Ichizuki…

Happy Reading…

Disclaimer : Naruto Masashi Kishimoto

WAY OUT

By Ichizuki_Takumi

Pairing : SasuNaru, SasuSaku, NaruSaku

Rated : T

Genre : Angst/Humor

Warning : AU, OOC, MPREG, Straight, BL, Alur cepat, Bahasa sulit di mengerti

DON'T LIKE! DON'T READ !

Chapter 3

Hiks…hiks….

Isak tangis yang menggema di sebuah ruangan.

Sesosok pemuda dibalik selimut terbangun oleh suara yang memilukan itu.

"Sakura…" panggil pemuda itu yang bernama Naruto. Dia mencoba bangkit untuk mendudukkan diri. Kemudian dia menyentuh pundak wanita yang ada disampingnya. Sakura.

Sakura langsung menyingkirkan tangan dipundaknya dengan kasar. "Apa yang kau lakukan Naruto? Apa yang kau lakukan padaku?" seru Sakura yang memeluk kedua lututnya dibalik selimut.

"Maaf…"

"Maaf? Lagi-lagi kata maaf. Apa kau sadar dengan apa yang kau lakukan?" bentak Sakura sambil merapatkan selimut ditubuhnya. "Bahkan Sasuke belum pernah menyentuhku, tapi kau yang bukan siapa-siapa malah melakukannya padaku!"

"…." Naruto menunduk mendengarkan semua cacian Sakura. 'Aku memang hina Sakura. Kau pantas memakiku.'

"Apa yang harus aku lakukan? Dia pastijijik padaku. Dia pasti akanmenceraikanku."

"Sakura, aku benar-benar minta maaf. Aku akan bertanggung jawab dengan perbuatanku ini."

"Aku tidak mau dengar lagi apa yang kau katakana lagi," Sakura menutup kedua telinganya, tidak ingin mendengar semua yang dikatakan Naruto.

Di sebuah ruangan diperusahaan Uchiha's Corp

Sasuke POV

Suasana sepi menyelimuti ruangan ini. Hanya suara ketikan pada keyboard yang terdengar. Itu juga karena pekerjaanku.

'Haahh…akhirnya selesai juga. Tak kusangka akan selesai secepat ini,' batinku.

Kulihat jam digital yang ada dimeja kerjaku.. Pukul 00.29 masih banyak waktu untukku istirahat.

"Hhaaahhh…" helaku, sambil merenggangkan otot.

Aku beranjak dari tempatku duduk. Kuambil jas yang tersampir di kursi, kemudian ku kenakan agar terhindar dari udara dingin di luar sana. Ku ambil koper yang berada tak jauh dari meja, kemudian kulangkahkan kakiku menuju basement.

Sesampainya disana aku langsung menaiki mobilku. Ku pacu mobilku untuk menuju kerumah.

Jalanan terlihat sangat sepi. Hanya beberapa truk saja yang berlalu lalang membawa beban. Kufokuskan pandanganku pada jalan didepan.

'Sepi sekali. Kalau aku ngebut pasti tidak akan ada yang protes.'

Segera ku pacu kecepatan mobilku. Hingga speedometer hampir menunjukkan angka maksimum yang ada disana.

Dalam waktu sekejap aku sudah berada dihalaman rumahku.

'Hn, 15 menit,' batinku sambil melihat jam ditangan kiriku.

Ku langkahkan kakiku menuju kedalam. Kuambil kunci cadangan yang ada di kantong jas.

Aku terus berjalan untuk menuju kekamarku.

Ku pegang kenop pintu sampai aku mendengar percakapan yang berasal dari dalam.

"Apa yang kau lakukan Naruto? Apa yang kau lakukan padaku?"

"Maaf…"

'Memangnya Naruto salah apa sampai harus meminta maaf pada Sakura?'

"Maaf? Lagi-lagi kata maaf. Apa kau sadar dengan apa yang kau lakukan?…Bahkan Sasuke belum pernah menyentuhku, tapi kau yang bukan siapa-siapa malah melakukannya padaku!"

'Kenapa sekarang namaku di bawa-bawa?'

"…."

"Apa yang harus aku lakukan? Dia pasti jijik padaku. Dia pasti akan menceraikanku."

'Apa yang dia katakana? Untuk apa aku menceraikannya?'

"Sakura, aku benar-benar minta maaf. Aku akan bertanggung jawab dengan perbuatanku ini."

'Bertanggung jawab? Jangan-jangan…'

"Aku tidak mau dengar lagi apa yang kau katakan,"

Aku tidak sanggup lagi mendengar pembicaraan mereka. Kini aku benar-benar marah. Enak saja, selama ini aku sudah bersabar dia malah melakukannya dengan orang lain.

Ku eratkan genggaman pada kenop pintu. Ku buka pintu itu secara kasar. Aku tidak peduli lagi dengan apa yang terjadi sekarang. Yang aku pedulikan hanya dia. 'Kenapa dia melakukannya dengan orang lain? Kenapa?' teriakku dalam hati.

Mereka terbelalak melihat kedatanganku. Terutama Sakura. Dia sangat ketakutan sekarang. Sementara Naruto mencoba menjelaskan apa yang terjadi diantara mereka. Tapi aku sudah tidak peduli lagi. Sekarang kesabaranku benar-benar habis. Aku sangat cemburu. Tidak boleh ada yang memilikinya selain aku.

Kulangkahkan kakiku mendekati mereka. Ku acuhkan semua perkataan Naruto dan segera mencengkram lengannya. Kutarik dia dari dalam selimut. Aku tidak mempedulikan tubuhnya yang polos tanpa sehelai kain pun. Aku terus menariknya menuju ke kamarnya. Ku kunci kamar itu, kemudian aku melempar Naruto ke atas ranjang.

Aku benar-benar tidak bisa menahan nafsuku lagi. Sudah lama aku mencintainya. Tapi dia malah menawarkanku untuk menikahi Sakura. Hatiku hancur saat itu. Aku tidak menyangka orang yang aku sukai malah menyuruhku menikahi orang lain. Apa dia gila?

Selama ini yang aku lakukan dengan Sakura hanya untuk memanasinya. Aku ingin dia cemburu padaku. Aku ingin dia sadar, kalau Sakura tidak pernah menyukainya.

Selama itu aku memanasimu, selama itu pula hatiku semakin sakit. Karena bukan aku yang kau lihat. Bukan aku yang kau pandang. Dan bukan aku pula orang yang kau cintai.

Kau pasti berpikir aku behagia hidup bersama orang yang kau sukai. Tapi itu tidak benar. Kau salah. Hatiku malah semakin sakit. Karena kau semakin menjauh dariku.

Aku sangat senang saat kau menerima tawaranku untuk tinggal di rumahku. Ku pikir aku bisa dekat denganmu seperti dulu. Tapi yang selalu kau lihat hanya Sakura. Sakura dan Sakura. Tidak ada tempat lagi yang tersisa untukku. Meski aku selalu berusaha, tetap saja kau tidak memandangku.

Kali ini, detik ini juga, aku akan membuat kau memandangku. Akan ku buat kau menjadi milikku. Dan tak akan aku lepaskan lagi walau harus bersaing dengan Sakura. Karena aku tidak peduuli lagi dengan semuanya. Hanya kau yang aku pedulikan.

End of Sasuke POV

Cip Cip Ciiip

Pagi menjelang. Udara dingin menyelimuti bumi. Mentari bersinar tanpa ada yang berani menghalanginya. Menghangatkan setiap kehidupan.

Hangatnya mentari tak bisa menandingi kehangatan yang dialami Sasuke ternyata. Kini dia memandang matahari yang sedang berada dalam pelukannya. Mengamati tiap detail yang ada dihadapannya. Tangan kirinya tak lepas dari pinggang sang pujaan hati. Menanti mata biru yang masih terpejam. Sunguh hari yang indah bagi Sasuke.

Suatu gerakan mengalihkan pandangan Sasuke. Di pandangnya pemuda pirang dalam pelukannya. Pemuda yang bernama Naruto itu membuka matanya. Dia mengerjapkan mata, mencoba memfokuskan pandangannya pada sesuatu yang kini sedang di peluknya. Ia mengangkat kepalanya untuk melihat sesuatu yang ternyata seseorang dalam pelukannya. Di lihatnya wajah orang yang mulai melontarkan sebuah senyuman.

'Sasuke…' batin Naruto. Kini ia menidurkan kembali kepalanya pada dada bidang Sasuke. Saat dirasa dengkuran halus kembali terdengar, Sasuke mengelus-elus rambut pirang Naruto. 'Lembut' pikir Sasuke.

Tak berapa lama mata Naruto terbuka dalam keterkejutan. Dia langsung mengangkat kepalanya, membuat Sasuke menghentikan elusannya.

"Gyyyaaaaaaaaaa…. Apa yang kau lakukan disini, Teme?" teriak Naruto. Naruto melepaskan pelukannya pada Sasuke kemudian ia langsung mencoba untuk berdiri menjauhi Sasuke. "Awh…Itteeiii~…" Naruto kembali terbaring ketika dirasa bagian bawah tubuhnya terasa sakit.

"Hn," Sasuke menyeringai melihat orang yang di sukainya. Ia memiringkan tubuhnya agar dapat melihat dengan jelas wajah Naruto yang sedang menahan sakit.

Naruto memberikan death glear terbaiknya untuk Sasuke, yang sepertinya tidak mempan di hadapan Sasuke.

"Apa yang kau lakukan padaku Sasuke?" seru Naruto yang masih menahan sakit.

"Hn, aku hanya ingin melakukan apa yang dari dulu ku inginkan."

"Kau sudah gila."

"Aku memang tergila-gila padamu."

"Bodoh, aku ini laki-laki Teme~ …"

"Asalkan denganmu, aku tidak masalah mau laki-laki atau perempuan."

"Dasar gila. Cuci otakmu sana!"

Naruto memaksakan diri untuk berdiri sambil menutupi dirinya dengan selimut.

Sasuke yang melihat tingkah Naruto, melebarkan seringai di bibirnya. "Butuh bantuan Dobe?"

"Cih, aku tidak membutuhkan bantuanmu. Keluar dari kamarku bodoh," seru Naruto yang tiba-tiba saja wajahnya bersemu merah.

"Hn. Kalau perlu apa-apa, panggil saja aku. Aku selalu siap melayanimu," kata Sasuke sambil mengenakan pakaiannya yang berserakan dilantai.

"Mati saja kau Teme!" seru Naruto.

"Hn." Sasuke memberikan senyuman terbaiknya sebelum meninggalkan kamar Naruto.

"Cih…" Naruto menjawabnya dengan memalingkan wajahnya.

'Kurang ajar. Dia pasti balas dendam karena aku telah meniduri Sakura. Sampai membuatku tak bisa berjalan lagi. Adu…du…duhh…" sepertinya Naruto tidak menyadari apa yang ada di hati Sasuke.

Setelah mandi dan membersihkan tubuh, Naruto keluar dari kamar menuju ke ruang tengah. Dia berjalan tertatih-tatih menahan sakit. Saat berada di tangga, ia berpapasan dengan Sasuke yang juga akan menuju ruang tengah.

"Hn. Perlu bantuan, Dobe?" ujar Sasuke tepat di telinga Naruto.

Naruto bergidik ngeri mendapat perlakuan seperti itu dari Sasuke. "Tidak darimu, Teme!" seru Naruto sambil menempelkan punggungnya pada tembok.

"Jalanmu lambat, Dobe," ujar Sasuke yang menyamakan langkahnya dengan Naruto.

"Apa pedulimu, Teme? Cepat pergi dari situ!" kata Naruto yang menuruni tangga dengan punggung yang masih menempel pada tembok.

"Hn. Aku duluan…lambat," ujar Sasuke sambil menyeringai. Dia pun mempercepat langkahnya tanpa mempedulikan semua ocehan dari Naruto.

"Semua ini gara-gara kau Teme! Mati saja kau!" seru Naruto yang ingin sekali memukul pantat ayam yang ada di depannya itu, sampai, "Adaauuww…. Pinggangku sakit… adu…du…duhh… awas saja kau, Teme!" seru Naruto yang penuh dengan kobar kemarahan.

Sementara Sasuke hanya memperlebar seringaian di bibirnya.

'Akhirnya samapi juga,' batin Naruto girang. Dia langsung mendudukkan dirinya di sofa yang ada di ruang tengah. 'Aww…Ittei~ … sakit banget nih pinggangku,' batin Naruto saat mendudukkan diri disofa.

Melihat Naruto mengernyit menahan sakit, Sasuke yang duduk di depannya hanya menyeringai. Lagi-lagi menyeringai… apa tidak ada ekspresi lain? *Tanyakan saja pada ayahnya*.

Semua telah berkumpul diruang tengah, dengan Sakura yang sedari tadi menundukkan kepala, Naruto yang menahan sakit, dan Sasuke dengan seringai nya yang mengerikan.

"Sas…suke… ku mohon maafkanlah aku…hiks…" ujar Sakura yang memulai pembicaraan sambil menitikkan air mata.

Perbuatan Sakura sukses mendapat perhatian dari mereka.

Naruto ikut sedih, saat melihat wanita yang disukainya menangis. "Maafkan dia Sasuke, aku yang salah," ujar Naruto. Perhatian Sasuke sekarang tertuju padanya. "Aku rela melakukan apa saja. Asalkan kau tidak menceraikan Sakura," ujar Naruto sambil menundukkan kepalanya.

Mendengar hal itu, Sakura mendongakkan kepalanya memandang Naruto. Sementara Sasuke memandangnya dalam diam.

"Salahkan saja aku…aku bahkan rela diserahkan pada polisi kalau kau masih tidak terima."

"Apa benar kau mau melakukan apa saja?"

"Ya, aku rela melakukan apa saja," kata Naruto sambil mendongakkan kepalanya. Berharap Sasuke menyetujui tawarannya.

"Termasuk permintaanku ini?" tanya Sasuke datar.

"Ya, katakan saja. Aku pasti akan memenuhi permintaanmu," ujar Naruto yang mencoba meyakinkan Sasuke. Sakura hanya mendengar pembicaraan mereka berdua. Berharap Sasuke memenuhi keinginan Naruto.

"Apa kau yakin?"

"Katakan saja Teme! Aku pasti akan melakukannya!"

"Hn," mendengar jawaban Naruto, Sasuke menyeringai lebar. "Dengarkan baik-baik, aku tidak mengulanginya sampai dua kali," kata Sasuke. Naruto dan Sakura memasang telinganya baik-baik, tidak mau sepatah pun melewatkannya.

Begitu mendapat perhatian, Sasuke memperlebar seringaiannya.

"Aku ingin…" Naruto memajukan kepalanya agar dapat mendengar dengan jelas. "Kau…" Sasuke memberi jeda pada perkataannya. "…Menjadi….Suamiku…"

*TBC*