Ichizuki…

Disclaimer : Naruto Masashi Kishimoto

WAY OUT

By Ichizuki_Takumi

Pairing : SasuNaru, SasuSaku, NaruSaku

Rated : T

Genre : Angst/Humor

Warning : AU, OOC, MPREG, Straight, BL, Alur cepat, Bahasa sulit di mengerti

DON'T LIKE! DON'T READ !

Chapter 6

Satu bulan telah berlalu. Banyak kejadian-kejadian menyenangkan yang di alami oleh Sasuke, Naruto, maupun Sakura.

Kehangatan selalu menyelimuti hari-hari mereka. Meski mereka harus saling berbagi pasangan, namun tak ada rasa iri yang timbul di dalam hati. Mereka malah berlomba-lomba untuk saling membahagiakan satu dengan yang lainnya. Seakan hati mereka telah menyatu.

Tak ada kata putus dalam pemikiran mereka, karena mereka saling melengkapi. Stoic, ceria, tegas. Tiga sifat yang akhirnya menyatu juga. Terikat benang merah dari baja, yang akan kuat sampai akhir waktu mereka.

Hari ini adalah hari yang special bagi keluarga UUH. Entah suatu kebetulan atau bukan, tapi hari ini mereka bertiga libur dari semua pekerjaan. Sungguh hari yang jarang mereka alami, karena selama ini hari libur mereka selalu pada waktu yang berbeda..

Kini sorot pandangan kita tertuju pada dua pemuda atau sebut saja pasangan yang sedang melaksanakan rutinitas pagi mereka di ruang makan. Tapi keheningan sedang menyelimuti ruangan itu.

Seorang pemuda berambut pirang sedang melirikkan matanya pada pemuda yang ada dihadapannya. Posisi siaga telah siapkannya. Entah apa yang membuatnya tidak tenang kali ini.

Berbeda dengan si pirang, sang pemuda berambut raven yang duduk di hadapannya ternyata malah menyunggingkan sebuah senyum atau lebih tepatnya sebuah seringaian di sudut bibirnya. Dia kemudian menatap mata biru yang selalu membuatnya rindu.

Onyx bertemu Saphire. Dua perpaduan yang akan menciptakan harmoni keindahan dan ketenangan. Dua warna yang menyiratkan kehidupan dalam jiwa. Menciptakan suatu goresan tinta elok yang dapat meluluhkan hati. Dialah Naruto dan Sasuke. dua pasangan yang takkan terpisahkan, meski mereka sama-sama mempunyai pasangan yang lain. Saling memiliki pasangan itu bersama, dan saling membagi kesetiaan di antara mereka. Tidak ada keluhan sama sekali, karena memang inilah jalan yang mereka pilih. Jalan yang sudah mereka putuskan bersama, dan jalan keluar dari berbagai masalah yang mereka hadapi.

Kembali pada pasangan SasuNaru.

Seringaian masih saja melekat di bibir Sasuke. "Dobe, katakan lagi," ujar Sasuke setelah menghabiskan sarapan paginya.

"Katakan apa?" tanya Naruto sambil memakan sarapannya.

"Katakan apa yang kau ucapkan semalam."

"Aku tidak mengucapkan apa-apa," ujar Naruto. Wajahnya bersemu merah saat mengingat kejadian semalam.

"Jangan bohong, Dobe. Aku jelas-jelas mendengarnya kemarin."

"Tidak, kau pasti salah dengar, Teme."

"Jangan menyangkal, Dobe. Aku cukup mempunyai bukti."

"Memangnya apa buktinya?"

"Pertama, untuk apa kemarin kau berada di kamarku?"

Pertanyaan telak. Naruto seakan sudah tidak bisa menyangkal lagi.

"Kedua, kenapa kemarin kau duduk disampingku yang sedang tidur?"

"I…itu…"

"Dan yang terakhir, kenapa bibirku bisa basah?"

Ingin rasanya Naruto berteriak sekeras-kerasnya agar tidak bisa mendengar semua yang di ucapkan oleh Sasuke. "Sudah ku bilang, Teme, kemarin aku hanya kebetulan masuk ke kamarmu!" seru Naruto yang merasa terpojokkan. Sungguh alasan yang bodoh.

"Apa Cuma itu? Kalau begitu yang bilang, 'Sasuke, kau sangat tampan. Aku sangat mencintaimu' itu siapa? Apa hantu yang mengatakannya?"

"Aaaaa….aku tidak mau dengar! Lagi pula aku tidak mengatakan itu, jangan suka memanipulasi omongan orang lain ya!" seru Naruto. Kini wajahnya benar-benar sudah merah semerah tomat.

"Akuilah, Dobe. Lagi pula hanya kau dan aku yang tau. Atau, kau ingin aku mengumumkannya bahwa Uzumaki Naruto akhirnya mengutarakan pernyataan cintanya pada Uchiha Sasuke?"

"…"

"…"

"Iya-iya, akan ku katakan!" akhirnya Naruto menyerah, dan itu membuat seringaian di bibir Sasuke bertambah lebar.

"Sa…suke…a….aku…mencintaimu," ujar Naruto yang mengalihkan pandangannya dari Sasuke. "Puas?" tanya Naruto sinis.

"Belum."

"Nani…? Aku kan sudah mengatakan seperti apa yang kau mau!"

"Tidak, sebelum kau melakukannya seperti apa yang kau lakukan kemarin."

"Tapi tadi kau tidak menyuruhku untuk mempraktekkannya!"

"Kau menolak?" kata Sasuke sambil mengeluarkan ponselnya dari saku celana.

"Kau mau apa, Teme?"

"Hn, menghubungi Rock Lee."

"Tidak…jangan, dia itu rajanya gossip."

"Kau berubah pikiran?"

"Ukh, baiklah," ujar Naruto lemas. Puas dengan jawaban yang ia inginkan, Sasuke kembali menyimpan ponselnya di saku celana.

Naruto beranjak dari kursinya dan berjalan mendekati Sasuke yang duduk di hadapannya. Sasuke yang di dekati Naruto, hanya memandang mata birunya dalam diam. Sasuke sangat terpesona pada mata biru itu, hingga ia ingin sekali menyelami lautan biru yang kini ada di hadapannya.

"Sasuke…" kata Naruto sambil menyeka rambut raven suaminya yang menutupi wajah. "A…ku…mencintaimu," lanjutnya. Kemudian Naruto mendekatkan wajahnya dan mengecup bibir pucat Sasuke.

Muncul seringaian baru di bibir Sasuke. Dia membalas ciuman Naruto dan mencegahnya untuk menjauh. Sehingga Naruto terhanyut dalam ciuman itu.

Sakura berjalan menuju ruang makan, sebelum dia terhenti karena melihat adegan suami-suaminya. Muncul sebuah senyuman di bibir Sakura. Dia mengambil sesuatu di saku bajunya. Setelah mendapat apa yang dia cari, dia mengarahkan lubang kecil di belakang benda itu menghadap ke arah suami-suaminya. Sebuah jepretan berhasil ia dapatkan. Ia memandangi hasil karyanya yang sudah ke sekian kali. Senyum mesum bertengger di bibir Sakura. Puas melihat karyanya, dia kembali memasukkannya ke saku baju dan berjalan ke meja makan.

Melihat ada seseorang yang datang, Naruto menghentikan aktifitasnya dan menjauhkan diri dari Sasuke.

"Sakura, kau kemana saja? Kau sudah aku tunggu dari tadi," ujar Naruto begitu melepas ciumannya.

"Aku tadi ke toilet sebentar. Lanjutkan saja acara kalian, aku tidak akan mengganggu kok."

"Sakura-chan…kau tega" ujar Naruto manja.

"…"

"Huwek…"

"Kau kenapa Sakura?" tanya Naruto khawatir. Sasuke yang melihatnya juga ikut khawatir.

"Huweek…" Sakura berlari menuju toilet. Naruto dan Sasuke yang melihatnya langsung mengikuti Sakura.

"Huweeekk…" Sakura memuntahkan semua isi perutnya.

"Sakura, kau sakit?" tanya Naruto sambil memijat pelan belakang lehernya. Sakura hanya menggeleng mendengar pertanyaan dari Naruto. Merasa tidak mendapat jawaban, Naruto memandang Sasuke yang berdiri di sampingnya. Sasuke memberikan jawaban yang sama. Dia menggelengkan kepala tanda tidak mengetahui apa yang terjadi.

"Huweeekkk…" terdengar lagi suara Sakura. "Ah…hah…" rasa mual Sakura akhirnya berhenti juga. Dia menyiram dan mengambil tisu untuk membersihkan bibirnya. Matanya berair karena telah memuntahkan semua isi perutnya. "Aku tidak apa Naruto," ujar Sakura yang melihat kekhawatiran di mata Naruto.

"Minumlah," ujar Sasuke sambil menyodorkan segelas air putih begitu mereka berada di ruang makan.

"Terimakasih, Sasuke," ujar Sakura yang kemudian meminum air putih itu.

"Apa yang terjadi?" tanya Sasuke. Sedangkan Naruto sedang memijat leher belakang Sakura agar membuatnya lebih tenang.

"Entahlah. Tapi tiba-tiba aku merasa mual, padahal aku tidak sakit," kata Sakura sambil meletakkan air putih di atas meja. "Atau, jangan-jangan…" Sakura langsung beranjak menuju kamarnya.

"Hn," ujar Sasuke yang mengerti maksud Sakura.

"Ada apa?" tanya Naruto yang tidak tau apa-apa.

"Nanti kau juga tau."

"…"

"Kyaaa…" terdengar suara jeritan yang berasal dari kamar mandi di kamar Sakura. Mendengar teriakan itu, Naruto dan Sasuke langsung beranjak dari tempatnya dan berlari untuk menemui Sakura.

"Ada apa Sakura?" seru Naruto begitu sampai di kamar Sakura.

Terlihat Sakura sedang memegang sebuah benda kecil dengan tangan kirinya, sementara tangan kanannya menutup mulutnya agar tidak menjerit lagi.

"Naruto…" Sakura langsung berbalik dan memeluk Naruto dengan erat. Naruto bingung dengan perlakuan Sakura, kemudian memandang Sasuke yang berdiri menyandar pada tembok. Sasuke hanya tersenyum memandang Sakura yang memeluk Naruto. Entah kenapa kali ini dia membiarkan Naruto di peluk oleh orang lain.

"Sakura…"

"Naruto, aku hamil Naruto…hiks…hiks…" tangis kebahagiaan akhirnya pecah memotong perkataan Naruto.

Mata Naruto membelalak, terlalu senang untuk menunjukkan kebahagiannya. "Benarkah…" seru Naruto sambil memegang kedua pundak Sakura dan menjauhkannya agar dapat melihat wajah Sakura. Sakura menganggukkan kepalanya sambil tersenyum dalam tangisnya. Naruto kembali membawa Sakura dalam pelukannya.

"Terimakasih, Sakura…Terimakasih…" Naruto mengeluarkan tangis kebahagiaan.

Sasuke yang melihatnya ikut menyunggingkan senyumnya yang tulus. Dia mengusap pundak Naruto mencoba untuk menenangkannya. Mendapat perlakuan dari suaminya, Naruto mendongak memandang Sasuke, kemudian meraih Sasuke dengan tangan kirinya untuk memeluknya. Sasuke yang mengerti maksud Naruto, kemudian ia mendekat dan langsung memeluk mereka berdua.

Sebuah kebahagiaan kini lengkap dengan datangnya janin di perut Sakura.

"Sasu-Teme, temani aku membeli kebutuhan untuk Sakura," ujar Naruto pada Sasuke.

"Hn."

"Sakura kau baik-bak di rumah ya? Apa kau mau aku antar ke dokter dulu?" tanya Naruto pada Sakura.

"Tidak perlu Naruto, aku bisa menjaga diri. Apa kau lupa, kalau aku ini dokter kandungan?"

"Hehehe…aku lupa."

"Dasar kau ini."

"Ya, sudah kami berangkat ya?"

"Jangan terlalu bersemangat, Naruto."

"Iya, Mama…"

Perkataan Naruto membuat pipi Sakura bersemu merah. Kebahagiaannya kini bertambah dengan kehadiran sang calon bayi. Sakura mengelus perutnya yang belum mebuncit. Dia sangat menantikan kehadiran seorang anak di tengah keluarga mereka.

"Sasuke, kita beli apa dulu?" tanya Naruto saat dia tiba di dalam Mall.

"Sebaiknya kita beli baju untuk Sakura dulu. Untuk peralatan yang lain, kita beli nanti saja agar mudah mebawanya."

"Ya. Kalau begitu, ayo kita kesana," kata Naruto sambil menunjuk toko pakaian yang tak jauh dari tempatnya berdiri.

"Hn."

Naruto berjalan dengan cepat agar segera sampai pada tempat yang ia maksud. Sementara Sasuke hanya mengikutinya dari belakang dengan santai.

"Sasuke, lihat, baju ini pasti cocok untuk Sakura," ujar Naruto sambil menunjuk gaun panjang berwarna pink.

"Bodoh, kita mencari baju untuk orang hamil, Dobe. Kau pikir Sakura mau pergi ke pesta?"

"Gomen, aku kan tidak tau."

"Ada yang bisa saya Bantu?" tanya seorang pelayan yang bernama Tenten, begitu yang tertulis di pagename-nya.

"Kami sedang mencari pakaian untuk orang yang mengandung," kata Sasuke. Tenten terpesona kepada Sasuke yang ada di hadapannya, tapi dia langsung membuang jauh-jauh pikirannya itu.

"Mari ikut saya," ujarnya sambil menunjukkan sebuah tempat kepada mereka berdua.

"Hn," ujar Sasuke. Kemudian Sasuke dan Naruto berjalan mengikuti pelayan itu.

"Silahkan Nona memilih pakaian disini," ujar Tenten sambil menunjuk deretan daster. "Kalian pasangan yang cocok ya?" lanjut Tenten kemudian.

Naruto yang menyadari dirinya disebut Nona, mencoba meluruskan kesalah pahaman itu, tetapi Sasuke langsung mencegahnya dengan menutup mulut Naruto dengan tangan kirinya.

"Dobe, kau tidak mau membuat gossip heboh disinikan?" ujar Sasuke lirih di dekat telinga Naruto. Naruto menganggukkan kepalanya tanda mengerti. "Kalau begitu ikuti saja permaian ini."

"Hn, terimakasih," kata Sasuke pada Tenten. "Sebelumnya, kami ingin minta waktu sebentar," ujar Sasuke.

Pelayan yang bernama Tenten itu mengangguk tanda mengerti maksud Sasuke, kemudian dia bernjak pergi meninggalkan mereka berdua.

"Teme, kenapa harus aku yang menjadi Nona-nya?"

"Sudahlah, Dobe, jangan rubah anggapan mereka tentang itu."

"Tapi kenapa bukan kau saja?"

"Apa kau mau aku memakai baju wanita?"

Mendengar pertanyaa Sasuke, kemudian Naruto membanyangkan Sasuke yang berpakaian wanita. Tubuh mungil, rambut panjang, yang memakai rok selutut dan bersikap malu-malu. "Mungkin?" ujar Naruto sambil tersenyum.

"Dengan tubuhku yang berisi ini?" tanya Sasuke meyakinkan.

Naruto kembali berangan-angan. Dia membayangkan replika Sasuke wanita tadi, tiba-tiba tumbuh otot, dan mempunyai badan yang besar dan tinggi. Dan tidak ada kesan malu-malu dalam wajahnya, tetapi malah sikap stoic yang ia tunjukkan. Tak lupa dia membayangkan dirinya berjalan dengan Sasuke, sang wanita berotot berjalan bersama dengan dirinya. Perbedaan tinggi dan postur tubuh, sungguh tidak mencermnkan pasangan yang serasi, bahkan jauh dari kata cocok.

"Ti…tidak…aku bahkan takut untuk membayangkannya," ujar Naruto yang bergidik ngeri.

"Hn, sekarang kau mengerti kan?"

"Huh…Iya-iya."

Sasuke dan Naruto kemudian memilah pakaian yang kira-kira cocok dan pas untuk di kenakan Sakura.

"Coba ini, Dobe," ujar Sasuke sembari menyodorkan sebuah daster berwarna biru tua kepada Naruto.

"Hmm…bagus," kata Naruto sambil menerima dan mengamati daster yang di sodorkan Sasuke.

"Maksudku, pakailah, Dobe."

"Haa…kenapa harus aku?" tanya Naruto.

"Badanmu kan kecil, jadi tidak jauh beda dengan badan Sakura. Apa kau ingin aku yang memakaikannya?" tanya Sasuke memaksa.

"Tidak, terimakasih. Biar aku yang pakai sendiri," ujar Naruto pasrah.

"Hn," balas Sasuke yang kembali memilah-milah pakaian.

Naruto berjalan memasuki ruangan yang tak jauh dari tempat mereka berdiri. Tak berapa lama kemudian, dia keluar dengan mengenakan baju yang di pilihkan oleh Sasuke.

"Teme…"

Terdengar panggilan dari bidadari khayangan yang menyebutkan namanya. Sasuke menoleh untuk melihat pemilik suara merdu itu. Sasuke terpesona kepada sosok Naruto yang mengenakan daster itu. Pakaian yang longgar dan besar begitu pas menempel di tubuh Naruto yang mungil. Warna biru tua dari rajutan benang itu sangat serasi dengan warna langit dua bola mata Naruto. Tanpa sadar Sasuke melangkahkan kakinya mendekati sang bidadari.

"Dobe, kau cantik," ujar Sasuke sambil mengangkat dagu Naruto.

"…"

"Auw…" sebuah injakan di kaki sukses mengembalikan Sasuke ke dunia nyata. "Apa yang kau lakukan, Dobe?" tanya Sasuke sambil memegang kakinya a ka sepatunya.

"Aku tanya, pakaian ini sudah pas apa belum, Teme. Kenapa kau malah ngelantur seperti itu?" tanya Naruto ketus.

"Aku tadikan sudah memujimu."

"Kau memuji pakaiannya atau diriku, tuan mesum?"

"Dua-duanya?"

"Dasar, Teme…" geram Naruto.

"Ah, itu pantas sekali anda kenakan, Nona," ujar Tenten yang tiba-tiba muncul di belakang Naruto. Hal itu membuat Naruto terkejut dan mengambil jarak padanya.

"Mungkin saat ini bajunya terlalu besar, tapi nanti akan pas dengan bertambah besarnya perut anda," jelas Tenten.

"Hn. Kalau begitu kami ambil baju seperti ini satu lusin dengan corak yang berbeda."

"Akan segera saya bungkuskan," kata Tenten semangat. 'Wah, untung besar nih,' batin Tenten senang.

Naruto mengganti pakaiannya. Setelah itu Sasuke dan Naruto menuju meja kasir untuk membayar belanjaan mereka.

"Terimakasih kunjungannya, silahkan datang lagi," ujar Tenten sambil menundukkan kepalanya. Sasuke dan Naruto menjawabnya dengan anggukan kepala.

"Hah…akhirnya dapat juga bajunya," kata Naruto begitu keluar dari toko baju itu. "Sekarang kita cari apa lagi, Teme?"

"Kita cari…"

"Sakura…kami pulang…." Teriak Naruto yang menggema ke seluruh ruangan.

"Kalian sudah pulang?" tanya Sakura pada Naruto dan Sasuke.

"Hn."

"Iya."

"Kalian beli apa saja?"

"Kami membeli ini," ujar Naruto sambil menunjukkan semua belanjaan yang di belinya bersama Sasuke.

"Ya, ampun…kalian beli sebanyak ini?"

"Hehehe…kami sudah berusaha lho," cengir Naruto.

Melihat usaha Sasuke dan Naruto, Sakura mengurungkan niatnya untuk memarahi mereka berdua karena membuang uang untuk membeli barang sebanyak ini. "Hah…Terimakasih ya…kalian sudah berusaha."

"Iya…"

"Aku kembali ke kamar dulu ya. Aku mau mencoba pakaian yang kalian beli," ujar Sakura sembari membawa beberapa pakaian dalam tas belanja.

"Huum, yang lainnya kita bereskan nanti saja," ujar Naruto.

Naruto kemudian mendudukkan dirinya pada sofa yang ada disana.

"Haah…aku lelah sekali, Teme," kata Naruto pada Sasuke.

"Hn."

"Ukhh…" tiba-tiba Naruto berlari dari tempatnya duduk.

Sasuke bingung dengan tingkah Naruto yang tiba-tiba itu. Tidak mau buang waktu, dia langsung mengikuti kemana Naruto pergi.

"Huweeekkk…." melihat Naruto yang memuntahkan isi perutnya, timbul rasa khawatir yang amat sangat dalam diri Sasuke.

"Kau kenapa, Dobe? Apa kau juga hamil?" tanya Sasuke sok polos. Dia tentu saja tahu kalau seorang pria tidak mungkin bisa hamil.

"Dasar bodoh, mana mungkin aku hamil?" kata Naruto begitu selesai memuntahkan isi perutnya. "Mungkin aku hanya kelelahan. Badanku rasanya lemas sekali. Ukh…"

Tiba-tiba Naruto pingsan. Dengan sigap Sasuke menangkap tubuh Naruto yang terlihat begitu lemah itu.

Naruto POV

Aku mengerjapkan mataku. Cahaya lampu yang terang membuatku sulit untuk menyesuaikan pupil mataku. Ku tatap wajah dua orang yang duduk disampingku. Wajah khawatir mereka membuatku ingin tertawa saja.

"Hi..hi..hi…"

"Dasar, Dobe. Kenapa kau malah tertawa?" kata Sasuke padaku.

"Tidak, aku hanya tidak menyangka sebegitu khawatirnya kalian kepadaku."

"Naruto, kan sudah ku katakana jangan terlalu lelah?" nasihat Sakura.

"Gomen Sakura. Aku tidak bisa membendung kebahagiaannku ini."

"Huh, dasar. Sini, biar aku periksa."

"Tapi, kau dokter kandungan kan, Sakura?"

"Biarpun dokter kandungan, tekhnik dasar untuk memeriksa seseorang, tentu saja aku tau."

"Oh, begitu," ujarku sambil menghela nafas.

End of Naruto POV

Sakura mulai memeriksa denyut nadi Naruto. 'Aneh, denyut nadinya tidak beraturan. Aku merasakan ada denyut yang lain dalam nadi Naruto,' batin Sakura. 'Mungkin hanya perasaannku saja. Tapi, tunggu dulu. Ini aneh, kenapa tubuh Naruto tiba-tiba down? Sampai sempat pingsan pula. Hmm…tidak ada salahnya mencoba.'

"Naruto, pergilah ke toilet."

"Untuk apa? Aku tidak kebelet pipis kok," ujar Naruto polos.

"Sudahlah, lakukan saja perintahku. Ini, bawa ini. Dan air senimu taruh wadah ini dan celupkan benda itu ke dalamnya, kemudian berikan benda ini kepadaku," kata Sakura sambil menyerahkan benda yang diambilnya di kotak peralatannya. Kemudian dia mendorong Naruto agar segera melaksanakan perintahnya.

"Iya-iya," Naruto pun beranjak untuk melaksanakan perintah Sakura.

"Apa kau yakin?" tanya Sasuke pada Sakura begitu Naruto menghilang dari pandangannya.

"Tidak ada salahnya di coba. Aku hanya merasa aneh dengan denyut nadi Naruto yang tidak beraturan," jelas Sakura.

"Hn."

Tak berapa lama, Naruto keluar dari toilet sambil membawa benda kecil yang di berikan Sakura tadi.

"Sakura, nih, aku sudah selesai," ujar Naruto sambil menyodorkan benda kecil itu pada Sakura.

Sakura cepat-cepat menerima dan langsung melihatnya. Tidak mau ketinggalan, Sasuke juga ikut melihat benda itu.

'Positif' batin mereka bersamaan.

"Na…ruto…" ujar Sakura terbata.

"Ya?"

"…Kau…ha…mil…"

"Se…lamat… ya…" ujar Sasuke yang hampir meruntuhkan wajah stoic-nya karena keterkejutan.

*TBC*