapi sia-sia saja. Kekuatanku sudah habis, aku lelah.

Tubuhku merosot kelantai. Sebagai sahabatku, Ino tak tinggal diam. Dia langsung merengkuh tubuhku yang tanpa pertahanan.

"Kenapa…kenapa begini jadinya?" lirihku di sela isak tangis.

"…." Tak ada yang menyahut.

"Apa yang harus aku katakan pada orang tuanya nanti? Kenapa hanya satu nyawa saja tak bisa aku selamatkan!" seruku.

"…" Ino yang memandangku dengan diam sambil menitikkan air mata.

"Semua ini salahku! Kenapa aku tidak bisa menyelamatkannya?" air mataku terus saja mengalir.

"Ini bukan salahmu Sakura!" bentak Ino padaku. "Ini sudah menjadi takdir. Kau sudah berusaha Sakura… jadi ku mohon jangan salahkan dirimu."

Aku memandang Ino masih dengan air mata yang mengalir deras. Dia pasti juga merasakan apa yang aku rasakan. Terpancar jelas kesedihan dari sorot matanya.

Aku mulai menenangkan diri agar Ino tidak khawatir lagi padaku. "Maaf Ino, aku terlalu syok."

"Tak apa Sakura. Aku mengerti."

Ku hapus air mata yang berada dipipiku, dan mencoba untuk lebih tenang.

End of Sakura POV

Trulululut…Trulululut…

"Ya, halo?" kata Naruto.

"Dobe."

"Oh, Teme. Ada apa?"

"Hari ini aku ada kerja lembur, mungkin akan selesai besok pagi. Kau pulanglah dulu."

"Ya. Kalau begitu aku pulang dulu ya Teme?"

"Hn."

Tuut Tuut Tuut

"Hah… tak ada tumpangan…" keluh Naruto.

Saat ini kantor sudah sepi. Setelah menceritakan keluh kesahnya pada Gaara, hatinya mulai sedikit tenang. Awalnya dia ditemani oleh Gaara, tetapi Gaara baru saja dijemput oleh kekasihnya yang bernama Neji. Dengan ceria, Naruto menyuruh Gaara agar tidak usah menemaninya, dan segera pulang bersama Neji.

"Lagi-lagi uang jajanku terpotong untuk naik taksi," gerutu Naruto. "Kan lumayan buat beli ramen."

Naruto pun beranjak pergi dari ruang kerjanya untuk segera pulang kerumah, tentunya ke rumah sahabatnya. Tak lupa ia membawa dokumen yang diberikan Gaara tadi pagi.

Hari menjelang malam.

"Kenapa setiap malam hatiku selalu kalut?" tanya Naruto pada dirinya sendiri.

"Sudahlah. Lebih baik aku segera kerjakan pekerjaanku ini agar segara selesai," kata Naruto yang mencoba meredakan sakit hatinya.

"Haus," ujar Naruto yang kemudian beranjak dari mejanya.

Ia berjalan keluar kamar, melewati kamar Sasuke dan Sakura yang sedikit terbuka. Terdengar suara tangis yang berasal dari dalam kamar. Karena penasaran, Naruto pun mencoba melihatnya.

Naruto POV

Aku terpaku. Ternyata suara tangis ini adalah suara Sakura. Dia sedang terduduk dipinggir ranjangnya.

"Sakura…" kataku lirih.

Sakura mendongakkan kepalanya menghadapku. "Ah, Naruto. Ada apa?" katanya sambil mengelap air mata yang masih ada diwajahnya.

Aku berjalan mendekatinya. Kududukkan diriku disampingnya kemudian menyandarkan kepalanya didadaku. Mencoba membuatnya lebih tenang. Sakura kembali menangis tersedu-sedu.

"Kenapa…kenapa semua terjadi padaku Naruto?" kata Sakura yang kembali terisak. Aku hanya diam, mencoba mendengar keluh kesahnya.

"Sudah banyak sakit yang melanda hatiku, tapi kenapa musibah itu menimpaku?"

"Ceritakanlah, Sakura," lirihku.

"Aku tidak dapat menyelamatkannya. Aku tidak bisa menyelamatkan bayi itu," ujar Sakura ditengah isak tangisnya.

"Hatiku sakit Naruto. Aku bahkan dapat merasakan sakitnya bila aku menjadi ibunya."

"Tidak ada yang menyalahkanmu Sakura. Semua sudah takdir, kau tidak dapat merubah kematian seseorang. Jadikanlah itu sebagai pelajaran," kataku berusaha bijak sambil mengelus rambut Sakura.

"Kau pikir mudah melakukannya?" bentak Sakura.

"Maaf…aku tidak bermaksud…"

"Bukan salahmu Naruto…lagi pula bukan hanya itu saja yang membuatku sakit," ujar Sakura yang melepas pelukannya padaku, kemudian mendudukkan diri sambil menundukkan kepala, memandang lantai.

'Aku tidak menyangka, ternyata banyak juga beban yang ditanggung oleh Sakura,' batinku. Setelah memandang Sakura dengan tatapan sayu, aku pun juga memandang lantai seperti apa yang dilakukan Sakura.

"Kau tau Naruto?" kata Sakura yang masih memandang lantai. Pandanganku teralihkan dari lantai, kemudian memandang Sakura. "Selama kami menikah, hanya baru-baru ini saja sifat Sasuke berubah terhadapku. Sekarang dia jadi kelihatan lebih mesra,"

Aku terus menatapnya, mencoba mendengar dengan baik.

"Aku memang senang dengan perubahan sikapnya. Tapi tetap saja ada yang mengganjal di pikiranku."

"Memangnya ada apa?" tanyaku mencoba melembutkan suara selembut mungkin.

Isakan Sakura kembali terdengar. "Apa kau pikir normal, seseorang yang sudah menjadi suami istri, tapi belum pernah melakukan hubungan layaknya pasangan suami istri?" teriak Sakura yang tubuhnya mulai bergetar. "Bahkan sifatnya yang mulai mesra itu, dia tunjukkan semenjak kau ada disini, tepatnya sebulan yang lalu. Dan itu selalu ditunjukkannya didepanmu! Aku agak tersinggung karenanya. Hatiku sangat sakit. Apa aku tidak diperlukan lagi di dunia ini? Hu..huu..u…" teriak Sakura sambil memegang kaos yang ku kenakan. Mataku terbelalak mendengarnya. Tidak percaya dengan apa yang dikatakan oleh Sakura. Aku pikir hubungan rumah tangga mereka baik-baik saja. Ternyata dari luar yang terlihat sebagai pasangan serasi ini, memiliki rahasia yang menyakitkan.

"Aku bisa mersakannya Sakura," lirihku sambil memeluknya.

"Tidak. Kau tidak akan bisa merasakan penderitaanku, Naruto," kata Sakura yang masih tetap menundukkan kepalanya tanpa melepas remasannya pada kaosku.

"Aku juga merasakannya Sakura. Hal yang kau alami, aku juga bisa merasakannya," seruku meyakinkan.

"Kau bohong! Mana mungkin orang yang selalu ceria sepertimu dapat merasakannya? Aku tidak percaya!"

"Dengar Sakura!" seruku seraya memegang kedua pundak Sakura dan menatapnya dalam-dalam. "Aku juga sangat menderita, mungkin lebih menderita dari padamu."

"Aku bahkan merelakan orang yang kusukai untuk sahabatku sendiri. Tapi aku menyesal melakukannya…aku sangat menyesal…dan akibat perbuatanku itu, kini hatiku sangat sakit."

"Naruto…" kata Sakura prihatin.

"Dan dia…" aku memberikan jeda yang cukup panjang sebelum melanjutkan perkataanku. "Dia adalah kau Sakura… aku sangat mencintaimu. Bahkan mati pun aku rela demi mendapatkanmu," kataku yang masih menatap mata Sakura.

Sakura terperangah. Matanya membelalak, ia memandang kedalam mata biruku yang ada dihadapannya. Dalam sekejap isak tangisnya berhenti. Sekarang ia hanya memusatkan pikirannya padaku. Tidak percaya dengan apa yang ku katakan barusan.

Lama mereka saling memandang.

Saphire bertemu Emerald…

Ku tipiskan jarak antara kami. Sakura hanya diam, menunggu apa yang aku lakukan.

End of Naruto POV

Hujan turun dengan derasnya. Petir menyambar, meruntuhkan akal sehat dua insan yang dibuai penderitaan.

Dan hubungan terlarang tak bisa dihindari…

TBC