Ichizuki…
Happy Reading…
Disclaimer : Naruto Masashi Kishimoto
WAY OUT
By Ichizuki_Takumi
Pairing : SasuNaru, SasuSaku, NaruSaku
Rated : T
Genre : Angst/Humor
Warning : AU, OOC, MPREG, Straight, BL, Alur cepat, Bahasa sulit di mengerti
DON'T LIKE! DON'T READ !
Chapter 5
"Tadaima…" teriak Naruto yang suaranya menggema di seluruh ruangan.
"Okaeri. Kalian sudah pulang?" tanya Sakura pada Sasuke dan Naruto.
"Hn."
"Ya. Aku lelah sekali," ujar Naruto. Dia mengingat-ingat kejadian di kantornya tadi. Saat seluruh karyawan mengerubunginya untuk mengucapkan selamat atas pernikahan sekaligus bonusnya yaitu Sakura. Tidak jauh beda dengan Sasuke. Karyawan yang biasanya takut bertatap muka dengannya kini malah mengajaknya bicara dengan mengucapkan selamat, dan hanya ditanggapi Sasuke dengan anggukan kepala.
"Kalian segeralah mandi, aku sudah menyiapkan air hangat untuk kalian," ujar Sakura sembari beralih pergi meninggalkan mereka berdua.
"Terimakasih, Sakura," ujar Naruto. Dia melangkahkan kakinya menaiki tangga untuk menuju ke lantai atas, diikuti Sasuke yang berada dibelakangnya.
"Hei, Teme, kenapa kau mengikutku?" tanya Naruto saat berada di depan pintu kamarnya.
"Hn, aku mau mandi."
"Kita sudah melewati kamarmu. Apa kau lupa dengan kamarmu sendiri? Tuh, disana," ujar Naruto sambil menunjuk kamar Sasuke yang sudah mereka lewati.
"Sakura menyiapkan air untuk kita mandi, jadi tidak mugkin dia menyiapkannya khusus untukku, bahkan untukkmu," ujar Sasuke sambil memunculkan seringai khas Uchiha.
"Tidak mungkin. Sakuraaa…." teriak Naruto, membuat orang yang dipanggil namanya segera datang menemuinya.
"Ada apa sih, teriak-teriak," tanya Sakura sesampainya disana.
"Apa benar kau menyiapkan air untuk kita mandi?"
"Ya, benar."
"Untuk Sasuke?"
"Ya, untukmu juga. Ada masalah?" tanya Sakura tidak mengerti.
"Tapi aku tidak mau mandi dengan si Teme ini," kata Naruto sambil menunjuk Sasuke yang sedari tadi terdiam.
"Tidak masalah kan? Toh, kalian sama-sama lelaki, apalagi kalian sudah menikah," jelas Sakura.
"Ta...Tapi…"
"Apa kau tidak kasihan pada Sakura, Dobe? Dia sudah susah payah menyiapkan air untuk kita," kata Sasuke. Naruto menatap Sakura yang mengeluarkan puppy eyes-nya.
"Ukhh…" hati Naruto serasa di tusuk, melihat mata Sakura yang berkaca-kaca. "Baiklah kalau begitu. Terimakasih ya Sakura, sudah menyiapkannya untuk kita," ujar Naruto sambil nyengir ceria.
"Ya. Aku kembali ke dapur dulu ya, aku mau menyiapkan makan malam," Sakura pun berlalu pergi.
"Ayo Dobe," kata Sasuke sambil menarik lengan Naruto untuk segera mandi.
"Dasar Teme! Kau kan tidak perlu pegang-pegang!" seru Naruto yang sudah keluar dari kamar mandi di ikuti Sasuke di sampingnya.
"Tak ada salahnya kan, Dobe?"
"Tapi tetap saja, aku jadi risih tau," kata Naruto sambil berjalan menuju dapur untuk makan malam.
"Masak apa Sakura?" tanya Naruto begitu melihat Sakura yang sedang menata piring.
"Aku memasak ramen kesukaanmu, Naruto."
"Cih."
"Aku juga membuatkan sandwich isi tomat kesukaanmu, Sasuke."
"Hn."
Acara makan bersama pun dimulai. Di tengah acara itu, Naruto menanyakan sesuatu pada Sakura.
"Ano…Sakura. Boleh tanya sesuatu tidak?" kata Naruto. Muncul semburat merah di pipi tan-nya.
"Katakan saja, Naruto," kata Sakura. Sasuke hanya memandang mereka berdua dalam diam sambil meminum jus tomatnya.
"Emmm…aku...begini…malam ini…boleh tidur…sama…kamu, tidak?" tanya Naruto tersendat. Kini mukanya sudah semerah tomat kesukaan Sasuke. Wajah Sakura juga tidak kalah dengan wajah Naruto. Kini wajahnya memerah, mungkin karena malu.
"Uhuk..uhuk…uhuk…" Sasuke tersedak jus yang diminumnya begitu mendengar ucapan Naruto.
"Kau kenapa, Teme?" tanya Naruto pada Sasuke. Kini dia jadi bingung karena Sasuke tiba-tiba terbatuk.
"Kau tidak boleh tidur dengan Sakura," kata Sasuke yang sudah terhenti dari tersedaknya.
"Kenapa? Dia kan istriku."
'Apa Sasuke cemburu padaku?' inner Sakura. 'Berarti dia sudah mulai mencitaiku! Yeah..' inner Sakura berteriak kegirangan.
"Karena aku yang akan tidur denganmu, Dobe," seru Sasuke.
'*Gubrak* ternyata dugaanku salah,' inner Sakura sambil berlinangkan air mata gaje.
"Tidak mau. Pokoknya aku mau tidur dengan Sakura. Bolehkan Sakura?" tanya Naruto sambil mengeluarkan jurus puppy eyes-nya.
"I…iya…"
"Tuh, kan, Sakura saja mengijinkan, kenapa kamu melarangnya?" kata Naruto.
"Sekali tidak boleh, tetap tidak boleh. Kau ini suamiku, Dobe," seru Sasuke.
Naruto tidak mau kalah dari suaminya. "Aku ini juga suaminya Sakura, Teme."
"Sudah-sudah," Sakura mencoba menjadi penengah di antara pertengkaran yang kekanak-kanakan itu.
Sasuke geram dengan Naruto yang sangat keras kepala. "Ikut aku!" seru, bukan, tetapi perintah Sasuke. Dia menarik tangan Naruto dan mencoba menyeretnya. Tapi hal itu tidak memindahkan tubuh Naruto sedikit pun, karena Naruto berpegangan erat pada tempatnya. Tangannya berpegangan pada meja, dan kakinya terkunci pada kaki kursi. Sasuke yang melihatnya jadi tambah kesal.
"Lepaskan, Dobe!"
"Tidak!" seru Naruto. Dia mulai merinding, memikirkan apa yang akan dilakukan Sasuke nantinya. 'Jangan-jangan, dia akan melakukan seperti yang waktu itu. Gara-gara itu aku tidak bisa berjalan dengan benar selama beberapa hari,' batin Naruto.
Sasuke semakin kesal. Dia pun mengangkat Naruto beserta kursinya. Berhasil. Kini pegangan Naruto terlepas dari meja, beralih memegang pundak Sasuke. Dia memegangnya dengan kuat karena takut nanti akan terjatuh dari kursi yang diangkat oleh Sasuke. Sakura yang melihatnya tidak bisa berbuat apa-apa. Dia tidak ingin memihak salah satu diantara mereka.
"Iya-iya aku menyerah," sebuah seringaian muncul dibibir Sasuke, kemudian dia menurunkan kursi yang di duduki Naruto dengan hati-hati. "Aku mau tidur denganmu, asalkan…"
Tiga pasang mata menatap langit-langit yang berwarna biru langit cerah. Keheningan menyelimuti ruangan itu. Tidak ada yang ambil suara semenjak kejadian di ruang makan.
Sepasang mata biru melirik tajam pada seseorang disamping kirinya. 'Cih, gara-gara dia aku tidak bisa tidur berdua saja dengan Sakura,' batin Naruto sebal. Kini matanya menatap pada Sakura yang berada disebelah kanannya. Sakura bergerak membelakangi Naruto dan mencoba untuk segera tidur.
'Hahh…sungguh tak bisa kupercaya. Di lihat dari manapun Sakura tetap kelihatan cantik,' batin Naruto. Naruto menggerakkan badannya menghadap punggung Sakura dan memunggungi Sasuke. Matanya tidak lepas dari rambut Sakura yang tergerai indah.
Sasuke melirik Naruto yang memunggunginya. 'Cih, gara-gara si Dobe ini, aku tidak bisa melakukan rencanaku,' batin Sasuke sebal. Sepertinya pikiran mesum bergelantung di pikiran Sasuke. Kini Sasuke bergerak menghadap punggung Naruto. 'Sungguh sangat menggoda,' pikir Sasuke. 'Lehernya yang jenjang dan lekuk tubuh yang indah, dengan kaos tipis yang menutupi kulit tan miliknya,' tangan Sasuke mencoba bergerak menuju ujung kaos untuk dapat mrnyusupkan tangannya. 'Jangan. Ada Sakura disini,' batin Sasuke yang menghentikan tindakannya.
Naruto memandang Sakura yang napasnya sudah teratur. 'Dia sudah tidur, hi..hi..hi…' batin Naruto. Tangannya bergerak, mencoba memeluk wanita yang ada didepannya. Tapi perbuatannya terhenti saat dirasa ada tangan yang memeluk pinggangnya.
'Huuh…dasar si Teme,' batin Naruto sambil menyigkirkan tangan Sasuke dari pinggangnya. Tak lama kemudian tangan itu kembali memeluk pinggang Naruto. kembali Naruto menyingkirkannya. Tapi lagi-lagi tangan itu memeluk pinggangnya. Naruto mulai geram. 'Apa sih maunya orang ini?' batin Naruto. Dia menoleh agar bisa melihat Sasuke yang ada dibelakangnya.
'Ahh…ternyata dia tidur,' batin Naruto. Hembusan napas hangat menyapu wajah Naruto. Dalam jarak yang begitu dekat Naruto dapat melihat dengan jelas wajah orang yang sudah menjadi suaminya itu.
'Tampan,' Naruto terpana memandang wajah Sasuke dari jarak yang begitu dekat. Naruto menyingkirkan rambut yang menutupi wajah Sasuke. 'Kenapa dia bisa menyukaiku? Padahal dia pria yang sangat sempurna. Berbeda jauh denganku,' Naruto menghentikan kegiatannya dan kembali memunggungi Sasuke. Sepasang mata onyx terbuka disertai sebuah seringai kemenangan yang menghiasi wajah tampannya.
Naruto kembali mengagumi wanita yang ada didepannya. Dia mencoba memeluk pinggang Sakura seperti yang dilakukan Sasuke pada Naruto. Saat tangan Naruto terjulur, tiba-tiba sebuah tangan pucat menariknya kemudian membawanya memeluk pinggang Naruto. 'Hei…' batin Naruto tidak terima. Dia menoleh ke arah Sasuke. kekesalan Naruto langsung diurungkan begitu melihat Sasuke yang masih memejamkan mata. 'Haah…sudahlah. Mungkin dia hanya ngelindur,' batin Naruto. Sebuah seringaian kembali muncul tanpa sepengetahuan Naruto.
Pagi menjelang. Sakura terbangun dari tidurnya. "Semalam tidurku nyenyak sekali," kata Sakura yang kini dengan posisi duduk. Dia melirik orang yang berada disampingnya, berniat membangunkan suami-suaminya. Tapi niat itu segera di urungkannya begitu melihat posisi suami-suaminya.
Kini posisi mereka saling berhadapan, dengan Sasuke yang memeluk pinggang Naruto yang sedikit ter-ekspos. Sementara kedua tangan Naruto berada di dada Sasuke yang bidang. Wajah mereka sangat dekat, hingga nyaris menempel.
Wajah Sakura seketika berubah menjadi merah. Dia segera menggapai ponsel yang berada di meja dekat tempat tidur. Diam-diam dia mengambil foto kedua suaminya, mencoba mengabadikan moment yang belum tentu akan dilihatnya lagi.
Sakura memandang hasil jepretan foto di layar ponselnya. 'Hi..hi..manis..' batin Sakura. "Ah..sudah jam segini, aku harus segera berangkat. Hari ini kan aku ada jadwal pagi," ujar Sakura saat melihat jam weker yang ada di meja yang tadi digunakannya untuk meletakkan ponsel. Kemudian dia segera beranjak meninggalkan kedua suaminya yang masih tertidur.
Sebuah seringai menghiasi wajah Sasuke begitu mengetahui Sakura telah beranjak pergi. Kini mata onyx-nya terbuka, memandang suaminya yang masih tertidur lelap. 'Aku harus minta di kirimi foto itu dari Sakura,' batin Sasuke yang masih menyeringai lebar.
Pikirannya kembali pada pemuda pirang yang masih juga terlelap. Di tatapnya dengan detail wajah pemuda yang ada di hadapannya. Tangan kananya mengelus lembut pipi Naruto. sementara tangan kirinya tetap berada di pinggang Naruto yang sedikit ter-ekspos, tidak mau menyia-nyiakan kesempatan yang ada.
"Engh…" sebuah erangan terdengar karena terganggu oleh elusan yang dilakukan Sasuke. Naruto terbangun tetapi matanya masih tertutup. Dia merenggangkan otot dan sedikit memajukan kepalanya. Tak sengaja bibirnya menyentuh sesuatu yang lembut, dan itu sukses menghentikan gerakannya.
"Emm?" Naruto membuka matanya perlahan. Kemudian dia menatap Sasuke yang ada didepannya. Naruto tersentak dan menjauhkan bibirnya dari sesuatu yang ternyata adalah bibir Sasuke. "Teme, apa yang kau lakukan? Mengembil kesempatan dalam kesempitan?" seru Naruto. Naruto tidak bisa menghindar terlalu jauh, karena tangan Sasuke yang masih bertengger di pinggangnya.
"Kau yang menciumku, Dobe," ujar Sasuke datar.
Wajah Naruto berubah menjadi merah, karena memang dia yang mencium Sasuke. Kini Naruto menyadari kalau tubuhnya sedang di peluk oleh Sasuke. "Lepas, Teme," Sasuke menyeringai mendengar permintaan Naruto.
"Biar seperti ini dulu, Dobe," ujar Sasuke sambil memejamkan matanya.
Naruto hanya menghela napas pasrah. "Mana Sakura?" tanya Naruto yang menyadari Sakura sudah tidak ada disana.
"Dia sudah berangkat. Katanya ada jadwal pagi."
"Oh…"
"…"
"Teme, sebaiknya kita segera berangkat. Kau tidak mau kita terlambat kerja kan?"
"Biar saja kita terlambat."
"Tapi kan…"
"Atau kau ingin hari ini kita ambil cuti saja?" tanya Sasuke. kini matanya terbuka. Menatap Naruto yang ada di hadapannya.
Mendengar hal itu, Naruto langsung menoleh memandang Sasuke yang menyeringai lebar. Bulu kuduk Naruto berdiri begitu melihat kilatan tajam di mata Sasuke. Dia memberontak, mencoba melepaskan pelukan Sasuke. "Tidaaaakk….."
Begitulah hari-hari di keluarga UchihaUzumakiHaruno. Dengan Sakura yang ingin mendapat perhatian dari Sasuke, meski dia tetap mencoba membagi rasa cintanya kepada suami-suaminya secara adil. Naruto yang ingin berada di dekat Sakura, tetapi selalu dihalangi oleh Sasuke. Dan Sasuke yang selalu mengambil kesempatan dalam kesempitan dengan pikirannya yang kotor terhadap Naruto.
Sungguh hubungan keluarga yang harmonis menurut orang yang tidak mengetahui kenyataan di dalamnya.
*TBC*
